Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Definisi
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan

terutama oleh Salmonella typhi bakteri Gram-negatif dan Salmonella paratyphi A.


Penyakit ini ditandai dengan panas berkepanjangan tanpa keterlibatan struktur
endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel
fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan Patch Peyer.1,3
Beberapa terminologi lain yang erat kaitannya adalah demam paratifoid
dan demam enterik. Demam paratifoid secara patologik maupun klinis adalah
sama dengan demam tifoid namun biasanya lebih ringan, penyakit ini disebabkan
oleh spesies Salmonella enteriditis sedangkan demam enterik dipakai baik pada
demam tifoid maupun demam paratifoid. Terdapat 3 bioserotipe Salmonella
enteriditis yaitu bioserotipe paratyphi A, paratyphi B(S.Schotsmuelleri) dan
paratyphi C ( S. Hirschfeldii).1
2.2.

Epidemiologi
Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang penting di

berbagai negara sedang berkembang. Besarnya angka pasti kasus demam tifoid di
dunia sangan sulit ditentukan, sebab penyakit ini dikenal mempunyai gejala
dengan spektrum klinisnya sangat luas. Diperkirakan angka kejadian dari
150/100.000/tahun di Amerika Selatan dan 900/100.000/tahun di Asia. Umur
penderita yang terkena di Indonesia (daerah endemis) dilaporkan antara 3-19
tahun mencapai 91% kasus. Angka yang kurang lebih sama juga dilaporkan dari
Amerika Selatan. 1
Rasio penyakit yang disebabkan oleh S. typhi dengan yang disebabkan
oleh S. paratyphi adalah sekitar 10: 1. Demam tifoid masih menjadi masalah
kesehatan global untuk Salmonella typhi. Sulit untuk memperkirakan beban nyata
demam tifoid di dunia karena gambaran klinis yang membingungkan dengan
banyak infeksi demam lainnya, dan penyakit ini diremehkan karena kurangnya
sumber daya laboratorium di sebagian besar wilayah di negara berkembang.
Akibatnya, banyak kasus tetap berada di bawah-didiagnosis. 2,5

Di Jakarta Utara kejadian tahunan tifoid adalah 148,7 kasus per 100 000
anak pertahun, antara usia 2-4 tahun, dan 180,3 kasus per 100 000 anak pertahun
di antara anak-anak berusia 5-15 tahun. Menurut WHO demam tifoid diperkirakan
216.000-600.000 kematian terjadi setiap tahunnya . Sebagian besar kematian
terjadi pada negara berkembang, dan 80 % kematian terjadi di Asia . 6
Salmonella typhi dapat hidup di dalam tubuh manusia (manusia sebagai
natural

reservoir.

Manusia

yang

terinfeksi

Salmonella

typhi

dapat

mengekskresikannya melalui sekret saluran nafas, urin dan tinja dalam jangka
waktu yang sangat bervariasi. Salmonella typhi yang berada di luar tubuh manusia
dapat hidup untuk beberapa minggu apabila berada di dalam air, es, debu atau
kotoran yang kering maupun pada pakaian. Masa inkubasi biasanya 8-14 hari,
tetapi dapat berkisar dari 3 hari hingga 2 bulan. Akan tetapi S.typhi hanya hidup
kurang dari 1 minggu pada raw sewage, dan mudah dimatikan dengan klorinasi
dan pasteurisasi (temp 630C). 1,2,7
Terjadinya penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui minuman/
makanan yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa
kuman, biasanya keluar bersama-sama dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalur
oro-fekal).2,8
Dapat juga terjadi transmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang
berada dalam bakteremia kepada bayinya. Pernah dilaporkan pula transmisi orofekal dari seorang ibu pembawa kuman pada saat proses kelahirannya kepada
bayinya dan sumber kuman berasal dari laboratorium. 1
2.3.

Etiologi
Salmonella typhi sama dengan Salmonela yang lain adalah bakteri Gram-

negatif, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif


anaerob. Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen yaitu:
1.

Antigen somatik (Antigen O) yang terdiri dari oligosakarida, terletak


pada lapisan luar tubuh kuman. Bagian ini mempunyai struktur kimia
lipopoliskarida atau disebut endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas
dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.

