Anda di halaman 1dari 9

ARTIKEL ILMIAH MIKROTEKNIK

TEKNIK PEMBUATAN PREPARAT DENGAN CARA


INFILTRASI PARAFIN, EMBEDDING (PENYELUBUNGAN)
PARAFIN, SECTIONING (PEMOTONGAN)
Disusun guna memenuhi mata kuliah Mikroteknik
Mata kuliah : mikroteknik
Dosen Pengampu : Eva Faujiyah, M.Si

Disusun :
Nama: Tuti Muflihah
Nim : 1157020075
Kelas : Biologi 2B

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

TEKNIK PEMBUATAN PREPARAT DENGAN CARA


INFILTRASI PARAFIN, EMBEDDING (PENYELUBUNGAN)
PARAFIN, SECTIONING (PEMOTONGAN)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Biologi berkembang dari hasil kerja para peneliti biologi, menggali

pengetahuan dari objek biologi. Objek dalam hal ini berkaitan dengan
semua makhluk hidup. Mengenali ciri-ciri objek harus dilakukan dengan
melakukan pengamatan terhadap objek tersebut. Dengan demikian,
semua mahkluk dapat menjadi objek pengamatan.
Salah satu sasaran pengamatan suatu objek biologi adalah bentuk
dan susunan tubuh, misalnya saja tubuh hewan. Tubuh hewan tersusun
dari sel dan masing-masing sel akan mengadakan kesatuan dengan
adanya substansi antar sel. Didalam tubuh hewan sel-sel ini terdapat
dalam kelompok yag secara struktural dan fungsional berbeda dengan
kelompok sel yang lain. Kelompok sel ini dikenal dengan jaringan. Dari
jaringan ini nantinya akan membentuk organ yang dijadikan sebagai
penyusun

tubuh.

Untuk

mengetahui

bagian

dari

organ

tersebut,

dibutuhkan preparat. Preparat awetan hewan baik jaringan maupun


bagian lain merupakan salah satu metode pembelajaran biologi yang
sangat efektif.
Objek pengamatan yang digunakan ini harus dipersiapkan dengan
cara

membuat

objek

pengamatannya

yang

dapat

diamati

secara

mikroskopis yang biasa dikenal sebagai mikroteknik. Misalnya dengan


cara membuat sayatan untuk mengetahui susunan sel atau jarinngan
dengan cara membuat awetan.
Mikroteknik

secara

umum

didefinisikan

sebagai

ilmu

yang

mempelajari metode pembuatan preparat mikroskopis, baik preparat


hewan maupun tumbuhan, menganalisis
melakukan

mikrometri,

serta

membahas

preparat mikroskopis dan


manfaat

preparat

bagi

perkembangan keilmuan dan dukungan terhadap kehidupan manusia.


Banyak metode yang digunakan dalam pembuatan preparat diantaranya
yaitu dengan metode parafin.
Preparat awetan jaringan hewan dan tumbuhan adalah salah satu
media pembelajaran Biologi yang sangat efektif. Dengan latar belakang
seperti di atas, maka diharapkan kita dapat mengamati dan melihat
preparat

dengan

menggunakan

metode

paraffin,

embedding

(penyelubungan) parafin, sectioning (pemotongan).


BAB II
ISI
Banyak cara dalam pembuatan preparat jaringan hewan ataupun
tmbuhan diantaranya yaitu metode paraffin merupakan cara pembuatan
preparat

permanen

dengan

menggunakan

paraffin

sebagai

media

embedding dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 m-8 m. Metode


ini memiliki irisan yang lebih tipis dibandingkan dengan menggunakan
metode beku atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih
mencapai 10 m. Prosesnya juga jauh lebih cepat dibandingkan metode
seloidin. Selain itu metode parafin juga memiliki kejelekan yaitu jaringan
menjadi keras, mengerut dan mudah patah, jaringan-jaringan yang besar
menjadi tidak dapat dikerjakan, dan sebagian besar enzim-enzim akan
larut karena menggunakan metode ini(Gunarso 1986).
M e t o d e i n i s e ka r a n g b a n y a k d i g u n a k a n , ka re n a h a m p i r
semua

