Anda di halaman 1dari 17

PUASA DALAM ISLAM

24JUN
Fiqh Shiyam (Puasa) adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum-hukum Islam berkaitan
dengan Shiyam (Puasa). Fiqh Shiyam penting untuk kita pelajari agar ibadah puasa kita
mendapat pahala dan mendapat sasaran yang diinginkan yaitu meningkatkan kualitas iman serta
taqwa berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.
DEFINISI PUASA
1.
Menurut bahasa, Puasa adalah MENAHAN sesuatu, baik makanan, minuman, katakata atau gerakan.
2.
Menurut istilah, Puasa adalah MENAHAN DIRI dari hal-hal yang membatalkan puasa
baik dari makan, minum, hubungan suami istri; dengan disertai niat; mulai terbitnya fajar
hingga terbenamnya matahari.
3. Makna Puasa Menurut Syara'
4.
Puasa yang diperintahkan, yang dituangkan nashnya dalam Al-Qur'an dan sunah,
berarti meninggalkan dan menahan diri. Dengan kata lain menahan dan mencegah diri
dari memenuhi hal- hal yang boleh, meliputi keinginan perut dan keinginan kelamin,
dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Inilah makna dari puasa secara syar'i itu: menahan dan mencegah diri secara sadar dari
makan, minum, orang bersetubuh dengan perempuan dan hal-hal semisalnya, selama
sehari penuh. Yakni dari kemunculan fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat
memenuhi perintah dan taqarub kepada Allah Swt.
Dalil yang menunjukkan bahwa puasa yang syar'i adalah menahan diri dari dua nafsu
syahwat sebagaimana disebutkan di depan, adalah firman Allah.,
5.





6.
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri
kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah
mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah
mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka
dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga
terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah
puasa itu sampai (datang) malam. (Al-Baqarah:187)
Ayat ini menjelaskan hakikat puasa yang diperintahkan ayat sebelumnya, yakni suami
dan istri dimalam bulan Ramadhan. Ini didasarkan pada kalimat,
7.

8.
Mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka...
Sebagaimana juga memperbolehkan makan dan minum sepanjang malam hingga terbit
fajar, kemudian memerintahkan menyempurnakan puasa hingga malam, yaitu hingga
terbenamnya matahari. Keterangan di atas diperkuat dari beberapa kumpulan hadis
Qudsi, salah satu hadits Qudsi yang sahih, bahwa Allah Swt. berfirman,
10.

9.

Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-ku dan Aku yang akan
memberinya pahala. Anak Adam meninggalkan makan dan syahwatnya karena-Ku. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan,

12.

11.
Dia meninggalkan makanannya karena-Ku, meninggalkan minumannya karena-Ku,
meninggalkan syahwatnya karena-Ku, dan meninggalkan istrinya karena-Ku. (HR. Ibnu
Khuzaimah dalam kitab Sahih-nya)
Tampaknya, makna puasa semisal ini telah dikenal oelh bangsa Arab sebelum islam.
Banyak hadits shahih yang menerangkan bahwa mereka sudah biasa melaksanakan puasa
asyura di zaman jahiliah untuk menghormati hari itu. Karena itu mereka diperintahkan
Nabi Saw. untuk mengerjakan puasa asyura, kemudian diperintahkan berpuasa bulan
Ramadhan sebagaimana perintah Allah Swt.,
13.

14.
... Telah diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) ... (Al-Baqarah:183)
Mereka paham maksud ayat ini dan segera melaksanakannya.
Tatkala beberap orang Arab Badui bertanya kepada Nabi Saw. tentang Islam, beliau
menyebut shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Mereka tidak bertanya perihal puasa
karena sudah merea pahami, namun mereka bertanya. "Apakah ada yang lain?"
Inilah puasa Islam itu, yang merupakan seutama-utamanya puasa yang dikenal
manusia. Sebagian penganut agama tertentu berpuasa dengan tidak menyantap makhluk
yang bernyawa, namun melahap semua jenis makanan dan minuman yang lezat, selain
bahwa mereka tidak berpuasa dari nafsu seksual.
Sebagian yang lain berpuasa berhari-hari secara terus-menerus, sehingga fisik dan
jiwanya merasakan beban berat, hingga tidak ada yang dapat melakukan kecuali orang-

orang tertentu.
Adapun puasa yang diwajibkan Islam, bisa ditunaikan oleh semua kaum Muslimin,
yang awam maupun kelompok tertentu.

PERINTAH WAJIBNYA PUASA


Firman Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS Al-Baqarah: 183)
Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan
yang bathil) maka barangsiapa mendapatkannya hendaklah ia puasa. (QS Al-Baqarah: 185)

Definisi Puasa
Shaum (puasa) secara bahasa bermakna imsk (menahan); dan secara syari bermakna: Menahan
diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan mulai terbitnya fajar shubuh hingga
terbenamnya matahari yang disertai dengan niat.

