Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
POLIP NASI
I. ANATOMI HIDUNG
Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah: 1)
pangkal hidung (bridge), 2) dorsum nasi, 3) puncak hidung, 4) ala nasi, 5) kolumela dan 6)
lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan
yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk
melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari 1) tulang hidung
(os nasalis), 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal, sedangkan
kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian
bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2) sepasang kartilago
nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor, 3) beberapa pasang
kartilago ala minor dan 4) tepi anterior kartilago septum.1

Gambar 2.1 kerangka tulang dan tulang rawan

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang,
dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu
atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang
disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring 1

Gambar 2.1 Kerangka tulang dan tulang rawan

Gambar 2.2 Dinding lateral kavum nasi


Bagian kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares
anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisis oleh kulit yang mempunyai banyak
kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi
mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior. 1
Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang
rawan. Bagian tulang adalah (1) lamina prependikularis os etmoid, (2) vomer, (3) Krista
nasalis os maksila dan (4) krista nasalis os palatine. Bagian tulang rawan adalah (1) kartilago
septum (lamina kuadrangularis) dan (2) kolumela. 1
Bagian superior dan posterior disusun oleh lamona prependikularis os etmoid dan
bagian anterior oleh kartilago septum (quadrilateral), premaksila, dan kolumna membranousa.
Bagian inferior, disusun oleh vomer, maksila, dan tulang palatine dan bagian posterior oleh
lamina sphenoidalis. Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan
periostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung.1

Gambar
2

3 Septum
nasi
Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan di

belakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung. Pada
dinding lateral terdapat 4 buah konka, yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka
inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media, lebih kecil lagi adalah konka superior,
sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter.
Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid,
sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. 1
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang
disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius,
dan superior. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan
dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus
nasolakrimalis. Meatus medius terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga
hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilnaris dan
infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana
terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior
yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid
posterior dan sinus sphenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk
oleh os maksila dan os palatum.1
Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina
kribiformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Bagian atas rongga
hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang
dari arteri oftalmika, sedangkan a. oftalmika berasal dari a. karotis interna.1
Kompleks Ostiomeatal (KOM)
Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang
dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk
KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger

nasi dan resesus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi
dan drainase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior yaitu sinus maksila, etmoid anterior
dan frontal. Jika terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan terjadi perubahan
patologis yang signifikan pada sinus-sinus yang terkait.1

Gambar 2.4. Kompleks Ostiomeatal


Sinus Paranasal

Gambar 2.5. Anatomi Sinus Paranasal (tampak samping)

Gambar 2.6 Anatomi Sinus Paranasal

Pembagian sinus paranasal :


a.

Sinus Maksila
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus
maksila bervolume 6 8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan
akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa.1
Sinus maksila berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus ialah permukaan
fasial os maksila yang disebut fossa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan
infra-temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung,
dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus
alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding
medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.1
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah :
1) dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas ,
yaitu premolar (P1 dan P2) , molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga
gigi taring (C) dan gigi molar (M3) , bahkan akar-akar gigi tersebut
tumbuh ke dalam rongga sinus, hanya tertutup oleh mukosa saja. Gigi
premolar kedua dan gigi molar kesatu dan dua tumbuhnya dekat
dengan dasar sinus. Bahkan kadang-kadang tumbuh ke dalam rongga
sinus, hanya tertutup oleh mukosa saja. Proses supuratif yang terjadi di
sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh
darah atau limfe,dan menyebabkan sinusitis, sedangkan pencabutan
gigi ini dapat menciptakan hubungan antara rongga mulut dan sinus
maksilaris (fistula oroantral).
2) Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.

3) Ostium sinus maksila lebih tinggi letaknya dari dasar sinus, sehingga
drainase hanya tergantung dari gerak silia, dan drainase harus melalui
infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus
etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada
daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya
menyebabkan sinusitis.1
b.

Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan keempat
fetus, berasal dari sel sel resessus frontal atau dari sel sel infundibulum etmoid.
Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan
mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. 1
Sinus frontal biasanya bersekat sekat dan tepi sinus berlekuk lekuk. Sinus
frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fossa serebri anterior,
peradangan dari sinus frontal dapat menimbulkan komplikasi yang serius karena
dekat dengan orbita dan rongga kranial (selulitis orbita, epidural atau subdural abses,
meningitis). 1
Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resessus frontal.

c.

