Anda di halaman 1dari 4

Tujuan Pendidikan Nasional

Kurikulum 1975
Membentuk manusia pembangunan yang berpancasila dan membentuk manusia
Indonesia yang sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap
demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan
disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia
sesuai dengan ketentuan yang bermaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Tujuan Pendidikan Sekolah Dasar
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan
efektif. Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu
MBO (management by objective) yang terkenal saat itu.
Kurikulum 1975 secara umum mengharapkan lulusannya :
1) Memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik.
2) Sehat jasmani dan rohani.
3) Memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang diperlukan untuk
melanjutkan pekerjaan, bekerja di masyarakat, dan mengembangkan, diri sesuai dengan
asa pendidikan seumur hidup.
Sesuai dengan namanya, Garis-Garis Besar Program Pengajaran, pada bagian ini dimuat
hal-hal yang berhubungan dengan program pengajaran, yaitu.
1) Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yang harus dicapai setelah mengikuti program
pengajaran yang bersangkutan selama masa pendidikan.
2) Tujuan Instruksional Umum, yaitu tujuan yang hendak dicapai dalam setiap satuan
pelajaran baik dalam satu semester maupun satu tahun.
3) Pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para
siswa agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
4) Urutan penyampaian bahan pelajaran dari tahun pelajaran satu ke tahun pelajaran
berikutnya dan dari semester satu ke semester berikutnya.
5) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, SH (1968 1973).
6) Sifat kurikulum Integrated Curriculum Organization.
7) Jumlah bidang studi di SD ada 9 bidang studi, SMP ada 11 bidang studi, dan SMA
ada 11 bidang studi.
8) Penjurusan di SMA dibagi atas 3 jurusan, yaitu : jurusan IPA, IPS dan Bahasa.
Penjurusan dimulai di kelas I pada permulaan semester II.

Kurikulum 1975 mencakup 9 bidang studi, yaitu :


1. Agama
2. Pendidikan Moral Pancasila
3. Bahasa Indonesia
4. Ilmu Pengetahuan Sosial
5. Matematika
6. Ilmu Pengetahuan Alam
7. Olahraga dan Kesehatan
8. Kesenian
9. Keterampilan Khusus :

Bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial tidak diberikan di kelas I dan II

melainkan baru diberikan mulai kelas III.


Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan Kependudukan

diintegrasikan ke dalam beberapa bidang studi yang relevan.


Bahasa Daerah merupakan bagian dari bidang studi Bahasa Indonesia,
khusus bagi sekolah di daerah yang memerlukan pelajaran Bahasa Daerah.

Kurikulum 1975
Metode, materi dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan
Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal dengan istilah Satuan Pelajaran.
Setiap pelajaran dijabarkan kedalam Tujuan Kurikuler. Setiap pokok bahasan mata
pelajaran diurai menjadi Tujuan Instruksional Umum. Kemudian dari pokok bahsan
ini dijabarkan kedalam satu bahasan yang melahirkan sejumlah tujuan instruksional
khusus.
Kurikulum 1975 menganut pendekatan yang berorientasi pada tujuan, pendekatan
integratif, pendekatan sistem, dan pendekatan ekosistem.

Pendekatan yang berorientasi pada tujuan, maksudnya bahwa semua komponen


kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan, yaitu tujuan pendidikan nasional, tujuan
institusional (tujuan Sekolah Dasar), tujuan kurikuler (tujuan bidang studi), dan
tujuan intruksional (tujuan umum dan khusus).

Pendekatan integratif, menekankan adanya keterpaduan atau kesatuan dari

keseluruhan sistem pengajaran.


Pendekatan sistem, dimaksudkan bahwa kurikulum merupakan suatu totalitas yang
memiliki berbagai komponen yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi

untuk mencapai tujuan.


Pendekatan ekosistem, maksudnya bahwa kurikulum senantiasa berorientasi atau
didasarkan kepada tuntutan kehidupan dalam masyarakat yang sedang membangun.
Kurikulum 1975 juga menganut prinsip relevansi, prinsip efisiensi-efektivitas,

prinsip fleksibilitas, prinsip kontinuitas, dan prinsip pendidikan sumur hidup.


Prinsip relevansi
Suatu sistem pendidikan hanya akan bermakna apabila kurikulum yang dipergunakan

relevan dengan kebutuhan dan tuntutan lapangan kerja.


Prinsip efisiensi dan efektifitas
Kurikulum 1975/ 1976 menekankan kepada efisensi dan efektifitas penggunaan

dana, daya dan waktu.


Prinsip fleksibilitas
Pelaksanaan suatu program hendaknya didasarkan dengan mempertimbangkan
faktor- faktor ekosistem dan kemampuan penyediaan fasilitas yang menunjang

terlaksananya program.
Prinsip berkesinambungan/ kontinuitas
Sesuai dengan tujuan institusional, siap mempersiapkan para siswa untuk
berkembang menjadi warga masyarkat, tetapi juga dipersiapkan untuk mampu

melanjutkan kesetiap jenjang pendidikan.


Prinsip pendidikan seumur hidup
Dalam GBHN telah dirumuskan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan para siswa tidak cukup hanya di sekolah saja, sekalipun kesempatan
belajar yang luas dan penting, melainkan harus dilanjutkan kemasyarakat.

4. Sistem Penyajian dengan Pendekatan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem


Instruksional).
PPSI adalah sistem yang saling berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan,
desain tugas yang progresif bagi individu dalam belajar. Oemar Hamalik
mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk
menyusun satuan pelajaran.
5. Sistem Penilaian
Dengan melaksanakan PPSI, penilaian diberikan pada setiap akhir pelajaran atau pada
akhir satuan pelajaran tertentu. Inilah yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya
yang memberikan penilaian pada akhir semester atau akhir tahun saja.
6. Sistem Bimbingan dan Penyuluhan

Setiap siswa memiliki tingkat kecepatan belajar yang tidak sama. Di samping itu
mereka mereka memerlukan pengarahan yang akan mengembagkan mereka menjadi
manusia yang mampu meraih masa depan yang lebih baik. Dalam kaitan ini maka perlu
adanya bimbingan dan penyuluhan bagi para siswa dalam meniti hidupnya meraih masa
depan yang diharapkanya
7. Supervisi dan Administrasi
Sebagai suat lembaga pendidikan memerlukan pengelolaan yang terarah, baik yang
digunakan oleh para guru, administrator sekolah, maupun para pengamat sekolah.
Bagaimana teknik supervisi dan administrasi sekolah ini dapat dipelajari pada Pedoman
pelaksanaan kurikulum tentang supervise dan administrasi.Ketujuh unsur tersebut
merupakan satu kesatuan yang mewarnai Kurikulum 1975 sebagai suatu sistem
pengajaran.
Kelebihan Kurikulum 1975
- Menekankan pada pendidikan yang lebih efektif dan efisien dalam hal daya dan waktu
Menganut sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang
spesifik,dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa
c. Kelemahan Kurikulum 1975
Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran