Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha mencari kebenaran
telah memberikan banyak pelajaran, misalnya tentang kesadaran, kemauan, dan
kemampuan manusia sesuai dengan posisinya sebagai makhluk Tuhan untuk
dipublikasikan dalam kehidupan. Manusia dianugrahi oleh Tuhan berupa akal, daya
pikir, yang tidak diberikan kepada makhluk lain, maka sudah sepantasnya akal ini
dipergunakan semaksimal mungkin untuk kemampuan berpikir tersebut, dan
kemampuan berpikir inilah yang membedakan manusia dengan hewan.
Setiap kejadian atau peristiwa pada dasarnya tidak dapat lepas dari peristiwaperistiwa lain yang mendahuluinya. Jadi, sesuatu itu bias terjadi karena ada
hubungan dengan peristiwa sebelumnya. Oleh karena itu kejadian demi kejadian atau
peristiwa demi peristiwa haruslah selalu diperhatian kehadirannya. Demikian pula
dengan apa yang disebut filsafat dan ilmu, ia muncul dan berkembang bukan karena
ia sendiri, melainkan adanya sesuatu (peristiwa) yang memicu muncul dan
berkembangnya.
Setelah menyadari betapa pentingnya berpikir, rasanya mempelajari filsafat
menjadi sangat perlu adanya. Filsafat merupakan sarana yang baik untuk memahami
bagaimana cara berpikir tersebut. Dalam makalah ini akan difokuskan membahas
tentang hakekat filsafat, hakekat filsafat ilmu, dan juga menjelaskan mengenai
perbedaan dan persamaan antara filsafat dengan filsafat ilmu.

B. Rumusan Masalah
Begitu pentingnya mempelajari filsafat Ilmu, Kebenaran dan Penjelajahannya
yaang telah dijelaskan pada pendahuluan, adapun permasalahan yang akan dibahas
antara lain :
1. Apakah Hakikat Filsafat Ilmu ?
2. Apakah Hakikat kebenaran ?
3. Apa kriteria kebenaran Ilmiah ?
4. Apa saja jenis dan Sifat Kebenaran Ilmiah ?
5. Bagaimana Cara Mendapatkan Kebenaran Ilmiah ?

Kelompok 4

Page 1

6. Apakah Keterkaitan antara Filsafat Ilmu dan Kebenaran ?


7. Bagaimana Penjelajahan Ilmu dan batas-batasnya ?

C. Tujuan Penulisan
Dari beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dapat kami simpulkan
Tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1. Untuk mengetahui Hakikat Filsafat Ilmu.
2. Untuk mengetahui Hakikat Kebenaran.
3. Untuk mengetahui kriteria kebenaran Ilmiah.
4. Untuk mengetahui jenis dan sifat kebenaran Ilmiah.
5. Untuk mendapatkan kebenaran Ilmiah.
6. Untuk mengetahui keterkaitan antara filsafat ilmu dan kebenaran.
7. Untuk mengetahui penjelajahan ilmu dan batas-batasnya.

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan artikel adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Umum
Semoga dengan penulisan ini bisa membantu para pembaca baik itu
mahasiswa maupun calon guru dalam mendalami materi Filsafat Ilmu.
2. Manfaat Khusus
Mengembangkan kemampuan penulis dalam mempelajari Materi filsafat
Ilmu.

Kelompok 4

Page 2

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Filsafat Ilmu


Ada berbagai definisi filsafat ilmu yang dihipun oleh The Liang Gie, di sini
hanya akan dikemukakan empat pendapat yang dianggap paling reprsentatif,
diantaranya adalah:
Robert Ackermann, filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapatpendapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan dengan pendapat-pendapat terdahulu
yag telah dibuktikan.
Lewis White Beck, filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metodemetode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha
ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
Cornelius Benjamin, filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati
yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsepkonsepnya, dan peranggapan-peranggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum
dari cabang pengetahuan intelektual.
May Brodbeck, filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan
filsafati, pelukisan, dan penjelasan mengenai andasan-landasan ilmu.
Kempat definisi tersebut memperlihatkan ruang lingkup dan cakupan yang dibahas
dalam filsafat ilmu, meliputi antara lain: (1) komparasi kritis sejarah perkembangan
ilmu, (2) sifat dasar ilmu pengetahuan, (3) metode ilmiah, (4) peranggapanperanggapan ilmiah, (5) sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Adapun

yang paling

banyak dibicarakan

terutama adalah

sejarah

perkembangan ilmu, metode ilmiah, dan sikap etis dalam pengembangan ilmu
pengetahuan.
Prof Sikun Pribadi yang dikutip oleh Burhanuddin salam mengemukakan
perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai berikut: jelaslah bahwa
perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan, ialah bahwa ilmu pengetahuan
bertolak dari dunia fakta, sedangkan filsafat bertolak dari dunia nilai, artinya selalu
menghubungkan masalah dengan makna keseluruhan hidup, walaupun kedua bidang
aktivitas manusia itu bersifat kognitif.

Kelompok 4

Page 3

Ilmu berhubungan dengan mempersoalkan fakta-fakta yang factual, yang


diperoleh dengan eksperimen, observasi, dan verifikasi, hanya berhubungan sebagian
dari aspek kehidupan atau kejadian yang ada di dunia ini, sedangkan keseluruhan
yang bermana mengemukakan perbedaan antara filsafat dan ilmu sebagai berikut.
Ilmu berhubungan dengan lapangan yang terbatas, filsafat mencoba
menghubungkan dengan keseluruhan pengalaman, untuk memperoleh suatu
pandangan yang lebih komprehenshif tentang sesuatu.
Ilmu menggunakan pendeatan analitis dan deskriptip, sedangkan filsafat
sintesis dan sinoptis, berhubungan dengan sifat-sifat dan kualitas alam dan hidup
secara keseluruhan.
Ilmu menganalisis keseluruhan menjadi bagian-bagian dari organisme yang
menjadi organ-orgn. Filsafat mencoba membedakan sesuatu dalam bentuk sintetis
yang menjelaskan dan mencari makna sesuatu secara keseluruhan.
Ilmu menghilangkan faktor-faktor pribadi yang subyektif, sedangkan filsafat
tertarik kepada personalitas, nilai-nilai dan semua pengalaman. Ilmu tertarik pada
hakikat sesuatu sebagaimana adanya, sedangkan filsafat tidak hanya tertarik pada
bagian-bagian yang nyata melainkan juga kepada kemungkinannya yang ideal dari
suatu benda, dan nilai dan maknanya. Ilmu meneliti alam, mengontrol proses alam
sedangkan tugas filsafat mengadakan kritik, menilai, dan mengkoordinasikan tujaun.
Ilmu lebih menekankan pada deskripsi hukun-hukum fenomenal dan hubungan
kausal. Felsafat tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan pertanyaan why
dan how

B. Objek Filsafat Ilmu


Menurut jujun S. Suriasumantri (1986:2) tiap-tiap pengetahuan memiliki tiga
komponen

yang

merupakan

tiang

penyangga

tubuh

pengetahuan

yang

disusunnya.Komponen tersebut adalah ontology, epistemology, dan aksiologi.


