Anda di halaman 1dari 9

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

FERMENTASI KULIT SINGKONG (Manihot utilissima Pohl) MENGGUNAKAN Aspergillus niger


PENGARUHNYA TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING (KBK) DAN KECERNAAN BAHAN
ORGANIK (KBO) SECARA IN-VITRO
(THE EFFECT OF CASSAVA PEEL FERMENTATION USING Aspergillus niger ON DRY MATTER AND
ORGANICS MATTER DIGESTIBILITIES BY IN VITRO)
Fadhila Nurlaili*, Suparwi, dan Tri Rahardjo Sutardi
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
*
e-mail : nurlailifadhila@yahoo.co.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fermentasi kulit singkong menggunakan
Aspergillus niger terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Penelitian
dilaksanakan pada tanggal 2 April 2013 sampai dengan 28 April 2013 di Laboratorium Ilmu Nutrisi
dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Materi
yang digunakan dalam penelitian adalah pakan yang terdiri dari kulit singkong yang dicampur
dengan urea dan mineral mix dengan persentase masing-masing 2% dan 6%, cairan rumen sapi.
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental in vitro menggunakan metode Tilley and Terry
(1963) dengan perlakuan S0 : Pakan yang mengandung kulit singkong tanpa fermentasi
(Aspergillus niger 0%), S1 : Pakan yang mengandung kulit singkong fermentasi menggunakan
Aspergillus niger 1%, S2 : Pakan yang mengandung kulit singkong fermentasi menggunakan
Aspergillus niger 2%, S3 : Pakan yang mengandung kulit singkong fermentasi menggunakan
Aspergillus niger 3%. Peubah yang diukur Kecernaan Bahan Kering (KBK) dan Kecernaan Bahan
Organik (KBO) kulit singkong fermentasi. Pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji dianalisis
menggunakan Analisis Variansi (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Orthogonal Polynomial. Hasil
penelitian Kecernaan Bahan Kering (KBK) mempunyai kisaran nilai antara 23,72% sampai 50,74%
dan Kecernaan Bahan Organik (KBO) mempunyai kisaran nilai antara 33,16% sampai 49,16%. Hasil
Analisis Variansi menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap
kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil uji orthogonal polynomial menunjukkan bahwa
perlakuan penggunaan Aspergillus niger berpengaruh secara kuadrater terhadap bahan kering dan
bahan organik dengan persamaan kecernaan bahan kering Y = 28.299 + 20.155x - 5.155x2 dengan
koefisien determinasi (r2) 0.834, sedangkan persamaan kecernaan bahan organik Y = 31.967 +
14.926x - 4.057x2 dengan koefisien determinasi (r2) 0.613. Kesimpulan dari penelitian adalah
penggunaan optimal Aspergillus niger terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik
berada pada level 2%.
Kata Kunci : Kulit singkong fermentasi, Aspergillus niger, kecernaan bahan kering, kecernaan bahan
organik.
ABSTRACT
The aim of the research was to review the effect of fermentation of cassava peel using
Aspergillus niger on dry matter and organics matter digestibilities by in vitro. The research was
conducted from April 2nd 2013 until April 28th 2013 in the Laboratory of Nutrition and Feed
Science, Animal Science Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The materials used in
this research were cassava peel that was combined with urea and mineral with the percentages of
2% and 6%, and rumen juice of beef cattle. This research was conducted with experimental by in
vitro method using Tilley and Terry method (1963) with treatments of, S0 : feed containing nonfermented cassava peel (Aspergillus niger 0%), S1 : feed containing fermented cassava peel using

