Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG TEMBAKAU

MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOMODITI HILIR


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X UNIT INDUSTRI BOBBIN

Oleh :
Zelika Gita Sari

(141710101061)

Kelompok

Kelas

THP -A

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
Mei, 2016
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) merupakan Perusahaan
Agribisnis Berbasis Perkebunan yaitu Tebu dan Tembakau serta Jasa
Cutting Bobbin. Unit Industri Bobbin, didirikan sejak tanggal 11 Juli 1992
dengan lokasi di Dati II Jember (Jelbuk) Jawa Timur. Industri Bobbin ini
kerjasama dengan Burger Soehne Ag Burg (BSB) dalam jasa pemotongan
daun tembakau menjadi pembungkus cerutu. Jumlah mesin yang saat ini
dioperasikan sebanyak 190 unit dengan jasa sebesar Rp. 23,4 per potong
dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 2400 orang yang berasal dari
penduduk setempat/sekitar Jember. Menurut Bapak H.M Kuncoro sebagai
konsultan menyatakan bahwa pada tahun 2013 unit industri bobbin
bergabung dengan kebun Kertosari untuk memperoleh bahan baku
tembakau Besuki sebagai bahan utama untuk daun cerutu yang akan
diekspor. Unit Industri Bobbin tidak memproduksi cerutu untuk diekspor
secara luas melainkan hanya melakukan jasa pemotongan daun tembakau
yang akan digunakan sebagai bahan cerutu kemudian dikirimkan ke Eropa,
namun terdapat cerutu lokal yang diproduksi oleh Koperasi karyawan
kartanegara (kopkar Kartanegara) PTPN X juga turut memproduksi
sekaligus memasarkan produk tembakau baik jenis Na Oogst dan TBN /
FIN yang dikemas menjadi cerutu yang berkualitas dan sesuai standart /
keinginan konsumen. Pembuatan cerutu kopkar Kartanegara dilakukan
secara manual atau hand made. Cerutu tersebut digunakan sebagai
konsumsi lokal masyarakat Indonesia dan beberapa ada yang diekspor di
Eropa seperti Maroko. Dalam perjalanannya Unit Industri Bobbin juga
menemui beberapa hambatan dalam produksi.
Oleh karena itu dilakukan kunjungan lapang bertempat di PT.
Perkebunan Nusantara X (Persero) Unit Industri Bobbin untuk mengetahui
bagaimana sistem kerja pemotongan daun tembakau dan mengetahui apa
saja hambatan dan tantangan yang dihadapi.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan yang akan dilakukan dalam kunjungan lapang berdirinya


PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) Unit Industri Bobbin adalah sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui latar belakang berdirinya PT. Perkebunan Nusantara X
(Persero) Unit Industri Bobbin.
2. Untuk mengetahui perbandingan proses pembuatan cerutu secara teori
perkuliahan dan secara langsung oleh PT. Perkebunan Nusantara X
(Persero) Unit Industri Bobbin.
3. Untuk mengetahui proses daun tembakau yang akan digunakan sehingga
memenuhi kriteria dan siap di potong untuk bahan cerutu.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Cerutu


Cerutu merupakan pengolahan hilir dengan menggunakan bahan baku daun
tembakau sebagai bahan isi dan pembungkusnya. Cerutu juga dapat
didefinisikan sebagai gulungan utuh daun tembakau yang dikeringkan dan
difermentasikan, yang mirip dengan rokok salah satu ujungnya dibakar
dan asapnya dihisap oleh mulut melalui ujung lainnya. Menurut Cahyono
(1998) Tembakau Cerutu yang terdiri dari :
a. Tembakau Deli, digunakan sebagai pembungkus dalam industri rokok
cerutu.
b. Tembakau Vorstenlanden, digunakan sebagai pembalut / pengisi rokok
cerutu.
c. Tembakau Besuki, digunakan sebagai pembalut / pengisi rokok cerutu
dan daunnya dapat digunakan sebgai pembungkus rokok.
Cerutu terdiri dari tiga lapisan tembakau asli. Filler ( isi ) merupakan
komponen terpenting. Aroma cerutu akan sangat ditentukan oleh filler yang
berisi campuran beberapa jenis tembakau. Campuran tembakau isi tersebut
diikat oleh selembar daun tembakau yang sedikit kasar ( binder ), lapisan
terakhir adalah pembungkus luar atau wrapper yang merupakan daun
tembakau tipis dan halus.
1. Tembakau Pengisi
Tembakau yang biasa digunakan sebagai tembakau pengisi adalah
tembakau Vorstenland. Tembakau ini berdaun banyak sehingga tampak
rimbun, warna daun hijau, ketebalan daun tipis sampai sedang, daun terkulai
sehingga kedudukannya tampak mendatar dan habitus piramidal. Krosok
tembakau Vorstenland setelah pengolahan berwarna coklat kemerahan.
Krosok yang terbaik diperoleh dari daun kaki, sedangkan daun yang berada di
atas umumnya digunakan sebagai pembalut dalam industri rokok cerutu.
Budidaya tembakau Vorstenland pada umumnya di lereng kaki gunung
Merapi sebelah tenggara, yang terdiri dari tanah vulkanis (tanah abu muda
yang berwarna kelabu). Pusat tanaman tembakau berada di sekitar Kabupaten
Klaten yang membujur dari arah SoloJogya, sedang sebagian lain terletak di

