Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem imun berkaitan dengan suatu sistem pertahanan tubuh terhadap
gangguan benda-benda asing berupa mikroorganisme ataupun terhadap
patogen. Patogen adalah sesuatu yang berasal dari luar tubuh dan dapat
menimbulkan penyakit. Tubuh memiliki berbagai mekanisme yang dapat
digunakan sebagai sistem kekebalan. Mekanisme tersebut dapat berupa
mekanisme pertahanan tepi, spesifik dan non-spesifik (Yuwono, 2008). Kulit,
asam lambung, air mata, muntah ataupun buang air besar merupakan salah
satu bagian dari mekanisme pertahanan barrier atau tepi. Mekanisme
pertahanan tubuh non-spesifik membantu tubuh untuk memberikan respon
terhadap kerusakan jaringan dan hal-hal umum lainnya yang di dalamnya
termasuk patogen seperti bakteri ataupun virus, sedangkan mekanisme
pertahanan tubuh spesifik memungkinkan tubuh untuk dapat mengenali
patogen tertentu, baik itu bakteri atau sel asing lainnya serta virus, sehingga
akan memberi perlawanan khusus. Semua sel imun mempunyai bentuk dan
jenis sangat bervariasi dan bersirkulasi dalam sistem imun dan diproduksi oleh
sumsum tulang (bone marrow) (Johnson, 2012).
Sistem limfatik memiliki salah satu fungsi utama yang berkaitan dengan
sistem imunitas, yaitu perlindungan terhadap infeksi, sehingga sistem limfatik
nantinya akan melindungi tubuh terhadap serangan patogen yang dapat
menyebabkan penyakit. Sebagian besar sel-sel imun diproduksi dalam sistem
limfatik dan diedarkan dalam darah. Berdasarkan fungsinya organ limfoid dibagi
menjadi organ limfoid primer dan sekunder. Organ limfoid primer merupakan
organ yang terlibat dalam sintesis atau produksi sel imun, yaitu kelenjar timus
dan susmsum tulang, sedangkan limfoid sekunder tersusun atas MALT
(Mucosa Assosiated Lymphoid Tissue) yang meliputi jaringan limfoid
ekstranodul yang berhubungan dengan mukosa diberbagai lokasi seperti SALT
(Skin-Associated Lymphoid Tissue atau kulit), BALT (Bronchial Associated
Lymphoid Tissue atau bronkus) berperan dalam antigen kuman yang terhirup,
GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang tersebar di saluran pencernaan
(Johnson, 2012).
Sel darah putih merupakan salah satu komponen darah yang erat
hubungannya dengan sistem kekebalan tubuh. Fungsi sel darah putih
umumnya sama, yaitu melindungi tubuh dari infeksi penyakit dan membantu

memberikan tubuh suatu kekebalan terhadap penyakit tertentu. Setiap jenis dari
leukosit ini memberikan aspek pentik terhadap proses homeostasis dalam
tubuh. Leukosit dapat dibedakan berdasarkan ada tidaknya granula atau
berdasarkan pewarnaannya, yaitu granulosit, yaitu neutrofil, basofil dan
eosinofil dan agranulosit, yaitu limfosit dan monosit (Scanlon dan Sanders,
2007). Ekstrak sambiloto (Andrograhphis paniculata Nees.) seringkali
digunakan untuk penelitian terkait hematokrit ataupun jumlah leukosit.
Sambiloto kaya akan zat aktif yang bermanfaat yang mempunyai fungsi sebagai
imuno-modulator. Imunomodulator dipandang sebagai bagian terpenting dalam
dunia pengobatan. Imunomodulator mendorong tubuh seseorang untuk
mengoptimalkan fungsi sistem imun yang berperan dalam pertahanan tubuh
(Pearce, 2009). Oleh karena itu, untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak
sambiloto terhadap jumlah leukosit maka perlu dilakukan praktikum mengenai
penghitungan jumlah leukosit.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana jumlah sel
leukosit pasca pemberian larutan daun sambiloto?
1.3 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui jumlah sel
leukosit pasca pemberian larutan daun sambiloto.
1.4 Manfaat
Manfaat dilakukannya praktikum ini adalah agar mahasiswa
mendapatkan kompetensi mengenai sel darah putih dan sistem imunitas terkait
pemberian ekstrak daun sambiloto dan bagaimana kinerja daun sambiloto
dalam mempengaruhi proses dalam tubuh, sehingga mempermudah dalam
proses penelitian nantinya, serta dapat menjadi rujukan saat melakukan tugas
akhir. Mahasiswa juga dapat mengetahui bukti ilmiah pengaruh pemberian daun
sambiloto. Selain itu, dengan mengetahui hal-hal yang terkait leukosit yang
merupakan salah satu komponen dalam darah yang berperan terhadap respon
imunitas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Imunitas
Sistem imun berkaitan dengan suatu sistem pertahanan tubuh terhadap
gangguan benda-benda asing berupa mikroorganisme ataupun terhadap
patogen. Patogen adalah sesuatu yang berasal dari luar tubuh dan dapat
menimbulkan penyakit. Tubuh memiliki berbagai mekanisme yang dapat
digunakan sebagai sistem kekebalan. Mekanisme yang termasuk sistem
kekebalan adalah kekebalan barrier atau tepi, mekanisme pertahanan nonspesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan barrier
atau tepi bekerja dengan cara menghambat ataupun menetralisir patogen
sebelum masuk dalam tubuh dan menimbulkan efek yang berbahaya. Kulit,
asam lambung, air mata, muntah ataupun buang air besar merupakan salah
satu bagian dari mekanisme pertahanan barrier atau tepi. Mekanisme
pertahanan tubuh non-spesifik membantu tubuh untuk memberikan respon
terhadap kerusakan jaringan dan hal-hal umum lainnya yang di dalamnya
termasuk patogen seperti bakteri ataupun virus, sedangkan mekanisme
pertahanan tubuh spesifik memungkinkan tubuh untuk dapat mengenali
patogen tertentu, baik itu bakteri atau sel asing lainnya serta virus, sehingga
akan memberi perlawanan khusus (Johnson, 2012).
Sistem imun non-spesifik sering juga disebut sebagai sistem imun nonadaptive ataupun innate. Sistem imun non-spesifik adalah sistem imun yang
melawan penyakit dengan cara yang sama kepada semua jenis penyakit.
Sistem imun ini tidak membeda-bedakan responnya kepada setiap jenis
penyakit, oleh karena itu disebut non-spesifik. Sistem imun ini bekerja dengan
cepat dan selalu siap jika tubuh diserang suatu penyakit. Sistem imun
pertahanan non-spesifik dapat dibagi menjadi empat, yaitu pertahanan secara
mekanis, biokimia, humoral dan seluler. Pertahanan fisik dapat berupa kulit,
lapisan mukosa / lendir, silia atau rambut pada saluran nafas, mekanisme batuk
dan bersin. Pertahanan fisik ini umumnya melindungi tubuh dari penyakit yang
berasal dari lingkungan atau luar tubuh kita. Pertahanan ini merupakan
pelindung pertama pada tubuh kita. Pertahanan biokimia ini adalah pertahanan
yang berupa zat-zat kimia yang akan menangani mikroba yang lolos dari
pertahanan fisik. Pertahanan ini dapat berupa pH asam yang dikeluarkan oleh
kelenjar keringat, asam lambung yang diproduksi oleh lambung, air susu, dan
saliva. Pertahanan humoral melibatkan molekul-molekul yang larut unutk

melawan mikroba. Biasanya molekul yang bekerja adalah molekul yang berada
di sekitar daerah yang dilalui oleh mikroba. Contoh molekul larut yang bekerja
pada pertahanan ini adalah interferon (IFN), defensin, kateisidin, dan sistem
komplemen. Pertahanan seluler melibatkan sel-sel sistem imun dalam melawan
mikroba. Sel-sel tersebut ada yang ditemukan pada sirkulasi darah dan ada
juga yang di jaringan. Neutrofil, Basofil, Eusinofil, Monosit, dan sel NK adalah
sel sistem imun non-spesifik yang biasa ditemukan pada sirkulasi darah.
Sedangkan sel yang biasa ditemukan pada jaringan adalah sel mast, makrofag
dan sel NK (Yuwono, 2008).
Sistem imun spesifik atau adaptif adalah sistem imun yang
membutuhkan pajanan atau bisa disebut harus mengenal dahulu jenis mikroba
yang akan ditangani. Sistem imun ini bekerja secara spesifik karena respon
terhadap setiap jenis mikroba berbeda. Karena membutuhkan pajanan, sistem
imun ini membutuhkan waktu yang agak lama untuk menimbulkan respon.
Namun jika sistem imun ini sudah terpajan oleh suatu mikroba atau penyakit,
maka perlindungan yang diberikan dapat bertahan lama karena sistem imun ini
mempunyai memori terhadap pajanan yang didapat. Sistem imun spesifik atau
adaptif ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu spesifik humoral dan spesifik
seluler. Pada sistem imun spesifik humoral ini ang paling berperan adalah sel B
atau limfosit B. Sel B ini berasal dari sumsum tulang dan akan menghasilkan sel
plasma, lalu menghasilkan antibodi. Antibodi inilah yang akan melindungi tubuh
kita dari infeksi ekstraselular, virus dan bakteri, serta menetralkan toksinnya.
Pada sistem imun spesifik seluler, sel T atau Limfosit T yang paling berperan.
Sel ini juga berasal dari sumsum tulang, namun dimatangkan di timus. Fungsi
umum sistem imun ini adalah melawan bakteri yang hidup intraseluler, virus,
jamur, parasit dan tumor. Sel T nantinya akan menghasilkan berbagai macam
sel, yaitu sel CD4+ (Th1, Th2), CD8+, dan Ts (Th3) (Yuwono, 2008).
Semua sel imun mempunyai bentuk dan jenis sangat bervariasi dan
bersirkulasi dalam sistem imun dan diproduksi oleh sumsum tulang (bone
marrow). Sedangkan kelenjar limfa adalah kelenjar yang dihubungkan satu
sama lain oleh saluran limfa yang merupakan titik pertemuan dari sel-sel sistem
imun yang mempertahankan diri dari benda asing yang masuk kedalam tubuh.
Limpa adalah organ yang penting tempat dimana sel imun berkonfrontasi
dengan mikroba asing, sedangkan kantung-kantung organ limfoid yang terletak
diseluruh bagian tubuh seperti sumsum tulang, thimus, tonsil, adenoid dan
apendik adalah juga merupakan jaringan limfoid. Sistem imun aktif jika ada
bahan asing (antigen) beredar di dalam tubuh setelah masuk dinding sel. Hal ini

terjadi disebabkan pertahanan pertama tubuh tidak mampu menetralisir agen


infeksi sehingga agen infeksi tersebut masuk dan beredar melalui peredaran
darah keseluruh tubuh. Pertahanan pertama yang bertanggung jawab terhadap
serangan agen infeksi adalah sel imun non-spesifik (innate immunity) seperti sel
monosit, makrofag, neutrofil, basofil, polimorfonuklear, sel dendrit, sel langerhan
dan sel mast. Jika sel-sel tersebut tidak mampu menetralisir agen infeksi maka
selanjutnya terjadilah penginfeksian dan kemudian sistem pertahanan kedua
muncul yang dikenal adaptive immune responses. Pertahanan kedua aktif
setelah terjadi komunikasi diantara sel imun yang didahului adanya sekresi
sitokin dan ekspresi peptida antigen ke permukaan sel imun non-spesifik yang
dikenal dengan antigen precenting cells (APC) dan selanjutnya akan
mengaktifkan sel B dan sel T (Yuwono, 2008).

(Johnson, 2012)
(a)

(Johnson, 2012)
(b)
Gambar 1. (a) produksi antibodi oleh sel B, (b) penyerangan patogen
oleh antibodi.
2.2 Organ Limfoid Primer dan Sekunder
Sistem limfatik memiliki salah satu fungsi utama yang berkaitan
dengan sistem imunitas, yaitu perlindungan terhadap infeksi, sehingga sistem
limfatik nantinya akan melindungi tubuh terhadap serangan patogen yang dapat
menyebabkan penyakit. Sebagian besar sel-sel imun diproduksi dalam sistem
limfatik dan diedarkan dalam darah. Komponen dasar dari sistem limfatik
adalah jaringan pembuluh getah bening yang mengalir ke seluruh tubuh,
sumsum tulang, nodus limfatik, limfa, kelenjar timus, tonsil dan adenoid. Organorgan limfoid berperan sebagai tempat hidup sel fagositik. Berdasarkan
fungsinya organ limfoid dibagi menjadi organ limfoid primer dan sekunder.
Organ limfoid primer merupakan organ yang terlibat dalam sintesis atau
produksi sel imun, yaitu kelenjar timus dan susmsum tulang. Jaringan limfoid
primer berfungsi sebagai tempat diferensiasi limfosit yang berasal dari jaringan
myeloid. Terdapat dua jaringan limfoid primer, yaitu kelenjar timus yang
merupakan diferensiasi limfosit T dan sumsum tulang yang merupakan
diferensiasi limfosit B. Nama kedua limfosit ini disesuaikan dengan dengan
tempat limfosit tersebut mengalami maturasi, yaitu limfosit B dalam bone

marrow dan limfosit T dalam timus. Meskipun kedua jenis limfosit ini dapat
mengenali dan menuju target berupa antigen, tetapi mereka memiliki cara kerja
yang berbeda. Sel B bekerja sebagai kekebalan atau antibodi tubuh, dimana
protein mengikat dan menetralisir antigen spesifik. Pelepasan antibodi terjadi
dalam kelenjar getah bening dan darah yang nantinya akan beredar ke seluruh
tubuh. Antibodi ini bekerja melawan virus, bakteri dan molekul asing yang larut
dalam darah dan getah bening. Sel T bekerja sebagai sistem imunitas dan tidak
menghasilkan antibodi. Beberapa jenis sel T langsung menyerang target yang
membawa antigen, sel T yang lain juga dapat melepaskan suatu protein yang
dapat membantu aspek lain sebagai akibat atau respon dari sistem imunitas,
yang di dalamnya termasuk sel B, sel T dan makrofag. Bahkan sel T memiliki
kemampuan untuk dapat mengidentifikasi dan membunuh sel-sel dalam tubuh
yang sedang terinfeksi, bahkan sebelum sel-sel tersebut memiliki kesempatan
untuk melepaskan bakteri atau virus ke dalam darah (Johnson, 2012).
Timus merupakan organ yang terletak dalam mediastinum di depan
pembuluh-pembuluh darah besar yang meninggalkan jantung, yang termasuk
dalam organ limfoid primer. Timus merupakan satu-satunya organ limfoid primer
pada mamalia yang tampak dan merupakan jaringan limfoid pertama pada
embrio sesudah mendapat sel induk dari saccus vitellinus. Limfosit yang
terbentuk mengalami proliferasi tetapi sebagian akan mengalami kematian,
yang hidup akan masuk ke dalam peredaran darah sampai ke organ limfoid
sekunder dan mengalami diferensiasi menjadi limfosit T. Limfosit ini akan
mampu mengadakan reaksi imunologis humoral. Timus mengalami involusi
secara fisiologis dengan perlahan-lahan. Cortex menipis, produksi limfosit
menurun sedang parenkim mengkerut diganti oleh jaringan lemak yang berasal
dari jaringan pengikat interlobuler. Selain timus, sumsum tulang belakang juga
merupakan organ limfoid primer. Sumsum tulang terdapat pada sternum,
vertebra, tulang iliaka, dan tulang iga. Sel stem hematopoetik akan membentuk
sel-sel darah. Proliferasi dan diferensiasi dirangsang sitokin. Selain itu, terdapat
juga sel lemak, fibroblas dan sel plasma. Sel stem hematopoetik akan menjadi
progenitor limfoid yang kemudian mejadi prolimfosit B dan menjadi prelimfosit B
yang selanjutnyamenjadi limfosit B dengan imunoglobulin D dan imunoglobulin
M (B Cell Receptor) yang kemudian mengalami seleksi negatif sehingga
menjadi sel B naive yang kemudian keluar dan mengikuti aliran darah menuju
ke organ limfoid sekunder. Sel stemhematopoetik menjadi progenitor limfoid
juga berubah menjadi prolimfosit T danselanjutnya menjadi prelimfosit T yang
akhirnya menuju timus (Johnson, 2012).

(Johnson, 2012)
Gambar 2. Sistem limfatik.
Organ Limfoid sekunder berfungsi untuk menangkap dan
mempresentasikan antigen dengan efektif, proliferasi dan diferensiasi limfosit
yang disensitasi oleh antigen spesifik serta produksi utama antibodi. Organ
utamanya adalah MALT (Mucosa Assosiated Lymphoid Tissue) yang meliputi
jaringan limfoid ekstranodul yang berhubungan dengan mukosa diberbagai
lokasi seperti SALT (Skin-Associated Lymphoid Tissue atau kulit), BALT
(Bronchial Associated Lymphoid Tissue atau bronkus) berperan dalam antigen
kuman yang terhirup, GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang tersebar di
saluran pencernaan. Jaringan limfoid sekunder berfungsi sebagai tempat
menampung sel-sel limfosit yang telah mengalami diferensiasi dalam jaringan
sentral menjadi sel-sel yang imunokompeten yang berfungsi sebagai komponen
imunitas tubuh. Dalam jaringan limfoid sekunder, sebagai stroma terdapat sel
retikuler yang berasal dari mesenkim dengan banyak serabut-serabut retikuler.
Jaringan limfoid yang terdapat dalam tubuh sebagian besar tergolong dalam
jaringan ini, contohnya limfa, tonsil, limfonodus (Johnson, 2012).
Lien atau limfa merupakan organ limfoid yang terletak di cavum
abdominal di sebelah kiri atas di bawah diafragma dan sebagian besar
dibungkus oleh peritoneum. Lien merupakan organ penyaring yang kompleks
yaitu dengan membersihkan darah terhadap bahan-bahan asing dan sel-sel
mati disamping sebagai pertahanan imunologis terhadap antigen. Lien

berfungsi pula untuk degradasi hemoglobin, metabolisme Fe, tempat


persediaan trombosit, dan tempat limfosit T dan B. Pada beberapa binatang,
lien berfungsi pula untuk pembentukan eritrosit, granulosit dan trombosit. Selain
limfa, ada juga tonsil dan limfonodus. Tonsil disebut juga amandel. Tonsil
terletak di bagian kiri dan kanan pangkal tenggorokan. Tonsil mensekresikan
kelenjar yang banyak mengandung limfosit, sehingga tonsil dapat berfungsi
untuk membunuh bibit penyakit dan melawan infeksi pada saluran pernapasan
bagian atas dan faring. Lubang penghubung antara cavum oris dan faring
disebut faucia. Di daerah ini membran mukosa tractus digestivus banyak
mengandung kumpulan jaringan limfoid dan terdapat infiltrasi kecil-kecil
diseluruh bagian di daerah tersebut. Selain itu ditemukan juga organ limfoid
dengan batas-batas nyata. Nodus limfa terbagi menjadi ruangan yang lebih
kecil yang disebut nodulus. Nodulus terbagi menjadi ruangan yang lebih kecil
lagi yang disebut sinus. Di dalam sinus terdapat limfosit dan makrofag. Fungsi
nodus limfa adalah untuk menyaring mikroorganisme yang ada di dalam limfa.
Nodus lymphaticus merupakan organ kecil yang terletak berderet-deret
sepanjang pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya merupakan kumpulan yang
mampu mengenal antigen yang masuk dan memberi reaksi imunologis secara
spesifik. Organ ini berbentuk seperti ginjal atau oval dengan ukuran 1-2,5 mm.
Bagian yang melekuk ke dalam disebut hillus, yang merupakan tempat keluar
masuknya pembuluh darah. Pembuluh limfe aferen masuk melalui permukaan
konveks dan pembuluh limfe eferen keluar melalui hillus. Nodus lymphaticus
tersebar pada ekstrimitas, leher, ruang retroperitoneal di pelvis dan abdomen
dan daerah mediastinum dan yang terakhir adalah MALT. Jaringan Limfoid
Mukosal (MALT) terletak di tunika mukosa terutama lamina propria, traktus
digestivus, respiratorius dangenitourinarius. MALT terdiri dari sel T terutama
CD8, sel B dan APC. Pada traktus digestivus terdiri dari limfosit difus,
limfonoduli soliter dan berkelompok (tonsila, plaque peyeri). Sedangkan pada
traktus respiratorius dan genitourinarius terdiri dari limfosit difus, limfonoduli
soliter. Sistem imun mukosa pada jaringan limfoid mukosa merupakan
komponen terbesar sistem limfoid melebihi lien dan limfonodus (Johson, 2012).

(Peter, 2008)
Gambar 3. Letak organ limfoid dalam tubuh.
2.3 Macam-macam Leukosit
Darah mengandung beberapa jenis sel yang terangkut di dalam cairan
kuning yang disebut plasma darah. Plasma darah tersusun atas 90% air yang
mengandung sari makanan, protein, hormon, dan endapan kotoran selain selsel darah. Selain itu, ada pula tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Zat yang
terlarut dalam plasma darah dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam,
yaitu zat makanan dan mineral, seperti glukosa, asam amino, asam lemak,
kolesterol, serta garam-garam mineral, zat-zat yang diproduksi sel, seperti
enzim, hormon, dan antibodi, protein darah, yang tersusun atas beberapa asam
amino, yaitu albumin, yang sangat penting untuk menjaga tekanan osmotik
darah fibrinogen, untuk proses pembekuan darah globulin, untuk membentuk
gemaglobulin, zat-zat metabolisme, seperti urea, asam urat, dan zat-zat sisa
lainnya, seperti gas-gas pernapasan yang juga larut dalam plasma. Gas-gas
pernapasan yang larut dalam plasma darah ialah O 2, CO2, dan N2. Plasma ialah
cairan darah (55 %) yang sebagian besar terdiri dari air yang jika dilkalkulasi
bisa mencapai 90 93 %, 7 % protein, 1 % nutrien . Di dalam plasma terdapat

sel-sel darah, keping darah, albumin dan gamma globulin yang berguna untuk
mempertahankan tekanan osmotik koloid dan gamma globulin yang juga
mengandung antibodi (imunoglobulin) seperti IgM, IgG, IgA, IgD, IgE untuk
mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme. Di dalam plasma juga
terdapat zat/faktor-faktor pembeku darah, komplemen, haptoglobin, transferin,
feritin, seruloplasmin, kinina, enzim, polipeptida, glukosa, asam amino, lipida,
berbagai mineral, dan metabolit, hormon dan vitamin-vitamin. Sel-sel darah itu
sendiri tersusun atas kurang lebih 45 % terdiri dari Eritrosit, sedang sisanya
terdiri dari Leukosit atau sel darah putih dan Trombosit. Sel Leukosit terdiri dari
Basofil, Eosinofil, Neutrofil, Limfosit, dan Monosit (Khaw dkk., 2004).
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (tidak
termasuk tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan
oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia
hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau
bakteri. Pada serangga, darah (atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak
terlibat dalam peredaran oksigen. Oksigen pada serangga diedarkan melalui
sistem trakea berupa saluran-saluran yang menyalurkan udara secara langsung
ke jaringan tubuh. Darah serangga mengangkut zat ke jaringan tubuh dan
menyingkirkan bahan sisa metabolisme. Pada hewan lain, fungsi utama darah
ialah mengangkut oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan tubuh. Dalam
darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada
sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil,
oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa
oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut
oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau
vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan
digunakan oleh hewan crustaceae (Khaw dkk., 2004).
Sel darah putih disebut juga sebagai leukosit. Sel darah putih normal
berjumlah 5000 hingga 10000 perliter, apabila jumlah ini dibandingkan dengan
jumlah sel darah merah, maka dapat dikatakan jumlah sel darah putih ini jauh
lebih kecil. Terdapat lima jenis sel darah putih yang kelimanya diproduksi di
tempat yang sama, yaitu di sumsum tulang merah dan beberapa juga
diproduksi di limfosit yang ada di jaringan limfatik. Leukosit memiliki ukuran
yang lebih besar dibandingkan eritrosit (sel darah merah). Di dalam leukosit
terdapat nukleus dan mitokondria, selain itu leukosit mampu bergerak sacara
amoeboid dan hal kemampuan inilah yang menjadikan leukosit dapat bergerak
melewati pori-pori di dinding kapiler dan berpindah ke sisi ekstravaskuler yang

mengalami infeksi. Pergerakan leukosit melalui dinding kapiler dinamakan


diapedesis. Sel darah putih tidak memiliki hemoglobin. Leukosit susah diamati
di bawah mikroskop, kecuali dilakukan pewarnaan terhadapnya, oleh karena itu,
leukosit seringkali diklasifikasikan berdasarkan pewarnaan pada
penampilannya. Leukosit memiliki umur yang pendek, biasanya berkisar antara
beberapa jam hingga kurang lebih 9 hari, yang mana hal ini dipengaruhi
aktivitas perlawanan terhadap mikroorganisme. Akan tetapi, monosit yang
merupakan salah satu jenis dari leukosit mampu hidup hingga beberapa bulan,
limfosit mampu hidup dari beberapa hari hingga beberapa tahun. Sel darah
putih yang mati ataupun terluka akan segera dihilangkan oleh hati dan spleen
(Graaf, 2001).
Leukosit dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu granular dan
agranular. Leukosit granular adalah neutrofil, eusinofil dan basofil yang mana
biasanya memiliki inti dalam dua atau lebih lobus serta memiliki pewarnaan
yang jelas apabila diberikan pewarna. Neutrofil memiliki granular berwarna biru
muda, eosinofil bergranular merah dan basofil bergranular biru tua. Neutrofil
mengisi sekitar 60 % bagian dari sel darah putih. Target dari neutrofil ini adalah
fungi dan bakteri, jumlahnya juga akan bertambah seiring dengan
bertambahnya jumlah bakteri-bakteri yang ada dalam tubuh. Eosinofil
menyusun sedikit bagian pada leukosit, yaitu sekitar 2-4 %. Eosinofil
memerankan dua fungsi utama, yang pertama adalah menjaga tubuh dari
serangan parasit, semacam cacing, yang mana hewan ini memiliki ukuran yang
sangat besar jika dibandingkan dengan mikroba-mikroba lainnya yang nantinya
akan difagosit oleh eosinofil dan fungsi yang kedua adalah kemampuan
eosinofil untuk memberikan respon alergi. Nama eosinofil disesuaikan dengan
nama pewarnaan yang digunakan, yaitu eosin. Basofil merupakan penyusun
leukosit dengan jumlah yang paling sedikit, yaitu 0,5 %. Nama basofil
disesuaikan dengan pewarnaannya yang menggunakan warna biru. Granula
pada sitoplasma basofil terdapat histamin, yang mana histamin ini akan
mengeluarkan plasma darah pada daerah yang mengalami luka. Plasma darah
akan memberikan nutrisi pada sel dan proses-proses kimiawi yang dibutuhkan
sel yang sedang mengalami luka, dimana salah satunya adalah pembentukan
dan perbaikan jaringan. Akibat dari proses yang dilakukan oleh basofil terkait
dengan sistem imunitas adalah pembengkakan, timbulnya rasa gatal dan
kemerahan yang berhubungan dengan inflamasi yang terjadi dalam tubuh, akan
tetapi hal ini merupakan suatu respon imunitas dari basofil terhadap molekulmolekul yang dapat mengancam kesehatan (Johnson, 2012).

