Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum Teknik Irigasi dan Drainase

PENGENALAN SISTEM IRIGASI TETES DAN PERHITUNGAN


KINERJA IRIGASI TETES

Nama
Nim
Kelas
Asisten

:
:
:
:

Zulbahri
1305106010009
senin, 15.00 WIB
1. Arini Putri
2. Irwansyah

LABORATORIUM TEKNIK TANAH DAN AIR


JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2016

I.

PENDAHULUAN

I.1Latar Belakang
Tingkat keberhasilan penerapan sistem irigasi salah satunya dapat diketahui
dari nilai efisiensi irigasinya. Semakin tinggi nilai efisiensi irigasi menunjukkan
bahwa semakin presisi jumlah air yang dibutuhkan tanaman dengan jumlah air yang
diberikan melalui proses irigasi. Salah satu faktor penentu utama tinggi rendahnya
efisiensi sistem irigasi adalah dari perencanaan sistem irigasi tersebut. Perencanaan
sistem irigasi harus didasarkan pada berbagai pertimbangan, misalnya: ketersediaan
air, komoditas yang dibudidayakan, metode irigasi yang diterapkan serta kondisi
ekonomi dan lingkungan.
Sehubungan dengan jumlah air yang relatif terbatas, sementara permintan air
terus meningkat, maka secara alamiah akan terjadi kompetisi penggunaan air antar
sektor (pertanian,air minum, domestik dan industri), antar wilayah dan antar waktu.
Untuk mengantisipasi kompetisi dalam distribusi dan alokasi air antar sektor, maka
pemanfaatan air yang efisien mutlak diperlukan. Salah satu cara adalah dengan
penerapan sistem irigasi yaitu irigasi curah dan tetes.
Meskipun awalnya membutuhkan investasi yang relatif tinggi namun dengan
perhitungan dan penentuan desain yang akurat, operasional dan pemeliharaan yang
tepat maka pemanfaatan air untuk sektor pertanian dapat ditingkatkan daya saingnya
terhadap sektor kompetitornya. Sumber air yang tak terbatas untuk pertanian menjadi
berkurang disebabkan oleh musim kemarau, tekanan populasi dan penduduk. Usaha

untuk mengatasi permasalahan lahan di atas adalah dengan mengoptimalkan


pemakaian air dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian air irigasi pada setiap
jenis kegiatan produksi pertanian. Pemanfaatan sumber daya air yang terbatas
mendorong berkembangnya teknologi irigasi bertekanan. Hal ini dimungkinkan
mengingat jenis irigasi ini mampu memanfaatkan air yang tebatas secara optimal.

1.2. Tujuan Praktikum


Adapun praktikum kali ini bertujuan untuk memperkenalkan komponen
komponen utama irigasi tetes dan menentukan parameter parameter kinerja sistem
irigasi tetes.

II.TINJAUAN PUSTAKA

Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan
untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian,
pemberian dan penggunaannya. Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi
jaringan utama dan jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran
primer dan saluran sekunder. Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan
saluran yang berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan
air dari suatu jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi (Suroso, 2008).
Pemberian air pada irigasi tetes dilakukan dengan menggunakan alat aplikasi
(applicator, emission device) yang dapat memberikan air dengan debit yang rendah
dan

frekuensi

yang

tinggi

(hampir

terus-menerus)

disekitar

perakaran

tanaman.Tekanan air yang masuk ke alat aplikasi sekitar 1.0 bar dan dikeluarkan
dengan tekanan mendekati nol untuk mendapatkan tetesan yang terus menerus dan
debit yang rendah. Sehingga irigasi tetes diklasifikasikan sebagai irigasi bertekanan
rendah. Pada irigasi tetes, tingkat kelembaban tanah pada tingkat yang optimum dapat
dipertahankan. Sistem irigasi tetes sering didesaian untuk dioperasikan secara harian
(minimal 12 jam per hari)( Prastowo, 2002).
Kelebihan dari irigasi tetes diantaranya adalah: Meningkatkan nilai guna air
Secara umum, air yang digunakan pada irigasi tetes lebih sedikit dibandingkan
dengan metode lainnya. Penghematan air dapat terjadi karena pemberian air yang

bersifat local dan jumlah yang sedikit sehingga akan menekan evaporasi,
aliran permukaan dan perkolasi. Transpirasi dari gulma juga diperkecil karena daerah
yang dibasahi hanya terbatas disekitar tanaman. Meningkatkan pertumbuhan tanaman
dan hasil Fluktuasi kelembaban tanah yang tinggi dapat dihindari dengan irigasi tetes
ini dan kelembaban tanah dipertahankan pada tingkat yang optimal bagi pertumbuhan
tanaman.( Ulil. 2012).
Kelemahan atau kekurangan dari metode irigasi tetes adalah sebagai berikut:
Kemerlukan perawatan yang intensif Penyumbatan pada penetes merupakan masalah
yang sering terjadi pada irigasi tetes, karena akan mempengaruhi debit dan
keseragaman pemberian air. Untuk itu diperlukan perawatan yang intesif dari jaringan
irigasi tetes agar resiko penyumbatan dapat diperkecil. Penumpukan garam Bila air
yang digunakan mengandung garam yang tinggi dan pada derah yang kering, resiko
penumpukan garam menjadi tinggi. Membatasi pertumbuhan tanaman Pemberian air
yang terbatas pada irigasi tetes menimbulkan resiko kekurangan air bila perhitungan
kebutuhan air kurang cermat. Keterbatasan biaya dan teknik(Wawan. 2010).