sekitar Kecamatan Bangak, yakni antara Kartasura dan Boyolali (Cahyono,


1998).
2. Tembakau Pembalut
Tembakau yang biasa digunakan sebagai tembakau pembalut adalah
tembakau Besuki. Tembakau ini memiliki sosok ramping dan ketinggiannya
sedang sampai agak tinggi. Daunnya berbentuk oval, kedudukan daun pada
batang agak tegak, jarak daun satu dengan yang lain agak berjauhan, lebar
daun sedang sampai lebar, habitus silindris, ketebalan daun tipis, daunnya
lunak, dan memiliki aroma yang khas. Krosok yang baik dari tembakau
Besuki berwarna coklat tua, coklat muda, dan kuning. Daun terbaik untuk
pembalut cerutu ataupun pembungkus cerutu adalah yang berasal dari daun
kaki.
3. Tembakau Pembungkus
Tembakau yang biasa digunakan sebagai pembungkus adalah tembakau
Deli. Tembakau ini bercirikan dengan keadaan tanaman yang kokoh dan besar
dengan ketinggian tanaman sedang, daunnya tipis dan elastis, bentuk daun
bulat dan lebar, kedudukannya pada batang tampak mendatar, bermahkota
tipe silindris, dan warna daun cerah. Daun tembakau Deli yang telah
mengalami pengolahan dengan pengeringan berwarna coklat agak kelabu
yang merupakan ciri khas krosok tembakau Deli. Krosok yang demikian
umumnya diperoleh dari daun pasir (daun yang letaknya paling dekat dengan
tanah) dan sebagian daun kaki. Warna krosok tersebut sangat berbeda dengan
warna krosok tembakau Kuba yang berwarna coklat kemerahan sehingga
sangat mudah dibedakan antara tembakau Deli dan tembakau Kuba.
(Matnawi, 1997).
Cerutu yang baik dapat dilihat berdasarkan tampilan warna cerutu. Cerutu
yang baik berwarna cerah, dan tanpa bercak. Kemudian untuk mengethaui
kualitas cerutu dengan mencium untuk memastikan aroma cerutu, kemudian
juga mendekatkan cerutu ke telinga untuk mendengarkan bunyinya. Apabila
bunyi yang terdengar seperti suara dau kering diremas, berartui cerutu ini
sudah tidak cukup baik.

Cerutu terdiri dari beberapa komponen menurut SNI 01-0611-19893 dapat


dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Syarat Mutu Cerutu Tembakau
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Uraian

Persyaratan
Pembalut
Pembungkus
Pengisi
Daun tembakau harus bebas dari kerusakan dan

Keadaan

Air
10-13%
Abu
Maks. 17%
Abu Silikat
Maks. 1,5%
K2O
Maks. 5,5%
CaO
Maks. 7,0%
MgO
Maks. 7,0%
Klorida
Maks. 1,7%
Nikotin
1-2%
Nitrogen jumlah
Maks. 4%
Gula jumlah
0,4-1,5%
Koefisien nyala
Maks. 0,3%
Sumber : SNI 01-0611-19893.

kapang
10-13%
Maks. 17%
Maks. 1,5%
Maks. 5,5%
Maks. 7,0%
Maks. 7,0%
Maks. 1,7%
1-2%
Maks. 4%
0,4-1,5%
Maks. 0,3%

Maks. 13%
Maks. 17%
Maks. 1,0%
Maks. 5,5%
Maks. 7,0%
Maks. 1,7%
Maks. 1,7%
1-2,5%
Maks. 4%
0,4-1,5%
Maks. 0,3%

2.2. Proses Pembuatan Cerutu


1. Memisahkan Tembakau. Maksudnya adalah tahap awal untuk membuat
cerutu, anda harus memisahkan terlebih dahulu tembakau, anda bisa
menggunakan gunting, pisau atau alat-alat lain yang bisa digunakan,
pilihlah tembakau yang bagus.
2. Memilah Tembakau. Setelah memisahkan tembakau, anda harus
memilah

tembakau

terlebih

dalulu,

lalu

bersihkan

tembakau

menggunakan air, tetapi tidak dengan cara dicelupkan, cukup memberi


percikan air ke tembakau, karena kalau dicelup akan merusak tembakau.

3. Daun Pembungkus. Letakan tembakau yang sudah bersih dalam daun


pembungkus, kemudian tembakau itu akan dicetak menggunakan mesin
yang sudah disiapkan.
4. Di Balut menggunakan Daun Tembakau : Bahan yng sudah dicetak
tersebut kemudian di balut menggunakan daun tembakau untuk
menghasilkan cerutu, anda harus menggunakan kedua tangan anda,
jangan menggunakan alat yang lain.
5. Lem. Selesai di balut, lemlah cerutu menggunakan lem khusus, yaitu
lem bermacol powder yang sudah dikasih air, oleskan lem tersebut di
seluruh bagian tembakau, dan tutup menggunakan daun tembakau.
6. Bungkus Cerutu. Langkah terakhir adalah membungkus cerutu
menggunakan plastik pembungkus yang mereknya cerutu. Setelah
selesai cerutu siap dijual.
2.3. Jenis-Jenis Cerutu
2.3.1 Soft filler cigars
Isi tembakau berupa daun potongan (cutting) dikerjakan secara manual
(hand rolled). Soft filler terdiri dari daun tembakau uth tanpa penambahan
bahan lain. Cerutu soft filler terdiri dari tiga bagian, yaitu dekblad, omblad,
dan filler. Dekblad merupakan wrapper/daun pembungkus terluar, omblad
merupakan binder/daun pengikat filler, sedangkan filler merupakan isian
cerutu berupa tembakau rajangan dengan campuran saus tertentu. Panjang,
diameter serta rasa filler dari cerutu yang dihasilkan berbeda-beda.
2.3.2. Small cigars
Cerutu small cigar merupakan jenis semi-cerutu dengan bentuk mirip
dengan rokok kretek. Small cigar dibuat dengan isian tembakau rajangan
vooroogst yang kemudian dibungkus dengan daun tembakau yang telah
dicetak sesuain dengan ukuran yang ditentukan. Isian small cigar terdiri dari
dua rasa saus, yaitu rasa vanila dan cengkeh. Small cigar terdiri dari beberapa
merk yaitu Macho Vanila dan Macho Golf.
2.3.3. Long filler cigars

