Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1; Latar belakang
Kanker rektal dapat didefinisikan sebagai bentuk keganasan atau
pertumbuhan sel abnormal pada rektum (Smeltzer & Bare, 2002). Keganasan
pada rektum merupakan jenis kanker yang paling sering terjadi pada sistem
saluran cerna (American Cancer Society, 2012).
Kanker recti adalah salah satu dari penyakit kanker dengan prevalensi
yang cukup tinggi. Jumlah penderita kanker usus besar dan rektum cukup
banyak di Indonesia, khususnya di perkotaan. Kanker usus besar merupakan
jenis kanker ketiga terbanyak di Indonesia menurut Depkes dengan jumlah
kasus 1,8 dalam 100.000 penduduk (RS Dharmais, n.d). Rahmianti (2013)
menuliskan, sekitar 608.000 orang di dunia meninggal akibat kanker
kolorektal setiap tahun menurut World Healh Organization (WHO),
sedangkan di Indonesia sendiri, pada setiap tahunnya sekitar 1.666 orang
meninggal akibat kanker kolorektal. Contoh lain, yaitu pada negara Amerika,
setiap individu dinyatakan memiliki resiko terkena kanker kolorektal
sebanyak kurang lebih 6% (Zhang, 2008).
Berdasarkan data yang didapat di Irna Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil
Padang pada bulan Agustus-Oktober 2016, terdapat 20 orang pasien yang
dirawat dengan kasus ca colon dan recti. Salah satunya adalah Tn. J dengan
keluhan dengan keluhan nyeri hebat pada bagian perut sebelah kanan sejak 1

minggu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri seperti ditusuk-tusuk dan hilang
timbul. klien juga mengeluhkan Mual muntah.
Faktor resiko kanker recti lebih sering terdapat pada gaya hidup
masyarakat di perkotaan, diantaranya ialah obesitas, diet tinggi lemak,
konsumsi daging merah, konsumsi makanan olahan, kurangnya konsumsi
buah dan sayur, konsumsi alkohol, merokok dan kurangnya olahraga secara
teratur dan terukur (Newton, 2009).
Penatalaksanaan pada kanker kolorektal meliputi penatalaksanaan
medis, bedah dan keperawatan. Penatalaksanaan bedah dilakukan tergantung
pada tingkat penyebaran dan lokasi tumor itu sendiri. Tindakan bedah yang
dilakukan adalah dengan pembedahan dan pembentukan kolostomi. Mayers
(1996) dalam Simanjuntak & Nurhidayah (2007) menyebutkan bahwa alasan
paling sering dilakukannya tindakan kolostomi adalah adanya karsinoma pada
kolon dan rektum dimana karsinoma adalah tumor ganas yang tumbuh dari
jaringan epitel. Kolostomi memungkinkan feses tetap keluar dari kolon
meskipun terjadi obstruksi pada kolon yang diakibatkan oleh massa tumor.
Pembedahan

dilakukan

reseksi

segmental

dengan

anastomosis

dibutuhkan untuk mengangkat tumor dan sebagian kolon yang terkena


pertumbuhan tumor, berikut dengan pembuluh darah dan limfanya. Low
Anterior resection (LAR) merupakan pengangkatan rektum (yang terkena
kanker) tapa merusak anus. Prosedur ini dilakukan dengan cara membuka
rongga perut atau disebut dengan laparatomi abdomen. Laparatomi adalah
suatu tindakan pembedahan dengan cara membuka dinding abdomen untuk

mencapai isi rongga abdomen (Jitowiyono, 2010). Laparatomi adalah


membuka dan menutup dinding abdomen dengan cara dan tekhnik yang baik
(Wibowo S, 2001).
Paska laparatomi dapat mengakibatkan adanya nyeri tekan, perubahan
tekanan darah, nadi dan pernafasan, kelemahan, gangguan integumen dan
jaringan subkutan, konstipasi, mual, muntah dan anoreksia (Maryunani,
2012).
Masalah yang paling banyak terjadi pada pasien paska laparatomi
adalah

nyeri

yang

dirasakan klien pada

luka

bekas

insisi

yang

disebabkan karena adanya stimulasi nyeri pada daerah luka insisi yang
menyebabkan keluarnya mediator
transmisi

nyeri

yang

dapat

menstimulasi

impuls disepanjang serabut syaraf aferen nosiseptor ke substansi

dan diinterpretasikan sebagai nyeri (Smeltzer & Bare, 2010). Selain dari
stimulasi nyeri yang dirasakan klien, komplikasi yang
pasien paska laparatomi adalah

adanya kelemahan sehingga pasien tidak

toleran terhadap aktifitas sehari-harinya,


insisi

post

laparatomi

bisa terjadi pada

resiko

infeksi

karena

luka

dan pemantauan terhadap nutrisi dan diit setelah

menjalani operasi (Muttaqin & Sari, 2011).