Hukum Puasa

Segenap umat Islam sepakat bahwa puasa di bulan Ramadhan itu hukumnya fardhu (wajib).
Dalil dari Al-Quran adalah firman Allah:

Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (Al-Baqarah: 183)

Dalil dari hadits (sunnah) adalah sabda Rasulullah:


.

: .

Islam dibangun di atas lima perkara, disebutkan di antaranya puasa bulan Ramadhan. (HR.
Al-Bukhari).

Barangsiapa yang tidak berpuasa (ifthar) sekalipun satu hari di siang Ramadhan tanpa udzur
(alasan yang dibenarkan syara) maka ia telah melakukan satu dosa besar. Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam telah bersabda tentang mimpi yang pernah ia saksikan:

:
:


: :
.
:
Sampai ketika aku berada di tengah gunung, tiba-tiba terdengar suara-suara yang sangat keras.
Maka aku bertanya, Suara apa ini? Mereka menjawab, Ini adalah teriakan penghuni neraka.
Kemudian dia (Jibril) membawaku pergi, tiba-tiba aku telah berada di hadapan suatu kaum yang
digantung dengan kaki di atas dan sudut mulut mereka terkoyak, dari sudut mulut mereka
bercucuran darah. Maka aku bertanya, Siapa mereka? Jibril menjawab, Mereka adalah orangorang yang berbuka puasa sebelum sampai waktunya. (Shahihut Targhib wat Tarhib: 1/420)
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, Sudah menjadi ketetapan bagi kaum muslimin,
bahwa barangsiapa yang meninggalkan puasa tanpa udzur (syari) maka ia lebih buruk dari pada
pezina dan pecandu khamar, bahkan mereka meragukan keislamannya dan menganggapnya
zindiq dan menyimpang dari agama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Apabila (seseorang) tidak puasa di bulan Ramadhan
karena menganggap halal (meninggalkannya), karena perbuatannya itu maka ia wajib dibunuh,
dan bila ia orang fasiq maka harus dihukum karena berbuka di siang hari bulan Ramadhan.
(Majmu Fatawa: 25/265)

Keutamaan Puasa

Keutamaan puasa itu sangat besar. Di antara hadits shahih yang menerangkan keutamaannya
adalah bahwasanya puasa telah dikhususkan oleh Allah bagi diri-Nya, dan bahwasanya Dialah
yang langsung memberikan pahalanya, dengan melipatgandakan pahalanya untuk orang yang
berpuasa dengan tanpa batas. Hadits menyebutkan:

.

Kecuali puasa, karena puasa adalah milik (bagi)-Ku dan Aku yang memberikan pahalanya.
(HR. Al-Bukhari).
Dan sesungguhnya puasa itu tiada tandingannya, doa orang yang berpuasa tidak ditolak, orang
yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan, yaitu apabila ia berbuka puasa ia gembira
karenanya, dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya ia bahagia karena puasanya, puasa dapat
memberikan syafaat pada hari Kiamat kepada orang yang berpuasa, dimana ia akan berkata,
Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka
izinkanlah aku memberikan syafaat kepadanya, dan sesungguhnya bau mulut orang yang
berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi, puasa adalah perisai
dan benteng yang paling kuat (yang mencegah) dari api neraka, dan barangsiapa yang berpuasa
satu hari fi sabilillah niscaya Allah menjauhkan mukanya dari api neraka sejauh tujuh puluh
tahun perjalanan, dan barangsiapa berpuasa satu hari karena semata mengharap keridhaan Allah
dan ia mati dalam keadaan berpuasa, niscaya ia akan masuk surga, di surga itu ada pintu yang

disebut Rayyan, darinya orang-orang yang berpuasa masuk (surga) dan tidak seorang pun masuk
lewat pintu itu selain mereka.
Sesungguhnya Ramadhan merupakan pilar (rukun) Islam, Al-Quran diturunkan di dalam bulan
ini dan pada bulan ini pula terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari pada seribu bulan.
Apabila bulan Ramadhan tiba pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setansetan dibelenggu. Puasa di bulan Ramadhan sama dengan puasa sepuluh bulan penuh.
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah,
niscaya dosa-dosanya yang telah lalu diampuni, dan Allah mempunyai banyak orang-orang yang
dibebaskan (dari neraka) pada setiap berbuka. (Untuk keterangan lebih lanjut mengenai rujukan
seputar hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan puasa di atas silakan lihat buku
terjemahan aslinya)

Faedah Puasa

Puasa mengandung banyak hikmah dan faedah yang berkisar pada ketaqwaan yang disebutkan
oleh Allah subhanahu wata'aala di dalam firman-Nya: agar kamu bertaqwa.
Penjelasannya adalah: Sesungguhnya apabila nafsu dapat menahan dirinya dari perbuatan halal
karena mendambakan keridhaan Allah subhanahu wata'aala dan takut hukuman-Nya, maka sudah
pasti tunduk untuk menahan diri dari yang haram.