Isi tembakau berupa daun utuh,dibuang gagang dan dikerjakan secara


manual atau hand rolled. Soft filler untuk cerutu besar dan sedang tidak
ditambahkan bahan lain atau tanpa ada campuran bahan lain sedangkan untuk
cerutu kecil (cigarillos) sebagian diberi tambahan bahan lain (flavour) seperti
vanilla,strawberry,cengkeh kopi dan lain sebagainya.
2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
yang dapat mempengaruhi mutu cerutu yang dihasilkan adalah
sebagai berikut :
2.4.1

Faktor Penyimpanan
Prosedur penyimpanan cerutu yang dilakukan kopkar Kartanegara yang

bekerjasama dengan PTPN X Unit Indutri Bobbin telah memenuhi


persyaratan. Menurut anonim (2009), suhu dan kelembaban \ruangan
merupakan faktor yang sangat penting dalam penyimpanan cerutu.
a

Suhu
Suhu yang terlalu tinggi dapat mendorong adanya serangan hama atau

kutu pada cerutu. Suhu ruang untuk penyimpanan cerutu yang ideal yaitu
antara 18C - 20C.

Kelembaban
Kelembaban ruangan yang baik yaitu antara 70% - 75%. Tujuan penentuan

suhu dan kelembaban ruangan yang baik yaitu agar kualitas produk cerutu
tetap terjaga.
Cerutu didalam ruang penyimpanan yang akan dipasarkan, harus mengikuti
ketentuan first in first out (produk yang pertama disimpan harus dipasarkan
terlebih dahulu) dengan tujuan untuk menjaga kualitas produk. Penyimpanan
yang terlalu lama beresiko terhadap kerusakan cerutu. Selain itu, dilakukan
pula proses fumigasi di dalam ruang penyimpanan. Fumigasi dilakukan
menggunakan petrogud pada lantai ruang penyimpanan. Cara fumigasinya
yaitu sebanyak 500 ml petrogud dilarutkan ke dalam 1500 ml air. Kemudian

cairan tersebut dimasukkan ke dalam sprayer dan disemprotkan secukupnya


ke dalam ruangan.
2.4.2

Ukuran, bentuk dan letak daun


Merupakan unsur mutu yang penting karena menentukan rendemen yaitu

banyaknya daun yang akan dibuat dari tipa-tiap helai daun. Selain itu
merupakan pertimbangan untuk komponen rokok cerutu. Daun berdasarkan
letaknya mulai dari bawah ke atas terdiri dari, daun koseran (1-5 helai), daun
kaki (6-13 helai), daun tengah (14-22 helai), dan daun pucuk (sekitar helai
atau lebih). Bentuk daun koseran umumnya tipis dan bulat, daun kaki agak
tebal dan bulat, daun tengah tebal dan bulat panjang, sedangkan daun pucuk
paling tebal dana agak memanjang.
2.4.3. Fermentasi
Dengan adanya fermentasi krosok akan mempunyai aroma yang baik.
Aroma paling penting adalah yang timbul jika tembakau dibakar. Aroma ini
adalah hasil destilasi kering dari bahan-bahan gum

BAB 3. PEMBAHASAN
3.1. Profil Perusahaan
Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu komoditi yang
strategis dari jenis tanaman perkebunan semusim dan merupakan salah satu
komoditi yang penting bagi Indonesia. Selama ini produksi tembakau
Indonesia bersifat fluktuatif. Berdasarkan informasi dari Departemen
Pertanian (2013), produksi tembakau nasional pada tahun 2008 dan 2009
berturut-turut 168.037 ton dan 176.186 ton, menurun pada tahun 2010
menjadi 135.678 ton dan meningkat kembali pada tahun 2011 menjadi
214.524 ton.

Kabupaten Jember adalah salah satu daerah penghasil tembakau NO yang


umumnya digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan cerutu. PT.
Perkebunan Nusantara X (Persero) merupakan Perusahaan Agribisnis
Berbasis Perkebunan yaitu Tebu dan Tembakau serta Jasa Cutting Bobbin.
Unit Industri Bobbin, didirikan sejak tanggal 11 Juli 1992 dengan lokasi di
Dati II Jember (Jelbuk) Jawa Timur. Industri Bobbin ini kerjasama dengan
Burger Soehne Ag Burg (BSB) dalam jasa pemotongan daun tembakau
menjadi pembungkus cerutu. Jumlah mesin yang saat ini dioperasikan
sebanyak 190 unit dengan jasa sebesar Rp. 23,4 per potong dan mampu
menyerap tenaga kerja sebanyak 2400 orang yang berasal dari penduduk
setempat/sekitar Jember. Menurut Bapak H.M Kuncoro sebagai konsultan
menyatakan bahwa pada tahun 2013 unit industri bobbin bergabung dengan
kebun Kertosari untuk memperoleh bahan baku tembakau Besuki sebagai
bahan utama untuk daun cerutu yang akan diekspor. Unit Industri Bobbin
tidak memproduksi cerutu untuk diekspor secara luas melainkan hanya
melakukan jasa pemotongan daun tembakau yang akan digunakan sebagai
bahan cerutu kemudian dikirimkan ke Eropa, namun terdapat cerutu lokal
yang diproduksi oleh Koperasi karyawan kartanegara (kopkar Kartanegara)
PTPN X juga turut memproduksi sekaligus memasarkan produk tembakau
baik jenis Na Oogst dan TBN / FIN yang dikemas menjadi cerutu yang
berkualitas dan sesuai standart / keinginan konsumen. Pembuatan cerutu
kopkar Kartanegara dilakukan secara manual atau hand made. (Djunaidy,
2013). Cerutu tersebut digunakan sebagai konsumsi lokal masyarakat
Indonesia dan beberapa ada yang diekspor di Eropa seperti Maroko. Dalam
perjalanannya Unit Industri Bobbin juga menemui beberapa hambatan
dalam produksi.
Tembakau yang kegiatan usahanya dilakukan di wilayah kabupaten
Jember, meliputi Kebun Ajong Gayasan dan Kebun Kertosari serta
wilayah kabupaten Klaten meliputi Kebun Kebonarum, Gayamprit dan
Wedibirit. Tembakau yang dihasilkan merupakan tembakau cerutu kualitas
ekspor yaitu tembakau TBN/VBN dan FIN/FIK dengan grade NW, LPW,

