Anda di halaman 1dari 2

Plagiarism Scan Report

Summary
Report Genrated Date

02 Nov, 2016

Plagiarism Status

100% Unique

Total Words

681

Total Characters

4799

Any Ignore Url Used

s.
co

Content Checked For Plagiarism:

Sm

al

lS
eo
To

ol

Praktikum kali ini akan membahas tentang pengendalian hayati, dimana pengendalian hayati ini
merupakan salah satu usaha yang dilakukan organisme seperti predator, patogen maupun parasitoid
untuk menjaga kepadatan populasi pada suatu ekosistem. Menurut Oka (1995:98) menyatakan
bahwa pengendalian hayati ialah suatu pengaturan populasi pada kepadatan organisme dari
musuh-musuh alamnya, jadi tingkat kepadatan dari organisme tersebut akan lebih rendah
dibandingkan dengan tidak diatur oleh musuh alamnya.
Dalam hal ini praktikan menggunakan tanaman eceng gondok/ Eichornia crassipes yang merupakan
suatu hama bagi makhluk hidup diperairan yang mengganggu aktifitas keberlangsungan hidup
organisme perairan tersebut contohnya seperti ikan-ikan yang berada di air, hidupnya menjadi
sangat terbatas akibat dari pertumbuhan akar eceng gondok/Eichornia crassipes yang menjalar ke
berbagai tempat.
Menurut pendapat Odum (1971) Eceng gondok ialah tumbuhan yang mempunyai tingkatan yang
tinggi untuk bahan pencemar dibandingkan dengan tumbuhan yang lain sehingga tumbuhan eceng
gondok dapat juga bertahan hidup diwilayah perairan yang tercemar. Tumbuhan eceng gondok
dapat dijadikan biofertilizer yaitu sebagai tumbuhan yang dapat memfiksasi logam logam berat yang
ada di perairan. Pernyataan tersebut hampir sama dengan Tosepu (2012 : 37) bahwasanya eceng
gondok sebagai tumbuhan gulma yang mengganggu ekosistem perairan sehingga pertumbuhannya
perlu dikendalikan. Eceng gondok memiliki beberapa manfaat yang memberikan keuntungan bagi
manusia maupun lingkungan sekitarnya apabila jumlahnya berada pada toleransi optimal.
Dampak keberadaan eceng gondok ini yaitu dapat menghambat perkembangan populasi ikan,
karena telah menutupi permukaan air. Oleh sebab itu, diperlukan suatu cara atau usaha dalam
mengendalikan pertumbuhan tanaman eceng gondok, dengan menggunakan jasa predator, parasit
ataupun patogen . Sehingga pertumbuhan dari eceng gondok tersebut dapat terhambat . Adapun
parasit yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan eceng gondok ialah dengan memberi
suatu organisme yaitu berupa Kutu eceng gondok/ Neochetina sp.
Menurut Stefhany (2013:2) dalam Gunawan (2007) menyatakan bahwa eceng gondok ialah
tumbuhan gulma yang hidup di daerah perairan yang hidupnya dapat mengapung pada air yang
telah dalam . Eceng gondok ini dapat tumbuh dan berkembang biak dengan cepat. Pada
perkembangbiakan yang vegetative dapat melipat ganda sebanyak dua kali dalam waktu 7 sampai
10 hari. kemudian di perjelas kembali oleh Soerjani (1975:112) ia mengungkapkan bahwa eceng
gondok memiliki daya regenerasi yang sangat cepat karena potongan dari eceng gondok akan
terbawa arus pada suatu ekosistem sehingga akan terus berkembang . Eceng gondok ini sangat
peka pada keadaan yang sumber haranya didalam air yang kurang mencukupi, akan tetapi
responnya pada sumber hara yang tinggi juga besar
Pada praktikum yang dilakukan, praktikan memberikan perlakuan berbeda-beda pada eceng gondok
. Tiap-tiap eceng gondok diberi jumlah kutu yang berbeda, diantaranya berjumlah 4, 6, 9 dan 11

Sm

al

lS
eo
To

Report generated by smallseotools.com

ol

s.
co

kutu. Pengamatan ini berlangsung selama 2 minggu, namun pengamatan yang dilakukan hanya 2
hari sekali . Telah terlihat pada hari kedua eceng gondok jumlah kutunya 4 dalam keadaan rusak
ringan, yaitu terdapat lubang lubang kecil yang merupakan tanda dari pada kutu eceng gondok/
Neochetina sp. dalam hal memakan helaian daun pada eceng gondok tersebut. Kemudian diikuti
eceng gondok lainnya dengan jumlah kutu 6 dan 9 dalam keadaan rusak sedang yaitu ukuran lubang
pada daunnya sedikit besar dari pada kutu yang jumlahnya 4 dan terakhir eceng gondok yang
kutunya berjumlah 11 sudah dalam keadaan rusak berat, dan ciri-cirinya terdapat lubang pada daun
yang melebihi ukuran dari eceng gondok yang jumlahnya 9. Namun belum tampak perubahan warna
dari eceng gondok tersebut . Penyebab perbedaan kondisi kerusakan pada eceng gondok ini ialah
terletak pada jumlah kutunya. Semakin banyak kutu pada eceng gondok, maka semakin banyak pula
jumlah kerusakan yang dihasilkan oleh kutu.
Kemudian saat hari ke 4 telah banyak yang mengalami kerusakan pada helaian daunnya pada eceng
gondok yang jumlah kutunya 6 , namun jumlah kutu 4 masih dalam keadaan rusak ringan .
Dilanjutkan kembali pada pengamatan berikutnya pada hari ke 8 . warna dari eceng gondok telah
mengalami perubahan yaitu berwarna cokelat dan sedikit menimbulkan bau . Hal ini telah
mengidentifikasikan rusaknya eceng gondok yang diakibatkan oleh kutu dapat menghambat pola
pertumbuhan eceng gondok yang begitu cepat. Kemudian dilakukan pada pengamatan selanjutnya
pada hari ke 10 sampai ke hari ke 13 semua perlakuan pada eceng gondok dengan jumlah kutu
4,6,7,11 semuanya dalam kondisi sudah rusak total. Daun-daunnya pun sudah tidak ada lagi hanya
tersisa bagian akarnya saja.