Sesungguhnya apabila perut seseorang lapar, maka rasa lapar indra yang lain terhalangi,
dan apabila perutnya kenyang, maka akan laparlah lisan, mata, tangan dan kemaluannya (nafsu
seksnya). Jadi, puasa itu dapat mematahkan rongrongan setan dan melumpuhkan syahwat dan
menjaga anggota tubuh.

Sesungguhnya apabila orang yang berpuasa itu merasakan penderitaan lapar, maka ia
akan merasakan pula penderitaan orang-orang fakir, maka akan timbullah rasa belas kasih dan
uluran tangan untuk menutup kebutuhan mereka; karena sebagaimana pepatah mengatakan,
Berita itu tidak seperti dengan apa yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri dan orang
yang naik kendaraan itu tidak akan mengetahui sengsaranya pejalan kaki kecuali apabila ia jalan
kaki.

Sesungguhnya puasa dapat mendidik dan menumbuhkan kemauan menghindarkan dari


hawa nafsu dan jauh dari kemaksiatan, karena di waktu berpuasa kita dapat memaksa tabiat kita
dan menyapih nafsu dari kebiasaan-kebiasaannya.

Puasa juga membiasakan kita berdisiplin dan tepat waktu, yang mampu menanggulangi
keteledoran banyak orang jikalau mereka berakal.

Puasa juga menampakkan prinsip kesatuan kaum muslimin, dimana segenap umat
berpuasa dan berhari raya bersama pada bulan yang sama.

Di dalam berpuasa juga terdapat kesempatan yang sangat berharga bagi para dai untuk
menyeru manusia ke jalan Allah subhanahu wata'aala dimana pada bulan ini hati mereka
cenderung ke mesjid-mesjid. Di antara mereka ada yang masuk masjid merupakan yang pertama
kali, dan ada pula yang sudah lama tidak masuk masjid; mereka sedang berada di dalam suatu
kerinduan yang sangat jarang terjadi. Maka momentum ini harus digunakan sebaik-baiknya oleh
para dai untuk memberikan nasihat-nasihat yang menyentuh hati mereka dan menyampaikan
materi-materi yang sesuai serta ceramah-ceramah yang bermanfaat yang disertai dengan tolongmenolong dalam kebajikan dan ketaqwaan. Namun, hendaknya dai jangan terlalu disibukkan
mengurusi orang lain hingga lupa dirinya sendiri hingga seperti lilin, menerangi orang dan
membiarkan dirinya terbakar.

Alhamdulillah,
hukum taklifi (yang menuntut adanya perbuatan dan meninggalkan larangan) ada lima:
wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Kelima hukum ini ada dalam puasa. Kami
tidak akan menguraikan semua hukum yang terdapat dalam hukum-hukum tersebut,
akan tetapi kami akan sebutkan secukupnya saja.
Pertama: puasa wajib
1.

Puasa Ramadan

2.

Qadha puasa Ramadan

3.

Puasa kafarat (tebusan hukuman). Yaitu; kafarat karena membunuh tidak sengaja,

kafarat zihar (menyamakan punggung istri dengan ibunya, maksudnya tidak mau
menggaulinya lagi), kafarat berhubungan badan di siang hari pada bulan Ramadan dan
kafarat sumpah.
4.

Puasa orang yang menunaikan haji tamattu, sedangkan dia tidak mampu

menyembelih hadyu(seekor kambing). Firmna Allah: Maka bagi siapa yang ingin

mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih)
korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak
mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila
kamu telah pulang kembali. (QS. Al-Baqarah: 196)
5.

Puasa nazar

Kedua: Puasa Sunnah


1) Puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharam), 2) Puasa hari Arafah 3) Puasa senin Kamis
setiap minggu 4) Puasa tiga hari setiap bulan 5) Memperbanyak puasa di bulan Syaban 6)
Puasa enam hari di bulan Syawwal 7) Puasa pada bulan Muharam 8) Puasa sehari dan
berbuka sehari, dan ini adalah puasa yang terbaik
Semua itu telah dinyatakan dalam hadits hasan dan shahih, (semuanya) sudah ada di
website.
Ketiga: Puasa Makruh
1.

Mengkhususkan berpuasa pada hari Jumat. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu

alaihi wa sallam:
( )
Janganlah engkau semua (mengkhususkan) berpuasa pada hari Jumat kecuali engkau
semua berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. (HR. Muttafaq alaih)
2.

Mengkhususkan berpuasa pada hari Sabtu, Berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu

alaihi wa sallam:


(
960 " " 1726 2421k 744 )

Janganlah kamu semua (mengkhususkan) berpuasa pada hari Sabtu kecuali apa yang
Allah wajibkan kepada kamu semua. Kalau sekiranya salah seorang di antara kamu tidak
mendapatkan kecuali kulit anggur atau pelepah pohon (untuk berbuka, maka berbukalah
dengannya).
(HR.Tirmizi, no. 744 dihasankan oleh Abu Daud, no. 2421, Ibnu Majah, no. 1726 dan
dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab Irwaul Ghalil, no. 960. Tirmizi mengomentari:
Makna karohiyah dalam masalah ini adalah apabila seseorang mengkhususkan berpuasa
pada hari Sabtu, karena kaum Yahudi mengagungkan hari Sabtu.)
Keempat: Puasa Haram
1. Puasa pada hari Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari tasyriq, yaitu tiga hari setelah hari
nahar (Idul Adha).
2. Berpuasa pada hari yang meragukan. Yaitu hari ketiga puluh pada bulan Syaban, saat
di langit ada sesuatu yang menghalangi untuk melihat hilal (bulan tsabit awal bulan).
Adapun jika kondisi langit terang, maka tidak ada keragu-raguan.
3. Puasa wanita yang sedang haid atau nifas
Kelima: Puasa Mubah
yaitu yang tidak termasuk pada empat pembagian tadi. Maksud dari mubah disini adalah
berpuasa pada hari yang tidak diperintahkan dan tidak dilarang untuk berpuasa secara
khusus. Seperti hari Selasa dan Rabu. Meskipun asal dari berpuasa adalah ibadah sunnah.
Silahkan lihat buku Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, 28/10-19, dan Asy-Syarhu Al-Mumti, 6/457483
Wallahualam .

Jenis-Jenis Puasa
Posted: December 24, 2007 by antonsetiawan in Islam
Tags: jenis-jenis puasa, puasa, ramadhan
5
Puasa adalah ibadah yang berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan ibadah
tersebut mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan adalah jenis puasa
yang diwajibkan, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183-185. Jenis
puasa lain yang diwajibkan adalah puasa kafarat (denda, tebusan) dan puasa nazar. Selain itu, ada
juga puasa yang diharamkan, puasa makruh, dan puasa sunah.
Puasa haram. Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; (1) Puasa sunah yang dilakukan
seorang istri tanpa izin suaminya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari
dan Muslim. Seorang istri yang hendak melakukan puasa sunah harus terlebih dulu diketahui dan
mendapat izin dari suaminya. (2) Puasa yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
(3) Puasa pada hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah. (4) Puasa yang
dilakukan dalam keadaan haid atau nifas. (5) Menurut mazhab Syafii, puasa yang dilakukan
pada pertengahan akhir bulan Syakban. (6) Puasa yang dilakukan oleh seseorang yang takut akan
terjadi mudarat bagi dirinya apabila ia berpuasa.
Puasa sunah. Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; (1) Puasa Daud, yaitu puasa yang
dilakukan selang satu hari (sehari berpuasa sehari tidak, begitu seterusnya). Puasa ini, seperti
dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, lebih utama dari puasa-puasa sunah
lainnya. (2) Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan Hijriyah, yaitu pada tanggal 13, 14, dan
15. (3) Puasa pada hari Senin dan Kamis. (4) Puasa yang dilakukan selama enam hari pada bulan
Syawal, baik secara berturut-turut atau tidak.
Barangsiapa yang berpuasa belama enam hari sesudah puasa Ramadhan, ia seakan-akan telah
berpuasa wajib sepanjang tahun. (HR Muslim, dari Abu Ayyub RA). (5) Puasa hari Artafah, yaitu
puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah
haji. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah, Puasa hari Arafah dapat
menghapus dosa dua tahun, setahun yang lampau dan setahun mendatang. Bagi orang yang
sedang melakukan ibadah haji, puasa pada hari itu tidak disunahkan, bahkan sebaliknya,
disunahkan untuk tidak berpuasa. (6) Puasa pada hari ke delapan di bulan Dzulhijah (sebelum
hari Arafah). Puasa ini disunahkan tidak saja bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji
tetapi juga orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. (7) Puasa Tasuuaa, atau Asura, yaitu
puasa yang dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharam. (8) Puasa pada al-asyur al-hurum, yaitu
puasa yang dilakukan pada bulan-bulan Dzulkaidah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. Keempat
bulan ini merupakan bulan yang paling afdhal untul melaksanakan puasa sesudah bulan
Ramadhan. (9) Puasa di bulan Syakban.