RFU dan Filler. Tembakau NO/ VO dengan grade Dekblad, Omblad, dan
Filler.(Fariz, 2012). Cerutu yang dihasilkan oleh Kopkar Kartanegara
PTPN X dibedakan menjadi tiga macam, yaitu cerutu Soft filler
(dengan tembakau rajangan sebagai isi) dengan merk Argopuros A1, A2,
I 5-2 dan Bali cs, cerutu Long filler (dengan tembakau utuh sebagai isi)
dengan tiga macam tipe (Excellent, Superior, dan Standart) yang
masing-masing terdiri dari berbagai merk, dimana cerutu-cerutu
tersebut ditujukan untuk ekspor ke Amerika, Kanada, Jepang dan
Small Cigar (cerutu yang menyerupai rokok kretek) dengan merk
Macho Filter Golf dan Vanilla yang ditujukan untuk ekspor ke Jepang.
Bentuk

struktur

organisasi

Kopkar

Kartanegara

PTPN

(PERSERO) Candijati, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember disusun


berdasarkan alur wewenang yang merupakan jenis organisasi lini dan
staf. Terdapat hubungan wewenang langsung dari atas ke bawah mulai
dari puncak pimpinan sampai pada tingkat pimpinan terbawah. Terdapat
pula jalur staf yang memiliki sifat kedudukan yang membantu
menajer lini dalam berbagai kegiatan khusus (spesifikasi). Struktur
organisasi Kopkar Kartanegara PTPN X (PERSERO) Candijati dapat
dilihat pada Gambar 1

Gambar 1. Struktur Organisasi PTPN X PERSERO


3.2. Perbandingan Proses Pembuatan Cerutu Teori dan PTPN X Bobbin
Proses pembuatan cerutu meliputi peracikan isi (filler), pengukusan
(steaming),

penimbangan

(weighting),

pembentukan

kepompong

(bunching), pencetakan kepompong (molding), pembungkusan kepompong


(wrapping), aging, sortasi, dan penyelesaian akhir (finishing). Tahapan
proses pengolahan cerutu dijelaskan sebagai berikut (Korohama, 2009).
3.2.1 Peracikan isi (filler)
Peracikan isi merupakan kegiatan membuat bahan baku tembakau
untuk pengisi (filler). Setiap proses peracikan tergantung dari jenis cerutu
yang akan diproduksi dan setiap jenis cerutu mempunyai komposisi bahan
filler yang berbeda.
3.2.2. Steaming

Pada tahap steaming, filler yang sudah ditentukan komposisinya di


steam dengan tujuan untuk menghilangkan bau menyengat dari bahan
tembakau, mencegah hama dan menyatukan aroma tembakau yang
bermacam-macam tersebut.
3.2.3. Weighting
Weighting

yaitu

tahap

penimbangan

filler.

Penimbangan

filler

disesuaikan dengan ukuran cerutu yang akan diproduksi. Penimbangan


dilakukan untuk tiap batang cerutu.
3.2.4. Bunching
Pada

tahap

bunching,

filler

yang

sudah

ditimbang,

kemudian

dimasukkan kedalam alat pelinting cerutu bersama dengan bahan untuk


pembalut (omblad). Hasilnya berbentuk seperti kepompong (bunch).
Ukuran panjang dari kepompong cerutu rata-rata lebih panjang yaitu
antara 2 sampai 3 cm dari standar ukuran cerutu jadi.
3.2.5 Molding
Molding yaitu pencetakan cerutu yang telah berbentuk kepompong (plop
press). Pencetakan cerutu dilakukan selama 20 sampai 30 menit agar cerutu
berbentuk

simetris

dan

untuk

mempertahankan

filler

agar

tidak

mengembang setelah dibungkus dengan omblad.


3.2.6. Wrapping
Wrapping yaitu proses pembungkusan cerutu dengan bahan dekblad
wrapper dengan menggunakan alat pelinting cerutu. Setelah melalui
proses wrapping kemudian diratakan kembali dan dipotong dengan alat
khusus untuk memberi bentuk agar panjang dan diameternya sesuai
dengan yang diinginkan.