Resessus frontal adalah bagian dari sinus etmoid anterior. 1


Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhirakhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinussinus lainnya. Pada orang dewasa sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di
bagian posterior. Sinus etmoid berongga rongga, terdiri dari sel sel yang
menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid,
yang terletak diantara konka media dan dinding medial orbita. Sel sel ini
jumlahnya bervariasi antara 4 17 sel.1
Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang
bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus
superior. Sel sel sinus etmoid anterior biasanya kecil kecil dan banyak, letaknya
di depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media dengan
dinding lateral (lamina basalis) sedangkan sel sel sinus etmoid posterior biasanya
lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di posterior lamina basalis.1
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut
resessus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal.di daerah etmoid anterior
terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya ostium
sinus maksila. Pembengkakan/ peradangan di ressesus frontal dapat menyebabkan

sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis


maksila.1
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina
kribosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan
membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Radang sinus paranasal dapat menyebar
melalui lamina ini melibatkan orbita (komplikasi orbital). Di bagian belakang sinus
d.

etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid. 1


Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior.
Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Volumenya
bervariasi dari 5 7,5 ml. Batas - batasnya adalah , sebelah superior terdapat fosa
serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah
lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a. karotis interna, saraf kranial II-VI,
(sangat erat terkait dengan kanal optik), dan di sebelah posteriornya berbatasan
dengan fosa serebri posterior di daerah pons. 1
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius terdapat muara-

muara sinus maksilla, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior. Di daerah yang sempit ini
terdapat prosessus uncinatus, infundibulum, hiatus semilunaris, recessus frontalis, bula
etmoid dan selsel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila. Daerah yang
sempit dan rumit ini disebut kompleks osteomeatal (KOM) yang merupakan faktor utama
patogenesa terjadinya sinusitis.1
Mukosa hidung dan sinus paranasal terdiri dari epitel thorak berlapis semu bersilia
dan diatasnya terdapat sel-sel goblet yang menghasilkan lendir. Sekresi dari sel-sel goblet dan
kelenjar ini membentuk selimut mukosa. Di atas permukaan mukosa terdapat silia yang di
rongga hidung bergerak secara teratur kearah nasofaring dan dari rongga sinus kearah ostium
dari sinus tersebut. Silia dan selimut mukosa ini berfungsi sebagai proteksi dan melembabkan
udara inspirasi yang disebut sebagai sistem mukosilier. Sinus dari kelompok anterior
dialirkan ke nasofaring di bagian depan muara tuba eustachius sedangkan pada bagian
posterior dialirkan ke nasofaring di bagian posterosuperior tuba eustachius.1
II. FISIOLOGI HIDUNG
Beberapa fungsi hidung antara lain :
1. Sebagai jalan nafas

Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka
media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk
lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti
jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah,
sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari
nasofaring. 2
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang
akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara :

Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim
panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan
pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.

Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di


bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga radiasi
dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui
hidung kurang lebih 37o C. 2

3. Sebagai penyaring dan pelindung


Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan
dilakukan oleh :

Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi

Silia

Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut
lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks
bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.

Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime. 2

4. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada
atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat
mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan
kuat. 2
5. Resonansi suara

Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan
menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau. 2
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana rongga
mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk aliran udara. 2
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna,
kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin
dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan
pankreas. 2

Fisiologi Sinus Paranasal


Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain adalah :
1. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih
1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk
pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi
dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.1
2. Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas, melindungi orbita dan fosa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.1
3. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan
tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan memberikan pertambahan
berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.1
4. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.1
5. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya
pada waktu bersin atau membuang ingus. 1
6. Membantu produksi mukus.
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut

masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang
paling strategis.1

III. POLIP NASI


A. Definisi
Polip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga
hidung, bewarna putih keabu-abuan yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Polip kebanyakan
berasal dari mukosa sinus etmoid, biasanya multipel dan dapat bilateral. Polip yang berasal
dari sinus maksila sering tunggal dan tumbuh ke arah belakang, muncul di nasofaring dan
disebut polip koanal. 2
B. Epidemiologi
Insidensi polip nasi sulit diperkirakan. Pada populasi umum, prevalensi polip hidung
diperkirakan sekitar 4%. Di Amerika Serikat diperkirakan 0,3% penduduk dewasanya
menderita kelainan ini, sedangkan di Inggris lebih tinggi lagi, yaitu sekitar 0,2-3%.4,5
Kejadian polip nasi lebih banyak dialami pria dibandingkan wanita dengan
perbandingan 2-4:1 pada orang dewasa, sedangkan rasio pada anak-anak belum dilaporkan.
Sebuah tinjauan artikel melaporkan anak-anak dengan polip hidung yang menjalani operasi
menunjukkan prevalensi yang sama pada anak laki-laki dan perempuan, meskipun data tidak
dapat disimpulkan. Polip hidung multipel biasanya bermanifestasi pada pasien yang berusia
di atas 20 tahun dan lebih sering terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 40 tahun. Polip
hidung jarang terjadi pada anak-anak di bawah 10 tahun.4
C. Etiologi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi
pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui
dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal
seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip seringkali ditemukan pada
pasien dengan rhinosinusitis kronik, termasuk rhinosinusitis alergik dan kondisi sinonasal
kronik inflamatorik lainnya. Mekanisme polip dipercaya adalah multifaktorial. Polip berasal
dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol
dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan

interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau
pembuluh darah 5
. Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :
1. Alergi terutama rinitis alergi.
2. Sinusitis kronik.
3. Iritasi.
4.

Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi
konka.5

D. Patofisiologi

Banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan polip nasi. Kerusakan epitel


merupakan patogenesa dari polip. Sel-sel epitel teraktivasi oleh alergen, polutan dan agen
infeksius. Sel melepaskan

berbagai faktor yang berperan dalam

respon inflamasi dan

perbaikan. Epitel polip menunjukan hiperplasia sel goblet dan hipersekresi mukus yang
berperan dalam obstruksi hidung dan rinorea. Polip dapat timbul pada hidung yang tidak
terinfeksi kemudian menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan sinusitis, tetapi polip
dapat juga timbul akibat iritasi kronis yang disebabkan oleh infeksi hidung dan sinus.2
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab tersering
adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi lama
dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Mukosa akan menjadi
ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip.
Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Setelah polip terus membesar di
antrum, akan turun ke kavum nasi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang
berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada
rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak
adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam
kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media.2
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di
daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler, sehingga
mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab
makin membesar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk
tangkai, sehingga terbentuk polip. 2

Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau
aliran udara yang berturbulensi, terutama di daerah sempit di ostiomeatal. Terjadi prolaps
submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi
peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air
sehingga terbentuk polip. Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf vasomotor
terjadi

peningkatan

permeabilitas

kapiler

dan

gangguan

regulasi

vaskular

yang

mengakibatkan dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan
lama-kelamaan menjadi polip.2
E. Makroskopi
Secara makroskopi polip merupakan massa bertangkai dengan permukaan licin,
berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan, agak bening, lobular, dapat
tunggal atau multiple dan tidak sensitive (bila ditekan atau ditusuk tidak terasa sakit). Warna
polip yang pucat tersebut disebabkan karena mengandung banyak cairan dan sedikitnya aliran
darah ke polip. Bila terjadi iritasi kronis atau proses peradangan warna polip dapat berubah
menjadi kemerah-merahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi
kekuning-kuningan karena banyak mengandung jaringan ikat. 2
Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari kompleks osteomeatal di meatus medius
dan sinus etmoid. Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop, mungkin tempat asal
tangkai polip dapat dilihat. 2
Ada polip yang tumbuh kearah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip
koana. Polip koana kebanyakan berasal dari dalam sinus maksila dan disebut juga polip
antrokoana. Ada juga sebagian kecil polip koana yang berasal dari sinus etmoid.2

F. Mikroskopis
Secara mikroskopi tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal
yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan submukosa yang sembab. Sel-selnya terdiri dari
limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet,
pembuluh darah, saraf dan kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami
metaplasia epitel karena sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional, kubik atau
gepeng berlapis tanpa keratinisasi. 2
Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2, yaitu polip tipe
eosinofilik dan tipe neutrofilik. Polip Eosinofilik mempunyai latar belakang alergi dan Polip
Neutrofilik biasanya disebabkan infeksi atau gabungan keduanya.2

G. Manifestasi Klinis
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di hidung.
Sumbatan ini tidak hilang - timbul dan makin lama semakin berat keluhannya. Pada sumbatan
yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia. Bila polip ini menyumbat
sinus paranasal, maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri
kepala dan rinore. Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan
iritasi di hidung. Pasien dengan polip yang masif biasanya mengalami sumbatan hidung yang
meningkat, hiposmia sampai anosmia, perubahan pengecapan, dan drainase post nasal
persisten. Sakit kepala dan nyeri pada muka jarang ditemukan dan biasanya pada daerah
periorbita dan sinus maksila. Pasien polip dengan sumbatan total rongga hidung atau polip
tunggal yang besar memperlihatkan gejala sleep apnea obstruktif dan pernafasan lewat mulut
yang kronik 2,5
Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala obstruktif hidung
yang dapat berubah dengan perubahan posisi. Walaupun satu atau lebih polip yang muncul,
pasien mungkin memperlihatkan gejala akut, rekuren, atau rinosinusitis bila polip menyumbat
ostium sinus. Beberapa polip dapat timbul berdekatan dengan muara sinus, sehingga aliran
udara tidak terganggu, tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus.Dalam hal ini dapat
timbul perasaan penuh di kepala, penurunan penciuman, dan mungkin sakit kepala. Mukus
yang terperangkap tadi cenderung terinfeksi, sehingga menimbulkan nyeri, demam, dan
mungkin perdarahan pada hidung. Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. Polip
yang kecil mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu
pemeriksaan rutin. Polip yang terletak posterior biasanya tidak teridenfikasi pada waktu
pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Polip yang kecil pada daerah dimana polip biasanya
tumbuh dapat menimbulkan gejala dan menghambat aliran saluran sinus, menyebabkan
gejala-gejala sinusitis akut atau rekuren.2,5
Gejala subjektif yang biasa dikeluhkan oleh pasien dapat berupa hidung terasa
tersumbat, hiposmia atau anosmia (gangguan penciuman), nyeri kepala, rhinore, bersin, iritasi
di hidung (terasa gatal), post nasal drip, nyeri muka, suara bindeng, telinga terasa penuh,
mendengkur, gangguan tidur, penurunan kualitas hidup. Gejala objektif yang biasanya dapat
ditemukan berupa edema mukosa hidung, submukosa hipertropi dan tampak sembab, terlihat
massa lunak yang berwarna putih atau kebiruan, bertangkai.2
H. Diagnosis

