Anda di halaman 1dari 28

Turunan Ayaman Keper

1. Turunan Keper Langsung


a. Keper rangkap (dubbel keeper, croise)
Dalam anyaman keeper dasar, hanya terdapat salah satu benang (lusi atau pakan)
saja yang menonjol pada permukaan kain dan merupakan garis keeper. Karena itu jika
benang lusi hendak ditonjolkan pada permukaan kain, maka digunakan benang lusi yang
lebih baik daripada benang pakan. Sebaliknya, jika benang pakan yang harus menonjol
pada permukaan kain, maka digunakan benang pakan yang lebih baik daripada benang
lusi. Seringkali untuk menonjolkan benang pakannya (terutama pada kain-kain mixing)
dipilih misalnya benang dari sutera, kalau yang dipergunakan sebagai benang lusi adalah
benang katun.
Apabila dikehendaki supaya baik efek lusi maupun efek pakan sama-sama menonjol pada
permukaan kain, anyaman keper dasar dapat diganti dengan anyaman keper rangkap atau
croise.
Keper rangkap adalah anyaman yang mempunyai rumus, dimana banyak dan besarnya
angka diatas garis sama dengan angka dibawah garis. Selain itu keper rangkap
menghasilkan efek lusi dan efek pakan dama panjang pada permukaan kain maupun pada
gambar anyaman.
Kedua sisi permukaan kain mempunyai float lusi dan float pakan yang panjangnya sama,
tetapi arah garis keper akan berlawanan (lihat gambar 126a, b dan c)

126b

Nama-nama khusus dari

kain

yang

menggunakan

anyaman

ini misalnya: sarge,

blanket,

sheeting,

shaloon,

casimere.

126a
126c

Dalam perdagangan biasanya terdapat dalam bentuk: diputihkan, dicelup, kadang-kadang


digaruk (flanel), diprint.
Keper rangkap dapat pula menggunakan rumus yang mempunyai 2 angka atau lebih
diatas garis maupun dibawah garis. Misalnya:
1

Keper rangkap

2
1

1
2

1 1

atau keper rangkap

2
2

1
1

(lihat gambar 127a dan b)

127a

127b
Dalam keper rangkap supaya garis keper lusi tampak jelas, digunakan benang lusi
dengan twist yang berlawanan arah dengan garis keper lusi. Sedang untuk garis keper
pakan, digunakan benang pakan yang twistnya berlawanan dengan arah keper pakan.
b. Keper Diperkuat
Keper diperkuat pada umumnya terdiri dari anyaman keper dasar yang
mempunyai rapot anyaman besar, atau dengan kata lain garis kepernya lebar. Garis keper
yang lebar berarti tersusun dari float benang yang panjang-panjang. Hal ini
mengakibatkan keteguhan susunan benang tersebut berkurang. Karenanya float panjang
tersebut perlu diperkuat dengan jalan menambah silangan benang.

Keper rangkap dapat digolongkan dalam keper diperkuat, karena mempunyai persyaratan
yang sama, kecuali ada perbedaan bahwa dalam anyaman diperkuat pajang efek (float)
lusi tidak sama dengan panjang efek pakan.
Dengan membedakan keper diperkuat dan keper rangkap, maka ketentuan/persyaratan
untuk membuat anyaman keper diperkuat adalah sebagai berikut:

Angka diatas garis dan dibawah garis pada rumus, besarnya tidak sama.
Kalau sama, adalah anyaman keper rangkap (croise).

Lebar keper pada kedua sisi permukaan kain tidak sama.

Panjang efek lusi dan efek pakan tidak sama.

Pada keper diperkuat dengan sebuah keper, maka angka 1 pada rumus
tidak dipergunakan, karena termasuk golongan keper dasar.

Anyaman keper diperkuat jenisnya tak terbatas.

Sesuai dengan banyaknya garis keper dalam 1 rapot anyaman, maka anyaman diperkuat
dapat dibagi-bagi jenisnya menurut banyaknya atau jumlahnya garis keper dalam 1 rapot
anyaman.
Contoh:
a). Keper diperkuat dengan 1 buah keper (garis keper)
Pada rumus jenis anyaman ini banyaknya angka diatas garis dan dibawah garis
masing-masing hanya 1 angka, tetapi besarnya berbeda-beda.

