Anda di halaman 1dari 22

I.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN


PENCAK SILAT
Pencak Silat adalah kata majemuk. Pencak dan Silat mempunyai pengertian yang sama
dan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat pribumi Asia Tenggara (Asteng),
yakni kelompok masyarakat etnis yang merupakan penduduk asli negara-negara di
kawasan Asteng (Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia,
Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam).
Kata Pencak biasa digunakan oleh masyarakat pulau Jawa, Madura dan Bali, sedangkan
kata Silat biasa digunakan oleh masyarakat di wilayah Indonesia lainnya maupun di
Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam serta di Thailand (bagian Selatan) dan Filipina.
Penggabungan kata Pencak dan Silat menjadi kata majemuk untuk pertama kalinya
dilakukan pada waktu dibentuk suatu organisasi persatuan dari perguruan Pencak dan
perguruan Silat di Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia, disingkat
IPSI pada tahun 1948 di Surakarta.
Sejak saat itu Pencak Silat menjadi istilah resmi di Indonesia. Perguruan-perguruan yang
mengajarkan Pencak dan Silat asal Indonesia di berbagai negara kemudian juga
menggunakan istilah Pencak Silat.
Di dunia internasional Pencak Silat menjadi istilah resmi sejak dibentuknya Organisasi
Federatif Internasional yang diberi nama Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa,
disingkat PERSILAT, di Jakarta pada. tahun 1980. Walaupun demikian, karena
kebiasaan, kata Pencak dan Silat masih digunakan secara terpisah.

Di bawah ini secara singkat akan diuraikan beberapa hal sekitar Pencak Silat yang
meliputi: sejarah, falsafah, jenis, aliran, perguruan dan pendekar Pencak silat, penelitian
dan penulisan tentang Pencak Silat, pengembangan dan penyebaran Pencak Silat serta
tantangan terhadap Pencak Silat. Keseluruhan uraian akan disimpulkan secara umum.

1.1 Sejarah Pencak Silat


Kebutuhan paling dasar manusia adalah keamanan dan kesejahteraan. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, manusia menciptakan dan mengembangkan berbagai cara dan
sarana. Diantara ciptaan manusia yang menyangkut kebutuhan keamanan, adalah cara

dan sarana fisik untuk menghadapi dan mengatasi berbagai ancaman, tantangan,
hambatan dan gangguan fisik, di antaranya adalah apa yang disebut "jurus" dan senjata.
"Jurus" adalah teknik gerak fisikal berpola yang efektif untuk membela diri maupun
menyerang tanpa maupun dengan menggunakan senjata. Bentuk awalnya sangat
sederhana dan merupakan tiruan dari gerak-gerik binatang yang disesuaikan dengan
anatomi manusia. Kemudian terus dikembangkan, sejalan dengan perkembangan budaya
manusia. Demikian pula senjata yang digunakan.
Masyarakat pribumi Asteng pada umumnya merupakan masyarakat agraris yang
hubungan sosialnya dilaksanakan dengan sistem peguyuban. Warga masyarakat yang
demikian mempunyai dasar pandangan dan kebijaksanaan hidup yang sangat menjunjung
tinggi nilai-nilai serta kaidah-kaidah agama dan moral masyarakat. Dengan dasar itulah
sistem paguyuban yang diperlukan bagi kehidupan agrarisnya dapat dilaksanakan dan
ditegakkan.
Dalam kaitan dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah itu, "jurus" harus digunakan secara
bertanggungjawab.

Hal

ini

dapat

terlaksana

apabila

si

pengguna

mampu

mengendalikandiri. "Jurus" hanya boleh digunakan untuk pembelaan diri.


Di dalam memenuhi kebutuhan kesejahteraannya, manusia juga telah menciptakan
berbagai cara dan sarana di antaranya
dengan pengembangan "jurus" ke dalam bentuk seni dan olahraga yang dapat
memberikan kesejahteraan batin dan lahir.
Dalam perkembangan sosial dan budayanya, masyarakat pribumi Asteng telah menyerap
pengaruh luar yang selaras dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah agama maupun moral
yang dijunjung tinggi. Berkaitan dengan itu,falsafah dari luar yang selaras dengan nilainilai dan kaidah-kaidah tersebut,telah diserap dan digunakan untuk mengemas
pandangan dan kebijaksanaan hidup masyarakat pribumi Asteng.
Dengan demikian jatidiri Pencak Silat ditentukan oleh tiga hal pokok sebagai satu
kesatuan yakni :
1. Budaya masyaraka-t pribumi Asteng sebagai sumber dan coraknya.
2. Falsafah budi pekerti luhur sebagai jiwa dan sumber motivasi penggunaannya.
3. Substansi Pencak Silat itu sendiri yang mempunyai aspek mental spiritual
(pengendalian diri), beladiri, seni dan olahraga sebagai satu kesatuan.

Pencak Silat dengan jatidiri yang demikian baru ada sekitar abad ke-4 Masehi, yakni
setelah adanya kerajaan-kerajaan yang merupakan pusat pengembangan budaya di
kawasan hidup masyarakat pribumi Asteng. Pada jaman kerajaan ini, mula-mula
Hindu,kemudian Budha dan terakhir Islam, Pencak Silat dikembangkan dan menyebar
luas.
Pada waktu sebagian besar kawasan hidup masyarakat pribumi Asteng berada di bawah
kekuasaan penjajah asing dari Eropa Barat, pendidikan Pencak Silat yang dipandang
menanamkan jiwa nasionalis, telah dibatasi dan kemudian dilarang.
Tetapi kegiatan pendidikain Pencak Silat berjalan terus secara tertutup. Pada jaman
pendudukan Jepang, Pemerintah yang berkuasa memberikan keleluasaan kepada rakyat
untuk mengembangkan budayanya agar mendapat dukungan dalam perangnya melawan
sekutu. Pada jaman ini, pendidikan Pencak Silat dilaksanakan seperti semula dan lebih
meluas. Setelah kawasan hidup masyarakat pribumi Asteng bebas dari kekuasaan asing
dan lahir negara-negara yang merdeka dikawasan tersebut, perkembangan dan
penyebaran Pencak Silat semakin pesat. Lebih-lebih setelah dibentuknya organisasi
nasional Pencak Silat di sebagian dari negara-negara tersebut, yakni : Ikatan Pencak Silat
Indonesia (IPSI), Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA), Persekutuan Silat
Singapura (PERSISI), Persekutuan Silat Kebangsaan Brunei Darussalam (PERSIB),
Pencak Silat Association of Thailand (PSAT) dan Philippine Pencak Silat Association
(PHILSILAT).
Di luar negara sumbernya, Pencak Silat juga berkembang dan nenyebar, lebih-lebih
etelah dibentuknya Persekutuan Pencak Antarabangsa ( PERSILAT )