(Johnson, 2012)
Gambar 4. Neutrofil yang sedang menyerang bakteri basilus.

(Graaf, 2001)
Gambar 5. Sel darah putih tipe granular (granulosit).
Leukosit agranular adalah limfosit dan monosit yang hanya memiliki satu
inti dalam satu segmen. Monosit biasanya sedikit lebih besar dibandingkan
dengan limfosit dengan jumlah sekitar 5 % dalam darah sel darah putih.
Monosit lebih aktif apabila terjadi infeksi kronis, yang diakibatkan virus atau
bakteri parasit tertentu (Johnson, 2012). Fungsi sel darah putih umumnya
sama, yaitu melindungi tubuh dari infeksi penyakit dan membantu memberikan
tubuh suatu kekebalan terhadap penyakit tertentu. Setiap jenis dari leukosit ini
memberikan aspek pentik terhadap proses homeostasis dalam tubuh. Neutrofil
dan monosit berfungsi untuk memfagosit patogen dengan perubahan menjadi
makrofag. Neutrofil memiliki jumlah yang lebih banyak, akan tetapi monosit
memiliki kemampuan fagosit lebih efisien. Apabila terjadi infeksi, maka neutrofil
akan diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat. Eosinofil
berfungsi dalam proses detoksifikasi dan penting dalam proses reaksi alergi
dan infeksi parasit. Basofil mengandung butiran heparin dan histamin. Heparin

adalah antikoagulan yang membantu mencegah pembekuan dalam pembuluh


darah yang abnormal, sedangkan histamin biasanya dilepaskan atau
dikeluarkan sebagai bagian dari proses peradangan dan hal ini membuat
kapiler lebih permeabel, sehingga memungkinkan sel darah putih, protein dan
cairan jaringan untuk berakumulasi di daerah yang mengalami kerusakan
(Scanlon dan Sanders, 2007).

(Graaf, 2001)
Gambar 6. Sel darah putih tipe agranular (agranulosit).
Limfosit mengisi sekitar 30 % dari total sel darah putih. Limfosit biasa
ditemukan dalam aliran darah, amandel, limfa, kelenjar getah bening dan
kelenjar timus. Sel darah putih jenis limfosit ini dapat dibedakan menjadi tiga,
yaitu sel B, sel T dan NK Cell (Natural Killer Cell). T-limfosit bekerja dalam
membantu mengenali antigen asing dan langsung menghancurkannya, seperti
pada bakteri, virus dan sel-sel kanker. B-limfosit bekerja dengan cara menjadi
plasma sel yang memproduksi antibodi terhadap antigen asing. Baik T-limfosit
maupun B-limfosit memiliki kemampuan untuk melakukan memorizing atau
mengingat untuk membantu sistem kekebalan dan NK Cell akan melakukan
proses penghancuran sel asing tidak secara spesifik dengan bantuan proses
kimia. Trombosit sendiri berperan dalam (Scanlon dan Sanders, 2007).

(Scanlon dan Sanders, 2007)


Gambar 7. Sel darah: (a) sel darah merah dan basofil;
(b) Limfosit (kiri) dan neutrofil (kanan);(c) Eosinofil;
(d) Monosit; (e) Megakartosit dan (f) sumsum tulang normal.

2.4 Peran Sambiloto pada Leukosit


Di Indonesia, sambiloto dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti
ki oray, takilo atau ki peurat (Sunda), sadilata (Jawa) atau pepaitan (Melayu).
Tanaman ini merupakan anggota famili Acanthaceae dengan nama spesies
Andrographis paniculata Nees. Sambiloto dapat tumbuh dengan baik di
beberapa negara Asia Selatan, seperti India, Sri Lanka dan Indonesia yang
termasuk Asia Tenggara di bagian Selatan. Sambiloto dapat hidup di tempattempat dengan ketinggian 700 m dpl. Sambiloto banyak ditemukan sebagai
tanaman yang tumbuh secara liar ataupun sengaja ditanam sebagai tanaman
obat. Tanaman ini berupa herba tegak dengan tinggi 0,5 1 meter. Batang
mudanya berukuran kecil, berbentuk segi empat atau tetraangularis dan tidak
berambut. Batang yang sudah tua mulai mengayu dan pangkalnya berbentuk

sirkularis. Batangnya bercabang secara monopodial dan berwarna hijau.


Daunnya tunggal dan berbentuk bulat telur dengan posisi bersilangan
berhadapan (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). Bagian pangkal dan ujung
daun runcing dengan helai daun bertepi rata dan pertulangan daun menyirip.
Bagian atas daun berwarna hijau tua, sedangkan bagian bawah daun berwarna
hijau pucat. Rasa daun ketika dimakan maka akan sangat pahit. Bunga dari
Sambiloto merupakan bunga majemuk berwarna putih dengan garis-garis ungu.
Mahkota daun tersusun atas lima petala berbentuk tabung, serta merupakan
bunga zigomorf dengan ujung menyerupai bibir. Letaknya menyendiri di ketiak
atau di ujung. Kelopak bunga berbentuk lanset dengan pangkal yang saling
berlekatan. Kepala putik berwarna ungu kecoklatan dan buahnya berbentuk
kotak ataupun silinder , tegak dan bagian ujungnya runcing. Ketika masih muda,
buahnya berwarna hijau, sedangkan apabila sudah masak, akan berubah
menjadi kehitaman. Bijinya berjumlah empat buah dan akan terlempar keluar
apabila buah sudah masak (Kartasapoetra, 1992).

(Sambiloto, 2015)
Gambar 8. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees).
Menurut Dalimartha (1999) kandungan kimia dari sambiloto yaitu,
laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolide (zat pahit),
neoandrografolid,
14-deoksi-11,
12didehidroandrografolid,
dan
homoandrografolid, juga terdapat flavonoid, alkana, keton aldehid, mineral
(kalium, kalsium dan natrium), asam kersik dan damar. Komponen aktif dari
sambiloto yaitu andrographolide yang berkhasiat sebagai anti bakteri, anti
radang, mengontrol reaksi imunitas (imunomodulator), penghilang nyeri
(analgesik), pereda demam (anti piretik), menghilangkan panas dalam dan

penawar racun (detoksifikasi). Menurut Pearce (2009), sambiloto


(Andrograhphis paniculata Nees.) kaya akan zat aktif yang bermanfaat yang
mempunyai fungsi sebagai imuno-modulator. Imunomodulator dipandang
sebagai bagian terpenting dalam dunia pengobatan. Imunomodulator
mendorong tubuh seseorang untuk mengoptimalkan fungsi sistem imun yang
berperan dalam pertahanan tubuh. Fungsi imunomodulator ialah memperbaiki
sistem imun yaitu dengan cara stimulasi (imunostimulan) atau menekan atau
menormalkan reaksi imun yang abnormal (imunosupresan). Sambiloto
(Andrograhphis paniculata Nees.) dapat menstimulasi kekebalan terhadap
antigen baik yang spesifik maupun non-spesifik. Kekebalan spesifik ditandai
dengan adanya peningkatan jumlah sel-sel limfosit dalam peredaran darah,
sedangkan kekebalan non spesifik ditandai dengan adanya peningkatan jumlah
sel heterofil, eosinofil dan basofil. Meningkatnya jumlah leukosit, akan seiring
dengan meningkatnya jumlah eritrosit, karena leukosit jumlah selnya dalam
darah paling sedikit, sekitar satu sel darah putih untuk setiap 700 sel darah
merah. Senyawa aktif yang terdapat di dalam sambiloto dapat menyebabkan
peningkatan leukosit mencit pada dosis rendah, sedangkan pada dosis yang
ditingkatkan dapat menyebabkan penurunan nilai leukosit, tetapi masih di atas
batas normal.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah Selasa, 15 Desember
2015, pukul 13.00 - 15.00 di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini diantaranya adalah
seperangkat alat bedah, mortar, pestle, counter, mikroskop, kertas tissue,
microtube, mikropipet, slide, cover glass, dan hemositometer. Sedangkan
bahan yang dignakan adalah mencit yang telah diberi dosis ekstrak daun
sambiloto dan PBS.
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Isolasi Limfosit pada Spleen
Mula-mula mencit didislokasi lehernya, kemudian dibedah dan diisolasi
bagian spleennya. Spleen hang didapatkan dari hasil isolasi dicuci
menggunakan PBS hingga tiga kali. Kemudian spleen digerus searah jarum jam
menggunakan pangkal spuit di dalam cawan petri berisi 3 ml larutan PBS.
Hasil gerusan diletakkan di dalam tabung propilen dan ditambah PBS hingga
jumlah totalnya mencapai 10 ml, lalu disentrifugasi dengan kecepatan 2500
rpm, pada suhu 5 C selama 5 menit. Kemudian pelet yang dihasilkan dari
sentrifugasi ditambahkan dengan 1 ml larutan PBS dan diresuspensi agar sel
limfosit dapat menyebar dengan rata. Hasil resuspensi diambil sebanyak 5 l
dan diletakkan dalam microtube, lalu ditambahkan 95 l Evans blue dan
diresuspensi kembali. Kemudian diamati di bawah mikroskop pada perbesaran
400X dan dilakukan penghitungan jumlah sel menggunakan hemositometer,
sehingga dihasilkan jumlah sel limfosit pada spleen.
3.3.2 Isolasi Limfosit pada Bone Marrow
Mencit yang telah dibedah dipotong bagian pahanya dan dikuliti serta
dibersihkan dari rambut mencit. Paha yang didapatkan dicuci menggunakan
PBS sebanyak tiga kali. Setelah dilakukan pencucian menggunakan PBS, paha
yang telah dikuliti dipotong bagian tibia dan femurnya. Bagian ujung masingmasing tibia dan femur dipotong dan dilakukan flushing hingga stromanya
terlepas, sambil disiapkan 1 ml PBS dalam spuit. Hasil flushing ditampung
dalam cawan petri yang nantinya dimasukkan dalam tabung propilen dan
ditambah PBS hingga jumlah totalnya mencapai 10 ml, lalu disentrifugasi
dengan kecepatan 2500 rpm, pada suhu 5 C selama 5 menit. Kemudian pelet

