Anda di halaman 1dari 10

Penalaran Hukum

Penalaran adalah suatu proses berfikir manusia untuk menghunghubungkan data atau pakta yang ada sehingga pada satu kesimpulan.
Data atau fakta yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar
disinilah letak kerjanya penalaran orang akan menerima data dan fakta
yang benar dan tentu saja akan menolak fakta yang belum jelas
kebenarannya. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk
menapai satu simpulan ini harus berbentuk kalimat pernyataan . kaliamat
pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut reposisi.
Penalaran adalah
proses
berpikir
yang
bertolak
dari
pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah
konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan
terbentuk proposisi proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah
proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan
sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah
yang disebut menalar.[1]
Nalar, menurut kamus bahasa Indonesia, artinya ; pertimbangan tertentu
tentang baik dan buruk, akal budi, aktivitas yang memungkinkan
seseorang berpikir logis, jangkauan pikir, kekuatan pikir.[2]
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut
dengan premis (antesedens)
dan
hasil
kesimpulannya
disebut
dengan konklusi (consequence). Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah
dapat digunakan dua jenis penalaran yaitu Penalaran Deduktif dan
Penalaran Induktif.
Penalaran hukum adalah esensi terpenting dari pekerjaan seorang hakim,
sekalipun eksponen Critical Legal Studies seperti Duncan Kennedy selalu
menyangsikan kekhasan dari penalaran hukum tersebut. Kennedy pernah
berujar, Teachers teach nonsense when they persuade students that
legal reasoning is distinct, as a method for reaching correct results, from
ethical or political discourse in general. There is never a correct legal
solution that is other than the correct ethical or political solution to the
legal problem (Kairys, 1982: 47). Kennedy mungkin lupa bahwa hukum
berhubungan dengan problematika kemanusiaan yang kompleks,
sehingga mustahil ia dapat senantiasa dinalarkan secara monolitik.
Penalaran hukum adalah fenomena yang multifaset. Kendati demikian,
penalaran itu tidak boleh dilakukan sekehendak hati. Penalaran hukum
adalah penalaran yang reasonable, bukan semata logical. William
Zelermeyer (1960: 4) membedakan antara kedua istilah itu dengan
katakata sebagai berikut: We are dealing with human beings and not with
things. We must reasonable. This means that the law and its decisions
must be supported by reason; they must be products of arbitrary action.
To be reasonable does not necessarily mean to be logical. Logic can lead
to injustice, hence we must guard against its abusive use. Penalaran
hukum memang paling tepat ditelusuri jika berangkat dari putusan hakim.
Alasannya sederhana, sebagaimana dikatakan oleh A.G. Guest, The

object of a scientific inquiry is discovery; the object of a legal inquiry is


decision (Hooft, 2002: 23). Tentu saja penalaran hukum berlaku dalam
semua pekerjaan para pengemban profesi hukum lainnya di luar hakim.
Namun, intensitas penalaran hukum yang dilakukan oleh para hakim
memang paling tinggi tingkatannya. Tidak mengherankan jika akhirnya
ada pandangan yang menyatakan bahwa legal reasoning itu pada
hakikatnya adalah judicial reasoning.
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.

Metode induktif

Penalaran Induktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada


peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada
suatu kesimpulan atau pengetahuan yang baru yang bersifat umum.
dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran
deduktif. Untuk turun turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak
harus memiliki konsep secara canggih tetapi cukup dengan mengamati
lapangan dan dari pengamatan lapanngan tersebut dapat ditarik
generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan
prasyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan
memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendeskripsikan
gejala dan melakukan generalisasi. Hukum yang disimpulkan difenomena
yang
diselidiki
berlaku
bagi
fenomena
sejenis
yang
belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Jenis
penalran induktif yaitu:
a.

Generalisasi

Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah


fenomenal individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat
umum yang mencakup semua fenomena. Generalisasi juga dapat
dikatakan sebagai pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau
sebagian besar gejala, yang dimulai dengan peristiwa peristiwa khusus
untuk mengambil kesimpulan secara umum.
b.