Penatalaksanaan untuk mencegah komplikasi paska laparatomi adalah
mengoptimalkan oksigenisasi dan ventilasi, mempertahankan keseimbangan
cairan dan elektrolit, mengajarkan ambulasi dan mobilisasi dini untuk
mencegah tromboplebitis, dan manajemen nyeri (Muttaqin & Sari, 2011).
Sedangkan menurut Smeltzer dan Bare (2009) pentalaksanaan pada pasien

post laparatomi memberikan posisi semi fowler, monitor cairan secara


intra vena dan pemantauan slang drain, serta pemasangan NGT untuk
pengurangan distensi abdomen serta manajemen nyeri.
Proses asuhan keperawatan pada pasien paska operasi sangat penting
dilakukan sedini mungkin dan secara komprehensif untuk

mengatasi

terjadinya masalah keperawatan. Peran perawat sangat dituntut disini dalam


mengatasi masalah keperawatan paska operasi seperti keluhan nyeri yang
dirasakan pasien pada area post insisi. Manajemen

dalam mengatasi nyeri

haruslah mencakup penanganan secara keseluruhan, tidak hanya pada


pendekatan farmakologi saja, karena nyeri juga dipengaruhi oleh emosi dan
tanggapan individu terhadap dirinya. Teknik non farmakologis merupakan
suatu tindakan mandiri perawat dalam mengurangi nyeri, diantaranya dengan
teknik relaksasi, distraksi,

biofeedback, Transcutan Elektric Nervous

Stimulating (TENS), guided imagery, terapi musik, accupressur, aplikasi


panas dan dingin, foot massage dan hipnotis (Demir, 2012).
Terapi non farmakologis

dapat menurunkan intensitas nyeri sampai

dengan tingkat yang dapat ditoleransi oleh pasien diantaranya dengan teknik
foot massasege. Massase efektif dalam memberikan relaksasi fisik dan
mental, mengurangi nyeri dan meningkatkan keefektifan dalam pengobatan.
Massase pada daerah yang diinginkan selama 3-5 menit dapat merelaksasikan
otot dan memberikan istirahat yang tenang dan kenyamanan (Potter & Perry,
2010). Cassileth dan Vickers (2004) melaporkan bahwa terdapat 50%
penurunan nyeri, kelelahan, stress/kecemasan, mual dan muntah pada klien

paska operasi yang secara terus menerus menggunakan terapi massase


(Potter & Perry, 2010).
Penelitian yang telah dilakukan oleh Luan Tsay (2009) diperoleh
pengaruh pemberian foot massage terhadap intensitas nyeri pada paska
operasi abdomen di Medikal Center Taipei, Taiwan dengan nilai p<0,5.
Hal ini terbukti bahwa foot massage bermanfaat dalam penurunan intensitas
nyeri akibat luka insisi post operasi abdomen atau laparatomi (Chanif, 2013).
Foot massage

juga telah dilakukan oleh Kim (2002), dikutip dari Chanif

(2013) terhadap pasien post abdominal surgery didapatkan penurunan


intensitas nyeri setelah foot massage dilakukan secara teratur. Foot Massage
dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari mulai hari ke dua post operasi
selama 20 menit setelah
1-3 jam pemberian obat penghilang nyeri (Chanif, 2013).
Foot Massage sangat dianjurkan sebagai salah satu

intervensi

keperawatan yang dapat meningkatkan peran perawat dalam manajemen


nyeri, karena sebagai metode penghilang

nyeri

yang

aman, tidak

membutuhkan peralatan yang spesial, mudah dilakukan, dan mempunyai


efektifitas yang tinggi (Abdelaziz, 2014).
Foot massage merupakan gabungan dari empat teknik masase yaitu
effleurage (mengusap), petrissage (memijit), friction (menggosok) dan
tapotement (menepuk). Dimana kaki mewakili dari seluruh organ-organ yang
ada didalam tubuh dengan menggunakan titik-titik refleks pada kaki. Foot
massage