856

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

1% of Aspergillus niger, S2 : feed containing fermented cassava peel using 2% of Aspergillus niger,
S3 : feed containing fermented cassava peel using 3% of Aspergillus niger. Variables that were
recorded and observed were dry matter and organic matter digestibilities. The effects of
treatments on variables were analyzed using Analysis of Variance, continued by using Orthogonal
Polynomial test. The results of this research gave a value between 23,72% to 50,74% for the dry
matter and gave a value between 33,16% to 49,16% for the organic matter digestibilities. The
results of analysis of variance showed that the treatments had highly significant (P<0.01) effect on
dry matter and organic matter digestibilities. The results of orthogonal polynomial test showed
that the treatments using Aspergillus niger gave a quadratic effect on dry matter and organic
matter digestibilities, with an equation Y = 28.299 + 20.155x - 5.155x2 and the coefficient of
determination (r2) of 0.834, whereas on digestibility of organic matter with an equation Y = 31.967
+ 14.926x - 4.057x2 and the coefficient of determination (r2) of 0.613. The conclusions of the
research is, the optimum the degree of fermentation of cassava peel using Aspergillus niger, the
optimum the dry matter and the organic matter digestibilities of cassava peel using 2% of
Aspergillus niger.
Keywords : fermentation of cassava peel, Aspergillus niger, digestibility of dry matter, organik matter
digestibility
PENDAHULUAN
Singkong atau ubi kayu (Manihot utilissima Pohl) merupakan salah satu sumber karbohidrat
lokal Indonesia yang menduduki urutan ketiga terbesar setelah padi dan jagung. Tanaman
tersebut merupakan bahan baku yang paling potensial untuk diolah menjadi tepung. Singkong
segar mempunyai komposisi kimiawi terdiri atas kadar air sekitar 60%, pati 35%, serat kasar 2,5%,
kadar protein 1%, kadar lemak 0,5% dan kadar abu 1%, dan merupakan sumber karbohidrat dan
serat pakan, namun sedikit kandungan proteinnya. Singkong segar mengandung senyawa glikosida
sianogenik dan bila terjadi proses oksidasi oleh enzim linamarase maka akan dihasilkan glukosa
dan asam sianida (HCN) yang ditandai dengan bercak warna biru, akan menjadi toksik (racun) bila
dikonsumsi pada kadar HCN lebih dari 50 ppm (Prabawati, 2011).
Produktivitas singkong di Indonesia sebesar 22.677.866 ton. Sedangkan untuk di wilayah
Jawa Tengah, produksi singkong sebesar 3.336.490 ton dengan luas panen 162.491 ha (Badan
Pusat Statistik, 2012). Setiap bobot singkong akan dihasilkan limbah kulit singkong sebesar 16%
dari bobot tersebut (Hidayat, 2009), hal tersebut menunjukkan bahwa produksi kulit singkong di
wilayah Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 533.838,4 ton, sehingga dari hasil tersebut dapat
diperoleh pula produksi kulit singkong di Jawa Tengah per hektar sebanyak 128,33 ton/ha.
Singkong dipanen pada umur 68 bulan untuk varietas Genjah dan 912 bulan untuk varietas
Dalam (Prihatman, 2000). Kulit singkong merupakan limbah kupasan hasil pengolahan gaplek,
tapioka, tape, dan panganan berbahan dasar singkong lainnya. Potensi kulit singkong di Indonesia
sangat melimpah, seiring dengan eksistensi negara ini sebagai salah satu penghasil singkong
terbesar di dunia dan terus mengalami peningkatan produksi setiap tahunnya. Wikanastri (2012)
menyatakan bahwa kandungan energi (TDN) dan nutrien dalam limbah kulit singkong yaitu bahan
kering 17,45%, protein 8,11%, TDN 74,73%, serat kasar 15,20%, lemak kasar 1,29%, kalsium 0,63%,
dan fosfor 022%. Jumlah limbah kulit singkong yang cukup besar ini berpotensi untuk diolah
menjadi pakan ternak. Hanya saja perlu pengolahan yang tepat agar racun sianida yang
terkandung dalam kulit singkong tidak meracuni ternak yang mengkonsumsinya.