128c

128b
128a
Banyaknya gun pada anyaman diperkuat sama dengan
128d

128e

banyak benang lusi (pakan) dalam 1 rapot. Karena itu


sama dari anyaman keper diperkuat dengan sebuah keper dibedakan dengan menyebut
banyaknya gun untuk keper itu, misalnya : keper diperkuat 5 gun, keper diperkuat 7 gun,
dan sebagainya.
Dibawah ini diberikan sebuah ikhtisar mengenai anyaman ini:

Banyaknya gun
5

Jenis anyaman keper diperkuat dalam rumus


2/3 , 3/2

2/4 , 4/2

2/5 , 3/4 , 4/3 , 5/2

2/6 , 3/5 , 5/3 , 6/2

2/7 , 3/6 , 4/5 , 5/4 , 6/3 , 7/2

10

2/8 , 3/7 , 4/6 , 6/4 , 7/3 , 8/2

dst
Jadi, jelas bahwa untuk keper diperkuat:
5 gun mempunyai kemungkinan 2 macam anyaman
6 gun mempunyai kemungkinan 2 macam anyaman
7 gun mempunyai kemungkinan 4 macam anyaman
8 gun mempunyai kemungkinan 4 macam anyaman
9 gun mempunyai kemungkinan 6 macam anyaman
10 gun mempunyai kemungkinan 6 macam anyaman
Rapot anyaman terkecil adalah keper diperkuat 5 gun.
Apabila semua jenis anyaman keper dengan sebuah keper bersama-sama diperhitungkan,
maka dengan mengetahui banyaknya gun dapatlah dihitung banyaknya jenis anyaman
keper tersebut yang bisa dibuat.

Umpamanya banyak gun = 8 buah. Banyaknya jenis anyaman keper yang dapat dibuat
ialah 7 buah. Jika dinyatakan dalam perumusan adalah sebagai berikut:
N=G1

(Lihat gambar anyaman 129a s/d e)

N = Banyaknya jenis anyaman keeper


G = banyaknya gun

Contoh gambar anyaman:

129d
129c
129b
129a
129f
129e
129g
Seperti pada gambar diatas, bahwa keper 8 gun diatas, ada 7 buah variasi anyaman keper
diperkuat yang dapat digunakan. Apabila variasi arah garis keper diperhitungkan juga,
maka:
N = 2 (G 1)
Demikian pula jika keper tersebut terdiri dari lebih 8 gun, maka banyaknya anyaman
keper diperkuat yang dapat digunakan juga lebih bervariatif. Banyaknya gun tinggal kita
masukan saja ke persamaan diatas, dan akan didapatkan banyaknya anyaman keper
diperkuat yang dapat dibentuk. Begitu pula jika kurang dari 8 gun, dst.

b). Keper diperkuat dengan 2 buah keper (garis keper)


Dalam bentuk rumus, anyaman ini selalu mempunyai 2 angka diatas maupun
dibawah garis, misalnya:

131A

131B

Anyaman keper diperkuat dengan 2 buah keper atau lebih terutama digunakan untuk
membuat garis-garis keper lebar dan tampak menonjol pada permukaan kain. Benangbenang lusi atau pakan yang harus membentuk garis keper yang menonjol pada
permukaan kain maka sebaiknya digunakan benang yang lebih baik. Twist benang yang
digunakan berlawanan arah dengan garis keper tersebut.
Jumlah benang lusi dan benang pakan dalam 1 rapot selalu sama dan banyak masingmasing sama dengan jumlah nilai angka yang terdapat dalam rumus.
Jumlah panjang efek lusi seluruhnya sama dengan jumlah nilai angka diatas garis rumus,
dan jumlah panjang efek pakan seluruhnya sama dengan jumlah nilai-nilai angka
dibawah garis.
Anyaman pada gambar 131 adalah anyaman diperkuat dengan dua buah keper.