Anamnesis
Keluhan utama penderita polip nasi adalah hidung rasa tersumbat dari yang ringan
sampai yang berat, rinore dari yang jernih sampai purulen, hipoosmia atau anosmia. Mungkin
disertai bersin-bersin, rasa nyeri dihidung disertai sakit kepala didaerah frontal. Bila disertai
infeksi sekunder mungkin didapati post nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang
dapat timbul adalah bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur dan
penurunan kualitas hidup.2
Pemeriksaan Fisik
Polip nasi yang massif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung
tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat
sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan.2
Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997) 2
a. Stadium 1 :
polip masih terbatas dimeatus medius
b. Stadium 2:
polip sudah keluar dari meatus medius, tampak
c. Stadium 3 :

dirongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung


polip yang masif

Pemeriksaan Penunjang

Naso-endoskopi
Adanya fasilitas endoskop akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru.

Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior
tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat
dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila.2

Gambar 2.4 Polip pada nasoendoskopi

Pemeriksaan radiologi
Foto polos sinus paranasal (Posisi waters, AP, Caldwell dan latera) dapat

memperlihatkan adanya penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di dalam
sinus, tetapi kurang bermanfaat untuk polip hidung. Pemeriksaan CT scan sangat
bermanfaat untuk melihat secara jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah
ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks osteomeatal
(KOM). CT scan harus diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan
terapi medikamnetosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan
bedah endoskopi 6

Gambar 2.5: CT- scan polip (tanda panah putih)

Gambar 2.6 : CT-scan polip (Kiri: potongan koronal: penebalan mukosa sinus etmoid
dan maksila. Kanan: potongan parasagital)
I. Penatalaksanaan
Tujuan dari tatalaksana polip hidung yaitu: 6,7

Memperbaikai keluhan pernafasan pada hidung


Meminimalisir gelaja
Meningkatkan kemampuan penghidu
Menatalaksanai penyakit penyerta
Meningkatkan kulitas hidup
Mencegah komplikasi.

Secara umum penatalaksanaan dari polip hidung yaitu melalui penatalksanaan


medis dan operatif.
Tatalaksana Medis
Polip Hidung merupakan kelainan yang dapat ditatalaksanai secara medis.
Walaupun pada beberapa kasus memerlukan penanganan operatif, serta tatalaksana
agresif sebelum dan sesudah operatif juga diperlukan.1,6
1. Antibiotik
Polip hidung dapat menyebabkan terjadinya obstruksi sinus, yang selanjutnya
menimbulkan infeksi. Tatalaksana dengan antibiotik dapat mencegah pertumbuhan dari
polip dan mengurangi perdarahan selama operasi. Antibiotik yang diberkan harus
langsung

dapat

memberikan

efek

langsung

terhadap

spesies

Staphylococcus,

Streptococcus, dan bakteri anaerob, yang merupakan mikroorganisme pada sinusitis


kronis.6
2. Corticosteroid
Topikal Korticosteroid
Intranasal/topikal kortikosteroid merupakan pilihan pertama untuk polip hidung.
Selain itu penggunaan topikal kortikosteroid ini juga berguna pada pasien post-operatif
polip hidung, dimana pemberiannya dapat mengurangi angka kekambuhan. Pemberian
dari kortikosteroid topikal ini dapat dicoba selama 4-6 minggu dengan fluticasone
propionate nasal drop 400 ug 2x/hari memiliki kemampuan besar dalam mengatasi
polip hidung ringan-sedang (derajat 1-2), diamana dapat mengurangi ukuran dari polip
hidung dan keluhan hidung tersumbat.7
Sitemik Kortikosteroid
Penggunaan dari kortikosteroid sistemik/oral tunggal masih belum banyak
diteliti. Penggunaanya

umumnya

berupa

kombinasi

dengan

terapi

kortikosteroid

intranasal. Penggunaan fluocortolone dengan total dosis 560 mg selama 12 hari atau
715 mg