857

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

Salah satu proses pengolahan yang dapat menurunkan kandungan sianida dalam kulit
singkong adalah proses fermentasi menggunakan enzim dan asam yang dihasilkan oleh jamur
Aspergillus niger. Baker (2006) menyatakan bahwa jamur Aspergillus niger dikenal karena
perannya sebagai produsen asam sitrat. Asam sitrat yang diproduksi jamur Aspergillus niger
berfungsi untuk fermentasi. Organisme ini hidup pada sebuah saprobe tanah dengan beragam
enzim hidrolitik dan oksidatif yang terlibat dalam pemecahan lignoselulosa tanaman. Salah satu
penelitian menggunakan jamur Aspergillus niger pada fermentasi kulit buah kakao, antara kulit
buah kakao yang difermentasi menggunakan jamur Aspergillus niger dengan yang tidak
difermentasi berpengaruh sangat nyata terhadap Kecernaan Bahan Kering (KBK) dan Kecernaan
Bahan Organik (KBO) (Fajri, 2008). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka potensi kulit
singkong yang difermentasi Aspergillus niger perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitasnya.
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengkaji pengaruh level jamur Aspergillus niger terhadap
Kecernaan Bahan Kering (KBK) dan Kecernaan Bahan Organik (KBO) kulit singkong secara in vitro.
METODE
Materi yang akan digunakan dalam penelitian adalah kulit singkong (Manihot utilissima Pohl)
yang diambil dari sentra pengolahan gethuk goreng di wilayah Sokaraja, Jawa Tengah, kultur jamur
Aspergillus niger yang diperoleh dari Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, cairan
rumen sapi yang diambil dari Rumah Potong Hewan Mersi Purwokerto segera setelah sapi
dipotong, seperangkat alat dan bahan yang digunakan untuk analisis Kecernaan Bahan Kering dan
Bahan Organik secara in vitro.
Metode penelitian dilakukan menggunakan metode experimental in vitro berdasarkan
metode Tilley and Terry (1963). Perlakuan yang diteliti yaitu S0 : Kulit Singkong tanpa fermentasi,
S1 : Kulit Singkong difermentasi dengan jamur Aspergillus niger 1 %, S2 : Kulit Singkong
difermentasi dengan jamur Aspergillus niger 2 %, S3 : Kulit Singkong difermentasi dengan jamur
Aspergillus niger 3 %.
Peubah yang diukur dalam penelitian ini yaitu Kecernaan Bahan Kering (KBK) dan Kecernaan
Bahan Organik (KBO) yang dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji
orthogonal polynomial.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kecernaan Bahan Kering
Kecernaan bahan kering kulit singkong yang difermentasi menggunakan Aspergillus niger
mempunyai kisaran nilai antara 23,72% sampai 50,74%, dengan rataan tertera pada Tabel 1.
Hasil dari tabel 1 memperlihatkan bahwa kulit singkong yang difermentasi menggunakan
Aspergillus niger memiliki rataan kecernaan bahan kering yang tergolong rendah karena kurang
dari 50%, namun hasilnya tetap meningkat bila dibandingkan dengan yang tidak mendapat
perlakuan fermentasi, yaitu peningkatan sebesar 12,43% untuk bahan kering dari S 0 ke S1. Hal ini
dapat diperoleh mengingat kulit singkong mengandung asam sianida. Sifat racun
pada biomass ketela pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat terbebasnya HCN dari
glukosida sianogenik yang dikandungnya (Rustandi, 2012). HCN adalah larutan tidak berwarna
bersifat racun dan mudah menguap (Sandi, 2012). Diperkirakan asam sianida yang terkandung