Ontology menjelaskan atau untuk menjawab mengenai pertanyaan apa, epistemology
menjelaskan dan menjawab mengenai pertanyaan bagaimana, dan aksiologi
menjelakan dan menjawab mengenai pertanyaan untuk apa?

Kelompok 4

Page 4

Filsafat ilmu sebagaimana dengan halnya dengan bidang ilmu yang lain, juga
memiliki objek material dan objek formal tersendiri. Objek material atau pokok
bahasan filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang
telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu sehingga dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Di sini terlihat jelas perbedaan
yang hakiki antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu lebih
bersifat umum dan didasarkan atas pengalaman sehari-hari, sedangkan ilmu
pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat khusus dengan ciri-ciri sistematis,
metode ilmiah tertentu, serta dapat diuji kebenarannya.
Adapun objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan,
artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar
ilmu pengetahuan, seperti apahakikat imu itu sesungguhnya? Bagaimana cara
memperoleh kebenaran yang ilmiah? Apa fungsi ilmu pengetahuan itu bagi manusia?
Problem-problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu
pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

C. Arti Kebenaran Ilmiah


Apa itu kebenaran Ilmiah? Untuk sampai kepada pengertian kebenaran
Ilmiah dijelaskan masing-masing pengertian dari keduanya. Kebanaran ada yang
berbendapat bahwa berasal dari benar. Benar

timbul dari pernyataan yang

sesungguhnya. Pernyataan merupakan penyusunan tanda-tanda secara tertib yang


oleh aturan sintaksis disebut kalimat berita. Pernyataan merupakan makna yang
terkandung dalam kalimat berita. Namun istilah pernyataan merujuk kepada yang
murni dari sintaksis. Karena pernyataan berarti kalimat berita sedangkan makna yang
dimaksudkan oleh pernyataan adalah proposisi.
Sudah jelas bahwa tidak ada perangkat tanda yang dapat dikatakan benar selanjutnya
secara lues kita tidak dapat mengatakan bahwa sesuatu pernyaataan benar, kadangkadang pernyaataan diartikan sama dengan proposisinya, sedangkan yang
dimaksudkan benar di dalam pembahasan ini adalah perkataan benar hanya dapat
diterapkan dalam propoosisinya.
Kebenaran adalah kesesuaian pengetahuan dengan objeknya. Ketidaksuaian
pengetahuan dengan objeknya disebut dengan kekeliruan. Suatu objek yang ingin

Kelompok 4

Page 5

diketahui memiliki begitu banyak aspek yang senantiasa sangat sulit untuk
diungkapkan serentak. Kenyataannya manusia hanya mampu mengetahui beberapa
aspek dari suatu objek sedangkan yang lainnya tetap tersembunyi baginya. Dengan
demikian, jelas bahwa amat sulit untuk untuk mencapai kebenaran yang lengkap dari
suatu objek tertentu apalagi mencapai seluruh kebenaran dari segala sesuatu yang
dapat dijadikan objek pengetahuan.
Pengetahuan terbagi menjadi tiga
1. Pengetahuan biasa disebut juga dengan pengetahuan pra-imiah yaitu
pengetahuan dari hasil pencerapan indra terhadap objek tertentu.
2. Pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang diperoleh lewat metodemetode yang lebih menjamin kepastian kebenaran yang dicapai.
3. Pengetahuan falsafi yaitu kebenaran yang diperoleh lewat pemikiran
rasional yang didasarkan pemahaman, penafsiran, spekulasi, penilaian
kritis, dan pemikiran-pemikiran logis, analitis dan sistematis. Pengetahuan
falsafi berkaitan dengan hakikat, prinsip, objek, dan asas dari realitas yang
dipersoalkan selaku objek yang hendak diketahui.

Kelompok 4

Page 6

BAB III
PEMBAHASAN

A. Hakikat Filsafat Ilmu


1. Pengertian Filsafat Ilmu
Terdapat banyak definisi/pengertian mengenai filsafat ilmu misalnya:
a. Cornelius Benjamin (dalam The Liang Gie, 19 : 58)
Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis
menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep-konsep,
dan pra-anggapan-pra-anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum
dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.
b. Conny Semiawan at al (1998 : 45)
Menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara
tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas
ilmu lainnya.
c. Jujun Suriasumantri (2005 : 33-34)
Filsafat ilmu sebagai bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang
ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakikat ilmu sebagai
berikut :
1). Kelompok pertanyaan pertama antara lain sebagai berikut ini. Objek
apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut?
Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangap manusia ?
(disebut dengan istilah Ontologis)
2). Kelompok pertanyaan kedua : Bagaimana proses yang memungkinkan
diperolehnya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ?
Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan
yang benar ? Apa yang dimaksud dengan kebenaran ? Dan seterusnya.
(disebut dengan istilah epistemologis)
3). Kelompok pertanyaan ketiga : Untuk apa pengetahuan yang berupa
ilmu itu ? Bagaimana kaitan antara cara menggunakan ilmu dengan
kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah

Kelompok 4

Page 7

berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Dan seterusnya. (disebut dengan


istilah aksiologis)

2. Karakteristik filsafat ilmu


Berdasarkan uraian di atas maka dapat diidentifikasi karakteristik filsafat
ilmu, yaitu:
a. Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.
b. Filsafat ilmu berusaha menelaah ilmu secara filosofis dari sudut
pandang ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

3. Objek filsafat ilmu


a. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu
b. Objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas dasar tinjauan filosofis,
yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
4. Manfaat Mempelajari filsafat ilmu
Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mahasiswa semakin kritis
dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan
untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di
ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa
sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan
penelitian ilmiah. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki
pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan
tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus
dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya.
Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan dan kedalaman berpikir kritis
dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
Dalam konteks inilah pengalaman mempelajari filsafat ilmu diterapkan.