Puasa makruh. Ada tiga macam, yaitu: (1) Puasa yang dilakukan pada hari Jumat, kecuali telah
berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. (2) Puasa wisaal, yaitu puasa yang
dilakukan secara bersambung tanpa makan dan minum pada malam harinya. (3) Puasa dahri,
yaitu puasa yang dilakukan terus-menerus. N disarikan dari ensiklopedi islam terbitan pt ichtiar
baru van hoeve
About these ads

Definisi, Hukum, Keutamaan dan Faedah Puasa


pada 21hb Julai 2011 jam 5.04 ptg
Definisi Puasa
Shaum (puasa) secara bahasa bermakna imsk (menahan); dan secara syari bermakna: Menahan
diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan mulai terbitnya fajar shubuh hingga
terbenamnya matahari yang disertai dengan niat.

Hukum Puasa

Segenap umat Islam sepakat bahwa puasa di bulan Ramadhan itu hukumnya fardhu (wajib).
Dalil dari Al-Quran adalah firman Allah:

Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (Al-Baqarah: 183)

Dalil dari hadits (sunnah) adalah sabda Rasulullah:


.

: .

Islam dibangun di atas lima perkara, disebutkan di antaranya puasa bulan Ramadhan. (HR.
Al-Bukhari).

Barangsiapa yang tidak berpuasa (ifthar) sekalipun satu hari di siang Ramadhan tanpa udzur
(alasan yang dibenarkan syara) maka ia telah melakukan satu dosa besar. Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam telah bersabda tentang mimpi yang pernah ia saksikan:
:
:


: :
.
:
Sampai ketika aku berada di tengah gunung, tiba-tiba terdengar suara-suara yang sangat keras.
Maka aku bertanya, Suara apa ini? Mereka menjawab, Ini adalah teriakan penghuni neraka.
Kemudian dia (Jibril) membawaku pergi, tiba-tiba aku telah berada di hadapan suatu kaum yang

digantung dengan kaki di atas dan sudut mulut mereka terkoyak, dari sudut mulut mereka
bercucuran darah. Maka aku bertanya, Siapa mereka? Jibril menjawab, Mereka adalah orangorang yang berbuka puasa sebelum sampai waktunya. (Shahihut Targhib wat Tarhib: 1/420)
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, Sudah menjadi ketetapan bagi kaum muslimin,
bahwa barangsiapa yang meninggalkan puasa tanpa udzur (syari) maka ia lebih buruk dari pada
pezina dan pecandu khamar, bahkan mereka meragukan keislamannya dan menganggapnya
zindiq dan menyimpang dari agama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Apabila (seseorang) tidak puasa di bulan Ramadhan
karena menganggap halal (meninggalkannya), karena perbuatannya itu maka ia wajib dibunuh,
dan bila ia orang fasiq maka harus dihukum karena berbuka di siang hari bulan Ramadhan.
(Majmu Fatawa: 25/265)

Keutamaan Puasa

Keutamaan puasa itu sangat besar. Di antara hadits shahih yang menerangkan keutamaannya
adalah bahwasanya puasa telah dikhususkan oleh Allah bagi diri-Nya, dan bahwasanya Dialah
yang langsung memberikan pahalanya, dengan melipatgandakan pahalanya untuk orang yang
berpuasa dengan tanpa batas. Hadits menyebutkan:

.

Kecuali puasa, karena puasa adalah milik (bagi)-Ku dan Aku yang memberikan pahalanya.
(HR. Al-Bukhari).
Dan sesungguhnya puasa itu tiada tandingannya, doa orang yang berpuasa tidak ditolak, orang
yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan, yaitu apabila ia berbuka puasa ia gembira
karenanya, dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya ia bahagia karena puasanya, puasa dapat
memberikan syafaat pada hari Kiamat kepada orang yang berpuasa, dimana ia akan berkata,
Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka
izinkanlah aku memberikan syafaat kepadanya, dan sesungguhnya bau mulut orang yang
berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi, puasa adalah perisai
dan benteng yang paling kuat (yang mencegah) dari api neraka, dan barangsiapa yang berpuasa
satu hari fi sabilillah niscaya Allah menjauhkan mukanya dari api neraka sejauh tujuh puluh
tahun perjalanan, dan barangsiapa berpuasa satu hari karena semata mengharap keridhaan Allah
dan ia mati dalam keadaan berpuasa, niscaya ia akan masuk surga, di surga itu ada pintu yang
disebut Rayyan, darinya orang-orang yang berpuasa masuk (surga) dan tidak seorang pun masuk
lewat pintu itu selain mereka.
Sesungguhnya Ramadhan merupakan pilar (rukun) Islam, Al-Quran diturunkan di dalam bulan
ini dan pada bulan ini pula terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari pada seribu bulan.