858

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

dalam kulit singkong belum sepenuhnya hilang meskipun sudah mendapat perlakuan fermentasi
oleh Aspergillus niger sebesar 1%, 2% dan 3%.
Tabel 1. Rataan Kecernaan Bahan Kering (%)
No.
Perlakuan
Kecernaan Bahan Kering (%)
1.
S0
28,946,19
2.
S1
41,370,99
3.
S2
49,920,76
4.
S3
41,731,93
Ket : S0 : Kulit singkong tanpa fermentasi, S1 : Kulit singkong difermentasi dengan jamur Aspergillus
niger 1 %, S2 : Kulit singkong difermentasi dengan jamur Aspergillus niger 2 %, S3 : Kulit
singkong difermentasi dengan jamur Aspergillus niger 3 %.
Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa fermentasi kulit singkong menggunakan
Aspergillus niger berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kecernaan bahan kering. Kemudian
hasil uji lanjut orthogonal polynomial menunjukkan bahwa perlakuan memberikan respon
kuadrater terhadap kecernaan bahan kering dengan persamaan Y = 28.299 + 20.155x - 5.155x2
dengan koefisien determinasi (r2) 0.834 (gambar 1) yang berarti bahwa perlakuan memiliki
pengaruh sebesar 83,4% terhadap kecernaan bahan kering. Supriyati et al. (1998) menyatakan
bahwa fermentasi dengan menggunakan kapang memungkinkan terjadinya perombakan
komponen bahan yang sulit dicerna menjadi lebih tersedia. Aspergillus niger dapat menghasilkan
enzim selulase yang berperan mendegradasi selulosa yang membungkus pati pada kulit singkong,
dimana kadar selulosa pada kulit singkong cukup tinggi sekitar 5%. Kadar HCN menurun seiring
dengan bertambahnya lama fermentasi karena semakin bertambahnya waktu fermentasi maka
semakin meningkat pula kemampuan enzim dalam mendegradasi linamarin menjadi senyawa yang
tidak membahayakan.
Gambar 1 menunjukkan bahwa hasil penggunaan Aspergillus niger pada kulit singkong di
level 2% lebih optimal meningkatkan kecernaan bahan kering dibandingkan dengan level 0% (S 0),
1% (S1), dan 3% (S3) dengan titik belok berada di ordinat (1.955 ; 47.999). Ini berarti titik optimal
fermentasi kulit singkong menggunakan Aspergillus niger berada pada hasil yang optimal di level
2% (S2) dengan nilai kecernaan bahan keringnya sebesar 47,99%. Kecernaan bahan kering paling
rendah berada di level 0% yang memiliki kecernaan bahan kering sebesar 28,94%. Dalam
aktivitasnya kapang menggunakan karbohidrat sebagai sumber karbon. Pemecahan karbohidrat
akan diikuti pembebasan energi, karbondioksida dan air. Panas yang dibebaskan menyebabkan
suhu substrat meningkat. Buckle et al. (1987) menyatakan bahwa untuk hidup semua organisme
membutuhkan sumber energi yang diperoleh dari metabolisme bahan pangan tempat organisme
berada di dalamnya. Dalam hal ini, yang berperan sebagai sumber energi adalah karbohidrat yang
terkandung dalam kulit singkong dan sebagai sumber nitrogen berasal dari urea yang
ditambahkan. Andayani (2010) menambahkan bahwa urea yang ditambahkan pada proses
fermentasi akan diurai oleh enzim urease menjadi amonia dan karbon dioksida yang selanjutnya
digunakan untuk pembentukan asam amino. Amoniasi dapat digunakan sebagai salah satu cara
untuk memperbaiki kandungan nitrogen, meningkatkan kecernaan serat kasar sekaligus dapat
meningkatkan konsumsi. Amoniasi dengan menggunakan urea sebagai sumber amonia merupakan

859

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

salah satu cara yang memberikan harapan baik untuk meningkatkan nutrien pakan, dimana dapat
meningkatkan kandungan bahan kering dan nitrogen akibat naiknya kecernaan dan konsumsi
bahan kering.
Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kecernaan bahan kering adalah aktivitas
mikroba dalam rumen, kualitas cairan rumen yang digunakan, persentase lignin dalam bahan
pakan, pengontrolan pH rumen, kondisi temperatur dalam shaker waterbatch, kondisi fisik bahan
pakan dan jenis kandungan gizi yang terkandung dalam pakan.
Gambar 1 menunjukkan bahwa penggunaan 2% Aspergillus niger pada kulit singkong (S2)
menghasilkan kecernaan bahan kering yang lebih tinggi daripada penggunaan Aspergillus niger
pada S0, S1 dan S3 yaitu 49,920,76%. Peningkatan kecernaan bahan kering dari level 0% dan level
1% adalah sebesar 12,43%. Sedangkan dari level 1% dan level 2% adalah sebesar 8,55%. Level 2%
dan level 3% mengalami penurunan sebesar 8,19%.

Gambar 1.