3.2.7. Drawing test


Drawing test merupakan proses unutk mengetahui kekuatan hisap
sebuah cerutu. Drawing test dilakukan setelah cerutu yang melalui proses

wrapping dipotong dengan alat pemotong dan diratakan dengan alat perata
cerutu. Untuk cerutu jenis

long filler kekuatan hisapan yang

diperlukan sebesar 3,5 sampai 5,5 satuan hisap, sedangkan cerutu soft filler
dan small cigar diperlukan kekuatan hisap yaitu sebesar 3,5 sampai 7
hisapan. Tujuan drawing test ini untuk kenikmatan konsumen dalam
menghisap cerutu.
3.2.8. Aging
Aging merupakan proses penyimpanan cerutu di gudang penyimpanan
(gudang pemanasan). Perbedaannya dengan steaming yaitu steaming
bersifat sementara sedangkan aging bersifat jangka panjang.
3.2.9. Sortasi (selecting)
Sortasi merupakan tahap akhir yaitu memisahkan cerutu dengan
warna yang sama dan cerutu dengan bentuk yang baik.
3.2.10. Finishing
Finishing yaitu tahap pemberian label jenis dan tanggal pembuatan cerutu.
Berdasarkan urutan pembuatan cerutu menurut Korohama (2009)
memiliki sedikit perbedaan dengan proses pembuatan cerutu yang
dilakukan oleh organisasi Kopkar Kartanegara PTPN X (PERSERO)
Candijati. Menurut Dyah (2013) menyatakan bahwa proses pembuatan
cerutu Pengolahan cerutu di pabrik cerutu milik koperasi kartanegara
Kartanegara PTPN X (PERSERO) Unit Industri Bobbin dilakukan
dengan buatan tangan (hand made) dengan tetap mengikuti standar
internasional. Pengolahan cerutu dibagi dalam tiga tahap, yaitu tahap pra
proses, proses dan pasca proses.
1. Pra-proses
Tahap pra proses meliputi fumigasi, pemeriksaan, penyiapan filler,
omblad (binder) dan dekblad (wrapper). Dalam industri cerutu dikenal
tiga kualitas daun tembakau yaitu daun pembalut (omblad), daun
pembungkus (dekblad) dan daun pengisi (filler). Selain itu, tembakau
cerutu lain yang umumnya digunakan adalah tembakau Delli dan

Vostenlanden.
a) Fumigasi
Bahan baku yang digunakan berupa bahan setengah jadi yaitu
lembaran tembakau yang sudah dalam bentuk kering, namun tembakau
tersebut tidak dapat langsung digunakan dan masih diolah lebih
lanjut. Hama yang biasanya menyerang daun tembakau Besuki adalah
Lasioderma dan beberapa jenis jamur pengganggu. Untuk dapat siap
digunakan dalam proses produksi cerutu. Daun yang telah diterima
Koperasi Karyawan Kartanegara di fumigasi selama 7-10 hari untuk
mencegah terjadinya serangan hama Lasioderma serricorne yang dapat
menyebabkan kerusakan pada daun tembakau (berlubang).
b) Pemeriksaan
Tidak semua jenis tembakau memiliki kualitas dan kegunaan yang
sama, oleh karena itu perlu pemeriksaan. Pemeriksaan daun tembakau
merupakan proses pengecekan kualitas daun tembakau yang telah
difumigasi berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan kopkar
Kartanegara. Daun tembakau yang telah mengalami fumigasi diperiksa
berdasarkan kriteria pada Tabel 2.
Tabel 2. Kriteria Daun Tembakau yang Disortasi
Kriteria
Warna
Jenis

Filler

Binder

M,B,MW,VV,KV,BV

M,B,KV,MM,BB,TNG

TNG (Ke atas)

TNG (tebal, sedang)

Wrapper
M, B, V, K
KOS
dan
KAK
(tipis)

Fisik

Bagus

Daya bakar

KRR (kode 5)

Bagus

Bagus
Utuh

Utuh, tidak
robek

Kadar air

4-12%

24%

22%

Sumber : Dyah (2013)


Keterangan: K= kuning, B= biru, BV= Biru kotor, KV= Kuning kotor,
M= Merah, MM= Merah tua, MV=
sedikit,

Merah

kotor,

V=

Kotor

VV= kotor banyak, TNG= Daun tengah, KOS= Daun

koseran, KAK= Daun bawah.


Pemeriksaan daun tembakau di kopkar Kartanegara belum
lengkap. Kopkar Kartanegara hanya melakukan pemeriksaan terhadap
kriteria warna, jenis, kondisi fisik daun tembakau dan tidak dilakukan
pemeriksaan pada kriteria daya bakar dan kadar air. Padahal, daya
bakar dan kadar air merupakan parameter penting pula yang
menentukan kualitas daun tembakau untuk cerutu. Daya bakar
menentukan mudah-tidaknya cerutu ketika disulut dengan api,
sedangkan kadar air menentukan flavor dari cerutu. Daun tembakau
yang telah diperiksa kemudian dilakukan proses sortasi. Pada proses
sortasi, daun tembakau diletakkan dalam suatu bak, kemudian daun
yang berlubang atau cacat dipisahkan untuk dijadikan sebagai filler,
sedang yang utuh digunakan sebagai omblad dan dekblad.
c) Penyiapan filler
Sebelum

digunakan

sebagai

filler

daun

tembakau

perlu

distripping terlebih dahulu. Daun tembakau untuk filler small cigar dan
soft filler mengalami proses stripping (pencacahan) dengan ukuran
cacahan + 0,5 cm (small cigar) dan + 1-2 cm (soft filler). Sedangkan
daun tembakau untuk filler cerutu long filler tidak mengalami proses
stripping.
Sesudah proses stripping, daun tembakau selanjutnya diblending
yaitu dengan mencampurkan berbagai macam daun tembakau (sesuai
merek cerutu yang dibuat). Proses blending ini dilakukan secara manual
(menggunakan tangan) pada sebuah bak pencampuran. Setelah itu, daun

tembakau yang telah dicacah disteaming (dikukus) selama 1-2 jam.