Apabila bulan Ramadhan tiba pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setansetan dibelenggu. Puasa di bulan Ramadhan sama dengan puasa sepuluh bulan penuh.
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah,
niscaya dosa-dosanya yang telah lalu diampuni, dan Allah mempunyai banyak orang-orang yang
dibebaskan (dari neraka) pada setiap berbuka. (Untuk keterangan lebih lanjut mengenai rujukan
seputar hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan puasa di atas silakan lihat buku
terjemahan aslinya)

Faedah Puasa

Puasa mengandung banyak hikmah dan faedah yang berkisar pada ketaqwaan yang disebutkan
oleh Allah subhanahu wata'aala di dalam firman-Nya: agar kamu bertaqwa.
Penjelasannya adalah: Sesungguhnya apabila nafsu dapat menahan dirinya dari perbuatan halal
karena mendambakan keridhaan Allah subhanahu wata'aala dan takut hukuman-Nya, maka sudah
pasti tunduk untuk menahan diri dari yang haram.

Sesungguhnya apabila perut seseorang lapar, maka rasa lapar indra yang lain terhalangi,
dan apabila perutnya kenyang, maka akan laparlah lisan, mata, tangan dan kemaluannya (nafsu
seksnya). Jadi, puasa itu dapat mematahkan rongrongan setan dan melumpuhkan syahwat dan
menjaga anggota tubuh.

Sesungguhnya apabila orang yang berpuasa itu merasakan penderitaan lapar, maka ia
akan merasakan pula penderitaan orang-orang fakir, maka akan timbullah rasa belas kasih dan
uluran tangan untuk menutup kebutuhan mereka; karena sebagaimana pepatah mengatakan,
Berita itu tidak seperti dengan apa yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri dan orang
yang naik kendaraan itu tidak akan mengetahui sengsaranya pejalan kaki kecuali apabila ia jalan
kaki.

Sesungguhnya puasa dapat mendidik dan menumbuhkan kemauan menghindarkan dari


hawa nafsu dan jauh dari kemaksiatan, karena di waktu berpuasa kita dapat memaksa tabiat kita
dan menyapih nafsu dari kebiasaan-kebiasaannya.

Puasa juga membiasakan kita berdisiplin dan tepat waktu, yang mampu menanggulangi
keteledoran banyak orang jikalau mereka berakal.

Puasa juga menampakkan prinsip kesatuan kaum muslimin, dimana segenap umat
berpuasa dan berhari raya bersama pada bulan yang sama.

Di dalam berpuasa juga terdapat kesempatan yang sangat berharga bagi para dai untuk
menyeru manusia ke jalan Allah subhanahu wata'aala dimana pada bulan ini hati mereka
cenderung ke mesjid-mesjid. Di antara mereka ada yang masuk masjid merupakan yang pertama
kali, dan ada pula yang sudah lama tidak masuk masjid; mereka sedang berada di dalam suatu
kerinduan yang sangat jarang terjadi. Maka momentum ini harus digunakan sebaik-baiknya oleh
para dai untuk memberikan nasihat-nasihat yang menyentuh hati mereka dan menyampaikan
materi-materi yang sesuai serta ceramah-ceramah yang bermanfaat yang disertai dengan tolongmenolong dalam kebajikan dan ketaqwaan. Namun, hendaknya dai jangan terlalu disibukkan
mengurusi orang lain hingga lupa dirinya sendiri hingga seperti lilin, menerangi orang dan
membiarkan dirinya terbakar.
Rencana ini berkaitan dengan amalan puasa masyarakat
Islam. Untuk lebih umum, sila ke rencana Puasa.
Puasa Ramadhan[sunting | sunting sumber]
Puasa Ramadhan ertinya menahan diri daripada makan dan minum serta segala perbuatan yang
boleh membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sehinggalah terbenam matahari pada bulan
Ramadhan. Hukum puasa Ramadhan adalah wajib bagi umat Islam. Umat Islam juga
dikehendaki menahan diri daripada menipu, mengeluarkan kata-kata buruk atau sia-sia, serta
bertengkar atau bergaduh. Ini kerana puasa merupakan medan latihan memupuk kesabaran,
kejujuran serta bertolak ansur dalam diri. Secara tidak langsung amalan puasa akan
menyuburkan sikap murni di dalam diri pelakunya. Adalah menjadi harapan kita agar kesemua
nilai yang baik ini akan terus dipraktikkan ke bulan-bulan berikutnya.
Dalil Wajib Puasa Ramadhan[sunting | sunting sumber]
Firman Allah S.W.T: Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu
berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu
menjadi orang-orang yang bertaqwa. - (Surah Al-Baqarah: 183)
Hadis Rasulullah s.a.w: Ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w melalui sabdanya yang diriwayatkan
oleh Ahmad, An- Nasa'i dan Al Baihaqi dari Abu Hurairah, yang bermaksud:
|" Sesungguhnya telah datang kepada kamu bulan Ramadhan bulan yang penuh berkat. Allah
telah fardhukan ke atas kamu berpuasa padanya. Sepanjang bulan Ramadhan itu dibuka segala
pintu Syurga dan ditutup segala pintu neraka serta dibelenggu segala syaitan......."
Niat Puasa Ramadhan[sunting | sunting sumber]
Tidak wajib dan tidak juga sunat berniat dalam bahasa Arab, memadai dalam bahasa Melayu atau
apa-apa bahasa yang kita fahami. Tetapi baik dan berpahala jika diamalkan dalam bahasa Arab
dengan niat kita cinta kepada bahasa Arab sebagai bahasa Nabi Muhammad s.a.w. dan bahasa AlQuran.
Lafaz niat[sunting | sunting sumber]
Lafaz setiap malam. Niat ringkas:



Niatnya: Sahaja aku puasa Ramadhan kerana Allah Taala.
atau
Niatnya: Sahaja aku puasa esok hari bagi menunaikan puasa Ramadhan tahun ini kerana Allah
Taala.(nawaitu sauma ghadin an ada-i fardi ramadana hazihis sanati lillahi taala)
Sebenarnya bangun untuk bersahur itu sudah dikira berniat untuk berpuasa, malah ada niat atau
cita-cita di dalam hati untuk bangun sahur itu juga dikira sudah berniat untuk berpuasa kerana
seseorang itu tidak bangun sahur atau bercita-cita bangun sahur melainkan bertujuan untuk
berpuasa esok harinya, melainkan jika dia memang berniat tidak mahu berpuasa jika tidak terjaga
semasa waktu sahur.
Menurut mazhab Syafie, Hanafi dan Hambali bagi puasa Ramadhan itu wajib diniatkan pada
setiap malam sepanjang bulan tersebut, waktunya mulai terbenam mata hari hinggalah sebelum
terbir fajar pada malam-malam tersebut. Manakala mazhab Maliki pula menyatakan bagi puasa
Ramadhan itu memadai diniatkan sekala sahaja iaitu pada malam pertama dengan meniatkan
sebulan penuh.[1]
Lafaz niat puasa Ramadhan sepenuhnya untuk sebulan:
Lafaznya:
Niatnya: Sahaja aku berpuasa sebulan Ramadhan tahun ini kerana Allah Taala.
(Nawaitu sauma syahri ramadana kullihi lillaahi taaalaa)
Digalakkan berniat puasa untuk sebulan dengan sekali niat pada malam pertama Ramadhan bagi
mengelakkan daripada tidak sah puasa kerana terlupa berniat pada malamnya, kita mengikut
Imam Malik yang membolehkan berniat untuk sebulan sekali gus.
Namun begitu, jika puasa Ramadhan kita terputus oleh sesuatu sebab, seperti haidh, sakit atau
lain-lain, maka niat puasa sebulan itu tidak lagi memadai untuk hari-hari puasa yang seterusnya,
tetapi, hendaklah diperbaharui niat apabila tidak ada lagi perkara yang menghalang daripada
puasa berturut-turut tersebut. Maksudnya, dengan memperbaharui niat sekali lagi bagi semua
hari-hari puasa Ramadhan yang berbaki, iaitu lafaz niatnya:
Niatnya: Sahaja aku berpuasa esok dan sehingga akhir Ramadhan ini kerana Allah Taala.
Waktu berniat[sunting | sunting sumber]
Waktu berniat bermula daripada terbenam matahari, yakni masuk waktu sembahyang fardhu
Maghrib hinggalah sebelum terbit fajar shadiq (waktu Subuh). Oleh itu, bolehlah dilakukan niat
puasa pada mana-mana bahagian daripada waktu tersebut, walaupun semasa berbuka.
Kelebihan Bulan Ramadan[sunting | sunting sumber]
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkatan. Di dalam bulan Ramadhan ada
satu malam yang lebih baik dariapada seribu bulan iaitu Lailatul Qadar atau Malam al-Qadar.