Analogi

Analogi
yaitu
proses
membandingkan
dari
dua
hal
yang
berlainanberdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya
itu ditarik suatu kesimpulan. Kesimpulan yang diambil dengan analogi,
yaitu kesimpulan dari pendapat khusus dengan beberapa pendapat
khusus yang lain, dengan cara membandingkan kondisinya.
c.

Kausal

Kausal adalah paragraph yang dimulai dengan mengemukakan fakta


khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi
akibat. Serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan
serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai
hal lainnya yang mendahuluinya , merupakan hal-hal yang diterima tanpa
ragu dan tidak memerlukan sanggahan.[3]

Metode deduktif

Penalaran Deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu


peristiwa umum,yang kebenarannya telah diketahu dan diyakini, dan
berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan yang baru yang
bersifat lebih khusus. Metode ini diawali pembentukan teori, hipotesis,
definisi oprasional, instrumen dan oprasionalisasi. Dengan kata lain, untuk
memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori
tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian lapangan.
Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori
merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala atau peristiwa.Jenis
penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu:
a.
Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan
kesimpulan yang kategoris. Konditional hipotesis yaitu : bila premis
minornya
membenarkan
anteseden,
simpulannya
membenarkan
konsekuen. Bila minornya Menolak anteseden, simpulannya juga menolak
konsekuen. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut
premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam
kesimpulan disebut premis minor.
b.
Silogisme Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang
berproposisi konditional hipotesis. Menurut Parera (1991: 131) Silogisme
hipotesis terdiri atas premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Akan
tetapi premis mayor bersifat hipotesis atau pengadaian dengan jika
konklusi tertentu itu terjadi, maka kondisi yang lain akan menyusul terjadi.
Premis minor menyatakan kondisi pertama terjadi atau tidak terjadi.
c.
Silogisme Akternatif : silogisme yang terdiri atas premis mayor
berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya
membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak
alternatif yang lain. Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang
menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Konklusi tergantung dari
premis minornya.
d.
Entimen : Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan seharihari, baik dalam tulisan maupun tulisan. Yang dikemukakan hanya premis
minor dan kesimpulan. Entimen atau Enthymeme berasal dari bahasa
Yunani en artinya di dalam dan thymos artinya pikiran adalah sejenis
silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian
ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem,
penghilangan bagian dari argumen karena diasumsikan dalam
penggunaan yang lebih luas, istilah enthymeme kadang-kadang
digunakan untuk menjelaskan argumen yang tidak lengkap dari bentuk
selain silogisme.[4]

Logika diturunkan dari kata sifat logike, bahasa Yunani , yang


berhubungan dengan kata benda logos, berarti pikiran atau perkataan
sebagai pernyataan dari pikiran. Hal ini membuktikan bahwa ternyata ada

