Anda di halaman 1dari 21

A.

Tujuan Percobaan
Menentukan kerapatan zat padat berbentuk balok, silinder dan butiran serta zat
cair.

B. Dasar Teori
Masa jenis atau kerapatan (P) zat merupakan besaran karateristik yang dimiliki
suatu zat. Kerapatan suatu zat merupakan perbandingan massa dan volume zat itu,
sehingga nilai kerapatan dapat diukur melalui pengukuran massa dan volume zat.
Kerapatan suatu zat dinyatakan oleh persamaan :
=

m
v

Keterangan :
= Massa jenis (kg/m3) atau (g/cm3)
m = massa (kg atau gram)
v = volume (m3 atau cm3)
Nilai kerapatan zat tidak bergantung pada massa zat maupun volumenya. Perubahan
suhu pengaruhnya sangat kecil terhadap kerapatan zat.
1. Kerapatan Benda Padat
Kerapatan benda padat berbentuk balok dapat ditentukan dengan mengukur massa
(m), panjang (p), lebar (l) dan tinggi (t) benda tersebut. Besarnya kerapatan berbentuk
balok diberikan oleh persamaan (2).
m
= pxlxt
Untuk benda padat berbentuk silinder, kerapatannya ditentukan oleh Persamaan (3)
=

4m
2
d t

Dengan d dan t masing-masing adalah diameter dan tinggi silinder.


d
t

l
p
a. balok

b. silinder

2. Kerapatan Benda Berbentuk Butiran


a. Benda berbentuk butiran seperti tepung, pasir, kapur, semen dan
sejenisnya nilai kerapatanya kurang akurat jika cara menentukan
kerapatanya dengan meninbang massa dan mengukur volume yang
dibentuk oleh benda berbutir. Pengukuran dengan cara tersebut tidak
akurat karena dalam volume yang di bentuk oleh benda berbutir
terdapat ruang kosong berupa celah-celah yang terbentuk diantara
butiran benda, sehingga hasil pengukuran volume benda berbutir tidak
akurat. Untuk menghasilkan pengukuran kerapatan yang akurat,
digunkan alat yang dinamakan piknometer (bentuk dan prinsip kerja
piknometer dapat dilihat pada BAB II). Nilai pengukuran kerapatan
benda berbutir menggunakan piknometer di tentukan melalui
persamaan (4)
pasir =

( m3m1 )
aquades
( m2m1 ) ( m4 m3)

Dengan ketentuan:
m1

: massa piknometer kosong beserta tutupnya.

m2

: massa piknometer air beserta tutupnya.

m3 : massa piknometer berisi (1/3 bagian piknometer) beserta


tutupnya.
m4

: massa piknometer berisi pasir dan dipenuhi dengan aquades


beserta tutupnya.

3. Kerapatan Benda Cair


b. Kerapatan zat cair (air, alkohol, spiritus dan lainya) dapat ditentukan
dengan mengukur massa dan volume zat cair menggunakan gelas ukur.

Metode lain adalah dengan menggunakan piknometer dengan kerapatan


zat cair di tentukan melalui persamaan (4). Selain dua metode tersebut,
kerapatan zat cair juga dapat ditentukan menggunakan neraca Mohr.
Prinsip dasar pengukuran kerapatan zat cair menggunakan neraca Mohr
adalah penerapan hukum archimedes (gaya tekan ke atas oleh zat cair)
serta kesetimbangan gerak rotasi (jumlah total momen gaya sama
dengan nol). Skema kerja pengukuran kerapatan zat cair menggunakan
neraca Mohr di perlihatkan oleh gambar 2.

c. Pada gambar 2, keadaan awal ketika zat cair dan beban belum ada, sistem
dalam keadaan setimbang karena torsi (t) akibat benda celup yang terletak pada
lengan sepanjang L disetimbangkana oleh penyeimbang. Pada saat benda celup
tercelup dalam zat cair, benda celup mengalami gaya tekan keatas sebesar F=
pVg (p,V dan masing-masing adalah kerapatan zat cair, perubahan volume zat
cair setelah benda celup tercelup dalam zat cair dan percepatan gravitasi bumi).
Agar sistem kembali dalam keadaan setimbang, diletakkan beban dengan berat
W pada lengan neraca sepanjang l. Jika panjang L = 10 cm, maka dalam
keadaan setimbang dapat ditulis :