Kelompok 4

Page 8

B. Hakekat Kebenaran
Mencari hakekat kebenaran mungkin sering kita ucapkan, tapi susah
dilaksanakan. Makhluk apa itu kebenaran juga kita kadang masih nggak ngerti.
Yang pasti bahwa benar itu pasti tidak salah ;). Pertanyaan-pertanyaan kritis kita
di masa kecil, misalnya mengapa gajah berkaki empat, mengapa burung bisa terbang,
dsb kadang tidak terjawab secara baik oleh orang tua kita. Sehingga akhirnya
sering sesuatu kita anggap sebagai yang memang sudah demikian wajarnya (taken
for granted). Banyak para ahli yang memaparkan ide tentang sudut pandang
kebenaran termasuk bagaimana membuktikannya. Saya mencoba ulas masalah
hakekat kebenaran ini dari tiga sudut pandang yaitu: kebenaran ilmiah, kebenaran
non-ilmiah dan kebenaran filsafat.
Harus kita pahami lebih dahulu bahwa meskipun kebenaran ilmiah sifatnya
lebih sahih, logis, terbukti, terukur dengan parameter yang jelas, bukan berarti bahwa
kebenaran non-ilmiah atau filasat selalu salah. Malah bisa saja kebenaran non-ilmiah
dan kebenaran filsafat terbukti lebih benar daripada kebenaran ilmiah yang
disusun dengan logika, penelitian dan analisa ilmu yang matang. Contoh menarik
adalah kasus patung Kouros yang telah diteliti dan dibuktikan keasliannya oleh
puluhan pakar selama lebih dari 1,5 tahun di tahun 1983, bahkan juga dianalisa
dengan berbagai alat canggih seperti mikroskop elektron, mass spectrometry, x-ray
diffraction, dsb. Namun beberapa pakar lain (George Despinis, Angelos Delivorrias)
menggunakan pendekatan intuitif sebagai ahli geologi dan mengatakan bahwa
patung tersebut palsu (terlalu fresh, seolah tidak pernah terkubur, kelihatan janggal).
Akhirnya patung itu dibeli dengan harga tinggi oleh museum J. Paul Getty di
California dengan asumsi kebenaran ilmiah lebih bisa dipertanggungjawabkan.
Kenyataan kemudian membuktikan bahwa semua dokumen tentang surat tersebut
palsu, dan patung itu dipahat disebuah bengkel tempa di Roma tahun 1980. Cerita ini
menjadi pengantar buku bestseller berjudul Blink karya Malcolm Gladwell.
1. Kebenaran Ilmiah
Kebenaran yang diperoleh secara mendalam berdasarkan proses
penelitian dan penalaran logika ilmiah. Kebenaran ilmiah ini dapat
ditemukan dan diuji dengan pendekatan pragmatis, koresponden, koheren.

Kelompok 4

Page 9

Kebenaran Pragmatis: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar


apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat fungsional dalam
kehidupan sehari-hari. Contohnya, Yadi mau bekerja di sebuah perusahaan
minyak karena diberi gaji tinggi. Yadi bersifat pragmatis, artinya mau
bekerja di perusahaan tersebut karena ada manfaatnya bagi dirinya, yaitu
mendapatkan gaji tinggi.
Kebenaran Koresponden: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar
apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan
atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan
tersebut. Teori koresponden menggunakan logika induktif, artinya metode
yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke
umum. Dengan kata lain kesimpulan akhir ditarik karena ada fakta-fakta
mendukung yang telah diteliti dan dianalisa sebelumnya. Contohnya,
Jurusan teknik elektro, teknik mesin, dan teknik sipil Undip ada di
Tembalang. Jadi Fakultas Teknik Undip ada di Tembalang.
Kebenaran Koheren: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila
konsisten dan memiliki koherensi dengan pernyataan sebelumnya yang
dianggap benar. Teori koheren menggunakan logika deduktif, artinya
metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal umum
ke khusus. Contohnya, seluruh mahasiswa Undip harus mengikuti
kegiatan Ospek. Luri adalah mahasiswa Undip, jadi harus mengikuti
kegiatan Ospek.

2. Kebenaran Non-Ilmiah
Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan
penalaran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor nonilmiah. Beberapa diantaranya adalah:
Kebenaran Karena Kebetulan: Kebenaran yang didapat dari kebetulan dan
tidak ditemukan secara ilmiah. Tidak dapat diandalkan karena kadang kita
sering tertipu dengan kebetulan yang tidak bisa dibuktikan. Namun satu
atau dua kebetulan bisa juga menjadi perantara kebenaran ilmiah,
misalnya penemuan kristal Urease oleh Dr. J.S. Summers.

Kelompok 4

Page 10

Kebenaran Karena Akal Sehat (Common Sense): Akal sehat adalah


serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan masalah secara
praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama untuk
pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi
kemudian membuktikan hal itu tidak benar.
Kebenaran Agama dan Wahyu: Kebenaran mutlak dan asasi dari
Allah dan Rasulnya. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan panca indra
manusia, tapi sebagian hal lain tidak.
Kebenaran Intuitif: Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa
menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif sukar
dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang
berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang. Contohnya
adalah kasus patung Kouros dan museum Getty diatas.
Kebenaran Karena Trial dan Error: Kebenaran yang diperoleh karena
mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi dan paramaterparameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama
dan biaya tinggi.
Kebenaran Spekulasi: Kebenaran karena adanya pertimbangan
meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh
resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trial-error.
Kebenaran Karena Kewibawaan: Kebenaran yang diterima karena
pengaruh kewibawaan seseorang. Seorang tersebut bisa ilmuwan, pakar
atau ahli yang memiliki kompetensi dan otoritas dalam suatu bidang ilmu.
Kadang kebenaran yang keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu
diuji. Kebenaran ini bisa benar tapi juga bisa salah karena tanpa prosedur
ilmiah.