1.2 Falsafah Pencak Silat


Falsafah Pencak Silat dinamakan falsafah budi pekerti luhur. Hal ini disebabkan karena
falsafah ini mengandung ajaran budi pekerti luhur. Falsafah budi pekerti luhur
berpandangan bahwa masyarakat "tata-tentrem karta-raharja" (masyarakat yang amanmenentramkan dan sejahtera-membahagiakan) dapat terwujud secara maksimal apabila
semua warganya berbudi pekerti luhur. Karena itu, kebijaksanaan hidup yang harus
menjadi pegangan manusia adalah membentuk budi pekerti luhur dalam dirinya.
Budi adalah dimensi kejiwaan dinamis manusia yang berunsur cipta, rasa dan karsa.
Ketiganya merupakan bentuk dinamis dari akal, rasa dan kehendak. Pekerti adalah budi
yang terlihat dalam bentuk watak. Semuanya itu harus bersifat luhur, yakni ideal atau
terpuji. Yang ingin dicapai dalam pembentukan budi pekerti luhur ini adalah kemampuan
mengendalikan diri, terutama di dalam menggunakan "jurus".

"Jurus" hanya dapat digunakan untuk menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan
dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai dan kaidah-kaidah agama dan moral
masyarakat maupun dalam rangka mewujudkan masyarakat "tata-tentrem karta-raharja."
Dalam kaitan itu falsafah budi pekerti luhur dapat disebut juga sebagai Falsafah
pengendalian diri.
Dengan budi pekertinya yang luhur atau kemampuan pengendalian dirinya yang tinggi,
manusia akan dapat nemenuhi kewajiban luhurnya sebagai mahluk Tuhan, mahluk
pribadi, mahluk sosial dan mahluk alam semesta, yakni taqwa kepada Tuhannya,
meningkatkan kualitas dirinya, menempatkan kepentingan masyarakat di atas
kepentingan sendiri dan mencintai alam lingkungan hidupnya. Manusia yang demikian
dapat disebut sebagai manusia yang taqwa, tanggap, tangguh, tanggon dan trengginas.
Manusia yang dapat memenuhi kewajiban luhurnya adalah manusia yang bermartabat
tinggi.

1.3 Jenis dan Aliran Pencak Silat


Berdasarkan pada 4 aspek yang terdapat pada substansinya, wujud fisikal dan visual atau
praktek pelaksanaan Pencak Silat dapat dikategorikan dalam 4 jenis. Praktek pelaksanaan
dari masing-masing jenis Pencak Silat itu mempunyai tujuan tersendiri dan berdasarkan
pada tujuan tersebut akan lebih menekankan pada salah satu aspek tertentu dengan tidak
meniadakan aspek-aspek yang lain.
Keempat jenis Pencak Silat tersebut adalah :
1. Pencak Silat Mental-Spiritual atau Pencak Silat Pengendalian Diri (karena
wujud fisikal dan visual mental-spiritual adalah pengendalian diri), yang praktek
pelaksanaannya bertujuan untuk memperkuat kemampuan mengendalikan diri
dan karena itu lebih menekankan pada aspek mental-spiritual.
2. Pencak Silat Beladiri, yang praktek pelaksanaannya bertujuan untuk pembelaan
diri secara efektif dan karena itu lebih nenekankan pada aspek beladiri
3. Pencak

Silat

Seni,

yang

praktek

pelaksanaannya

bertujuan

untuk

mempertunjukkan keindahan gerak dan karena itu lebih menekankan pada aspek
seni.
4. Pencak Silat Olahraqa, yang praktek pelaksanaannya bertujuan untuk
memperoleh kesegaran jasmani dan prestasi keolahragaan dan karena itu lebih
menekankan pada aspek olahraga.
Aspek-aspek yang tidak menjadi fokus masih tetap terlihat dengan kadar yang berbeda,
ada yang jelas dan ada yang samar-samar. Karena itu, masing-masing jenis Pencak Silat

itu tetap mempunyai 4 aspek sebagai satu kesatuan dan kebulatan. Masing-masing
memiliki nilai-nilai etis (mental-spiritual), teknis (beladiri), estetis (seni) dan sportif
(olahraga) sebagai satu kesatuan.
Praktek pelaksanaan "jurus" dari masing-masing jenis Pencak Silat dilakukan dengan
gaya yang bermacam-macam. Gaya unik dengan ciri-cirinya yang menonjol dan mudah
dibedakan dari gaya lainnya, disebut "aliran" Pencak Silat. Bagaimana pun wujud
keunikan suatu gaya (aliran), nilai-nilai keempat aspek Pencak Silat, yakni etis, teknis,
estetis dan sportif sebagai satu kesatuan tetap ada dan terlihat Jika tidak, ia tidak
mempunyai nilai sebagai aliran Pencak Silat. Membedakan aliran-aliran Pencak Silat
tidak mudah dan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang ahli dan betul-betul
memahami berbagai "jurus" Pencak Silat. Perbedaan aliran hanya menyangkut segi
praktek fisikal dan tidak menyangkut segi mental-spiritual dan falsafah.
Dalam dunia Pencak Silat, aliran bukanlah faham atau mazhab. Karena itu jenis dan
aliran Pencak Silat apapun tetap dijiwai falsafah budi pekerti luhur dan mempunyai
aspek mental-spiritual sebagai aspek pengendalian diri.
Pada jenis Pencak Silat Beladiri, terdapat aliran yang menggunakan "tenaga
supernatural" dalam gaya pelaksanaan "jurus"nya. Tenaga supranatural yang disebut
"tenaga dalam", "tenaga dasar" atau "tenaga tambahan" ini merupakan penguat "jurus"
atau kekebalan badan. Adanya aliran yang menggunakan "tenaga supernatural" telah
memperkaya Pencak Silat.