=0

(w.l) F . 10 = 0
(m . g . l ) . V . g . 10 = 0
(m . l ) = . V . 10
Dengan demikian nilai kerapatan zat cair dapat ditentukan menggunakan
Persamaan (4) berikut.
=

(m i . l i)
10 v

Dengan m adalah massa beban dan l bersatuan cm serta indeks i menyatakan


jumlah beban,

C. Alat dan Bahan

Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Jangka sorong
Mikrometer sekrup
Neraca torsi
Piknometer
Neraca mohr

Bahan :
1.
2.
3.
4.
5.

Balok kayu
Silinder logam
Pasir
Spiritus
Aquades

D. Prosedur Percobaan
i.

Menentukan kerapatan balok kayu dan silinder logam.


1. Amati jangka sorong, mikrometer sekrup, dan neraca torsi. Perhatikan
ketelitian masing-masing.
2. Ukur panjang, lebar, dan tinggi balok kayu menggunakan mikrometer
sekrup. Cara menggunakan mikrometer sekrup dapat dilihat pada BAB II
3. Ukurlah massa balok kayu dengan cara meletakkan balok kayu pada
piringan sebelah kiri neraca torsi. Geserlah beban-beban penggantung
sebagai pengganti anak neraca sedemikian hingga neraca setimbang seperti
semula.

Baca

angka-angka

yang

ditunjukkan

oleh

beban-beban

pnggantung, misal 10 g dan 3,4 g. Jadi massa balok kayu m = 10 g + 3,4 g


= 13,4 g.
Sehingga hasil pengukuran massa balok kayu m = (13,4 + 0,05) g.
4. Ukur panjang (p) dan diamete (d) silinder logam menggunakan jangka
sorong. Cara mengukur menggunakan jangka sorong dapat dilihat pada
BAB II.
5. Ukurlah massa silinder logam seperti langkah (3).
ii.

Menentukan kerapatan pasir


1. Timbang piknometer yang bersih dan kering bersama tutupnya.
1
2. Isi piknometer dengan pasir halus kira-kira sampai 3 bagian volume
piknometer.

3. Ukurlah

massa

piknometer

yang

berisi

pasir

beserta

tutupnya

menggunakan neraca torsi.


4. Tuangkan air perlahan-lahan ke dalam piknometer berisi pasir, kocokkocok, dan isi sampai penuh sehingga tidak ada gelembung udara di
dalamnya dan pasangkan penutup piknometer.
5. Ukurlah massa piknometer berisi pasir dan air tersebut beserta tutupnya
menggunakan neraca torsi.
6. Bersihkan piknometer dan isi penuh dengan air hingga tidak ada
gelembung di dalamnya kemudian pasangkan penutup piknometer.
7. Ukurlah massa piknometer berisi penuh air dan tutupnya menggunakan
neraca torsi.
8. Bersihkan dan keringksn piknometer.
iii.

Menentukan kerapatan zat cair


1. Atur neraca Mohr setegak mungkin (vertikal) dengan mengtur sekrup A.
2. Gantungkan benda celup pada ujung lengan neraca Mohr.
3. Atur neraca agar setimbang dengan memutar sekrup C, sehingga jarum D
berimpit dengan E pada skala.
4. Tuangkan spiritus ke dalam gelas ukur yang tersedia dan catat volumenya.
5. Celupkan seluruh bagian benda celup ke dalam spiritus dalam gelas ukur.
Pada keadaan ini neraca dalam keadaan tidak seimbang (jarum D tidak
berhimpit dengan E) dan catatlah perubahan volume spiritus dalam gelas
ukur. Perubahan volume spiritus tersebut menunjukkan nilai volume benda
celup.
6. Letakkan beban penunggang pada lengan bergerigi dari neraca agar neraca
dalam keadaan setimbang kembali. Jika satu beban penunggang belum
dapat mensetimbangkan neraca, tambahkan beban penunggang dan
letakkan pada posisi yang lain sampai neraca dalam keadaan setimbang
kemudian catatlah masing-masing beban penunggang dan posisinya dari
pusat (O).