Hubungan Antara Level Aspergillus niger dengan Kecernaan Bahan Kering

Kemampuan bahan pakan dalam menyediakan nutrien bagi mikroflora rumen dan hewan
inang dapat dilihat dari hasil kecernaan bahan kering bahan pakan tersebut. Semakin tinggi tingkat
kecernaan bahan kering maka dapat disimpulkan bahwa bahan pakan tersebut cukup berkualitas
untuk diberikan kepada ternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 2% Aspergillus
niger pada kulit singkong (S2) menghasilkan kecernaan bahan kering yang lebih tinggi daripada
penggunaan Aspergillus niger pada S0, S1 dan S3 yaitu 49,92 1,76%.
Kecernaan Bahan Organik
Kecernaan bahan organik kulit singkong yang difermentasi menggunakan Aspergillus niger
mempunyai kisaran nilai antara 33,16% sampai 49,16%, dengan rataan tertera pada Tabel 2.
Hasil dari tabel 2 memperlihatkan bahwa kulit singkong yang difermentasi menggunakan
Aspergillus niger memiliki rataan kecernaan bahan organik yang tergolong rendah karena kurang
dari 50%, namun hasilnya tetap meningkat bila dibandingkan dengan yang tidak mendapat
perlakuan fermentasi, yaitu peningkatan sebesar 6% untuk bahan organik dari S 0 ke S1. Sama
halnya dengan kecernaan bahan kering, diperkirakan asam sianida yang terkandung dalam kulit
singkong belum sepenuhnya hilang meskipun sudah mendapat perlakuan fermentasi oleh

860

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

Aspergillus niger sebesar 1%, 2% dan 3%. Perbedaan nilai kecernaan bahan organik tersebut
disebabkan oleh karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering suatu bahan pakan.
Tabel 2. Rataan Kecernaan Bahan Organik (%)
No.
Perlakuan
Kecernaan Bahan Organik (%)
1.
S0
33,166,22
2.
S1
39,261,01
3.
S2
49,160,83
4.
S3
39,042,48
Ket : S0 : Kulit singkong tanpa fermentasi, S1 : Kulit singkong difermentasi dengan jamur Aspergillus
niger 1 %, S2 : Kulit singkong difermentasi dengan jamur Aspergillus niger 2 %, S3 : Kulit
singkong difermentasi dengan jamur Aspergillus niger 3 %.
Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa fermentasi kulit singkong menggunakan
Aspergillus niger berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kecernaan bahan organik. Hasil uji
lanjut orthogonal polynomial menunjukkan bahwa perlakuan memberikan respon kuadrater
terhadap kecernaan bahan organik dengan persamaan Y = 31.967 + 14.926x - 4.057x2 dengan
koefisien determinasi (r2) 0.613 (gambar 2) yang berarti bahwa perlakuan memiliki pengaruh
sebesar 61,3 % terhadap kecernaan bahan organik dengan titik belok berada di ordinat (1.839 ;
45.695). Ini berarti titik optimal fermentasi kulit singkong menggunakan Aspergillus niger berada
pada hasil yang optimal di level 2% (S2) dengan nilai kecernaan bahan organiknya sebesar 45,69%.
Faktor utama yang dapat mempengaruhi kecernaan bahan organik adalah kecernaan bahan
kering.
Gambar 2 menunjukkan bahwa hasil penggunaan Aspergillus niger pada kulit singkong di
level 2% lebih optimal meningkatkan kecernaan bahan organik dibandingkan dengan level 0% (S 0),
1% (S1), dan 3% (S3). Kecernaan bahan organik paling rendah berada di level 0% yang memiliki
kecernaan bahan organik sebesar 33,16%. Bahan organik merupakan bagian dari bahan kering
suatu bahan pakan. Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya bahwa dengan semakin
tingginya Aspergillus niger maka akan semakin besar pula kandungan bahan kering yang
didegradasi sebagai sumber energi untuk Aspergillus niger dan menyebabkan kandungan bahan
kering maupun organik mengalami penurunan. Turunnya kandungan bahan organik kulit singkong
yang difermentasi inilah yang mungkin dapat menyebabkan turunnya kecernaan bahan organik.
Ditambahkan pula oleh Suwandyastuti (1991), bahan pakan yang mempunyai kandungan nutrien
yang sama memungkinkan kecernaan bahan organiknya mengikuti kecernaan bahan keringnya,
tetapi sering terjadi perbedaan.
Menurut Ginting (2005), proses degradasi substrat penghasil energi dan proses sintesis
protein oleh mikroba sulit dipisahkan. Pertumbuhan mikroba didukung oleh fermentasi substrat,
sedangkan fermentasi substrat dilakukan oleh perkembangan mikroba. Penurunan dan perubahan
bahan organik selama fermentasi dipengaruhi oleh respirasi dan kerusakan oleh mikroorganisme,
karena bahan organik seperti protein, karbohidrat,lemak maupun vitamin merupakan komponen
utama sel (Buckle, 1987). Selanjutnya (Francis 1982), mengemukakan bahwa untuk pertumbuhan
selnya, mikroorganisme membutuhkan karbon, terutama yang berasal dari bahan organik. Zain
(1999), menjelaskan bahwa kecernaan pakan pada ternak ruminansia sangat erat hubungannya