2
1

3
2

Jumlah lusi (pakan) dalam 1 rapot = 2+3+1+2 = 8 helai


Jumlah efek lusi dari kedua kepernya = 2+3 = 5
Jumlah efek pakan = 1+2 = 3
Karena efek lusi lebih besar daripada efek pakan maka efek lusi dipakai sebagai garis
keper yang menonjol pada permukaan kain.
Karena arah garis keper kekanan, maka benang lusi yang digunakan adalah benang
dengan twist S (benang gintir), sedang benang pakan yang digunakan adalah benang
single dengan putaran Z.
c). Keper diperkuat dengan 3 buah keper (garis keper)
Jenis anyaman ini didalam rumus terdapat 3 angka diatas garis maupun
dibawahnya.

132D
132B
132A

132C
2

Gambar 132A, keper diperkuat

4
1

2
3

Banyak lusi (pakan) dalam 1 rapot = 2+4+2+1+3+1 = 13 helai


Banyak efek lusi = 2+4+2 = 8
Banyak efek pakan = 1+3+1 = 5
Disini garis keper yang ditonjolkan adalah efek lusi, karena efek lusi lebih besar daripada
efek pakan. Karenanya digunakan benang lusi dengan twist S dan pakan twist Z.
Sedangkan pada gambar 132C ditonjolkan efek pakan, karenanya digunakan benang lusi
dengan twist Z dengan benang pakan twist S. Benang pakan digunakan benang yang
lebih baik, misalnya benang sutera sedangkan lusinya benang katun.
c. Keper Hias
1) Keper bayangan
Anyaman ini adalah gabungan dari anyaman dari keper lusi dan keper pakan yang
floatnya masing-masing dikurangi dan ditambah secara berangsur-angsur atau sedikit
demi sedikit.

Gambar 135
2) Keper hias dengan motif-motif/gambar-gambar kecil
Anyaman keper hias jenis ini umumnya terlihat motif-motif atau gambar-gambar
kecil pada permukaan kain, motif-motif mana merupakan jejeran (barisan) yang miring
kearah kanan atau ke kiri.
Prosedur membuat anyaman ini ada 2 macam, yaitu:
a) Membuat dasar diperkuat dengan efek pakan yang cukup lebar sebagai pola dasar.
Kemudian menambah motif-motif kecil pada efek pakan tersebut dengan jalan
menambah efek lusi (lihat gambar 136A, B dan C)
Gambar 136A adalah keper hias dengan anyaman dasar keper diperkuat, masingmasing dengan penambahan efek lusi pada efek pakan sehingga terbentuk motif-motif
kecil.

136A

136B

136C

137B

137A
b) Cara lain untuk membuat anyaman keper hias, dimulai dengan terlebih dahulu
menggambar motifnya (gambar kecil) kemudian gambar tersebut diulang-ulang
menurut arah garis miring sehingga merupakan garis keper. Gambar 139A adalah
motif yang akan digunakan sebagai keper hias. Anyaman keper hias yang diperoleh
dari pola gambar 139A terlihat pada 139B. Contoh lain dapat lihat gambar 140A dan
B.
Pada anyaman keper hias, pemakaian gun minimum sama dengan banyaknya benang
lusi dalam 1 rapot. Cucukan gun digunakan cucukan loncat pada kain-kain wanita
dari wol atau sutera. Keper hias dipakai pada kain-kain untuk pakaian pria yang
dibuat dari wol, dan juga untuk wanita.

139B
139A

140B
140A
d. Keper Runcing
Nama-nama lain :

Pointed twill (inggris)