E. Data Pengamatan
Tabel 1. Data pengukuran panjang, lebar, tebal, diamter. dan massa
Bahan
Kayu

p (mm)
19,4500 +

l (mm)
20,2500 +

t (mm)
11,2000 +

0,0025

0,0025

0,0025
34,3500 +

9,460 +

0,005
18,750 +

0,0025

0,005

0,005

Logam

d (mm)

m (g)
3,800 +

Tabel 2. Data pengukuran kerapatan pasir


m1
(20,200 + 0,005)

m2
(45,000 + 0,005)

m3
(25,000 + 0,005)

m4
51,700 + 0,005)

Tabel 3. Data pengukuran kerapatan spiritus


Bahan Penunggang
m (g)
1
(4,350 + 0,005)
2
(5,300 + 0,005)
3
(8,200 + 0,005)
Tabel 4. Data pengugkuran kerapatan alkohol

l (cm)
(6,5 + 0,05)
(8,00 + 0,05)
(4,00 + 0,05)

Bahan penunggang
1
2
3
4

l (cm)
(7,33 + 0,05)
(2,50 + 0,05)
(5,00 + 0,05)
(4,00 + 0,05)

m (g)
(4,350 + 0,005)
(6,750 + 0,005)
(5,300 + 0,005)
(8,200 + 0,005)

F. Analisis Data

Kerapatan balok kayu


m

balok =
p l t
pbalok =

3,8
3,8
3
3
=
=0 , 00086 g/ mm =0,86 g/ cm
19 , 45 ( 20 ,25 )( 11 , 2 ) 4411 , 26

|m |

balok =

| p|

| m|+

m
. p .l . t

|l |

| p|+

m
. p . l . t

|t |

| l|+

|t |

m
. p . l . t

m
. p .l . t

| | | | | | | |

m
m
m
m

pxlxt
pxlxt
pxlxt
pxlxt
| m|+
| p|+
| l|+
| t|
m
p
l
t

| |

| |

| |

( p1 .l 1 .t 1 )
( p1 .l 1 .t 1 )
( p1 . l1 . t 1 )
( p1 . l1 . t 1 )
m
m
m
m
| m|+
| p|+
| l|+
|
m
p
l
t

| p 1lt || m|+| p ml t || p|+| p lm t ||l|+| p lmt || t|

19,45

20,25

11,2

19,45 ( 20,25 ) |0,0025|


3,8

19,45 |0,0025|+
3,8

|0,0025|+
3,8

1
|0,005|+
19,45 ( 20,25 ) ( 11,2 )

=
1
3,8
3,8
3,8
|4411,26
||0,005|+|85799,007
||0,0025|+|89328,015
||0,0025|+|49406,112
||0,0025|
=

|0,0002||0,005|+|0,00004429||0,0025|+|0,00004254||0,0025|+|0,00007691||0,0025|
= 0,000001 + 0,000042 + 0,0000435 + 0,000024
= 0,0001105 g/mm3
= 0,1105 g/cm3
balok =( balok ) g /cm3 =( 0,86 0,1105 ) g /cm3
Persentasi Kesalahan ukur balok kayu:

P balok balok
0,860,1105
100 =
100
P balok
0,86

0,7495
100
0,86

= 0,8715 x 100 = 87,15%

Kerapatan silinder logam


4 ( 19,75 )
4m

79
silinder = 2 =
=
=0,00818 g/mm 3
2
= 8,18 g/cm3
9652,4745
d t 3,14 ( 9,46 ) ( 34,35 )