yang dihasilkan dari sentrifugasi ditambahkan dengan 1 ml larutan PBS dan


diresuspensi agar sel limfosit dapat menyebar dengan rata. Hasil resuspensi
diambil sebanyak 5 l dan diletakkan dalam microtube, lalu ditambahkan 95 l
Evans blue dan diresuspensi kembali. Kemudian diamati di bawah mikroskop
pada perbesaran 400X dan dilakukan penghitungan jumlah sel menggunakan
hemositometer, sehingga dihasilkan jumlah sel limfosit pada hasil isolasi bone
marrow pada tulang tibia dan femur.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah seperangkat alat
bedah, cawan petri, spuit, counter, tabung propilen, sentrifugator, microtube,
mikropipet, slide, cover glass, mikroskop dan hemositometer. Seperangkat alat
bedah digunakan untuk membedah mencit yang akan diamati bagian spleen
dan sumsum tulangnya (bone marrow). Cawan petri digunakan untuk tempat
penggerusan spleen dan spuit digunakan untuk menggerus spleen. Tabung
propilen digunakan sebagai tempat penampungan sementara yang nantinya
akan di sentrigfugasi, sentrifugator merupakan alat yang digunakan untuk
sentrifugasi, dimana sentrifugasi ini berfungsi untuk memisahkan larutan
berdasarkan berat molekulnya. Microtube digunakan untuk menampung hasil
sentrifugasi. Mikropipet digunakan untuk memindahkan larutan dalam ukuran
kecil. Kemudian cover glass dan slide glass digunakan untuk mengamati sel
limfosit di bawah mikroskop. Hemositometer digunakan untuk menentukan
bidang pandang yang akan digunakan untuk mengamati sel. Bahan yang
digunakan adalah ekstrak daun sambiloto yang diduga merupakan suatu bahan
yang akan mempengaruhi sistem imun, khususnya jumlah limfosit pada spleen
dan bone marrow.
Isolasi limfosit pada spleen mula-mula dilakukan dengan pendislokasian
pada bagian leher mencit (Mus musculus). Pendislokasian ini merupakan cara
membunuh mencit yang cukup singkat, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit
yang terlalu lama. Setelah mencit yang didislokasi mati, kemudian mencit
dibedah dan diambil bagian spleen dan dipotong pahanya untuk diambil bagian
bone marrownya. Spleen dicuci dengan PBS sebanyak tiga kali untuk
membersihkan spleen dari lemak dan darah, karena lemak dan darah nantinya
akan mengganggu proses pengamatan pada sel limfosit. Paha yang telah
dipotong, dikuliti dan diambil bagian tibia dan femurnya yang merupakan letak
bone marrow. Kemudian spleen digerus searah menggunakan spuit di cawan
petri menggunakan pangkal spuit, dimana cawan petri berisi 3 ml PBS.
Penggerusan dilakukan untuk menghancurkan spleen, sehingga memudahkan
proses pengamatan terhadap limfosit yang ada pada spleen. Penggerusan
searah berfungsi agar sel limfosit dalam spleen tidak hancur dan mati. Spleen
yang sudah digerus dan dicampur dengan PBS diresuspensi agar limfosit yang

didapatkan dalam spleen dapat tersebar merata atau terhomogenasi. Larutan


yang telah terhomogenasi dimasukkan dalam tabung propilen ditambahkan
PBS hingga jumlah larutan total mencapai 10 ml. Penambahan PBS berfungsi
untuk menjaga viabilitas sel limfosit. Kemudian larutan disentrifugasi pada 2500
rpm, selama 5 menit pada suhu 10 C, sehingga larutan terpisah berdasarkan
berat molekulnya dan didapatkan pelet dan supernatan. Pelet ditambahkan
dengan 1 ml PBS dan diresuspensi sehingga larutan menjadi homogen.
Kemudian larutan diambi 5 l dan diletakkan dalam microtube lalu ditambahkan
dengan 95 l Evans blue serta larutan diresuspensi. Penambahan Evans blue
berfungsi untuk mewarnai sel, sehingga mempermudah pengamatan.
Kemudian dihitung jumlah selnya dalam hemositometer di bawah mikroskop
dengan perbesaran 400X.
Bagian paha yang telah dikuliti tadi, dipotong, sehingga didapatkan
bagian tibia dan femur. Tibia dan femur dipotong di kedua ujung sisinya
sehingga pada masing-masing ujung tulang tibia dan femur terdapat lubang.
Kemudian dilakukan flushing pada tibia dan femur sambil menyiapkan PBS 1 ml
dalam spuit. Proses flushing berfungsi untuk mengeluarkan sel limfosit yang
ada pada bone marrow. Sel limfosit yang telah didapatkan dari bone marrow
dimasukkan dalam tabung propilen dan ditambahkan dengan larutan PBS
hingga jumlah totalnya mencapai 10 ml. Larutan yang sudah berada pada
tabung propilen disentrifugasi pada 2500 rpm, selama 5 menit pada suhu 10
C, sehingga larutan terpisah berdasarkan berat molekulnya dan didapatkan
pelet dan supernatan. Pelet ditambahkan dengan 1 ml PBS dan diresuspensi
sehingga larutan menjadi homogen. Kemudian larutan diambi 5 l dan
diletakkan dalam microtube lalu ditambahkan dengan 95 l Evans blue serta
larutan diresuspensi. Penambahan Evans blue berfungsi untuk mewarnai sel,
sehingga mempermudah pengamatan. Kemudian dihitung jumlah selnya dalam
hemositometer di bawah mikroskop dengan perbesaran 400X.
4.2 Analisa Hasil
Hasil pengamatan terhadap limfosit pada organ limfoid primer,
khususnya bone marrow dan organ limfoid sekunder, khususnya spleen
menunjukkan hasil perhitungan seperti pada tabel di bawah ini.

Gambar 9. Data hasil pengamatan sel limfosit pada spleen dan bone marrow.

K
D1 - 1
D1 2
D2 1
D2 2
D3 1
D3 2
D4 1
D4 2

Spleen
353 x 106 sel / ml
185 x 106 sel / ml
176 x 106 sel / ml
134 x 106 sel / ml
112 x 106 sel / ml
175 x 106 sel / ml
74,8 x 106 sel / ml
108 x 106 sel / ml

Bone marrow
37 x 106 sel / ml
193 x 106 sel / ml
28 x 106 sel / ml
20 x 106 sel / ml
16 x 106 sel / ml
23 x 106 sel / ml
25,6 x 106 sel / ml
61 x 106 sel / ml

Hasil penghitungan sel limfosit pada organ spleen menunjukkan data


yang fluktuatif atau masih tidak stabil, dimana data masih menunjukkan nilai
yang naik dan turun. Akan tetapi, bila fokus pada hasil penghitungan sel limfosit
pada dosis 3 dan 4 terdapat kecenderungan nilai yang semakin naik. Akan
tetapi jumlah sel limfosit mencit kontrol yang didapatkan dari spleen terlampau
tinggi, jumlah limfosit dari dosis 3 menuju dosis 4 juga mengalami penurunan
yang cukup derastis, hal ini bisa jadi dikarenakan keadaan mencit yang sudah
tua atau mencit tersebut mendapat serangan patogen atau sedang sakit,
sehingga produksi sel limfositnya tinggi. Hasil pembedahan terhadap mencit
kontrol menunjukkan keadaan spleen yang relatif besar dibandingkan ukuran
normalnya. Penghitungan sel limfosit pada bone marrow menunjukkan hasil
yang juga fluktuatif atau tidak stabil. Akan tetapi, apabila fokus pada hasil
penghitungan sel limfosit pada dosis 3 dan 4 terdapat kecenderungan nilai yang
juga semakin naik. Pencilan data terdapat pada jumlah sel leukosit pada spleen
mencit kontrol dan leukosit bone marrow mencit yang diberi ekstrak sambiloto
dosis 1 perlakuan 1. Bahkan pada mencit kontrol dosis 1 perlakuan 1 ini juga
memiliki jumlah sel leukosit pada bone marrow lebih banyak dibandingkan pada
organ spleennya. Penghitungan sel laukosit pada bone marrow mencit
perlakuan 1 dosis 1 mungkin saja terjadi kesalahan, karena secara umum data
menunjukkan bahwa hasil penghitungan sel leukosit pada spleen lebih banyak
dibandingkan pada bone marrow. Pada mencit yang diberi perlakuan dosis 2
mengalami kematian, sehingga tidak didapatkan hasil penghitungan sel
leukositnya. Sehingga secara garis besar, terdapat suatu kecenderungan sel
pada awal dosis yang mengalami penurunan atau dengan kata lain pemberian
ekstrak daun sambiloto berperan sebagai imunosupresan, akan tetapi pada
suatu titik tertentu yang dirasa jumlah leukosit terlalu sedikit, maka pemberian

ekstrak daun sambiloto ini akan meningkatkan kembali jumlah sel leukosit pada
mencit atau dengan kata lain berperan sebagai imunostimulan.

Gambar 10. Analisa perbandingan jumlah leukosit pada spleen dan


bone marrow melalui grafik.
Pengamatan dan penghitungan sel leukosit khususnya limfosit dilakukan
di bawah mikroskop pada perbesaran 400X dengan pewarnaan Evans blue.
Pemberian evans blue ini berfungsi untuk mewarnai sel mati, sehingga apabila
dilakukan pengamatan di bawah mikroskop, sel mati akan terwarnai menjadi
biru. Sel yang mati terwarnai karena pada sel mati, membran selnya tidak lagi
berfungsi dengan baik dan tidak lagi permeabel, sehingga pewarnaan tersebut
dapat masuk ke dalam sel dan mewarnai sel (Atale dkk., 2014). Hasil
pengamatan pada mikroskop terhadap limfosit yang ada pada spleen dan bone
marrow menunjukkan adanya sel darah merah yang terwarnai menjadi kuning,
sel mati yang terwarnai menjadi biru dan sel limfosit itu sendiri yang tetap
berwarna bening.

(a)

(b)
Gambar 12. Hasil pengamatan limfosit pada mikroskop perbesaran 400X pada
(a) spleen dan (b) bone marrow.
Sel darah merah atau eritrodit berbentuk piringan pipih yang menyerupai
donat atau bentuk seperti ini sering disebut sebagai bentuk cakram bikonkaf
yang bagian pusatnya memipih. 45% darah tersusun atas sel darah merah yang
dihasilkan di sumsum tulang. Dalam setiap 1 cm kubik darah terdapat 5,5 juta
sel. Jumlah sel darah merah yang diproduksi setiap hari mencapai 200.000
biliun, rata-rata umurnya hanya 120 hari. Semakin tua semakin rapuh,
kehilangan bentuk, dan ukurannya menyusut menjadi sepertiga ukuran mulamula. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang kaya akan zat besi.
Warnanya yang merah cerah disebabkan oleh oksigen yang diserap dari paruparu. Pada saat darah mengalir ke seluruh tubuh, hemoglobin melepaskan
oksigen ke sel dan mengikat karbon dioksida. Sel darah merah yang tua
akhirnya akan pecah menjadi partikel-partikel kecil di dalam hati dan limpa.

Sebagian besar sel yang tua dihancurkan oleh limpa dan yang lolos
dihancurkan oleh hati. Hati menyimpan kandungan zat besi dari hemoglobin
yang kemudian diangkut oleh darah ke sumsum tulang untuk membentuk sel
darah merah yang baru. Dalam setiap sel darah sel darah merah terdapat 3 juta
molekul hemoglobin yang mana hemoglobin ini memiliki kemampuan untuk
dapat mengikat oksigen. Di dalam paru-paru, hemoglobin akan mengikat
oksigen dan terbentuklah sautu oksihemoglobin yang merupakan ikatan antara
hemoglobin dan oksigen. Sebenarnya, hemoglobin juga dapat melakukan
pengikatan terhadap CO2, dan mengangkutnya ke jaringan paru-paru, tetapi hal
ini hanya terjadi sekitar 10% dari proses pengikatan yang dilakukannya.
Produksi dan pematangan sel darah merah terjadi di sumsum tulang belakang
yang tempatnya dinamakan hemocytoblast. Tingkat kecepatan produksi sel
darah merah cukup tinggi , dimana oksigen adalah faktor utama yang dapat
mempengaruhi proses produksi sel darah merah tersebut. Apabila tubuh dalam
keadaan hipoksia atau kekurangan oksigen, maka ginjal akan memproduksi
eritoprotein yang memberikan signal pada sumsum tulang untuk meningkatkan
memproduksi sel darah merah (Scanlon dan Sanders, 2007).

(a)

(b)
(Scanlon dan Sanders, 2007)
Gambar 13. (a) Jumlah komponen darah dan (b) sel darah merah.
Limfosit mengisi sekitar 30 % dari total sel darah putih. Limfosit biasa
ditemukan dalam aliran darah, amandel, limfa, kelenjar getah bening dan
kelenjar timus. Sel darah putih jenis limfosit ini dapat dibedakan menjadi tiga,
yaitu sel B, sel T dan NK Cell (Natural Killer Cell). T-limfosit bekerja dalam
membantu mengenali antigen asing dan langsung menghancurkannya, seperti
pada bakteri, virus dan sel-sel kanker. B-limfosit bekerja dengan cara menjadi
plasma sel yang memproduksi antibodi terhadap antigen asing. Baik T-limfosit
maupun B-limfosit memiliki kemampuan untuk melakukan memorizing atau
mengingat untuk membantu sistem kekebalan dan NK Cell akan melakukan
proses penghancuran sel asing tidak secara spesifik dengan bantuan proses
kimia. Trombosit sendiri berperan dalam (Scanlon dan Sanders, 2007).

(Graaf, 2001)
Gambar 14. Limfosit.

4.3 Peran Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) pada Sistem Imun

Menurut Dalimartha (1999) kandungan kimia dari sambiloto yaitu,


laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolide (zat pahit),
neoandrografolid,
14-deoksi-11,
12didehidroandrografolid,
dan
homoandrografolid, juga terdapat flavonoid, alkana, keton aldehid, mineral
(kalium, kalsium dan natrium), asam kersik dan damar. Komponen aktif dari
sambiloto yaitu andrographolide yang berkhasiat sebagai anti bakteri, anti
radang, mengontrol reaksi imunitas (imunomodulator), penghilang nyeri
(analgesik), pereda demam (anti piretik), menghilangkan panas dalam dan
penawar racun (detoksifikasi). Menurut Pearce (2009), sambiloto
(Andrograhphis paniculata Nees.) kaya akan zat aktif yang bermanfaat yang
mempunyai fungsi sebagai imuno-modulator. Imunomodulator dipandang
sebagai bagian terpenting dalam dunia pengobatan. Imunomodulator
mendorong tubuh seseorang untuk mengoptimalkan fungsi sistem imun yang
berperan dalam pertahanan tubuh. Fungsi imunomodulator ialah memperbaiki
sistem imun yaitu dengan cara stimulasi (imunostimulan) atau menekan atau
menormalkan reaksi imun yang abnormal (imunosupresan). Sambiloto
(Andrograhphis paniculata Nees.) dapat menstimulasi kekebalan terhadap
antigen baik yang spesifik maupun non-spesifik. Kekebalan spesifik ditandai
dengan adanya peningkatan jumlah sel-sel limfosit dalam peredaran darah,
sedangkan kekebalan non spesifik ditandai dengan adanya peningkatan jumlah
sel heterofil, eosinofil dan basofil. Meningkatnya jumlah leukosit, akan seiring
dengan meningkatnya jumlah eritrosit, karena leukosit jumlah selnya dalam
darah paling sedikit, sekitar satu sel darah putih untuk setiap 700 sel darah
merah. Senyawa aktif yang terdapat di dalam sambiloto dapat menyebabkan
peningkatan leukosit mencit pada dosis rendah, sedangkan pada dosis yang
ditingkatkan dapat menyebabkan penurunan nilai leukosit, tetapi masih di atas
batas normal.
Tumbuhan obat yang bekerja pada sistem imunitas bukan hanya bekerja
sebagai efektor yang langsung menghadapi penyebab penyakitnya, melainkan
bekerja melalui pengaturan imunitas. Apabila mengobati penyakit yang
disebabkan oleh mikroorganisme dengan obat yang bersifat imunomodulator,
maka imunomodulator tidak akan bekerja langsung terhadap mikroorganisme
melainkan dengan cara sistem imunitas akan didorong untuk menghadapi
melalui efektor sistem imunitas. Daun sambiloto (Andrographis paniculata)
adalah jenis tanaman yang cukup efektif dalam pengobatan komplementer,
dimana Andrographolide yang ada di dalamnya merupakan komponen diterpen
lakton aktif dan memiliki kemampuan sebagai imonostimulan (Saengkhae dan

Meewassanasuk, 2009), bahkan penelitian yang dilakukan Febyan dan Linardi


pada tahun 2015 menunjukkan bahwa daun sambiloto juga befungsi sebagai
antikanker dan beraktivitas secara kuat melawan LMA atau Leukimia Myeolid
Akut. Ekstrak Andrographolide dapat menghambat secara signifikan proses
pertumbuhan sel LMA pada manusia dengan mengatur ekspresi beberapa
penanda pro-apoptosis, yaitu fragmentasi DNA kromosom. Andrographolide
mampu menghambat diferensiasi sel yang dimediasi oleh sel-sel leukemia
mieloid pada tikus. Andrographolide juga mampu menghambat enzim DNA
topoisomerase II yang menjadi prekursor patogenesis LMA serta dapat
menghambat aktivitas replikasi dan transkripsi DNA enzim topoisomerase II
(Febyan dan Linardi, 2015).
Mekanisme kerja dari herba sambiloto sebagai imunosupresan sangat
terkait dengan keberadaan dari kelenjar adrenal. Hal ini dikarenakan sambiloto
dapat merangsang pelepasan hormon adrenokortikotropik (ACTH) dari kelenjar
pituitari anterior yangberbeda di dalam otak yang selanjutnya akan merangsang
kelenjaradrenal bagian kortek untuk memproduksi kortisol. Kortisol yang
dihasilkan ini selanjutnya akan bertindak sebagai imunosupresan. Efek
imunosupresan akan mengakibatkan timbulnya penurunan respon imun. Selain
itu, sambiloto dapat merangsang sistem imun tubuh baik berupa respon antigen
spesifik maupun respon imun non spesifik untuk kemudian menghasilkan sel
fagositosis. Respon antigen spesifik yang dihasilkanakan menyebabkan
diproduksinya limfosit dalam jumlah besar terutama limfosit B. Limfosit B akan
menghasilkan antibodi yang merupakan plasma glikoprotein yang akan
mengikat antigen dan merangsang proses fagositosis, sehingga kenaikan dosis
dari sambiloto akan berperan sebagai imunosupresan sekaligus imunostimulan
(Yin dan Guo, 2003).
Fungsi sistem imun bagi tubuh ada tiga. Pertama sebagai pertahanan
tubuh yakni menangkal ''benda'' asing. Kedua, untuk keseimbangan fungsi
tubuh terutama menjaga keseimbangan komponen yang tua, dan ketiga,
sebagai pengintai (surveillence immune system), untuk menghancurkan sel-sel
yang bermutasi atau ganas. Pada prinsipnya jika sistem imun seseorang
bekerja optimal, maka tidak akan mudah terkena penyakit dan sistem
keseimbangannya juga normal. Imunomodulator tampak menjadi bagian
terpenting dalam dunia pengobatan. Imunomodulator membantu tubuh untuk
mengoptimalkan fungsi sistem imun yang merupakan sistem utama yang
berperan dalam pertahanan tubuh di mana kebanyakan orang mudah
mengalami gangguan sistem imun. Fungsi imunomodulator adalah

memperbaiki sistem imun, yaitu dengan cara stimulasi (imunostimulan) atau


menekan / menormalkan reaksi imun yang abnormal (imunosupresan). Terdapat
dua golongan imunostimulan yaitu imunostimulan biologi dan sintetik. Beberapa
contoh imunostimulan biologi adalah sitokin, antibodi monoklonal, jamur dan
tanaman obat (herbal). Sedangkan imunostimulan sintetik yaitu levamisol,
isoprinosin dan muramil peptidase (Decker, 2000). Dari hasil penelitian
Cahyaningsih dkk (2003) bahwa dengan pemberian sambiloto dosis bertingkat
dengan koksidiostat (preparat sulfa) akan menaikkan heterofil pada darah
ayam. Dengan penambahan dosis sambiloto akan menaikkan heterofil,
kenaikkan tersebut diduga berkaitan erat dengan fungsi ganda dari sambiloto
sebagai imunosupresan dan imunostimulan, dimana heterofil merupakan salah
satu bagian dari sistem imun yang bekerja sebagai penghancur bahan asing
yang masuk ke dalam tubuh.
4.4 Peran Sambiloto pada Berbagai Penyakit
Sambiloto secara tradisional digunakan sebagai obat penyakit gula
(diabetes), demam, batuk, tipes, gatal kulit, antireumatik, obat peluntur
kehamilan dan obat sakit kuning (Kartasapoetra, 1992). Khasiat lainnya adalah
sebagai obat penyakit disentri, diare, radang ginjal akut, peradangan sekitar
telinga, hidung dan tenggorokan, radang paru-paru, influenza, darah tinggi dan
kanker (Dalimartha, 1999). Penelitian secara eksperimental juga telah
membuktikan bahwa daun sambiloto memiliki khasiat antidiabetik (Yulinah dan
Fitri, 2001), hepatoprotektor (Trivedi dan Rawal, 2000) dan antikoagulan
(Ruslianti dkk., 2001). Khasiat daun sambiloto diduga karena kandungan
senyawa kimia yang ada di dalamnya. Tanaman ini mengandung senyawa kimia
golongan fenol, flavonoid, alkaloid, kalium, natrium dan asam kersik. Hasil
penelitian terhadap senyawa kimia yang dapat diisolasi sementara ini adalah
andrografolid, androgafisid, andrograpanin, andropanosid dan andrografidin A,
B, C, D, dan E. Senyawa kimia yang diduga berperan dalam fungsi
perlindungan hati adalah andrografolid. Penelitian pemberian ekstrak daun
sambiloto terhadap mencit menjadikan kadar glutation meningkat. Glutation
merupakan zat yang berperan penting dalam proses detoksifikasi senyawa
xenobiotik yang masuk ke dalam tubuh (Khan, 2001).

(Khan, 2001)
Gambar 15. Struktur kimia andrografidin.
Kamdem dan Ho (2002), melakukan penelitan terhadap senyawa aktif
andrografolid. Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa diterpen lakton
andrografolid berfungsi sebagai scavenger senyawa radikal bebas, sehingga
senyawa ini dapat mengurangi patologi dalam hewan yang mengalami
intoksinasi dan diabetik. Senyawa andrografolid pada daun sambiloto diduga
menyumbangakan atau mendonasikan hidrogen alkilik untuk berpasangan
dengan elektron tak berpasangan dari radikal bebas.
4.5 Metode Pengukuran Limfosit
Terdapat berbagai cara penghitungan limfosit, selain menggunakan
hemositometer yang diamati pada mikroskop seperti yang dilakukan pada
praktikum ini, ada juga cara pengukuran menggunakan flow citomtric analysis.
Flowsitometri adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisis jenis
jenis sel yang terdapat pada suatu populasi sel. Sel dilabel fluoresen,
dilewatkan celah sempit, dan ditembak sinar. Pada suatu populasi sel yang
sejenis, misalnya pada sel kanker yang diberi perlakuan suatu senyawa
sitotoksik, dapat dilakukan analisis terhadap fase fase daur sel, sel apoptosis,
serta sel yang mengalami poliploidi. Flowsitometri merupakan suatu metode
yang juga diaplikasikan untuk menganalisa berbagai komponen seluler (asam
nukleat, lemak, protein dll), organel (lisosom, mitokondria dll), bahkan fungsi sel
(viabilitas, aktivitas enzimatis dll). Salah satu manfaat dari flowsitometri adalah
analisa siklus sel. Flowsitometri biasanya digunakan dalam bidang farmakologi
dan toksikologi, dimana analisa monoparametrik atau multiparametrik dari

siklus sel termasuk studi kinetika dapat digunakan untuk mengevaluasi efek
obat in vitro (Intansari, 2007).
Metode ini juga dapat digunakan untuk mengetahui sitotoksisitas, fase
aksi sepesifik, pengaruh pada metaolisme sel atau posisi pada siklus dimana
sel tersebut terbunuh oleh karena suatu obat. Oleh karena manfaat tersebut,
metode ini dapat mengkarakterisasi sifat obat dan memberikan prediksi efek
obat in vivo dan mengevaluai sensitivitas atau resisitensi untuk dapat
menentukan langkah selanjutnya termasuk penggantian terapi. Metode
flowsitometri juga biasanya digunakan untuk analisis patologi tumoral, seperti
diagnosis berdasarkan konten DNA, diagnosis berdasarkan aktivitas proliferasi,
ataupun diagnosis siklus sel. Akan tetapi, metode flow sitometri dianggap relatif
mahal, sehingga dalam pengamatan sel limfosit dapat juga dilakukan
menggunakan metode PanLeucogating. Metode PanLeucogating ini juga dapat
digunakan untuk menghitung jumlah absolut limfosit, khususnya CD4 dan
single platform (Intansari, 2007).