1.4 Perguruan dan Pendekar Pencak Silat


Pengertian perguruan Pencak Silat sering dikacaukan dengan aliran Pencak Silat.
Perguruan Pencak Silat adalah lembaga pendidikan tempat berguru Pencak Silat. Berguru
mempunyai konotasi belajar secara intensif yang prosesnya diikuti, dibimbing dan
diawasi secara langsung dan tuntas oleh sang guru, sehingga orang yang berguru
diketahui

dengan

jelas

perkembangan

kemampuannya,

terutama

kemampuan

pengendalian dirinya atau budi pekertinya. Sang guru tidak akan mendidik,
meningkatkan atau memperluas pendidikannya kepada seseorang yang mentalitasnya
(kemampuan pengendalian diri atau budi pekertinya) dinilai tidak atau kurang memadai.
Dalam kaitan itu, di waktu yang lalu tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi murid
atau anggota perguruan Pencak Silat. Ujian- ujian berat yang menyangkut sikap mental
harus ditempuh lebih dulu dan lulus. Ditinjau dari segi jenis Pencak Silat yang diajarkan,
maka terdapat 4 kategori perguruan Pencak Silat, yakni :

1. Perguruan Pencak Silat Mental-Spiritual, yang menekankan pendidikannya


secara intensif pada aspek mental-spiritual Pencak Silat dengan tujuan untuk
membentuk kemampuan pengendalian diri yang tinggi kepada murid atau
anggotanya.
2. Perguruan Pencak Silat Beladiri, yang menekankan pendidikannya pada aspek
beladiri Pencak Silat dengan tujuan untuk membentuk kemahiran teknik beladiri
yang tinggi tanpa atau dengan menggunakan berbagai macam senjata kepada
murid atau anggotanya.
3. Perguruan Pencak Silat Seni, yang menekankan pendidikannya pada aspek.
seni

Pencak

Silat

dengan

tujuan

untuk

membentuk

keterampilan

mempertunjukkan keindahan gerak Pencak Silat kepada murid atau anggotanya,


tanpa atau dengan iringan musik tradisional serta tanpa atau dengan
menggunakan senjata, sesuai dengan ketentuan "wiraga" (teknik gerak),
"wirama" (irama gerak yang selaras, serasi dan seimbang) dan "wirasa"
(pelembutan dan penghalusan teknik dan irama gerak melalui kreativitas dan
improvisasi yang dilandasi rasa penghayatan).
4. Perguruan Pencak Silat Olahraga, yang menekankan pendidikannya pada
aspek olahraga Pencak Silat dengan tujuan untuk membentuk kemampuan
mempraktekkan teknik- teknik Pencak Silat yang bernilai olahraga bagi
kepentingan memelihara kesegaran jasmani atau pertandingan. Bagi kepentingan
pertandingan, pendidikan disesuaikan dengan peraturan pertandingan yang
berlaku.
Perguruan Pencak Silat Beladiri merupakan perguruan yang terbanyak, diantaranya ada
yang mengajarkan "tenaga supernatural". Sejak tahun 1970-an, banyak perguruan Pencak
Silat Beladiri yang mengajarkan Pencak Silat Olahraga untuk kepentingan pertandingan
dengan tujuan agar murid atau anggotanya dapat mengikuti kejuaraan Pencak Silat
Olahraga, karena hanya jenis Pencak Silat ini yang dipertandingkan. Pencak Silat
Beladiri dan Pencak Silat Seni tidak dipertandingkan tetapi dilombakan dalam bentuk
pertunjukan dan peragaan. Ditinjau dari segi tuntutan perkembangan jaman, perguruan
Pencak Silat dapat dikategorikan dalam 3 kelompok, yakni:
1. Perguruan Pencak Silat tradisional, dengan ciri-cirinya yang menonjol antara lain:
1. Pucuk pimpinan perguruan bersifat turun-temurun.
2. Penerimaan calon murid melalui ujian seleksi dan masa percobaan yang
ketat.
3. Metoda pendidikan bersifat monologis.
4. Pelanggaran terhadap disiplin perguruan dikenai sanksi pemecatan
sebagai anggota.