|m |

silinder =

m
. d . t

| t |

| d|+

m
. d . t

| t |

m
. d . t

| | | | | |

| d|

| m|+

4m
4m
4m

2
2
d t | |
d t | |
d2 t | |
m +
d +
t
m
d
t

| | | | | |

4
4m
4m
| m|+
| d|+ 2 | t|
2
dt
d t
d

|
=

4 ( 19 , 75 )
4 (19 , 75 )
4
|0 , 005|+
|0 , 005|+
|0 , 0025
2
3 , 14 ( 9 , 46 ) (34 ,35 )
3 ,14 ( 9 , 46 ) (34 ,35 )
3 , 14 ( 9 , 46 )2

|96524, 474 ||0 , 005|+|102079, 346||0 ,005|+|281,790036||0 , 0025|

= |0 , 00041||0 , 005|+|0 ,077||0 , 005|+|0 ,2811||0 , 0025|


= 0,00000205 + 0,000385 + 0,00070
= 0,001087 g/mm3
= 1,087 g/cm3
Psilinder = =( 8,18 1,087 ) g/c m

Persentasi Kesalahan ukur silinder logam:

P silinder silinder
8,181,087
100 =
100
silinder
8,18
P

7,093
100
8,18

= 0,867 x 100 = 86,7%

Kerapatan pasir
pasir =

( m3m 1 )
aquades
( m2m1 ) ( m4 m3)

( 2520,2 )
1 g /cm 3
( 4520,2 ) ( 51,725 )

4,8
3
1 g / cm
( 24,8 )26,7

1,9 g /cm3

| |

pasir =

| |

| |

m 1+
m2+
m 1 m . m . m . m
m 2 m . m . m . m
m3
1

m
1 .m
2. m
3. m
4

| |

m 3+

m4

m
1 .m
2 .m
3. m
4

2m1
(m4 m3)

2m1
(m4 m3)

2m1
(m4 m3)

2m1
(m4 m3)

=
| m4|

m3 m1

| m3|+

m3 m1

| m2|+

m3 m1

| m1|+

m3 m1

| |

| |

| |

m3 x
( m3 m1) akuades
(m1 ) akuades
( m3m1 ) akuades
m1|+
m2|+
m3|+
|
|
|
| m4|
m2 m4 +m3
m1 m4 +m3
m2m 1m 4
m2m1 +m3
akuades

( 2520,2 ) 1
(20,2 ) 1
( 2520,2 ) 1
25 x 1
|4551,7+25
||0,005|+|20,251,7+25
||0,005|+|4520,251,7
||0,005|+| 4520,2+25
|

25
4,8
4,8
|0,005|+|
|0,005|
|18,3
||0,005|+|46,9
||0,005|+|20,2
26,9 |
49,8|

= |1,366||0,005|+|0,102||0,005|+|0,751||0,005|+|0,096||0,005|
= 0,00683 + 0,00051 + 0,00375 + 0,00048
= 0,0158 g/cm3
pasir =( p ) =(1,9 0,0158 ) g /cm 3
Persentasi kesalahan ukur pasir:
pasir
100
|P pasir
|100 = 1,90,0158
pasir
1,9

Kerapatan spiritus
Percobaan 1
panjang (l)
I
1
2
3
N=3

xi (cm)
7,5
7
5
19,5
7 +8
=7,5
Keterangan : 1.
2
2.

6 +8
=7
2

3.

1+ 9
=5
2

6,50
xi = 19,5 = + 0,05) cm
x=
n
3
4,350
3,4+5,3 8,7
m=
=
=
2
2

+ 0,005) g

100,83

spiritus =

mi l i
dengan i=1
10 v

( 4,35 6,5 ) 28,275


=
=0,1131 g/cm3
250
10 (25 )

| |

p spiritus=

| |

m1+
m 1 m . l . V
l1
1

| |

| |

l 1+

m
1 .l1 V

| | |

v
v m . l . V
1

l1
m1
( m1 l1 )
m 1|+
l 1|+
| v |
|
|
2
10 v
10 v
10 v

25

10 |0,5|
4,35(6,5)