merupakan mekanisme modulasi nyeri yang

diaplikasikan untuk

menghambat rasa sakit dan untuk memblokir transmisi impuls nyeri sehingga
menghasilkan analgetik dan nyeri yang dirasakan setelah operasi diharapkan
berkurang (Chanif, 2012).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan mahasiswa pada tanggal
15 Oktober 2016 dengan salah satu petugas diruangan Bedah pria RSUP
DR.M Djamil Padang terkait manajemen nyeri secara non farmakologis yang
sering dilakukan diantarnya teknik relaksasi nafas dalam dan distraksi.
Sedangkan terapi foot massage (pijat kaki) belum pernah dilakukan sebagai
terapi non farmakologis dalam manajemen nyeri. Sehingga penulis tertarik
untuk melakukan foot massage untuk melakukannya diruangan dan melihat
keefektifannya sebagai evidence based practise (EBP) dalam mengatasi nyeri
pada pasien post operasi. EBP merupakan suatu pendekatan yang dapat
digunakan dalam praktik perawatan kesehatan yang berdasarkan evidence atau
fakta. Foot massage (pijat kaki) merupakan salah satu terapi komplementer
yang telah banyak dikembangkan diberbagai riset dalam mengurangi nyeri
akut paska operasi (Chanif, 2013).
Pasien post laparatomi meleawati 2 tahapan, yaitu periode pemulihan
segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase post operatif (Potter &Perry,
2005). Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi
yang secara komprehensif. Selain manajemen asuhan kepeawatan, perawat
juga harus memperhatikan kebutuhan pasien terhadap pelaksanaan discharge
planning dalam menjalankan pelayanan keperawatan yang komprehensif
terhadap pasien

Discharge Planning adalah suatu proses dimana mulainya pasien


mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan
perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan
derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke
lingkungannya. (RCP, 2001). Discharge planning pasien dapat memberikan
motivasi untuk mencapai kesembuhan pasien (Moran, et al., 2005), dapat
memberikan dampak terhadap pemendekan lama perawatan pasien di rumah
sakit, menurunkan anggaran kebutuhan rumah sakit, menurunkan angka
kekambuhan, dan memungkinkan intervensi rencana pulang dilakukan tepat
waktu (Swanburg, 2000). Discharge planning pasien dapat meningkatkan
pengetahuan, memiliki kepedulian untuk mengelola perawatan, mengetahui
tentang obat-obatan, dan mengetahui tanda-tanda bahaya yang menunjukkan
potensial komplikasi (Kleinpell, 2004).
Pemberian discharge planning dapat meningkatkan kemajuan pasien,
membantu pasien untuk mencapai kualitas hidup optimum disebelum
dipulangkan, beberapa penelitian bahkan menyatakan bahwa discharge
planning memberikan efek yang penting dalam menurunkan komplikasi
penyakit, pencegahan kekambuhan dan menurunkan angka mortalitas dan
morbiditas (Leimnetzer et al,1993: Hester, 1996)
Perawat adalah salah satu anggota team Discharge Planner, dan sebagai
discharge planner perawat mengkaji setiap pasien dengan mengumpulkan dan
menggunakan data yang berhubungan untuk mengidentifikasi masalah actual
dan potensial, menentukan tujuan dengan atau bersama pasien dan keluarga,

memberikan tindakan khusus untuk mengajarkan dan mengkaji secara


individu dalam mempertahankan atau memulihkan kembali kondisi pasien
secara optimal dan mengevaluasi kesinambungan Asuhan Keperawatan. `
Di Indonesia semua pelayanan keperawatan di Rumah Sakit, telah
merancang berbagai bentuk format Discharge Planning, namun discharge
planning kebanyakan dipakai hanya dalam bentuk pendokumentasian resume
pasien pulang, berupa informasi yang harus di sampaikan pada pasien yang
akan pulang seperti intervensi medis dan non medis yang sudah diberikan,
jadwal kontrol, gizi yang harus dipenuhi setelah dirumah. Cara ini merupakan
pemberian informasi yang sasarannya ke pasien dan keluarga hanya untuk
sekedar tahu dan mengingatkan, namun tidak ada yang bisa menjamin apakah
pasien dan keluarga mengetahui faktor resiko apa yang dapat membuat
penyakitnya

kambuh,

penanganan

apa

yang

dilakukan

bisa

terjadi

kegawatdaruratan terhadap kondisi penyakitnya.