5. Tidak mengenal atribut-atribut maupun bentuk-bentuk tertulis yang


menyangkut perguruan dan pendidikannya.
6. Tidak memungut iuran atau sumbangan dari anggotanya.
7. Kegiatan perguruan dibiayai oleh pimpinan.
2. Perguruan Pencak Silat. modern, dengan ciri-ciri utamanya antara lain :
1. Pimpinan dan pengurus perguruan dipilih dari antara kader-kader
perguruan yang dipandang handal sebagai calon.
2. Bersifat terbuka dan bebas dalam penerimaan calon murid.
3. Tidak mengadakan masa percobaan tetapi masa pendidikan sebagai
pemula.
4. Metoda pendidikan bersifat dialogis dan analitis.
5. Disiplin perguruan ditegakkan melalui penyadaran dengan argumen
rasional.
6. Mempunyai atribut-atribut dan bentuk-bentuk tertulis yang menyangkut
perguruan dan pendidikannya.
7. Memungut iuran dan sumbangan dari anggotanya sebagai sumber dana
untuk membiayai kegiatan perguruan.
3. Perguruan Pencak Silat: peralihan (transisional), dengan ciri-ciri pokoknya antara
lain:
1. Pucuk pimpinan turun-temurun tetapi anggota pengurus perguruan dipilih
dari antara kader-kader perguruan yang handal sebagai calon.
2. Penerimaan calon murid melalui seleksi dan yang diterima diberi Status
sebagai anggota sementara.
3. Metoda pendidikan bersifat dialogis terbatas dalam arti tidak menyangkut
hal-hal yang prinsipiil.
4. Disiplin perguruan ditegakkan melalui wejangan-wejangan.
5. Mempunyai atribut-atribut dan bentuk-bentuk tulisan yang menyangkut
perguruan dan pendidikannya secara terbatas.
6. Tidak memungut iuran tetapi tidak menolak sumbangan dari anggotanya.
7. Kegiatan perguruan dibiayai oleh pimpinan dan dari dana sumbangan.
Penanaman nilai-nilai falsafah dan pendidikan mental-spiritual di semua perguruan
Pencak Silat tidak dilakukan secara khusus tetapi pada waktu dilaksanakan latihan dalam
bentuk wejangan-wejangan singkat, pengucapan sumpah atau prasetya perguruan. Sesuai
dengan tuntutan perkembangan masyarakat yang semakin rasional, semua perguruan
Pencak Silat tradisional dan peralihan akan berkembang dan berubah menjadi perguruan
Pencak Silat modern dengan sifat pengelolaan dan pendidikannya yang relatif
profesional.

Di Indonesia terdapat 10 perguruan Pencak Silat yang disebut perguruan historis.


Kesepuluh perguruan tersebut adalah :
Setia Hati (SH), Setia Hati Terate (SHT), Perisai Diri (PD), Perisai Putih, Phasadja
Mataram, PERPI Harimurti, Tapak Suci, Persatuan Pencak Seluruh Indonesia (PPSI),
Nusantara dan Putra Betawi.
Status historis disebabkan karena kesepuluh perguruan tersebut mempunyai hubungan
kesejarahan dengan kelahiran dan perkembangan IPSI. Selain perguruan historis, di
Indonesia terdapat juga perguruan besar. Yang menjadi ukuran adalah wilayah
penyebaran dan jumlah anggota perguruan yang bersangkutan.
Yang termasuk perguruan besar di Indonesia antara lain:
Merpati Putih, Bangau Putih, Satria Muda Indonesia dan Kateda Indonesia.
Pimpinan perguruan Pencak Silat pada umumnya berkualifikasi pendekar, yakni suatu
status tertinggi yang berkaitan dengan kemampuan pengamalan ajaran falsafah Pencak
Silat secara konsisten dan konsekuen yang patut ditauladani sekaligus berkaitan juga
dengan kemahiran dalam praktek pelaksanaan Pencak Silat menurut kaidahnya. Di
lingkungan perguruan modern, istilah pendekar telah digunakan sebagai gelar untuk
tingkat penguasaan kemahiran Pencak Silat, diantaranya ada yang sifatnya berjenjang.

1.5 Penelitian dan Penulisan tentang Pencak Silat


Baik penelitian maupun penulisan ilmiah tentang Pencak Silat hingga sekarang belum
banyak dilakukan. Penelitian dan penulisan yang pernah dilakukan pada umumnya
difokuskan pada segi teknis Pencak Silat. Segi nonteknis kurang atau belum mendapat
perhatian, pada hal keduanya merupakan satu kesatuan. Tulisan-tulisan tentang Pencak
Silat yang cukup terkenal adalah hasil karya Amy Shapiro yang berjudul "Martial Arts
Language" dan hasil karya Don F. Draeger yang berjudul "Weapons and Fighting Arts of
the Indonesian Archipelago". Amy Shapiro dalam tulisannya itu membedakan Pencak
dengan Silat dalam pengertiannya. Menurut dia, "literally Pencak means skilled and
specialized body movements, and silat means to fight using pencak. Don F. Draeger juga
membedakan pengertian Pencak dan Silat tetapi keduanya tak dapat dipisahkan. Menurut
dia, berdasarkan pengertian orang Minangkabau, '"pencak is a skillful body movement in
variations for self-defence and silat is the fighting application of pencak; silat cannot
exist without pencak; pencak without silat is purposeless". Menurut penulis ini, kata
pencak, berasal dari bahasa Mandarin Shantung "pung-cha". Dikatakan olehnya bahwa
"Pung means to parry and cover an attacking action, while cha implies to finalize by

striking (chopping) action. The first ideogram implies an avalanche force while the
second implies pressing". Sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab Pendahuluan, kata
Pencak dan Silat berasal dari bahasa masyarakat pribumi Asteng dan mempunyai
pengertian yang sama. Hal ini sesuai dengan keterangan mengenai silat dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwodarminto. Menurut Hisbullah
Rachman dalam tulisannya yang berjudul "Sejarah Perkembangan Pencak Silat di
Indonesia", pada masa jayanya kerajaan Sriwijaya, Universitas Nalanda di negara
tersebut telah menjadi pusat pengembangan agama Budha dan sekaligus juga pusat
penyebaran Pencak Silat. Banyak orang Cina yang mempelajari Pencak Silat dan
menyebarkannya di negerinya.
Ligaya Fernando Amilbang dalam bukunya "Pangalay" (gerak yang indah) menulis
tentang "Langka" di Filipina Selatan yang sama dengan Pencak Silat. Langka berarti
langkah. Disebutkan adanya Langka Budjang, Langka Baluang, Langka Kuntaw, Langka
Pansak (Pencak), Langka Silat, Langka Lima dan Langka Sayaw. Kesemuanya itu
mempunyai ciri-ciri Pencak Silat Mental-spiritual, Pencak Silat Beladiri dan Pencak Silat
Seni. Menurut penulis ini, di Myanmar Langka disebut "Lai-ka". Tulisan-tulisan tentang
Pencak Silat dalam bahasa Indonesia yang beredar cukup luas di Indonesia, antara lain
hasil karya Mariyun Sudirohadiprojo, Moh. Djumali dan Januarno. Ketiganya
menyangkut penuntun teknis pelajaran atau pelatihan Pencak Silat Olahraga.
Majalah

"Pendekar"

berbahasa

Melayu

yang

diterbitkan

di

Kuala

Lumpur,

mengkhususkan diri pada informasi-informasi sekitar Pencak Silat. Majalah "Pencak


Silat" yang diterbitkan oleh PB IPSI dan terbitan perdananya baru bulan Mei 1990, juga
bersifat serupa. Informasi tentang teknik-teknik Pencak Silat cukup banyak dimuat
dalam beberapa majalah yang diterbitkan di berbagai negara.