3. Kebenaran Filsafat
Kebenaran yang diperoleh dengan cara merenungkan atau
memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, baik sesuatu
itu ada atau mungkin ada. Kebenaran filsafat ini memiliki proses
penemuan dan pengujian kebenaran yang unik dan dibagi dalam beberapa

Kelompok 4

Page 11

kelompok (madzab). Bagi yang tidak terbiasa (termasuk saya ;)) mungkin
terminologi yang digunakan cukup membingungkan. Juga banyak yang
oportunis alias menganut madzab dualisme kelompok, misal mengakui
kebenaran realisme dan naturalisme sekaligus.
a. Realisme: Mempercayai sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri dan
sesuatu yang pada hakekatnya tidak terpengaruh oleh seseorang.
b. Naturalisme: Sesuatu yang bersifat alami memiliki makna, yaitu bukti
berlakunya hukum alam dan terjadi menurut kodratnya sendiri.
c. Positivisme: Menolak segala sesuatu yang di luar fakta, dan menerima
sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Tolok ukurnya adalah
nyata, bermanfaat, pasti, tepat dan memiliki keseimbangan logika.
d. Materialisme Dialektik: Orientasi berpikir adalah materi, karena materi
merupakan satu-satunya hal yang nyata, yang terdalam dan berada
diatas kekuatannya sendiri. Filosofi resmi dari ajaran komunisme.
e. Idealisme: Idealisme menjelaskan semua obyek dalam alam dan
pengalaman sebagai pernyataan pikiran.
f. Pragmatisme: Hidup manusia adalah perjuangan hidup terus menerus,
yang sarat dengan konsekuensi praktis. Orientasi berpikir adalah sifat
praktis, karena praktis berhubungan erat dengan makna dan kebenaran.

C. Kriteria Kebenaran Ilmiah


Berpikir adalah suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar.
Sesuatu dikatakan benar sesuai dengan kriteria kebenaran. Menurut Depdikbud
kebenaran adalah keadaan yang cocok dengan keadaan sebenarnya. Jadi sesuatu
dikatakan memiliki nilai kebenaran jika sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jenis
kebenaran ada 3 macam, yaitu (1). Kebenaran epistimologis adalah kebenaran yang
berhubungan dengan pengetahuan manusia (2). Kebenaran antologis adalah
kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada
atau diadakan. (3). Kebenaran sematis adalah kebenaran yang berkaitan dengan
pemakaian bahasa. Ini tergantung pada kebebasan manusia sebagai makhluk hidup
yang bebas melakukan sesuatu. Bahasa merupakan ungkapan dari kebenaran.

Kelompok 4

Page 12

1. Kriteria Kebenaran Epistimologis


Ilmu pengetahuan yang paling utama membicarakan berbagai macam kriteria
kebenaran, dalam hal ini terdiri atas jenis-jenis kebenaran sebagai berikut:
a. Kebenaran absolut, yaitu kebenaran mutlak. Cirinya adalah benar dengan
sendirinya, tidak berubah-ubah, dan tidak membutuhkan pengakuan dari
siapapun supaya menjadi benar.
b. Kebenaran absolut ini hanya dimiliki oleh Tuhan, pencipta alam semesta.
c. Kebenaran relatif, yaitu kebenaran yang berubah-ubah. Contoh selera
musik, menurut A musik pop bagus tetapi menurut B musik rock lebih
bagus.
d. Kebenaran spekulatif, yaitu kebenaran yang menjadi ciri khas filsafat.
Kebenaran ini bersifat kebetulan dengan landasar logis dan rasional.
e. Kebenaran korespondensi, kebenaran yang bertumpu pada realitas objektif.
Kriteria kebenaran dicirikan oleh adanya relevansi pernyataan dengan
kenyataan, antara teori dan praktik. Contoh: UNY terletak di
Yogyakarta.
f. Kebenaran pragmatis, kebenaran yang diukur dengan adanya manfaat suatu
pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik secara individu maupun
kelompok.Contoh: ilmu perbintangan bermanfaat bagi nelayan maka
memiliki nilai kebenaran pragmatis.
g. Kebenaran normatif, kebenaran yang didasarkan pada sistem sosial yang
sudah baku. Misalnya kebenaran karena tuntutan adat kebiasaan atau
kesepakatan sosial yang telah lama berlaku dalam kehidupan kultural
masyarakat yang bersangkutan.
h. Kebenaran religius, kebenaran yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai
dalam agama.
i. Kebenaran filosofis, kebenaran hasil perenungan dan pemikiran refleksi
ahli filsafat yang disebut hakikat atau the nature.
j. Kebenaran estetis, kebenaran yang didasarkan pada pandangan tentang
keindahan dan keburukan

Kelompok 4

Page 13

k. Kebenaran ilmiah, kebenaran yang ditandai oleh terpenuhinya syaratsyarat ilmiah, menyangkut relevansi teori dan kenyataan hasil penelitian
di lapangan.
l. Kebenaran teologis, kebenaran yang didasarkan pada firman-firman Tuhan.
m. Kebenaran ideologis, kebenaran karena tidak menyimpang dari cita-cita
kehidupan suatu bangsa.
n. Kebenaran konstitusional, kebenaran atas dasar Undang-undang, tindakan
yang sesuai dengan UU dinyatakan sebagai konstitusional sedangkan
yang bertentangan dengan UU disebut sebagai inkonstitusional
o. Kebenaran logis, kebenaran karena lurusnya berpikir. Dicirikan oleh
bentuk pemberian pengertian dan definisi.

D. Jenis dan Sifat Kebenaran Ilmiah


1. Teori dan Sifat kebenaran Ilmiah
Bagi positivis, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuai
dengan empiris. Bagi realis, benar substantif identik dengan benar riil objektif, benar
sesuai dengan konstruk skema rasional tertentu. Sedangkan benar epistemologik
berbeda, terkait pada pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran.
Kebenaran positivistik dilandaskan pada diketemukannya frekuensi tinggi atau
variansi besar, sedangkan pada fenomenologik kebenaran dibuktikan berdasar
diketemukan yang esensial, pilah dari yang non-esensial atau eksemplar, dan sesuai
dengan skema moral tertentu. Dengan demikian, benar epistemologik menjadi
berbeda dengan benar substantif. Benar positivistik berbeda dengan benar
fenomenologik, berbeda dengan benar realisme metafisik. Bagi positivisme sesuatu
itu benar bila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Bagi
fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang
dipercayainya (belief). Pragmatisme mengakui kebenaran, bila faktual berfungsi
(Muhadjir 1998:10) (1). Teori Kebenaran, (2). Teori kebenaran korespondensi.
Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim
sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya (Keraf dan Dua M, 2001: 66).
Suatu pernyataan dapat dikatakan benar jika mengandung pernyataan yang sesuai
dengan kenyataan yang ada. Dengan kata lain, kebenaran korespondensi terletak