2.

Flagelar antigen (Antigen H) yang terletak pada flagella, fimbriae atau


pili dari kuman. Terdiri dari dari protein dan tahan terhadap formaldehid

3.

tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.


Envelope antigen (Antigen K) yang terdiri dari polisakarida.
Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan

dengan resistensi terhadap multipel antibiotik.1,9

Gambar 2.1 Salmonella typhi, bakteri Gram-negatif


2.4.Patofisiologi
Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses kompleks mengikuti ingesti
organisme, yaitu :
1. Penempelan dan invasi sel-sel M Peyers patch
2. Bakteri bertahan hidup dan bermutiplikasi di makrofag Peyers patch,
nodus limfatikus mesenterikus, dan organ-organ ekstra intestinal
sistem retikulo endotelial
3. Bakteri bertahan hidup di dalam aliran darah
4. Produksi enterotoksin yang meningkatkan kadar cAMP di dalam kripta
usus dan menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke dalam lumen
intestinal. 1, 10

Gambar 2.2. Patofisiologi Demam Tifoid10

2.5.

Manfestasi Klinis
Pada anak periode inkubasi demam tifoid rata-rata 10 -14 hari. Gejala

klinis sangat bervariasi tergantung dari status nutrisi dan imunologinya.


Manifestasi klinis demam tifoid yaitu :
Minggu I :

Demam

yang timbul insidius sifatnya meningkat perlahan lahan

terutama meningkat pada sore hingga malam hari. Suhu meningkat setiap
harinya dan mencapai puncaknya pada akhir minggu pertama, dapat
mencapai 39o - 40oC. demam tifoid ini dapat juga disebut dengan step2
3
4
5
6
7
8

ladder temperature chart


Nyeri kepala, pusing.
Mual, muntah, anoreksia.
Epistaksis
Batuk
Gangguan defekasi : Obstipasi pada minggu I.
Tidak enak di perut.
Apatis/bingung dapat diakibatkan toksik menjadi delirium yang akan

menjadi meningismus (akhir minggu ke I).


Myalgi/atralgi.

Minggu ke II :
1
2

Demam
Nadi terjadi bradikardi relatif ( peningkatan suhu 11 C tanpa diikuti

peningkatan denyut nadi 8 kali per menit


Lidah, typhoid tongue, dengan warna lidah putih kotor di bagian tengah

dengan ujung dan tepi hiperemis dan terdapat tremor.


Thoraks, paru-paru dapat terjadi bronchitis/pneumonia, pada umumnya
bersifat tidak produktif, terjadi pada minggu ke II atau minggu ke III, yang

disebabkan oleh pneumococcus atau yang lainnya.


Gangguan defekasi : Diare pada minggu II (peas soup diare). Karena
peradangan kataral dari usus, sering disertai dengan perdarahan dari

selaput lendir usus, terutama ileum


Abdomen, agak cembung, bisa terjadi :
- Meteorismus
- Splenomegali pada 70% dari kasus, dengan perabaan keras, mulai teraba
pada akhir

minggu ke I sampai minggu ke III, akan tetapi dapat juga

lunak dan nyeri tekan positif.


- Hepatomegali pada 25% dari kasus, terjadi pada minggu ke II.
7

Kulit, Rose spot, adalah suatu ruam makulopapular yang khas untuk
tipoid, berukuran 1 5 mm. Sering dijumpai pada daerah abdomen, toraks,
ekstremitas dan punggung pada orang kulit putih dan tidak pernah
dilaporkan terjadi pada anak Indonesia. Biasanya muncul pada hari ke 7
10 dan bertahan 2 3 hari. Hal ini terjadi karena infiltrasi oleh sel monosit

10

pada ujung-ujung kapiler yang disebabkan oleh infiltrasi kuman


Salmonella typhi pada kulit, yang menyebabkan terjadinya proses radang,
sehingga terjadi perembesan dari sel eritrosit, karena permeabilitas kapiler
8

meningkat.
Gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis.
1,9

Gambar 2..3. Manifestasi Klinis Demam Tifoid

2.6.
2.6.1

Diagnosis
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
a Anamnesis.
1 Demam lamanya lebih dari 1 minggu, sifatnya sore dan malam
2

hari lebih tinggi daripada pagi dan siang hari.