1.6 Perkembangan dan Penyebaran Pencak Silat


Pengembangan dan penyebaran Pencak Silat dilakukan oleh perguruan-perguruan
Pencak Silat. Setelah Perang Dunia ke-2, kegiatan perguruan-perguruan tersebut di
Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam dikordinasikan oleh organisasi
nasional Pencak Silat, yakni IPSI yang dibentuk pada tahun 1948, PERSISI yang
dibentuk pada tahun 1976, PESAKA yang dibentuk pada tahun 1983 dan PERSIB yang
dibentuk pada tahun 1987. Organisasi nasional Pencak Silat juga dibentuk di negaranegara lain. Untuk mengarahkan dan mengkordinasikan upaya pengembangan dan
penyebaran Pencak Silat secara internasional, pada tanggal 11 Maret 1980 di Jakarta
dibentuk Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (PERSILAT). Menurut konstitusinya,
PERSILAT mempunyai 3 macam anggota, yakni :

1. Anggota Pendiri, yang terdiri dari IPSI, PESAKA, PERSISI dan PERSIB.
2. Anggota Gabungan, yang terdiri dari organisasi nasional Pencak Silat lainnya
yang telah diakui oleh suatu badan tingkat nasional yang berwenang menangani
masalah Pencak Silat di negara yang bersangkutan dan telah diterima menjadi
anggota PERSILAT.
3. Anggota Bersekutu, yang terdiri dari organisasi Pencak Silat yang belum diakui
oleh badan tingkat nasional yang berwenang menangani masalah Pencak Silat
tetapi dinilai oleh PERSILAT dapat mewakili negaranya dan telah diterima
menjadi anggota PERSILAT.
Pengembangan dan penyebaran Pencak Silat diusahakan untuk dapat dilaksanakan secara
simultan, meliputi segi fisik dan non-fisik (mental- Spiritual dan falsafah). Tetapi hal ini
belum sepenuhnya terlaksana. Yang sudah terlaksana baru Pencak Silat olahraga. Ini pun
segi non-fisiknya belum mantap.
Upaya pengembangan dan penyebaran Pencak Silat Olahraga dilaksanakan antara lain
dengan menyelenggarakan kejuaraan-kejuaraan. Di Indonesia setiap tahun diadakan
kejuaraan nasional Pencak Silat untuk pesilat dewasa dan remaja secara berselangseling, kecuali apabila dalam tahun yang bersangkutan diadakan PON (Pekan Olahraga
Nasional) di mana Pencak Silat Olahraga juga diikutsertakan. Sejak tahun 1987, Pencak
Silat Olahraga juga diikutsertakan dalam SEA Games. Dalam tahun- di mana Pencak
Silat Olahraga ikutserta dalam SEA Games, IPSI juga tidak menyelenggarakan kejuaraan
nasional. Setiap kejuaraan nasional selalu dimulai dari kejuaraan tingkat kecamatan.
Upaya pengembangan dan penyebaran Pencak Silat Seni dilaksanakan dengan
menyelenggarakan festival atau lomba. Di Indonesia IPSI baru melaksanakannya secara
nasional pada tahun 1982. Untuk mengefisienkan penyelenggaraan, festival atau lomba
tersebut diintergrasikan dengan kejuaraan Pencak Silat Olahraga. Lomba Pencak Silat
Beladiri sedang diusahakan untuk juga dapat diselenggarakan, yang akan diintegrasikan
juga dengan kejuaraan Pencak Silat Olahraga. Pada setiap kesempatan kejuaraan
nasional Pencak Silat Olahraga, di Indonesia selalu diadakan pertemuan dan
pernbicaraan dalam rangka peningkatan upaya pengembangan dan penyebaran Pencak
Silat. Pembicaraan serupa dalam tingkat kebijaksanaan, dilakukan dalam Munas
(Musyawarah Nasional) yang diadakan setiap 4 tahun sekali. Upaya lainnya yang telah
dan akan dilakukan adalah Penataran Pelatih dan Wasit-Juri, penyempurnaan peraturan
pertandingan, merumuskan standar nasional Pencak Silat Olahraga, kriteria penilaian
lomba Pencak Silat Seni dan Pencak Silat Beladiri serta metoda pendidikan dan latihan
Pencak Silat. Kejuaraan Pencak Silat Olahraga yang berskala internasional telah 6 kali
dilaksanakan. Yang pertama dan kedua di Jakarta pada tahun 1982 dan 1984, yang ketiga
di Wina pada tahun 1986, yang keempat di Kuala Lumpur pada tahun 1987, yang kelima

di Singapura pada tahun 1988 dan yang keenam di Den Haag pada tahun 1990...****
Pada kesempatan itu juga dilaksanakan festival dan lomba Pencak Silat Seni dan
pertemuan. Seminar Intemasional tentang Pencak Silat pernah diadakan, yakni pada
kesempatan kejuaraan Internasional yang ke-IV di Kuala Lumpur. Tujuannya adalah
untuk mengumpulkan informasi- informasi sekitar Pencak Silat di berbagai negara,
antara lain tentang pengembangan dan penyebarannya.
Pencak Silat sekarang ini terdapat dan berkembang di 20 negara, yakni di Indonesia,
Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Belanda, Austria, Jerman , Belgia, Denmark,
Swiss, Perancis, Yugoslavia, Spanyol, Inggris, Turki, Amerika Serikat, Suriname,
Thailand, Filipina dan Australia.
Di beberapa negara lain sedang dirintis pengembangannya, antara lain di Myanmar,
Kamboja, Laos dan Vietnam. Negara-negara ini berkeinginan untuk mengikuti
pertandingan Pencak Silat Olahraga dalam SEA Games, diantaranya ada yang meminta
bantuan pelatih dari Indonesia.