Lailatul Qadar atau Malam Qadar ialah satu malam dalam bulan Ramadhan yang lebih baik
daripada 1,000 bulan. Sesiapa yang beramal pada malam tersebut sama seperti beramal selama
1,000 bulan, iaitu bersamaan 83 tahun 4 bulan, jika mendapatnya selama 10 tahun bersamaan
beribadat lebih 833 tahun, jika mendapatnya selama 20 tahun bersamaan lebih 1,666 tahun, jika
mendapatnya selama 30 tahun mendapatnya bersamaan 2,500 tahun. Maka berbahagialah orang
yang tidak pernah meninggalkan Solat Isyak berjamaah dan Solat Sunat Tarawih kerana orang
yang solat Isyak berjamaah dan solat Tarawih termasuk dari kalangan orang mendapat Lailatul
Qadar.
Rasullah
mengatakan sesiapa yang tidak mendapatnya dia adalah tergolong daripada orang
yang amat rugi. Lailatul Qadar satu malam dalam bulan Ramadan yang tidak diketahui dengan
tepat tarikhnya. Ia lebih diharapkan untuk mendapatkannya pada 10 malam yang terakhir
Ramadan, terutama malam-malam yang ganjil daripada 10 hari terakhir Ramadan tersebut.
Waktunya dikira apabila masuk waktu Maghrib sehingga terbit fajar. Pada malam itu al-Quran
diturunkan, malam Qadar berlaku pada 17 Ramadan, sementara menurut al-Mubarakfury alQuran turun pada malam 21 Ramadan.
Orang yang pasti mendapat sebahagian Lailatul Qadar ialah orangyang solat Fardhu Maghrib dan
Isyak secara berjamaah sepanjang bulan Ramadan, dan dia tidur dengan azam yang kuat untuk
solat Subuh berjemaah. Sabda Rasulullah
Sesiapa yang solat Isyak berjemaah, maka
seolah-olah dia telah berqiyamulail separuh malam; Dan sesiapa yang solat Subuh berjemaah,
maka seolah-olah dia telah bersolat sepanjang malam. (Hadis Sahih Riwayat Imam Tarmizi,
Ibnu Majah dan Nasai)
Sabda Rasulullah
: "Allah berfirman; "Sesungguhnya dia (hamba) meninggalkan makan dan
minum serta syahwatnya kerana-Ku. Puasa (yang dikerjakan) kerana-Ku. Puasa adalah untukKu. Sedangkan, Aku memberi balasan setiap kebaikan itu dengan sepuluh kali ganda sehingga
700 kali ganda kecuali ibadah puasa. Ini kerana, ia (puasa) adalah untuk-Ku, dan (sudah tentu)
Aku sendiri yang akan memberi balasannya."
(Hadis diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha, Kitab
al-Syiyam. No:603)
Hukum puasa[sunting | sunting sumber]
Puasa Wajib[sunting | sunting sumber]
Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu daripada Rukun Islam. Syariat puasa Ramadhan
difardhukan kepada umat Muhammad s.a.w. pada tahun ke-2 Hijrah. Makanya, wajiblah ia
dilakukan oleh semua orang Islam.
Puasa Kifarah.
Puasa qadha
Puasa Nazar.
Puasa Sunat[sunting | sunting sumber]

Hari-hari berikut disunatkan berpuasa bagi umat Islam:


Puasa enam hari pada bulan Syawal
Puasa pada Hari Arafah pada 9 Zulhijjah, namun menurut Ahli Sunah Waljamaah (Sunni),
berpuasa pada 9 Zulhijjah adalah haram bagi orang yang menunaikan ibadahHaji. Berpuasa pada
9 Zulhijjah juga adalah dilarang dalam Mazhab Syiah.
Puasa pada hari tasu'a 9 muharam danHari Asyura pada 10 Muharam
Puasa pada Hari Isnin dan Khamis
Puasa pada 13, 14, 15 haribulan pada setiap bulan IslamHijrah. Pada tarikh-tarikh tersebut bulan
akan berada dalam keadaan amat jelas kelihatan serta purnama penuh. Juga dikenali sebagai
Puasa Hari Putih.
Puasa Haram[sunting | sunting sumber]
Rencana utama: Tempoh haram puasa
Puasa pada Hari Syak pada hari 30 Syaaban
Puasa pada Hari Raya Aidil Fitri pada 1 Syawal
Puasa pada Hari Raya Aidil Adha pada 10 Zulhijjah
Puasa pada Hari Tashriq pada 11, 12, 13 Zulhijjah
Puasa perempuan haid & Nifas
Puasa pada Hari Arafah yakni pada 9 Zulhijjah, larangan berpuasa menurut Mazhab Syiah, tetapi
berpuasa pada hari tersebut adalah sunat bagi Muslim yang mengikuti Mazhab Ahli Sunah
Waljamaah, namun menurut pandangan Ahli Sunah Waljamaah juga, haram berpuasa pada hari
tersebut bagi orang yang menunaikan Haji di Arafah.
Puasa sunat seorang perempuan tanpa izin suaminya sedangkan suaminya berada di rumah
Puasa bagi orang yang bimbang berlakunya mudharat ke atas dirinya kerana berpuasa

(Melayu) http://www.ahmadrushdi.com/2009/08/puasatakrif-pensyariatan-dan-rahsia/

(Melayu) http://www.alazim.com/masjid/seminar/kertaskerja2.pdf

(Melayu) http://www.daawah.com/links/islam/puasa/

(Melayu) http://www.syariahonline.com/puasa/index.htm

(Melayu) http://www.sabah.org.my/solat/artikel/puasa/m
ukadimmah.htm

(Melayu) Amalan puasa dan manusia sejagat

(Melayu) Ibadah puasa dan peranannya dalam rawatan


detoksifikasi

(Melayu) Kebaikan berpuasa dalam menahan ketagihan


merokok dan kesannya kepada kesihatan