Proses ini bertujuan untuk mengurangi debu, kotoran dan membunuh
jamur yang menempel pada daun serta untuk memunculkan aroma khas
daun tembakau. Setelah itu daun tembakau dikering-anginkan sampai
kadar air+ 14%.

Filler kemudian diberi saus untuk memberikan

citarasa khas. Ada dua jenis saus yang digunakan yaitu saus rasa vanilla
dan nangka. Pemberian saus ini umumnya diperuntukkan bagi cerutu
jenis small cigar. Pemberian saus ini dilakukan per 5 kg daun tembakau.
Diperlukan sebanyak 350 cc saus nangka per 5 kg untuk cerutu merek
Macho Jepang Glove. Sedangkan untuk cerutu merek Macho Jepang
Vanila memerlukan sebanyak 900 cc saus vanilla per 5 kg. Saus vanilla
bersifat lebih mudah menguap sehingga diperlukan takaran yang lebih
banyak dibanding saus nangka yang bersifat lebih lengket dan
berminyak.
Filler yang telah diberi saus kemudian diperam selama semalam
(dalam kemasan) guna mengoptimalkan peresapan saus kedalam
rajangan filler. Filler selanjutnya dijemur hingga kadar air + 14% dan
dimasukkan ke dalam kemasan plastik kedap udara untuk difumigasi
selama 6 hari menggunakan phostoxin. Filler disimpan diruang
penyimpanan bahan baku siap pakai
Terdapat beberapa perbedaan penyiapan filler cerutu jenis small
cigar, soft filler dan long filler. Pada stripping cerutu small cigar,
ukuran cacahan daun tembakau adalah + 0,5 cm sedangkan ukuran
cacahan daun tembakau cerutu soft filler adalah + 1-2 cm. Sedangkan
pada long filler tidak dilakukan proses stripping. Pada long filler daun
tembakau yang telah disortasi, langsung disteaming selama 1-2 jam,
diangin-anginkan, diambil gagang daun (core), difumigasi 6 hari,
dibungkus dengan kain.
d) Penyiapan omblad
Daun tembakau yang digunakan sebagai

omblad

disteaming

selama 1-2 jam, pengering-anginan, penjemuran hingga kadar air +


14%, dan proses fumigasi dalam ruang penyimpanan bahan baku.
Sebelum omblad digunakan, daun dibungkus dengan lap basah untuk
melembabkan daun sehingga daun bersifat elastis (tidak mudah sobek)
ketika digunakan untuk membalut filler.
e) Penyiapan dekblad
Daun tembakau yang digunakan sebagai dekblad tidak mengalami
proses steaming. Namun, daun yang digunakan merupakan daun utuh
(tidak sobek, lubang atau cacat). Sebelum digunakan, daun dibungkus
dengan lap basah untuk menjaga kelembapan daun.
2. Proses pengolahan cerutu
a). Pemotongan Omblad
Omblad merupakan daun pembalut filler. Pemotongan omblad
hanya dilakukan untuk cerutu small cigar dan soft filler, sedangkan
omblad cerutu jenis long filler menggunakan daun tembakau utuh.
Sebelum digunakan untuk membalut filler, daun tembakau yang
diperuntukkan sebagai omblad dipotong sesuai ketentuan ukuran. Pada
small cigar, misalnya merek macho ukuran omblad yaitu + 9 cm x 5,5
cm.
Proses pemotongan omblad dilakukan dengan cara melakukan
proses bir- bir terlebih dahulu. Proses bir-bir merupakan proses
membuka

lipatan daun tembakau yang sebelumnya telah dibasahi

dengan kain basah. Proses ini


sehingga

mempermudah

dilakukan

diatas

meja

kaca

proses pemotongan omblad. Pemotongan

dilakukan dengan menggunakan roller cutter. Proses pemotongan


dilakukan secara cermat dan hati-hati sehingga setiap potongan daun
memiliki satu urat daun.
b). Pembuatan kepompong
Pembuatan kepompong dimulai dengan proses pelintingan
cerutu. Pada pembuatan kepompong cerutu small cigar dan soft

filler digunakan alat pelinting (mesin binder), sedangkan pembuatan


kepompong cerutu long filler dilakukan secara manual. Proses
pelintingan kepompong small cigar dan soft filler dimulai dengan
menyisipkan filler ke dalam mesin binder sambil diratakan. Filter
dengan ukuran panjang + 1,5 cm disisipkan disisi kiri filler (untuk
rokok dengan filter). Selanjutnya filler beserta filter digulung
dengan sebagian tarikan alat pelinting. Lalu disisipkan omblad pada
alat pelinting dan ditarik kembali tuas pelinting dengan tangan
kanan, sementara tangan kiri mempertahankan omblad supaya tidak
terlipat saat proses pelintingan berlangsung. Adapun proses
pelintingan kepompong long filler dilakukan dengan menggulung
campuran filler utuh dengan daun tembakau, kemudian ujung
gulungan direkatkan menggunakan lem CMC.
c). Penimbangan kepompong
Proses penimbangan kepompong dilakukan untuk memeriksa
kesesuaian berat cerutu yang telah dibuat dengan ketentuan yang
telah ditetapkan. Penimbangan kepompong ini dilakukan pada cerutu
jenis small cigar, sedangkan kepompong cerutu jenis soft filler dan
long filler tidak ditimbang melainkan langsung mengalami proses
pencetakan kepompong. Hal ini menyebabkan cerutu jenis soft filler
dan long filler yang diproduksi memiliki berat yang tidak seragam,
sehingga memungkinkan terjadinya penurunan pada mutu cerutu.
Untuk cerutu jenis small cigar, rata-rata berat per batangnya adalah
1,1 gram 1,3 gram. Penimbangan dilakukan per 10 batang
sehingga beratnya sekitar 11,75 gram-13,5 gram. Kepompong yang
beratnya tidak memenuhi ketentuan tersebut tidak di proses lebih
lanjut, akan tetapi akan didaur ulang menjadi filler.