selama

20 hari

dengan

pengurangan

dosis

perhari

disertai

pemberian

budesonide spray 0,2 mg

dapat mengurangi gejala yang timbul serta memperbaiki

keluhan sinus dan mengurangi ukuran polip.7


Akan tetapi dari penelitian lain, penggunaan kortikosteroid sistemik tunggal
yaitu methylprednisolone 32 mg selama 5 hari, 16 mg selama 5 hari, dan 8 mg selama
10 hari ternyata dapat memberikan efek yang signifikan dalam mengurangi ukuran
polip hidung serta gejala nasal selain itu juga meningkatkan kemampuan penghidu.6
3. Terapi lainnya
Penggunaan antihistamin dan dekongestan dapat memberikan efek simtomatik
akan tetapi tidak merubah perjalanan penyakitnya. Imunoterapi menunjukkan adanya
keuntungan pada pasien dengan sinusitis fungal dan dapat berguna pada pasien dengan
polip berulang. Antagonis leukotrient dapat diberikan pada pasien dengan intoleransi
aspirin.7
Terapi Pembedahan
Indikasi untuk terapi pembedahan antara lain dapat dilakukan pada pasien yang
tidak memberikan

respon adekuat

berulang, serta pasien

dengan terapi

medikal, pasien dengan infeksi

dengan komplikasi sinusitis, selain itu pasien polip hidung

disertai riwayat asma juga perlu dipertimbangkan untuk dilakukan pembedahan guna
patensi jalan nafas. Tindakan yang dilakukan yaitu berupa ekstraksi polip (polipektomi),
etmoidektomi untuk polip etmoid, operasi Caldwell-luc untuk sinus maxila. Untuk
pengembangan

terbaru

yaitu

menggunakan

komputer dan instrumentasi power. 6

operasi

endoskopik

dengan

navigasi

Keluhan
Sumbatan hidung dengan 1/> gejala

Massa polip hidung


Tentukan stadium

Curiga keganasan
Permukaan berbenjol, mudah berdarah

Jika mungkin : biopsy untuk tentukan tipe polip dan lakukan polipektomi reduksi
Biopsy tatalaksana sesuai

Stad 2&3
Stad I & 2
Terapi bedah Terapi medik

Keterangan menentukan stadium


Polip dalam MM (NE)
Polip keluar dari MM
Polip memenuhi rongga hidung

Persiapan pra bedah


Terapi medik :
steroid topical dan atau
polipektomi medikamentosa dengan cara :
deksametason 12 mg (3 Hr) 8 mg (3 Hr)4 mgt (3 Hr)
Methylprednisolon 64 mg 10 mg (10 Hr)
Prednisone 1 mg/ kgbb (10 Hr)

Terapi bedah

Tidak ada perbaikan

Perbaikan
mengecil

Tindak lanjut dengan steroid topical


Pemeriksaan berkala sebaiknya dengan NE

Polip rekuren :
Cari faktor alergi
Steroid topical
Steroid oral tidak lebih 3-4x/ tahun
Kaustik
Bagan 1 Penatalaksanaan polip nasal
Operasi ulang
J. Differensial Diagnosis

Perbaikan
hilang

sembuh

Ketika mengevaluasi, sebuah polip nasal harus dibedakan dengan massa pada nasal,
dan kemungkinan adanya penyakit sistemik, seperti contohnya polip nasal pada anak-anak
harus disingkirkan terlebih dahulu kemungkinan adanya cystic fibrosis dan diskinesia ciliary.
Polip yang unilateral harus dicurigai juga adanya reaksi alergi, infeksi jamur, ataupun
sinusitis.8
Neoplasma

sinonasal

biasanya

memperlihatkan

gambaran

endoskopi

yang

menyerupai polip, maka dalam mendiagnosa suatu polip, harus dipikirkan juga
kemungkinan massa tersebut merupakan suatu karsinoma, sarcoma, angiofibroma,
meningioma. Pada beberapa pasien dapat dijumpai sebuah massa seperti polip yang
unilateral pada bagian atas dari rongga nasal dengan tangkai yang tidak jelas terlihat
mungkin merupakan suatu encephalocele atau meningocele. Terlihatnya pulsasi pada
pemeriksaan endoskopi pada massa tersebut dan adanya pembesaran massa tersebut dengan
melakukan penekanan pada vena jugularis interna sisi yang sama dapat memastikan
diagnosis tersebut.8
Sebagai pegangan, apabila menjumpai massa pada hidung yang tidak memiliki
karakteristik seperti polip, unilateral, mudah berdarah, atau bertangkai tapi tidak terlihat
dengan jelas, pemeriksaan imaging, seperti CT-scan atau MRI perlu dilakukan terlebih
dahulu sebelum dilakukan pengelolaan lebih lanjut.8
K. Komplikasi
Polip nasi dapat menyebabkan komplikasi karena blokade aliran udara normal dan
drainase cairan, juga karena inflamasi kronik yang mendasari perkembangannya.
Komplikasi yg mungkin terjadi antara lain:

Obstructive sleep apnea


Serangan asma, akibat rinosinusitis kronik
Infeksi sinus, karena polip nasi dapat menjadikan seseorang lebih mudah

terkena infeksi sinus yang sering berulang atau kronik


Penyebaran infeksi ke daerah mata, yang dapat berakibat bengkak,
ketidakmampuan menggerakkan mata, penurunan penglihatan, atau bahkan

kebutaan permanen
Aneurisma atau terjadi gumpalan darah 9
L. Prognosis
Umumnya setelah penatalaksanaan yang dipilih prognosis polip hidung ini baik
(dubia et bonam) dan gejala-gejala nasal dapat teratasi. Akan tetapi kekambuhan pasca
operasi atau pasca pemberian kortikosteroid masih sering terjadi. Untuk itu follow-up

pasca operatif merupakan pencegahan dini yang dapat dilakukan untuk mengatasi
kemungkinan terjadinya sinekia dan obstruksi ostia pasca operasi, bagaimana patensi
jalan nafas setelah tindakan serta keadaan sinus, pencegahan inflamasi persisten,
infeksi, dan pertumbuhan polip kembali, serta stimulasi pertumbuhan mukosa normal.
Untuk

itu

sangat

penting

dilakukan

pemeriksaan

endoskopi

post operatif.

Penatalaksanaan lanjutan dengan intra nasal kortikosteroid diduga dapat mengurangi


angka kekambuhan polip hidung.1,6
IV . RINOSINUSITIS KRONIS
A. Definisi
Rinosinusitis adalah inflamasi pada hidung dan sinus paranasal yang ditandai dengan
adanya sumbatan/ obstruksi/ kongesti pada hidung, sekret hidung, nyeri/tekanan pada wajah,
dan/atau penurunan atau hilangnya penciuman. Karena sinusitis biasanya disertai dengan
rinitis dan kejadian sinusitis yang berdiri sendiri sangat jarang, maka terminologi yang tepat
untuk digunakan saat ini adalah rinosinusitis. Rinosinusitis dapat dibedakan menjadi akut dan
kronis. Rinosinositis akut didefinisikan sebagai rinosinusitis yang berlangsung kurang dari 12
minggu, dengan resolusi gejala yang komplit dan biasanya disebabkan oleh virus, kadangkadang bakteri. Rinosinusitis akut biasanya memiliki gejala yang lebih berat dan lebih
berisiko mengalami komplikasi. Sementara itu, rinosinusitis kronik didefinisikan sebagai
rinosinusitis yang berlangsung lebih dari 12 minggu, tanpa resolusi komplit dari gejalanya,
dan dapat berujung kepada obstruksi persisten dari kompleks ostiomeatal. 10 Bila mengenai
beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai sinus paranasal disebut
pansinusitis.11
B. Epidemiologi
Rinosinusitis merupakan penyakit yang sering terjadi dan memiliki efek yang
signifikan pada kualitas hidup dan kebutuhan perawatan kesehatan. Di Kanada, 2,89 juta
orang menderita rinosinusitis pada tahun 2006, dengan perkiraan 2/3 untuk rinosinusitis akut,
dan 1/3 untuk rinosinusitis kronik. Di Amerika Serikat pada tahun 2007, rinosinusitis akut
dialami oleh 26 juta orang dan menyebabkan 12,9 juta kunjungan ke rumah sakit.
Prevalensinya berkisar antara 5% dari seluruh populasi. Prevalensi ini lebih tinggi ditemukan
pada perempuan dibandingkan laki-laki (5,7% : 3,4% untuk orang berusia >12 tahun) dan

meningkat seiring usia. Rinosinusitis akut berhubungan dengan merokok, sosial ekonomi
rendah, riwayat alergi, asma dan PPOK.12
C. Etiologi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus, bermacam
rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung, kelainan
anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks ostiomeatal, infeksi
tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada sindrom Kartagenener,
dan di luar negeri adalah penyakit fibrosis kistik. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan
faktor penting penyebab sinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk
menghilangkan sumbatan dan menyembuhkan rinosinusitisnya. Faktor lain yang juga
berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok.
Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.11
D. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens
mukosiliar didalam KOM. Mukus juga mengandung substansi antimikroba dan zat-zat yang
berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara
pernafasan.11
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema,
mukosa yang berdekatan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan
terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinositis nonbakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan.11
Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang
baik untuk tumbuhnya dan multipikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini disebut
sebagai rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak
berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan
bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus
yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi,
polipoid atau pembengkakan polip dan kista.11
Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah
Streptococcus pneumonia (30-50%), Hemophylus influenzae (20-40%) dan Moraxella
catarrhalis (4%). Pada anak, M. Catarrhalis lebih banyak ditemukan (20%). Pada sinusitis

kronik, faktor predisposisi lebih berperan, tetapi umumya bakteri yang ada lebih condong ke
arah bakteri negatif gram dan anaerob.11