861

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

dengan jumlah mikroba rumen. Menurut Aryo (2010) dengan meningkatnya jumlah mikrobia
rumen, maka dapat meningkatkan aktifitas degradasi bahan organik pakan secara fermentatif
menjadi senyawa sederhana yang mudah larut, akibatnya dapat meningkatkan penyerapan zat-zat
organik. Peningkatan kecernaan bahan organik substrat akan mengikuti peningkatan kecernaan
bahan kering substrat (Mutahadin dan Liman, 2006). Hal ini karena bahan organik merupakan
komponen terbesar dari bahan kering substrat (Munasik, 2007).

Gambar 2. Hubungan Antara Level Aspergillus niger dengan Kecernaan Bahan Organik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 2% Aspergillus niger pada kulit singkong
(S2) menghasilkan kecernaan bahan organik yang lebih tinggi daripada penggunaan Aspergillus
niger pada S0, S1 dan S3 yaitu 49,160,75% . Peningkatan kecernaan bahan organik dari level 0%
(S0) dan level 1% (S1) adalah sebesar 6,1%. Sedangkan dari level 1% dan level 2% (S2) adalah
sebesar 9,9%. Level 2% dan level 3% (S3) mengalami penurunan sebesar 10,12%.
SIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan optimal Aspergillus niger terhadap
kecernaan bahan kering dan bahan organik berada pada level 2% yaitu sebesar 47,99% untuk
kecernaan bahan kering dan 49,16% untuk kecernaan bahan organik.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah-Nya.
Dekan Fakultas Peternakan UNSOED yang telah memberikan ijin dilakukannya penelitian ini, Prof.
Dr. Ir. SNO Suwandyastuti, MS yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dan motivasinya
selaku pembimbing akademik, Ir. H. Suparwi, MS. dan Ir. Tri Rahardjo Sutardi SU yang telah banyak
memberikan saran, bimbingan dan motivasi yang bermanfaat dalam penelitian ini. Bapak, Ibu, dan
adik-adikku serta keluarga besar, terima kasih atas doa dan dukungan selama penelitian ini.
Nugraha Eka Hardana, Novia Indriyani, Dhimas Prasetyo Aji, dan Sugiyanti, selaku tim satu
penelitian, serta semua pihak yang telah membantu dan tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.