6,5
4,35
|0,005|+
|0,05|+
10(25)
10 ( 25 )

| | | |
| || | | || | |

6,5
4,35
28,275
0,005 +
0,05 +
|0,5|
250
250
6250

= |0,026||0,005|+|0,0174||0,05|+|0,004524||0,5|
= 0,00013 + 0,00087 + 0,00226
= 0,00326 g/cm3
spiritus =( p ) =( 0,1131 0,00326 ) gr /cm3
Persentasi kesalahan ukur:
spiritus
|P spiritus
|100 =|0,11310,00326
| 100
spiritus
0,1131
97,1

Percobaan 2
panjang (l) = (8,00 + 0,05) cm
massa (m) = (5,300 + 0,005) g
m l
spiritus = i i dengan i=2
10 v

( 5,3 8 ) 42,4
=
=0,1696 g /cm3
10 ( 25 ) 250

| |

p spiritus=

| |

m2+
m2 m . l . V
l2
2

| |

| |

l 2+

m
2. l2 V

| | |

v
v m . l . V
2

l2
m
( m2 l2 )
m 2|+ 2 |l 2|+
| v |
|
2
10 v
10 v
10 v

25

10 |0,5|
5,3(8)

8
5,3
|0,005|+
|0,05|+
10(25)
10 ( 25 )

| | | |
| || | | || | | ||

8
5,3
42,4
0,005 +
0,05 +
0,5|
250
250
6250

= |0,256||0,005|+|0,0212||0,05|+|0,006784||0,5|
= 0,00128 + 0,00106 + 0,003392
= 0,005732 g/cm3
spiritus =( p ) =( 0,1696 0,005732 ) gr /cm3
Persentasi kesalahan ukur:
spiritus
0,16960,005732
100 =|
|P spiritus
|
|100
spiritus
0,1696
96,62

Percobaan 3
panjang (l) = (4,00 + 0,05) cm
massa (m) = (8,200 + 0,005) g
m l
spiritus = i i dengan i=3
10 v

( 8,2 x 4 ) 32,8
=
=0,1312 g/cm 3
10 ( 25 ) 250

| |

p spiritus=

| |

m3 +
m 3 m . l . V
l 3
3

m
3 . l 3 V

| || | | || | |(

|v |

l 3+

m3 l 3 )
l3
m
m3 + 3 l3 +
| v|
2
10 v
10 v
10 v
25

10 |0,5|
8,2(4)

4
8,2
|0,005|+
|0,05|+
10(25)
10 ( 25 )

| | | |
| || | | || | | ||

4
8,2
32,8
0,005 +
0,05 +
0,5|
250
250
6250

= |0,016||0,005|+|0,0328||0,05|+|0,005248||0,5|
= 0,00008 + 0,00164 + 0,002624
= 0,004344 g/cm3
spiritus =( p ) =( 0,1312 0,004344 ) gr /cm3
Persentasi kesalahan ukur:
spiritus
0,13120,004344
100 =|
|P spiritus
|
| 100
spiritus
0,1312
96,69

Kerapatan alkohol
Percobaan 1
Panjang (l)
I
1
2
3
N=3

xi (cm)
7,5
8,5
6
22
7 +8
=7,5
Keterangan : 1.
2

m
3 . l 3 . V

2.

9+8
=8,5
2

3.

3+ 9
=6
2

7,33
xi = 22 = + 0,05) cm
x=
n
3
4,350
3,4+5,3 8,7
m=
=
=
2
2
alkohol=

+ 0,005) g

mi l i
dengan i=1
10 v

( 4,35 x 7,33 ) 31,8855


=
=0,1275 g / cm3
250
10 (25 )

| |

palkohol =

m1

m 1 . l1 . V 1

| |

m1+

| |

| |

l 1+
v
l 1 m . l V
v m . l . V
1

| | |

l1
m1
( m1 l1 )
m 1|+
l 1|+
| v |
|
|
2
10 v
10 v
10 v

25

10 |0,5|
4,35(7,33)