Kelompok 4

Page 14

pada kesesuaian antara subjek dan objek. Teori kebenaran korespondensi ini adalah
teori yang dapat diterima secara luas oleh kaum realis karena pernyataan yang ada
selalu berkait dengan realita.
a. Teori kebenaran koherensi
Kebenaran ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan
proposisi yang sudah ada. Suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi
atau hipotesis dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori,
proposisi atau hipotesis lainnya, yaitu kalau proposisi itu meneguhkan dan
konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar (Keraf dan Dua
M, 2001: 88). Dengan kata lain pernyataan dianggap benar jika pernyataan
itu bersifat konsisten dengan pernyataan lain yang telah diterima
kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika. Sebagai contoh,
pernyataan semua manusia pasti akan mati adalah pernyataan yang benar,
maka jika ada pernyataan bahwa saya pasti akan mati adalah pernyataan
benar karena saya adalah manusia.
b. Teori kebenaran pragmatis
Teori pragmatis dicetuskan oleh filsuf pragmatis dari Amerika Serikat
Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun
1878 yang berjudul How to Make our Ideals Clear. Teori ini kemudian
dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah
berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan
dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah William
James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Herbert Mead (18631931) dan C.I. Lewis (Suriasumantri, 1984:57)
Bagi kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan
kegunaan. Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide
yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan
seseorang (berdasarkan ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan
tepat guna. Berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan
apakah suatu ide itu benar atau tidak. Bagi kaum pragmatis jika ide,
pengetahuan atau konsep tidak ada manfaatnya maka ide tersebut merupakan
ide yang tidak benar.

Kelompok 4

Page 15

c. Teori kebenaran sintaksis


Teori ini berpangkal pada keteraturan gramatika yang dipakai oleh
suatu pernyataan tata-bahasa yang melekat. Jadi suatu pernyataan bernilai
benar jika mengikutu aturan gramatika yang baku. Teori ini berkembang
diantara para filsuf bahasa, terutama yang ketat terhadap pemakaian
gramatika seperti Friederich Schleiermacher.
d. Teori kebenaran semantis
Teori ini dianut oleh faham filsafat analitika bahasa yang
dikembangkan pasca filsafat Bertrand Russel sebagai tokoh pemula filsafat
Analitika Bahasa. Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar ditinjau
dari segi arti atau makna. Hal ini hendak menekankan bahwa suatu
pernyataan benar jika pernyataan tersebut memiliki arti.
e. Teori kebenaran non-deskripsi
Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat
fungsionalisme. Suatu pernyataan dianggap benar tergantung peran dan
fungsi pernyataan itu sendiri. Pengetahuan akan memiliki nilai kebenaran
sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan
sehari-hari.
f. Teori kebenaran logis yang berlebihan
Teori ini mempunyai pemahaman bahwa masalah kebenaran hanya
merupakan kekacauan bahasa dan hal ini mengakibatkan adanya suatu
pemborosan karena pada dasarnya pernyataaan yang hendak dibuktikan
kebenarannya memiliki derajat logik yang sama dari masing-masing yang
melingkupinya.

2. Sifat Kebenaran Ilmiah


Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
a. Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan
kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena
kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu
yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami
kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap

Kelompok 4

Page 16

sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu


membedakan sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable).
Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk
akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan.
Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat
dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
b. Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada,
bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan
dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam
kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu
spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun
suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah
pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
c. Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan
kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika
suatu pernyataan benar dinyatakan benar secara logis dan empiris,
maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia.
Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai
persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan
mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus
kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap
bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah
yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau
konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidaktersembunyian (aleteia). Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag
diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan.
Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus ditemukan atau direbut
melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.

Kelompok 4

Page 17

E. Cara Mendapatkan Kebenaran Ilmiah


1. Kriteria Kebenaran
Apakah benar itu? Randall & Bucher: Persesuaian antara pikiran dan
kenyataan. Jujun S. Suriasumantri: Pernyataan tanpa ragu. Ketika kita mengakui
kebenaran sebuah proposisi bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari, dasar kita,
tidak lain adalah sesuai tidaknya proposisi tersebut dengan kenyataannya.
2. Teori Penentuan Kebenaran
a. Teori Koherensi (Teori kebenaran saling berhubungan)
Suatu proposisi (pernyataan) dianggap benar apabila pernyataan tersebut
bersifat konheren atau konsisten atau saling berhubungan dengan pernyataanpernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh: jika kita menganggap
bahwa, semua makhluk hidup pasti akan mati adalah pernyataan yang benar,
maka pernyataan bahwa pohon kelapa adalah makluk hidup dan pasti akan
mati adalah benar pula, sebab pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan
yang pertama.
b. Teori Korespondensi (Teori saling berkesesuaian)
Teori ini digagas oleh Bernard Russell (1872-1970). Menurutnya pernyataan
dikatakan benar bila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan tersebut
saling berkesesuaian dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Contoh: jika seseorang mengatakan bahwa tugu monas ada di kota Jakarta
maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan tersebut sesuai
dengan fakta bahwa tugu monas berdiri di kota Jakarta.
Teori korespondensi digunakan untuk proses pembuktian secara empiris dalam
bentuk pengumpulan data-data yang mendukung suatu pernyataan yang telah
dibuat sebelumnya.
c. Teori Pragmatisme (Teori konsekuensi kegunaan)
Teori yang dicetuskan oleh Peirce (1839-1914) ini disandarkan pada teori
pragmatisme. Penganut teori ini menyatakan bahwa kebenaran suatu
pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional dalam kehidupan praktis?. Artinya, suatu pernyataan dikatakan
benar jika konsekuensi dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis
dalam kehidupan manusia.

Kelompok 4

Page 18

3. Cara Penemuan Kebenaran


Antara Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan (knowledge) sudah puas dengan
menangkap tanpa ragu kenyataan sesuatu, sedangkan ilmu (science) menghendaki
penjelasan lebih lanjut dari sekedar apa yang dituntut oleh pengetahuan. Contoh: Si
Buyung mengetahui bahwa pelampung kailnya selalu terapung di air, ia akan
membantah jika dikatakan bahwa gabus pelampungnya itu tenggelam, sampai disini
wilayah pengetahuan. Namun, jika ia memahami bahwa berat jenis pelampung lebih
kecil dibandingkan berat jenis air sehingga mengakibatkan pelampung selalu
terapung, maka ini telah memasuki wilayah ilmu. Untuk mencapai kebenaran
pengetahuan dan ilmu tersebut ditempuh oleh manusia dengan cara ilmiah dan
non-ilmiah.
4. Cara penemuan kebenaran ilmiah
Penemuan kebenaran dengan cara ilmiah adalah berupa kegiatan penelitian
ilmiah dan dibangun atas teori-teori tertentu. kita dapat pahami bahwa teori-teori
tersebut berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang dilakukan
secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data-data empiris yang ditemukan di
lapangan.
Teori yang ditemukan harus dapat diuji keajekan dan kejituan internalnya.
Artinya, jika penelitian ulang dilakukan dengan langkah-langkah serupa pada kondisi
yang sama maka akan diperoleh hasil yang sama atau hampir sama.

Untuk sampai pada kebenaran ilmiah ini, maka harus melewati 3 tahapan berpikir
ilmiah yang harus dilewati, yaitu: 1) Skeptik; 2) Analitik; dan 3) Kritis.
a. Skeptik
Cara berfikir ilmiah pertama ini ditandai oleh cara orang di dalam menerima
kebenaran informasi atau pengetahuan tidak langsung di terima begitu saja,
namun dia berusaha untuk menanyakan fakta atau bukti terhadap tiap
pernyataan yang diterimanya.
b. Analitik
Ciri ini ditandai oleh cara orang dalam melakukan setiap kegiatan, ia selalu
berusaha menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana
yang relevan dan mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya.Dengan

Kelompok 4

Page 19

cara ini maka jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi akan dapat
diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan.
c. Kritis
Ciri berfikir ilmiah ketiga adalah ditandai dengan orang yang selalu berupaya
mengembangkan kemampuan

menimbang setiap permasalahan

yang

dihadapinya secara objektif. Hal ini dilakukan agar semua data dan pola
berpikir yang diterapkan selalu logis.

5. Cara penemuan kebenaran non-ilmiah


a. Akal sehat (common sence)
Akal sehat menurut Counaut adalah serangkaian konsep dan bagan yang
memuaskan untuk kegunaan praktis bagi manusia. Sedangkan bagan konsep
adalah seperangkat konsep yang dirangkaikan dengan dalil-dalil hipotesis dan
teori.
b. Prasangka
Penemuan pengetahuan yang dilakukan melalui akal sehat kebanyakan
diwarnai oleh kepentingan orang yang melakukannya. Hal ini menyebabkan
akal sehat mudah berubah menjadi prasangka. Dengan akal sehat orang
cenderung ke arah perbuatan generalisasi yang terlalu dipaksakan, sehingga
hal tersebut menjadi prasangka.
c. Pendekatan intuitif
Dalam pendekatan ini orang memberikan pendapat tentang suatu hal yang
berdasarkan atas pengetahuan yang langsung atau didapat dengan cepat
melalui proses yang tidak disadari atau tidak dipikirkan terlebih dahulu.
Dengan intuitif orang memberi penilaian tanpa didahului oleh suatu
renungan.

6. Penemuan kebetulan dan coba-coba


Penemuan secara kebetulan dan coba-coba, banyak diantaranya yang sangat
berguna. Penemuan ini diperoleh tanpa rencana, dan tidak pasti. Misalnya, seorang
anak yang terkunci dalam kamar, dalam kebingungannya ia mencoba keluar lewat
jendela dan berhasil.

Kelompok 4

Page 20

7. Pendapat otoritas ilmiah dan pikiran ilmiah


Otoritas ilmiah biasanya dapat diperoleh seseorang yang telah menempuh
pendidikan formal tertinggi, misalnya Doktor atau seseorang dengan pengalaman
profesional atau kerja ilmiah dalam suatu bidang yang cukup banyak (profesor).
Pendapat mereka seringkali diterima sebagai sebuah kebenaran tanpa diuji, karena
apa yang mereka telah dipandang benar. Padahal, pendapat otoritas ilmiah tidak
selamanya benar, bila pendapat tersebut tidak disandarkan pada hasil penelitian,
namun hanya disandarkan pada pikiran logis semata.

F. Keterkaitan Antara Filsafat Ilmu dan Kebenaran


Perbedaan antara situasi ilmu pengetahuan dulu dan sekarang tentu tidak
terbatas pada kesatuan lebih besar yang menandai ilmu pengetahuan di masa lampau.
Terdapat juga perbedaan-perbedaan lain. Antara lain cukup menyolok mata bahwa
tempat yang diduduki ilmu pengetahuan dalam hidup sehari-hari dulu sama sekali
berbeda, kalau dibandingkan dengan situasi modern sekarang. Dulu ilmu
pengetahuan praktis tidak mempengaruhi hidup sehari-hari. Dan dianggap biasa saja,
bila ilmu pengetahuan tidak mempunyai konsekuensi dalam hidup kemasyarakatan,
karena maknanya sama sekali lain. Dalam konteks ini misalnya terdapat suatu
perkataan Aristoteles yang cukup menarik umat manusia menjamin urusannya
untuk hidup sehari-hari barulah dapat ia arahkan perhatiannya kepada ilmu
pengetahuan. Jadi, rupanya kegiatan ilmiah tidak bertujuan mempermudah urusan
ini atau meningkatkan taraf hidup jasmani. Apalagi, pada waktu itu tidak mungkin
orang berpikir mau meningkatkan taraf hidup, karena tingginya taraf hidup dianggap
telah ditentukan oleh alam kodrat dan manusia tidak sanggup mengubah alam kodrat.
Pada ketika itu ilmu pengetahuan mempunyai tujuan yang sama sekali lain. Ilmu
pengetahuan bertujuan memperingatkan manusia bahwa selain makhluk alamiah
(makhluk yang tersimpul dalam tata susunan alam) ia masih merupakan suatu yang
lain, yaitu makhluk yang mengetahui tentang dirinya dan dengan demikian juga
dengan perbedaannya dengan alam. Ilmu pengetahuan bermaksud mendalami
tentang diri manusia dan alam itu, supaya secara rohani manusia dapat sampai pada
inti dirinya. Karena itu pula ilmu pengetahuan tidak berguna, dalam arti bahwa
ilmu pengetahuan tidak berusaha mencapai sesuatu yang lain. Ilmu pengetahuan itu