m a c a m jaringan dapat dipotong dengan baik dengan

menggunakan metode ini. Metode parafi n adalah suatu metode


pembuatan preparat dengan melakukan penanaman j a r i n g a n d i
d a l a m b l o k p a r a fi n u n t u k m e n g h a s i l k a n p re p a r a t j a r i n g a n
h e w a n a t a u p u n t u m b u h a n y a n g t i p i s . P re p a r a t p a r a fi n i n i
d i l a ku k a n p e n y e l u b u n g a n karena jaringan merupakan bahan yang
lunak (Praptomo, 2010).
Meskipun menjadi metode yang paling sering digunakan saat ini,
metode paraffin memiliki kelebihan dan kekurangan dibandingkan metode

yang lain. Kelebihan metode parafin antara lain adalah irisan yang
dihasilkan lebih tipis dibandingkan dengan metode yang lain. Irisan yang
dihasilkan juga bersifat seri, mudah dipraktekkan, dan prosesnya lebih
cepat dibadingkan dengan metode seloidin (Suntoro, 1983).
Kekurangan metode parafin antara lain yaitu jaringan menjadi keras
dan mudah patah, tidak bisa digunakan untuk jaringan besar, dan
sebagian enzim pada jaringan akan larut. Pembuatan sediaan dengan
metode parafin memerlukan langkah-langkah yang harus dikerjakan
dengan urut agar dihasilkan sediaan yang dapat diamati dan dipelajari
sesuai tujuan pembuatan sediaan (Suntoro, 1983).
Urutan langkah kerja metode paraffin adalah narkose, pengambilan
organ, fiksasi, pencucian (washing), dehidrasi, penjernihan (clearing),
infiltrasi

paraffin,

embedding,

penyayatan/pengirisan

(sectioning),

penempelan (affixing), deparafinasi, pewarnaan (staining), penutupan


(mounting), dan labeling (Suntoro, 1983) .
Prosedur pembuatan sediaan menggunakan metode parafin pada
umumnya sama baik pada jaringan hewan maupun tumbuhan.
Pertamatama

organ

yang

akan

dijadikan

preparat

diisolasi

terlebih dahulu, kemudian difi ksasi minimal 24 jam, didehidrasi


dengan alkohol bertingkat selama 30 menit, diclearing dengan
menggunakan xilol murni

selama 30 menit, kemudian diinfi ltrasi

agar parafi n yang masuk berfungsi s e b a g a i p e n y a n g g a j a r i n g a n


saat

diiris

dengan

m i k ro t o m ,

lalu

diembedding

(proses

penanaman) yaitu merendam jaringan ke dalam parafi n cair, dan


parafi nakan

masuk

pemotongan

dengan

pewarnaan

dengan

ke

seluruh

bagian

mikrotom, penempelan
haematoksilin

(pada

jaringan,
pada

kaca

proses
objek,

umumnya b a h a n

ini

yang sering digunakan untuk jaringan hewan) sedangkan


j a r i n g a n tumbuhan seringkali menggunakan safranin ataupun fast green.
Setelah diwarnai lalu dimounting, diberi perekat entellan, dan diberi label
nama (Gray, P. 1954).
Menurut Imran (2010) Alat khusus yang dirancang untuk menyayat
material atau jaringan dalam sayatan-sayatan yang cukup tipis untuk

penelaahan dengan mikroskop adalah mikrotom. Syarat memperoleh


hasil sayatan yang baik :
1. Jaringan yang telah diawerkan dipersiapkan dengan sempurna
2. Pisau yang cukup tajam
3. Pemilihan jenis mikrotom yang tepat
4. Operator yang cukup terampil dan terlatih.
Proses pertama yang disiapkan dalam menyiapkan materi segar
dalam pengamatan mikroskopis yaitu fiksasi. Tujuan dilakukannya fiksasi
adalah mencegah kerusakan jaringan, menghentikan proses metabolisme
secar