Berdasarkan observasi yang didapat pada tanggal 10-14 Oktober 2016,
pelaksanaan discharge planning pada klien post laparatomi masih tergolong
belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari tiga orang pasien post laparatomi
belum mendapatkan discharge planning berupa penjelasan tentang kebutuhan
nutrisi, aktivitas yang dapat dilakukan seperti latihan, gejala-gejala yang
mungkin muncul akibat pembedahan laparatomi serta tanda bahaya yang perlu
penanganan segera. Hasil wawancara dengan perawat pelaksana pada tanggal
13 Oktober 2016, pelaksanaan discharge planning pada pasien post laparatomi
ataupun pasien lainnya ada dilakukan, namun lebih berfokus tentang kapan

klien harus kontrol ulang, penggunaan obat, dan menjaga kesehatan secara
umum, untuk penjelasan nutrisi biasanya dilakukan oleh ahli gizi, namun juga
hanya pada beberapa pasien tertentu.
Berdasarkan uraian masalah diatas, maka penulis memaparkan
bagaimana pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan ca. recti post
laparatomi dengan penerapan teknik foot massage serta pelaksanaan
Discharge Planning di Ruang Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.

B. Tujuan
1.

Tujuan Umum
Tujuan penulisan laporan ilmiah akhir ini adalah untuk memaparkan
pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan ca. recti post laparatomi
dengan penerapan teknik foot massage serta pelaksanaan Discharge Planning
di Ruang Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.

2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan Laporan Ilmiah Akhir ini sebagai
berikut:
a. Manajemen asuhan Keperawatan
1; Memaparkan
dengan

pengkajian

ca recti post

yang

komprehensif

laparatomi di Ruang

pada

pasien

Bedah Pria RSUP

Dr.M.Djamil Padang.
2; Memaparkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan ca recti
post laparatomi di Ruang Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.

3; Memaparkan perencanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan ca


recti post

laparatomi di Ruang

Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil

Padang.
4; Memaparkan implementasi asuhan keperawatan pada pasien ca
recti post

laparatomi di Ruang

Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil

Padang.
5; Memaparkan evaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan ca
recti post

laparatomi di Ruang

Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil

Padang.
b. Evidenced Based Nursing (EBN)
Memaparkan tindakan keperawatan terapi foot massage pada pasien ca
recti post laparatomi di Ruang Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.

c. Manajemen Layanan Keperawatan


1; Mengidentifikasi masalah pelaksanaan discharge planning pada
pasien post laparatomi di Irna Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.
2; Membuat perencaan penerapan discharge planning pada pasien post
laparatomi di Irna Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.
3; Melaksanakan implementasi penerapan discharge planning pada
pasien post laparatomi di Irna Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.
4; Melaksanakan evaluasi penerapan discharge planning pada pasien
post laparatomi di Irna Bedah Pria RSUP Dr.M.Djamil Padang.

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi profesi keperawatan
Laporan Ilmiah Akhir ini diharapkan dapat menjadi acuan, tambahan dan

wawasan bagi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan ca recti


post laparatomi dengan penerapan teknik foot massage sebagai salah satu
intervensi mandiri keperawatan serta meningkatkan pelaksanaan discharge
planning.
2; Bagi Institusi rumah sakit
Penulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi rumah sakit untuk
membuat kebijakan terkait pedoman asuhan keperawatan pada pasien dengan
post laparatomi dengan pemberian latihan teknik Foot Massage Therapi untuk
meningkatkan kualitas tidur dan pemberian discharge planning pasien post
laparatomi.
3. Bagi Institusi Pendidikan
a; Laporan Ilmiah Akhir ini dapat memberikan referensi dan masukan tentang
asuhan

keperawatan

pada

pasien

kolelitiasis

post laparatomi dengan

penerapan terapi foot massage dan pelaksanaan Discharge Planning.


b; Laporan ilmiah akhir ini dapat dijadikan literatur dan sebagai data dasar untuk
penelitian selanjutnya.

Anda mungkin juga menyukai