(Ahn dkk., 2013)


Gambar 16. Hasil analisis limfosit menggunakan metode flowsitometri.
4.2.6 Metode Penghitungan Menggunakan Hemositometer

Hemositometer atau haemocytometer adalah suatu alat yang awalnya


dirancang untuk penghitungan sel darah dan hingga sekarang juga digunakan
untuk menghitung jenis sel serta partikel mikroskopis lainnya. Hemositometer ini
ditemukan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri dari sebuah slide mikroskop
kaca tebal dengan bentuk persegi panjang yang di dalamnya masih terbagi
menjadi beberapa ruang-ruang. Ruangan ini adalah dibuar menggunakan lasergrid dengan garis tegak lurus. Garis dan kedalaman dari tiap ruang pada
hemositometer ini dapat diukur. Oleh karena itu, biasanya hemositometer
digunakan untuk menghitung jumlah sel atau partikel tertentu dalam suatu
cairan dengan konsentrasi dan volume tertentu. Penghitungan konsentrasi sel
pada hemasitometer didasarkan pada volume di bawah kaca penutup. Satu
kotak besar memiliki volume 0,0001 ml (panjang x lebar x tinggi = 0,1 cm x 0,1
cm x 0,01 cm = 0,0001 cm3 = 0,0001 ml). Hemasitometer diisi oleh gaya
kapiler. Satu tetes dari larutan campuran sel yang terlarut dengan baik dipipet
pada ujung tepi dari hemasitometer dan kemudian perlahan-lahan dibuang
kelebihannya supaya cairan tertarik masuk ke dalam ruang oleh gaya kapiler
(gambar 8) (Caprette, 2012). Pada praktikum kali ini penghitungan pada
hemositometer digunakan pewarnaan menggunakan evans blue untuk
memudahkan penghitungan sel yang mati, dimana trypan blue ini akan
memberi warna sel yang mati menjadi warna biru. Hal ini diakibatkan oleh selsel yang mengalami kerusakan di bagian membrannya, sehingga pewarnaan
dari evans blue dapat masuk ke dalam sel yang mati dan memberikan warna.
Sedangkan pada sel yang masih hidup, dimana membran selnya masih dalam
keadaan baik, maka pewarnaan dari trypan blue tidak dapat masuk ke dalam
sel, sehingga evans blue hanya mewarnai sel yang mati saja (Atale dkk., 2014).

(a)

(b)

(c)
(Caprette, 2010)
Gambar 8. a) Hemositometer dan bagiannya; b) cara memasukkan larutan uji pada
hemositometer dan c) counting chamber.
Pada saat dilakukan penghitungan sel yang diamati menggunakan hemositometer,
ada beberapa pola yang dapat digunakan. Penghitungan dapat dilakukan dengan
memilih 4 kotak pada masing-masing pojok ruang hitung dan 1 kotak yang berada
di tengah atau pola lain sesuai kebutuhan. Hemositometer terdiri dari 4 kamar
hitung yang pada praktikum kali ini ditentukan setiap kamar hitung tersusun atas 4
kotak, maka total keseluruhan kotak amatan adalah 16 kotak (gambar 9a).
Penghitungan juga dapat dilakukan dengan berbagai pola, sesuai kebutuhan, ada
pula yang menggunakan 5 ruang yang masing-masing ruang terdiri atas 5 kotak,
sehingga total kotak amatan ada 125 dan hal dari ke lima sisi kotak inilah biasanya
disebut 5 bidang pandang amatan (gambar 9b). Perhitungan sel menggunakan
hemositometer harus memperhatikan jumlah sel terhitung pada kotak terpilih dan

juga volume dari masing-masing kotak serta volume keseluruhan dari semua kotak
hemositometer. Misalkan dari 5 kotak kecil yang terpilih, didapatkan 187 sel.
Masing-masing sel mempunyai luas permukaan 0.04 mm2 dengan kedalaman 0.1
mm, sehingga total volume pada masing-masing kotak adalah 0.004 mm3. Di sisi
lain, jumlah kotak yang dihitung adalah sebanyak 5 kotak, maka volume dari kotak
terhitung dikalikan 5 menjadi 5x0.004=0.02 mm3, sehingga didapatkan 187 sel
dalam 5 kotak hitung. Maka didapatkan sel sejumlah 187/0.02=9350 sel/mm3. 1
cm3 setara dengan 1 ml atau 1000 mm3, maka jumlah keseluruhan sel yang
dihitung adalah 9.350.000 sel/ml (Caprette, 2012).

(a)

(b)
(Caprette, 2010)
Gambar 9. a) Penghitungan hemositometere dengan 4 ruang hitung dan b) pola
penghitungan hemositometer dengan 5 ruang hitung.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hasil pengamatan terhadap jumlah leukosit yang dilakukan pada organ
spleen dan bone marrow menunjukkan bahwa jumlah leukosit paling banyak
terdapat pada spleen. Hasil penghitungan sel leukosit pada mencit (Mus
musculus) masih fluktuatif, dimana pada dosis awal nilainya semakin
mengalami penurunan akan tetapi pada dosis tiga mulai mengalami kenaikan
lagi, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sambiloto bekerja
sebagai imunomodulator, baik imunosupresan maupun imunostimulan dan
menyebabkan jumlah leukosit pada mencit tetap dalam kadar normal.
5.2 Saran
Sebaiknya pada proses flushing diperhatikan lagi dan dilakukan dengan
lebih baik agar limfosit yang ada pada bone marrow dapat keluar, sehingga
jumlah yang didapatkan bisa jadi lebih banyak dari jumlah yang telah
didapatkan sekarang.

DAFTAR PUSTAKA
Ahn, S., S.J. Kang, Y. A. Lim, W. G. Lee dan S. R. Cho. 2013. Methods for Flow
Cytometric Analysis of T Cell Subsets in HIV-infected Patients: 2-Color versus
4-Color. Laboratory Medicine 3 (4) : 253 - 258.
Atale, N., S. Gupta, U. C. S. Yadav, dan V. Rani. 2014. Cell-death Assessment by
Fluorescent and Nonfluorescent Cytosolic and Nuclear Staining Techniques.
Journal of Microscopy 255(1) : 7-19.
Cahyaningsih U.K, Setiawan dan D.R. Ekastuti, 2003. Perbandingan Gambaran
Diferensiasi Leukosit Ayam Setelah Pemberian Sambiloto (Andrographis
paniculata Ness) dengan Dosis Bertingkat dan Koksidiostat. Prosiding
Seminar dan Pameran Nasional TOI XXIV. hal. 245-257.
Caprette, David R. 2012. Using a Counting Chamber. www.ruf.rice.edu. Diakses tanggal 7
Desember 2015.

Dalimartha, S. 1999. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Hepatitiis dan


Diabetes Mellitus. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya.
Jakarta.
Febyan dan Linardi M. 2015. Peranan Sambiloto (Andrographis paniculata) pada
Pengobatan Leukemia Mieloid Akut. Altern Med Rev, Vol 42 : 940-943.
Graaf, V. D. 2001. Human Anatomy, Sixth Edition. The McGraw-Hill. USA.
Intansari, U. S dan B. Mulyono. 2007. Penggunaan Panleucogating dalam
penentuan jumlah absolut limfosit CD4 pada pasien terinfeksi Human
Immunodefficiency Virus (HIV). Electronic Theses and Dissertations of Gadjah
Mada University. http://etd.repository.ugm.ac.id/. Diakses pada tanggal 24
Desember 2015.
Johnson, M. D. 2012. Human Biology, Sixth Edition. Pearson Education, Inc. USA.
Kamdem, R. E. dan C.T. Ho. 2002. Transfer Allylic Hidrogen as the Antioxidant
Mechanism of Diterpene Lactone Andrographolide. http://ift.convex.com.
Diakses tanggal 30 November 2015.
Kartasapoetra, G. 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Rineka Cipta.
Jakarta.
Khan, M. T. H. 2001. "Traditional Medicines and Plant Drugs in Hepatic Diseases".
Hamdrad Medicus: 14-16.
Khaw, P. T., Shah, P., & Elkingkton, A. R. 2004. Fundamental of Human Anatomy
Fisiology. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia.

Pearce, E. 2009. Anatomi Fisiologi Untuk Paramedis. PT Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta.
Peter, J.D. 2008. The Immune System. http://medicastore.com/. Diakses tanggal 14
Desember 2015.
Ruslianti, U.S. 2001. "Uji Aktivitas Waktu Beku Darah Senyawa Andrografolid,
Ekstrak Eter dan Ekstrak Metabil dari Daun Sambiloto (Andrographis
paniculata)". Ebers Papyrus. 7 (4) : 248 - 261.
Saengkhae C dan K. Meewassanasuk. 2009. Antiproliferation and apoptosis of the
crude extract of Andrographis paniculata Nees, on human oropharyngeal
cancer cells (KB) in vitro. Thai J Physiol Science 21 (2) : 40-7.
Sambiloto. 2015. Sambiloto sebagai Obat Diabetes. http://sambiloto.org/. Diakses
tanggal 30 November 2015.
Scanlon, V.C dan T. Sanders. 2007. Essentials of Anatomy and Physiology, Fifth
Edition. F. A. Davis Company. Philadelphia.
Syamsuhidayat, S. S dan J. R. Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia
Jilid 1. Balitbang Kesehatan Depkes RI. Jakarta.
Trivedi, N. dan U. M. Rawal. 2000. "Hepatoprotective and Toxicological Evaluation
of Andrographis paniculata on Severe Liver Damage". Indian J Pharmacol.
32 : 361 - 364.
Yin, J. dan L. Guo. 2003. Contemporary traditional Chinese Medicine.
http://www.alcancer comLandcan.htm. Diakses tanggal 21 Desember 2015.
Yulinah E. dan M.A. Fitri. 2001. "Aktivitas Antidiabetika Etanol Herba Sambiloto
(Andrographis paniculata Nees)". JMS 6 (1): 13 - 20.
Yuwono, T. 2008. Biologi Molekuler. Erlangga. Jakarta.