Gangguan saluran cerna : mulut bau, perut kembung atau tegang
dan nyeri pada perabaan, konstipasi atau diare, tinja berdarah
dengan atau tanpa lendir atau tinja berwarna hitam, anoreksia,

muntah.
Gangguan kesadaran : lamanya, sifatnya (apatis sampai

somnolen) mengigau, halusinasi, dll.


4 Gejala lain : kejang, sesak nafas.1,8,9
b Pemeriksaan fisik.
1 Demam, mulut bau, bibir kering dan pecah-pecah (rhagaden),
lidah kotor (coated tongue) dengan ujung dan tepi kemerahan

11

dan tremor, perut kembung, pembesaran hati dan limpa yang


2

nyeri pada perabaan.


Tanda komplikasi di dalam saluran cerna : Perdarahan usus
(tinja berdarah / melena), Perforasi usus (pekak hati hilang
dengan atau tanpa tanda-tanda peritonitis, bising usus hilang),
Peritonitis (nyeri perut hebat, dinding perut tegang dan nyeri

tekan, bising usus melemah/hilang).


Tanda komplikasi di luar saluran cerna : Meningitis, kolesistitis,
hepatitis,

ensefalopati

(kesadaran

menurun),

Bronkhopneumonia, dehidrasi dan asidosis.10


2.6.2 Pemeriksaan Penunjang
A Pemeriksaan Darah Tepi
Pada demam tifoid sering disertai anemia dari yang ringan sampai sedang
dengan peningkatan laju endap darah, gangguan eritrosit normokrom normositer,
yang diduga karena efek toksik supresi sumsum tulang atau perdarahan usus.
Tidak selalu ditemukan leukopenia, diduga leukopenia disebabkan oleh destruksi
leukositoleh toksin dalam peredaran darah. Sering hitung leukosit dalam batas
normal dan dapat pula leukositosis, terutama bila disertai komplikasi lain.
Trombosit jumlahnya menurun, gambaran hitung jenis didapatkan limfositosis
relatif,aneosinofilia, dapat shift to the left ataupun shift to the right bergantung
pada perjalanan penyakitnya. Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT)
dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) seringkali meningkat, tetapi
akan kembali menjadi normal setelah sembuh. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak
memerlukan penanganan khusus. Gambaran sumsum tulang menunjukkan
normoseluler, eritroid dan myeloid sistem normal, jumlah megakariosit dalam
batas normal.1,11
B Pemeriksaan Serologi
Uji serologi standar yang rutin digunakan untuk mendeteksi antibodi
terhadap kuman S.typhi yaitu uji Widal. Uji telah digunakan sejak tahun 1896.
Pada uji Widal terjadi reaksi aglutinasi antara antigen kuman S.typhi dengan
antibodi yang disebut aglutinin. Prinsip uji Widal adalah serum penderita dengan
pengenceran yang berbeda ditambah dengan antigen dalam jumlah yang sama.

12

Jika pada serum terdapat antibodi maka akan terjadi aglutinasi. Pengenceran
tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam
serum.
Pada demam tifoid mula-mula akan terjadi peningkatan titer antibodi O.
Antibodi H timbul lebih lambat, namun akan tetap menetap lama sampai beberapa
tahun, sedangkan antibodi O lebih cepat hilang. Pada fase akut mula mula
timbul aglutinin O. Pada seseorang yang telah sembuh, aglutinin O masih tetap
dijumpai setelah 4-6 bulan, sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9
bulan 2 tahun. Antibodi Vi timbul lebih lambat dan biasanya menghilang setelah
penderita sembuh dari sakit. Pada pengidap S.typhi, antibodi Vi cenderung
meningkat. Antigen Vi biasanya tidak dipakai untuk menentukan diagnosis
infeksi, tetapi hanya dipakai untuk menentukan pengidap S.typhi.
Di Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin 1/40 dengan memakai
uji widal slide aglutination menunjukkan nilai ramal positif 96%. Banyak senter
mengatur pendapat apabila titer O aglutinin sekali periksa 1/200 atau pada titer
sepasang terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan.
Aglutinin H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau,
sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman Salmonella typhi
(karier). Meskipun uji serologi Widal untuk menunjang diagnosis demam tifoid
telah luas digunakan di seluruh dunia, namun manfaatnya masih menjadi
perdebatan. Sampai saat ini uji serologi Widal sulit dipakai sebagai pegangan
karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut off point).
Interpretasi pemeriksaan Widal harus hati-hati karena banyak faktor yang
mempengaruhi antara lain stadium penyakit, pemberian antibiotik, teknik
laboratorium, gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis
atau non endemis), riwayat mendapat imunisasi sebelumnya, dan reaksi silang. 1
Uji Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dipakai untuk
melacak antibodi IgG, IgM dan IgA terhadap antigen LPS O9, antibodi IgG
terhadap antigen flagella d (Hd) dan antibodi terhadap antigen Vi S. typhi. Uji
ELISA yang sering dipakai untuk mendeteksi adanya antigen S. typhi dalam
spesimen klinis adalah double antibody sandwich ELISA. Pemeriksaan terhadap
antigen Vi urine ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut akan tetapi

