Anda di halaman 1dari 97

MODEL SARANA

ARANA PENGOLAHAN AIR SUMUR GALI (Partial


Treatment Prosess) TERHADAP KUALITAS AIR BERSIH
PADA MASYARAKAT KECAMATAN KALEDUPA
KABUPATEN WAKATOBI
THE MODEL OF THE DUG-WELL
DUG WELL WATER PROCESSING
FACILITY (PARTIAL TREATMENT PROCESS) TOWARDS THE
QUALITY OF THE DUG-WELL
DUG WELL WATER ON THE COMMUNITY OF
KALEDUPA DISTRICT, WAKATOBI REGENCY

SUMARDI

KONSENTRASI KESEHATAN LINGKUNGAN

PROGRAM PASCASARJANA
PASCASARJA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2009

MODEL SARANA PENGOLAHAN AIR SUMUR GALI (Partial


Treatment Prosess) TERHADAP KUALITAS AIR BERSIH
PADA MASYARAKAT KECAMATAN KALEDUPA
KABUPATEN WAKATOBI

Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi
Kesehatan Masyarakat

Disusun dan diajukan oleh

SUMARDI

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2009

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama
: Sumardi
Nomor Mahasiswa : P. 1801207009
Progran Studi
: Kesehatan Masyarakat
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini
benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan
pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian
hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis
ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan
tersebut.
Makassar, Juli 2009
Yang menyatakan

SUMARDI

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang


telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada hambanya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Gagasan yang malatar belakangi penulis mengambil masalah
ini timbul dari hasil pengamatan penulis terhadap kondisi air bersih yang
dikonsumsi pada masyarakat kecamatan Kaledupa khususnya diwilayah
kelurahan Ambeua Kabupaten Wakatobi. Penilaian penulis terhadap air
bersih yang bersumber dari sumur gali pada masyarakat diwilayah
tersebut masih sangat jauh dari kualitas air bersih yang dipersyaratkan
oleh Permenkes No.416/MENKES/1990 tentang syarat kualitas air bersih.
Keberhasilan penulis dalam merampungkan tesis ini tidak
terlepas dari motivasi dan bantuan dari berbagai pihak selama proses
penyusunan. Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan banyak
terima kasih dan penghargaan setinggi tingginya kepada

Bapak

Dr. dr. H. Hasanuddin Ishak sebagai ketua komisi penasihat dan Bapak
Dr. dr. Burhanuddin Bahar, MS sebagai anggota komisi penasihat atas
segala bantuan, bimbingan, nasihat, petunjuk dan saran yang telah
diberikan selama ini kepada penulis, juga ucapan terima kasih penulis
nyang sebesar-besarnya kepada :
1. Direktur program pascasarjana Universitas Hasanuddin dan segenap
Guru Besar, Dosen beserta stafnya

2. Bapak Dr. dr. H. Hasanuddin Ishak Selaku Ketua Konsentrasi


Kesehatan Lingkungan yang telah banyak membantu penulis selama
mengikuti perkuliahan.
3. Bapak Ir. Hugua selaku Kepala Daerah Kabupaten WAKATOBI
4. Ibu Dra. Hj. Andi Rahmawati, S.Si, Apt selaku kepala Balai
Laboratorium Kesehatan Kendari yang banyak memberikan masukan
dan saran
5. Pemerintah Kecamatan Kaledupa dan Kelurahan Ambeua yang telah
memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
6. Keluarga Besar CV. Ambeua Raya Pusat Kendari yang selalu
memberikan nasihat, dorongan dan motivasi kepada penulis.

Terima kasih buat sahabat-sahabatku tercinta dikonsentrasi


kesehatan lingkungan angkatan 2007 yang telah memberikan dukungan
saran dan turut membantu penulis dalam proses pendidikan dan
penyelesaian tesis ini, teman-teman seangkatan di Pascasarjana
Universitas Hasanuddin, saudaraku di Panti Batek dan Komunitas Tiga
Pusaran (Arwan, Momo, Ivan, Noe, Max, Irwan)
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada saudari
Asrianty, A.Ma atas segala cinta, kasih sayang, pengertian dan
pengorbanannya dalam memberikan semangat dan motivasi pada saat
penulis melakukan penelitian hingga penyelesaian tesis, I love you.

Akhirnya sembah sujud dan ucapan terima kasih yang tidak


terhingga penulis haturkan kepada kedua orang tuaku

Ayahanda

Masrahu, BE dan ibunda Dra.Surya Palambesi yang telah membesarkan,


mendidik dan selalu memberikan doa restunya selama ini serta saudariku
Iin Maya Sari yang selalu memberikan dorongn dalam penyelesaian tesis

Makassar, Juli 2009

Sumardi

ABSTRACK

Sumardi. Model Water Processing Facility Well gang (Partial Treatment


Prosess) for Water Quality Sumur dig the District Society Kaledupa
Wakatobi Regency
(led by Hasanuddin Ishak and Burhanuddin Bahar)

Wakatobi district is a new age of 4 years in which the area of land is only 4%
of the entire region so that the availability of knowledgeable water clean and
healthy is very difficult to be found. Another problem that appears domain
the community is low Knowleadg community about the consumption of basic
sanitation and clean water and healthy one of them is not take in the acount
with the distance between wells galley and septick tank, also the use of
water wells, without the gang processing first.
This study aims to create a model of water treatment facilities dig wells to
improve the quality of the water community domain ambeua village, district
Kaledupa, especially for district Wakatobi
Hardness
parameters,
Bakterioogy, and TDS. Research is eksperiment research, design research
using this design one-group Pretest-postest. In the design of this research is
divided into two groups where the first group were measured before treatment
is given and the second group were measured after treatment.
Results of research show that the variable Zeolit, moringa seed, and contact
time has a very significant relationship to the decline hardness, TDS and
bacteriology parameters (p <0.05). Test results multivariat independent test
shows that the most closely related with a decrease hardness is Zeolit (beta
value of 12.739); the most associated with a decrease in TDS and
bacteriology is seed moringa (beta value of 26.885 and 18.390).

Daftar Isi

Daftar Isi ............................................................................................


Daftar Gambar ...................................................................................
Daftar Tabel .......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................

A. Latar belakang ..................................................................

B. Rumusan Masalah ............................................................

C. Tujuan Penelitian ..............................................................

D. Manfaat Penelitian ............................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................

A. Sumur gali .........................................................................

1. Pengertian Sumur Gali ..................................................

2. Syarat-syarat Sumur Gali ..............................................

B. Air Bersih ..........................................................................

1. Pengertian Air Bersih ....................................................

2. Kualitas Air Bersih .........................................................

C. Escherchia Coli .................................................................

D. Kesadahan .......................................................................

11

1. Kalsium (Ca) .................................................................

12

2. Magnesium (Mg) ...........................................................

13

E. Total Suspended Solid (TSS) ...........................................

14

F. Tinjauan Tentang Zeolit dan Buah Biji Kelor .....................

15

G. Sarana Pengolahan ..........................................................

16

1. Pengolahan Lengkap ....................................................

16

2. Pengolahan Sebagian ...................................................

17

H. Kerangka Teori .................................................................

18

I. Kerangka Konsep ...............................................................

19

1. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti ..........................

19

2. Hubungan Variabel .......................................................

21

J. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif ..........................

22

K. Hipotesis ...........................................................................

24

BAB III METODE PENELITIAN .........................................................

25

A. Jenis dan Desain Penelitian..............................................

25

B. Waktu dan Lokasi Penelitian .............................................

26

C. Bahan dan Alat Penelitian ................................................

26

1. Bahan Penelitian ...........................................................

26

2. Alat Penelitian ...............................................................

27

D. Proses Pengolahan Air Sumur Gali ..................................

27

E.Teknik Pengumpulan Data.................................................

19

1. Perencanaan Model sarana Pengolahan ......................

29

2. Cara Pengambilan Sampel ...........................................

30

3. Pengukuran Parameter .................................................

30

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

44

A. Deskripsi Wilayah Penelitian .............................................

44

1. Keadaan Geografis .......................................................

44

2. Demografi .....................................................................

45

B. Diagram alur Penelitian .....................................................

45

C. Hasil Penelitian .................................................................

46

1. Karakteristik Sumur Gali ...............................................

46

2. Analisis Univariat...........................................................

48

3. Analisis Bivariat .............................................................

51

4. Analisi Multivariat ..........................................................

60

D. Pembahasan .....................................................................

62

1. Kesadahan ....................................................................

62

2. Total Dissolved Solid.....................................................

65

3. Total Coli .......................................................................

66

BAB V PENUTUP .............................................................................

68

A. Kesimpulan .......................................................................

68

B. Saran ................................................................................

69

Daftar Pustaka ...................................................................................

Daftar Isi

Daftar Isi ............................................................................................


Daftar Gambar ...................................................................................
Daftar Tabel .......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................

A. Latar belakang ..................................................................

B. Rumusan Masalah ............................................................

C. Tujuan Penelitian ..............................................................

D. Manfaat Penelitian ............................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................

A. Sumur gali .........................................................................

1. Pengertian Sumur Gali ..................................................

2. Syarat-syarat Sumur Gali ..............................................

B. Air Bersih ..........................................................................

1. Pengertian Air Bersih ....................................................

2. Kualitas Air Bersih .........................................................

C. Escherchia Coli .................................................................

D. Kesadahan .......................................................................

11

1. Kalsium (Ca) .................................................................

12

2. Magnesium (Mg) ...........................................................

13

E. Total Suspended Solid (TSS) ...........................................

14

F. Tinjauan Tentang Zeolit dan Buah Biji Kelor .....................

15

G. Sarana Pengolahan ..........................................................

16

1. Pengolahan Lengkap ....................................................

16

2. Pengolahan Sebagian ...................................................

17

H. Kerangka Teori .................................................................

18

I. Kerangka Konsep ...............................................................

19

1. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti ..........................

19

2. Hubungan Variabel .......................................................

21

J. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif ..........................

22

K. Hipotesis ...........................................................................

24

BAB III METODE PENELITIAN .........................................................

25

A. Jenis dan Desain Penelitian..............................................

25

B. Waktu dan Lokasi Penelitian .............................................

26

C. Bahan dan Alat Penelitian ................................................

26

1. Bahan Penelitian ...........................................................

26

2. Alat Penelitian ...............................................................

27

D. Proses Pengolahan Air Sumur Gali ..................................

27

E.Teknik Pengumpulan Data.................................................

19

1. Perencanaan Model sarana Pengolahan ......................

29

2. Cara Pengambilan Sampel ...........................................

30

3. Pengukuran Parameter .................................................

30

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

44

A. Deskripsi Wilayah Penelitian .............................................

44

1. Keadaan Geografis .......................................................

44

2. Demografi .....................................................................

45

B. Diagram alur Penelitian .....................................................

45

C. Hasil Penelitian .................................................................

46

1. Karakteristik Sumur Gali ...............................................

46

2. Analisis Univariat...........................................................

48

3. Analisis Bivariat .............................................................

51

4. Analisi Multivariat ..........................................................

60

D. Pembahasan .....................................................................

62

1. Kesadahan ....................................................................

62

2. Total Dissolved Solid.....................................................

65

3. Total Coli .......................................................................

66

BAB V PENUTUP .............................................................................

68

A. Kesimpulan .......................................................................

68

B. Saran ................................................................................

69

Daftar Pustaka ...................................................................................

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Jenis Penyakit yang dapat Ditularkan melalui air

10

2. Data-data Hasil Penelitian Eksperimen

25

3. Rancangan Percobaan Eksperimen

38

4. Hasil Uji Kualitas Air Sumur Gali

47

5. Matrik Perlakuan Variasi Zeolit, Biji Kelor, dan waktu Kontak


Terhadap Rata-rata Kesadahan

48

6. Matrik Perlakuan Variasi Zeolit, Biji Kelor, dan waktu Kontak


Terhadap Rata-rata TDS

49

7. Matrik Perlakuan Variasi Zeolit, Biji Kelor, dan waktu Kontak


Terhadap Rata-rata Bakteriologi

50

8. Pengaruh Variasi Dosis Zeolit Terhadap Konsentrasi Rata-rata


Kesadahan Sampel Air Sumur Gali

51

9. Pengaruh Variasi Dosis Biji Kelor Terhadap Konsentrasi Rata-rata


Kesadahan Sampel Air Sumur Gali

52

10. Pengaruh Variasi Waktu Kontak Terhadap Konsentrasi Rata-rata


Kesadahan Sampel Air Sumur Gali

53

11. Pengaruh Variasi Dosis Zeolit Terhadap Konsentrasi Rata-rata


TDS Sampel Air Sumur Gali

54

12. Pengaruh Variasi Dosis Biji Kelor Terhadap Konsentrasi Rata-rata


TDS Sampel Air Sumur Gali

55

13. Pengaruh Variasi Waktu Kontak Terhadap Konsentrasi Rata-rata


TDS Sampel Air Sumur Gali

56

14. Pengaruh Variasi Dosis Zeolit Terhadap Konsentrasi Rata-rata


Bakteriologi Sampel Air Sumur Gali

57

15. Pengaruh Variasi Dosis Biji Kelor Terhadap Konsentrasi Rata-rata


Bakteriologi Sampel Air Sumur Gali

58

16. Pengaruh Variasi Waktu Kontak Terhadap Konsentrasi Rata-rata


Bakteriologi Sampel Air Sumur Gali

59

17. Analisis Regresi Linear terhadap Variabel yang mempengaruhi


Kesadahan Air Sumur Gali

60

18. Analisis Regresi Linear terhadap Variabel yang mempengaruhi


TDS Air Sumur Gali

61

19. Analisis Regresi Linear terhadap Variabel yang mempengaruhi


Bakteriologi Air Sumur Gali

61

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Bagan Kerangka Teori

26

2. Hubungan Variabel

29

3. Desain Penelitian

33

4. Diagram Alur Penelitian

45

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Manusia membutuhkan air dalam semua aspek kehidupan, untuk


memasak, mandi, mencuci dan kebutuhan lainnya. Guyton (1987). Secara
biologis air berperan dalam semua proses dalam tubuh manusia, misalnya
pencernaan, metabolisme, transportasi, mengatur keseimbangan suhu tubuh.
Kekurangan

air

akan

menyebabkan

gangguan

fisiologis,

bahkan

mengakibatkan kematian apabila kekurangan tersebut mencapai 15% dari


berat tubuh.
Namun apabila air itu tidak jernih misalnya tercemar bahan organik,
air akan merupakan media yang baik bagi kuman penyakit. Pada air tercemar
bahan anorganik (khemis) akan menyebabkan gangguan fisiologis secara
menahun bahkan ada yang bersifat toksis. Dengan demikian air yang
diperlukan manusia harus memenuhi secara kuantitatif dan kualitatif. Dari
aspek kuantitatif, jumlah air

yang dibutuhkan untuk keperluan minum

perorang rata-rata sebanyak 2,5 liter/hari, sedangkan secara keseluruhan


kebutuhan suatu rumah tangga untuk masyarakat Indonesia diperkirakan
sebesar 60 liter/hari.

Dari segi kualitas, air minum dan air bersih harus memenuhi syarat
kesehatan baik secara fisik, kimia, mikrobiologis maupun radioaktif sesuai
peraturan pemerintah melalui Dinas Kesehatan maupun lingkungan. Menurut
Sanropie, dkk. (1984 ) air bersih harus bebas dari mikroorganisme patogen,
bahan kimia berbahaya, warna, bau dan kekeruhan.
Air tanah pada umumnya tergolong bersih dilihat dari segi
mikrobiologis, namun kadar kimia air tanah tergantung dari formasi litosfir
yang dilaluinya atau mungkin adanya pencemaran dari lingkungan sekitar
(Said , 1999).
Dalam aliran air tanah, mineral-mineral dapat larut dan terbawa
sehingga mengubah kualitas air tersebut. Air tanah sering mengandung
unsur-unsur yang cukup tinggi menyebabkan air berwarna kuning kecoklatan
dan bercak-bercak pada pakaian serta dapat mengganggu kesehatan, yaitu
bersifat toksis terhadap organ melalui gangguan secara fisiologisnya,
misalnya kerusakan hati, ginjal dan syaraf. Jika kita mengkonsumsi air minum
secara terus menerus dengan kandungan Mangan, besi, magnesium,
kalsium dalam jumlah melebihi baku mutu air maka dimungkinkan adanya
akumulasi logam tersebut dalam tubuh. Oleh karena itu untuk menghindari
akibat-akibat buruk yang tidak diinginkan tersebut perlu dicari suatu teknik
pengolahan air untuk menurunkan kadar Besi, Mangan dan logam berat

lainnya dalam air sampai kadarnya di bawah ambang batas yang


diperbolehkan.
Kabupaten Wakatobi adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi
Sulawesi Tenggara, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di WangiWangi, dibentuk berdasarkan UU Nomor 29 Tahun 2003 tanggal 18
Desember 2003. Luas wilayah daratan 823 km dan luas wilayah lautan
18.377,31 km atau dengan kata lain luas wilayah daratan hanya 3% dari
wilayah lautan. Keadaan geografis kabupaten wakatobi adalah terdiri dari 4
Pulau yaitu pulau Wanci, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko.
Selain untuk kebutuhan sehari-hari, seiring dengan pesatnya
pertumbuhahan disektor pariwisata dengan dijadikannya wilayah kabupaten
wakatobi sebagai salah satu taman wisata nasional yaitu Taman Wisata
Kabupaten Wakatobi maka air yang bersih dan sehat merupakan faktor
penting penunjang kegiatan pariwisata. Bapenas tahun 2005 menyatakan
bahwa salah satu kelemahan dalam mengelola pulau-pulau kecil diwilayah
Indonesia khususnya disektor pariwisata adalah ketersediaan sarana dan
prasarana pendukung yang belum memadai yang salah satunya adalah air
bersih.
Khususnya dikecamatan Kaledupa yang merupakan salah satu
kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Wakatobi dengan jumlah

penduduk 15,238 jiwa dan luas wilayah 104 km2 (BPS, 2000), sesuai dengan
hasil penelitian pemeriksaan kualitas air untuk parameter kesadahan air di
wilayah tersebut tergolong tinggi, yaitu rata-rata 700mg/l atau dengan kata
lain tidak sesuai dengan persyaratan kualitas air yang ditetapkan oleh
menteri kesehatan yang hanya menetapkan nilai ambang batas untuk
parameter kesadahan adalah maksimal 500 mg/l (WALHI, 2005).
Masalah yang muncul pada masyarakat di wilayah kecamatan
Kaledupa, kabupaten Wakatobi adalah rendahnya tingkat pengetahuan
masyarakat tentang sanitasi dasar dan konsumsi air yang bersih dan sehat.
Salah satunya adalah dengan tidak diperhitungkannya jarak antara sumur
gali dengan septi tank, juga penggunaan air sumur gali untuk konsumsi tanpa
adanya perlakuan atau pengolahan terlebih dahulu.
Hasil observasi awal yang dilakukan menunjukkan bahwa dari semua
sumur gali yang digunakan oleh masyarakat kecamatan kaledupa untuk
memenuhi kebutuhan air besih sehari-harinya tidak ada sumur gali yang
memenuhi kriteria jarak sumur gali dengan pemukiman penduduk. Hal ini
dapat menyebabkan kualitas air sumur gali untuk parameter bakteriologis
tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu minimal 10 meter dari septi tank
penduduk. Ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari yang sesuai
dengan permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990 sangat sukar ditemukan,
sebab hampir semua badan air diwilayah tersebut memiliki rasa agak asin.

Data sekunder yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Kaledupa


menyatakan bahwa penyakit diare berada diurutan kedua pada 10 pola
penyakit di wilayah kerja puskesmas Kaledupa (Puskesmas Kaledupa, 2008).
Hingga tahun 2008 puskesmas kaledupa telah merujuk 68 orang pasien
untuk melakukan operasi batu ginjal dan kencing batu yang salah satu
penyebabnya

adalah

mengkonsumsi

makanan

atau

minuman

yang

megandung ion Ca2+ berlebih.


Bertolak dari uraian tersebut maka sangat penting artinya untuk
mengetahui

bagaimana

cara

atau

model

sarana

pengolahan

guna

meningkatkan kualiatas air bersih yang bersumber dari sumur gali


masyarakat.
upaya

Sehingga dengan adanya informasi tersebut, maka upaya-

pengolahan

air

bersih

dapat

dilaksanakan

dengan

tujuan

meningkatkan kualitas air dengan biaya yang relatif murah dan dapat
memenuhi syarat baku mutu air bersih sesuai dengan permenkes RI No. 416
Tahun 1990.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka yang menjadi
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana model sarana
pengolahan air sumur gali yang efektif untuk meningkatkan kualitas air bersih
pada masyarakat di kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi.
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk menciptakan Model sarana pengolahan air sumur gali dalam
meningkatkan kualitas air bersih masyarakat di kecamatan Kaledupa
Kabupaten Wakatobi
2. Tujuan Khusus.
a. Mengatahui rata-rata kualitas air sumur gali masyarakat di wilayah
penelitian
b. Untuk mengetahui variasi perlakuan yang paling efektif dalam
meningkatkan kualitas air sumur gali di lokasi penelitian
c. Untuk mengetahui berapa besar konsentrasi penurunan kadar TDS,
MPNColiform dan Kesadahan air baku sebelum dan sesudah melalui
model sarana pengolahan dalam menentukan variasi dosis dan
kecepatan aliran.

D. Manfaat Penelitian

1.

Manfaat Ilmiah
Sebagai bahan masukan dan sumber informasi bagi ilmu pengetahuan
sekaligus memperkaya kepustakaan tentang penyediaan air bersih dan
sehat

2.

Manfaat Praktis.
Dapat menjadi salah satu bahan rujukan mengenai pengolahan dan
penyediaan air bersih khususnya

3.

Manfaat Institusi.
Sebagai bahan bagi dunia pendidikan atau institusi lain yang terkait baik
pemerintah maupun swasta, LSM dan lembaga-lembaga lain yang
bergerak dalam upaya penyediaan air bersih yang sehat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sumur Gali
1.

Pengertian Sumur Gali (Depkes RI 1995)


Sumur gali merupakan sarana penyediaan air bersih tradisional
yang

banyak

pembuatannya

dijumpai

dimasyarakat

pada

umumnya.

Cara

dengan

menggunakan

pacul

atau

yang

dikerjakan secara manual.

linggis

Pada umumnya dibuat adalah untuk

mengambil air tanah bebas sehingga sangat dipengaruhi oleh musim.


Dari segi kesehatan, sumur ini memang kurang baik jika cara
pembuatannya tidak benar-benar diperhatikan karena selain sangat
dipengaruhi oleh musim juga sangat besar kemungkinannya untuk
mendapatkan pencemaran jika cara peletakannya salah.
2.

Syarat-syarat Sumur Gali (Depkes, 1984)


 Kedalaman sumur harus sampai mencapai lapisan tanah yang
mengandung air cukup banyak walaupun pada musim kemarau
 Dinding sumur dibuat sampai lapisan tanah yang mengandung air
untuk menjaga supaya tanah tidak longsor, tetapi air masih dapat
masuk kedalam sumur

 Dinding sumur harus dibuat rapat air sekurang-kurangnya 3 meter


dalamnya dari permukaan tanah
 Bibir sumur rapat air dibuat sekurang-kurangnya setinggi 70 cm dari
permukaan tanah
 Lantai sumur dibuat sekurang-kurangnya 1 meter jaraknya dari
dinding sumur, ditinggikan sekurang-kurangnya 20 cm diatas
permukaan tanah, agak miring
 Permukaan tanah sekitar sumur dibuat miring untuk memudahkan
pengeringan
 Saluran pembuangan sekurang-kurangnya 10 meter panjangnya

B. Air Bersih
1.

Pengertian Air Bersih


Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan seharihari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung
diminum

setelah

dimasak

(Permenkes

RI

Nomor:

416/MENKES/PER/IX/1990).
2.

Kualitas Air Bersih


Menurut Depkes tahun 1995, Kualitas air adalah sifat air yang
kandungan makhluk hidup, zat atau energi atau komponen lain dalam

air yang dapat dilihat/diukur dari berbagai parameter baik fisik, kimia,
mikrobiologik maupun radioaktivitas.

Standar yang digunakan untuk

menentukan kualitas air bersih adalah Peraturan Menteri Kesehatan RI


Nomor: 416/Menkes/Per/IX/1990 yang secara garis besar adalah
sebagai berikut:
a) Syarat fisik yaitu suhu, warna, bau, rasa dan kekeruhan
b) Syarat-syarat bakteriologis meliputi kuman-kuman parasitic, kumankuman pathogen dan bakteri golongan coli.
c) Syarat kimia meliputi:
 Dalam air tidak boleh mengandung zat-zat yang kadarnya
member gangguan kesehatan
 Tidak boleh mengandung unsur-unsur kimia beracun
 Tidak boleh mengandung zat-zat yang kadarnya dapat
menyebabkan gangguan teknis
d) Syarat radioaktif yang meliputi benda-benda radioaktif yang
mungkin tekandung dalam air
C. Escherichia Coli
Escherichia Coli ditemukan oleh Escheri tahun 1985.

Bakteri

berbentuk batang negatif, fakultatif aerob, tumbuh baik pada media


sederhana, dapat melakukan fermentasi lactosa dan fermentasi glukosa serta
menghasilkan gas.

E.Coli merupakan flora normal didalam usus manusia dan akan


menimbulkan efek penyakit bila masuk kedalam organ dan jaringan lain.
E.Coli dapat menimbulkan Pneumonia, Endocarditis, infeksi pada luka-luka
dan abses pada berbagai organ.
Tabel 1. Jenis penyakit yang dapat ditularkan melalui air
Jenis Mikroba
Agen Virus
Rota Virus
Virus Hepatitis
Virus Poliomyelitie
Agen Bakteri
Vibrio cholerae
Escherichia coli
Salmonella typi
Salmonella paratyphi
Shigella dysenteriae
Agen Protozoa
Entaamoeba histolytica
Balantidia coli
Gardia Lamblia
Agen Metazoa
Ascaris lumbricoides
Chlonorchis Sinensis
Diphllobothrium latum
Tania saginata/solium
Schistosoma
Sumber : Wardhana 1999

Penyakit
Diare, terutama anak-anak
Hepatitis A
Poliomyelitis
Cholera
Diare/dysentri
Thyphus abdominale
Patrathypus
Dysentri
Dysenteri amoeba
Balantidiasis
Giardiasis
Ascariasis
Clonorchiasis
Diphlobothriasis
Taneasis
Schistosomiasis

E.Coli adalah indikator yang paling baik untuk menunjukkan air bersih
tercemar faeces

atau tidak sebab dalam faeces manusia baik dalam

keadaan sehat ataupun sakit terdapat bakteri ini. Dalam 1 gr faeces terdapat
100 juta Eschercia Coli. Kehadiran suatu mikroorganisme golongan coli
dalam konsentrasi bagaimanapun kecilnya dapat dianggap sebagai indikasi
tercemarnya air oleh faecal.
Terpilihnya bakteri golongan coli sebagai indikator karena sifat dan
sensitifnya terhadap lingkungan hidup mikroba sehingga bila ditemui bakteri
golongan coli dapat dipastikan adanya kehadiran bakteri-bakteri patogen
dlam air.
Kehadiran dari bakteri golongan coli dalam air dilaporkan dan
dinyatakan dalam angka MPN yaitu jumlah bakteri coli yang terdapat dalam
100 ml sampel air.
D. Kesadahan
Kesadahan (hardnes) adalah gambaran kation logam divalent. Kationkation ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan maupun
dengan anion-anion yang terdapat dalam air membentuk endapan atau karat
peralatan logam (Effendi, 2003).
Kesadahan dapat menyebabkan pengendapan pada dinding pipa.
Kesadahan yang tinggi disebabkan sebagian besar oleh kalsium dan
magnesium

1.

Kalsium (Ca)
Adanya Ca dalam air adalah sangat diperlukan untuk
pembentukan tulang dan gigi.

Derajat toksisitasnya tergantung

komponen senyawanya, karena Ca sendiri tidak toksik bagi tubuh, akan


tetapi dalam jumlah yang terlalu sedikit atau terlalu besar dapat
menimbulka gangguan kesehatan.
Keberadaan kalsium pada sumber air bersih berasal dari
hubungan air tanah dengan batuan karang.

Keberadaan kalsium

sangat dipengaruhi oleh reaksi kimia yang melibatkan karbondioksida.


Karbon dioksida adalah gas yang mudah terlarut dalam perairan. Tingi
rendahnya kadar Ca dalam air tergantung dari keadaan tanah dimana
sumber air berasal.
Dalam tubuh manusia Ca merupakan mineral terbanyak yaitu,
mencakup 1,5-2% dari berat badan dan 39% dari seluruh mineral dalam
tubuh. Sebesar 99% dari Ca terdapat pada tulang dan Gigi. Sisanya
1% berada dalam cairan ekstrasel dan sel jaringan lunak (Hadju,2000).
Ca mempengaruhi fungsi pengangkutan dari membran sel,
yang kemungkinan bekerja sebagai pengatur stabilitas membrane sel
organik, pelepasan-pelepasan untuk aktivasi enzim intraseluler dan
ekstraseluler (Hadju, 2000).
Konsentrasi Ca dalam air minum yang lebih rendah dari 75mg/l
dapat menyebabkan penyakit tulang rapuh karena Ca dibutuhkan untuk

pertumbuhan dan gigi, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi (dalam


hubungannya dengan Mg) dapat menyebabkan masalah-masalah
jantung, asma, arteriosklerosis, sakit kepala, Hypertensi dan lain-lain.
Oleh karena itu menghindari efek yang tidak diinginkan akibat dari
terlalu rendahatau terlalu tingginya kadar Ca dalam air ditetapkanlah
standar persayaratan konsentrasi Ca sebagaimana yang ditetapkan
oleh Depkes RI sebesar 75 200mg/l (Sutrisno, 1991).
2.

Magnesium (Mg)
Magnesium adalah logam alkali tanah yang cukup berlimpah
pada perairan alami. Bersama dengan kalsium, magnesium merupakan
penyusun utama kesadahan.

Tinggi rendahnya magnesium dalam

suatu badan air tergantung sumber air baku berasal terutama keadaan
tanah yang dilaluinya.
Garam-garam magnesium sifatnya mudah larut. Kekurangan
unsur ini dapat menimbulkan depresi susunan saraf pusat (ssp) dan
otot.

Kelebihan magnesium dalam tubuh dapat menyebabkan

kerentanan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit jantung,


tekanan darah tinggi, batu ginjal, kanker, insomnia.

Toksisitasnya

tergantung pada anion yang terikat pada Mg (Winarno, 1991)


Dampak umum yang ditimbulkan oleh adanya unsur ini dalam
air adalah serupa dengan dengan efek umum yang dapat ditimbulkan
oleh pengaruh kalsium. Dalam jumlah yang kecil Mg dibutuhkan oleh

tubuh untuk pertumbuhan tulang, akan tetapi dalam jumlah yang lebih
besar akan menyebabkan rasa mual bila dikonsumsi (Sutrisno, 1991).

E. Total Disolved solid


Jumlah padatan terlarut (TDS) adalah padatan yang menyebabkan
kekeruhan pada air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung.
Padatan tersuspensi terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun
beratnya lebih kecil dari pada sediment, seperti bahan-bahan organik
tertentu, dan tanah liat. Misalnya air permukaan yang mengandung tanah liat
dalam bentuk suspensi.
Jumlah padatan terlarut total (TDS) adalah jumlah padatan dalam air
setelah disaring dengan menggunakan filter yang kemudian dipanaskan
1030C sampai 1050C. TDS dapat berupa berbagai jenis material seperti
endapan lumpur, hancuran senyawa tanaman dan

binatang., dan limbah

industri. Konsentrasi padatan tersuspensi yang tinggi dapat menyebabkan


masalah pada perairan (murpy, 2002)
Padatan tersuspensi total adalah residu dari sampel cairan yang
tertahan pada filter gelas sesudah difiltrasi dan dipanas pada temperatur

1030C sampai 1050C. Jadi berat padatan tersuspensi sama dengan berat
filter sesudah difiltrasi dan dikeringkan dikurangi dengan berat filter bersih
(PU, 2000)
Padatan tersuspensi total adalah jumlah bobot

bahan yang

tersuspensi/terlarut dalam suatu volume tertentu, yang biasanya diberikan


dalam milligram per liter atau ppm. Mengukur kekeruhan-turbiditas-air
dilakukan untuk dapat memperkirakan zat padat tersuspensi dalam suatu
contoh air. Turbiditas diukur dengan turbidiuster yang mengukur kemampuan
cahaya untuk melewati suatu contoh air.
Menurut Effendi (2003) Padatan terlarut total adalah bahan-bahan
tersuspensi (diameter > 1m) yang tertahan pada saringan Millipore dengan
diameter pori 0,45 m. TDS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasadjasad renik, yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang
terbawa ke badan air.
F. Tinjauan Tentang Biji Kelor dan Zeolit
1.

Biji Kelor (Moringa Olivera)


Salah satu zat koogulan alami yang dapat digunakan sebagai
penjernih air adalah biji buah kelor.
bahwa

buah

biji

kelor

Sudiarsa (2004), menyatakan

mengandung

zat

aktif

rhamnosyloxy-

benzilisothiocyanate yang mampu mengadopsi dan menetralisir partikel


lumpur serta logam yang terkandung dalam air.
Kelor (moringa oliefera) termasuk jenis tumbuhan perdu yang
dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Di jawa, Kelor sering
dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obatobatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah
patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Batang
pokoknya berwarna kelabu. Daunnya berbentuk bulat telur dengan
ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Kelor dapat
berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian
tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih
kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau.
Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak.
Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang
(Jawa). Buahnya pula berbentuk kekacang panjang berwarna hijau dan
keras serta berukuran 120 cm panjang. Sedang getahnya yang telah
berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa).
Budidaya tanaman Moringa atau kelor memerlukan pemeliharaan
yang sangat minimal dan dapat tahan pada musim kering yang panjang.
Cepat

tumbuh

sampai

ketinggian

4-10

meter,

berbunga,

dan

menghasilkan buah hanya dalam waktu 1 tahun sejak ditanam.

Tanaman tersebut tumbuh cepat baik dari biji maupun dari stek, bahkan
bila ia ditanam di lahan yang gersang yang tidak subur. Sehingga baik
bila dikembangkan di lahan-lahan kritis yang mengalami musim
kekeringan yang panjang.
a. Mekanisme Pembersihan Air dengan Biji Kelor
Biji kelor dibiarkan sampai matang atau tua di pohon dan
baru dipanen setelah kering. Sayap bijinya yang ringan serta kulit
bijinya mudah dipisahkan sehingga meninggalkan biji yang putih.
Bila terlalu kering di pohon, polong biji akan pecah dan bijinya dapat
melayang terbang ke mana-mana.
Biji tak berkulit tersebut kemudian dihancurkan dan ditumbuk
sampai halus sehingga dapat dihasilkan bubuk biji Moringa. Jumlah
bubuk biji moringa atau kelor yang diperlukan untuk pembersihan air
bagi keperluan rumah tangga sangat tergantung pada seberapa
jauh kotoran yang terdapat di dalamnya. Untuk menangani air
sebanyak 20 liter (1 jeriken), diperlukan jumlah bubuk biji kelor 2
gram atau kira-kira 2 sendok teh (5 ml).
Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji sehingga
menjadi pasta. Letakkan pasta tersebut ke dalam botol yang bersih
dan tambahkan ke dalamnya satu cup (200 ml) lagi air bersih, lalu

kocok selama lima menit hingga campur sempurna. Dengan cara


tersebut, terjadilah proses aktivitasi senyawa kimia yang terdapat
dalam bubuk biji kelor.
Saringlah larutan yang telah tercampur dengan koagulan biji
kelor tersebut melalui kain kasa dan filtratnya dimasukkan ke dalam
air 20 liter (jeriken) yang telah disiapkan sebelumnya, dan kemudian
diaduk secara pelan-pelan selama 10-15 menit.
Selama pengadukan, butiran biji yang telah dilarutkan akan
mengikat dan menggumpalkan partikel-partikel padatan dalam air
beserta mikroba dan kuman-kuman penyakit yang terdapat di
dalamnya sehingga membentuk gumpalan yang lebih besar yang
akan mudah tenggelam mengendap ke dasar air. Setelah satu jam,
air bersihnya dapat diisap keluar untuk keperluan keluarga.
b. Efisiensi Proses
Proses pembersihan tersebut menurut hasil penelitian yang
telah dilaporkan mampu memproduksi bakteri secara luar biasa,
yaitu sebanyak 90-99,9% yang melekat pada partikel- partikel
padat, sekaligus menjernihkan air, yang relatif aman (untuk kondisi
serba keterbatasan) serta dapat digunakan sebagai air minum
masyarakat setempat.

Namun demikian, beberapa mikroba patogen masih ada


peluang tetap berada di dalam air yang tidak sempat terendapkan,
khususnya bila air awalnya telah tercemar secara berat. Idealnya
bagi kebutuhan air minum yang pantas, pemurnian lebih lanjut
masih perlu dilakukan, baik dengan cara memasak atau dengan
penyaringan dengan cara filtrasi pasir yang sederhana.

2.

Zeolit
Zeolit terdiri atas gugusan alumina dan gugusan silika-oksida
yang masingmasing berbentuk tetrahedral dan saling dihubungkan
oleh atom oksigen sedemikian rupa sehingga membentuk kerangka tiga
dimensi. Mengandung

ion-ion natrium dalam jumlah cukup banyak,

berbentuk granular dan tidak larut dalam air.

Bahan sintesis zeolit

berupa resin (kation-anion) disamping menurunkan kesadahan air juga


dapat menghilangkan berbagai asam dan hydrogen sulfida dalam air.
Hamdan (1992), mengemukakan bahwa zeolit merupakan suatu
mineral berupa kristal silikaalumina yang terdiri dari tiga komponen yaitu
kation yang dapat dipertukarkan, kerangka alumino-silikat dan air. Air
yang terkandung dalam pori tersebut dapat dilepas dengan pemanasan
pada temperatur 300 oC sampai dengan 400 oC. Dengan pemanasan
pada temperatur tersebut air dapat keluar, sehingga zeolit dapat

berfungsi sebagai penyerap gas atau cairan (Sutarti dan Rachmawati,


1994).
Menurut Sutarti (1994:1), istilah zeolit berasal dari kata zein
yang berarti mandidih dan lithos yang berarti batu, hal ini sesuai
dengan batuan zeolit yang membiuh jika dipanaskan. Menurut ahli
geokimia dan mineralogi, zeolit merupakan produk gunung berapi yang
membeku menjadi batuan vulkanik dan sedimen-sedimen yang
selanjutnya melalui proses pelapukan akibat pengaruh panas dan dingin
yang terjadi di dalam tanah membentuk mineral-mineral zeolit.

Zeolit menurut ensiklopedi online wikipedia adalah senyawa zat


kimia alumino-silikat berhidrat dengan kation natrium, kalium dan
barium. Zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumina silika
terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam
kerangka tiga dimensinya.
Secara umum, Zeolit memiliki molekular sruktur yang unik,
dimana atom silikon dikelilingi oleh 4 atom oksigen sehingga
membentuk semacam jaringan dengan pola yang teratur. Di beberapa
tempat di jaringan ini, atom Silicon digantikan degan atom Aluminium,
yang hanya terkoordinasi dengan 3 atom Oksigen. Atom Aluminium ini
hanya memiliki muatan 3+, sedangkan Silicon sendiri memiliki muatan
4+.

Keberadaan atom Aluminium ini secara keseluruhan akan


menyebababkan Zeolit memiliki muatan negatif. Muatan negatif inilah
yang menebabkan Zeolit mampu mengikat kation.
Zeolit juga sering disebut sebagai 'molecular sieve' / 'molecular
mesh' (saringan molekuler)karena zeolit memiliki pori-pori berukuran
molekuler sehingga mampu memisahkan/menyaring molekul dengan
ukuran tertentu.
Menurut Barrer (1978:10), struktur zeolit terbentuk atas bangun
dasar primer yang merupakan sebuah tetrahedral yang dibangun atas
atom oksigen yang mengelilingi atom silikon atau alumunium.
Gabungan dari unit pembangunan primer dapat membentuk berbagai
cincin daiantaranya adalah jenis lingkar 4, 6, 8 atau gabungan dari
cincin ganda lingkar 4, prisma heksagonal, atau gabungan dari cincin
lingkar 4.

Selanjutnya unit pembangun sekunder akan membentuk

polihedral-polihedral besar yang dapat mengandung lebih dari 24


tetrahedral.
Bentuk kristal zeolit ini sangat teratur dengan rongga-rongga
yang saling berhubungan ke segala arah menyebabkan permukaan
zeolit menjadi sangat luas. Zeolit berbentuk halus dan lunak dengan
variasi warna sesuai dengan jenis kaion yang alkali atau alkali tanah
yang

diikatnya.

Sifat

zeolit

ini

sangat

menarik

karena

dapat

dimanfaatkan sebagai penyerap (absorben). Sedangkanrongga yang

terisi kation-kation menyebabkan zeolit dapat dimanfaatkan sebagai


penukar ion atau penyaring molekuler. Selain itu sifat keasaman zeolit
dapat dimanfaat sebagai katalis. Sifat-sifat zeolit akan dijelaskan
sebagai berikut (Barrer, 1975:5):
a) Penyaring molekuler
Zeolit

dapat

memisahkan

mlekul

berdasarkan

erbedaan

ukuran,bentuk, dan polaritas dari molekul yang disaring. Zeolit


adat memisahkan molekul gas atau zat lian dari suatu campuran
karena mempunyai ruang hampa yang cukup besar. Molekul yang
berukuran kecil dapat melintasi zeolit dan yang berukuran besar
akan tertahan.

b) Penukar ion
Ion-ion pada keranga zeolit berfungsi untuk menjaga kenetralan
zeolit. Ion-ion ini dapt bergerak bebas sehingga pertukaran ion
dapat terjadi. Pertukaran ion tergantung dari ukuran, muatan, dan
mobilitas ion. Penukaran ion dapat menyebabkan perubahan
beberapa sifat dari zeolit seperti stailitas terhadap panas, sifat
adsorbsi dan aktifitas katalis.
c) Adsorbsi

Dalam keadaan normal, ruang hampa pada kristal zeolit terisi oleh
molekul air bebas yang berda di sekitar kation. Jika zeolit
dipanaskna, air tersebut akan keluar dari rongga zeolit, sehingga
zeolit dapat berfungsi sebagai penyerap.
d) Katalis
Ciri khusus dari zeolit yang menentukan sifat khusus mineral ini
adalah adanya ruang kosong yang akan membentuk saluran di
dalam strukturnya. Zeolit merupakan katalisator yang baik karena
memiliki pori-pori yang besr dengan permukaan maksimal. Zeolit
berperan sebagai katalis karena zeolit mempunyai gugus aktif
yang terletak antar saluran kristal yang terletak antar saluran
kristal dan mempunyai aktifitas pemecah ikatan.

G. Tinjauan Tentang Sarana Pengolahan Air


Pengolahan air adalah usaha-usaha teknis yang dilakukan untuk
mengubah sifat-sifat suatu zat. Hal ini penting artinya bagi air minum, karena
dengan adanya pengolahan ini maka akan didapat suatu air minum yang
memenuhi standard air minum yang telah ditentukan.
Dalam proses pengolahan air pada lazimnya dikenal dengan 2 cara
yaitu pengolahan lengkap (complete treatment process) dan pengolahan
sebagian (partial treatment process).

1.

Pengolahan lengkap atau Complete treatment process


Pada pengolahan ini air akan mengalami pengolahan lengkap,
baik secara fisik, kimiawi dan bakteriologi. Pada pengolahan cara ini
biasanya dilakukan terhadap air yang kotor atau keruh.

Pada

hakekatnya pengolahan lengkap ini dibagi dalam tiga tingkatan


pengolahan, yaitu :
a.

Pengolahan fisik, yaitu tingkatan pengolahan yang bertujuan untuk


mengurangi/menghilangkan

kotoran-kotoran

yang

kasar,

penyisihan lumpur dan pasir, serta mengurangi kadar zat-zat


organik yang ada dalam air yang akan diolah
b.

Pengolahan

Kimiawi,

yaitu

tingkatan

pengolahan

dengan

mengunakan zat-zat kimia untuk membantu proses pengolahan


selanjutnya
c.

Pengolahan Bakteriologis, yaitu tingkatan pengolahan untuk


membunuh/memusnahkan bakteri-bakteri yang terkandung dalam
air minum yakni dengan cara membubuhkan zat desinfektant
kaporit, dll.

2.

Pengolahan Sebagian atau Partial Treatment Process


Pada

pengolahan

ini

tahapan-tahapan

pengolahannya

disesuikan dengan kondisi air yang akan diolah, misalnya diadakan


pengolahan

kimiawi

dan/atau

pengolahan

bakteriologisnya

saja.

Pengolahan ini lazimnya dilakukan untuk sumber air yang bersih sepeti
air dari sumur yang dangkal/dalam.

Tabel 2; Data-data Hasil Penelitian Eksperimen

No.

Peneliti

Objek
Penelitian

Jenis
Pengolahan

Hasil
(menurunkan)

1.

Johria, 2001

Sumur
Gali

Menurunkan
Menggunakan
Abu tangkai Padi Kesadahan
Hingga 60%
dari
sebelumnya

2.

Rasman,2008

Sumur
Gali

Menggunakan
Abu merang dan
saringan
pasir
sederhana

Menurunkan
kesadahan
hingga
90%
dari
sebelumnya

3.

Abd. Rahman
dan Budi
Hartono, 2004

Air Tanah

Filter Zeolit Alam

Menurunkan
Fe dalam air
hingga 55%

4.

Anne Juliah

Air Tanah

Media berbutir

Menurunkan
TDS,
Senyawa
Organik dan
pH.

5.

Kasam

Air Tanah

Pemanfaatan
Menurunkan
Tanaman Eceng TDS
hingga
Gondok
25%

H. Kerangka Teori
Kerangka teori penelitian dapat dilihat seperti gambar berikut ini:

SUMBER AIR

SARANA
PENGOLAHAN

KONSUMSI

Gambar 1 ; Bagan kerangka teori

Sumur gali yang merupakan satu-satunya sumber air yang


dikonsumsi oleh masyarakat pada dasarnya masih jauh dari kualitas air
sumur

gali

yang

dipersyaratkan

No.416/Menkes/Per/X/1990.
diharapkan

adanya

oleh

Permenkes

RI

Dengan adanya sarana pengolahan

penurunan

kadar

kesadahan

total,

jumlah

bakteriologis dan kadar TDS dari sumur gali yang dikonsumsi oleh
masyarakat sehingga masyarakat khususnya di wilayah kecamatan
Kaledupa, Kelurahan Ambeua mengkonsumsi air yang bersih dan
sehat.

I. Kerangka Konsep
1.

Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti

Masalah penyediaan air bersih ini menjadi salah satu prioritas


dalam

perbaikan

derajat

kesehatan

masyarakat.

Mengingat

keberadaan air sangat vital dibutuhkan oleh makhluk hidup. Kehidupan


di muka bumi ini hanya dapat berlangsung dengan keberadaan air.
Seiring

meningkatnya

kepadatan

penduduk

dan

pesatnya

pembangunan, maka kebutuhan air pun semakin meningkat. Sehingga


dituntut tersedianya air yang sehat yang meliputi pengawasan dan
penetapan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dan kehidupan
manusia yang bertujuan untuk menjamin tercapainya air minum maupun
air bersih yang memenuhi syarat kesehatan bagi seluruh lapisan
masyarakat.

Banyak penduduk yang terpaksa memanfaatkan air yang kurang


bagus kualitasnya. Tentu saja hal ini akan berakibat kurang baik bagi
kesehatan masyarakat pada jangka pendek, kualitas yang kurang baik
dapat mengakibatkan muntaber, diare, kolera, tipus, atau disentri. Hal

ini dapat terjadi pada keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik.
Bila air tanah dan air permukaan tercemari oleh kotoran, secara
otomatis kuman kuman tersebar ke sumber air yang dipakai untuk
keperluan rumah tangga. Dalam jangka panjang, air yang berkualitas
kurang dapat mengakibatkan penyakit keropos tulang, korosi gigi,
anemia, dan kerusakan ginjal.

Dengan adanya sarana pengolahan air untuk peningkatan


kualitas diharapkan dapat meningkatkan kualitas air sumur gali yang
digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
khususnya untuk parameter Bakteriologi, TDS, dan Kesadahan
sehingga

didapatkan air bersih yang sesuai dengan standard yang

berlaku yaitu sesuai dengan Permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990


tentang syarat-syarat kualitas air bersih

2.

Hubungan Variabel

VARIASI DOSIS ZEOLIT


300gr, 500gr, 1000gr
VARIASI DOSIS
BUBUK BIJI KELOR

VARIASI WAKTU
TINGAL
15 MENIT
30 MENIT
60 MENIT

5g/l
3g/l
1g/l
Penurunan

TDS
Bakteriologi
(Coliform)
Kesadahan Total

SUHU
pH

Keterangan :
: Variabel Bebas

: Variabel Terikat

: Variabel Terkontrol

Gambar 2; Hubungan Variabel

J. Defenisi Operasional dan Kriteria objektif


1. Sumur Gali adalah sumur yang berada dilokasi penelitian yang digunakan
sebagai sampel penelitian.
2. Dosis Koogulan adalah jumlah zat koogulan yang akan digunakan untuk
pengendapan
3. Dosis Filter Zeolit adalah jumlah zeolit yang akan digunakan sebagai filter
penyaring
4. Efektifitas dosis koogulan adalah kemampuan dalam mengendapkan
partikel-partikel padat air sumur gali sesuai dengan standar Permenkes
No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat kualitas air bersih.
5. Efektifitas dosis zeolit adalah kemampuan dalam menurunkan kadar
kesadahan air sumur gali sesuai dengan standar Permenkes No.
416/Menkes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat kualitas air bersih
6. Efektifitas waktu tinggal Sarana pengolahan air sumur gali adalah
kemampuan dalam mengelola air sumur gali sesuai dengan standar
permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat kualitas air
bersih
7. Kesadahan total adalah gambaran kation logam divalent (valensi dua)
dalam air yang disebabkan oleh ion-ion Ca++ dan Mg++
Kriteria objektif :
a. Sarana Efektif

: Jika terjadi penurunan kandungan parameter


Kesadahan

total

setelah

melalui

sarana

pengolahan dan sesuai dengan Permenkes


No. 416/Menkes/Per/IX/1990
b. Sarana Tidak Efektif : Apabila tidak memenuhi kriteria diatas
8. TDS adalah Jumlah zat padatan terlarut yang tersuspensi dalam air bersih
Kriteria objektif :
a. Sarana Efektif

: Jika terjadi penurunan kandungan parameter


TDS setelah melalui sarana pengolahan dan
sesuai

dengan

Permenkes

No.

416/Menkes/Per/IX/1990
b. Sarana Tidak Efektif : Apabila tidak memenuhi kriteria diatas
9. MPN Coliform adalah untuk mengetahui jumlah Coliform didalam contoh
yang biasanya digunakan metode MPN (Most Probable Number) yang
pengukurannya menggunakan metode tabung fermentasi
Kriteria objektif :
a. Sarana Efektif

: Jika terjadi penurunan kandungan parameter


MPN

Coliform

setelah

melalui

sarana

pengolahan dan sesuai dengan Permenkes


No. 416/Menkes/Per/IX/1990
b. Sarana Tidak Efektif : Apabila tidak memenuhi kriteria diatas

K. Hipotesis

1. Proses model sarana pengolahan dalam meningkatkan kualitas air sumur


gali sesuai standard permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang
syarat-syarat kualitas air bersih
2. Efektivitas

model sarana pengolahan dalam meningkatkan kualitas air

sumur gali sesuai standard permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990


tentang syarat-syarat kualitas air bersih

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen untuk mengetahui
kemampuan

Model

Sarana

Pengolahan

sarana

pengolahan

untuk

meningkatkan kualitas air sumur gali dengan melihat penurunan kadar TDS,
Bakteriologi, dan Kesadahan pada Air Sumur Gali
Desain penelitian ini menggunakan desain One-Group PretestPosttest ( Sugiyono,2007). Pada desain ini penelitian di bagi dua kelompok
dimana kelompok pertama di ukur sebelum diberi perlakuan dan kelompok
yang kedua kelompok diukur setelah diberi perlakuan. (Sugiyono, 2007)
Paradigma penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

O1

X O2

O1 = di ukur (sebelum perlakuan)


O2 = di ukur (setelah perlakuan)
Pengaruh perlakuan = O1 O2

Gambar 3; Desain penelitian

Untuk melihat gambaran kualitas fisik air sumur gali, dilakukan dengan
pengukuran sampel air sumur gali dan hasilnya dianalisis secara deskriptif

B. Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan Februari
sampai Maret

2009. Lokasi penelitian bertempat di Kelurahan Ambeua,

kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi dan dianalisis di laboratorium


Kesehatan Departemen Kesehatan Kendari , sedangkan sampel Air Sumur
gali diambil dari Sumur yang berada dilokasi Penelitian.
C. Bahan dan Alat Penelitian
1. Bahan Penelitian
a. Bahan untuk pengukuran kesadahan : Larutan standar EDTA 0,01 M,
buffer pH 10, Indikator Enriocrom Black T (EBT)
b. Bahan pengukuran TDS :
c. Bahan untuk pengukuran Bakteriologi (MPN Coliform) : Lactosibroth
(LB), brillian green lactisibroth (BGLB), dan aquades steril
d. Bahan media filter: Zeolit
e. Bahan Pembuatan Sarana Pengolahan : Lem pipa Bak Fiberglass
Kapasitas 500 liter, Pipa PVC berbagai ukuran, solatif pipa, Dop pipa
berbagai ukuran, Floksoc, Kran air
2. Alat Penelitian

a. Alat untuk mengukur Kesadahan : Pipet Volum, Pipet tetes,


Erlenmeyer, Buret Asam, Stand Buret, Neraca, batang pengaduk,
gelas piala,
b. Alat untuk mengukur TDS: Spektro Quick, gelas ukur, pipet, flokulator
c. Alat

untuk

mengukur

MPN

Coliform:

Inkubator,

gelas

ukur,

labuerlenmeyer, rak dan tabung reaksi, pipet, bunsen, autoclave


d. Alat pembuatan Sarana Pengolahan : Gergaji pipa, Bor kecil,

D. Proses Pengolahan Air Sumur Gali


Proses sarana pengolahan air sumur gali untuk meningkatkan kualitas
air sumur gali masyarakat terbagi atas tiga tahap yaitu proses pertama
adalah

pencampuran

air

dengan

koogulan,

proses

kedua

adalah

pengendapan, dan proses terakhir adalah Filterisasi dengan Zeolit untuk


menurunkan kadar kesadahan total air sumur gali.
a) Tahap Pertama (bak pencampur koogulan, dan Disinfeksi)
Air sumur gali Pada tahapan ini proses yang dilakukan adalah
pembubuhan (koogulan biji kelor yang sudah dipreparasi) dengan dosisi
terukur Untuk membantu mengoptimalkan proses pada tahap kedua.
Pada bak pencampur koogulan ini, pemberian koogulan dilakukan
dengan cara manual tanpa alat bantu. Setelah koogulan dicampur air

yang

ada

dalam

bak

tahap

pertama

diaduk

dengan

tujuan

menghomogenkan air dan koogulan agar pengendapan pada bak tahap


kedua dapat terjadi secara sempurna dan maksimal. Setelah air dan
koogulan bercampur sempurna diharapkan dapat terbentuk floc-floc yang
kemudian diendapkan pada bak tahap kedua.

Bahan koogulan yang

digunakan adalah terbuat dari biji kelor yang sudah dikeringkan kemudian
dihaluskan. Serbuk biji kelor yang sudah dikeringkan selain berfungsi
sebagai koogulan juga berfungsi sebagai Disinfektan.
b) Tahap Kedua (pengendapan)
Pada tahap ini proses yang dilakukan adalah mengendapkan floc-floc
yang terbentuk pada pak unit pertama. Pengendapan pada bak tahap
kedua ini dengan menggunakan gaya berat floc sendiri (gaya gravitasi).
Penanganan pada bak tahap kedua ini ditujukan terhadap aliran air yang
harus dijaga agar aliran air pada unit ini laminair (tenang), sehingga tidak
menganggu pengendapan secara gravitasi.

Hal ini dapat dilakukan

dengan mendesain inlet air masuk dan keluar pada bak pegendapan.
c) Tahap Ketiga (Proses Penukaran ion dengan Filter rezin Zeolit)
Setelah melalui proses tahap kedua selanjutnya Air sumur gali memasuki
tahap ketiga yaitu proses filterisasi dengan menggunakan filter zeolit.
Pada dasarnya proses filterisasi yang terjadi pada tahap ini adalah
proses untuk menurunkan kesadahan total pada air sumur gali dengan

menggukan prinsip penukaran ion. Bahan yang digunakan adalah zeolit


(green sand) yang merupakan silikat hidrat yang mengandung ion-ion
natrium dalam jumlah cukup banyak, berbentuk granuler yang tidak larut
dalam air. Bahan ini disamping menurunkan kesadahan air juga dapat
menghilangkan berbagai asam dan hydrogen sulfida dalam air. Pada
proses ini bahan zeolit suatu ketika akan mengalami kejenuhan sehingga
tidak mampu lagi melakukan pertukaran ion. Air yang berasal dari bak
pengendapan kemudian dialirkan ke Filter tahap ketiga yang berisi zeolit
dengan maksud untuk menurunkan kesadahan.

Setelah bereaksi

dengan air sumur gali yang sadah maka ion-ion Na+ yang terdapat dalam
zeolit akan terganti oleh ion-ion Ca2+, dimana setiap 2 ion Na digantikan
oleh 1 ion Ca.
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Perencanaan Model Sarana Pengolahan
Model Sarana

pengolahan

dibuat sedemikian rupa sehingga mudah

dipahami oleh dan dibuat oleh masyarakat. Sarana tersebut terdiri dari
bak pencampuran koogulan kapasitas 100 liter, bak pengendapan
kapasitas 100 liter, terbuat dari bahan fiberglass, sedangkan sarana
filterisasi mengunakan pipa 3 diameter 3 inchi (lihat gambar pada
lampiran).

2. Cara pengambilan sampel


Sampel air yang digunakan pada penelitian ini adalah air yang
berasal dari sumur gali yang berada dilokasi penelitian. Pengambilan
sampel air sumur gali dilakukan sesuai dengan metode pengambilan
sampel air.

Kemudian diberi perlakuan sesuai kerangka hubungan

variebel.
3. Rancangan Percobaan
Rancangan

percobaan

pada

penelitian

ini

menggunakan

Rancangan Acak Lengkap dengan tujuan untuk melihat pengaruh dari


semua variabel bebas terhadap kualitas air sumur gali sebelum dan
setelah mengalami perlakuan.

Rancangan acak lengkap penelitian ini

dapat dilihat pada tabel 3 berikut ;


Tabel 3; Rancangan Percobaan Eksperimen

B1

B2

B3

A1

A1B1

A1B2

A1B3

A2

A2B1

A2B2

A2B3

A3

A3B1

A3B2

A3B3

Keterangan:
A1 : Bubuk Biji Kelor dengan perbandingan 5gram/liter air
A2

: Bubuk Biji Kelor dengan perbandingan 3gram/liter air

A3

: Bubuk Biji Kelor dengan perbandingan 1gram/liter air

B1

: Zeolit dengan berat 300 gram

B2

: Zeolit dengan berat 500 gram

B3

: Zeolit dengan berat 1000 gram

Rancangan percobaan diatas hanya melihat sejauh mana pengaruh


Variabel dosis bubuk biji kelor dan Variabel jumlah zeolit yang digunakan
dalam meningkatkan kualitas air sumur gali sebelum dan sesudah
mendapatkan perlakuan.

Untuk mengetahui pengaruh variabel waktu

tinggal maka rancangan percobaan dilakukan sebanyak 3 kali perlakuan


dengan variasi waktu tinggal.

4. Pengukuran parameter
a. Metode Pengukuran Kesadahan Total (Bassett. J. dkk; 1991)
1) Sampel air sebanyak 50 mL (diukur menggunakan gelas ukur)
dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer 250 mL.
2) Bilaslah gelas ukur tersebut dengan sedikit air, kemudian
campurkan air bilasan tersebut ke dalam gelas Erlenmeyer yang
berisi sampel air. Lakukan pembilasan ini 2 3 kali.
3) Tambahkan 5 mL larutan penyangga pH 10 kedalamnya

4) Masukkan cuplikan ( 5 - 10 mg) indikator EBT dengan


menggunakan batang pengaduk gelas ke dalam gelas Erlenmeyer
tersebut sehingga larutan menjadi berwarna merah anggur.
5) Masukkan larutan standar EDTA 0.01 M ke dalam buret 50 mL,
atur sedemikian sehingga tidak ada udara dalam buret (termasuk
bagian bawah kran). Lihat petunjuk penggunaan buret!.
6) Titrasilah sampel air tersebut sedikit demi sedikit dengan larutan
EDTA 0.01 M sampai larutan sampel tepat akan berubah
warnanya menjadi biru.
7) Catatlah volume larutan EDTA yang dibutuhkan ke dalam lembar
pengamatan yang tersedia.

Apabila diperkirakan mengandung ion-ion pengganggu maka buffer yang


digunakan sebanyak 4 ml , tambahkan 30 mg hidroksilamonium klorida
dan 50 mg kalsium sianida pro analisis. Setelah diketahui volume titrasi
maka data dimasukkan dalam rumus :
Kesadahan Total

M1 x V1

= MEDTA x VEDTA

Keterangan;
M1

= Molaritas Kesadahan total

V1

= Volume Sampel air

M EDTA

= Molaritas EDTA

V EDTA

= Volume Titrasi

b. Metode Pengukuran TDS


1) Sampel dimasukan kedalam alat flokkulator selama 2 menit agar
merata
2) Kemudian sampel yang sudah diaduk masukkan dalam cuvet
sesuai tanda batas.
3) Kuvet masukan pada alat Spektro Quick dan langsung dibaca
hasilnya.
c. Metode Pengukuran MPN Coliform
Pemeriksaan kuman golongan koli (Coliform) dapat dilakukan
dengan cara the multiple tube fermentation technique yang meliputi
dua tahap pemeriksaan yaitu:
1) Presumtive test/tes perkiraan

Presumtive test didasarkan atas kenyataan bahwa bakteri


Coliform dapat meragikan laktosa dengan membentuk gas.
Kedalam tabung laktosa yang didalamnya terdapat medium laktosa
dan tabung Durham yang terbalik, dituang contoh air yang akan
diperiksa. Kemudian dieramkan selama 2 x 24 jam pada
temperatur 350C-370C. Jika dalam waktu 2 x 24 jam terbentung gas
dalam tabung Durham, maka presumtive test dinyatakan positif
yang berarti air yang diperiksa tersebut mengandung Coliform.
Sebaliknya jika tidak terbentu gas dinyatakan presumtive test
negatif berarti air yang diperiksa tidak mengandung bakteri
Coliform. Jika terjadi presumtive test positif, maka dilanjutkan
dengan confirmed test untuk memastikan adanya Coliform di dalam
contoh air tersebut.
Prosedur pemeriksaan Presumtive test adalah sebagai
berikut:
a) 7 tabung bila digunakan porsi 5x10ml, 1x1ml, 1x0,1ml
b) 15 tabung bila digunakan porsi 5x10ml, 5x1ml, 5x0,1ml
c) Dengan pipet steril, sampel yang sudah dicampur rata
dimasukan secara aseptis ke dalam tabung media
d) Tabung-tabung dalam rak digoyang supaya sampel dan media
bercampur rata

e) Dieramkan pada temperatur 350C0,50C selama jangka waktu


24 jam, gas yang terbentuk dalam tabung diamati. Tabung yang
mengandung gas dilajutkan dengan uji penegasan.
2) Confirmed test/tes penegasan
a) Sampel yang mengandung gas baik dalam jangka waktu 24 jam
maupun dalam jangka waktu 48 jam dilanjutkan dengan
pengujian penegasan/confirmed test. Dimana jumlah tabung
yang menghasilkan gas dalam pengujian tes perkiraan
b) Dari masing-masing tabung yang menghasilkan gas pada
pengujian perkiraan, diambil sampel sebanyak 1-2 ose steril.
c) Sampel ini kemudian dimasukan kedalam tabung reaksi yang
sudah berisi media Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB),
kemudian dieramkan pada temperatur 350C0,50C selama 24
jam
d) Diamati gas yang berada dalam tabung durham, tabung yang
mengandung gas dicatat sebagai sampel yang mengandung
bakteri golongan Coliform. Tabung yang tidak menghasilkan
gas dilanjutkan lagi pengamatan selama 24 jam
e) Bila ternyata dalam waktu 2x24 jam tidak berbentuk gas, maka
pengujian penegasan dinyatak negatif.

F. Analisa Data
Data hasil penelitian akan dianalisis dengan uji Anova untuk melihat
efektifitas model sarana pengolahan terhadap peningkatan kualitas air sumur
gali (penurunan Kadar kesadahan, TDS, dan Bakteriologi)

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Wilayah Penelitian
1. Keadaan Geografis
Kelurahan Ambeua merupakan salah satu dari Kelurahan di
Kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi yang terdiri dari 9 kelurahan dan
desa yaitu Desa Laolua, Desa Horuo, Desa Tampara, Desa Kasuari, Desa
Ollo, Desa Taman Ria, Kelurahan Buranga, Kelurahan Lagi Jaya dan
Kelurahan Ambeua yang merupakan lokasi penelitian. Data dari BPS
Wakatobi (2008) menyebutkan bahwa Luas wilayah Kelurahan Ambeua
adalah 1,81 km2 atau 18,1 ha,

dengan batas-batas wilayahnya adalah

sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Kaledupa
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tampara
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Laolua
d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Lagi Jaya
Kelurahan Ambeua merupakan dataran rendah dengan ketinggian
tanah 0,5 - 3 meter dari permukaan laut, curah hujan 324 mm/tahun,
temperatur 36,8 oC dan keadaan topografi pada dasarnya bervariasi antara
datar dan sedikit rawa dan sebagian pesisir pantai. Kondisi tanah di

Kelurahan Ambeua terdiri dari tanah liat bercampur pasir, diperkirakan jenis
Calsit.
2. Demografi
Penduduk Kelurahan Ambeua pada tahun 2008 sebesar 1.131 KK
dengan jumlah penduduk sebesar 5.038 jiwa, (BPS Wakatobi,2008). Pada
umumnya mata pencaharian penduduk adalah nelayan (66%), Petani (18%),
Pegawai Negri (10%) dan disektor pariwisata (6%).

B. Diagram Alur Penelitian

AIR
SUMUR GALI
DOSIS BIJI KELOR
1 gram/l
3 gram/l
5 gram/l

BAK PENCAMPURAN
BIJI KELOR

BAK PENGENDAPAN
WAKTU KONTAK
15 MENIT

BAK PENGENDAPAN
WAKTU KONTAK
30 MENIT

300 gram
Zeolit

500 gram
Zeolit

ANALISIS
LABORATORIUM

BAK PENGENDAPAN
WAKTU KONTAK
60 MENIT

1000 gram
Zeolit

Gambar Diagram Alur Penelitian


C. Hasil Penelitian
1. Karakteristik air sumur Gali
Air sumur gali dalam penelitian ini adalah air sumur kelurahan Ambeua
Kabupaten Wakatobi. Air sumur tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk
minum, masak, mandi dan mencuci.
Kualitas air sumur gali sebelum diolah berdasarkan hasil analisa di
laboratorium dan dibandingkan dengan baku mutu yang diatur dalam
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.416/MENKES/PER/IX/1990, tentang baku mutu kualitas air bersih yaitu


kesadahan (CaCO3), TDS dan Bakteriologi belum memenuhi persyaratan
batas maksimum yang diperbolehkan.
Hasil uji kualitas air yang dilakukan pada sumur gali yang terdapat di
kelurahan Ambeua menunjukkan bahwa dari semua sumur yang diuji tidak
ada yang memenuhi standar baku mutu sesuai dengan Kepmen No.
416/MENKES/PER/1990,
Bakteriologi.

khusunya

parameter

Kesadahan,

TDS

dan

Hasil uji kualitas Air sumur yang terdapat pada kelurahan Ambeua
yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Kendari dapat dilihat pada tabel 4
berikut ;

Tabel 4 ; Hasil Uji Kualitas Air Sumur Gali


PARAMETER UJI
NO

Sampel

pH

Kesadahan
(mg/l)

TDS
(mg/l)

Total Coli
(MPN/100ml)

Sumur 1

9,6

12.000

5.640

49

Sumur 2

9,2

11.500

5.650

38

Sumur 3

9,2

13.000

4.300

45

Sumur 4

12.800

5.200

37

Sumur 5

8,9

12.500

4.800

42

Sumur 6

8,7

12.300

4.600

27

Sumur 7

9,1

12.900

5.300

48

Rata-rata

9,12

12.429

5070

36

Sumber : Data Primer


Dari hasil uji diatas dapat dinyatakan bahwa dari tujuh sumur yang
diuji untuk parameter Kesadahan, TDS dan Bakteriologi tidak ada yang
memenuhi

persayaratan

sesuai

PERMENKES

No.416/MENKES/PER/IX/1990 tentang baku mutu kualiatas air sumur gali.


Rata-rata konsentrasi pH sumur gali adalah 9,12 sedangkan pH yang sesuai
standar Permenkes No.416 adalah 6-5 - 8,5;

Rata-rata konsentrasi

Kesadahan air sumur gali adalah 12.429 sedangkan baku mutu kesadahan
sesuai Permenkes No.416 adalah 500 mg/l; Rata-rata konsentrasi TDS air
sumur gali adalah 5.070 mg/l sedangkan baku mutu TDS sesuai Permenkes
No.416 adalah 1000 mg/l; Rata-rata jumlah total coli air sumur gali adalah 36
MPN/100ml sedangkan baku mutu jumlah total coli sesuai Permenkes
No.416 adalah 0 MPN/100ml.

2. Analisis Univariat
Hasil analisis Univariat pada sampel air sumur gali terhadap
penurunan parameter kualitas air sumur gali sebelum dan sesudah
mengalami variasi pengolahan :
Tabel 5

Zeolit

; Matriks Perlakuan Variasi Zeolit, Biji Kelor dan Waktu


Kontak Terhadap Rata-rata Kesadahan

15 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

KESADAHAN (mg/l)
30 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

60 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

300 gr

3785

3645

3615

3735

3660

3655

3415

3250

3020

500 gr

1870

1810

1520

1620

1655

1625

1425

1425

1425

1000 gr

318,5

417

418

411,5

315

310

316,5

290

286,5

Sumber : Data Primer, (Rata-rata konsentrasi Kesadahan sebelum


mengalami pengolahan adalah 12.900 mg/l)

Dari data hasil penelitian pada tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa ratarata penurunan kesadahan yang paling tinggi yaitu pada perlakuan dengan
menggunakan zeolit 1000 gram.

Semakin banyak zeolit yang digunakan

pada proses pengolahan, semakin besar pula penurunan kandungan


kesadahan air sumur gali.

Tabel 6

; Matriks Perlakuan Variasi Zeolit, Biji Kelor dan Waktu


Kontak Terhadap Rata-rata TDS

15 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

TDS (mg/l)
30 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

60 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

300 gr

4280

3815

1975

3735

2132

1415

3735

2130

1050

500 gr

4025

3525

1935

3825

1995

1090

3805

2090

930

1000 gr

3945

3200

1865

3910

1995

930

3910

1945

735

Zeolit

Sumber : Data Primer (Rata-rata konsentrasi TDS sebelum mengalami


pengolahan adalah 5.300 mg/l)

Dari data hasil penelitian pada tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa ratarata penurunan TDS yang paling tinggi yaitu pada perlakuan dengan
menggunakan dosis biji kelor 5 gram/l dan waktu kontak 60 menit yaitu 735
mg/l. Semakin tinggi dosis biji kelor dan semakan lama waktu kontak yang
digunakan pada proses pengolahan, semakin besar pula penurunan
kandungan TDS air sumur gali.

Tabel 7

; Matriks Perlakuan Variasi Zeolit, Biji Kelor dan Waktu


Kontak Terhadap Rata-rata Bakteriologi (MPN/100ml)

Bakteriologi (MPN/100 ml)


30 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

Zeolit

15 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

300 gr

24,5

18

12

18

4,5

0,5

18

4,5

0,5

500 gr

25

16,5

10,5

16,5

4,5

0,5

16,5

4,5

0,5

1000 gr

23

16

10

16

2,5

0,5

16

2,5

60 menit
Dosis Biji Kelor
1 g/l
3 g/l
5 g/l

Sumber : Data Primer, (Rata-rata Jumlah total coli sebelum mengalami


pengolahan adalah 48 MPN/100 ml)

Dari data hasil penelitian pada tabel 7 diatas dapat dilihat bahwa ratarata penurunan Bakteriologi yang paling tinggi yaitu pada perlakuan dengan
menggunakan dosis biji kelor 5 gram/l dan waktu kontak 60 menit yaitu 0
MPN/100ml. Semakin tinggi dosis biji kelor yang digunakan pada proses
pengolahan, semakin besar pula penurunan kandungan Bakteriologi air
sumur gali.

3. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat

hubungan variabel bebas

terhadap variabel terikat dengan uji statistik dengan menggunakan One-way


Anova. Hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut :
a. Pengaruh Variasi Zeoilit terhadap Kesadahan
Tabel 8 ; Pengaruh Variasi Dosis Zeolit Terhadap Konsentrasi rata-rata
Kadar Kesadahan Sampel air Sumur Gali

Persentase
Penurunan

Perlakuan Zeolit

SD

Kesadahan
(mg/l)

Sebelum
perlakuan

18

77,23

12.973

0%

Perlakuan
300 gram Zeolit

18

247,17

3.528

72,80%

Perlakuan
500 gram Zeolit

18

162,87

1.597

87,68%

18

54,22

343

97,35 %

Perlakuan
1000 gram Zeolit
Sumber : Data Primer

Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa kadar kesadahan sampel air sumur
gali dengan perlakuan 300 gram zeolit mengalami penurunan 72,80 %, kadar
kesadahan sampel air sumur gali dengan perlakuan 500 gram zeolit
mengalami penurunan 87,68 %, kadar kesadahan sampel air sumur gali
dengan perlakuan 1000 gram zeolit mengalami penurunan 97,35 %,
Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara dosis zeolit
dan Kesadahan

b. Pengaruh Variasi Biji Kelor terhadap Kesadahan


Tabel 9 ; Pengaruh Variasi Dosis Biji Kelor Terhadap Konsentrasi ratarata Kadar Kesadahan Sampel Air Sumur Gali

SD

Kesadahan
(mg/l)

Persentase
Penurunan

18

77,23

12.973

0%

Perlakuan
Dosis 1 gram/l

18

1399,30

1875

85,54 %

Perlakuan
Dosis 3 gram/l

18

1352,20

1830

85,89 %

Perlakuan
Dosis 5 gram/l

18

1323,38

1764

86,40 %

Perlakuan
Dosis Biji Kelor
Sebelum perlakuan

Sumber : Data Primer

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa kadar kesadahan sampel air sumur
gali dengan perlakuan 1 gram/l biji kelor mengalami penurunan 85,54 %,
kadar kesadahan sampel air sumur gali dengan perlakuan 3 gram/l biji kelor
mengalami penurunan 85,89 %, kadar kesadahan sampel air sumur gali
dengan perlakuan 5 gram/l biji kelor mengalami penurunan 86,40 %,
Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara dosis biji kelor
dan Kesadahan

c. Pengaruh Variasi Waktu Kontak terhadap Kesadahan

Tabel 10 ; Pengaruh Waktu kontak Terhadap Konsentrasi rata-rata Kadar


Kesadahan Sampel Air Sumur Gali

Perlakuan Waktu
Sebelum perlakuan
Perlakuan 15 menit
Perlakuan 30 menit
Perlakuan 60 menit

SD

Kesadahan
(mg/l)

Persentase
Penurunan

18

77,32

12973

0%

18

1391,30

1929

85,13 %

18

1414,96

1887

85,45 %

18

1248,04

1651

87,27 %

Sumber : Data

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa kadar kesadahan sampel air sumur
gali dengan waktu kontak 15 menit mengalami penurunan

85,13

%, kadar kesadahan sampel air sumur gali dengan waktu kontak 30 menit
mengalami penurunan 85,45 %, kadar kesadahan sampel air sumur gali
dengan waktu kontak 60 menit mengalami penurunan

87,27 %

Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh


nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara variasi waktu
kontak dan Kesadahan
d. Pengaruh Variasi Zeolit Kontak terhadap TDS
Tabel 11 ; Pengaruh Variasi Dosis Zeolit Terhadap Konsentrasi rata-rata
Kadar TDS Sampel Air Sumur Gali

Perlakuan Zeolit

SD

TDS (mg/l)

Persentase
Penurunan

Sebelum
perlakuan

18

45,90

5646

0%

Perlakuan
300 gram Zeolit

18

1156,33

2702

52,14 %

Perlakuan
500 gram Zeolit

18

1235,39

2637

53,29 %

Perlakuan
1000 gram Zeolit

18

1241,71

2493

55,84 %

Sumber : Data Primer

Dari tabel 11 dapat dilihat bahwa kadar TDS sampel air sumur gali
dengan perlakuan 300 gram zeolit mengalami penurunan 52,14 %, kadar
TDS sampel air sumur gali dengan perlakuan 500 gram zeolit mengalami
penurunan 53,29 %, kadar TDS sampel air sumur gali dengan perlakuan
1000 gram zeolit mengalami penurunan 55,84 %,
Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara dosis zeolit
dan TDS

e. Pengaruh Variasi Biji Kelor terhadap TDS


Tabel 12; Pengaruh Variasi Dosis Biji Kelor Terhadap Konsentrasi ratarata Kadar TDS Sampel Air Sumur Gali
N

SD

TDS (mg/l)

Persentase
Penurunan

18

45,90

5646

0%

Perlakuan
Dosis 1 gram/l

18

163,78

3945

30,12 %

Perlakuan
Dosis 3 gram/l

18

720,67

2548

54,87 %

Perlakuan
Dosis 5 gram/l

18

478,61

1329

76,46 %

Perlakuan
Dosis Biji Kelor
Sebelum perlakuan

Sumber : Data Primer

Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa kadar TDS sampel air sumur gali
dengan perlakuan 1 gram/l biji kelor mengalami penurunan 30,12 %, kadar
TDS sampel air sumur gali dengan perlakuan 3 gram/l biji kelor mengalami
penurunan 54,87 %, kadar TDS sampel air sumur gali dengan perlakuan 5
gram/l biji kelor mengalami penurunan 76,46 %,
Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara dosis biji kelor
dan TDS

f.

Pengaruh Variasi Waktu Kontak terhadap TDS

Tabel 13 ; Pengaruh Variasi Waktu Kontak Terhadap Konsentrasi ratarata Kadar TDS Sampel Air Sumur Gali

Perlakuan
Waktu Kontak
Sebelum perlakuan
Perlakuan 15 menit
Perlakuan 30 menit
Perlakuan 60 menit

SD

TDS
(mg/l)

Persentase
Penurunan

18

45,90

5646

0%

18

950,41

3178

43,71 %

18

1181,93

2379

57,86 %

18

1270,24

2284

59,54 %

Sumber : Data Primer

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa kadar TDS sampel air sumur gali
dengan waktu kontak 15 menit mengalami penurunan 43,71 %, kadar TDS
sampel air sumur gali dengan waktu kontak 30 menit mengalami penurunan
57,86 %, kadar kesadahan sampel air sumur gali dengan waktu kontak 60
menit mengalami penurunan 59,54 %
Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara variasi waktu
kontak dan TDS

g. Pengaruh Variasi Zeolit terhadap Total Coli


Tabel 14; Pengaruh Variasi Dosis Zeolit Terhadap Konsentrasi rata-rata
Jumlah Total Coli Air Sumur Gali

Dosis Zeolit
Sebelum perlakuan
300 gram Zeolit
500 gram Zeolit
1000 gram Zeolit

SD

Jumlah
Total Coli
(MPN/100ml)

Persentase
Penurunan

18

1,68

46,8

0%

18

8,65

11,2

72,95 %

18

8,37

10,6

77,95 %

18

8,25

9,6

83,76 %

Sumber : Data Primer

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa Jumlah total Coli sampel air sumur
gali dengan perlakuan 300 gram zeolit mengalami penurunan sebesar 72,95
%, jumlah total coli sampel air sumur gali dengan perlakuan 500 gram zeolit
mengalami penurunan 77,95 %, jumlah total coli sampel air sumur gali
dengan perlakuan 1000 gram zeolit mengalami penurunan 83,76 %,
Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik

tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara dosis zeolit


dan jumlah total coli.

h. Pengaruh Variasi Biji Kelor terhadap Total Coli


Tabel 15; Pengaruh Variasi Dosis Biji Kelor Terhadap Konsentrasi ratarata Jumlah Total Coli Sampel Air Sumur Gali

SD

Jumlah
Total Coli
(MPN/100ml)

Persentase
Penurunan

18

1,68

48,8

0%

Perlakuan
Dosis 1 gram/l

18

3,67

19,3

60,45 %

Perlakuan
Dosis 3 gram/l

18

6,42

8,2

83,19 %

Perlakuan
Dosis 5 gram/l

18

5,09

3,9

92,00 %

Perlakuan Biji Kelor


Sebelum perlakuan

Sumber : Data Primer

Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa jumlah total coli sampel air sumur
gali dengan perlakuan 1 gram/l biji kelor mengalami penurunan 60,45 %,
jumlah total coli sampel air sumur gali dengan perlakuan 3 gram/l biji kelor

mengalami penurunan 83,19 %,

jumlah total coli sampel air sumur gali

dengan perlakuan 5 gram/l biji kelor mengalami penurunan 92 %,


Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara dosis biji kelor
dan jumlah total coli

i.

Pengaruh Variasi Waktu Kontak terhadap Kesadahan

Tabel 16; Pengaruh Variasi Waktu Kontak Terhadap Konsentrasi ratarata Total Coli Sampel Air Sumur Gali
Perlakuan Waktu
Kontak
Sebelum perlakuan
Perlakuan 15 menit
Perlakuan 30 menit
Perlakuan 60 menit

SD

Jumlah
Total Coli
(MPN/100ml)

Persentase
Penurunan

18

1,68

48,8

0%

18

5,68

17,3

64,54 %

18

7,32

7,1

85,45 %

18

7,37

85,65 %

Sumber : Data Primer

Dari tabel 16 dapat dilihat bahwa jumlah total coli sampel air sumur
gali dengan waktu kontak 15 menit

mengalami penurunan 64,54 %, total

coli sampel air sumur gali dengan waktu kontak 30 menit

mengalami

penurunan 85,45 %, kadar kesadahan sampel air sumur gali dengan waktu
kontak 60 menit mengalami penurunan 85,65 %
Hasil uji statistik dengan menggunakan One-way Annova diperoleh
nilai p = 0,000 dan berdasarkan tingkat kemaknaan p<0,05, hasil uji statistik
tersebut menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara variasi waktu
kontak dan TDS

4.

Analisis Multivariat
Analisis

Mulitivariat

dilakukan

terhadap

variabel

terikat

yang

berkorelasi secara bermakna pada uji bivariat terhadap variabel bebas.


Analisis multivariat dengan regresi linear dilakukan untuk mengetahui
variabel mana yang sangat berpengaruh terhadap variabel bebas . Hasil
analisis dengan regresi linear dengan metode enter diperlihatkan pada tabel
berikut :
Tabel 17 ; Hasil Analisis Regresi Linear terhadap Variabel yang
mempengaruhi Kesadahan Air Sumur Gali
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Std. Error

(Constant)

11940,210

317,754

Waktu

-1172,040

206,186

Standardized
Coefficients
Beta
-,264

Sig.

Std. Error

37,577

,000

-5,684

,000

Zeolit

-2626,013

206,186

-,592

-12,736

,000

biji kelor

-1088,513

206,186

-,245

-5,279

,000

Sumber : Data Primer

Dari tabel 17 diatas dapat dilihat bahwa hasil analisis regresi linear
nilai beta dari variabe waktu adalah -0,264, nilai beta dari zeolit adalah

0,592 dan nilai beta dari biji kelor adalah -0,245. Dari hasil analisis statistik
model regresi linear ini dapat disimpulkan bahwa yang paling berpengaruh
terhadap penurunan kadar kesadahan sampel air sumur gali adalah variabel
yang mempunyai nilai beta paling Tinggi yaitu zeolit.

Tabel 18 ; Hasil Analisis Regresi Linear terhadap Variabel yang


mempengaruhi TDS Air Sumur Gali
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Std. Error

Standardized
Coefficients

Sig.

Beta

Std. Error

(Constant)

5740,619

69,818

Waktu

-352,631

45,304

-,237

-10,104

45,304

-1217,992

45,304

Zeolit
biji kelor

82,222

,000

-7,784

,000

-,007

-,223

,824

-,818

-26,885

,000

a Dependent Variable: tds

Dari tabel 18 diatas dapat dilihat bahwa hasil analisis regresi linear
nilai beta dari variabe waktu adalah -0,237, nilai beta dari zeolit adalah

0,007 dan nilai beta dari biji kelor adalah -0,818. Dari hasil analisis statistik

model regresi linear ini dapat disimpulkan bahwa yang paling berpengaruh
terhadap penurunan kadar TDS sampel air sumur gali adalah variabel yang
mempunyai nilai beta paling Tinggi yaitu biji kelor

Tabel 19 ; Hasil Analisis Regresi Linear terhadap Variabel yang


mempengaruhi Bakteriologi (Total Coli) Air Sumur Gali
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Std. Error

Standardized
Coefficients

Sig.

Beta

Std. Error

(Constant)

45,583

,750

60,814

,000

Waktu

-6,389

,486

-,413

-13,136

,000

Zeolit

-2,028

,486

-,131

-4,169

,000

-8,944
a Dependent Variable: bakteriologi

,486

-,578

-18,390

,000

biji kelor

Dari tabel 19 diatas dapat dilihat bahwa hasil analisis regresi linear
nilai beta dari variabe waktu adalah -0,413, nilai beta dari zeolit adalah

0,131 dan nilai beta dari biji kelor adalah -0,578. Dari hasil analisis statistik
model regresi linear ini dapat disimpulkan bahwa yang paling berpengaruh
terhadap penurunan kadar Bakteriologi (Total Coli) sampel air sumur gali
adalah variabel yang mempunyai nilai beta paling rendah yaitu biji kelor

A. Pembahasan
1. Kesadahan
Kesadahan (hardnes) adalah gambaran kation logam divalent.
Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan

maupun dengan anion-anion yang terdapat dalam air membentuk endapan


atau karat peralatan logam (Effendi, 2003).
Zat-zat atau bahan kimia yang terkandung di dalam air misalnya Ca,
Mg,CaCO3 yang melebihi standart kualitas tidak baik untuk dikonsumsi
oleh orang dengan fungsi ginjal yang kurang baik, karena akan
menyebabkan pembentukkan batu pada saluran kencing.

Kebiasaan

minum juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi pembentukan


batu saluran kencing. Orang yang banyak mengkonsumsi air dengan
kandungan kapur tinggi akan menjadi predisposisi pembentukan batu
saluran kencing, maka air yang digunakan manusia tidak boleh lebih dari
500 mg/I CaCO3.

Hasil penelitian

yang dilakukan oleh Ritaharyanti

(2006) menunjukkan ada hubungan bermakna antara kualitas kesadahan


total air sumur dengan penyakit batu saluran kencing (p=0,001) dengan
OR sebesar 34.
Kesadahan (CaCO3) yang terdapat pada air sumur gali kelurahan
Ambeua mengalami penurunan setelah mengalami proses pengolahan.
Rata-rata konsentrasi kesadahan air sumur gali sebelum mengalami
pengolahan adalah 13.000 mg/l dan rata-rata kesadahan air sumur gali
setelah pengolahan adalah 348 mg/l.
Pada Proses pengolahan air sumur gali sederhana ini, pelunakan
air sumur gali menggunakan prinsip pertukaran

ion. Bahan yang

digunakan dalam proses ini adalah zeolit yang dimasukkan kedalam suatu
kolom dimana air sadah dialirkan melalui senyawa/kolom tersebut.
Zeolit adalah silikat hidrat yang mengandung ion-ion natrium dalam
jumlah yang cukup banyak, berbentuk granular dan tidak larut dalam air.
Air sadah yang dilirkan melalui kolom zeloit akan mengalami pertukaran
ion-ion, yaitu Ca dan Mg dalam air dengan ion Na dalam zeolit dengan
reaksi sebagai berikut:
Ca(HCO3)2 + Na2-Ze

Ca-Ze + 2 NaHCO3

MgCl2 + Na2-Ze

Mg-Ze + 2 NaCl

Hal tersebut berlangsung terus menerus sampai pada saat kolom


zeloit menjadi jenuh, tidak mampu lagi melakukan pertukaran ion-ion. Agar
zeloit dapat aktif lagi. Zeloit perlu diregenerasi atau dengan direndam dlam
larutan garam dapur, sehingga terjadi pertukaran ion-ion natrium dalam air
yang masuk keda;lam zeloit untuk mengganti kedudukan ion Mg dan Ca.
Hasil uji statistik multivariat dengan menggunakan analisis regresi
linear ditemukan bahwa variabel yang paling paling berhubungan dengan
penurunan kesadahan adalah Zeolit dengan nilai beta -0,592.
Dengan mengunakan Zeolit dengan dosis 1000 gram kesadahan air
mampu diturunkan dari 12.973 mg/l menjadi 343 mg/l atau dengan kata
lain mengalami penurunan 97,35 %.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Atastina,dkk . Zeolit dengan unggun 5 cm mampu mengadsorbsi hingga

500 ppm, zeolit dengan unggun 10 cm mampu mengadsorbsi hingga 200


ppm. Zeolit dengan unggun 5 cm mengadsorbsi sebesar 10,83 mg ion
Ca/gr zeolit. Untuk zeolit 10 cm mampu mengadsorbsi Ca sebesar 6,25
mg ion Ca/gr zeolit, dan untuk zeolit dengan panjang 15 cm mampu
mengadsorsi sebesar 3,61 mg Ca/gr zeolit. Atastina juga mengatakan
bahwa Kapasitas adsorbs tergantung panjang jumlah massa zeolit dan
temperatur adsorbs. Zeolit dengan unggun 5 cm(300gr) dan zeolit dengan
unggun 15 cm (900gr) walau pada awal reaksi unggun zeolit mampu
mengadsorbsi sampai 200 ppm (Atastina, dkk,2007).
Hasil

penelitian

yang

dilakukan

oleh

Ismadi

(2006)

juga

menjelaskan bahwa Hasil penelitian didapatkan kesadahan Ca disaring


dengan batuan zeolit mengalami penurunan dari 71,8 mg/l menjadi 48 mg/l
dan kesadahan Mg dari 92,08 turun menjadi 24,1 mg/l dengan nilai p<0,05.

2. Total Dissolved Solid (TDS)


Pada dasarnya jumlah padatan yang terdiri dari molekul-molekul,
partikel-partikel atau bahan alam yang terlarut dalam sejumlah air. Batas
maksimal TDS maksimal yang diperbolehkan dalam air air bersih menurut
Permenkes No.416/MENKES/PER/IX/1990 adalah 1000mg/l.

Hasil uji

Laboratorium pada semua sampel air sumur gali di wilayah kelurahan


Ambeua Kabupaten Wakotobi untuk parameter TDS tidak ada yang
memenuhi syarat.

Rata-rata kandungan TDS pada sumur gali diwilayah

tersebut sebelum mengalami pengolahan adalah 5.646 mg/l dan setelah


mengalami pengolahan adalah 2636 mg/l.
Hasil uji statistik multivariat dengan menggunakan analisis regresi
linear ditemukan bahwa variabel yang paling paling berhubungan dengan
penurunan TDS adalah biji kelor dengan nilai beta -0,818.

Penurunan

kandungan TDS tertinggi adalah dengan perlakuan dosis biji kelor 5gram/l
dengan kandungan TDS setelah perlakuan 1.329 mg/l atau turun sebesar 76
% dari nilai kandungan rata-rata TDS sampel sumur gali sebelum
pengolahan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh suyitno (2006) menunjukkan
bahwa biji kelor dengan nama lain Morngana Oleifera, terbukti mempunyai
efektifitas sebagai koagulan alami dalam proses penjernihan air sederhana.
Dari percobaan menggunakan perlakuan 1 biji kelor/500 cc air baku, 2 biji
kelor/500 cc air baku, 3 biji kelor/500 cc air baku ternyata yang paling baik
adalah yang menggunakan 3 biji kelor/500 cc air baku atau 6 biji kelor/liter air
baku dengan penurunan TDS sebesar 78%.
Hasil penelitian lain yang juga memanfaatkan biji kelor dilakukan
Noeroel Widayati, M.Kes ini dengan bahan baku air sungai Brantas yang
kekeruhannya mencapai 75 NTU. Batas minimum kekeruhan air bersih yang
diperbolehkan adalah 25 NTU (Permenkes RI No.416/Menkes/Per/IX/1990).
Jumlah biji kelor yang dipakai sebagai pengolah sebanyak 2, 4, dan 6 biji
kelor untuk satu liter air. Hasilnya dalam waktu tiga jam untuk 2 biji kelor

terjadi penurunan kekeruhan menjadi 1,664 NTU (97,78%), untuk 4 biji kelor
menjadi 8,34 NTU (88,88%), dan untuk 6 biji kelor menjadi 6,94 NTU
(90,75%).

3. Bakteriologi (Total coli)


Hasil uji laboratorium pada sumur gali dikelurahan Ambeua untuk
parameter bakteriologi (total coli) didapatkan bahwa semua sumur sumur
tidak

memenuhi

syarat

sesuai

No.416/MENKES/PER/IX/1990.

yang

ditetapkan

oleh

Permenkes

Rata-rata kandungan total coli sumur gali

dilokasi penelitian adalah 48 MPN/100ml sedangkan jumlah total coli yang


dipersyaratkan adalah 0 MPN/100ml. Hasil observasi yang dilakukan oleh
peneliti menemukan bahwa dari semua sumur yang terdapat di wilayah
Kelurahan Ambeua tidak ada yang memenuhi syarat minimal 10 meter dari
pemukiman penduduk.
Hasil uji statistik multivariat dengan menggunakan analisis regresi
linear ditemukan bahwa variabel yang paling paling berhubungan dengan
penurunan jumlah total coli adalah biji kelor dengan nilai beta -0,578.
Penurunan total coli tertinggi adalah dengan perlakuan dosis biji kelor 5gram/l
dengan kandungan total coli setelah perlakuan

0 MPN/100ml.

Biji kelor, selain dijadikan sebagai koagulan alami juga digunakan


untuk mereduksi bakteri coli bila terdapat dalam air bersih.

Lud waluyo

(2005) menjelaskan bahwa biji kelor selain dijadikan sebagai koagulan pada

proses penjernihan air juga dapat dijadikan sebagai disinfektan alami karena
sifatnya yang mampu mereduksi atau membunuh bakteri patogen jika
terdapat dalam air bersih
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putu
Suyadnya, M.Kes . Hasil penelitian tersebut untuk 4 biji kelor mampu
menurunkan total Coliform menjadi 913,40/100ml air (34,71%), untuk 6 biji
kelor total Coliform turun menjadi 536,30/100ml air (61,66%), dan untum 8 biji
kelor total Coliform turun menjadi 384,60/100ml air (72,51%).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1.

Model pengolahan air sebagian (partial treatment proses) mampu


meningkatkan kualiatas air sumur gali pada wilayah kelurahan
Ambeua kabupaten Wakatobi sehingga memenuhi persyaratan yang
dipersyaratkan

oleh

Permenkes

No.416/MENKES/PER/IX/1990

khususnya untuk parameter Kesadahan, TDS dan Total Coli.


2.

Pada perlakuan dengan menggunakan dosis zeolit 1000 gram


memberikan hasil yang maksimal yaitu mampu menurunkan
Kesadahan air sumur gali hingga 285 mg/l.

3.

Pada perlakuan dengan menggunakan dosis biji kelor

5 gram/l

memberikan hasil yang maksimal yaitu mampu menurunkan TDS air


sumur gali hingga 285 mg/l dan menurunkan total Coli sampel sumur
gali hingga 0 MPN/100ml
4.

Variasi waktu kontak pada dasarnya hanya memberikan pengaruh


terhadap TDS dan bakteriologi. Semakin lama waktu kontak maka
semakin besar penurunan kadar TDS dan Total Coli sampel air
sumur gali.

5.

Dari Hasil Penelitian ini disimpulkan bahwa

yang paling baik

digunakan untuk meningkatkan kualitas air sumur gali masyarakat

diwilayah kelurahan Ambeua kecamatan kaledupa Kabupaten


Wakatobi khusunya untuk parameter Kesadahan, Total Coli, dan
TDS adalah dengan mengunakan biji kelor dengan dosis 5 g/l, Zeolit
1000 gram dengan waktu kontak 30 menit

B. SARAN
1. Hasil uji laboratorium untuk kualitas air sumur gali di wilayah
Kelurahan Ambeua tidak memenuhi syarat yang dipersyaratkan oleh
Permenkes

No.416/MENKES/PER/IX/1990

khususnya

untuk

parameter Kesadahan, TDS dan Total Coli, untuk itu disarankan


perlunya pengolahan air sumur gali sebelum dikonsumsi oleh
masyarakat.
2. Untuk

Pemerintah

Kabupaten

Wakatobi

kami

selaku

penulis

menyarankan agar segera membangun sebuah pengolahan air bersih


lengkap yang dikelola oleh pemeritah agar kualitas air minum yang
dikonsumsi oleh masyarakat khususnya diwilayah Pemerintahan
Kabupaten

Wakatobi

sesuai

dengan

syarat

yang

ditetapkan

Permenkes No.416
3. Peneliti sangatlah menyadari bahwa karena keterbatasan penelitian
menyebabkan tesis ini masih dapat dikembangkan dengan lebih baik.
Untuk itu peneliti sangat mengharapkan kepada peneliti selanjutnya
untuk melanjutkan penelitian ini dengan tujuan melihat efektifitas dari

model sarana pengolahan air sumur gali dengan karakteristik air


sumur gali yang berbeda-beda.

Daftar Pustaka

Anonim, Kesadahan (Hardness),. (Online). , http://www.o-pish.com,


diakses tanggal 15 Januari 2009.
________,Moringa oleifera, (www.prn2.usm.my/mainsite/plant/moringa)
________Biji Kelor (Moringa Olifera).Wikipedia,Appropriate Technology,
(http://en.wikipedia.org/wiki/Appropriate_technology)
Alerts G, Sumestri.S.S, 1984, Metode Penelitian Air, Usaha Nasional,
Surabaya
Achmad Rukaesih., 2004, Kimia Lingkungan, Andi Press, Yogyakarta
Daud Anwar, 2005, Aspek Kesehatan Penyediaan Air, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Makassar
Departemen Kesehatan RI, 1990, Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.416/MenKes/Per/IX/1990. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta
Effendi Hefni., 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengolahan Sumber
Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta
Fardiaz S, 1992, Polusi Air dan Udara, Kanisius, Yogyakarta
FG

Winarno,
Biji
Kelor
Untuk
Bersihkan
Air
Sungai,
Kompas,(www.ampl.or.id/wawasan/wawasan-isi-pustaka.php)

Hadi, Anwar., 2005, Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel


Lingkungan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Hamidah, laily noer, 2006. Uji Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Biji Kelor
(moringa Oleifera, Lam.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Staphylococus aureus. Thesis., Institut Teknologi Surabaya
(www.its.co.id/digital/library/theses)
Iptek Apji, Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera)
(www.iptek.apjii.or.id/pengelolaan/penjernihan_air)

Ipteknet, 2005, TANAMAN OBAT INDONESIA, Kelor (Moringa oleifera,


Lamk.), (www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat)
Mukono., 2000, Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Airlangga
University Press, Surabaya
Notoatmojo S., 2000.
Jakarta
Rasman,

Metode Penelitian Kesehatan. Rineke Cipta,

2008, Pemanfaatan Abu Merang Dalam Menurunkan


Kesadahan Air Sumur Gali, Sulolipu Jurnal, Makassar

Ronny Muntu, 2003, Air dan Kesehatan, DepKes RI, Politeknik


Kesehatan Jurusan Kesehatan Lingkungan, Makassar
PUSKIM, Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan Biji Kelor dan Pohon
Kelor (www.kimpraswil.go.id/balitbang/puskim/protek)
PUSKIM,

Teknologi Pasangan Bata - Teknologi


(www.kimpraswil.go.id/balitbang/puskim/modul)

Air

Bersih,

Sanropi Djasio, dkk., 1984, Pedoman Bidang Studi Penyediaan Air


Bersih, APTS, Jakarta
Soemirat S, Juli., 1996. Kesehatan Lingkungan, Gadjah Mada Press,
Bandung
Sutrisno Totok, dkk., 2006, Teknologi Penyediaan Air Bersih, Rineka
Cipta, Jakarta
Sudiarsa.I.W, 2004, Air Untuk Masa Depan, Rineka Cipta, Jakarta
Suripin., 2004, Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Andi Press,
Yogyakarta
Waluyo Lud., 2005. Mikrobiologi Lingkungan. UMM Press. Malang