Anda di halaman 1dari 34
BAB I PENDAHULUAN Mobil saat ini sudah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
Mobil saat ini sudah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan
masyarakat kita. Dimulai dari konsep mengangkut orang dari satu titik ke titik lain,
mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain, sampai dengan dengan mobil yang
bisa memenuhi self esteem atau gengsi si pemakai. Mobil yang awalnya dengan fungsi
utama semata hanya sebagai alat transportasi orang dan barang kini selain dengan fungsi
utama seperti diatas, mobil menjadi sebuah alat untuk mencitrakan diri, sarana untuk
aktualisasi diri serta memenuhi self esteem individu. Oleh karenanya bentuk dan styling
eksterior memberikan pangaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
Berbagai macam kendaraan membanjiri pasar mobil tanah air, dengan jumlah
penduduk sekitar 200 juta jiwa tingkat inflasi yang stabil di kisaran membuat ekonomi
Indonesia terus tumbuh dengan stabil, dan diperkirakan bakal berada di peringkat 12
dalam beberapa tahun mendatang. Dengan keadaan Indonesia sebagai pasar industri
otomotif yang menjanjikan, mengakibatkan pasar mobil nasional mulai di serbu berbagai
produsen kendaraan yang mana akan memberikan banyak pilihan bagi para konsumen
dalam membeli mobil. Pasar yang semakin ramai dengan banyaknya produsen akan
membuat persaingan antar produsen semakin ketat, hal ini akan mendorong tiap-tiap
produsen untuk terus melakukan inovasi agar tidak kehilangan konsumen. Suzuki dengan
sejarah yang panjang di Indonesia juga di tuntut untuk terus berinovasi, Grand Vitara
yang telah menginjak generasi ketiga saat ini harus melakukan perubahan karena umur
desainnya yang sudah 6 tahun. Oleh karena itu dalam perancangan ini akan mendesain
mobil Grand Vitara yang ditargetkan untuk meramaikan pasar SUV di tanah air pada
tahun 2015.
1.1
Latar Belakang
1.1.1
Sejarah Suzuki Grand Vitara
Suzuki Grand Vitara pertama kali beredar pada tahun 1988 di pasar domestik
Jepang dengan nama Suzuki Escudo, dan Suzuki Vitara pada pasar Amerika setahun
berikuttnya. Kemunculan Suzuki Vitara adalah respon terhadap keinginan pasar yang
menginginkan kendaraan seperti Suzuki Jimny dengan desain yang compact, praktis dan
tangguh namun dengan dimensi yang sedikit lebih besar agar kabih lebih luas dapat
mengangkut lebih banya orang dan terdapat ruang kargo sehingga dapat digunakan
sebagai kendaraan harian. Suzuki Vitara masih mengusung bentuk kotak layaknya

2

kendaraan 4x4 yang maskulin namun dengan atap yang landai dan dimensi yang relatif kecil membuatnya
kendaraan 4x4 yang maskulin namun dengan atap yang landai dan dimensi yang relatif
kecil membuatnya bisa dikendarai oleh berbagai gender alias unisex. Suzuki Vitara
menawarkan dua model bodi, varian 2 pintu dan 4 pintu. Kehadirannya mendapat respon
yang bagus dari pasar sehingga beredar di berbagai negara meskipun dengan nama yang
berbeda-beda, Di Indonesia Suzuki Vitara hadir pada tahun 1992, lalu 2 tahun berikutnya
yakni tahun 1994 hadir Suzuki Escudo yang serupa dengan Suzuki Vitara namun hanya
berpenggerak 4x2 untuk menyasar masyarakat perkotaan, dan pada tahun 1996 hadir pula
Suzuki Sidekick yang merupakan versi paling bawah sebagai model entry level, sehingga
hanya di Indonesia yang beredar 3 jenis Suzuki Vitara secara bersamaan namun
semuanya model 4 pintu dan bermesin bensin 1.9 liter. Generasi awal Suzuki Vitara ini
bertahan cukup lama yakni 9 tahun dari tahun 1988 sampai 1998 sebelum akhirnya
muncul generasi kedua pada tahun 1999. Generasi kedua Suzuki Vitara bentuk bodinya
lebih membulat, seolah terseret arus pasar saat itu dimana bentuk-bentuk mobil mulai
membulat. Hal ini nampak pada generasi awal Honda CR-V pada tahun 1996 yang mana
bentuknya membulat, mungkin saat itu pihak Suzuki mencoba merespon trend yang ada
namun hasilnya Suzuki Vitara seolah kehilangan jati diri karena bentuknya mulai serupa
dengan SUV pada umumnya. Penjualan Suzuki Vitara di Amerika tidak terlalu bagus,
hanya 4860 yang terjual selama 2004, selain itu muncul beberapa kali facelift agar Suzuki
Vitara dapat bersaing, sebelum akhirnya benar-benar harus diganti dengan model yang
lebih baru pada 2006. Suzuki Vitara generasi kedua sering disebut kegagalan desain oleh
kebanyakan orang, karena gagal meneruskan semangat dari desain pendahulunya. Dan
pihak Suzuki menjawab kegagalan ini dengan meluncurkan generasi ketiga Suzuki Vitara
dengan nama Grand Vitara yang seolah kembali ke akarnya, mengarah ke bentuk awal
generasi pertama yang berbentuk boxy. Beberapa bentuk ada yang hilang dan ada yang
muncul lagi pada generasi ketiga ini, dan akan dibahas lebih lanjut dibagian lain dari
laporan ini.
Gambar 1.1 Perubahan bentuk Suzuki Grand Vitara
Sumber : wikipedia.com, 3 Februari 2012

3

1.1.2 Penurunan Penjualan Suzuki Grand VItara Sama seperti generasi sebelumnya, Suzuki Grand Vitara tetap membawa
1.1.2 Penurunan Penjualan Suzuki Grand VItara
Sama seperti generasi sebelumnya, Suzuki Grand Vitara tetap membawa
semangat seperti predecessor-nya, compact 4x4 tangguh yang dapat menjelajah beragam
medan. Namun semangat lama itu tetap dibarengi dengan inovasi untuk menyesuaikan
dengan trend saat ini, yang sangat kentara tentunya adalah penambahan dimensi yang
membuatnya terlihat lebih besar dan lebih gagah dibanding pendahulunya. Dengan tetap
memepertahankan tradisi compact 4x4 yang tangguh seharusnya membuat Suzuki Grand
Vitara sebagai kendaraan special segment, namun dengan trend yang berkembang saat ini
dimana SUV tidak lagi harus berpenggerak 4 roda, membawa ban cadangan di
belakangnya, dan berbentuk kotak-kotak membuat Suzuki grand Vitara harus membuat
penyesuaian jika tidak ingin ditinggalkan konsumen.
Penjualan Suzuki Grand Vitara tidak bisa dikatakan kurang laku meskipun secara
angka berada di bawah Honda CR-V dan Nissan X-Trail yang secara tidak langsung
menjadi kompetitornya, hal ini dikarenakan meskipun berada di segmen mobil yang sama
namun Suzuki Grand Vitara menyasar tipe konsumen yang berbeda dengan
kompetitornya. Namun karena berada di segmen mobil yang sama dengan Honda CR-V
dan Nissan X-Trail tentunya harus membuat pihak pabrikan berpikir tentang potensi
konsumen yang bisa “dicuri” dari dan oleh kompetitornya. Karena berada dalam koridor
bisnis tentu lebih baik “mencuri” konsumen kompetitor daripada kehilangan konsumen,
dan untuk itu ada dua hal yang bisa dilakukan oleh pihak pabrikan. Satu, secara langsung
bersaing dengan kompetitor dengan mengikuti mainstream yaitu menggunakan penggerak
2 roda agar konsumsi bahan bakar lebih irit, menanggalkan ban cadangan di belakang
pintu agar lebih terlihat seperti SUV perkotaan pada umumnya, dan tentunya mengubah
karakter styling. Opsi ini tentu akan membuat Suzuki Grand Vitara keluar dari pakemnya,
selain itu dengan karakter desain yang lebih kotak dan lebih kaku juga tidak membuat
Nissan X-Trail ditinggalkan konsumen.
90,000
80,000
70,000
60,000
Suzuki Grand Vitara
50,000
KIA Sportage
40,000
Hyundai Tucson
30,000
Subaru Forester
20,000
10,000
0
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Gambar 1.2 Penjualan Suzuki Grand Vitara pada pasar Amerika Serikat
Sumber : goodcarbadcar.com, 4 Februari.com

4

Pilihan yang kedua adalah tetap bersaing tidak langsung dengan mengincar segmen khusus, misal contohnya dulu
Pilihan yang kedua adalah tetap bersaing tidak langsung dengan mengincar
segmen khusus, misal contohnya dulu kendaraan pickup double cabin lazim dipergunakan
di daerah pertambangan dan perkebunan. Secara perlahan kemudian melekat imej
kendaraan tangguh dan serba guna pada doble cabin, karena imej tersebut sekarang tidak
jarang double cabin berkeliaran di jalanan perkotaan. Padahal bak belakangnya jarang
sekali digunakan saat bepergian dalam kota, namun dengan dimensi yang cukup besar
dan konsumsi bahan bakar yang lebih boros dibandingkan city car tetapi tetap saja
banyak orang yang menggunakannya demi prestige 1 .
Contoh lain didapatkan penulis dari Suzuki Jimny, dulu sekitar awal 2000-an
Suzuki Jimny hanya banyak terlihat di kompetisi off-road sebagai kendaraan bagi
pembalap 4x4 pemula. Namun saat ini banyak juga Suzuki Jimny yang beredar di jalanan
kota, dengan modifikasi off-road yang minim namun tetap kentara dan tentunya
menyesuaikan penampilan urban, salah satunya meniadakan ban cadangan yang di berada
di pintu belakang. Komunitas-komunitas Jimny kota juga banyak bermunculan, banyak
dari anggotanya mengaku jarang sekali bermain “off-road” dan menggunakan Jimny
karena style-nya
Jadi penulis mengambil pilihan kedua dalam strategi marketing
pengembangan Suzuki Grand Vitara dengan menguatkan konsep yang sudah ada dengan
target yang dituju adalah segmen khusus, seperti komunitas pecinta 4x4, pecinta kegiatan
alam (diver, surfer, nature traveler, penggiat downhill), kendaraan dinas kepolisian dan
militer, masyrakat daerah dengan kontur wilayah yang membutuhkan kendaraan 4x4.
Gambar 1.3 Trend modifikasi kendaraan 4x4 untuk perkotaan
Sumber : majalah jip edisi Februari 2012
1 Bambang Indarto, staff R&D roda 4 PT Suzuki Indomobil Motor
2 Majalah JIP, edisi 118, Februari 2012

5

1.1.3 Styling untuk Memenangkan Persaingan Hubungan antara desain eksterior yang bagus dengan penjualan adalah
1.1.3 Styling untuk Memenangkan Persaingan
Hubungan antara desain eksterior yang bagus dengan penjualan adalah
berbanding lurus, setiap mobil dengan styling eksterior yang di apresiasi positif oleh
masyarakat dan media pasti akan terdongkrak penjualannya. Banyak contoh yang bisa
ditemui, pada masa lampau adalah kehadiran mobil-mobil seperti Mini Cooper, Ford
Mustang, ataupun Porsche 911 yang kemudian menjadi ikon pada eranya masing-masing.
Ford Mustang, adalah sebuah nama yang pasti akan dikenal oleh semua penggemar
otomotif, styling eksteriorrnya mewakili karakter yang dibawanya, yakni kuat dan cepat.
Mesin dengan tenaga besar yang mampu melejitkan mobil dengan sangat cepat, desain
eksteriornya mendapat banyak apresiasi yang bagus pada saat itu, bahkan sampai
sekarang. Para perancang mobil menyebut desainnya timeless dan media menyebutnya
ikon, seperti itulah kira-kira penggambaran apresiasi oleh media dan masyarakat. Di era
saat ini juga banyak yang bisa dijadikan contoh, salah satunya yang saat ini sedang terjadi
pada KIA Motors. Kehadiran Peter Schreyer sebagai chief designer pada pabrikan mobil
Korea ini memberikan nuansa berbeda dibandingkan KIA pada masa lampau. Strategi
marketing perusahaan yang berusaha menaikkan derajat kelas brand KIA menjadikan
desain styling sebagai ujung tombak. Dengan styling desain yang terlihat adavanced
konsumen tentu tak perlu lagi malu untuk membelinya. Banyak orang membelinya
dengan alasan harga yang lebih murah karena faktor teknologi dan brand yang sedikit
dibawah prbrikan Jepang namun desain-desainya tidak kalah bagusnya dengan pabrikan
lain. Bahkan beberapa mobilnya mendapat penghargaan, pengakauan dan apresiasi yang
turut mendongkrak penjualannya. Salah satunya adalah All New KIA Sportage yang
mendapat penghargaan Best Exterior Design pada helatan Indonesia International Motor
Show 2011 lalu, berkat styling eksteriornya yang mendapat apresiasi positif saat ini
penjualanya terus menanjak. Secara keseluruhan, kini pabrikan Korea ini di mata
konsumen bisa disejajarkan dengan pabrikan-pabrikan Jepang.
Gambar 1.4 All New KIA Sportage, meraih penghargaan Best Exterior Design Awards
Sumber : majalah Car & Tuning Guide edisi 425, November2011

6

6 1400 1200 1000 800 600 Amerika 2011 400 Amerika 2010 200 0 Gambar 1.5 Perbandingan
1400 1200 1000 800 600 Amerika 2011 400 Amerika 2010 200 0 Gambar 1.5 Perbandingan
1400
1200
1000
800
600
Amerika 2011
400
Amerika 2010
200
0
Gambar 1.5 Perbandingan penjualan All New KIA Sportage pada 2011 dan 2012
pada pasar Amerika
Sumber : goodcarbadcar.net, 4 Februari 2012
Eksterior adalah bagian yang pertama dilihat oleh orang, bagian pertama yang
langsung bisa dirasakan oleh orang, dan bagian pertama yang akan memberi kesan pada
orang. Bagian yang akan memberikan emosi kepada orang yang melihatnya, karena itu
muncul sebutan mobil sporty, mobil yang elegan, mobil yang cute dan sebagainya. Orang
Prancis melihat mobil hampir sama dengan melihat lawan jenis, ketika suka akan sebuah
model mobil ada perasaan kuat bahwa itu adalah model yang dia suka atau tidak. Ketika
melihat bagian samping mobil dengan refleksi-refkelsinya, menyentuh permukaannya,
dan kemudian membayangkan berada di kabinnya dan memegang setir kemudi, dan
semua emosi – emosi positif , seolah seperti jatuh cinta mereka tidak mempedulikan
alasannya. Melihatnya dan kemudian suka tanpa alasan yang panjang, mereka
menyebutnya sebagai desain "coup de coeur" 3 .
Styling
untuk
memenangkan
persaingan ini adalah sebuah kebutuhan, kebutuhan ini bisa dilihat dari perkembangan
bentuk eksterior kendaraan dari waktu ke waktu.
Gambar 1.6 Renault Twingo dan Fiat 500
sumber : carbodydesign.com, 2 Februari 2012
3 Karim Habib, kepala desain eksterior departemen automobile BMW.
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

7

Hubungan antara desain eksterior yang bagus dengan penjualan adalah berbanding lurus, setiap mobil dengan styling
Hubungan antara desain eksterior yang bagus dengan penjualan adalah
berbanding lurus, setiap mobil dengan styling eksterior yang di apresiasi positif oleh
masyarakat dan media pasti akan terdongkrak penjualannya. Tiap-tiap produsen mobil
dituntut untuk selalu menghasilkan mobil dengan karakter yang bagus, mengkuti trend
terkini, serta memberikan nilai lebih serta inovasi. Sebagai contohnya mobil sedan yang
merupakan mobil untuk kebutuhan self esteem, dulu sekitar tahun 60-70an bentuknya
hanyalah kotak biasa dengan bonnet dan hatch belakang yang sama panjang, kaca depan
dan kaca belakang sudut kemiringannya sama, dan bentuknya hanya kotak biasa sehingga
jika dilihat dari siluet samping orang akan kesusahan membedakan antara yang depan dan
belakang. Namun sekarang bentuknya sudah jauh berkembang, bentuknya sudah semain
dinamis, dengan perbedaan sudut kemiringan kaca depan dan belakang, perbedaan
panjang bonnet dan hatch belakang, serta penggunaan fender pada samping kendaraan
yang mengesankan kendaraan lebih kokoh, lebih masukulin.
Gambar 1.7 Perubahan bentuk siluet samping pada mobil
sumber : penulis
Perubahan yang juga bisa dirasakan adalah perubahan pada BMW seri 5, yang
mulai beredar pada tahun 1973, pada BMW seri 5 generasi awal ini bentuknya masih
kotak dengan panjang bonnet dan hatch belakang hampir sama, sudut kemiringan kaca
depan dan belakang juga hampir sama. Yang membedakan antara bagian depa dan
belakangnya adalah lebar pilar C jauh lebih lebar dari pilar A yang terkesan kurus. Pada
BMW E12 ini sudah dimulai trend penggunaan flare line, terlihat pada samping ada garis
dibawah belt line. Namun pada masa itu lampu benar-benar menghadap kedepan, lalu ada

8

side body molding di samping. Selain itu tinggi garis bumper juga pendek, berbeda dengan mobil
side body molding di samping. Selain itu tinggi garis bumper juga pendek, berbeda
dengan mobil saat ini yang garis bumpernya berkesan tinggi. Badan samping atau belt
line atau bahu mobil juga terkesan datar, hanya di bagian bonnet dan hatch menunjukkan
adanya dinamika sedangkan pada bagian tengah hanya lurus statis. Pada BMW E39 atau
generasi ke empat dari BMW seri 5 yang beredar tahun 1995-2003, garis badan sudah
tidak berkesan kaku lagi, hatch belakang semakin terlihat lebih pendek dibanding
generasi-generasi sebelumnya. Selain itu pilar C semakin tipis mengimbangi pilar A dan
bentuknya mulai melandai, hatch belakang mulai meninggi, flare line masih
dipertahankan memanjang dari bonnet depan ke hatch belakang dan lampu depan mulai
sedikit ada terusan ke samping badan. Perubahan paling atraktif tentu terlihat pada BMW
seri 5 terbaru, desain lampunya sudah menyamping dan tidak datar, terlihat seolah mata
yang sesesorang yang sedang serius, memberi kesan mobil yang serius, optimistis, selain
itu bentuk hatch belakang juga seolah semakin pendek namun meninggi berbeda dengan
generasi sebelumnya yang pangjang. Atap juga semakin berbentuk kurva, mengalir dari
bonnet depan sampai ke hatch belakang, tidak dijumpai lagi ada patahan garis pada atap.
Berikut adalah perubahan pada BMW seri 5 dari generasi satu sampai ke enam:
Gambar 1.8 Perubahan dari tiap generasi ke generasi BMW seri 5
sumber : penulis

9

1.1.4 Styling Eksterior Mobil di Tinjau dari Teori-Teori Dasar Perancangan Dalam mengajukan proposal model mobil,
1.1.4 Styling Eksterior Mobil di Tinjau dari Teori-Teori Dasar Perancangan
Dalam mengajukan proposal model mobil, proporsi adalah elemen yang sangat
penting, tidak ada proporsi tidak ada proyek 4. Namun sebelum membuat bentuk di atas
roda yang pertama diperlukan adalah menetukan tema desain baru yang kuat, sesuatu
yang inovatif dan seimbang dan yang terakhir adalah detail-detail yang bagus. Desain
keseluruhan haruslah harmonis, menyampaikan pesan (simple design, classic design,
contemporary design, post modern, advanced reasearch dan sebagainya). Membetnuk
pahatan eksterior pada mobil tentu tidak sembarangan, ada dasar-dasar ilmu ataupun
pendekatam seni yang dipakai. Sebuah bentuk dibangun oleh pola komplementer (saling
melengkapi) dan membutuhkan akurasi yang tinggi untuk mencapai keutuhan ungkapan.
Dengan melihat hal tersebut maka keselarasan menitik-beratkan penilaian pada tepat atau
tidaknya sistem penyusunan unsur – unsur visual pada sebuah karya. Dan dalam
perancangan bentuk ada 3 hal yang harus diperhatikan, yaitu proporsi, keselarasan dan
irama.
1.1.4.1 Proporsi
Proporsi adalah perbandingan antara ukuran dan kualitas bagian-bagian dan
hubungannya terhadap bentuk fisik keseluruhan. Proporsi erat kaitannya dengan
keseimbangan, kesatuan dan harmoni untuk menciptakan nilai estetik sebuah karya, jadi
proporsi berkaitan langsung dengan imej yang ingin di sampaikan. Proporsi terdapat
dalam banyak hal dan memberikan kesannya masing-masing, sebagai contoh proporsi
badan seekor gorilla bagian pinggang ke atas terlihat lebih besar daripada pinggang ke
bawah memberikan kesan sebagai sosok yang tangguh, kekar, kuat. Sejak setelah jaman
renaissance, banyak seniman dan arsitek melakukan pendekatan proporsi dengan metode
Golden Section, untuk menetukan perbandingan yang tepat antara bagian yang panjang
dan pendek. Bila tatanan visual didasarkan pada sistem proporsi, maka seakan – akan
seluruh permasalahan arsitektur dan seni dapat diskalakan pada angka – angka tertentu.
Penggunaaan proporsi tertentu memastikan bahwa elemen – elemen bangunan arsitektur
akan memiliki nilai tinggi dan menciptakan harmoni visual. Golden section dapat
didefinisikan secara geometris sebagai sebuah garis yang terbagi sedemikian rupa dimana
bagian yang paling kecil dibanding dengan bagian yang lebih besar terhadap
keseluruhannya.
4 Karim Habib, kepala desain eksterior departemen automobile BMW.

10

Gambar 1.9 Proporsi Honda CR-V generasi ketiga dan keempat sumber : carbodydesign.com. 2 Februari 2012
Gambar 1.9 Proporsi Honda CR-V generasi ketiga dan keempat
sumber : carbodydesign.com. 2 Februari 2012
Trend saat ini adalah penampilan yang maskulin, seperti dengan analogi
gorila sebelumnya, kesan maskulin dapat dicapai dengan bentuk badan bagian
atas pinggang yang lebih besar. Aplikasinya pada mobil adalah dengan
mengangkat belt line (atau bahu mobil) lebih ke atas namun tidak membuat lebih
tinggi kendaraan, memperbesar kaki-kaki (dalam hal ini velg ataupun roda) dan
mengangkat moncong serta garis bumper lebih keatas.
Gambar 1.10 Perbedaan garis tinggi bumper mobil pada tahun 70an dan saat ini
sumber : carnetshow.com, 2 Februari 2012
1.1.4.2 Irama
Irama hadir terutama pada perulangan dan dapat dipahami sebagai hasil
penyusunan elemen – elemen komposisi secara teratur dalam pola yang selaras,
berdasarkan ukuran – ukuran yang sama. Irama adalah pergerakan berulang elemen yang
sama dalam satu komposisi berupa modul – modul yang memiliki kesamaan. Irama
adalah nilai perseptual terutama terdapat pada komposisi jenis perulangan. Irama melalui
keberaturan sebuah perulangan dapat tertangkap dengan mudah jika modul yang
digunakan telah memiliki arah yang jelas atau setelah modul tersusun dalam jumlah

11

tertentu. Gabungan antara sistem pengaturan yang cukup kompleks. Irama dan kesan gerak dapat mencapai nilai
tertentu. Gabungan antara sistem pengaturan yang cukup kompleks. Irama dan kesan
gerak dapat mencapai nilai estetika yang tinggi. Komposisi perulangan dapat diaksentuasi
yaitu dengan memberikan penekanan tertentu atau pemberian jeda pada sistem
perulangan tersebut namun tetap harus diikuti oleh pertimbangan kesatuan, keseimbangan
dan keselarasan komposisi. Aksentuasi dicapai melalui penempatan salah satu atau
beberapa modul atau dengan merubah intensitas salah satu bagian terhadap format dasar.
Aksentuasi dapat mengurangi monoton yang sering ditimbulkan oleh repetisi yang
sederhana.“Istirahat sejenak” dari gerak dan arah komposisi dapat dimanfaatkan sebagai
aksentuasi yang memperkaya penampilan. Setiap unsur bentuk mempunyai kualitas
visual yang spesifik. Tertangkap tidaknya masing –masing unsur visual diantara unsur
yang lain akan tergantung dari beberapa kuatnya unsur visual itu mempertahankan diri
melalui ukuran, posisi dan intensitas.
Intensitas dapat dicapai dengan mempertegas arah dan posisi, memperbesar ukuran,
meningkatkan kecerahan warna, memberikan teksture serta mendekatkan jarak.
Perulangan bentuk biasanya memperlihatkan keselarasan dengan langsung. Setiap bentuk
yang diulang seakan-akan merupakan ketukan tertentu sebuah irama. Perulangan bentuk
dan garis merupakan cara merancang yang paling sederhana, seperti contohnya tiang dan
jendela pada bangunan, ubin pada lantai dan kaki sebuah kursi.
Contoh
aplikasinya
dalam
styling
eksterior
dapat
dijumpai
pada
kendaraan
berikut:
Gambar 1.11 perulangan bentuk kotak pada Fiat UNO
sumber : carnetshow.com, 2 Februari 2012
Bentuk utamanya adalah kotak dengan tepian membulat, bentuk ini diulang-ulang di
dalam detail-detail eksterior. Pentutup tangki bensin, handle pintu, lampu belakang, kaca
samping, kaca belakang, pintu belakang dan bumper belakang. Ukuran dari tiap kota-
kotaknya juga berbeda-beda, hal ini selain mengikuti ukuran komponen eksteriornya juga

12

memberi efek yang tidak membosanknan meskipun bentuknya perulangan dari geometri kotak. 1.1.4.3 Keselarasan Keselarasan
memberi efek yang tidak membosanknan meskipun bentuknya perulangan dari geometri
kotak.
1.1.4.3 Keselarasan
Keselarasan atau harmonis dapat didefinisikan sebagai ketetapan keberaturan
visual sebagai hubungan estetik antar elemen – elemen visual dalam sesuatu komposisi.
Keselarasan juga perlu dipertimbangkan jika sebuah objek dibanguna dari beragam unsur
visual dan material. Nilai harmonis dari komposisi dapat diterjemahkan sebagai tingkat
keberaturan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kompleksitas yang tinggi. Salah satu
parameter bagi harmonis adalah keutuhan yang dimiliki oleh bentuk. jika sebuah bentuk
masih memberikan peluang untuk ditambah atau dikurangi, maka harmonis belum
tercapai. Keselarasan dapat dihadirkan dalam tiga jenis berdasarkan elemen yang
membangun, yaitu:
1. Keselarasan dengan anologi
Gambar 1.12 Pengulangan garis pada Lamborghini Aventador
sumber : carnetshow.com, 2 Februari 2012
Kesatuan ini diperoleh dari susunan elemen – elemen yang memiliki sifat senada.
Bentuk-bentuk menyudut pada gambar diatas di ulang-ulang pada banyak bagian,
memberikan analogi sesuatu yang tajam, cepat, garis-garis miring yang dinamis
serta bentuk yang streamline.

13

2. Keselarasan dengan konsep komplementer Kesatuan ini diperoleh dari susunan elemen – elemen yang saling
2. Keselarasan dengan konsep komplementer
Kesatuan ini diperoleh dari susunan elemen – elemen yang saling melengkapi.
Adalah sedikit ketakteraturan pada bentuk, namun keteraturan masih merupakan
bagian yang dominan. Penyimpangan dari kesamaan yang umum ini
memyebabkan irama keseluruhan sediki terganggu. Kadang-kadang kelainan itu
hanyalah satu unsur saja dalam susunan yang seragam. Pada rancangan,
penggunaan kelainan memiliki tujuan tertentu, misalnya utnuk menarik perhatian,
menghilangkan kebosanan atau memecah keteraturan. Contoh aplikasinya dalam
styling eksterior dapat dijumpai pada kendaraan berikut:
Gambar 1.13 Fiat Panda
sumber : carbodydesign.com, 2 Februari 2012
Pada mobil di atas ada pengulangan bentuk kotak namun juga ada beberapa aksen
bentuk membulat. Bentuk fender, bumper belakang, kaca belakang, kaca samping
belakang, kaca side molding semuanya berbentuk kotak, namun lampu belakang dan
handle pintu bentuknya lonjong. Selain itu pada kaca juga terdapat ketidakberaturan,
yakni arah kaca belakang yang kedepan dan dilawan kaca samping yang mengarah
kebelakang. Baik perbedaan pengulangan bentuk dan perbedaan arah bentuk adalah
sebuah aksen yang dimaksudkan untuk menghilangkan kebosanan atau bahkan menarik
perhatian. Aksen pada kendaraan diatas proporsinya benar-benar terjaga agar tidak
merusak merusak irama bentuk utama. Bentukan elipsnya di buat kecil, sedangkan hanya
lampu depan yang berukuran besar, lampu belakang seperti transisi dari bentukan kotak
menuju bentukan bulat.
3. Keselarasan dengan konsep kontras
Kesatuan ini diperoleh dari susunan elemen yang kontras satu sama lain. Ukuran
bisa beragam, bentuk yang berulang bisa lebih dari satu, dan komposisi
perulangan bisa sangat tidak teratur. Jika pada keselarasan dengan konsep

14

komplimenter ada bentuk yang berbeda namun proporsinya hanyalah minoritas, maka pada konsep kontras bentuk yang
komplimenter ada bentuk yang berbeda namun proporsinya hanyalah minoritas,
maka pada konsep kontras bentuk yang berbeda itu bisa sama sehingga tidak ada
yang minor dan dominan. Namun meskipun seolah unsur-unsurnya begitu beragan
namun tetap memiliki sesuatu yang membuat unsur hubungan tetap memelihara
perpaduan tersebut menjadi satu. Contoh aplikasinya dalam styling eksterior dapat
dijumpai pada kendaraan berikut.
Gambar 1.14 Nissan Juke
sumber : nissan design newletter
Pada desain Nissan Juke diatas ada tiga bentukan utama yang semuanya
proporsinya seolah terlihat sama besar sehingga tidak ada yang dominan. Ketiga bentukan
tersebut sama kuat, tidak ada salah satunya yang menjadi aksen. Ada bentukan melancip
pada lampu depan, grille depan, dan fender bulat yang tiba-tiba patah membentuk sudut
tajam pada bagian samping. Lalu ada bentukan kotak pada kaca,atap, siluet hatch
belakang, garis tegas pada fender dan body bawah, namun bentuk kotak ini seolah
dilawan oleh bentukan membulat pada dimensi foglamp yang besar sehingga bukan
merupakan lagi sebuah aksentuasi, kedua fender samping membulat berukuran besar
membuat mobil terlihat lebih gemuk. Sebuah bentuk yang dibangun oleh pola
komplementer (saling melengkapi) membutuhkan akurasi yang tinggi untuk mencapai
keutuhan ungkapan. Dengan melihat hal tersebut maka keselarasan menitik-beratkan
penilaian pada tepat atau tidaknya sistem penyusunan unsur – unsur visual pada sebuah
karya.
1.1.4 Trend Styling dan karakter maskulin
Dibandingkan sepuluh tahun yang lalu perkembangan otomotif di dunia begitu
pesat, membeli mobil tidak hanya mempertimbangkan harga kendaraan, harga jual
kembali, konsumsi bahan bakar, dan semua yang bisa dinilai dengan angka-angka
(meskipun itu tetap menjadi pertimbangan utama). Karena kebutuhan bisnis, hampir
semua pabrikan mobil menjalin kerja sama dengan pabrikan otomotif lainnya. Hal ini

15

tentu membuat teknologi yang digunakan tiap-tiap produsen tidak terlalu jauh berbeda, pada akhirnya yang menjadi
tentu membuat teknologi yang digunakan tiap-tiap produsen tidak terlalu jauh berbeda,
pada akhirnya yang menjadi ujung tombak penjualan mobil adalah sesuatu yang langsung
bisa dirasakan oleh calon konsumennya, yakni styling eksterior dan suasana interior.
Tampak pada desain eksterior mobil-mobil yang telah beredar saat ini, perkembangan
bentuknya begitu pesat karena kemajuan tekonologi, juga styling eksterior mobil-mobil
yang beredar begitu beragam. Namun sekalipun bermacam-macam model dan bentuk
mobil yang beredar di masyarakat tetap semuanya mengkuti trend-trend major, sekalipun
mobil yang yang panjang cerita sejarahnya. Saat ini yang banyak digemari adalah adanya
unsur maskulin pada sebuh mobil, meskipun secara keseluruhan menganut konsep cute
looking, fancy, ataupun beauty sedan namun tetap ada unsur maskulin yang dimasukkan.
Unsur maskulin itu bisa terlihat dari bentuk atau garis potongan tegas, seperti pada
fender. Berikut beberapa trend pada styling eksterior otomotif saat ini
1. Lekuk dan garis tegas
Karakter lekukan dan garis yanmg tegas biasa kita temui pada mobil yang ingin
memberi ekspresi maskulin. Mobil sedan dan mobil kecil jarang ada yang menampilkan
lekukan dan garis tegas sperti patahan pada eksteriornya, tetapi sekarang opini tersebut
ingin dirubah oleh beberapa produsen otomotif. Mobil kecil seperti Toyota Aygo salah
satu contoh mobil kecil yang memakai tonjolan fender. Selain itu bisa kita lihat pada
Mitsubishi i-Miev. Untuk kelas sedan, Mercedes Benz S-Class juga memakai tonjolan ini.
Juga bisa kita lihat pada Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Kesan yang ditimbulkan
baik pada mobil kecil maupun sedan adalah kesan lebih berotot dan keseimbangan visual
pada tampilan mobil tersebut. Bahkan mobil-mobil kecil yang mengusung konsep cute
untuk masyaraka urban juga menerapkan hal yang sama, seperti Fiat 500 misalnya
Gambar 1.15 Trend lekuk tegas yang mengesankan maskulin juga diaplikasikan pada mobil kecil
Sumber : Carbodydesign.com, 3 Februari 2012

16

2. Lampu belakang dengan posisi horizontal dan mendekat ke belt line Gambar 1.16 Jeep Grand
2. Lampu belakang dengan posisi horizontal dan mendekat ke belt line
Gambar 1.16 Jeep Grand Cherokee generasi ketiga dan keempat
Sumber : carnetshow.com, 2 Februari 2012
Lampu belakang kini penataannya tidak lagi hanya vertikal memanjang dari atas
ke bawah, namun trend saat ini adalah dengan membujur horizontal memanjang ke
samping. Penataan lampu demikian memberi kesan kendaraan yang lebih maskuling,
lebih gagah. Awalnya penataan secara portrait banyak digunakan oleh kendaraan jenis
sedan, sedangkan SUV lazimnya mengadopsi penataan secara landscape, namun batasan
itu kini berubah agar kesan kendaraan yang ingin disampaikan bisa lebih ditonjolkan.
3. Pahatan character line yang dinamis
Gambar 1.17 Tren character line
Sumber : carnetshow.com, 2 Februari 2012
Character line seperti diatas dipelopori oleh Chris Bangle, kepala desain BMW,
yang menyebutnya flame surface. Ia menerapkan karakter desainnya pada desain BMW
Z4, seri 5, seri3, dan seri BMW lain. Sekarang nampaknya karakter itu banyak didaptasi
oleh beberapa produsen otomotif pada desain mobilnya. Sebut saja Seat Altea dan
Toledo, Volvo S80 dan nampak pada garis desain Ford Fiesta dan Focus serta karakter
desain Hyundai sekarang. Kesan yang timbul adalah kedinamisan yang juga
menunjukkan sebuah kemajuan teknologi.
4. Bonnet dan garis bumper yang semakin kelihatan tinggi
Dapat dilihat pada gambar diatas perbedaan kedua mobil dari jenis yang sama
namun berbeda generasi. Pada Fiat 500 klasik lampu depan berada dibawah kap mesin
sedangkan pada Fiat 500 modern lampu depan diletakkan semakin ke atas mendekati

17

tepian atas kap mesin.Selain itu dapat dilihat lebar bumper pada generasi lama dan yang paling
tepian atas kap mesin.Selain itu dapat dilihat lebar bumper pada generasi lama dan yang
paling baru, pada Fiat 500 modern bumpernya lebih tebal dan garis bumper diangkat
mendekati lampu depan. Efek dari perubahan itu adalah bonnet yang seolah lebih tinggi
sehingga menghasilkan kesan lebih gagah dibandingkan generasi terdahulu.
Gambar 1.18 Fiat 500 klasik dan modern
Sumber : carnetshow.com, 2 Februari 2012
5. Penggunaan ban berdiameter lebih besar dan belt line yang lebih tinggi
Diakui
oleh
desainer
Mazda,
Derek
Jenkins
bahwna
penggunan
ban
berdiameter besar lebih menarik, lebih membuat mobil terlihat lebih gagah.
Namun semakin besar ukuran roda tentu menuntut proporsi kendaraan untuk lebih
menyesuaikan, yaitu meninggikan belt line bagian belakang. Hal ini dipengaruhi
oleh mobil-mobil sports, dimana belt line nya meninggi ke belakang dan kaca
belakang semakin sempit, membuat tampilan kendaraan menjadi lebih sporty.
Namun trend itu kini banyak di adopsi oleh berbagai macam mobil termasuk
sedan, sedan kecil, hatchback, MPV dan SUV.
Gambar 1.19 Perbedaan lebar kaca depan dan belakang antara Jeep Grand Cherokee generasi
ketiga dan keempat
Sumber : carnetshow.com, 2 Februari 2012
1.1.5 Karakteristik Konsumen Otomotif Indonesia
Hasil studi The Indonesian Brand Health and Needs tahun 2006 oleh Ray (2006)
menunjukkan bahwa selain faktor jenis kelamin, pembelian mobil di Indonesia ternyata

18

bergantung pada kesukuan konsumen. Pria cenderung mencari merek mobil yang bisa memenuhi kebutuhan merek dalam
bergantung pada kesukuan konsumen. Pria cenderung mencari merek mobil yang bisa
memenuhi kebutuhan merek dalam bersosialisasi, sekaligus menawarkan
keuntungankeuntungan seperti kekuatan mesin dan rancangan yang sporty. Sedangkan
wanita cenderung mencari merek-merek yang lebih “hidup dan trendi”, serta memenuhi
kebutuhan praktis seperti daya tahan dan kenyamanan berkendara. Mengenai kesukuan,
pembeli yang berasal dari suku Batak dan Melayu lebih mementingkan keamanan.
Sementara pembeli dari etnis Cina lebih mementingkan kenyamanan, sedangkan suku
Jawa cenderung memperhatikan kebutuhan akan status dan control.
Hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa hampir 95% pembeli mobil baru
memperhatikan merek saat memutuskan untuk membeli mobil baru. Merek yang paling
menarik adalah merek yang dapat mengembangkan daya tarik emosional. Menggunakan
kerangka kerja psikologis untuk mengungkap kebutuhan yang bersifat emosional,
teridentifikasi enam segmen buyers, yaitu security, comfort, eximent, status, trendy, dan
control. Namun secara umum konsumen di Indonesia membeli mobil karena fungsi
utamanya sebagai alat transportasi, misalnya seperti kendaraan yang enak untuk
digunakan sebagai mobil harian, mobil yang bisa menampung seluruh anggota
keluarganya, atau yang bisa mengakomodasi keperluan lainnya. Dan aspek kosmetik
seperti desain yang cocok dengan kepribadiannya atau merek yang bisa menunjukkan
status sosialnya.
Berikut adalah beberapa ciri dan karakteristik masyarakat Indonesia terkait dengan
bidang otomotif :
a. Kabin dan bagasi luas
Selain membawa penumpang banyak, orang Indonesia jika bepergian suka
membawa barang. Untuk itu kebutuhan akan bagasi mutlak diperlukan dalam
perancangan mobil untuk pasar Indonesia. Barang yang dipakai bermacam-
macam mulai tas, koper, kardus, galon air dan lain sebagainya.
Gambar 1.20 Pemanfaatan bagasi untuk menaruh barang

19

Sumber : Tugas Akhir Desain Produk Jendro Trimaryanto b. Praktis Ada beberapa pengertian praktis dalam
Sumber : Tugas Akhir Desain Produk Jendro Trimaryanto
b. Praktis
Ada beberapa pengertian praktis dalam hal ini. Yang pertama kepraktisan
dikendarai yaitu dengan transmisi matic, dan radius putar yang besar supaya
memudahkan parkir. Lalu tata letak dan instrumen panel pada dashboard yang
user friendly. Praktis juga dalam arti akses keluar masuk mobil. Pintu model
engsel konvensional dan geser adalah pilihan yang umum pada mobil di
Indonesia. Selain itu kepraktisan terdapat dalam kemudahan merubah konfigurasi
tempat duduk melalui mekanisme lipat dan geser.
Gambar 1.21 Kepraktisan dalam desain mobil
Sumber : Tugas Akhir Desain Produk, Jendro Trimaryanto
c. Full aeropart / senang dengan aksesoris
Orang Indonesia suka memodifikasi atau merubah tampilan mobil entah itu
mengganti part atau menambah aksesori variasi baik keluaran produsen resmi
maupun variasi. Ada rasa bangga ketika mobilnya beda dengan mobil standar
keluaran pabrik. Hal tersebut juga berlaku pada dunia otomotif lain seperti sepeda
motor.
Gambar 1.22 Karakter orang Indonesia yang senang memodifikasi mobilnya