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.

Tempat dan
Waktu
Praktikum tentang irigasi tetes ini dilakukan di Laboratorium Teknik

Tanah dan Air Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah
Kuala, Darussalam, Banda Aceh, pada hari Kamistanggal 5 Mei 2016 pada pukul
15.00 WIB.
3.2.

Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah unit

pompa, pengontrol tekanan, jaringan pipa utama dan sub utama, pipa-pipa lateral,
dan emitter atau dripper.
3.3. Cara Kerja
1. Dipasang beberapa penetes dengan jarak seragam pada lateral.
2. Dialirkan air melalui lateral, dengan tekanan kerja 16 psi yang diatur
dengan kran pengatur debit.
3. Ditampung air dari penetes dalam botol penampung selama 10 menit,
kemudian diukur dengan gelas ukur.
4. Diulangi cara kerja no. 2 dan no.3 untuk 2 perlakuan lainnya dengan
menngubah bukaan kran pengatur debit.

5. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

6. 4.1. Data Hasil Pengamatan


7. Tabel. Pengamatan Debit Emitter dengan Tekanan Operasi 16 psi.
8. Per 10
menit

9. La
ter
al
15. A

21. B

14. Ulanga
nI

27. C

33. D

39. E
44. Ulanga
n II

45. A

51. B

57. C

63. D
69. E

10. I
16. 1
0
4
9
22. 8
8
3
28. 7
8
4
34. 1
0
2
8
40. 1
1
1
1
46. 1
0
9
2

11. I
I

12. I
I
I

13. I
V

17. 4
2
9

18. 4
9
7

19. 6
1
5

23. 7
8
6
29. 6
0
6
35. 1
1
1
1

52. 9
6
7
58. 1
0
1
4
64. 8
6
2
70. 1
1

30. 7
7
2

25. 5
2
7
31. 9
4
8

36. 7
9
0

37. 7
2
5

41. 7
9
1

42. 1
0
0
4

43. 9
8
3

47. 2
9
7

48. 7
9

49. 7
5
2

53. 1
0
3
1

54. 3
1

55. 7
6
4

59. 8
3
3

60. 8
2
1

65. 9
8
1
71. 8
1

66. 9
2
3
72. 1
0

24. 4
8

61. 1
0
0
6
67. 7
6
4
73. 1
1

6
4
76. 5
5
6
82. 1
2
0
6
88. 1
2
7
5
94. 8
2
2
100.
126
1

75. A

81. B
74. Ulanga
n III

87. C

93. D
99. E
104.
105.

2
4

5
9
79. 6
8
1

77. 2
3
3

78. 8

83. 9
7
7

84. 1
0

85. 7
1
3

89. 7
3
8

90. 9
5
6

91. 5
5
2

95. 7
7
5

96. 8
3
5

101.
954

102.
819

97. 7
2
9
103.
110
2

4.2. Analisa Data


106.
Perhitungan pada ulangan pertama.
107.
Berdasarkan US Soil Conservation Service (US SCS) :
48+429+ 606+527+ 497
108.
qn =
5
109.
110.

= 421,4
total jumlah debit pada ulangan I
qa =
20
15487
20

111.

112.

= 774,35

113.

114.

EU= 100

= 100

qn
qa

421,4
774,35

115.

= 54, 420

116.

Menurut James (1988) :


q
( 1 +q + . q22020 q 2a )
q a ( 201)

117.

cv =

2
2

1160,411
3375,313

118.

119.

= 0,344

120.

EU = 100 (1-

1,27
Ne

121.

= 100 (1-

122.

= -1.673

123.
124.

1,27
1

qmin
qa )

48
774,35 )

4.3 Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan pada tanggal 5 mei 2016. Di

dapat hasil pengujian irigasi tetes dengan melalukan 3 kali pengulangan, pada setiap

pengulangannya berdurasi waktu 10 menit.rangkaian irigasi tetes tersebut terdiri dari


beberapa pipa lateral, dan hasil yang di tunjukan oleh tiap tiap pipa lateral tersebut
berbeda.selain itu nilai yang di hasilkan pada setiap ulangan berbeda. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya tekanan air yang tidak tetap atau
tekanan yang berubah-ubah, hal ini sangat mempengaruhi nilai yang akan di hasilkan

125.

pada tiap pipa, selain tekanan yang naik turun atau tidak konstan hal

lainnya adalah terdapat banyak pipa yang bocor, hal ini juga sangat berpengaruh pada
nilai yang akan di tunjukan oleh masing masing ulangan.
126.