1.7 Tantangan Terhadap Pencak Silat


Pencak Silat yang "terdapat di luar negara sumbernya belum seluruhnya berkualifikasi
sebagai Pencak Silat, dalam arti memenuhi kriteria jatidirinya maupun kaidah
pelaksanaannya yang bernilai etis, teknis, estetis dan olahraga sebagai satu kesatuan. Di
antara peminat Pencak Silat di luar negara sumbernya, ada yang berkecenderungan
mempelajari Pencak Silat hanya segi fisikalnya saja dan kurang berminat mengetahui
apalagi menghayati nilai-nilai falsafahnya yang menjiwainya dan nilai-nilai budaya yang
mendasari maupun mewarnainya. Selama ini penyebaran pengetahuan tentang jatidiri
Pencak Silat dan kaidah Pencak Silat sebagai aturan dasar dalam praktek pelaksanaan
Pencak Silat yang bernilai etis, teknis, estetis dan olahraga sebagai satu kesatuan
memang belum pernah dilakukan secara khusus. Usaha kearah itu sedang dirintis oleh
IPSI, yanq juga akan dilakukan melalui PERSILAT. Sesuatu yang bernama Pencak Silat
tetapi ujud prakteknya tidak menurut kaidah Pencak Silat (yang dijiwai nilai-nilai jatidiri
Pencak Silat), dengan sendirinya tidak bernilai Pencak Silat menurut pengertian yang
sebenarnya. Hal ini pada gilirannya akan menjatuhkan citra Pencak Silat. Disinilah letak
tantangannya. Tantangan yang kedua berkaitan dengan mutu pertandingan Pencak Silat
Olahraga yang masih belum memadai, bahkan kadang-kadang diwarnai oleh kericuhan ,
Kritik tajam mengenai hal ini sering terdengar. Hal itu akan dapat, bahkan mungkin telah
menjatuhkan Citra Pencak Silat. Faktor penyebab yang utama adalah karena kurang
dihayati dan dilaksanakannya kaidah Pencak Silat oleh pihak-pihak yang terlibat dalam

pertandingan. Penghayatan kaidah Pencak Silat harus dilandasi dengan pemahaman


jatidiri Pencak Silat serta nilai- nilai-nilainya.
Selain itu, tujuan pertandingan juga belum dihayati. Diantara tujuan tersebut adalah
mengembangkan dan memasyarakatkan Pencak Silat, mempererat persaudaraan dan
persatuan serta meningkatkan citra Pencak Silat: dan menarik simpati (minat) masyarakat
(nasional dan internasional) terhadap Pencak Silat. Tujuan tersebut harus menjadi
motivasi dasar pihak-pihak yang terlibat dalam per-tandingan dalam melaksanakan
fungsi dan peranannya. Gagasan Ketua Umum PB IPSI di dalam meningkatkan mutu
pertandingan Pencak Silat: Olahraga adalah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas
pelatih IPSI yang berasal dari perguruan-perguruan yang kemudian dikembalikan ke
perguruan-perguruan

untuk

melatih

anggotanya,-terutama

mereka

yang

akan

diikutsertakan dalam kejuaraan. Hanya pesilat yang telah mendapat latihan dari pelatih
IPSI inilah yang boleh mengikuti kejuaraan yang diselenggarakan oleh IPSI. Nantinya
gagasan ini akan di internasionalkan melalui PERSILAT. Gagasan lainnya adalah
penciptaan Pertandingan Sistem Baru (PSB), yang sekarang ini sedang diujicoba. Di
samping tantangan yang bersifat umum, masih terdapat tantangan yang bersifat khusus
dalam kaitan dengan pengembangan dan penyebaran Pencak Silat secara utuh maupun
pemeliharaan dan peningkatan citra Pencak Silat.

II. PERKEMBANGAN PENCAK SILAT


Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan
dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan
etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat
dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan
corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama. Pencak Silat
merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya
yang turun temurun. Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai
sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat
dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur.
Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan
sejarah pembelaan diri inti dituturkan. Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh
zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita
yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas. Sejarah perkembangan
Pencak Silat secara selintas dapat dibagi dalam kurun waktu :
a. Perkembangan sebelum zaman penjajahan Belanda
b. Perkembangan pada zaman penjajahan Belanda
c. Perkembangan pada zaman penjajahan Jepang
d. Perkembangan pada zaman kemerdekaan

2.1 Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda


Nenek moyang kita telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga dapat berkembang
menjadi rumpun bangsa yang maju. Daerah-daerah dan pulau-pulau yang dihuni
berkembnag menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan dan kehidupan yang teratur.
Tata pembelaan diri di zaman tersebut yang terutama didasarkan kepada kemampuan
pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem pembelaan diri, baik dalam menghadapi
perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok.
Para ahli pembelaan diri dan pendekar mendapat tempat yang tinggi di masyarakat.
Begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yagn ampuh seperti keris, tombak
dan senjata khusus. Pasukan yang kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta
kerajaan lainnya di masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan
pembelaan diri individual yang tinggi. Pemukupan jiwa keprajuritan dan kesatriaan
selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu pembelaan diri. Untuk menjadi
prajurit atau pendekar diperulan syarat-syarat dan latihan yang mendalam di bawah
bimbingan seorang guru. Pada masa perkembangan agama Islam ilmu pembelaan diri

dipupuk bersama ajaran kerohanian. Sehingga basis-basis agama Islam terkenal dengan
ketinggian ilmu bela dirinya. Jelaslah, bahwa sejak zaman sebelum penjajahan Belanda
kita telah mempunyai sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan
bangsa Indonesia.