7,33
4,35
|0,005|+
|0,05|+
10(25)
10 ( 25 )

| | | |
| || | | || | |

7,33
4,35
31,8855
0,005 +
0,05 +
|0,5|
250
250
6250

= |0,02932||0,005|+|0,0174||0,05|+|0,0051||0,5|
= 0,00012 + 0,00087 + 0,00255
= 0,00354 g/cm3
alkohol= ( p ) =( 0,1275 0,00354 ) gr /cm 3
Persentasi kesalahan ukur:

alkohol
0,12750,00354
100 =|
|P alkohol
|
|100
alkohol
0,1275
97,22

Percobaan 2
panjang (l) =

2+3
2

massa (m) =

5,3+ 8,2
2

alkohol=

= (2,50 + 0,05) cm
= (6,750 + 0,005) g

mi l i
dengan i=2
10 v

( 6,75 x 2,5 ) 16,875


=
=0,0675 g/cm 3
250
10 ( 25 )

| |
| |
(
|
|
|
|
| | | | |

palkohol =

m2

m 2 . l2 . V

m2+

| |

l 2+
v
l 2 m . l V
v m . l . V
2

m2 l 2 )
l2
m
m2 + 2 l 2 +
| v |
10 v
10 v
10 v 2
25

10 |0,5|
6,75( 2,5)

2,5
6,75
|0,005|+
|0,05|+
10(25)
10 ( 25 )

| | | |
| || | | || | |

2,5
6,75
16,875
0,005 +
0,05 +
|0,5|
250
250
6250

= |0,01||0,005|+|0,027||0,05|+|0,0000237||0,5|
= 0,00005 + 0,00135 + 0,00001185
= 0,001412 g/cm3
alkohol= ( p ) =( 0,0675 0,001412 ) gr /cm3
Persentasi kesalahan ukur:

alkohol
0,06750,001412
100 =|
|P alkohol
|
| 100
alkohol
0,0675
97,9
Percobaan 3
panjang (l) = (9,00 + 0,05) cm
massa (m) = (5,300 + 0,005) g
m l
alko h ol = i i dengani=3
10 v

( 5,3 x 9 ) 47,7
=
=0,1908 g/cm3
10 ( 25 ) 250

| |

p alkohol=

m3

| |

m 3+

m
3 . l 3 . V

l3

| |

l 3 +

m
3 . l 3 V

| || | | || | |(

m3 l 3 )
l3
m3
m3 +
l3 +
| v|
2
10 v
10 v
10 v

25

10 |0,5|
5,3(9)

9
5,3
|0,005|+
|0,05|+
10(25)
10 ( 25 )

| | | |
| || | | || | | ||

9
5,3
47,7
0,005 +
0,05 +
0,5|
250
250
6250

= |0,036||0,005|+|0,0212||0,05|+|0,007632||0,5|
= 0,00018 + 0,00106 + 0,03816
= 0,005056 g/cm3
3
spiritus =( p ) =( 0 , 1908 0,005056 ) gr /cm
Persentasi kesalahan ukur:
alkohol
0,19080,005056
100 =|
|P alkohol
|
|100
alkohol
0,1908
97,35

m
3. l 3 . V

Percobaan 4
panjang (l) = (4,00 + 0,05) cm
massa (m) = (8,200 + 0,005) g
m l
alko h ol = i i dengani=4
10 v

( 8,2 x 4 ) 32,8
=
=0,1312 g/cm 3
10 ( 25 ) 250

| |

p alkohol=

m4

| |

m4 +

m
4 . l4 . V

l4

m
4 . l4 V

| || | | || | |(

|v |

l 4 +

m4 l4 )
l4
m
m4 + 4 l 4 +
| v|
2
10 v
10 v
10 v
25

10 |0,5|
8,2(4)