20

Sumber : Tugas Akhir Desain Produk, Jendro Trimaryanto d. 7 - 8 penumpang Budaya orang
Sumber : Tugas Akhir Desain Produk, Jendro Trimaryanto
d. 7 - 8 penumpang
Budaya orang Indonesia yang bersifat kekeluargaan membuat mobil dengan
kapasitas 7-8 orang penumpang menjadi pilihan untuk melakukan perjalanan.
Selain itu pada perayaaan tertentu seperti hari besar keagamaan,orang Indonesia
suka bepergian dan plesir ke tempat liburan dengan turut mengajak sanak
saudara. Untuk itu mobil dengan kapasitas penumpang 7-8 orang dengan
konfigurasi duduk 3 baris bangku cocok untuk pasar Indonesia. Dalam hal ini
cocok dengan karakter mobil - mobil jenis MPV.
Gambar 1.23 Ilustrasi mobil dengan mengangkut banyak orang ( 7 - 9 orang )
Sumber : www.daihatsu.co.id
e. Murah namun tetap stylish
Pada tahun 2004 lahir Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang merupakan
proyek joint venture dari 2 produsen Toyota dan Daihatsu. Konsep dari Avanza-
Xenia adalah mobil multi guna (MPV) dengan skala daya angkut lebih kecil dari
MPV yang ada pada saat itu. Xenia yang bermesin 1000cc merebut pasar city car
1000cc dan Avanza yang bermesin 1300cc merebut pasar SUV dan sedan
berkapasitas 1500cc kebawah. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau
masyarakat dan terbukti kedua mobil tersebut menjadi pemimpin pasar hingga
saat ini. Tidak heran kedua mobil tersebut menjadi fenomena penjualan mobil
sampai saat ini. Dari segi styling juga tidak kalah stylish misal dengan Kijang
Innova yang sama - sama kelas MPV tetapi diposisikan diatasnya. Dengan kata
lain konsumen Indonesia memilih kendaraaan serbaguna dengan fitur MPV
dengan harga terjangkau tetapi juga menginginkan desain stylish yang tidak
ketinggalan jaman.

21

Gambar 1.24 Avanza - Xenia MPV stylish dengan harga terjangkau Sumber : www.toyota.co.id Desain Avanza
Gambar 1.24 Avanza - Xenia MPV stylish dengan harga terjangkau
Sumber : www.toyota.co.id
Desain Avanza yang berkonsep Mini Family Car dibuat untuk orang
Indonesia dengan tambahan desain I- Factor ( Faktor Indonesia ) memiliki unsur
mobil yang sesuai dengan Indonesia seperti tinggi dan dimensi yang sesuai
dengan kondisi geografis Indonesia yang sering banjir dan jalan yang rusak.
Dengan desain yang ada dibuat dengan boxy semi-bonnet tema simple elegan dan
sedikit sporty disesuaikan dengan masyarakat Indonesia yang suka jalan – jalan
dan bergaya dengan mobilnya.
f. Suka bersosialisasi
Selain digunakan transportasi sehari - hari, mobil biasa digunakan untuk acara
tertentu seperti arisan, dan menghadiri berbagai jenis undangan. Oleh karena itu
selain sebagai alat transportasi mobil juga mewakili citra si pemilik pada saat
bersosialisasi tersebut. Terdapat unsur gengsi dan image dalam pemilihan mobil
yang digunakan pada saat bersosialisasi tersebut. Untuk itu mobil yang disukai
adalah selain berfungsi sebagai alat transportasi juga bisa mewakili gengsi
pemilik.
g. Irit bahan bakar
Salah satu pertimbangan utama mengenai mobil di Indonesia. Orang Indonesia
cenderung suka dengan mesin berkapasitas tidak terlalu besar tetapi irit bahan
bakar. Lain hal dengan mobil Amerika yang rata-rata ber cc besar. Hal ini terkait
dengan kondisi perekonomian Indonesia. Selain itu faktor jalan yang jarang
terdapat jalan bebas hambatan atau tol dan umumnya jalan di Indonesia sempit
dan padat kurang cocok dengan mesin ber cc besar yang boros. Selain itu yang
menjadi pertimbangan mobil irit yaitu kemacetan di kota - kota besar. Oleh
karena itu masyarakat cenderung menyukai produsen yang menjadikan irit bahan
bakar sebagai selling point-nya.

22

h. Harga jual kembali tinggi Hal ini diluar aspek styling suatu mobil yaitu kekuatan brand
h. Harga jual kembali tinggi
Hal ini diluar aspek styling suatu mobil yaitu kekuatan brand yang banyak
berpengaruh.
i. Ground clearance tinggi
Kondisi alam Indonesia yang kadang banjir merupakan alasan mengapa mobil
dengan ground clearance tinggi lebih disukai dan cocok untuk pasar Indonesia.
Karena ground clearance tinggi mencirikan reliability atau ketahanan mobil
tersebut bagus. Untuk kasus city car, ground clearance-nya tidak bisa setinggi
MPV atau SUV, tetapi juga tidak dibuat terlalu rendah ke tanah.
Gambar 1.25 Mobil dengan ground clearance tinggi mampu melintasi
permukaan tanah yang tidak rata
sumber : 4wheeldrivecommunity.com, 3 Februari 2012
j. Cocok dengan karakter iklim
Iklim di Indonesia yang tropis membuat perlakuan terhadap mobil berbeda
dengan perlakuan terhadap mobil beriklim dingin. Tingkat kelembaban, suhu
rata-rata setiap hari dan curah hujan di negara-negara tropis pada umumnya
relatif tinggi. Tingkat kelembaban ini akan membuat koneksi kabel yang ada
dalam sistem mobil terganggu mengingat efek karat dan korosi yang ditimbulkan.
Masalah hujan dan banjir juga bisa mempengaruhi kinerja mobil dikarenakan
kemungkinan akan karat dan korosi yang semakin besar. Untuk itu desain mobil
di Indonesia hendaknya tidaklah rumit dalam artian mempermudah proses
perawatan mobil itu sendiri.
k. Lebih suka mobil dengan bonnet
Satu lagi karakter orang Indonesia khusus untuk kasus mobil pribadi yang
digunakan sendiri yaitu cenderung menyukai mobil dengan bonnet daripada
mobil dengan bonnet rata. Contohnya pada kasus mobil MPV pertama di
Indonesia yaitu Mitsubishi Colt yang kalah bersaing sejak hadirnya Toyota

23

Kijang dengan desain yang beda dari Colt. Orang lebih memilih Kijang dengan bonnet dikarenakan perasaan
Kijang dengan desain yang beda dari Colt. Orang lebih memilih Kijang dengan
bonnet dikarenakan perasaan aman yang ditimbulkannya. Dengan bonnet maka
mesin terletak didepan dan pada saat terjadi benturan dari depan maka setidaknya
mesin dan bonnetnya bisa menahan benturan sehingga tidak langsung mengenai
penumpang dan supir. Kita lihat juga saat ini hampir semua mobil yang ada di
Indonesia menggunakan proporsi 2 atau 3 box cabin style dengan bonnet.
1.1.6 Interior Mobil yang Selaras Konsep
Interior mobil adalah faktor yang tak kalah pentingnya dalam menilai desain dari
sebuah mobil, baik dari sisi estetika dan fungsi. Perancangan styling interior pada
beberapa kelas kendaraan juga dikerjakan sama seriusnya sama dengan styling eksterior.
Karena seluruh kegiatan dalam penggunaan mobil berada di interior. Konsep dalam
interior biasanya selaras dengan eksteriornya. Sebagai contoh adalah interior Nissan Juke.
Menurut desainer Nissan, JUKE adalah orisinil. Mereka menggunakan filosofi "uramasi"
yang berarti menakjubkan diluar sedangkan gemerlap di dalam. Hal ini bisa kita lihat
dalam interior Juke dimana terdapat aksen yang cerah yang ditemukan didalam kabinnya
diantaranya di door trim, tombol power window, dan yang paling jelas di konsol tengah.
Gambar 1.26 Eskterior dan interior Lamorghini Aventador
Sumber : cgforum.com, 2 Februari 2012
1.1.7 Produk Yang Diminati Saat Ini
Adapun beberapa produk kendaraan yang diminati masyarakat Indonesia saat ini
berdasarkan hasil penjualan tahun 2010 kemarin didapat:
Gambar 1.27 Tabel dan grafik mobil terlaris 2011
Sumber : www.mobil.otomotifnet.com, 3 Februari 2012