13

tampaknya cukup menjanjikan, terutama bila dilakukan pada minggu pertama


sesudah panas timbul, namun juga perlu diperhitungkan adanya nilai positif juga
pada kasus dengan Brucellosis.12
Uji serologis dengan pemeriksaan dipstik dikembangkan di Belanda
dimana dapat mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen LPS S. typhi
dengan menggunakan membran nitroselulosa yang mengandung antigen S. typhi
sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM anti-human immobilized sebagai reagen
kontrol. Pemeriksaan ini menggunakan komponen yang sudah distabilkan, tidak
memerlukan alat yang spesifik dan dapat digunakan di tempat yang tidak
mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap.Kadar IgM dan IgG (Typii-dot).12
C Biakan Salmonella
Metode diagnosis mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan
lebih dari 90% penderita yang tidak diobati, kultur darahnya positip dalam
minggu pertama. Hasil ini menurun drastis setelah pemakaian obat antibiotika,
dimana hasil positip menjadi 40%. Meskipun demikian kultur sum-sum tulang
tetap memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90% positip. Pada minggu-minggu
selanjutnya hasil kultur darah menurun, tetapi kultur urin meningkat yaitu 85%
dan 25% berturut-turut positip pada minggu ke-3 dan ke-4. Organisme dalam tinja
masih dapat ditemukan selama 3 bulan dari 90% penderita dan kira-kira 3%
penderita tetap mengeluarkan kuman Salmonella typhi dalam tinjanya untuk
jangka waktu yang lama.13
Pemeriksaan mikrobiologi yang digunakan adalah Kultur (Gall culture/
Biakan empedu). Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan
Demam Tifoid/ paratyphoid. Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis
pasti untuk Demam Tifoid/ Paratifoid. Sebalikanya jika hasil negatif, belum tentu
bukan Demam Tifoid/ Paratifoid, karena hasil biakan negatif palsu dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit
kurang dari 2mL), darah tidak segera dimasukan ke dalam medial Gall (darah
dibiarkan membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan),
saat pengambilan darah masih dalam minggu- 1 sakit, sudah mendapatkan terapi
antibiotika, dan sudah mendapat vaksinasi.Kekurangan uji ini adalah hasilnya

14

tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk pertumbuhan kuman
(biasanya positif antara 2-7 hari, bila belum ada pertumbuhan koloni ditunggu
sampai 7 hari). Pilihan bahan spesimen yang digunakan pada awal sakit adalah
darah, kemudian untuk stadium lanjut/ carrier digunakan urin dan tinja. 1, 13
D Polymerase Chain Reaction (PCR)
Metode lain untuk identifikasi bakteri S. typhi yang akurat adalah
mendeteksi DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri S. typhi dalam darah dengan
teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara polymerase
chain reaction (PCR) melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S. typhi.
Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi
risiko kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila
prosedur teknis tidak dilakukan secara cermat, adanya bahan-bahan dalam
spesimen yang bisa menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam
spesimen darah serta bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses), biaya
yang cukup tinggi dan teknis yang relatif rumit. Usaha untuk melacak DNA dari
spesimen klinis masih belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga saat
ini penggunaannya masih terbatas dalam laboratorium penelitian. 1,10
E Pemeriksaan Radiologik
Foto thorak apabila diduga terjadi komplikasi pneumonia
Foto abdomen, apabila diduga terjadi komplikasi intraintestinal seperti

