Anda di halaman 1dari 12

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah Swt yang telah melimpahkan karunia dan rahmat
kepada seluruh makhluknya. Selawat dan salam kepada nabi Muhammad Saw yang
telah mengubah pola pikir manusia dari pikiran jahiliyah kepada pemikiran yang
islami.
Ucapan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing
penyusun dalam menyelesaikan tugas makalah dengan judul Identifikasi Kesulitan
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kimia di SMAN.3 Banda Aceh. Semoga dengan
adanya makalah ini memberi manfaat dan insirasi bagi pembaca. Selain itu, kritik
dan saran dari pembaca diharapkan penyusun untuk perbaikan makalah ini nantinya.

Banda Aceh, 29 April 2016

Penyusun

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kimia merupakan suatu mata pelajaran yang ada di setiap sekolah baik
jenjang Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah atas. Dengan
mempelajari kimia, dapat membentuk karakter peserta didik karena dalam mata
pelajaran tersebut tidak hanya membahas tentang teori namun, langsung bisa
dipraktekkan. Misalnya, menanamkan sikap peduli lingkungan.
Turunnya prestasi peserta didik tentu saja menjadi paradigma pada sebuah
sekolah. Sudah lumrah, tidak selamanya proses pembelajaran berlangsung
dengan baik. Ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kadang-kadang ada
suatu penghambat yang dapat memicu jalannya proses pembelajaran yang tidak
simultan sehingga muncul kesulitan belajar peserta didik.
Setiap peserta didik memiliki keunikan tersendiri. Kadang-kadang ada
yang cepat menangkap apa yang dipelajarinya dan ada juga yang lambat. Adanya
kemampuan siswa yang lambat menjadi sebuah problema yang menjadi tanggung
jawab seorang guru dalam menangani peserta didik. Bagi guru, penurunan
prestasi peserta didik menjadi satu acuan untuk instropeksi diri terhadap sistem
atau metode pembelajaran yang telah diterapkan. Kadang-kadang sistem atau
metode pembelajaran yang digunakan kurang menarik minat peserta didik dalam
belajar. Walaupun minat belajar bukan berasal dari guru namun, peran serta guru
dalam mengajar memiliki andil yang besar tehadap peningkatan prestasi peserta
didik baik bidang akademik maupun non akademik. Apabila guru menerapkan
metode mengajar yang baik, maka akan menumbuh kembangkan minat siswa
dalam belajar sehingga akan meningkatkan prestasi serta mampu mengatasi
kesulitan-kesulitan belajar yang dialami peserta didik.
Penurunan prestasi diakibatkan oleh adanya kesulitan yang dihadapi saat
proses pembelajaran berlangsung. Kesulitan belajar didefinisikan dengan suatu
keadaan dimana siswa/peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
Oleh

karenanya,

guru

harus

mampu

mendiagnosa

faktor-faktor

yang

menyebabkan munculnya kesulitan belajar peserta didik dalam rangka


terwujudnya proses pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jenis-jenis kesulitan belajar apa saja yang ditemukan pada peserta didik?
2. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan kesulitan belajar pada peserta
didik?
3. Bagaimana solusi yang dapat diberikan oleh guru terhadap siswa yang
mengalami kesulitan belajar?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis-jenis kesulitan belajar yang ditemukan pada peserta
didik.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar pada
peserta didik.
3. Guru mampu memberi solusi terhadap peserta didik yang mengalami
kesulitan belajar.

BAB II
LANDASAN TEORI

Menurut Dalyono (2012: 230), Kesulitan belajar dapat diartkan sebagai


suatu keadaan dimana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan
yaitu faktor intern (faktor fisiologi dan psikologi) dan faktor eksteren meliputi faktor
sosial dan non sosial.
Menurut Danim dan Khairil ( 2011: 185), Pada banyak kasus, siswa
menunjukkan beberapa bentuk perilaku yang dinilai berbeda dengan yang diharapkan
dalam kelas. Cara terbaik untuk mendekati siswa yang mengalami gangguan
(disorder) adalah dengan mendefinisikan secara operasional dan tepat kesenjangan
antara perilaku siswa yang nyata-nyata berbeda dengan standar yang diharapkan.
Setelah permasalahan diketahui dengan jelas melalui proses pengamatan yang
sistemik dan sistematik, tugas-tugas remediasi dapat dilakukan secara tepat.
Menurut Djali ( 2006: 101), Kemampuan belajar peserta didik sangat
menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Di dalam proses belajar tersebut,
banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain: motivasi, minat, sikap, kebiasaan
belajar, dan konsep diri. Intelegensi orang satu dengan yang lainnya cenderung
berbeda-beda. Hal ini karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Adapun faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain; faktor pembawaan, minat,
faktor pembentukan, kematangan dan kebebasan.
Menurut Mustaqim dan Wahib (2010: 142-143), Masalah-masalah yang
dihadirkan oleh siswa akibat dari adanya sebab-sebab sebanyak faktor yang
menyebabkannya. Bentuk-bentuk masalah yang dihadirkan siswa dibagi menjadi dua
sifat, yaitu regresif dan agresif. Bentuk-bentuk yang bersifat agresif antara lain; suka
menyindiri, pemalu, penakut, mengantuk, tidak masuk sekolah. Sedangkan yang
bersifat agresif antara lain; berbohong, bikin onar, memeras temannya, beringas dan
perilaku yang bisa menarik perhatian orang lain.
Menurut Ormrod (2008: 237-253), Kesulitan-kesulitan belajar yang biasa
dihadapi siswa dapat dipengaruhi oleh kekurangan yang dimiliki. Misalnya, siswa
yang mengidap Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yaitu siswa

(bersikap tidak perhatian, hiperaktif dan impulsif), gangguan bicara dan komunikasi,
gangguan emosi dan perilaku, keterbelakangan mental dan mengalami hambatan
fisik (gangguan fisik dan kesehatan, gangguan visual, kehilangan pendengaran dan
hambatan yang parah dan majemuk).
Menurut Partowisastro dan Hadisuparto ( 1978: 95), Sekurang-kurangnya
ada dua hal pokok yang menyebabkan seorang guru atau konselor tidak baik dalam
menentukan diagnosanya. Salah satu sebab itu yakni karena ia hanya sedikit sekali
memiliki gambaran tentang sebab-sebab yang memungkinkan pola kesulitan belajar.
Sebab lainnya dikarenakan tidak memiliki cara yang efektif dalam menentukan
manakah yang sebenarnya di antara beberapa kemungkinan sebab. Tahap diagnose
meliputi tahap pertama menelaah status (status assessment), kemudian perkiraan
sebab (cause estimation).
Menurut Santrock ( 2013: 532), Hubungan murid dengan orang tua, teman
sebaya, kawan, guru dan mentor dan orang lain dapat mempengaruhi prestasi dan
motivasi sosial mereka. Orang tua dengan pendidikan yang lebih tingig akan lebih
mungkin percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak adalah penting.
Prestasi murid akan turun apabila mereka tinggal dalam keluarga single parent,
tinggal bersama orangtua yang waktunya dihabiskan untuk bekerja, dan tinggal
dalam keluarga besar.
Menurut Slavin (2008: 222), Salah satu cara untuk menahan informasi
dalam daya ingat kerja (jangka pendek) ialah memikirkannya atau mengatakannya
berulang-ulang atau disebut pengulangan. Pengulangan berperan penting dalam
pembelajaran karena makin lama sesuatu bertahan dalam daya ingat kerja, makin
besar kemungkinan hal itu akan dipindahkan ke daya ingat jangka panjang. Tanpa
pengulangan, sesuatu barangkali tidak akan tinggal dalam daya ingat kerja selama
lebih dari sekitar 30 detik.
Menurut Sukmadinata ( 2003: 102-103), Penguasaan hasil belajar oleh
seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan
pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Di sekolah hasil

belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata-mata pelajaran yang
ditempuhnya. Tingkat hasil belajar dalam mata pelajaran di sekolah dilambangkan
dengan angka-angka atau huruf, seperti angka 0-10 pada pendidikan dasar dan
menengah dan huruf A, B, C, D pada pendidikan tinggi.
Menurut Syah ( 1995: 179), Langkah-langkah mengatasi kesulitan belajar
terdiri atas: analisis hasil diagnosis, identifikasi kecakapan yang perlu perbaikan, dan
penyusunan program remedial teaching. Dalam menyusun program pengajaran
perbaikan diperlukan adanya ketetapan sebagai berikut: 1. Tujuan pengajaran
remedial. 2. Materi pengajaran remedial. 3. Metode pengajaran remedial. 4. Alokasi
waktu. 5. Teknik evaluasi pengajaran remedial.
.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hasil
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

KKM

75

Nilai
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20

Rata-rata
4
3,8
3,6
3,4
3,2
3
2,8
2,6
2,4
2,2
2
1,8
1,6
1,4
1,2
1
0,5

Tabel 1.1 Tabel daftar penentuan nilai


Keterangan:
A:4
A- : 3,6
B+ : 3,3
B :3
C : 2,5
D : 1,5
% Tuntas

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah peserta yang tuntas


banyak siswa

Nama Siswa
Azzam Faiz Mutawakkil
Daeng Naufal Firjatullah
Diaz Laksamana Muttaqien
Difkal Oyami
Dimas Juliandika
Fachri Afriandi Siregar
Fathan Mubyn
Furqan
Ichsanul Akbar

KKM
75

Nilai rata-rata
Ujian Semester
3,5
3,2
3,5
3,1
3,1
2,6
3,2
3,2
3,6

Ket
B+
B
B+
B
B
C
B
B
A-

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Indra Setyawan
3,4
B+
Khairul Anwar
2,5
C
M. Sidqi Aulia
2,9
C
Maulizal Ridwan
3,1
B
Mohd. Akmal
3,1
B
Muammar
2,2
C
Muhammad Afdhal
2,7
C
Muhammad Aidilsyah
2,7
C
Muhammad Bagaskara
2,5
C
Muhammad Fachrul Razi
2
C
Muhammad Fathan Rizky
2,7
C
Muhammad Gilang Farel
2,7
C
Muhammad Hafizh
1,9
D
Muhammad Hafizh R.P
2,6
C
Muhammad Rakky
2,2
C
Muhammad Rizky R
3,2
B
Muhammad Syirvan M
2,8
C
Mutawazzizi Hyrramsi
2,9
C
Phonna Nugraha R
2,4
C
Rizky Maulana
3
B
Rizky Amanda
1,7
D
Safriadi Putra
3,7
ASultan Andrews Abieza
2,5
C
T.M. Rafi Akram
1
E
Tabel 1.2 Daftar Perolehan Nilai Pengetahuan

3.2 Pembahasan
Sistem penilaian afektif, kognitif, dan psikomotorik kurikulum 2013 (K13) menggunakan nilai rata-rata. Nilai rata-rata paling tinggi yaitu 4.
Dimisalkan, jika peserta didik mendapatkan nilai 100 pada ujian semester, maka
untuk mendapatkan nilai rata-rata digunakan persamaan:
Jumla h point yang diperole h

Nilai rata-rata
25
Untuk mengetahui jumlah persentase peserta yang lulus atau tidak,
digunakan persamaan:
Persentase (%)

Jumla h ratarata
x 100
banyak siswa

Berdasarkan perhitungan di atas, masing-masing diperoleh persentase:


a) % nilai A = 0%

b)
c)
d)
e)
f)
g)