cepat,

mengawetkan

komponen

sitologis

dan

histologis,

mengawetkan keadaan sebenarnya, mengeraskan materi yang lembek,


dan jaringan-jaringan dapat diwarnai sehingga bisa diketahui bagianbagian jaringan (Affuwa, 2007).
Ada beberapa macam paraffin yaitu paraffin lunak dengan titik leleh
48oC, paraffin medium dengan titik leleh 52oC, dan paraffin keras dengan
titik leleh 56oC. Waktu yang dibutuhkan di setiap tahapan paraffin yaitu
15-20 menit. Tidak perlu waktu yang cukup lama karena dilakukan di
dalam oven yang menyebabkan jaringan kuat dan rapuh (Botanika, 2008).
Setelah melewati proses dengan metode parafin lalu menggunakan
infiltrasi parafin yang telah dilalui

yaitu melalui proses penyelubungan

atau embedding, penyelubungan ini menggunakan kotak atau takir yang


dibuat dari kertas kalender. Pada saat penyelubunganspesimen diletakkan
sesuai posisi yang diinginkan. Setelah itu parafin didinginkan dengan
segera. Setelah dingin maka dilakukan pengirisan, pengirisan digunakan
alat mikrotom biasanya dengan ukuran 10 mikron sampai 14 mikron.
Irisan akan berbentuk seperti pita-pita. Pemindahan irisan menggunakan
kuas kecil yang telah dibasahi ujungnya dengan air (Widjajanto dan
Susetyoadi Setjo, 2001).
Menurut Dasumiati (2008), dalam proses infiltrasi parafin, sebaiknya jangan
dimasukan langsung dari zat penjernih kedalam parafin murni, tetapi sebaiknya sebelum
parafin murni, jaringan dimasukan terlebih dahulu kedalam campuran antara parafin dan
penjernih (parafin : xylol) dengan volume perbandingan yang sama. Hal ini dimaksudkan

agar menghindari perubahan lingkungan yang sangat mendadak terhadap jaringan tersebut
sehingga jaringan dapat mengkerut karena tertarik secara maksimal.
Selanjutnya setelah dilakukan infiltrasi parafin tahap berikutnya
yang dilakukan adalah embeding. Embedding merupakan proses pelilinan
suatu organ dengan menggunakan kotak kertas. Proses ini memudahkan
dalam membuat irisan yang sangat tipis dengan menggunakan mikrotom.
Beberapa keuntungan menggunakan kotak kertas. Dalam embedding
yaitu bisa membuat arah sayatan dan menandai suatu jaringan. Jaringan
atau sampel akan ditanam di ketas kotak, dengan terlebih dahulu parafin
membeku pada bagian dasar dalam kotak dan setelah penempelan
jaringan dilanjutkan dengan penutupan dengan parafin sampai membeku
(ArisworoD2000).
Proses selanjutnya setelah melewati tahap embedding tahap
berikutnya yaitu penyayatan (sectioning). Proses penyayatan (sectioning)
diawali

dengan

pengirisan

blok

parafin

dengan

scalpel,

sehingga

permukaan blok parafin yang akan diiris dengan mikrotom berbentuk


trapesium. Letak mata pisau pada mikrotom menentukan hasil yang
diperoleh. Hasil sayatan diambil dengan menggunakan kuas secara hatihati. Pita hasil sayatan ditempel pada kaca objek dengan menggunakan
meyer albumin. Kaca obyek tersebut diletakkan di atas meja penangas
( haeting plate). Meyer albumin memiliki kandungan putih telur dan
gliserin dan merupakan pelakat alami yang sangat baik). Sedang proses
pewarnaan dilakukan setelah preparat dideparafinasi dengan merendam
preparat pada xylol. Salah satu pewarna metode parafin pada jaringan
hewan adalah hematoxylin dan Eosin. Zat warna hematoxilin ini bersifat
mewarnai inti sedang eosin mewarnai sitoplasmanya(ArisworoD2000).