2.7.

perforasi usus atau perdarahan saluran cerna


Pada perforasi usus akan tampak :
Distribusi udara tak merata
Airfluid level
Bayangan radiolusen di daerah hepar
Udara bebas pada abdomen 9
Diferensial Diagnosis
Pada stadium dini demam tifoid, beberapa penyakit kadang-kadang secara
klinis dapat menjadi diagnosis bandingnya yaitu influenza, gastroenteritis,
bronkitis dan bronkopneumonia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme intraselular seperti tuberkulosis, infeksi jamur sistemik,
shigelosis dan malaria juga perlu dipikirkan. Pada demam tifoid yang

15

berat, sepsis, leukemia, limfoma dan penyakit hodgkin dapat sebagai


diagnosis banding. 1, 13
2.8.
2.8.1

Penatalaksanaan
Antibiotik

1. Lini pertama
Obat pilihan pertama: Kloramfenikol 50 - 100 mg/kg BB/hari oral atau IV
dalam 4 dosis (dosis maksimal 2 g/hari) sampai tujuh hari bebas panas,
selama 10 - 14 hari.

Ampisilin 200 mg/kgBB/hari IV dalam 4 dosis, atau

Amoksisilin 100mg/kgbb/hari dalam 4 dosis oral atau intravena selama


10 hari

Trimetoprimsulfametoksasol 10mg/kbBB/hari (TMP) atau 50 mg/kg


BB/hari (SMX) oral dalam 2 dosis bila alergi penisilin

2. Lini ke dua, diberikan pada kasus-kasus demam tifoid yang disebabkan S.typhi
yang resisten terhadap berbagai obat (MDR=multidrug resistance), yang terdiri
atas :

Cefixim 10 mg/kgBB/hari peroral dalam 2 dosis selama 10 hari tidak


digunakan pada demam tifoid berat

Demam tifoid berat: Ceftriaxon 80 mg/kgBB/hari IV dosis tunggal


diberikan selama 5-7 hari,
Bila panas tidak turun dalam 5 hari pertimbangkan: komplikasi, fokal
infeksi lain, resisten, dosis tidak optimal, diagnosis tidak tepat
pengobatan disesuaikan.
Pada demam tifoid berat dengan gangguan kesadaran diberikan juga

dexametason dengan dosis awal 3 mg/kgBB dalam 30 menit, dilanjutkan 1 mg/kg


BB/6 jam, sebanyak 8 kali (selama 48 jam) hingga kesadaran membaik 1,4,9, 12
2.8.2

Pengobatan Lain dan Perawatan Penunjang

A Perawatan

Demam tifoid ringan dapat dirawat dirumah

16

Isolasi memadai

Tirah baring sampai 7 hari bebas panas, kemudian mobilisasi secara


bertahap

B Diet
Bebas serat, tidak merangsang
Tidak menimbulkan gas
Mudah dicerna (lunak)
Tidak dalam jumlah banyak
Setelah demam reda, dapat segera diberikan makanan yang lebih padat
dengan kalori cukup.
Bila intake peroral < 50%, kesadaran menurun makanan personde atau
cairan IV

Bila terdapat peritonitis atau perdarahan saluran cerna: pasien


dipuasakan, pasang pipa nasogastrik, nutrisi parenteral, transfusi darah
(atas indikasi), foto abdomen, antibiotik sefalosporin generasi III
parenteral

Beri cairan iv bila: dehidrasi, keadaan umum lemah, tidak dapat makan
peroral, atau timbul syok.

Pada ensefalopati, jumlah kebutuhan cairan dikurangi menjadi 4/5


kebutuhan dengan kadar natrium rendah

Terapi demam tifoid dengan syok sesuai dengan standar penatalaksanaan


berdasarkan penyebab syok (syok hipovolemik atau syok sepsis)

Transfusi darah bila Hb <6gr% atau bila terdapat gejala perdarahan yang
jelas.

C Antipiretik, diberikan apabila demam >39o C, kecuali pada pasien dengan


riwayat kejang demam diberikan lebih awal.
D Bila terjadi perforasi usus: konsultasi dengan bagian Bedah untuk tindakan
laparotomy
Pemantauan
Evaluasi demam dengan memonitor suhu. Apabila pada hari ke 4-5 setelah
pengobatan demam tidak reda, maka harus segera kembali dievaluasi adakah

17

komplikasi, sumber infeksi lain, resistensi S.typhi terhadap antibiotik atau


kemungkinan salah menegakkan diagnosis
Pasien dapat dipulangkan apabila tidak ada demam selama 24 jam tanpa
antipiretik, nafsu makan membaik, klinis perbaikan dan tidak dijumpai
komplikasi. Pengobatan dapat dilanjutkan dirumah
Indikasi Rawat Inap demam tifoid dengan gejala klinis bila ada

Hiperpireksia
Dehidrasi atau keadaan umum lemah.

Semua ensepalopati tifoid

Semua demam tifoid dengan komplikasi 1,9,10

2.9 Komplikasi
Perforasi usus atau perdarahan saluran pencernaan dengan gejala klinis
yaitu, suhu menurun, nyeri abdomen, muntah, nyeri tekan pada palpasi, bising
usus menurun sampai menghilang, defance musculare positif dan pekak hati
menghilang.
Kolesistitis akut, kolesistitis kronik berhubungan dengan terbentuknya
batu empedu dan fenomena pembawa (carrier). Ekstra intestinal: Ensefalopati
tifoid, hepatitis tifosa, meningitis, pneumonia, syok septic,

pyelonefritis,

miokarditis. 9
2.10 Prognosis
Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan
kesehatan sebelumnya dan ada tidaknya komplikasi. Di negara maju, dengan
terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas <1%. Di negara berkembang,
angka mortalitas >10%, biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan dan
pengobatan. Munculnya komplikasi seperti perforasi gastrointestinal atau
perdarahan hebat, meningitis, endokarditis dan pneumonia, mengakibatkan
morbiditas dan mortalitas tinggi.
Relaps dapat timbul beberapa kali. Individu yang mengeluarkan S.ser
Typhi 3 bulan setelah infeksi umumnya menjadi karier kronis. Risiko menjadi
karier pada anak-anak rendah dan meningkat sesuai usia. Karier kronik terjadi
pada 1-5% dari seluruh pasien demam tifoid. Insidens penyakit traktus biliaris

18

lebih tinggi pada karier kronis dibandingkan dengan populasi umum. Walaupun
karier urin kronis juga dapat terjadi, hal ini jarang dan dijumpai terutama pada
individu dengan skistosomiasis. 1

2.11 Pencegahan
Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang

sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan
primer yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi makanan sehat agar
meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan pendidikan kesehatan untuk
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara budaya cuci tangan
yang benar dengan memakai sabun, peningkatan higiene makanan dan minuman
berupa menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan
penyajian makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk
dimakan, dan perbaikan sanitasi lingkungan.
Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang
dibuat dari bakteri yang dimatikan, kuman hidup yang dilemahkan dan komponen
Vi strain Salmonella typhi. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yaitu :
1

Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang
diminum selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan sebanyak 3
kali. Diberikan pada anak berumur diatas 2 tahun. Vaksin ini kontraindikasi
pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik .

Lama proteksi 6 tahun.


Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K
vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol
preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 12 tahun 0,25 ml dan anak
15 tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. Efek
samping adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat
suntikan. Kontraindikasi demam,hamil dan riwayat demam pada pemberian

pertama.
Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan
secara intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada

19

hipersensitif, hamil, menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun.


Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik, orang
yang

terpapar

dengan

penderita

karier

tifoid

dan

petugas

laboratorium/mikrobiologi kesehatan.
Dari ketiga vaksin tersebut, yang ada dan tersedia di Indonesia adalah
vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux.

Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit

secara dini dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat


c

Pencegahan Tertier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi

keparahan akibat komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit


demam tifoid sebaiknya tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas
tubuh tetap terjaga dan dapat terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada
penderita demam tifoid yang carier perlu dilakukan pemerikasaan laboratorium
pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman masih ada atau tidak. 1,6,8,12