24

Gambar 1.28 Grafik Penjualan 2011 Sumber : www.mobil.otomotifnet.com Dari grafik diatas bisa kita ketahui bahwa
Gambar 1.28 Grafik Penjualan 2011
Sumber : www.mobil.otomotifnet.com
Dari grafik diatas bisa kita ketahui bahwa keinginan dan kesukaan masyarakat
Indonesia dalam memilih mobil tercermin melalui desain dari mobil terlaris sampai saat
ini yaitu Toyota Avanza / Daihatsu Xenia. Berikut ini adalah analisa awal mengenai
karakter dari Avanza yang bisa membuatnya menjadi disukai banyak orang yang nantinya
sebagai gambaran styling untuk mendesain
Gambar 1.29 karakter dan Style mobil terlaris 2011
Sumber : Tugas Akhir Desain Produk, Jendro Trimaryanto
Dari gambaran style diatas bisa kita lihat bahwa tema styling dari Avanza adalah
simple elegan dengan sedikit sporty. Hal ini terbukti cocok dengan keinginan masyarakat
Indonesia terutama dari golongan dewasa atas sampai paruh baya. Desainnya yang
simple, minim tarikan garis, bersih, dan kesan bersahabat cocok untuk pasar Indonesia.
Lampu berbentuk daunnya yang berdimensi besar menggambarkan kesan ramah. Grill 5
titik dengan ukuran yang pas membuat stabil tampilan front fascia. Selain itu garis body
samping yang bersih minim tarikan membuatnya semakin bersahabat dengan kebanyakan
karakter masyarakat. Selanjutnya adalah tonjolan pada fender yang selain sebagai kesan
sedikit lebih kekar juga membuat tampilan desain dari Avanza tampak stabil dan
seimbang. Lain halnya dengan Nissan Grand Livina yang tampil lebih modern dengan

25

tarikan garis yang lugas serta berkarakter. Didukung ground clearance dan dimensi bodi yang tidak sebesar
tarikan garis yang lugas serta berkarakter. Didukung ground clearance dan dimensi bodi
yang tidak sebesar MPV lain, maka Livina mempunyai keunikan tersendiri dimata
masyarakat. Hal itulah yang menjadikannya sukses dipasaran. Kedua desain diatas
mempunyai ciri maskulin dimana merupakan karakter umum yang tersirat dalam setiap
desain mobil yang beredar di Indonesia.
1.2 Identifikasi Masalah
Sebelum masuk kedalam rumusan masalah, perlu lebih dahulu diidentifikasi
masalah - masalah apa saja yang ada dalam produk ini. Berikut paparan identifikasi
masalahnya :
1. Persaingan yang ketat pada segmen SUV memaksa produsen untuk terus
berinovasi dengan produknya, baik melakukan facelift maupun meluncurkan
produk baru.
2. Banyak SUV baru yang kebanyakan mengusung desain berkarakter SUV
modern.
3. Karakter desain Grand Vitara berada di tengah-tengah antara mobil untuk
gender laki-laki dan unisex.
4. Masyarakat masih suka dengan bentuk Grand Vitara tapi hal itu tidak lantas
membuat mereka membelinya, salah satunya karena ban cadangan yang
diletakkan di belakang.
5. Garis lekuk pada samping bodi terkesan tanggung, seolah ingin mengikuti trend
namun tidak percaya diri. Ada garis lekuk di samping bodi yang tidak terlalu
kelihatan, baru kelihatan apabila diperhatikan dengan jelas atau disorot cahaya
dengan sesuai.
6. Persepsi masyarakat tentang sebuah kendaraan semakin bergeser, tidak hanya
berdasar utilitas atau fungsi melainkan gengsi atau prestige.
7. Kebutuhan akan mobil SUV mengalami trend yang meningkat di masa depan.
8. Keinginan konsumen yang semakin meningkat akan package mobil kompak
berdimensi kecil dengan kapasitas 5 penumpang dengan harga terjangkau tetapi
dengan desain yang stylish.
9. Bangku belakang Grand Vitara dilipat dalam dua langkah, namun SUV
kompetitor hanya satu langkah.

26

Gambar 1.30 2009 Grand Vitara Sumber : carnetshow.com, 3 Februari 2012 1.3 Rumusan Masalah Landasan
Gambar 1.30 2009 Grand Vitara
Sumber : carnetshow.com, 3 Februari 2012
1.3 Rumusan Masalah
Landasan utama dalam perancangan ini yaitu eksterior dan interior yang perlu
diberi sentuhan baru guna menarik minat konsumen Indonesia. Rumusan permasalahan
yang akan diselesaikan dalam perancangan kali ini adalah :
1. Bagaimana mendapatkan proporsi desain yang sesuai tema?
2. Bagaimana menentukan fitur desain yang sesuai tema?
3. Bagaimana pendekatan desain styling untuk mendapatkan karakter yang unik,
bagus dan dapat diterima konsumen?
1.4 Eksterior
Proporsi Desain eksterior Grand Vitara dengan Gand Cherokee memiliki
kemiripan. Meskipun Grand Cherokee dirancang untuk memuat 7 penumpang, namun
secara proporsi keduanya mirip, keduanya juga berasal dari generasi berbentuk boxy dan
tetap mengusung bentuk SUV tradisional sampai saat ini. Namun jika diperhatikan lebih
dalam lagi tentu keduanya berbeda. Garis-garis lurus pada Grand Cherokee lebih tegas,
fender mobil Amerika ini lebih mengotak jika dibanding Grand Vitara yang lebih
membulat. Belt line Grand Vitara membentuk sedikit kurva melengkung mendekati kap
mesin, namun Grand Cherokee tetap lurus. Secara proporsi estetika kaca Grand Vitara
lebih besar dari Grand Cherokee, begitu juga dengan lampu dan grille depan. Grille
Grand Cherokee terlihat lebih besar karena lampunya yang kecil, grille besar jamak di
temui pada mobil yang ingin membuat kesan maskulin, berkuasa, atau sombong. Desain

27

Grand Vitara memang lebih “jujur” dibanding desain mobil kompetitor yang mengaplikasikan flare line ingin terlihat
Grand Vitara memang lebih “jujur” dibanding desain mobil kompetitor yang
mengaplikasikan flare line ingin terlihat maskulin namun payah ketika di ajak bermain
off-road. Trend desain saat ini adalah mobil yang berekspresi, dengam lampu menyempit
seolah mengitimidasi dengan tatapan mata tajam, desain lampu membulat seperti mata
belo yang ingin terlihat lucu atau juga grille besar yang tmemberi kesan berkuasa dan
angkuh.
Gambar 1.31 Perbandingan desain eksterior Grand Vitara dengan Grand Cherokee
Sumber : penulis
1.4.1
Interior
1. Hal utama yang langsung jadi perbandingan dengan kompetitor adalah bagasi
belakang. Untuk mendapatkan bagasi yang lebih luas, Honda CR-V melipat
kursi belakang dengan satu langkah, sedangkan pada Grand Vitara perlu dua
langkah.
2. Ukuran yang lebih pendek daripada Honda CR-V membuat Suzuki tetap
mempertahankan ban cadangan yang terpasang di luar pintu bagasi, namun hal
ini memberi dampak pada rancangan pintu belakang. Pintu Grand Vitara
membuka kesamping, pintu bagasi yang membuka kesamping lebih memakan
tempat daripada dengan membuka keatas. Masalah akan terlihat ketika parkir
di daerah kota dengan posisi terlalu dekat kendaraan di belakang.

28

3. Karena konsep yang disusungnya adalah cross-country, seharusnya ada fasilitas di interior yang dapat digunakan
3. Karena konsep yang disusungnya adalah cross-country, seharusnya ada
fasilitas di interior yang dapat digunakan oleh pengguna ketika melakukan
kegiatan tamasya. Fasilitas itu bisa berupa, tempat untuk kacamata atau topi,
ttempat untuk menaruh kamera (tipe DSLR maupun pocket kamera), senter
atau kotak P3K. Hal ini akan memberi nilai tambah bagi pertimbangan calon
pembeli dan juga menjadi pembeda dengan kompetitornya.
1.5
Batasan Masalah dan Ruang Lingkup Perancangan
1.5.1
Batasan Styling dan Desain
1. Styling dan desain eksterior yang meliputi :
i. Proporsi badan
Gambar 1.32 body shape dan proporsi secara 3d
Sumber: penulis
Body shape yaitu bentuk siluet mobil dari samping atau yang biasa disebut
A line. Sedangkan proporsi secara keseluruhan bisa dirasakan ketika mobil
ditampilkan secara 3D. Dalam perancangan kali ini akan dirancang bentuk
body shape yang dihubungkan dengan bentuk geometris yang tepat untuk
diaplikasikan kedalam desain eksterior.
a. Bonnet
yaitu merancang bentuk dan proporsi bonnet atau moncong mesin,
termasuk overhang depan dan juga bumper depan.
b. Atap ( body atas )
yaitu merancang bentuk dan proporsi atap atau body atas yang
terdiri dari merancang bagaimana sudut rake-nya, bagaimana
proporsi dan ukuran kaca samping, dan juga tinggi dan bentuk atap
c. Body Samping
yaitu merancang bentuk, desain dan proporsi body samping dan
ketinggian secara estetik body samping

