Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kebutuhan energi saat ini meningkat sangat cepat dan berpengaruh besar
terhadap kebutuhan manusia. Khususnya dibidang transportasi. Hal tersebut dapat
dibuktikan dengan laporan data Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik
Indonesia mencatat, jumlah kendaraan yang masih beroperasi di seluruh Indonesia
pada 2013 mencapai 104,211 juta unit, naik 11 persen dari tahun sebelumnya
(2012) yang cuma 94,299 juta unit. Sehingga dapat disimpulkan peningkatan
kebutuhan manusia akan transportasi berbanding lurus dengan kebutuhan energi.
Meningkatnya kebutuhan energi untuk transportasi dapat menyebabkan
meningkatnya polusi udara di lingkungan sekitar, Energi dapat berubah dari satu
bentuk ke bentuk yang lainnya, perubahannya sering mempengaruhi lingkungan
dan udara yang kita hirup dengan berbagai cara. Energi kimia dalam bahan bakar
fosil diubah menjadi energi panas, mekanik, atau listrik melalui pembakaran dan
ini sebagai penghasil polutan terbesar. Pembangkit listrik, kendaraan bermotor,
dan kompor adalah penyebab utama terjadinya polusi udara. Polutan yang
dikeluarkan biasanya dikelompokan menjadi hidrokarbon (HC), nitrogen oksida
(NOx), dan karbon monoksida (CO). Polutan yang dihasilkan pada pembakaran
fosil merupakan faktor terbesar terjadinya asap, hujan asam, pemanasan global
dan perubahan iklim (Astra, 2010). Saat ini energi yang digunakan kebanyakan
berasal dari olahan fosil di masa lampau dan itu bersifat terbatas. Artinya, kelak
suatu suatu saat akan habis apabila terus di ambil. sekitar 65 persen kebutuhan

energi tergantung pada BBM, sedangkan cadangan minyak bumi Indonesia hanya
sembilan miliar barel yang diperkirakan habis selama 18 tahun dengan laju
produksi rata-rata 500 juta barel per tahun (Fauzi, 2008 : 1). Selain itu,
penggunaan BBM sebagai sumber energi memiliki kelemahan yaitu gas buang
hasil pembakaran mengandung CO2 yang mencemari lingkungan manusia.
Alternatif cara untuk mengatasi masalah di atas adalah menggunakan sumber
bahan bakar selain berasal dari fosil, melainkan diganti dengan sumber energi
pembaharuan yang melimpah dan ramah lingkungan.
Biomassa adalah alternatif yang tepat untuk masalah tersebut. Biomassa
aalah sumber energi terbesar keempat di dunia, dan memiliki cadangan yang
melimpah (Demirbas, 2004; Forbes et al., 2014). Salah satu biomassa yang
berpotensi melimpah dan ramah lingkungan adalah mikroalga.
Mikroalga dapat dibudidayakan di air tawar atau air laut (Shuping et al.,
2010), dan tidak bersaing dengan produksi pangan. Juga dapat dijadikan bahan
biodiesel yang ekonomis (Chisti, 2007; Packer, 2009). Ide menjadikan mikroalga
untuk dikonversikan menjadi biofuel pertama kali muncul di tahun 1955 (Meier,
1955), dan lebih diperhatikan secara intensif pada sepuluh tahun terakhir (Miao et
al.,2004; Yang et al., 2004). Namun, informasi tentang energi kinetik pembakaran
mikroalga dan mikroalga yang dicampur dengan material lain yang tersedia sangat
sedikit (Tang, et al., 2011). Mikroalga juga merupakan sumber energi yang ramah
lingkungan. Hal ini karena mikroalga mampu menyerap CO2 saat proses
fotosintesis hingga dua kali lipat dari yang dihasilkannya pada proses
pembakaran. Pergantian udara dengan gas buang sebagai sumber karbon selama
kultivasi mikroalga dapat mengurangi konsumsi energi hingga 40 % dan total
emisi greenhouse gas (GHG) sekitar 30 % (Clarens et al., 2010).

Maka, berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk mengadakan


penelitian yang berkaitan dengan pembakaran mikroalga Spirulina platensis yang
ditambahkan dengan variasi katalis Magnesium Karbinat (MgCO3) dengan judul
DEKOMPOSISI THERMAL MIKROALGA Spirulina Platensis DENGAN
VARIASI KATALIS MgCO3 SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR
PEMBAHARUAN
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diambil dari latar belakang di atas adalah sebagai
berikut.
1

Bagaimana analisa dekomposisi thermal mikroalga spirulina platensis

dengan variasi katalis MgCO3 3 %?


Bagaimana analisa dekomposisi thermal mikroalga spirulina platensis

dengan variasi katalis MgCO3 6 % ?


Bagaimana analisa dekomposisi thermal mikroalga spirulina platensis

dengan variasi katalis MgCO3 9 % ?


Bagaimana analisa dekomposisi thermal mikroalga spirulina platensis

dengan variasi katalis MgCO3 12 % ?


Bagaimana analisa dekomposisi thermal mikroalga spirulina platensis
dengan variasi katalis MgCO3 15 % ?

C. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut.
1. Bagi mahasiswa, untuk menambah ilmu tentang kegunaan mikroalga
Spirulina Platensis di bidang teknik pemesinan yaitu dapat dimanfaatkan
sebagai sumber bahan bakar alternatif pembaharuan.

2. Bagi penulis, sebagai pengalaman dalam eksperimen menggunakan


Thermogravimetric Analyzer (TGA) serta penambahan variasi katalis
pada pembakaran mikroalga Spirulina Platensis.
3. Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
atau referensi untuk penelitian penelitian sejenis demi kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
D. Definisi Istilah
Penelitian ini memiliki beragam definisi istilah sebagai berikut.
1. Katalis,
Pudjaatmaka (2002: 374) mendefinisikan katalis merupakan zat yang
dapat mempercepat atau memperlambat reaksi yang pada akhirnya
dilepaskan kembali dalam bentuk semula. Menurut Chang (2004: 52)
bahwa katalis mempercepat reaksi dengan menyediakan serangkaian
tahapan elementer dengan kinetika yang lebih baik dibandingkan jika
tanpa katalis. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa katalis
merupakan zat kimia yang berfungsi untuk mempercepat laju reaksi
kimiawi dalam proses pembakaran dengan kinetika yang lebih baik.
2. Mikroalga
Mikroalga merupakan kelompok tumbuhan berukuran renik yang
termasuk dalam kelas alga, diameternya antara 3-30 m, baik sel tunggal
maupun koloni yang hidup di seluruh wilayah perairan tawar maupun
laut,

yang

lazim

disebut

fitoplankton

(Romimohtarto,

2004).

Kesimpulannya, mikroalga merupakan makhluk hidup yang menyerupai


tumbuhan yang memiliki klorofil sehingga mampu berfotosintesis, dan
dapat hidup di perairan tawar maupun laut.

3.

Dekomposisi
Dekomposisi pembakaran adalah terurainya suatu zat yang disebabkan
oleh panas akibat proses pembakaran sehingga mengakibatkan terjadinya
penurunan massa.

4. Moisture ialah kandungan air yang terdapat dalam bahan bakar


5. Volatile matters adalah kandungan bahan bakar yang terbebaskan pada
temperatur tinggi tanpa keberadaan oksigen.
6. Fixed carbon ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam bahan bakar
setelah volatile matters dipisahkan dari batubara.
7. Abu (ash) merupakan kandungan residu non-combustible yang umumnya
terdiri dari senyawa-senyawa siilika oksida (SiO2), kalsium oksida (CaO),
karbonat, dan mineral-mineral lainnya.