Kelompok 4

Page 21

dipraktekkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, karena hanya dengan dan ilmu
pengetahuan manusia bisa menjadi manusia sungguh-sungguh, yaitu makhluk yang
menyadari dirinya dan kedudukannya yang unik dalam kosmos.
Kini fungsi manusia dari ilmu pengetahuan telah berubah secara radikal.
Barangkali masih ada sisa sedikit dari fungsi aslinya (harus kita selidiki lagi nanti),
tetapi yang pasti ialah bahwa ilmu pengetahuan sekarang ini melayani kehidupan
sehari-hari menurut segala aspeknya. Kegiatan ilmiah dewasa ini didasarkan pada
dua keyakinan berikut ini:
1. Segala sesuatu dalam realitas dapat diselidiki secara ilmiah, bukan saja
untuk mengerti realitas dengan lebih baik, melainkan juga untuk
menguasainya lebih mendalam menurut segala aspeknya.
2. Semua aspek realitas membutuhkan juga penyelidikan seperti itu.
Kebutuhan-kebutuhan yang paling primer, seperti air, makanan, udara,
cahaya, kehangatan, tempat tinggal tidak akan cukup tanpa penyelidikan
itu. Dan banyak hal lain dapat disebut lagi.
Tentu saja, dapat dikatakan juga bahwa kita sekarang ini berada dalam
semacam gerak spiral: di satu pihak kita harus menggunakan ilmu pengetahuan
untuk menjamin kebutuhan-kebutuhan kita yang paling elementer dan di lain pihak
keharusan itu sebagian disebabkan karena kita telah mempengaruhi dan mengubah
keadaan hidup kita yang natural. Kita sendiri telah menciptakan suatu situasi yang
cukup ganjil. Lebih dahulu kita telah merusak lingkungan hidup yang natural (air,
udara, tanah) dan kita harus membersihkan lagi lingkungan itu. Namun demikian,
kita sepatutnya hati-hati dulu dan tidak terlanjur cepat melontarkan penilaian kita.
Lingkungan yang natural mengandung sekurang-kurangnya sama banyak persoalan
seperti lingkungan artifisial yang diciptakan dengan bantuan ilmu pengetahuan.
Bagaimanapun juga, dulu hanya sejumlah kecil orang

sanggup memanfaatkan

sumber-sumber alamiah dan dengan berbuat demikian mereka selalu merugikan serta
mengorbankan orang lain.
Dari penjelasan di atas, kita dapat memberikan sebuah pandangan bahwa
ilmu pengetahuan sekarang ini haruslah diabdikan kepada kemanfaatan bagi
kehidupan kemanusiaan yang jika kita kaitkan dengan teori kebenaran dalam filsafat
maka haruslah sesuai dengan teori corespondency dimana pernyataan ilmu

Kelompok 4

Page 22

pengetahuan haruslah sesuai dengan kenyataan di lapangan, selanjutnya juga harus


terkait dengan teori consistency artinya bahwa kebenaran ilmu pengetahuan haruslah
berdasarkan penelitian yang menghasilkan pada ketepatan hasil sehingga antara teori
corespondency dan teori consistency merupakan teori yang saling melengkapi dan
bukan teori yang dipertentangkan.
Selanjutnya, kita juga dapat memberikan sebuah pandangan bahwa ilmu
pengetahuan sekarang haruslah dapat digunakan sebagai pemecah problem-problem
kehidupan yang dalam teori kebenaran filsafat haruslah bernilai pragmatism, hal ini
bukan berarti menggunakan ilmu pengetahuan semaunya sendiri sesuai dengan
dorongan nafsu, melainkan pragmatism yang dibingkai oleh nilai-nilai religious
keagagamaan sehingga dapat betul-betul bermanfaat dan bernilai guna bagi
kehidupan kemanusiaan.

G. Penjelajahan Ilmu Dan Batas-Batasnya


Dasar ontologi ilmu sebenarnya ingin berbicara pada sebuah pertanyaan
dasar yaitu : apakah yang ingin diketahui ilmu? Atau bisa dirumuskan secara
eksplisit menjadi : apakah yang menjadi bidang telaah ilmu? Berbeda dengan agama
atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada
kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana objek kajian ilmu ada dalam
jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek
kehidupan yang dapat diuji oleh pacaindera manusia. Dalam batas-batas tersebut
maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan, binatang, tumbuhtumbuhan, hewan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu maka ilmu dapat
disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang berbeda di
luar jangkaun manusia tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan
tersebut.
Untuk mendapatkan pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi
mengenai objek-objek empiris. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita
bisa menerima asumsi yang dikemukakannya. Secara lebih terperinci ilmu
mempunyai tiga asumsi yang dasar. Asumsi pertama, menganggap objek-objek
tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk,
struktur, sifat dan sebagainya. Asumsi kedua, ilmu menganggap bahwa suatu benda

Kelompok 4

Page 23

tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan keilmuan


bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu.
Asumsi ketiga, ilmu menganggap bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian
yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu
yang bersifat tetap dengan urutan kejadian yang sama. Dalam pengertian ini ilmu
mempunyai sifat deterministik. Namunpun demikian dalam determinisme dalam
pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik).
Tiap cabang membuat ranting-ranting baru seperti fisika berkembang menjadi
mekanika, hidrodinamika, bunyi, cahaya, panas, kelistrikan, dan magnetisme, fisika
nukir dan kimia fisik. Ilmu murni yang kemudian dikembangkan menjadi ilmu-ilmu
terapan
Contohnya sebagai berikut:
1.