29

d. Body Belakang Yaitu merancang bentuk dan proporsi body belakang, termasuk proporsi overhang belakang dan
d. Body Belakang
Yaitu merancang bentuk dan proporsi body belakang, termasuk
proporsi overhang belakang dan juga bumper belakang.
ii. Fascia depan, samping, belakang
Gambar 1.33 kaca, lampu belakang dan fender memberi
tampilan pada sisi samping
Sumber: penulis
Fascia yaitu tampilan mobil, ada 4 sisi, depan, belakang, samping dan atas.
Namun yang sangat memberi pengaruh adalah sisi samping, depan dan
belakang, karena langsung dapat dilihat oleh mata manusia dalam keadaan
berdiri biasa
a. Kaca samping, depan dan belakang
yaitu merancang bentuk dan proporsi kaca terhadap badan mobil,
jaraknya dari A-line, luasnya baik untuk keperluan ergonomi
maupun estetik.
b. Character line
yaitu merancang bentuk, desain dan proporsi body samping dan
character line atau garis disamping body. Termasuk ketinggian
body samping
c. Fender
Merancang bentuk, desain dan proporsi tonjolan pada fender.
iii. Detail Aksesori
Gambar 1.34 Batasan detail aksesori
Sumber: penulis

30

a. Lampu Merancang bentuk, desain dan proporsi lampu baik lampu utama depan maupun lampu belakang
a. Lampu
Merancang bentuk, desain dan proporsi lampu baik lampu utama
depan maupun lampu belakang
b. Foglamp
Merancang bentuk, desain dan proporsi lampu kabut atau foglamp
c. Grill dan Air Dam
Merancang bentuk, desain dan proporsi serta grill dan air dam.
d. Dudukan spare tire
Merancang bentu dudukan ban belakang.
e. Stopper Light
Merancang bentuk, desain dan proporsi stopper light sebagai
tambahan visibilitas lampu belakang.
iv. Akserori minor
Gambar 1.35 aksesori minor
Sumber: penulis
a. Spion
Merancang bentuk, desain dan proporsi spion
b. Door Handle
Merancang bentuk, desain dan proporsi handle pintu
c. Pintu bagasi
Merancang bukaan pintu belakang.
2. Styling dan desain interior yang meliputi :
i. Space
Gambar 1.36 center console dan jok mobil
Sumber: penulis

31

Space untuk kabin pengemudi dan penumpang akan mengikuti ukuran eksisting dan standard-standard yang sudah ada,
Space untuk kabin pengemudi dan penumpang akan
mengikuti ukuran
eksisting
dan
standard-standard yang sudah ada, namun
komponen-
komponen yang akan memakan tempat akan didesain, seperti :
a. Centre Console
Merancang bentuk, desain dan proporsi konsol tengah
b. Dashboard
Merancang bentuk, desain dan proporsi dashboard yang terdiri dari
panel tengah, panel indikator, blower AC, dan kompartemen
barang
c. Steering Wheel
Merancang bentuk, desain dan proporsi dari steering wheel
d. Area kargo
Merancang bentuk dan desain kargo belakang.
ii.
Seat
Gambar 1.37 jok Chevrolet Captiva
Sumber: penulis
Tempat duduk merupakan komponen utama dalam interior mobil, karena
disinilah tempat penumpang melakukan segala aktifitasnya. Pada Grand
Vitara hanya ada 2 baris tempat duduk, yaitu :
a. Tempat duduk baris depan
Di bangku depan ada dua kursi yang dipisahkan oleh center
console, satu kursi pengemuid dan satu kursi penumpang.
Meskipun digunakan untuk keperluan yang berbeda, namun dalam
segala hal keduanya sama.
b. Tempat duduk baris belakang
Tempat duduk baris belakang standard biasa untuk menampung 3
orang yang tentunya semuanya dilengkapi safety belt, pada
beberapa varian dilengkapi juga pengaman untuk children seat.
Ukuran bangku depan dan belakang tentu berbeda, karena biasnaya

32

bangku belakang harus bisa dilipat untuk menambah kapasitas kargo. 1.5.2 Batasan Teknis Setelah membahas batasan
bangku belakang harus bisa dilipat untuk menambah kapasitas
kargo.
1.5.2 Batasan Teknis
Setelah membahas batasan dalam segi styling dan desain, selanjutnya
memaparkan apa saja yang menjadi batasan teknis dalam perancangan ini. Untuk
selanjutnya kemungkinan untuk melenceng sedikit dari batasan diperbolehkan
tetapi tetap masih dalam koridor teknis yang memungkinkan. Berikut adalah
batasan dari segi teknis :
1.
Kapasitas angkut penumpang 5 orang dengan prioritas 2 orang baris depan
dan 3 orang di baris belakang dengan rincian 2 orang dewasa dan 1 anak –
anak. Selain itu baris belakang bisa digunakan untuk space tambahan
untuk barang bawaan yang tidak cukup ditaruh di bagasi belakang.
2.
Konfigurasi bangku, baik bangku baris depan maupun belakang tetap
memakai konfigurasi yang sama dengan eksisting.
3.
Desain eksterior terkait detail dan bentuk masih memungkinkan untuk
dikerjakan oleh produsen.
4.
Menggunakan komponen otomotif yang sudah ada dan telah diproduksi
sesuai dengan spesifikasi teknis dan teknologi yang telah dikuasai oleh
produsen, antara lain :
a. Body shell : sheet aluminium, cast aluminium, aluminium sections, hot-
formed steel, cold-formed steel.
b. Seating : polyurethane foam, kulit imitasi
c. Kaca
 Depan : fix screen, tempered glass 5 mm, one side
horizontal 8 o bending
 Samping : tempered double glassing, rayban dark black 60%
 Belakang : tempered double glassing, rayban dark black 60%
 Pilar A : fix screen, mika transparan 3mm, rayban dark black
d. Dashboard, door trim, headlining : ABS, Vinyl
9.
Target Pemasaran Produk
a. Target Market
: compact SUV
b. Target Pengguna
: masyarakat Indonesia khususnya daerah

33

perkotaan yang berjiwa muda dan sering berinteraksi dengan otomotif dan yang masih belum menikah atau
perkotaan yang berjiwa muda dan sering
berinteraksi dengan otomotif dan yang masih
belum menikah atau masih berkeluarga kecil.
c. Gender
: pria
d. Sosial ekonomi
: kalangan menengah atas sampai atas - bawah
10. Teori Regulasi Kendaraan Bermotor
Persyaratan teknis yang perlu diperhatikan dalam perancangan ini mengacu
kepada Undang - undang yang berlaku dalam hal ini Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 44 tahun 1993 mengenai kendaraan bermotor.
11. Bosch Automotive Handbook
Berisi paparan teknis mengenai komponen - komponen dan aturan - aturan
berstandar internasional yang dipakai oleh banyak manufaktur mobil.
Diambil hanya yang berkaitan dengan perancangan ini.
1.6 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendefinisikan kata “gagah, maskulin” pada trend styling desain SUV.
2. Mengidentifikasi keinginan konsumen terhadap styling desain SUV.
3. Menganalisis pengaruh fitur desain eksterior terhadap kesan yang ingin
disampaikan.
4. Merancang Grand Vitara baru dengan menguatkan kesan yang sudah ada dan
dapat diterima oleh konsumen.
1.7 Sasaran
Membidik pasar untuk kalangan menengah atas (pendapatan Rp 4.000.000,00
sampai dengan Rp 6.000.000,00) hingga pasar untuk kalangan atas bagian bawah
(pendapatan Rp 6.000.000,00 sampai dengan Rp 8.000.000,00 ) untuk segmen first car,
dan membidik pasar atas - atas ( pendapatan lebih dari Rp.8.000.000,00) untuk segmen
second car.
1.8 Manfaat
Perancangan new Grand Vitara ini memiliki beberapa manfaat dari segi estetika.
Menguatkan sebuah image dari sebuah mobil yang telah memiliki sejarah panjang di

34

pentas mobil nasional dan global. Dengan adanya desain baru Grand Vitara ini diharapkan muncul beberapa
pentas mobil nasional dan global. Dengan adanya desain baru Grand Vitara ini
diharapkan muncul beberapa manfaat seperti berikut :
 Bagi produsen :
Image yang dikuatkan dari desain lama akan meningkatkan daya jual sehingga
mampu bersaing pada kancah dunia otomotif nasional dalam segmen compact SUV.
Sehingga akan meningkatkan tingkat penjualan di pasar otomotif nasional.
 Bagi konsumen :
Image baru yang akan benar - benar baru akan berkembang sesuai trend dan
lifestyle yang berkembang pada masyarakat Indonesia yang merupakan calon
konsumen dari new Grand Vitara. Diharapkan juga nantinya akan bisa menjadi
kebanggaan masyarakat Indonesia.