d). Pencetakan Kepompong


Proses pencetakan kepompong hanya dilakukan untuk cerutu
soft filler dan long filler, sedangkan cerutu small cigar langsung
masuk ke dalam tahap perataan. Kepompong cerutu soft filler dan
long filler dimasukkan ke dalam plop (cetakan) untuk kemudian
dilakukan proses pengepresan. Tiap cetakan soft filler berisi 20
batang cetakan cerutu, sedangkan tiap cetakan long filler berisi 10
batang cetakan cerutu.
e). Pengepresan kepompong
Kepompong cerutu soft filler dan long filler yang telah
dicetak kemudian dipres selama satu jam dengan jumlah tumpukan
balok cetakan berkisar antara 4-6 tumpuk. Setelah dipres selama
satu jam, cetakan diambil dan dibuka. Kepompong selanjutnya
dibalik dengan cara memutar batang searah putaran jarum jam.
Setelah itu cetakan ditutup lagi dan dilakukan pengepresan kembali
selama satu jam. Setelah satu jam, plop diambil kemudian
kepompong dibiarkan tetap berada didalam cetakan selama 40-60
menit supaya kepompong tercetak sempurna. Cerutu yang
dihasilkan pada tahap ini memiliki penampakan yang padat dan
lebih kering dibandingkan kepompong sebelum dipres.
f). Pelapisan kepompong
Kepompong cerutu soft filler dan long filler yang telah
terbentuk kemudian dilapisi dengan daun tembakau (dekblad).
Pelapisan ini bertujuan untuk memperkuat lintingan kepompong
serta memperbaiki penampakan luar cerutu. Dekblad dihilangkan
gagangnya terlebih dahulu (sehingga daun terbagi menjadi dua),
kemudian kepompong diletakkan pada ujung daun dekblad dan
dilakukan proses pelintingan secara manual. Ujung daun dipotong
dan kemudian direkatkan menggunakan lem CMC. Cerutu yang
dihasilkan pada tahap ini memiliki penampakan luar yang baik serta

memiliki bentuk yang lebih kompak.


g). Pembuatan ujung kepompong
Pembuatan ujung kepompong hanya dilakukan pada cerutu jenis
long filler. Pembuatan ujung kepompong berfungsi untuk
memperindah tampilan cerutu serta sebagai letak tempat menyulut
api. Ujung kepompong ditutup dengan daun tembakau yang
dibentuk lingkaran kecil (disebut kubah) dengan diameter lingkaran
+ 2 cm. Pencetakan lingkaran ini menggunakan alat yang terbuat
dari besi.
h). Pemotongan Cerutu
Proses pemotongan cerutu dilakukan menggunakan gunting dan
alat pemotong (disesuaikan dengan ukuran cerutu yang hendak
diperoleh) baik pada bagian atas maupun bagian bawah cerutu
sehingga diperoleh cerutu dengan bentuk padat dan sama rata. Sisa
potongan dapat diambil fillernya untuk kemudian didaur ulang
sebagai pengisi cerutu jenis small cigar.
i). Aging (fermentasi cerutu)
Proses ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada
tembakau untuk terfermentasi sehingga akan dihasilkan aroma.
Aging dilakukan kurang lebih selama 2 minggu untuk mendapatkan
aroma tembakau cerutu yang maksimal dan kering merata. Dalam
proses aging, cerutu diikat sebanyak 20 buah per ikat. Aging ini
dilakukan pada tempat terkontrol
0

atau ruangan tertutup pada suhu 27 C-32 C dan kelembapan 60%70%.


Selama proses aging diduga terjadi proses fermentasi yang
diakibatkan oleh adanya reaksi pencoklatam enzimatis. Fermentasi
ini terjadi pada daun tembakau secara alamiah dengan tujuan
memperoleh kematangan daun tembakau. Menurut Kementrian
Pertanian (2012), daun tembakau mengandung senyawa fenol.
Terjadinya reaksi pencoklatan enzimatis pada daun tembakau diduga
diakibatkan oleh adanya aktivitas enzim polifenol oksidase. Menurut

Ghaffar (2012), proses ini terjadi akibat adanya interaksi antara


polifenol oksidase dan oksigen yang berhubungan dengan substrat
(daun tembakau) sehingga diperoleh pigmen warna

coklat

(melanin). Reaksi pencoklatan enzimatis yang terjadi pada proses ini


memiliki dampak baik karena menurut Fennema (1996) reaksi
pencoklatan enzimatis bertanggung jawab pada warna dan flavor
yang terbentuk.
j). Pengeringan
Pengeringan adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat
cair dari bahan sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di
dalam zat padat itu sampai suatu nilai rendah yang dapat diterima.
Menurut Pinem (2004), kelembapan udara pengering harus memenuhi
syarat yaitu sebesar 5060%.