BAB III
PANDANGAN INDIVIDU

Menurut saya diantara metode-metode yang paling bagus dan mendapatkan hasil yang
memuaskan yaitu dengan menggunakan metode paraffin karena hampir semua macam
jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metoda paraffinBerdasarkan
informasi yang saya dapatkan bahwa metode parafin

memang paling

banyak digunakan karena memiliki kelebihan yaitu hampir semua macam


jaringan dapat dipotong dengan baik bila menggunakan metode paraffin,
dan

irisan yang dihasilkan dari metode ini jauh lebih tipis dari pada

menggunakan metode beku atau metode seloidin.jika dibandingkan


dengan metode beku, tebal irisan rata-rata diatas 10 mikron, tapi dengan
metode paraffin tebal irisan dapat mencapai rata-rata 6 mikron.
Metode

parafin

memang

memiliki

kelebihan

namun

dibalik

kelebihan suatu metode pasti memiliki kekurangan. Kekurangan dari


metode ini antara lain yaitu jaringan menjadi keras dan mudah patah,
tidak bisa digunakan untuk jaringan besar, dan sebagian enzim pada
jaringan akan larut. Dengan adanya kelebihan dan kekurangan suatu
metode dapat dipertimbangkan untuk menggunakan metode parafin ini
sebagai keberhasilan
Banyak sekali rangkaian cara dari metode parafin. Dari semua
rangkaian

cara

tersebut

harus

dilakukan tahap

demi

tahap

agar

memperoleh preparat yang bagus. Namun untuk menghasilkan preparat


yang baik atau bagus harus memakan waktu yang cukup lama. Dan
proses ini harus benar-benar di jalani dengan baik agar tidak menyianyiakan waktu. Proses ini dilakukan sesuai dengan prosedur untuk
mendapatkan hasil yang memuaskan, agar saat pemotongan hasil yang
didapatkan sesuai dengan literatur.
Metode embedding ini masih menggunakan media paraffin guna
mempermudah
sectioning
mikrotom

dalam

melakukan

metode

paraffin.

Dalam

tahap

kita harus berhati-hati dalam melakukan pemotongan dengan


karena

jika

tidak

hati-hati

dan

teliti

maka

tidak

akan

mendapatkan apa yang diharapkan. Dengan melewati semua rangkaian


metode parafin diharapkan dapat mendapatkan preparat suatu jaringan
dari apa yang kita inginkan.

DAFTAR PUSTAKA
Affuwa.2007.Jaringan Pada Hewan. Jakarta:Erlangga.
Arisworo.D dan Yusna. 2000. General Zoologi. Jakarta: PT. Grafindo Media
Pratama.Binns,

R. M. (1982). Organization of the Lymphoreticular

System and Lymphocyte Markers in the Pig. Vet ImmunelImmunopathol, 3


95.
Botanika,

2008,

Fixation,

Embedding,

Sectioning.

http://botanika.biologija.org. Diakses pada 6 Maret 2016 pukul 12:00 WIB.


Dasumiati. 2008. Diktat Kuliah Mikroteknik. Prodi Biologi. Fakultas Sains
dan Teknologi. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta
Gunarso W. 1986. Pengaruh Dua Jenis Cairan Fiksatif yang Berbeda pada
Pembuatan Preparat dari Jaringan Hewan Dalam Metoda Mikroteknik
Parafin. Bogor: IPB Press.
Gray, P. 1954. The Microtomits Formulary and Guide. The Blakiston
Company Inc. New York. Toronto
Imran,Tamyis Ali.2010. Pembuatan Preparat Jaringan Tumbuhan Dengan
Metode Parafin.
Praptomo,

2010,

Lap.prak mikroteknik Universitas Brawijaya.


Pembuatan

Preparat

Parafin

Jaringan

Tumbuhan

(Mikroteknik.http://www.nagkoyo.com.Diakses pada tanggal 6 Maret 2016


pukul 12:00 WIB.
Suntoro, S. H, 1983, Metode Pewarnaan Histologi dan Histokimia.
Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Widjajanto

dan

Susetyoadi

Setjo,

Universitas Negeri Malang, Malang.

2001,

Mikroteknik

Tumbuhan,

Anda mungkin juga menyukai