hubungan yang erat antara pikiran dan perkataan yang merupakan


pernyataan dalam bahasa. [5]Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif
(umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus)
dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang
menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda
status sosial.
Tujuan dilakukannya suatu penalaran adalah untuk mencapai kebenaran.
Demikian pula dengan hukum, tujuan diadakannya penalaran hukum
yakni disesuaikan dengan tujuan hukum itu sendiri. Tujuan hukum
mengacu pada sasaran yang ingin dicapai oleh fungsi hukum. Tujuan
hukum tidak bisa dilepaskan dari tujuan akhir dari hidup bermasyarakat
yang tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai dan falsafah hidup yang
menjadi dasar hidup masyarakat itu yang akhirnya bermuara pada
keadilan. Dalam melakukan penalaran, pengertian dan proposisi
mempunyai peranan penting karena tanpa adanya pengertian tidak
mungkin disusun proposisi dan tanpa adanya proposisi tidak mungkin
dilakukan penalaran.
Penalaran adalah sebuah proses mental di mana kita (melalui akal budi)
bergerak dari apa yang telah kita ketahui menuju ke pengetahuan yang
baru (hal yang belum kita ketahui). Atau kita bergerak dari pengetahuan
yang kita miliki menuju ke pengetahuan yang baru yang berhubungan
dengan pengetahuan yang telah kita miliki tersebut. Semua bentuk
penalaran selalu bertolak dari sesuatu yang sudah ada atau sudah kita
ketahui. Kita tidak mungkin menalar bertolak dari ketidaktahuan. Selalu
ada sesuatu yang tersedia yang kita pergunakan sebagai titik tolak untuk
menalar. Titik tolak tersebut kita namakan yang telah diketahui yaitu
sesuatu yang dapat dijadikan sebagai premis, evidensi, bukti, dasar
bahkan alasan-alasan dari mana hal-hal yang belum diketahui dapat
disimpulkan. Kesimpulan itu disebut konklusi. Inilah kiranya yang
merupakan alasan mengapa penalaran dapat juga didefinisikan sebagai
berpikir konklusif atau berpikir untuk menarik kesimpulan.
Penyimpulan ini dilakukan dengan cara induksi dan deduksi. Induksi
dalam hukum dimulai dengan mengumpulkan fakta-fakta empiris.
Berfikir secara filosofis dengan penalaran dapat digunakan dalam
memenuhi ajaran agama, dengan maksud agar hikmah hakikat, atau inti
dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.
Berfikir filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik dan universal
dalam rangka mencari kebenaran dan sebagai tolak ukur kebenaran harus
ditinjau dari objeknya yang menyangkut tujuan dari ilmu hukum itu
sendiri, diantara tujuan hukum ialah dalam rangka:
1.

Mempelajari asas-asas hukum yang pokok

2.

Mempelajari sistem formal hukum

3.
Mempelajari kepentingan-kepentingan sosial yang dilindungi oleh
hukum

4.
Mempelajari tentang keadilan bagaimana mewujudkannya melalui
hukum
5.
Mempelajari
masa[6]

pemikiran-pemikiran

mengenai

hukum

sepanjang

Konsep dan Simbol dalam Penalaran


Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk
mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan
dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan
berupa argumen.
Pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata,
sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat
berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah
yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis. Berdasarkan
paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah
aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa
pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama
sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk
pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi
penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi
sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian..
Syarat-syarat Kebenaran dalam Penalaran :
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk
menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat syarat
dalam menalar dapat dipenuhi.

Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki


seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang
salah.

Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah


premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi
sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti
penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan aturan
berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang
dijadikan sebagai premis tepat.

Ciri-ciri penalaran yaitu :

Adanya suatu pola berfikir yang secara luas


logika (penalaran merupakan suatu proses berfikir logis).

dapat

disebut


Sifat analitik dari proses berfikir. Analisis pada hakikatnya merupakan
suatu kegiatan berfikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.

Hakikat Penalaran ,penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir yang


mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenarannya.
Penalaran merapakan proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan
yang berupa pengetahuan.
Didalam logika deduktif, kita dengan mudah memperoleh kesesatan
karena adanya kata kata yang bersifat Homonim yaitu kata yang
memiliki banyak arti dalam logika biasanya disebut kesalahan sematik
(Ambiguitas) atau bahasa, adapun untuk menghindari ambiguitas dapat
dengan berbagai cara misalnya menunjukan langsung adanya kesesatan
sematik dengan mengemukakan konotasi sejati. Memilih kata yang arti
tunggal, mengunakan wilayah pengertian yang tepat apakah universal
atau partikuler. Dapat juga dengan konotasi subyek yang berlaku khusus
atau objektif yang bersifat komprehensif. Kesesatan didalam logika dapat
dikemukakan seperti prasangka pribadi, pengamatan yang tidak lengkap
atau kurang teliti. Kesesatan juga terjadi pada hipotesis karena suatu
hipotesis bersifat meragukan dan bertentangan dengan fakta. Tidak cukup
perbedaan itu menjadikannya suatu kecenderungan homogen, masih pula
terdapat kebersaman yang bersifat kebetulan. Kesesatan yang terjadi
karena generalisasi yang tergesa gesa atau analogi yang keliru.
Jenis jenis kesesatan Relevansi:

Argumentum ad Hominem, kesasatan


terjadi
apabila
seseorang
berusaha agar orang lain menerima atau menolak suatu usul, tidak
berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang
berhubungan dengan kepentingan atau keadaan orang yang mengusulkan
atau yang diusuli.

