Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENYAKIT PADA SISTEM PENCERNAAN


TENTANG
DIARE

OLEH:
PUTRI AYU LESTARI

DOSEN PEMBIMBING :

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH


KABUPATEN PADANG PARIAMAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer atau cair
lebih dari tiga kali sehari. Dimana pada dunia ke-3, diare adalah penyebab
kematian paling umum kematian balita, membunuh lebih dari 1,5 Juta orang
pertahun. Diare kondisinya dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi
(Fructose, Lactose), penyakit dan makana atau kelebihan Vitamin C dan
biasanya disertai sakit perut dan seringkali enek dan muntah. Dimana
menurut WHO (1980) diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya, yaitu
diare akut dan diare kronik.
Diare seringkali dianggap penyakit yang biasa dan sering dianggap
sepele penanganannya. Pada kenyataanya diare dapat menyebabkan gangguan
sistem ataupun komplikasi yang sangat membahayakan bagi penderita.
Beberapa di antaranya adalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit,
shock hipovolemia, gangguan berbagai organ tubuh, dan bila tidak tertangani
dengan baik dapat menyebabkan kematian. Dengan demikian menjadi penting
bagi perawat untuk mengetahui lebih lanjut tentang diare, dampak negative
yang ditibulkan, serta upaya penanganan dan pencegahan komplikasinya
B. Batasan Masalah
Karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dan teori pendukung, dan
supaya penulisan dapat dilakukan secara baik dan mendalam, maka masalah
yang akan diangkat hanya pokok bahasan yang mendalam saja.
C. Tujuan Penulisan
1. Agar masyarakat dapat memahami apa itu penyakit diare dan mengetahuai
apa bahaya dari pada penyakit diare.
2. Agar masyarakat dapat memahami penyebab timbulnya penyakit diare dan
bagaimana cara pencegahan dari pada penyakit diare.
3. Agar kita juga dapat mengetahui tentang macam-macam dan tanda-tanda
penyakit diare.
4. Untuk mengajak masyarakat, agar labih memperhatikan dan menyadari
tentang perlunya kebersihan lingkungan.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah
metode perpustakaan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Fisiologi Usus Besar


Kolon atau usus besar terdiri dari kolon asenden, transversum,
desenden dan sigmoid yang bermuara di rektum dan anus. Arteri yang
memperdarahi usus besar meliputi eteri mesenterika superior (untuk kolon
bagian kanan), arteri mesenterika inferior (untuk kolon bagian kiri), serta
arteri hemoroidales. Sistem saraf yang mempengaruhi kerja usus besar adalah
sisten saraf otonom kecuali spingter eksterna oleh sistem saraf volunter.
Fungsi usus besar yang paling penting adalah absorpsi air dan
elektrolit yang sebagian besar berlangsung di usus besar bagian kanan, fungsi
sigmoid sebagai reservoir untuk dehidrasi massa feses sampai defekasi
berlangsung. Sekresi kolon merupakan mukus dan HCO3, mukus bekerja
sebagai pelumas dan melindungi mukosa kolon sedangkan HCO3 berperan
dalam kestabilan jumlah bakteri dalam kolon dan menjaga tingkat keasaman
dalam kolon, pada peradangan usus, peningkatan sekresi mukus yang banyak
sekali mungkin bertanggung jawab akan kehilang protein dalam feses, juga
menyebabkan kehilangan HCO3 yang bertanggung jawab terhadap sebagian
gangguan keseimbangan asam basa.
Bakteri dalam kolon melakukan banyak fungsi yaitu mensintesis
vitamin K dan beberapa vitamin B, serta melakukan pembusukan sisa
makanan yang tidak bisa diabsorpsi usus halus. Selama proses pembusukan
dihasilkan berbagai peptida, indol, skatol, fenol dan asam lemak serta
beberapa gas (amonia, H2, H2S, dan CH4). Sebagian zat-zat ini dibuang
bersama feses dan yang lainnya diabsorpsi dan ditransfor ke hati untuk diubah
menjadi senyawa yang kurang toksik dan diekskresi melalui urin.
B. Diare
Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3
x sehari. Menurut Haroen N, S. Suraatmaja, dan P.O Asdil (1998), diare
adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau
lendir dalam tinja. Menurut C.L Betz, dan L.A Sowden (1996) diare

merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.


Menurut Suradi, dan Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan
dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang
terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk
encer atau cair.
Enteritis adalah infeksi yang disebabkan virus maupun bakteri pada
traktus intestinal (misalnya kholera, disentri amuba). Diare psikogenik adalah
diare yang menyertai masa ketegangan saraf / stress.
1. Etiologi Diare
a. Faktor infeksi : Bakteri, virus, parasit, kandida
b. Faktor parenteral : infeksi di bagian tubuh alin (OMA sering terjadi
pada anak-anak)
c. Faktor malbabsorpsi : karbohidrat, lemak, protein
d. Faktor makanan : makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak,
sayuran yang dimasak kurang matang, kebiasaan cuci tangan
e. Faktor psikologis : rasa takut, cemas
2. Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus,
Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter,
Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia,
Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan
infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana
merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah adanya
peningkatan bising usus dan sekresi isi usus sebagai upaya tubuh untuk
mengeluarkan agen iritasi atau agen infeksi. Selain itu menimbulkan
gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan
elektrolit meningkat kemudian terjadi diare dan absorpsi air serta elektrolit
terganggu. Sebagai homeostasis tubuh, sebagai akibat dari masuknya agen
pengiritasi pada kolon, maka ada upaya untuk segera mengeluarkan agen
tersebut. Sehingga kolon memproduksi mukus dan HCO3 yang berlebihan
yang berefek pada gangguan mutilitas usus yang mengakibatkan
hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah

kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan


asam basa, gangguan gizi, dan gangguan sirkulasi darah.
3. Komplikasi pada diare
Menurut Bongard (2002), ada 5 komplikasi utama yang muncul
pada kasus diare, yaitu:
a. Dehidrasi
Dehidrasi Ringan; Kehilangan cairan 2 5 % dari berat badan
dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, klien
belum jatuh pada keadaan syok.
Dehidrasi Sedang; Kehilangan cairan 5 8 % dari berat badan
dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, presyok nadi
cepat dan dalam.
Dehidrasi Berat; Kehilangan cairan 8 10 % dari berat badan
dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah
dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku
sampai sianosis.
b. Renjatan hipovolemik
Ringan (kehilangan cairan < 20% volume darah); pasien
mengeluhkan perasaan dingin, perubahan tekanan darah dan nadi, kulit
pucat, dingin, lembab, flat neck veins, urin pekat. Sedang (defisit 20-40
% dari volume darah); pasien mengaluh haus, tekanan darah turun pada
posisi supine, oliguria.. Berat (defisit cairan >40 % volume darah); pasien
tampak gelisah, lemah, bingung, obtune,tekanan darah rendah dan nadi
tak teraba, takhipnea, jika progres berlanjut terjadi cardiac arrest.
c.
d.
e.
f.

Kejang
Bakteriemia
Malnutrisi
Intoleran sekunder akibat kerusakan mukosa usus (perforasi)

4. Penatalaksanaan
a.
b.
c.
d.
e.

Banyak minum
Rehidrasi perinfus
Antibiotika yang sesuai
Diit tinggi protein dan rendah residu
Obat anti kolinergik untuk menghilangkan kejang abdomen

f.
g.
h.
i.
j.

Tintura opium dan paregorik untuk mengatasi diare (atau obat lain)
Transfusi bila terjadi perdarahan
Pembedahan bila terjadi perforasi
Observasi keseimbangan cairan
Cegah komplikasi

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Diare
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah yang lebih
banyak dari biasanya (normal 100-200 ml perjam tinja), dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai

frekuensi defekasi yang meningkat. Pengertian lain diare adalah sebuah


penyakit dimana penderita mengalami buang air besar yang sering dan masih
memiliki kandungan air berlebihan.
B. Penyebab Timbulnya Penyakit Diare
Penyakit Diare ditimbulkan oleh

Makan tanpa cuci tangan dengan sabun


Minum air mentah
Makan makanan yang dihinggapi lalat
Keracunan makanan
Beberapa infeksi virus tetapi juga sering kali akibat dari racun Bakteri.
Mengkonsumsi alkohol yang berlebihan, terutama dalam seseorang yang
tidak cukup makanan.

C. Penularan Kuman Penyakit Diare


Kuman penyakit diare dapat ditularkan melalui :

Air dan makanan yang tercemar


Tangan yang kotor
Berak disembarang tempat
Botol susu yang kurang bersih

D. Macam-macam penyakit diare


Diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya yaitu :
1) Diare akut
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat,
dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.
a. Etiologi
Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh
bakteri, parasit maupun virus. Penyebab lain yang dapat menimbulkan
diare akut adalah toksin dan obat, nutrisi eteral diikuti puasa yang
berlangsung lama, kemoterapi, impaksi tekal (overflow diarrhea) atau
berbagai kondisi lain.
b. Patogenesis
Diare akibat infeksi terutama ditularkan secara fekal oral. Hal
ini disebabkan masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi
tinja ditambah dengan ekresiyang buruk, makanan yang tidak matang,
bahkan yang disajikan tanpa dimasak. Penularannya adalah transmisi

orang ke orang melalui aeorosolisasi (Morwalk, Rotavirus), tangan


yang terkontaminasi (Clostridium diffecile), atau melalui aktivitas
seksual. Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktror penyebab
(agent) dan faktor penjamu (host). Faktor penjamu adalah kemampuan
pertahanan tubuh terhadap organisme, yaitu faktor daya tahan tubuh
atau lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman lambung,
motilitas lambung, imunitas, juga mencakup lingkongan mikroflora
usus. Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain
daya penetrasi yang merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi
toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus, serta daya lekat
kuman-kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat
menginduksi diare.
Patogenesis diare yang disebabkan infeksi bakteri terbagi dua,
yaitu:
1. Bakteri noninvasit (enterotoksigenik)
Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada mukosa
usus halus, namun tidak merusak mukosa. Toksin meningkat kadar
siklik AMP di dalam sel, menyebabkan sekresi aktif anion klorida
ke dalam lumen usus yang diikuti air, ion karbonat, kation
natrium, dam kalium.
2. Bakteri enteroinvasif
Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa
nekrosis dan ulserasi, dan bersifat sekretorik eksudatif. Cairan
diare dapat bercampur lendir dan darah. Bakteri yang termasuk
dalam golongan ini adalah Enteroinvasive E. Coli (EIEC). S.
Paratyphi B, S. Typhimurium, S. enteriditis, S. choleraesuis,
Shigela, Yersinia, dan C. Pertringens tipe C. penyebab diare
lainnya seperti parasit menyebabkan kerusakan berupa ulkus besar
(E. histolytica), kerusakan vilia yang penting untuk penyerapan
air, elektrolit, dan zat makanan (G. Lambdia)
c. Manifestasi klinis
Secara klinis diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua
golongan yaitu :
1. Koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja

2. Disentriform, pada diare di dapat lendir kental dan kadang-kadang


darah.
d. Penatalaksanaan
Pada orang dewasa, penata laksanaan diare akut akibat infeksi
terdiri dari :
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan
Empat hal penting yang perlu diperhatikan adalah :
1) Jenis cairan
2) Jumlah cairan
3) Jalan masuk atau cara pemberian cairan
4) Jadwal pemberian cairan.
2. Identifikasi penyebab diare akut karena infeksi
3. Terapi simtomatik
4. Terapi defenitif
5. Diare kronik
Diare kronik ditetapkan berdasarkan kesepakatan, yaitu diare
yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Ketentuan ini berlaku bagi
orang dewasa, sedangkan pada bayi dan anak ditetapkan batas waktu
dua minggu.
e. Etiologi
Diare kronik memiliki penyebab yang bervariasi dan tidak
seluruhnya diketahui.
f. Patofisiologi
Proses terjadinya diare dipengaruhi dua hal pokok, yaitu
konsistensi feses dan motilitas usus, umumnya terjadi akibat pengaruh
keduanya. Gangguan proses mekanik dan ensimatik, disertai
gangguan mukosa, akan mempengaruhi pertukaran air dan elektrolit,
sehingga mempengaruhi konsistensi feses yang terbentuk.
Diare kronik dibagi tiga yaitu :
1. Diare osmotik
Dijelaskan dengan adanya faktor malabsorpsi akobat
adanya gangguan absorpsi karbohidrat, lemak atau protein, danb
tersering adanya malabsorpsi lemak. Teses berbentuk steatore.
2. Diare sekretorik
Terdapat gangguan tranpor akibat adanya perbedaan
osmotif intralumen dengan mukosa yang besar sehungga terjadi
penarikan cairan dan alektrolit ke dalam lumen usus dalam jumlah

besar. Teses akan seperti air. Diare sekresi terbagi dua berdasarkan
pengaruh puasa terhadap diare :
3. Diare sekresi yang dipengaruhi keadaan puasa berhubungan
dengan proses intralumen, dan diakibatkan oleh bahan-bahan yang
tidak dapat diabsorpsi, malabsorpsi karbohidrat, letesiensi laktosa
yang mengakibatkan intolerassi laktosa.
4. Diare cair yang tidak dipengaruhi keadaan puasa terdapat pada
sidrom korsinoid, VIP (Vasoactive Inkestinal Polypeptida) oma,
karsinoma tiroid medular, adenoma vilosa, dan diare diabetik.
5. Diare inflamasi
Diare dengan kerusakan kematian enterosit disertai
peradangan. Fese berdarah. Klompok ini paling sering ditemukan.
Trbagi dua yaitu nonspesitik dan spesitik.
g. Penatalaksanaan
a. Simtomatis
1. Rehidrasi
2. Antipasmodik, antikolinergik
3. Obat anti diare
a. Obat antimotilitas dan sekresi usus : Laperamid,
ditenoksilat, kodein fosfat.
b. Aktreotid (sadratatin)
c. Obat anti diare yang mengeraskan tinja dan absorpsi zat
4.
5.
6.
7.

toksin yaitu Arang, campura kaolin dan mortin.


Antiemetik (metoklopromid, proklorprazin, domperidon).
Vitamin dan mineral, tergantung kebutuhan, yaitu:
a. Vitamin Bie, asam, vitamin A, vitamin K
b. Preparat besi, zinc,dan lain-lain.
Obat ekstrak enzim pankreas.
Aluminium hidroksida, memiliki efek konstifasi, dan

mengikat asam empedu.


8. Fenotiazin dan asam nikotinat, menghambat sekresi anion
usus.
b. Kausal
Pengobatan kausal diberikan pada infeksi maupun non
infeksi Pada diare kronik dengan penyebab infeksi, obat diberikan
berdasarkan etiologinya.

10

E. Tanda-Tanda Penyakit Diare


Berak encer, biasanya 3X atau lebih dalam sehari, kadang-kadang
disertai :
a.
b.
c.
d.

Muntah
Badan lesu dan lemah
Tidak mau makan
Panas

F. Bahaya Dari Diare


1. Penderita akan kehilangan cairan tubuh
2. Penderita akan menjadi lesu dan lemah
3. Penderita dapat meninggal bila kehilangan cairan tubuh lebih banyak
G. Usaha Untuk Mengatasi Diare
Penderita diberi minim, larutan yang terbaik untuk penderita diare
adalah Oralit, kalau tidak ada boleh diberi larutan Gula, Garam (LGG), bisa
juga diberi air the, air kelapa.
H. Cara Membuat Larutan Oralit dan LGG
1. Larutan Oralit
Bubuk oralit 1 bungkus dilarutka kedalam 1 gelas air masak aduk sampai
semua larutan larut dalam air.
2. Larutan Gula, Garam (LGG)
Gula 1 sendok the, garam sendok the dilarutkan kedalam 1 gelas air
masak, kemudian diaduk sampai
I. Cara Memberikan Larutan Oralit
1. Minumkan segera larutan sampai penderita tidak merasa haus lagi (pada
anak balita diasanya memerlukan 3 bungkus oralit 200 CC dalam 3 jam
pertama)
2. Jika anak muntah pemberian oralit dihentikan dulu, lau kemudian
dilanjutkan lagi.
3. Bila sampai hati ke-2 anak masih terus diare atau keadaan anak bertambah
parah maka dengan segera dibawah ke Puskesmas atau Rumah Sakit
terdekat. Selam perjalanan pemberian oralit harus terus diberikan.
J. Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Makanan dan Minuman
pada Penderita Selama dan Sesudah Diare

11

1. Penderita diare dangan dipuaskan


2. Bagi yang masih menetek, pemberian ASI diteruskan.
3. Berikan segera cairan Rumah tangga seperti ait kelapa, air sayur, air buah
bila penderita mulai menimbulkan gejala Diare.
4. Makanan pendamping ASI yang lunak seperti bubur
5. Teruskan pemberian makanan. Makanan sebaiknya nudah dicerna dan
tidak merangsang
6. Sesudah diare pemberian makanan diteruskan dan perlu ditambah.
K. Cara Pencegahan Penyakit Diare
1. Pemberian ASI
Dapat mencegah Diare karena terjamin kebersihannya serta dapat
meningkatkan daya tahan tubuh baalita.
2. Pemberian makanan
Berilah anak balita makanan yang bersih dan bergizi.
3. Pemakaian air besih
Gunakan air bersih untuk membersihkan makanan dan minuman bayi.
4. Berak pada tempatnya
Biasakanlah anak anda buang kotoran pada jamban (kakus)
5. Kebersihan perorangan
Biasakanlah mencuci tangan sebelm makam serta sesudah buang kotoran.
6. Kebersihan makanan dan minuman
Perhatikan kebersihan makanan dan miniman meulai daor cara-cara
mencuci, memasak, menhhidangkan dan cara menyimpan makanan.