862

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

DAFTAR PUSTAKA
Andayani. 2010. Evaluasi Kecernaan In Vitro Bahan Kering, Bahan Organik dan Protein Kasar
Penggunaan Kulit Buah Jagung Amoniasi dalam Ransum Ternak Sapi. Jurnal Ilmiah IlmuIlmu Peternakan 8(5) : 252-259.
Aryo, Galih Putro. 2010. Pengaruh Suplementasi Probiotik Cair EM4 Terhadap Kecernaan Bahan
Kering dan Bahan Organik Ransum Domba Lokal Jantan. Skripsi. Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Badan Pusat Statistik. 2012. Luas Produktivitas Tananaman Ubi Kayu di Seluruh Provinsi Tahun
2012. Badan Pusat Statistik.
Baker, S. E. 2006. Aspergillus niger genomics: Past, present and into the future. Medical Mycology.
44: S17-S21.
Buckle, K.A., G.H. Edward, dan M. Wooton. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Ginting, Simon Petrus. 2005. Sinkronisasi Degradasi Protein dan Energi dalam Rumen untuk
Memaksimalkan Produksi Protein Mikroba. WARTAZOA. 15 (1).
Fajri, Febriya. 2008. Kajian Fermentabilitas dan Kecernaan In Vitro Kulit Buah Kakao (Theobroma
Cacao L.) yang Difermentasi dengan Aspergillus niger. Skripsi. Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor.
Francis BJ, Wood JF. 1982. Changes in the Nutritive Content and Value of Feed Concentrates During
Storage in: Handbook of Nutritive Value of Processed Food. Vol II Animal Feedstuff.
Rechcigl, M.Jr (ED) CRC Press. Inc Boca Raton, Florida.
Hidayat, C.2009. Peluang Penggunaan Kulit Singkong Sebagai Pakan Unggas. Balai Penelitian
Ternak. Bogor.
Munasik. 2007. Pengaruh Umur Pemotongan Terhadap Kualitas Hijauan Sorgum Manis (Sorghum
bicolor L. Moench) Varietas RGV. Prosiding Seminar Nasional : 248 253.
Mutahadin dan Liman. 2006. Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral Organik Untuk Memperbaiki
Bioproses Rumen Pada Kambing Secara in vitro. Jurnal-Jurnal Ilmu Peternakan Indonesia.
Prabawati, S, 2011. Inovasi Pengolahan Singkong Meningkatkan Pendapatan dan Diversifikasi
Pangan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor. Edisi 410 Mei 2011 No.3404 Tahun XLI.
Prihatman, Kemal. 2000. Ketela Pohon/Singkong (Manihot utilissima Pohl). Deputi Menegristek
Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta.
www.ristek.go.id (diakses pada tanggal 31 Januari 2013).
Rustandi, Y. 2012. Memanfaatkan Kulit Singkong Menjadi Pakan Alternatif Ternak Kambing dan
Domba (Bag.2). Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian. Malang.
Sandi, Sofia. 2012. Nilai Nutrisi Kulit Singkong yang Mendapat Perlakuan Bahan Pengawet Selama
Penyimpanan. Jurnal Penelitian Sains 15 (2D) : 88-92.
Supriyadi. 1995. Pengaruh Tingkat Penggunaan Hasil Fermentasi Kulit Ubi Kayu Oleh Jamur
Asfergillus Niger dalam Ransum Terhadap Performan Ayam Pedaging Periode Starter.
Skripsi. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Supriyati, T. Pasaribu, H. Hamid dan A. Sinurat, 1998. Fermentasi Bungkil Inti Sawit secara Substrat
Padat dengan Menggunakan Aspergillus niger. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3(3) :
165-170.
863

Fadhila Nurlaili dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 856-864, September 2013

Suwandyastuti, S. N. O dan Suparwi. 1991. Kecernaan Nutrien Rumput Lapang Pada Domba Jantan
Fase Tumbuh. Laporan Penelitian. Fapet Unsoed. Purwokerto. Hal : 22.
Tilley, J. M. A. and R. A. Terry. 1963. A Two-Stage Technique for In Vitro Digestion of Forage Crops.
J. Grassland Soc. 18:104-110.
Wikanastri. 2012. Aplikasi Proses Fermentasi Kulit Singkong Menggunakan Starter Asal Limbah
Kubis dan Sawi Pada Pembuatan Pakan Ternak Berpotensi Probiotik. Seminar Hasil-Hasil
Penelitian LPPM UNIMUS 2012. Universitas Muhammadiyah Semarang.
Zain M. 1999. Pengaruh Level Bungkil Biji Kapuk dalam Ransum Kambing Perah Laktasi Terhadap
Kecernaan dan Karakteristik Kondisi Rumen. Jurnal Peternakan dan Lingkungan. 5 : 3234.

864