Pipa pipa yang bocor ini di sebabkan pada saat pemasangan yang

salah, dan da juga pipa yang memang sudah bocor dengan sendirinya bukan karena
kesalahan pada proses pemasangannya.selain beberapa faktor di atas ada juga faktor
lain yang menyebabkan perbedaan nilai yang di tunjukan pada setiap pengulangan,
seperti pada pengulangan yang ke 3, pada pengulangan ke tiga tersebut gangguannya
bertambah dengan berkurannya air yang dipompa, sehingga harus di bantu dengan
menimba air. Sehingga dengan adanya gangguan gangguan tersebut menyebabkan
perbedaan nilai yang di tunjukan pada tiap ulangan.
127.

Adapun kelebihan dari irigasi tetes diantaranya adalah:

1. Meningkatkan nilai guna air


128. Secara umum, air yang digunakan pada irigasi tetes lebih sedikit
dibandingkan dengan metode lainnya. Penghematan air dapat terjadi karena
pemberian air yang bersifat local dan jumlah yang sedikit sehingga akan
menekan evaporasi, aliran permukaan dan perkolasi. Transpirasi dari gulma
juga diperkecil karena daerah yang dibasahi hanya terbatas disekitar tanaman.
2. Meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil
129. Fluktuasi kelembaban tanah yang tinggi dapat dihindari dengan irigasi
tetes ini dan kelembaban tanah dipertahankan pada tingkat yang optimal bagi
pertumbuhan tanaman.

3. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemberian


130. Pemberian pupuk atau bahan kimia pada metode ini dicampur dengan
air irigasi, sehingga pupuk atau bahan kimia yang digunakan menjadi lebih
sedikit, frekuensi pemberian lebih tinggi dan distribusinya hanya di sekitar
4.

daerah perakaran.
Menekan resiko penumpukan garam
131. Pemberian air yang terus menerus akan melarutkan dan menjauhkan

5.

garam dari daerah perakaran.


Menekan pertumbuhan gulma
132. Pemerian air pada irigasi tetes hanya terbatas di daerah sekitar

tanaman, sehingga pertumbuhan gulma dapat ditekan.


6. Menghemat tenaga kerja
133. Sistem irigasi tetes dapat dengan mudah dioperasikan secara otomatis,
sehingga tenaga kerja yang diperlukan menjadi lebih sedikit. Penghematan
tenaga kerja pada pekerjaan pemupukan, pemberantasan hama dan
penyiangan juga dapat dikurangi.
134. Sedangkan Kelemahan atau kekurangan dari metode irigasi tetes
adalah sebagai berikut:
1. Memerlukan perawatan yang intensif
135. Penyumbatan pada penetes merupakan masalah yang sering terjadi
pada irigasi tetes, karena akan mempengaruhi debit dan keseragaman
pemberian

136.

air. Untuk itu diperlukan perawatan yang intesif dari jaringan irigasi

tetes agar resiko penyumbatan dapat diperkecil.


2. Penumpukan garam
137. Bila air yang digunakan mengandung garam yang tinggi dan pada
3.

derah yang kering, resiko penumpukan garam menjadi tinggi.


Membatasi pertumbuhan tanaman
138. Pemberian air yang terbatas pada irigasi tetes menimbulkan resiko

4.

kekurangan air bila perhitungan kebutuhan air kurang cermat.


Keterbatasan biaya dan teknik
139. Sistem irigasi tetes memerlukan investasi yang tinggi dalam
pembangunannya. Selain itu, diperlukan teknik yang tinggi untuk merancang,
mengoperasikan dan memeliharanya.
140.

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan pada saat merangkai sistem

irigasi tetes adalah kondisi pipa yanga baik, hal ini penting karena jika pipanya tidak
dalam kondisi baik, bocor misalnya maka akan dapat mengganggu dan akan banyak
air yang terbuang sia sia, hal yang harus di perhatikan selanjutnya adalah debit, debit
merupan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi efensiesi suatu jaringan irigasi,
maka dalam hal ini debit yang akan di pakai harusnya sesuai dengan kebutuhan.

141.

V.

PENUTUP

142.

5.1

Kesimpulan

143.

Adapun kesimpulan yang dapat di ambil pada praktikum kali ini

adalah
1. Hasil berbeda di tunjukan pada tiap kali ulangan di sebabkan oleh faktor debit,
kondisi pipa.
2. Kelebihan dari irigasi tetes adalah Meningkatkan nilai guna air, Meningkatkan
efisiensi dan efektifitas pemberian air.
3. Adapun kekurangan irigasi tetes adalah Memerlukan perawatan yang intensif ,
Keterbatasan biaya dan teknik.
4. Adapun tekanan air pompa yang digunakan pada praktikum kali ini adalah 15
Psi.

11

144.

DAFTAR PUSTAKA

145.
146.

Ulil, 2012. Sistem Irigasi.IPB Press. Bogor

147.

Prastowo, 2002. Prosedur Rancangan Irigasi Tetes. Laboratorium Teknik


Tanah dan Air, Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.

148.

Suroso, 2008. Jaringan Irigasi. Gadjah Mada University

Press.Yogyakarta.
149.

Wawan, 2010. Perencanaan Jaringan Irigasi. Universitas Islam Negeri.

Malang.

12

150.