Proses pengeringan cerutu bertujuan untuk menurunkan


kadar air cerutu hingga 13%. Proses pengeringan cerutu dilakukan di
0

dalam ruang pengeringan dengan suhu 27-30 C dan kelembapan


+ 70% selama 3-4
hari. Di dalam ruang pengeringan diletakkan lampu bohlam dengan
daya 60 watt dan 300 watt dan disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Penggunaan bohlam ini berfungsi sebagai pengatur suhu ruang
(mempertahankan suhu ruangan) sehingga cerutu lambat laun
mengalami penurunan kadar air (mengering). Selain itu di dalam
ruang pengeringan juga diletakkan kertas yang dilapisi hormon
betina hama L. serricorne sehingga diharapkan pejantan L.
serricorne tidak berkesempatan untuk hinggap pada cerutu dan
bereproduksi. Pengeringan cerutu selain menurunkan kadar air juga
memberikan warna kecoklatan pada cerutu. Diduga selama proses
pengeringan ini terjadi reaksi maillard. Menurut Makfoeld (2002),
reaksi maillard adalah reaksi antara karbohidrat khususnya gula
pereduksi dengan gugus amina primer. Hasil reaksi ini berupa

produk berwarna cokelat. Dengan menggunakan alat humidity test


untuk mengetahui kadar kelembapan atau RH dari cerutu yang
dihasilkan.
k). Fumigasi Cerutu
Pelaksanaan tindakan fumigasi kopkar kartanegara dilakukan
berdasarkan ketentuan Balai Penelitian Tembakau Jember, dimana
ruang fumigasi di kopkar kartanegara telah dikondisikan secara
khusus. Ruangan dilengkapi dengan AC (Air Conditioner) yang
ditutup dengan pelapis tertentu saat fumigasi dilakukan. Saat
fumigasi berlangsung, AC dinyalakan sehingga suhu ruangan
menjadi turun. Kemudian, digunakan pula 8 buah lampu masingmasing berdaya 100 watt yang bertujuan untuk
o

menstabilkan suhu ruang. Suhu ruang berkisar antara 25-30 C


dengan kelembapan antara 70-80%.
Cerutu yang telah diletakkan dalam box kecil dimasukkan
ke dalam rak fumigasi. Kemudian rak fumigasi ditutup rapat
dengan terpal. Lalu, pada tiap sisi rak diberi phostoxin dengan
3

ketentuan penggunaan yaitu 1 butir per 1 m rak fumigasi.


Ketentuan

penggunaan

phostoxin

ini

direkomendasikan

berdasarkan penelitian Balai Penelitian Tembakau


Jember.
3. Pasca Proses
Pada tahap pasca proses cerutu yang sudah jadi kemudian
dilakuakn sortasi cerutu berdasarkan cacat, panjang,diameter dan warna,
setelah itu pemasangan cincin untuk memberi informasi merk dagang,
setelah itu pengemasan batang cerutu sesuai dengan kriteria cerutu soft
filler dan long filler. Pengepakan cerutu dilakukan secara manual dengan
memasukkan 10-15 cerutu kedalam kotak karton atau bambu, kemudian
menempelkan pita cukai dikemas dengan plastik kemudian di slop. Setelah
kotak berisi cerutu selelsai kemudian dilakukan penyimpanan dengan suhu

yang tepat agar dapat tahan lebih lama dan terhindar dari kerusakan.
BAB 4. PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil proses pembuatan cerutu pada PTPN X Unit Bobbin dan
dibandingkan dengan teori diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. PTPN X Unit Bobbin merupakan Unit industri pemotongan tembakau
tanpa memproduksi cerutu sebagai produk unggulan,namun memproduksi
dalam skala koperasi dan dipasarkan secara mandiri.
2. Cerutu pada PTPN X Unit Bobbin dibuat menggunakan tenaga manusia
atau hand rolled berbeda dengan literatur dengan menggunkan merin cetak
cerutu.
2. Pembuatan Cerutu pada PTPN X Unit Bobbin terdapat proses pra
prose, proses dan pasca proses yang lebih lengkap.
4.2. Saran
Agar praktikum lapang kunjungan selanjutnya lebih baik, maka perlu
dilakukan konsep yang matang sehingga pada saat dilapangan tidak terjadi
kesalahan teknis dan kekurangan kamera untuk dokumentasi satu angkatan.

DAFTAR PUSTAKA
Dyah Ayu. 2013. Studi Proses Pengolahan Cerutu Di Koperasi Karyawan Ptpn X
(Persero) Candijati Arjasa Jember. Skripsi. Universitas Jember.
Jember.
Fariz, Muhammad Nirwansyah. 2012. Strategi Public Relasionship. Malang:
Universitas Airlangga.

Fennema, O.R. 1996. Food Chemistry. Cetakan III. New York: University of
Wiscorsin Madison.
Ghaffar, M.

2012.

Pencoklatan

Enzimatis.

Http://muftimedia.files.wordpress.com/2012/08/browningenzimatis.docx. [[21 Mei 2016]


Kementrian Pertanian. 2012. Pedoman Penanganan Pasca Panen Tembakau.
Http://ditjenbun.deptan.go.id/pascapanen/downlot.php?
File=Permentan.no. 56.th.2012.ttg.pascapanen.tembakau.pdf [21
Mei 2016].
Korohama.2009. Budidaya Tembakau Bawah Naungan. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Makfoeld, Marseno, Hastuti, Anggrahini, Raharjo, Sastrosuwignyo, Suhardi,
Martoharsono, Hadiwiyoto, dan Tranggono. 2002. Kamus Istilah
Pangan dan Nutrisi. Yogyakarta: Kanisius.
Pinem. 2004. Rancang Bangun Alat Pengeringan Ikan Teri Kapasitas 12kg/jam.
Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Politeknik Negeri Malang.
Jurnal Teknik SIMETRIKA Vol.3. No.3. 249-253.
Standar Nasional Indonesia. SNI 01-0611-19893.

LAMPIRAN DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai