Anda di halaman 1dari 37

TUGAS PAPP

ALAT EVAPORATOR DAN VAPORIZER

KELOMPOK : 2

Nor Hidayah

( H1D113002 )

Adya Faurina

( H1D113010 )

Zahratunnisa

( H1D113013 )

Norhasanah

( H1D113025 )

Anisa Purwanti

( H1D113027 )

Khairul Fauziah Hanisa

( H1D113030 )

Eka Pramita

( H1D113037 )

Annisa Ayu Fitria

( H1D113041 )

Dinda Dewi Yulimasita

( H1D113046 )

Kurnia Sandy Ari K.

( H1D113034 )

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2015

1.

Evaporator

1.1

Pengertian Evaporator
Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau

keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap.
Evaporator mempunyai dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk
memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. Evaporator umumnya terdiri dari tiga
bagian, yaitu penukar panas, bagian evaporasi (tempat di mana cairan mendidih lalu
menguap), dan pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam
kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan lainnya. Hasil dari
evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa padatan atau larutan
berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa
komponen volatil (mudah menguap).
Evaporator biasanya digunakan dalam industri kimia dan industri makanan.
Pada industri kimia, contohnya garam diperoleh dari air asin jenuh (merupakan
contoh dari proses pemurnian) dalam evaporator. Evaporator mengubah air menjadi
uap, menyisakan residu mineral di dalam evaporator. Uap dikondensasikan menjadi
air yang sudah dihilangkan garamnya. Pada sistem pendinginan, efek pendinginan
diperoleh dari penyerapan panas oleh cairan pendingin yang menguap dengan cepat
(penguapan membutuhkan energi panas). Evaporator juga digunakan untuk
memproduksi air minum, memisahkannya dari air laut atau zat kontaminasi lain.
Evaporator merupakan alat yang digunakan untuk
1.

Memproses cairan encer sampai menjadi cairan pekat (untuk industri susu
sampai kadar padatan sekitar 50%)

2.

Proses ini dibatasi oleh kekentalan cairan ataupun kemungkinan terjadinya


pengendapan karena larutan terlalu pekat.

3.

1.2

Kebutuhan panas untuk penguapan air relatif Iebih sedikit.

Prinsip Kerja Evaporator


Prinsip kerja evaporator didasarkan pada perbedaan titik didih yang sangat

besar antara zat-zat yang yang terlarut dengan pelarutnya yaitu dengan penambahan

kalor atau panas untuk memekatkan suatu larutan yang terdiri dari zat terlarut yang
memiliki titik didih tinggi dan zat pelarut yang memiliki titik didih lebih rendah
sehingga dihasilkan larutan yang lebih pekat serta memiliki konsentrasi yang tinggi.
1.

Pemekatan larutan didasarkan pada perbedaan titik didih yang sangat besar
antara zat-zatnya.

2.

Titik didih cairan murni dipengaruhi oleh tekanan.

3.

Dijalankan pada suhu yang lebih rendah dari titik didih normal.

4.

Titik didih cairan yang mengandung zat tidak mudah menguap (misalnya: gula)
akan tergantung tekanan dan kadar zat tersebut.

5.

Beda titik didih larutan dan titik didih cairan murni disebut kenaikan titik didih
(boiling).

1.3

Tipe Tipe Evaporator


Evaporator dibedakan dalam beberapa tipe, antara lain :

a.

Berdasarkan Banyak Proses


Evaporator efek tunggal (single effect)
Yang dimaksud dengan single effect adalah bahwa produk hanya melalui satu
buah ruang penguapan dan panas diberikan oleh satu luas permukaan pindah
panas.
Evaporator efek ganda
Proses penguapan bahan dapat digunakan dua, tiga, empat atau lebih dalam
sekali proses, inilah yang disebut dengan evaporator efek majemuk.
Penggunaan evaporator efek majemuk berprinsip pada penggunaan uap yang
dihasilkan dari evaporator sebelumnya. Tujuan penggunaan evaporator efek
majemuk adalah untuk menghemat panas secara keseluruhan, hingga akhirnya
dapat mengurangi ongkos produksi. Pada evaporator efek majemuk ada 3
macam penguapan, yaitu :
- Evaporator Pengumpan Muka (Forward-feed)
- Evaporator Pengumpan Belakang (Backward-feed)
- Evaporator Pengumpan Sejajar (Parallel-feed)

b.

Berdasarkan Bentuk
Evaporator Sirkulasi Alami/paksa
Evaporator sirkulasi alami bekerja dengan memanfaatkan sirkulasi yang
terjadi akibat perbedaan densitas yang terjadi akibat pemanasan. Pada
evaporator tabung, saat air mulai mendidih, maka buih air akan naik ke
permukaan dan memulai sirkulasi yang mengakibatkan pemisahan liquid dan
uap air di bagian atas dari tabung pemanas. Jumlah evaporasi bergantung dari
perbedaan

temperatur

uap

dengan

larutan.

Sering

kali

pendidihan

mengakibatkan sistem kering, Untuk menghidari hal ini dapat digunakan


sirkulasi paksa, yaitu dengan manambahkan pompa untuk meningkatkan
tekanan dan sirkulasi sehingga pendidihan tidak terjadi.
Falling Film Evaporator
Evaporator ini berbentuk tabung panjang (4-8 meter) yang dilapisi dengan
jaket uap (steam jacket). Distribusi larutan yang seragam sangat penting.
Larutan masuk dan memperoleh gaya gerak karena arah larutan yang
menurun. Kecepatan gerakan larutan akan mempengaruhi karakteristik
medium pemanas yang juga mengalir menurun. Tipe ini cocok untuk
menangani larutan kental sehingga sering digunakan untuk industri kimia,
makanan, dan fermentasi.
c.

Rising Film (Long Tube Vertical) Evaporator


Pada evaporator tipe ini, pendidihan berlangsung di dalam tabung dengan
sumber panas berasal dari luar tabung (biasanya uap). Buih air akan timbul
dan menimbulkan sirkulasi.
Plate Evaporator
Mempunyai luas permukaan yang besar, Plate biasanya tidak rata dan
ditopangoleh bingkai (frame). Uap mengalir melalui ruang-ruang di antara
plate. Uap mengalir secara co-current dan counter current terhadap larutan.
Larutan dan uap masuk ke separasi yang nantinya uap akan disalurkan ke
condenser. Eveporator jenis ini sering dipakai pada industri susu dan

fermentasi karena fleksibilitas ruangan. Tidak efektif untuk larutan kental dan
padatan.
Multi stage Evaporator
Menggunakan uap untuk dipakai pada tahap berikutnya. Semakin banyak
tahap maka semakin rendah konsumsi energinya. Biasanya maksimal terdiri
dari tujuh tahap, bila lebih seringkali ditemui biaya pembuatan melebihi
penghematan energi. Ada dua tipe aliran, aliran maju dimana larutan masuk
dari tahap paling panas ke yang lebih rendah, dan aliran mundur yang
merupakan kebalikan dari aliran maju. Cocok untuk menangani produk yang
sensitive terhadap panas seperti enzim dan protein.
Horizontal-tube Evaporator
Evaporator horisontal-tabung merupakan pengembangan dari panci terbuka,
di mana panci tertutup dalam, umumnya dalam silinder vertikal. Tabung
pemanas disusun dalam bundel horisontal direndam dalam cairan di bagian
bawah silinder. Sirkulasi cairan agak miskin dalam jenis evaporator.
Vertikal-tube Evaporator
Dengan menggunakan tabung vertikal, sirkulasi alami dari cairan dipanaskan
dapat dibuat untuk memberikan transfer panas yang baik.
d.

Berdasarkan Metode Pemanasan


Submerged combustion evaporator, evaporator yang dipanaskan oleh api yang
menyala di bawah permukaan cairan, dimana gas yang panas bergelembung
melewati cairan.
Direct fired evaporator, evaporator dengan pengapian langsung dimana api
dan pembakaran gas dipisahkan dari cairan mendidih lewat dinding besi atau
permukaan untuk memanaskan.
Steam heated evaporator, evaporator dengan pemanasan stem dimana uap
atau uap lain yang dapat dikondensasi adalah sumber panas dimana uap
terkondensasi di satu sisi dari permukaan pemanas dan panas ditranmisi lewat
dinding ke cairan yang mendidih.

e.

Berdasarkan Konstruksinya
Jenis pipa bersirip (finned tube)
Evaporator jenis finned, maka hanya pipa refrijeran yang disebut permukaan
primer, sedangkan finned-nya disebut sebagai evaporator permukaan
sekunder. Finned hanya berfungsi menangkap udara disekitarnya dan
mengubungkannya ke pipa refrijeran. Evaporator jenis finned adalah
evaporator bare-tube tetapi dilengkapi dengan sirip-sirip yang terbuat dari plat
tipis alumunium yang dipasang disepanjang pipa untuk menambah luas
permukaan perpindahan panas. Sirip-sirip alumunium ini berfungsi sebagai
permukaan transfer panas sekunder. Jarak antar sirip disesuaikan dengan
kapasitas evaporator, biasanya berkisar antara 40 sampai 500 buah sirip per
meter. Evaporator untuk keperluan suhu rendah, jarak siripnya berkisar 80
sampai 200 sirip per meter. Untuk keperluan suhu tinggi, seperti room AC,
jarak fin berkisar 1,8 mm.
Jenis pipa polos (tube)
Evaporator jenis bare-tube, terbuat dari pipa baja atau pipa tembaga.
Penggunaan pipa baja biasanya untuk evaporator berkapasitas besar yang
menggunakan ammonia. Pipa tembaga biasa digunakan untuk evaporator
berkapasitas rendah dengan refrijeran selain ammonia. Evaporator jenis Bare
tube dan plate-surface dapat dikelompokkan sebagai evaporator permukaan
primer, di mana permukaan untuk transfer panas mempunyai kontak langsung
dengan refrijeran cair yang menguap di dalamnya. Kalau evaporator Baretube dan plate-surface lazim digunakan untuk keperluan pendinginan air dan
pendnginan udara yang suhunya di bawah 1C. Akumulasi bunga es pas
permukaan evaporator tidak dapat dicegah. Oleh karena itu perlu diupayakan
untuk menghilangkan bunga es di permukaan evaporator.
Jenis shell and tube (tipe cangkang)
Tipe shell and tube digunakan untuk pendinginan tidak langsung dimana
refigeran mendidih di dalam pipa dan air sebagai fluida pendingin mengalir di
luar pipa dan masih di dalam cangkang (Holman 1991). Laluan pipa di dalam

tabung dibuat berselang seling yang tujuannya untuk meningkatan koefisien


perpindahan panas evaporator.
Jenis pelat permukaan (plate-surface)
Evaporator permukaan plat atau plate-surface dirancang dengan berbagai
jenis. Beberapa diantaranya dibuat dengan menggunakan dua plat tipis yang
dipres dan dilas sedemikian sehingga membentuk alur untuk mengalirkan
refrijean cair.

1.4

Metodologi Perancangan
Pada disain evaporator ini menggunakan disain evaporator jenis tabung dan

pipa (shell and tube) dimana refrigerant mendidih di dalam pipa dan air sebagai fluida
pendingin mengalir di luar pipa dan masih di dalam cangkang. Laluan pipa di dalam
tabung dibuat berselang-seling yang tujuannya untuk meningkatkan nilai perpindahan
panas pada evaporator ini.
Data awal yang diperlukan dalam disain evaporator adalah:
1. Kapasitas refrigerasi rancangan;
2. Jenis refrigerant yang digunakan untuk menganalisis tingkat keadaan
termodinamik di evaporator;
3. Temperatur evaporasi refrigerant;
4. Temperatur dan kecepatan air memasuki evaporator.

*Kecepatan refrigerant
Pipa evaporator yang digunakan dalam perancangan ini adalah pipa tembaga
dan dimensinya akan diasumsikan berdasarkan ukuran pipa tembaga yang tersedia di
pasaran kemudian dianalisa berdasarkan data pada tabel 1 berikut ini:
Tabel 1 Kecepatan aliran refrigerant yang dianjurkan
Refrigeran
Amoniak

Kecepatan refrigerant (m/s)


Cair

Saluran hisap

Kondensor

0,51-1,27

20,32-25,40

25,4-30,48

R-12

0,41-0,51

7,62-9,14

9,14-11,43

R-22

0,51-0,64

7,62-9,14

9,14-11,43

R-502

0,51-0,64

7,62-9,14

9,14-11,43

Air

0,51-1,27

0,15-0,25

9,14-11,43

Kecepatan aliran refrigerant di evaporator dihitung dengan persamaan:


Vref =

Beda Temperatur Rata-Rata Logaritmik (LMTD)


Temperatur air keluar evaporator dihitung dengan persamaan:
Qc=mwxCpwx

*Penguapan Refrigeran
Aliran refrigerant didalam evaporator merupakan aliran dua fase. Pada saat
memasuki evaporator, persentase uap refrigerant rendah tetapi pada saat memasuki
bagian lebih dalam lagi persentase uapnya meningkat sehingga kecepatan alirannya
juga meningkat. Penguapan refrigerant tersebut disertai perpindahan panas dari
lingkungan ke dalam refrigerant, yang mana prosesnya sangat rumit dan kompleks.
Tabel 2 Penguapan Refrigeran

Koefisien panas penguapan, hb diperoleh:

= 2,253(x)3,96W/m2

Untuk 0,2 < p < 0,7 Mpa

= 2,253p4/3(x)3,96W/m2

Kapasitas refrigerant rata-rata dihitung dengan rumus


Qm=mref x hfg(

1+
2

*Konveksi Paksa pada Sisi Air


Pipa evaporator disusun dengan pola selang-seling (staggered) dengan jarak antar
pipa sedemikian rupa. Koefisien perpindahan panas konveksi sisi air evaporator,
dihitung dengan menggunakan sifat-sifat termofisik air pada temperatur rata-rata,
sehingga kecepatan air pada kotak evaporator tanpa pipa adalah:

Vmax = (0)x Vw
Koefisien konveksi rata-rata pada sisi air dihitung menggunakan persamaan
Zhukauskas:

Pr

h0 = C x C2 x x RemDmax x Pr0,36 x ( )1/4


0

*Faktor Pengotoran
Pengoperasian normal dari evaporator sebagai suatu penukar kalor, sering
mengalami pengotoran akibat pengotor (impurities) dalam fluida kerja atau
terbentuknya karat pada pipa. Terbentuknya lapisan pengotor pada permukaan pipa
meningkatkan tahanan perpindahan panas diantara dua fluida kerjanya. Efek tersebut
akan ditanggulangi dengan menambahkan tahanan termal pada saat disain, yang
sering disebut faktor pengotoran (fouling factor) seperti ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3 Faktor pengotoran beberapa fluida kerja

*Koefisien perpindahan panas total


Perpindahan panas yang terjadi di dalam evaporator mencakup tiga proses,
yaitu penguapan refrigeran di bagian dalam pipa, yaitu konveksi paksa dibagian luar
pipa, proses konduksi pada dinding pipa. Tahanan termal total pipa evaporator
ditentukan dengan mengevaluasi koefisien perpindahan panas total (U), yaitu dengan
persamaan:
1
0

0. "

+ + Rf,o+

1
0

*Luas Permukaan dan Panjang Pipa Evaporator


Luas permukaan perpindahan panas dapat dihitung:

A0 =

Panjang pipa tembaga yang diperlukan untuk evaporator adalah:

0
Ltot = 0

Untuk mendapatkan hasil disain yang memuaskan maka perhitungan di atas dapat
diulang kembali untuk dicocokkan dengan asumsi awal (diiterasi).

1.5

Hasil dan Pembahasan


Kapasitas refigerasi rancangan (Q evaporator) ditetapkan sebesar 7000 Btu/h,

pada temperatur evaporasi 5C. Refrigeran yang digunakan untuk menganalisis


tingkat keadaan termodinamik di evaporator menggunakan R22. Air memasuki
evaporator pada kecepatan maksimum 1000 liter/jam, dengan temperatur air masuk
27C. Pada desain ini digunakan adalah evaporator jenis tabung dan pipa (shell and
tube) dimana refrigeran mendidih di dalam pipa dan air sebagai fluida pendingin
mengalir di luar pipa dan masih di dalam cangkang. Ukuran pipa yang dipilih sesuai
tabel 1 dengan memperhatikan kecepatan refrigeran di dalam evaporator adalah pipa
tembaga berdiameter 3/8 in, dimana: Di = 8mm, Do=9,5 mm, luas penampang dalam
0,7088 cm2, dengan k = 401 W/mK.

Diagram P-h asumsi perancangan dapat dilihat pada Gambar 1

Data termodinamik dan termofisik perancangan menggunakan tabel sifat-sifat


termodinamika

R-22

sebagai

refrigeran,

data

perancangan

hasil

analisis

termodinamika dapat dilihat pada Tabel 4.


Distribusi temperatur air-refrigeran di evaporator dapat dilihat pada Gambar 2
dibawah ini:

Temperatur permukaan evaporator diasumsikan sekitar Ts = 8C. ukuran basah


penampang kotak evaporator adalah (0,36 0,36) m2
Sebagai data awal perancangan ditetapkan:
Tekanan Evaporasi = 583,78 kPa [Te= 5C]
Tekanan Kondensasi = 1729 kPa [Tk = 45C]

10

Tabel 4 Data Perancangan Hasil Analisis Termodinamika

Proses termodinamika di dalam kompresor terjadi secara isentropik dari tingkat 1 ke


tingkat keadaan 2, s1=s2= 1,74463 (kJ/kgK), maka untuk mencari h2 dan v2 dapat
dicari dengan interpolasi. Dari analisa tingkat keadaan termodinamika siklus
kompresi uap pada gambar 4 diperoleh:
1. Kapasitas refrigerasi (QQ) 2,0516 kW
2. Laju aliran massa refrigeran (mref) = 13,7 10-3 kg/s
3. Daya kompresor (Wk) = 0,7 HP
Kompresor yang digunakan adalah jenis hermetik dengan daya 1 HP
4. Koefisien Prestasi (COP) = 3,9
5. Laju aliran panas yang dibuang kondensor (Qk) = 2,58 kW

11

Skema aliran air di evaporator dapat dilihat pada Gambar 3 dibawah ini:

Rekapitulasi hasil desain evaporator:


1. Evaporator, menggunakan pipa tembaga ukuran diameter 3/8 in yang disusun
sedemikian rupa dalam bentuk laluan dengan panjang satu laluan adalah 31
cm maka jumlah laluan seluruhnya adalah 66 laluan dan disusun dalam 11
tingkat dengan jumlah laluan pertingkat adalah 6. Data hasil perancangan
evaporator
2. Temperatur permukaan , Ts adalah 9,17 C
3. Luas total permukaan pipa, Ao adalah 0,6175 m2
4. Panjang total pipa, L adalah 20,69 m
5. Koefisien konveksi rata-rata sisi evaporator h0= 219,018 W/m2C
6. Koefisien perpindahan kalor total, U0= 172,7496 W/m2C
Gambar 4 dibawah ini menunjukkan disain evaporator pipa polos

12

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:


1. Data awal dalam desain evaporator ini adalah: kapasitas refrigerasi rancangan,
jenis refrigeran yang digunakan untuk menganalisis tingkat keadaan
termodinamik di evaporator, temperatur evaporasi, temperatur dan laju massa
air memasuki evaporator.
2. Dimensi hasil desain evaporator jenis shell and tube:
Tabel 5 Hasil Desain Evaporator Jenis Shell and Tube

2.

Vaporizer

2.1

Pengertian Alat Penukar Panas


Alat penukar kalor adalah suatu alat yang memungkinkan perpindahan panas

dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium
pemanas dipakai uap lewat panas (super heated steam) dan air biasa sebagai air
pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar
perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas
terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang
memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung begitu saja.

13

Perpindahan panas pada alat penukar kalor biasanya melibatkan konveksi


masing-masing fluida dan konduksi sepanjang dinding yang memisahkan kedua
fluida. Laju perpindahan panas antara kedua fluida pada alat penukar kalor
bergantung pada besarnya perbedaan temperatur pada lokasi tersebut, dimana
bervariasi sepanjang alat penukar kalor.
Berdasarkan kontak dengan fluida, alat penukar kalor tersebut dapat
dibedakan menjadi dua macam, antara lain alat penukar kalor kontak langsung dan
alat penukar kalor kontak tak langsung. Pada alat penukar kalor kontak langsung,
fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin (tanpa
adanya pemisah) dalam suatu bejana atau ruangan. Salah satu contohnya adalah
deaerator. Deaerator adalah alat yang bekerja untuk membuang gas-gas yang
terkandung dalam air ketel, sesudah melalui proses pemurnian air (water treatment).
Sedangkan pada alat penukar kalor kontak tak langsung, fluida panas tidak
berhubungan langsung (indirect contact) dengan fluida dingin. Jadi proses
perpindahan panasnya itu mempunyai media perantara, seperti pipa, plat, atau
peralatan jenis lainnya. Salah satu contohnya adalah kondensor.
Berdasarkan tipe aliran di dalam alat penukar panas ini, ada 4 macam aliran yaitu :
a) Counter current flow (aliran berlawanan arah)
b) Paralel flow/co current flow (aliran searah)
c) Cross flow (aliran silang)
d) Cross counter flow (aliran silang berlawanan)
Selain itu, alat enukar kalor ini juga memiliki 4 jenis antara lain:

Turbular Heat Excharger

Plate Heat Excharger

Shell and Tube Heat Excharger

Jacketed Vessel
Menurut pendapat Sitompul (1993), alat penukar kalor adalah suatu peralatan

di mana terjadi perpindahan panas dari suatu fluida yang temperaturnya lebih tinggi
kepada fluida lain yang temperaturnya lebih rendah atau sebaliknya. Klasifikasi
peralatan penukar dapat panas didasarkan pada proses perpindahan panas, jumlah
14

fluida yang mengalir, kompak tidaknya luas permukaan, mekanisme perpindahan


panas, konstruksi bahan, tipe pelat, dan juga pengaturan aliran. Ada banyak jenisjenis alat penukar panas, salah satunya adalah vaporizer.

2.2

Pengertian Vaporizer
Vaporizer adalah suatu perangkat yang digunakan untuk mengektraksi suatu

bahan dimana bahan yang diperoleh berupa uap. Uap dapat diekstraksi dengan cara
memanfaatkan semua kaca pemanas, ekstraksi, dan sebuah ruang ekstraksi venturi
berurutan. Sebuah vaporizer memanaskan bahan dalam vakum parsial sehingga
senyawa aktif yang terkandung dalamnya menjadi uap. Tidak terjadi pembakaran,
sehingga tidak ada asap.
Uap air idealnya tidak mengandung partikel lain dan secara signifikan
menurunkan konsentrasi gas beracun seperti karbon monoksida. Uap air diekstraksi
dalam berbagai bentuk didalam bilik-bilik ekstraksi yang termasuk lubang lurus,
venturi atau venturi urutan, dan yang dibuat dari bahan-bahan yang berbeda termasuk
logam dan kaca. Uap air yang diekstraksi kemudian adalah menghisap secara
langsung melalui suatu selang atau pipa yang termasuk uap air untuk keaktifan yang
paling tinggi. Pada vaporizer tidak ada asap dihasilkan, suhu-suhu lebih dingin, dan
lebih sedikit bahan yang diperlukan untuk mencapai tingkat tertentu.
Secara umum vaporizer digunakan untuk menguapkan cairan. Yang
membedakan vaporizer dengan evaporator adalah dimana evaporator berfungsi
untuk memekatkan suatu larutan dengan cara menguapkan airnya, sedangkan
vaporizer berfungsi untuk memekatkan suatu larutan dengan cara menguapkan cairan
selain air. Uap yang dihasilkan dari vaporizer digunakan untuk proses kimia, bukan
sebagai sumber panas seperti halnya steam pada boiler.
Vaporizer menggunakan elemen pemanas listrik, sering kali disertai
Thermostatic pengatur suhu. Harga vaporizer yang berkualitas tinggi sangat mahal,
mencapai beberapa ratus dolar AS. Dalam pemanasan secara konduksi, substansi
ditempatkan pada pelat logam yang kemudian dipanaskan untuk melepaskan

15

konstituen aktif. Konduksi vaporizer merupakan jenis pertama muncul yang


dipasaran, dan masih di produksi.
Di dalam pemanasan konveksi, substansi tidak pernah menyentuh suatu unsur
pemanasan. Sebaliknya, udara melalui pemanasan dengan cepat, dan membiarkan
pelepasan; pembebasan dari unsur-unsur yang aktif. Metoda tentang pemanasan
membebaskan unsur-unsur lebih aktif dibanding pemanasan secara konduksi. Suatu
vaporizer atau vaporisasi menggunakan tiang penyangga yang terbuat dari kaca,
ketika dihubungkan dengan wadah pada banyak pipa atau pipa air, atau ketika
dihubungkan dengan sebuah wadah pada ruang vaporisasi khusus memungkinkan
kita menarik udara untuk melewati permukaan pemanas kaca kemudian memanaskan
udara melalui substrat dalam wadah tersebut sedangkan uap diekstrak dan kemudian
melewati pipa, sering kali dengan air atau air dingin.
Banyak vaporizer menggunakan tube, dimana dapat menghisap udara.
Beberapa vaporizer memiliki suatu tambahan kantong atau balon; uap dimasukkan ke
dalam kantong. Tambahan-tambahan dapat ditempatkan antara vaporizer atau
kantong. Vaporizer yang baik yaitu udara yang secara aktif masuk melalui elemen
pemanas, atau jenis pasif, di mana pengguna menghirup udara tanpa bantuan fan atau
pompa. Sebagian besar vaporizer menggunakan prinsip konveksi.
Dalam pemanasan secara radiasi, substansi terkena cahaya terang. Substansi
menyerap energi radiasi dan suhu naik. Vaporizer secara radiasi masih sangat jarang,
tetapi mampu menggandakan kinerja vaporizer secara konveksi. Contoh vaporizer
secara radiasi yaitu sebuah pipa dan kaca pembesar yang diletakkan pada siang hari
kemudian akan menyerap udara. Beberapa studi atau tinjauan mengenai vaporizer
sudah benar-benar menunjukan kualitas uap yang diekstrak; sebaliknya, pada
umumnya berada di modus penggunaan vaporizer. Karena sebagian besar vaporizer
komersial lambat dalam pengambilan dan pengiriman, menghisap uap pertama
aromatik, tetapi hanya sedikit yang aktif, dan kemudian sebagai bahan mengalami
kenaikan suhu, uap menjadi semakin bio-aktif, tapi minimal aromatik, karena
sebagian besar telah aromatik.

16

Masalah ini ditujukan di dalam penguapan yang modular didasarkan pada


sistem dengan menggunakan suatu efek venturi yang urutan untuk ekstraksi-ekstraksi
lebih cepat melalui suatu chamber dan penguapan memanaskan tongkat atau bedil
bahang dan ditujukan dalam beberapa kotak vaporizer melalui suatu venturi yang
mempengaruhi daya hisap ekstraksi. Dengan chamber penguapan mendekati banyak
pipa yang umum secara sederhana dapat mempermudah transfer uap air pada
spektrum yang lebih luas yang lebih disukai oleh banyak para pemakai dan yang lebih
tinggi di dalam pemusatan, konsistensi, dan densitas berbau harum karena yang
ditingkatkan tingkat ekstraksi dan ukuran contoh lebih kecil. Vaporizer yang
menampilkan sistem berbasis ekstraksi dan transfer cepat dikombinasikan dengan air
dan air es dan pengkondisian dari uap dengan menjalankan melalui pipa air,
mendinginkan dan uap air moisturized untuk bio-aktivitas yang dimaksimalkan dan
memperkecil dampak.

2.3

Prinsip Umum Vaporizer


Prinsip umum dari vaporizer cairan diumpankan ke dalam vaporizer kemudian

dipanaskan dengan suatu media pemanas (umpan tidak kontak langsung dengan
media pemanas). Biasanya tidak semua umpan dapat teruapkan dengan sempurna.
Produk yang dihasilkan (uap dan cairan) dipisahkan dalam suatu tangki pemisah. Uap
yang dihasilkan kemudian digunakan untuk proses selanjutnya, cairan yang tidak
menguap di recycle kembali.

2.4

Tipe-Tipe Vaporizer
Ada beberapa jenis dari vaporizer berdasarkan sirkulasinya yaitu vaporizer

dengan sirkulasi paksa dan vaporizer dengan sirkulasi alamiah. Berikut akan
dijelaskan mengenai kedua jenis vaporizer berdasarkan sirkulasi.
a) Vaporizer dengan sirkulasi paksa
Prinsip kerja dari vaporizer dengan sirkulasi paksa ini adalah dimana fluida
yang akan dipisahkan dengan komponen lainnya diumpankan ke dalam vaporizer
dengan menggunakan pompa. Pompa disini berfungsi untuk mengalirkan fluida liquid

17

ke dalam vaporizer. Itulah mengapa jenis ini disebut dengan jenis sirkulasi paksa.
Vaporizer dengan sirkulasi paksa ini ada berbagai macam, yaitu vaporizer atau
pompa melalui reboiler dengan titik didih isotermal, vaporizer atau pompa-melalui
reboiler dengan rentang didih, pompa-melalui vaporizer atau reboiler dengan atau
tanpa rentang titik didih, dan evaporator sirkulasi paksa atau water solution reboiler.
b) Vaporizer dengan sirkulasi alamiah
Vaporizer jenis ini memiliki prinsip kerja dimana cairan umpan dapat
mengalir sendiri dalam vaporizer dengan bantuan gaya gravitasi. Hal ini dapat terjadi
jika umpan diletakkan di ketinggian yang lebih tinggi daripada vaporizer. Ada
berbagai macam vaporizer dengan sirkulasi alamiah, yaitu kettle reboiler dan
thermosyphon reboiler. Jenis yang pertama adalah kettle reboiler.

2.5

Deskripsi Proses
Tipe vaporizer yang digunakan adalah tipe thermosyphon vertikal, yaitu tipe

exchanger berbentuk vertikal dengan penguapan terjadi pada tubes. Sirkulasi cairan
melewati exchanger dipengaruhi oleh perbedaan densitas antara campuran cairan-uap
pada exchanger dengan cairan pada dasar kolom.

2.6

Metodologi Perancangan Vaporizer

2.6.1 Asumsi-Asumsi yang Digunakan


Tabel 6 Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perancanganVaporizer Natural Gas
No.

Proses

Asumsi

Aliran masuk

Laju alir konstan/ tunak (perubahan laju alir =


0)
Aliran masuk natural gas diasumsikan hanya
terdapat metana dengan tujuan simplifikasi

2.

Pertukaran panas

Laju pemanasan fluida berlangsung secara


steady state

3.

Aliran keluar

Aliran keluar pada fluida proses diasumsikan

18

semua fasa cair dapat berubah menjadi


terdapat 1 fasa yaitu fasa gas.
Fasa

pada

aliran

keluar

service

fluid

diasumsikan tetap berfasa gas karena dengan


temperatur dan tekanan keluaran pabrik,
steam tersebut masih berada pada kondisi
vapour, bukan liquid.
4.

Penentuan service fluid

Service fluid yang digunakan adalah air.

5.

Data fisik fluida

Data fisik fluida proses diasumsikan pada


tekanan

operasi,

yaitu

temperatur

diasumsikan pada temperatur saturated karena


terdapatnya uap serta cair secara bersama
dalam suhu tersebut
6.

Penentuan
metana

kalor

laten Nilai

kalor

laten

metana

berasal

dari

interpolasi antara suhu 90,69 C dengan kalor


laten 0,8724 x 10-7 dengan suhu 190,56 C
dengan kalor laten 0

19

2.6.2 Tahapan-Tahapan Perancangan Vaporizer

20

21

22

23

24

25

Gambar 5 Tahapan-Tahapan Perancangan Vaporizer


26

2.6.3 Heat Exchanger yang Digunakan


HE yang digunakan merupakan jenis Vaporizer bertipe Thermosyphon pada
posisi verikal, dengan tipe one shell pass; one tube pass dan tipe alirannya adalah
counter-current. Heat exchanger ini berbahan dasar Copper size 5/8.
2.6.4 Pertimbangan Dasar Pemilihan Jenis Heat Exchanger
Pemilihan heat exchanger vaporizer karena vaporizer digunakan untuk
mengubah fasa dari campuran dua fasa, yaitu cair dan gas, menjadi satu fasa, yaitu
fasa gas semua.
Jenis vaporizer mempunyai 3 tipe, yaitu forced circulation, thermosyphon,
dan ketttle type. Pemilihan tipe ini didasarkan pada 3 hal, yaitu sifat alami fluida
proses seperti viskositasnya, tekanan operasi, serta luas tempat yang dibutuhkan.
Dari ketiga tipe tersebut, kami memilih thermosyphone type. Tipe ini
merupakan tipe yang paling ekonomis dan cocok karena pada tipe ini menggunakan
sirkulasi natural yang tidak menggunakan pompa, sehingga mengurangi biaya
pengeluaran pompa. Berbeda dengan tipe forced circulation yang memerlukan pompa
untuk mengalirkan dan mengubah fasa.
Tipe thermosyphon ini juga cocok untuk aliran fluida berviskositas rendah,
sehingga sesuai dengan viskositas fluida ini. Selain itu, tipe ini biasanya tidak cocok
untuk tekanan di bawah 0,3 bar. Pada perancangan vaporizer ini, tekanan masuk dan
keluar dari vaporizer ini di atas 0,3 bar, sehingga sangat cocok menggunakan tipe
thermosyphon ini.

27

Appendix A Data Fisik Aliran


A.1 DATA FISIK ALIRAN

Heat
Exchanger

In

Out

Water (vapor)

Water(vapor)
1,8084

Laju Alir

1,8084 kg/s

Laju Alir

Temperatur

226,667 oC

Temperatur

147,78 oC

Dew/Bubble

138,3255

Point

Dew/Bubble
Point

138,3255 oC

kg/s

Quality

Quality

Tekanan

3,4474 bar

Tekanan

3,4485 bar

0,0689 bar

Delta P allow/calc

Kecepatan

6,27623 m/s

Kecepatan

Densitas

1,516332 kg/m3

Densitas

Viskositas

0,017203 mPa.s

Viskositas

Kapasitas

1,54653 kJ/kg.K

Kapasitas Panas

Shell
Delta P
allow/calc

28

0,001084
bar
14,5111
m/s
1,83195
kg/m3
0,001397
mPa.s
1,640323

Panas

kJ/kg.K

Konduktivitas
Termal

0,036602 W/m.K

Berat Molekul 18,0153 g/mol

Laju Alir

0,030453

Termal

W/m.K

Berat Molekul

Metan

Metan

(vapor)

(liquid)

0,5894

2,4793

kg/s

kg/s

18,0153
g/mol

Metan (vapor)

Laju Alir

3,0687
kg/s
43,889

-133,847 oC

Temperatur

-133,847 oC

Dew/Bubble Point

-164 oC

Quality

0,2377

Quality

Tekanan

6,2224 bar

Tekanan

0,18116 bar

Delta P allow/calc

6,1612 m/s

Kecepatan

Temperatur

Dew/Bubble
Point

Tube

Konduktivitas

Delta
allow/calc

Kecepatan

Densitas

377,92

9,8632

26

kg/m3

kg/m

29

Densitas
3

6,2237
bar
0,0013
bar
0,19206
m/s

316,4052
kg/m3

Viskositas

0,0670

0,00569

mPa.s

Viskositas

mPa.s

0,1185
mPa.s

3,8022
Kapasitas

2,597576

26

Panas

kJ/kg.K

kJ/kg.

Kapasitas Panas

1,7595
kJ/kg.K

Konduktivitas

0,015688

Termal

W/m.K

0,1521
W/m.
K

Berat Molekul 16,04 g/mol

30

Konduktivitas

0,04273

Termal

W/m.K

Berat Molekul

16,04
g/mol

31

32

33

34

35

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, Azridjal. 2005. Desain Evaporator Jenis Shell and Tube pada Mesin
Refrigerasi Siklus Kompresi Uap Hibrida Vol 2 No 2. Teknik Mesin
Universitas Riau : Riau.

Frayekti, M. C. Evaporator. Politeknik Negeri Jakarta :Jakarta

Inggriani, T. D. dkk. 2014. Perancangan Heat Excharger Vaporizer pada Natural


Gas.
http//www.academia.edu/7393529/Laporan_HE_Vaporizer
Diakses pada Tanggal 27 November 2015

Lukman, Arif. dan M. Sidiq. 2010. Pembuatan Evaporator Tipe Batch Untuk
Memekatkan Larutan Zat Warna Umpan Spray Dryer. Universitas Sebelas
Maret : Surakarta.

Sari, D. M. Vaporizer.
http://www.scribid.com/doc/240542758/Vaporizer#scribid
Diakses pada tanggal 27 November 2015

36