Gambar 2.7. Aliran Mukosiliar Sinus Paranasal

Rinosinusitis dan Polip Nasi


Polip nasi dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian menyebabkan
sumbatan yang mengakibatkan rinosinusitis, tetapi dapat juga timbul setelah ada rinosinusitis
kronis.13
Pada patofisiologi sinusitis, permukaan mukosa ditempat yang sempit di komplek
osteomeatal sangat berdekatan dan jika mengalami oedem, mukosa yang berhadapan akan
saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka
terjadi gangguan drainase dan ventilasi dari sinus maksila dan sinus frontal, sehingga
akibatnya aktifitas silia terganggu dan terjadi genangan lendir sahingga lendir menjadi lebih
kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuh bakteri patogen. Bila sumbatan
berlangsung terus maka akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga bakteri anaerob pun
akan berkembang biak. Bakteri juga memproduksi toksin yang akan merusak silia.
Selanjutnya dapat terjadi perubahan jaringan menjadi hipertofi, polipoid atau terbentuk polip
dan kista.13

E. Manifestasi Klinis
Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/ rasa tekanan
pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat
disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.11
Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas
sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain (reffered pain). Nyeri pipi
menandakan sinusitis maksila, nyeri di antara atau di belakang kedua bola mata menandakan
sinusitis etmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis
sfenoid, nyeri dirasakan di verteks, oksipital, belakang bola mata dan daerah mastoid. Pada
sinusitis maksila kadang-kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga. 11
Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/ anosmia, halitosis, post-nasal drip yang
menyebabkan batuk dan sesak pada anak. 11
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang-kadang hanya
1 atau 2 dari gejala-gejala di bawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk
kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba
Eustachius, gangguan ke paru seperti bronitis (sino-bronkitis), bronkiektasis dan yang penting
adalah serangan asma yang meningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang tertelan
dapat menyebabkan gastroenteritis.11
Pada rinosinusitis yang disertai polip nasi, gejala primer adalah hidung tersumbat,
terasa ada masa dalm hidung, sukar mengeluarkan ingus dan hiposmia atau anosmia. Gejala
sekunder termasuk post nasal drip, rinore, nyeri wajah, sakit kepala, telinga terasa penuh,
mengorok, gangguan tidur dan penurunan prestasi kerja.13
F. Diagnosis
Diagnosis rinosinusitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis, American Academy of Otolaryngology
(AAO) memberikan suatu kriteria diagnosis untuk rinosinusitis yaitu dengan menegakkan
kriteria mayor dan minor.14

Kriteria mayor meliputi nyeri wajah, rasa penuh pada wajah, hidung tersumbat,
hidung berair, sekret purulen, hiposmia atau anosmia dan demam (pada kondisi

akut).
Kriteria minor meliputi nyeri kepala, demam, halitosis, kelelahan, nyeri gigi, batuk,
nyeri atau rasa penuh pada telinga. 14

Diagnosis ditegakkan bila terdapat dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dan dua
kriteria minor selama sekurang-kurangnya 12 minggu. Kecurigaan sinusitis didapatkan bila
ditemukan satu kriteria mayor atau dua kriteria minor 14
Sedangkan berdasarkan The European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal
Polyps (EPOS) 2007 mendefinisikan rinosinusitis dengan atau tanpa polip dari munculnya
dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa :

Hidung tersumbat / obstruksi / kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior)
Nyeri tekan pada wajah
Penurunan / hilangnya fungsi penciuman yang dirasakan lebih dari 12 minggu.14

Selain itu, pada pemeriksaan THT termasuk nasoendoskopi ditemukan salah satu dari :

Polip, dan atau


Sekret mukopurulen dari meatus medius, dan/ atau
Edema/ obstruksi mukosa di meatus medius.14
Sebagai tambahan, pada pemeriksaan radiologi ditemukan gambaran perubahan

mukosa di kompleks ostiomeatal dan/ atau sinus


Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi

anterior

dan

posterior,

pemeriksaan

nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosa yang tepat dan dini. Tanda khas adalah
adanya pus di meatus media (pada sinusitis maksila, etmoid anterior, dan frontal) atau di
meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sfenoid). Pada rinosinusitis akut, tampak
mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah
kantus media.11
Pemeriksaan penunjang yang penting adalah foto polos atau CT scan. Foto polos
posisi Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus sinus besar
seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat berupa perselubungan, batas udara
dan cairan ( air fluid level ) atau penebalan mukosa11
CT Scan sinus merupakan gold standar diagnosis sinusitis karena mampu menilai
anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan
perluasannya. Namun karena pemeriksaannya mahal, CT ssan hanya dikerjakan sebagai
penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra operasi
saat melakukan operasi sinus. 11