12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diare adalah buang air besar (defekasi) denganjumlah yang lebih
banyak dari biasanya (normal 100-200 ml perjam tinja), dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai
frekuensi defekasi. Penyalitm diare ditimbulkan oleh makanan, miniman,
virus dan bakteri, dan juga alkohol. Kuman penyakit diare ditularkan melalui
air dan makanan, tangan yang kotor, berak sebarang tempat dan botol susu
yang kurang bersih.
Diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya yaitu; diare aku dan
kronik. Penyakit diare ditandai dengan adanya berak encer, biasanya 3x atau
lebih dalam sehari, disertai muntah, badan lesu dan lemah, tidak mau makan,
panas. Bahaya dari pada diare itu adalah banyaknya kehilangan cairan tubuh,
dan menyebabkan kematian.
Usaha untuk mengatasi diare yaitu dengan cara memberi minuman,
larutan Oralit, biasanya juga larutan gula, garam (LGG). Yang harus
diperhatikan dalam pemberian makanan dan minuman pada penderita diare
yaitu
Jangan dipuaskan, ,pemberian ASI, pemberian air sayur, buah bila
penderita menimbulkan gejala diare. Cara pencegahan penyakit diare yaitu
dengan cara pemberian ASI, makanan, pemakaian air bersih, berak pada
tempatnya, kebersihan perorangan, kebersihan makanan dan minuman.
B. Saran-saran
Dengan melihat pembahasan dan mengetahui dampak dari pada diare
tersebut, maka kita harus dapat menyadari betapa pentingnya kebersihan
dalam diri dan lingkunyan. Oleh karena itu, kita berharap dengan adanya
kesadaran, semua masyarakat mau bergotong royong untuk membersihkan
dan memelihara lingkunyam dengan baik. Mudah-mudahan harapan kita
semua untuk hidup bersih dapat diwujudkan bagi kita semua.

13

DAFTAR PUSTAKA
Talley NJ, Martin CJ. Clinical gastroenterology : A Practical-based Approach.
Sydney; Maclennan dan Petty Pty Limited, 1996.
Noer HMS, Waspdji S, Rachman AM, dkk. Buku aja Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
3. Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 1996.
Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Buku Kader Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga. Edisi XVII. Jakarta: Kerjasama Departemen Kesehatan dan
Kesejahteraan Sosial.
http://www.lagalus.com/2011/11/diare.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Diare
http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/diare.htm

14

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang.................................................................................. 1

B.

Batasan Masalah................................................................................1

C.

Tujuan Penulisan................................................................................ 1

D.

Metode Penulisan...............................................................................2

BAB II LANDASAN TEORI


A.

Fisiologi Usus Besar...........................................................................3

B.

Diare.............................................................................................. 3

1. Etiologi Diare............................................................................................4
2. Patofisiologi...............................................................................................4
3. Komplikasi pada diare...............................................................................5
4. Penatalaksanaan.........................................................................................6
BAB III PEMBAHASAN
A.

Pengertian Diare................................................................................7

B.

Penyebab Timbulnya Penyakit Diare.......................................................7

C.

Penularan Kuman Penyakit Diare...........................................................7

D.

Macam-macam penyakit diare...............................................................7

E.

Tanda-Tanda Penyakit Diare...............................................................12

F.

Bahaya Dari Diare............................................................................12

G.

Usaha Untuk Mengatasi Diare.............................................................12

H.

Cara Membuat Larutan Oralit dan LGG.................................................12

I.

Cara Memberikan Larutan Oralit..........................................................12

J. Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Makanan dan Minuman pada


Penderita Selama dan Sesudah Diare...........................................................13
K.

Cara Pencegahan Penyakit Diare..........................................................13

BAB III PENUTUP


A.

Kesimpulan.................................................................................... 14

B.

Saran-saran.................................................................................... 14

15

Anda mungkin juga menyukai