Argument ad Verecundiam, kesesatan ini juga menerima atau


menolak sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, akan tetapi karena
orang yang mengemukakan adalah orang yang berwibawa, dapat
dipercaya, seorang ahli.

Argumentum ad baculum, kesesatan terjadi apabila penerimaan atau


penolakan suatu penalaran didasarkan atas kekuatan, ancaman, tekanan
untuk memenangkan atau menyakinkan suatu hal.

Argumentum ad misericordiam, seruan untuk membangkitkan belas


kasihan.

Argumentum ad populum, sasasran kesalahan pada kelompok ,bukan


masalahnya.

Argument ad igorantion, suatu harus di terima karena tidak dapat di


tujukan, tidak dapat di buktikan .[7]
Menghindari sesat pikir tidaklah mudah karena banyak hambatan dalam
menuju pemikiran yang lurus dan jernih. Hambatan-hambatan itu adalah

purbasangka, propaganda, otoriterianisme, kurangnya pengetahuan


tentang hukum berpikir benar, dan tidak cermat menggunakan kata-kata.

Purbasangka

Purbasangka yakni putusan yang mengabaikan atau mengecilkan bukti.


Manusia pada umumnya sukar mengambil putusan sampai samua bukti
yang dibutuhkan terkumpul. Meskipun bukti-bukti telah terkumpul,
putusan tetap lebih berorientasi pada kepentingan pribadi. Penyebab
purbasangka adalah terburu-buru, terjerat tradisi, larut pada kepentingan
pribadi serta berbaik sangka atau buruk sangka pada bukti-bukti.

Propaganda

Propaganda yaitu usaha membentuk opini umum bukan berdasarkan


bukti-bukti rasional, tetapi mengundang kekuatan emosi. Akibatnya,
putusan yang diambil oleh orang-orang yang larut dalam propaganda
bukan putusan logis, tetapi putusan emosional.

Otoriterianisme

Otoriterianisme yaitu mengikuti ajaran, doktrin partai atau madzhab


agama tanpa penyaringan. Otoriterianisme membawa dampak-dampak
negatif, antara lain menghalangi sikap kritis sehingga menghambat
pencarian kebenaran dan kemajuan berfikir. Bila tokoh-tokoh dari
pemegang otoritas itu berbicara bukan pada bidangnya, ia akan
menyesatkan.
Pengikut
otoriterianisme
akan
melestarikan
dan
memperluas keyakinan yang tersesat.

Kurangnya Pengetahuan tentang Hukum Berpikir Benar

Kemampuan bawaan tidak mampu untuk menyelesaikan masalahmasalah pemikiran yang agak rumit yang menyebabkan tidak dapat
terhindar dari kekeliruan. Semakin luas pengetahuan orang tentang
bentuk-bentuk sesat pikir akan semakin terhindar dari kemungkinan
kekeliruan berpikir.

Tidak Cermat Menggunakan Kata-kata

Banyak kata yang digunakan oleh masyarakat secara keliru dan tidak
sedikit orang yang mengikuti begitu saja.[8]

Apakah Kebenaran itu ? Jawaban terhadap pertanyaan itu bermacammacam, tergantung pada kriteria untuk menentukan kebenaran. Dilihat
dari kriteria ini muncullah berbagai teori kebenaran. Di dalam
epistemologi ada beberapa teori kebenaran yang dominan:
1.

Teori Koherensi

Menurut teori ini kebenaran adalah keruntutan pernyataan.Pernyataanpernyataan dikatakan benar apabila ada keruntutan di dalamnya, artinya
pernyataan satu tidak bertentangan secara logika dengan pernyataan2
yang lain.

Contoh 1:

Semua segitiga mempunyai sudut yang berjumlah 180


Penggaris ini berbentuk segitiga
Jadi, jumlah sudut penggaris ini 180

Contoh 2:

Semua manusia membutuhkan air


Rudi adalah seorang manusia
Jadi, Rudi membutuhkan air

2.