Ilmu Murni

2. Ilmu Terapan : Mekanika, Mekanika Teknik, Hidrodinamika, Teknik


Aeronaumatika, Teknik & Desain Kapal, Bunyi, Teknik Akustik,
Cahaya & Optik, Teknik Iluminasi, Kelistrikan , Teknik Elektronik,
Magnetisme, Teknik Kelistrikan, Fisika Nuklir, Teknik Nuklir

Cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi (mempelajari manusia


dalam perspektif waktu dan tempat), psikologi (mempelajari proses mental dan
kelakuan manusia), ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhannya
lewat proses pertukaran), sosiologi (mempelajari struktur organisasi sosial manusia)
dan ilmu politik (mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia
berpemerintahan dan bernegara).
Cabang utama ilmu-ilmu sosial yang lainnya mempunyai cabang-cabang lagi
seperti antropologi terpecah menjadi lima yakni, arkeologi, antropologi fisik,
linguistik, etnologi dan antropologi sosial/kultural, semua itu kita golongkan ke
dalam ilmu murni.
Ilmu murni merupakan kumpulan teori-teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoritis
yang belum dikaitkan dengan masalah kehidupan yang bersifat praktis. Ilmu terapan
merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang
mempunyai manfaat praktis.

Kelompok 4

Page 24

Banyak sekali konsep ilmu-ilmu sosial murni dapat diterapkan langsung kepada
kehidupan praktis, ekonomi umpamanya, meminjam perkataan Paul Samuelson,
merupakan ilmu yang beruntung (Fortunate) karena dapat diterapkan langsung
kepada kebijaksanaan umum (public policy).
Di samping ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, pengetahuan mencakup
juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat, agama, bahasa
dan sejarah. Matematika bukan merupakan ilmu, melainkan cara berpikir deduktif.
Matematika merupakan sarana yang penting dalam kegiatan berbagai disiplin
keilmuan, mencakup antara lain, geometri, teori bilangan, aljabar, trigonometri,
geometri analitik, persamaan diferensial, kalkulus, topologi, geometri non-Euclid,
teori fungsi, probabilitas dan statistika, logika dan logika matematika.

Kelompok 4

Page 25

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Ilmu pengetahuan terdiri dari dua kata yakni ilmu dan pengetahuan. Ilmu
merupakan salah satu dari hasil usaha manusia untuk memperadab dirinya.
Sedangkan pengetahuan adalah hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni,
pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi
dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, yang
menyebabkan

manusia

mampu

mengembangkan

pengetahuannya,

adalah

kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Selain kedua
penyebab di atas manusia juga mampu untuk menalar apa yang sedang
diusahakannya, penalaran sendiri adalah suatu proses berpikir dalam menarik suatu
kesimpulan yang berupa pengetahuan. Hal ini yang tidak dimiliki oleh makhluk lain
selain manusia.
Dalam filsafat, kebenaran dibagi atas beberapa teori diantaranya adalah:
Teori korespondency, konsistency, pragmatisme dan teori religius.
Dulu ilmu pengetahuan praktis tidak mempengaruhi hidup sehari-hari. Dianggap
sesuatu yang tidak penting dan dianggap biasa saja, bila ilmu pengetahuan tidak
mempunyai konsekuensi dalam hidup kemasyarakatan, karena maknanya sama
sekali lain. Pada masa lampau kegiatan ilmiah tidak bertujuan untuk memperbaiki
atau meningkatkan taraf hidup jasmani. Karena manusia pada masa itu menganggap
bahwa taraf hidup sudah ditentukan oleh kodrat.
Namun, Kegiatan ilmiah sekarang ini didasarkan pada dua keyakinan yaitu:
pertama segala sesuatu dalam realitas dapat diselidiki secara ilmiah, bukan saja
untuk mengerti realitas dengan lebih baik, melainkan juga untuk menguasainya lebih
mendalam menurut segala aspeknya. Kedua Semua aspek realitas membutuhkan juga
penyelidikan seperti itu. Kebutuhan-kebutuhan yang paling primer, seperti air,
makanan, udara, cahaya, kehangatan, tempat tinggal tidak akan cukup tanpa
penyelidikan.

Kelompok 4

Page 26

B. Saran
Demikian makalah ini kami buat. Semoga dapat memberikan manfaat baik
kepada pembaca maupun penyusun. Pastinya dalam penyusunan makalah ini tidak
luput dari kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca
sangatlah diharapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya. Dan semoga
bermanfaat bagi kita semua.

Kelompok 4

Page 27

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Kriteria dan Cara Menemukan Kebenaran. http://catatananakfikom.blogspot.co.id/2012/04/kriteria-cara-menemukankebenaran.html. Diakses : 22 Oktober 2016.
Anonim.
2013.
Hakikat
Kebenaran.
(Online)
:
https://wahanaviewpoint.wordpress.com/2013/12/28/kriteria-kebenaran/.
Diakses : 21 Oktober 2016.
Anonim. 2013. Teori Kebenaran dalam Ferspektif Filsafat Ilmu. (Online) :
https://ilmufilsafat.wordpress.com/category/teori-kebenaran-dalamperspektif-filsafat-ilmu/. Diakses : 20 Oktober 2016.
Anonim.
2014.
Kebenaran
Ilmiah.
(Online)
:
http://www.afdhalilahi.com/2014/11/kebenaran-ilmiah.html. Diakses : 20
Oktober 2016.
Anonim.
2016.
Hakikat
Filsafat
dan Filsafat
Ilmu.
(Online) :
http://eurekaislam.blogspot.co.id/2016/05/hakikat-filsafat-dan-filsafatilmu-dan.html. Diakses : 21 Oktober 2016.
Dartono . 2014. Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu Hubungan dengan Kebenaran.
(Online) : http://profesorakil.blogspot.co.id/2014/12/sebuah-pengantarfilsafat-ilmu-hubungan.html. Diakses : 22 Oktober 2016.
Hakim. A. 2015. Hakikat Filsafat Dan Filsafat Ilmu. (Online) :
https://aliflukmanulhakim.wordpress.com/2015/10/05/hakikat-filsafat-danfilsafat-ilmu/. Diakses : 20 Oktober 2016.
Hartika, M. 2015. Teori Kebenaran Dalam Perspektif Filsafat Ilmu. (Online) :
https://www.academia.edu/15668171/TEORI_KEBENARAN_DALAM_
PERSPEKTIF_FILSAFAT_ILMU. Diakses : 22 Oktober 2016.
Mulyadi
.
2009.
Batas-Batas
Penjelajahan
Ilmu.
(Online)
:
https://mulyadiniarty.wordpress.com/2009/11/01/batas-penjelajahan-ilmu/.
Diakses : 20 Oktober 2016.
Wahono,
R.
2007.
Hakekat
Kebenaran
.
(online)
:
http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/. Dikases : 22
Oktober 2016.

Kelompok 4

Page 28

Anda mungkin juga menyukai