4
8,2
|0,005|+
|0,05|+
10(25)
10 ( 25 )

| | | |
| || | | || | | ||

4
8,2
32,8
0,005 +
0,05 +
0,5|
250
250
6250

= |0,016||0,005|+|0,0328||0,05|+|0,005248||0,5|
= 0,00008 + 0,00164 + 0,002624
= 0,004344 g/cm3
spiritus =( p ) =( 0 , 1312 0,004344 ) gr /cm3
Persentasi kesalahan ukur:
alkohol
0,13120,004344
100 =|
|P alkohol
|
|100
alkohol
0 ,1312
96,68

m
4 . l 4 . V

G. Pembahasan

Praktikum kali ini adalah kerapatan zat dengan tujuan menentukan kerapatan
zat padat berbentuk balok, silinder, butiran dan zat cair. Cara menentukan kerapatan
suatu zat memanglah tidak mudah. Apalagi zat tersebut berbentuk cair atau butiran,
maka ketepatan pengukuran kerapatan suatu zat sangat kecil bila menggunakan alat
ukur sederhana. Berat jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat dibanding
dengan volume zat pada suhu tertentu. sedangkan rapat jenis (specific gravity) adalah
perbandingan antara bobot zat pada suhu tertentu Dari percobaan yang telah kami
lakukan :
pertama yaitu mengukur benda padat yang berbentuk silinder dan balok. Dengan
m
menggunakan rumus = pxlxt

untuk benda berbentuk balok dan =

4m
d2 t

untuk benda berbentuk silinder atau bisa diartikan kerapatan suatu benda padat adalah
dengan membagi massa dengan volume maka kita bisa mengetahui kerapatan suatu
benda padat. Jika ingin mengukur suatu benda badat yang berbentuk selain balok,
silinder, atau butiran yaitu dengan menentukan volume dan massanya
Kedua yaitu mengukur kerapatan suatu benda padat berbentuk butiran, Yaitu dengan
menggunakan alat yang disebut piknometer yaitu alat yang digunakan untuk mengukur
kerapatan benda padat berbentuk butiran. Piknometer biasanya terbuat dari kaca untuk
erlenmeyer kecil dengan kapasitas antara 10ml-50ml. Cara kerja piknometer yaitu
dengan memasukkan benda butiran kedalam piknometer kemudian isi piknometer
dengan air hingga tak ada udara didalamnya. Setelah itu ukur kerapatan benda
tersebut dengan rumus dibawah ini dengan ketentuan yang telah dijelaskan pada dasar
teori.

pasir =

( m3m1 )
aquades
( m2m1 ) ( m4 m3)

Ketiga yaitu percobaan menghitung kerapatan zat cair dengan menggunakan alat yang
dinamakan neraca mohr. Sistem kerja neraca mohr yaitu dengan mencelupkan benda

yang digantung di ujung neraca ke dalam gelas ukur yang telah diisi dengan zatcair ,
dalam percobaan kali ini menggunakan spiritus dan alkohol. Setelah beban masuk
kedalam gelas ukur maka kita harus memindah baban penunggang hingga panah di
ujung neraca tepat seimbang. Setelah itu hitung beban penunggang yang digunakan,

maka di dapat rumus untuk menghitung kerapatan zat cair =

(m i . l i)
10 v

Dalam literatur diakatakan kerapatan zat tersebut tepat apabila memenuhi syarat
sebagai berikut:
1. pada benda padat berbentuk balok dan silinder:
o massa benda sesuai, tidak bergoyang saat ditimbang.
o rumus volume yang digunakan sesuai.
2. pada benda berbentuk butiran:
o tidak ada gelembung udara dalam piknometer
o massa seimbang / tepat
3. benda berbentuk zat cair :
o neraca torsi harus tepat seimbang
o beban yang tergantung tidak boleh menyentuh dinding gelas ukur
Pada percobaan ini sering terjadi kesalahan perhitungan karena banyak faktor
yag menyebabkan ketidakpastian perhitungan, seperti saat menghitung kerapatan zat
cair, neraca mohr yang digunakan sering tidak tepat ditengah dan tidak seimbang
karena beban penunggang yang digunakan tidak sesuai.
Faktor yang mempengaruhi kerapatan suatu zat adalah :
1) Temperatur
Karena suhu yang tinggi menyebabkan benda dapat menguap dan
mengubah berat suatu zat.
2) Massa
Apabila massa suatu zat besar maka bisa di pastikan kerapatannya juga
besar
3) Volume
Apabila volume suatu zat besar maka kerapatan zat nya semakin kecil
dan sebaliknya.