2.2 Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda


Suatu pemerintahan asing yang berkuasa di suatu negeri jarang sekali memberi perhatian
kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah. Pemerintah Belandan tidak memberi
kesempatan perkembangan Pencak Silat atau pembelaan diri Nasional, karena dipandang
berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya. Larangan berlatih bela diri diadakan
bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok. Sehingga perkembangan kehidupan
Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi
kehilangan pijakan kehidupannya. Hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh
kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan. Kesempatan-kesempatan yang
dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih
digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja.
Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang.
Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai
perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya.

2.3 Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang


Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda.
Terhadap Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk
kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi
sekutu. Di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak
Silat. Di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh
Pemerintah. Di Jakarta pada waktu itu telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat
suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan
olahraga pada tiap-tiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak oleh Shimitsu karena
khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun Jepang memberikan kesempatan
kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, tujuannya
adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi
kepentingan Jepang sendiri bukan untuk kepentingan Nasional kita.
Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu. Kita mulai insaf
lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula
didudukinya dalam masyarakat kita.

2.4 Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan


Walaupun di masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk
berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami
melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa
dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur
warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional. Melalui Panitia
Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia maka pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta
terbentuklah IPSI yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro.
Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di
seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan
pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah.
Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan,
yang kemudian kurang mendapat perhatian, mulai dirintis dengan diadakannya suatu
Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar
ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bagnsa Indonesia
dengan nama Pencak Silat yang merupakan kata majemuk. Di masa lalu tidak semua
daerah di Indonesia menggunakan istilah Pencak Silat. Di beberapa daerah di jawa
lazimnya digunakan nama Pencak sedangkan di Sumatera orang menyebut Silat. Sedang
kata pencak sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata silat.
Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan
dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan.
Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, yang bersumber pada
kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama,
menghindarkan diri/ manusia dari bela diri atau bencana. Dewasa ini istilah pencak silat
mengandung unsur-unsur olahraga, seni, bela diri dan kebatinan. Definisi pencak silat
selengkapnya yang pernah dibuat PB. IPSI bersama BAKIN tahun 1975 adalah sebagai
berikut :
Pencak Silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela/mempertahankan
eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan
hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan
taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

III. MANFAAT PENCAK SILAT


3.1 Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian
Silat

mempunyai

tujuan

untuk

mewujudkan

keselarasan/

keseimbangan/keserasian/alam sekitar untuk meningkatkan iman dan taqwa


kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna mengisi Pembangunan Nasional Indonesia
dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang Pancasilais.

3.2 Pencak Silat sebagai seni


Ciri khusus pada Pencak Silat adalah bagian kesenian yang di daerah-daerah
tertentu terdapat tabuh iringan musik yang khas. Pada jalur kesenian ini terdapat
kaidah-kaidah gerak dan irama yang merupakan suatu pendalaman khusus (skill).
Pencak Silat sebagai seni harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan,
keseimbangan, keserasian antara wirama, wirasa dan wiraga.
Di beberapa daerah di Indonesia Pencak Silat ditampilkan hampir semata-mata
sebagai seni tari, yang sama sekali tidak mirip sebagai olahraga maupun bela diri.
Misalnya tari serampang dua belas di Sumatera Utara, tari randai di Sumatera
Barat dan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat. Para penari tersebut dapat
memperagakan tari itu sebagai gerak bela diri yang efektif dan efisien untuk
menjamin keamanan pribadi.

3.3 Pencak Silat sebagai olahraga umum


Walaupun unsur-unsur serta aspek-aspeknya yang terdapat dalam Pencak Silat
tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi pembinaan pada jalur-jalur masing-masing
dapat dilakukan. Di tinjau dari segi olahraga kiranya Pencak Silat mempunyai
unsur yang dalam batasan tertentu sesuai dengan tujuan gerak dan usaha dapat
memenuhi fungsi jasmani dan rohani. Gerakan Pencak Silat dapat dilakukan oleh
laki-laki

atau

wanita,

anak-anak

maupun

orang

tua/dewasa,

secara

perorangan/kelompok.

Usaha-usaha untuk mengembangkan unsur-unsur olahraga yang terdapat pada


Pencak Silat sebagai olahraga umum dibagi dalam intensitasnya menjadi
a. Olahraga rekreasi
b. Olahraga prestasi
c. Olahraga massal
Pada seminar Pencak Silat di Tugu, Bogor tahun 1973, Pemerintah
bersama para pembina olahraga dan Pencak Silat telah membahas dan
menyimpulkan makalah-makalah :
1. Penetapan istilah yang dipergunakan untuk Pencak Silat
2. Pemasukan Pencak Silat sebagai kurikulum pada lembaga-lembaga pendidikan
3. Metode mengajar Pencak Silat di sekolah
4. Pengadaan tenaga pembina/guru Pencak Silat untuk sekolah-sekolah
5. Pembinaan organisasi guru-guru Pencak Silat dan kegiatan Pencak Silat di
lingkungan sekolah
6. Menanamkan dan menggalang kegemaran serta memassalkan Pencak Silat di
kalangan pelajar/mahasiswa.
Sebagai tindak lanjut dari pemikiran-pemikiran tersebut dan atas anjuran Presiden
Soeharto, program olahraga massal yang bersifat penyegaran jasmani digarap
terlebih dahulu, yang telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia (SPI).

3.4 Pencak Silat sebagai olahraga prestasi (olahraga pertandingan)


Pengembangan Pencak Silat sebagai olahraga & pertandingan (Championships)
telah

dirintis

sejak

tahun

1969,

dengan

melalui

percobaan-percobaan

pertandingan di daerah-daerah dan di tingkat pusat. Pada PON VIII tahun 1973
di Jakarta telah

dipertandingkan untuk pertama kalinya yang sekaligus

merupakan Kejuaraan

tingkat Nasional yang pertama pula. Masalah yang

harus dihadapi adalah banyaknya aliran serta adanya unsur-unsur yang bukan
olahraga yang sudah begitu meresapnya di kalangan Pencak Silat. Dengan
kesadaran para pendekar

dan pembina Pencak Silat serta usaha yang terus

menerus maka sekarang ini

program pertandingan olahraga merupakan bagian

yang penting dalam pembinaan

Pencak Silat pada umumnya. Sementara ini

Pencak Silat telah disebarluaskan di negara-negara Belanda, Belgia, Luxemburg,


Perancis, Inggris, Denmark, Jerman Barat,

Suriname,

Amerika

Serikat,

Australia, Selandia Baru.