Teori Kebenaran Korespodensi

Kebenaran
adalah
kesesuaian
antara
pernyataan
dengan
kenyataan.Sesuatu pernyataan dikatakan benar apabila ada bukti empiris
yang mendukungnya.

Contoh-contoh:

Semua besi bila dipanaskan akan memuai.

Jakarta adalah ibukota negara RI

Pancasila adalah dasar negara RI

Orang Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa

Sebagian besar mahasiswa FIP adalah perempuan

3.

Teori Kebenaran Pragmatis

Menurut teori ini sesuatu pernyataan atau pemikiran dikatakan benar


apabila dapat mendatangkan manfaat atau kegunaan pada banyak orang.
Jadi, tidak cukup bila suatu pernyataan dilihat secara korespondensi atau
koherensi. Hal yang lebih penting adalah apakah pernyataan itu dapat
dilaksanakan, ditindaklanjuti dalam perbuatan yang bermanfaat. Apabila
sesuatu itu bermanfaat bagi manusia berarti sesuatu itu benar. Apabila
suatu ide yang brilian dapat dilaksanakan secara operasional barulah ide
tersebut benar
Contoh:

Pernyataan Semua besi bila dipanaskan akan memuai mempunyai


kebenaran pragmatis bagi tukang pandai besi atau pabrik untuk mengolah
besi sehingga menjadi alat-alat yang bermanfaat bagi manusia.

Misalnya, ada peristiwa kebakaran. Pernyataan tentang apa sebab


kebakaran tidak bermanfaat, maka tidak benar. Hal yang benar adalah

tindakan cepat untuk memadamkan api seperti mencari ember dan air,
menelepon pemadam kebakaran, dlsb

Kesepakatan para bapak pendiri negara tentang dasar negara


Pancasila

Konsensus anggota MPR untuk mengubah/mengamandemen UUD


1945 sebagai salah satu wujud dari agenda reformasi hokum

Kesepakatan komunitas ilmiah (ilmuwan) dalam


paradigma dan metode ilmiah bidang ilmu masing-masing.

4.

menetapkan

Teori Kebenaran Konsensus

Suatu pernyataan dikatakan benar apabila dihasilkan dari suatu


konsensus bersama (kesepakatan). Untuk mencapai konsensus, ada
syarat-syarat yang harus dipenuhi. Menurut Jurgen Habermas, konsensus
harus memenuhi syarat:
-

Keterpahaman hal yang dibicarakan dapat dipahami

diskursus/wacana, ada dialog antar ide

ketulusan/kejujuran semua
sehingga ada keterbukaan

kepentingan/interest

dikemukakan

Otoritas orang yang terlibat dalam konsensus memang memiliki


kewenangan
untuk
itu
sehingga
keputusannya
dapat
dipertanggungjawabkan.[9]

III.
A.

PENUTUP
Kesimpulan

Penalaran bertujuan pertama, yaitu untuk menghasikan suatu pemikiran


secara kontruktif sehingga menghasilkan suatu pemikiran yang benar.
Kedua, yaitu mempertajam pemikiran agar melahirkan pemikiran yang
benar dan menghindari suatu kesimpulan yang salah. Ketiga, yaitu untuk
berpikir secara sistematis dan metodologis sehingga dapat menemukan
problema-problema.
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa
khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu
kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini
penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Dengan
demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran
tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan
dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan
metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

Manfaat Logika dibidang hukum, yaitu untuk menemukan masalahmasalah serta menyelesaikan masalah-masalah dengan logika. Logika
dapat membantu berpikir agar dapat menghindari kesalahan atau
kekeliruan. Berpikir logis sering menggunakan pola pikir Deduktif yaitu
suatu penetapan kesimpulan dari yang bersifat umum ke khusus (Premis
Mayor to Premis Minor). Namun terkadang logika juga menggunakan pola
pikir Induktif (Premis Minor to Premis Mayor/Khusus Umum).