% nilai A- = 6%
% nilai B+ = 9%
% nilai B = 27%
% nilai C = 48%
% nilai D = 6%
% nilai E = 3%
Untuk melihat tingkat kesulitan belajar peserta didik dapat dilihat dari 2

sisi. Yang pertama dapat dilihat dari tingkat nilai KKM (kriteria ketuntasan
minimal) dan kedua dilihat dari sisi nilai yang dilambangkan dengan huruf. Jika
ditinjau dari nilai KKM maka persentase kelulusan diperoleh sebesar 42% dan
persentase tidak lulus sebesar 58%. Namun, apabila ditinjau dari sisi nilai yang
dilambangkan dengan huruf maka diperoleh persentase kelulusan sebesar 90%
dan yang tidak lulus sebesar 9%.
Berdasarkan tingkat persentase di atas, dapat disimpulkan bahwa, hanya
9% siswa yang mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan
faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik. Empat aspek pada faktor
internal meliputi, minat, bakat, motivasi dan intelegensi. Sedangkan faktor
eksternal berasal dari keluarga dan lingkungan.
Hasil wawancara dengan peserta didik menunjukkan bahwa jenis-jenis
kesulitan belajar yang dialami yaitu kurang memahami konsep dari materi yang
diajarkan.

faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar berasal dari faktor

internal dimana adanya ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek


disebabkan oleh kurangnya minat peserta didik dalam mengulang materi yang
telah diberikan sehingga berakibat lupa dan menyebabkan kesulitan belajar yang
ditandai dengan turunnya prestasi. Minat sangat mempengaruhi hasil belajar
siswa. Karena, tanpa adanya minat belajar dari peserta didik maka akan
berpengaruh terhadap keberhasilan belajar.
Sedangkan faktor eksternal (keluarga, lingkungan, sarana dan prasarana)
tidak mempegaruhi kesulitan belajar. Dikarenakan hubungan peserta didik
dengan keluarga dan lingkungan masyarakat berjalan baik serta didukung oleh
sarana dan prasarana yang memadai.
Solusi yang dapat diberikan guru yaitu dengan memberikan remedial
apabila jumlah peserta yang tidak lulus lebih dari 50 % dan bisa memberikan

bimbingan perorangan apabila jumlah peserta yang mengikuti remedial


maksimal 20 % serta pemberian tugas-tugas kelompok jika jumlah peserta yang
mengikuti remedial lebih dari 20 % tetapi kurang dari 50% dan dapat
memanfaatkan tutor sebaya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Jenis-jenis kesulitan belajar yang ditemukan yaitu kesulitan siswa dalam
memahami konsep.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar berasal dari diri
peserta didik yaitu munculnya ingatan jangka pendek akibat tidak
mengulang materi yang telah diberikan.
3. Solusi yang dapat diberikan guru yaitu dengan memberikan remedial
apabila jumlah peserta yang tidak lulus lebih dari 50 % dan bisa
memberikan bimbingan perorangan apabila jumlah peserta yang
mengikuti remedial maksimal 20 % serta pemberian tugas-tugas
kelompok jika jumlah peserta yang mengikuti remedial lebih dari 20 %
tetapi kurang dari 50% dan dapat memanfaatkan tutor sebaya.
3.2 Saran
Dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karenanya, kritik
dan saran dari pembaca diharapkan penyusun untuk perbaikan makalah ini
nantinya.

DAFTAR PUSTAKA
Dalyono, M. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Danim, S., dan Khairil. 2011. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru.
Bandung: Alfabeta.

Djali, H. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


Mustaqim., dan Wahib, A. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ormrod, J.E. 2008. Psikologi Pendidikan: Membantu Siswa Tumbuh dan
Berkembang Jilid 1. Penerjemah: Wahyu Indianti, dkk. Jakarta: Erlangga.
Partowisastro, K., dan Hadisuparto, A. 1978. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan
Belajar. Jakarta: Erlangga.
Santrock, J.W. 2013. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Penerjemah: Tri Wibowo
B.S. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Slavin, R.E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik Edisi ke Delapan.
Penerjemah: Drs. Marianto Samosir, S.H. Jakarta: PT. Indeks.
Sukmadinata, N.S. 2003. Landasan Psikologi: Proses Pendidikan. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya Offset.
Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.