Program pembinaan Pencak Silat


Pencak Silat sebagai budaya Nasional bangsa Indonesia mempunyai banyak ragam khas
maisng-masing daerah, jumlah perguruan/aliran di segenap penjuru tanah air ini
diperkirakan sebanyak 820 perguruan/aliran.
Oleh karena itu dirasakan perlu adanya pembinaan yang sistimatis untuk melestarikan
warisan nenek moyang kita. Terlebih-lebih setelah Kungfu masuk IPSI, atas anjuran
Pemerintah berdasarkan pertimbangan lebih baik Kungfu berada di dalam IPSI sehingga
lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadapnya, sekaligus
menasionalisasikan.
Standarisasi yang telah dirintis pembuatannya, hanyalah untuk jurus dasar bagi keperluan
khusus olahraga dan bela diri. Sedangkan pengembangannya telah diserahkan kepad
setiap perguruan yang ada. Sistem pembinaan yang dipakai oleh IPSI ialah setiap aspek
yang ada dijadikan jalur pembinaan, sehingga jalur pembinaan Pencak Silat meliputi :
1. Jalur pembinaan seni
2. Jalur pembinaan olahraga
3. Jalur pembinaan bela diri
4. Jalur pembinaan kebatinan
Keempat jalur ini diolah, dengan saringan dan mesin sosial budaya, yaitu Pancasila.

Peraturan Pertandingan Pencak Silat


Gelanggang dapat di lantai atau dipanggung dan dilapisi matras dengan tebal maksimum
5 cm, permukaan rata dan tidak memantul serta ditutup dengan alas yang tidak licin,
berukuran 9 x 9 meter.

Gelanggang terdiri dari :


Bidang Gelanggang berbentuk segi empat bujur sangkar dengan ukuran 7 x 7 m.
Bidang Laga berbentuk lingkaran dalam bidang gelanggang
Batas Gelanggang dan bidang laga dibuat dengan garis selebar ke arah luar 5 cm dan
berwarna kontras dengan permukaan gelanggang. Pada tengah-tengah bidang laga dibuat
lingkaran dengan garis tengah 2 m selebar 5 cm sebagai batas pemisah sesaat akan
dimulai pertandingan.

Lingkaran tersebut mempunyai tanda garis lurus pada garis tengah lingkaran selebar 5
cm. Yang sejajar dengan sisi bujur sangkar dan berwarna kontras dengan permukaan
gelanggang.
Sudut pesilat adalah ruang pada sudut bujur sangkar yang berhadapan dan dibatasi oleh
lingkaran bidang laga. Sudut yang berhadapan lainnya adalah sudut netral.

Perlengkapan gelanggang :
a. Ember, gelas, kain pel dan kesed dari ijuk,
b. Jam pertandingan/game match
c. Gong atau alat yang berfungsi sama
d. Lampu babak atau tanda lain untuk menentukan ronde/babak
e. Lampu pemenang berwarna merah dan biru atau alat/kode lain untuk menentukan
pemenang
f. Perlengkapan lain-lain
g. Formulir pertandingan

Perlengkapan pertandingan :
a. Pakaian pertandingan, pakaian Pencak Silat berwarna hitam
b. Pelindung badan
c. Pelindung kemaluan
Pembagian kelas :
Menurut umurnya, peserta dibagi 3 golongan :
- Golongan remaja berumur di atas 14 s/d 17 tahun
- Golongan teruna berumur di atas 17 s/d 21 tahun
- Golongan dewasa berumur di atas 21 s/d 35 tahun
Menurut berat badan, pesilat dibagi dalam kelas-kelas :
Golongan Remaja :
Kelas A, 33 39 kg
Kelas B, di atas 36 39 kg
Kelas C, di atas 39 42 kg
Kelas D, di atas 42 45 kg
Kelas E, di atas 45 48 kg

Kelas F, di atas 48 51 kg
Kelas G, di atas 51 54 kg
Kelas H, di atas 54 57 kg
Kelas I, di atas 57 60 kg
Golongan Teruna :
Kelas A, 40 45 kg
Kelas B, di atas 45 50 kg
Kelas C, di atas 50 55 kg
Kelas D, di atas 55 60 kg
Kelas E, di atas 60 65 kg
Kelas F, di atas 65 70 kg
Kelas G, di atas 70 75 kg
Kelas H, di atas 75 80 kg
Dengan seterusnya selisih 5 kg
Kelas bebas, berat di atas 65 kg.

Waktu Pertandingan
Permainan dilangsungkan dalam 3 babak yang setiap babak terdiri dari 2 menit. Di antara
babak yang satu dengan lainnya diberikan waktu istirahat 1 menit. Waktu ketika wasit
menghentikan pertandingan tidak termasuk waktu bertanding dan perhitungan terhadap
pemain yang jatuh karena serangan yang sah tidak termasuk waktu bertanding.

Sasaran
Yang dapat dijadikan sasaran perkenaan adalah bagian tubuh kecuali leher ke atas dan
kemaluan yaitu dada, perut, punggung dan pinggang kiri serta kanan. Bagian tungkai
lengan dapat dijadikan sasaran serangan menjatuhkan dan mengunci tetapi tidak
mempunyai nilai sebagai sasaran perkenaan. Setiap pertandingan dipimpin oleh 1 (satu)
orang wasit dan dibantu oleh 5 (lima) orang juri penilai.

IV. GAMBAR-GAMBAR PENCAK SILAT