Gambar 2.8. CT Scan Sinus Paranasal Normal pada Penampang Coronal dan Sagital

Gambar 2.9. CT Scan Sinus Paranasal Sinusitis Maksila dan Edmoid Akut pada
Penampang Coronal dan Axial
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret
dari meatus media atau superior, untuk mendapatkan antibiotik yang tepat guna. Lebih baik
lagi bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila.11
Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui
meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya,
selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.11
Kriteria diagnosis rinosinusitis antara lain:
1. Rinosinusitis akut pada dewasa 15

Diagnosis: Berdasarkan gejala, pemeriksaan radiologis tidak diperlukan (foto polos

sinus paranasal tidak direkomendasikan).


Gejala kurang dari 12 minggu:
o Onset tiba-tiba dari dua atau lebih gejala, salah satunya termasuk hidung
tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior):
nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah
penurunan/ hilangnya penghidu

o dengan interval bebas gejala bila terjadi rekurensi


o dengan validasi anamnesis tentang gejala alergi, seperti bersin, ingus encer

seperti air, hidung gatal dan mata gatal serta berair.


Common cold/ rinosinusitis viral akut didefinisikan sebagai: Lamanya gejala < 10

hari
Rinosinusitis non-viral akut didefinisikan sebagai: Perburukan gejala setelah 5 hari
atau gejala menetap setelah 10 hari dengan lama sakit < 12 minggu.

2. Rinosinusitis kronik pada dewasa 15

Gejala lebih dari 12 minggu


Terdapat dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat/

obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior):


o nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah
o penurunan/ hilangnya penghidu
dengan validasi anamnesis tentang gejala alergi, ingus seperti air, hidung gatal, mata
gatal dan berair, jika positif ada, seharusnya dilakukan pemeriksaan alergi. (Foto
polos sinus paranasal/ tomografi komputer tidak direkomendasikan)

G. Penatalaksanaan
Tujuan terapi sinusitis ialah 1) mempercepat penyembuhan; 2) mencegah komplikasi;
dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di
KOM sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.11
Antibiotik dan dekongestan merupakan pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk
menghilagkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus.
Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan
kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksisilinklavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik diberikan selama
10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik
yang sesuai untuk kuman negatif gram dan anaerob.11
Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan,
seperti analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCL atau
pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat

menyebabkan sekret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin
generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi
tambahan yang dapat bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita
kelainan alergi yang berat.11

Tindakan Operasi
Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk
sinusitis kronik yang memerlukan operasi/ Tindakan ini telah menggantikan hampir semua
jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan
lebih ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak membaik
setelah terapi adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel; polip
ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.11

Skema penatalaksanaan rinosinusitis antara lain sebagai berikut:15


1. Rinosinusitis Akut Dewasa

(Gambar 2.10 . Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Akut Pada Dewasa Untuk Pelayanan
Kesehatan Primer)

(Gambar 2.11. Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Akut Pada Dewasa Untuk Dokter
Spesialis THT)
2. Rinosinusitis Kronis pada Dewasa

(Gambar 2.12 Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Dengan Atau Tanpa Polip
Hidung Pada Dewasa Untuk Pelayanan Kesehatan Primer)

(Gambar 2.13 Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Tanpa Polip Hidung Pada
Dewasa Untuk Dokter Spesialis THT)

(Gambar 2.14 Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Dengan Polip Hidung


Pada Dewasa Untuk Dokter Spesialis THT)
H. KOMPLIKASI
Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotik.
Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan
eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intrakranial.11

Kelainan Orbita: Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata
(orbita), yang paling sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan
maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum.
Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal,

abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus.


Kelainan Intrakranial: Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses
otak dan trombosis sinus kavernosus.11

Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronis berupa:

Osteomielitis dan abses subperiostal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan
biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul
fistula oroantral atau fistula pada pipi.

Kelainan paru, seperti bronkitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus
paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga
menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya
disembuhkan.11

I. Prognosis
Prognosis tergantung dari ketepatan serta cepatnya penanganan yang diberikan.
Semakin cepat maka prognosis semakin baik. Pemberian antibiotika serta obat-obat
simptomatis bersama dengan penanganan faktor penyebab dapat memberikan prognosis yang
baik.13
Polip nasi sering kambuh kembali, oleh karena itu pengobatannya juga perlu
ditujukan kepada penyebabnya, misalnya alergi. Tetapi yang paling ideal pada rinitis alergi
adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab. Secara medikamentosa dapat diberikan
antihistamin, dengan atau tanpa dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa
mengandung kortikosteroid atau tidak. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan
sudah berlangsung lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitisasi dan
hiposensitisasi, yang menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil
yang memuaskan.13