keper zig-zag atau gigi gergaji

Visgraat keper (Belanda

Chevron

Anyaman keper runcing adalah anyaman keper yang garis kepernya berjalan
kekanan dan kekiri secara bergantian sehingga bentuknya seperti gigi gergaji (zig-zag).
Sepintas lalu garis-garis keper yang searah kelihatan membentuk strip-strip panjang;
tetapi kenyataannya garis keper lebih cenderung untuk membentuk garis zig-zag.
Garis zig-zag akan berjalan kearah horizontal pada keper runcing lusi dan dan
berjalan kearah vertikal pada keper runcing pakan.
Anyaman keper runcing dibuat atas dasar salah satu jenis dari anyaman keper.
Perubahan arah garis keper bisa didasarkan atas satu rapot dari anyaman dasar, dan dapat
pula dibuat lebih atau kurang dari satu rapot.
Dapat dikatakan bahwa keper runcing adalah gabungan dari keper kanan dan keper kiri.
1) Keper runcing lusi
Prosedur untuk membuat anyaman ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a) Membuat anyaman dasar dulu menurut aturan patrun yang dikehendaki dan misalnya
arah garis keper lusi ke kanan. Sedudah digambar satu rapot (atau boleh juga lebih),
kemudian patrun tersebut digambar lagi tetapi dengan arah garis keper ke kiri.
Pertemuan antara garis keper kanan dan kiri merupakan puncak dan berbentuk seperti
gunung.

Gambar
141A 141A adalah keper runcing
141B lusi yang
141B adalah anyaman keper lusi 3/1. Gambar

141C

dibuat berdasarkan pola dasar gambar 141A. Gambar 141C adalah keper runcing lusi
yang dibuat berdasarkan pola keper rangkap 3/3.
b) Membuat cucukan gun dan rencana pena terlebih dahulu, baru digambar keper
runcingnya berdasarkan cucukan gun dan rencana pena tersebut.

Gambar 143

Gambar 145

Gambar 144

Pada gambar 143: Pertama-tama dibuat cucukan gun bentuk runcing, kemudian
digambarkan pegging plannya ke arah kanan, Atas dasar cucukan gun dan pegging
plan tersebut dapatlah digambar anyamannya (Lihat gambar 144)
Gambar 145 adalah perkembangan dari gambar 143 dan gambar 144. Perhatikan
bahwa efek pakan ditambah dengan efek lusi pendek.
Gambar 146 adalah contoh lain dimana cucukan gun untuk puncak keper runcing
dicucuk kembali pada gun pertama.

Gambar 146
2) Keper runcing pakan

Prosedur untuk membuat anyaman ini serupa dengan prosedur pembuatan


chevron lusi.
(1) Dibuat dulu gambar anyaman menurut pola anyaman dasar yang diinginkan, misalnya
dengan keper kanan lebih dahulu. Pada pembalikan dari keper kanan ke keper kiri
tidak dimulai dari samping kanannya seperti pada chevron lusi, melainkan mulai
diatasnya (lihat gambar 147A)

2 1

Gambar 147A adalah chevron pakan atas dasar pola anyaman dasar

2 1

(baca kesamping atau kearah pakan).


Gambar 147B chevron dengan bentuk runcingan menuju kekiri.

147A

147B

(2) Prosedur yang kedua serupa pula dengan chevron lusi. Perbedaannya terletak pada :
- cucukan gun digunakan cucukan lurus
- pegging plan dalam bentuk runcing
Pada gambar 148 dan gambar 149 :
A = Anyaman keper runcing yang dibuat berdasarkan cucukan gun dan pegging plan
B = Cucukan gun (cucukan lurus) yang dikerjakan lebih dahulu

C = Pegging plan, bentuk runcing. Dibuat sesudah cucukan gun. Disini dapat dibuat
variasi sesuai dengan anyaman yang diinginkan.
e. Chevron diperbesar

Gambar 148
Gambar 149
Anyaman chevron dapat diperbesar dengan jalan mengulangi pola dua kali atau
bahkan lebih.

Gambar 150
Gambar 150A adalah anyaman chevron diperbesar yang didasarkan pada anyaman dasar
keper rangkap 2/2, sedangkan gambar 150 bagian atasnya adalah gambar cucukan gun
dari anyaman tersebut.
Gambar 151 adalah contoh lain dari anyaman chevron diperbesar.
Dari kedua contoh ini terlihat bahwa apabila pembesaran chevron dikehendaki dua kali,
maka cucukan gunnya diperbanyak (diperpanjang dua kali pula)
Jika pada anyaman chevron dikehendaki pembesaran empat kali maka cucukan gun juga
harus diperbanyak (diperpanjang) sebanyak empat kali.

Gambar 151

f. Sepertijn chevron
Anyaman keper runcing dapat dibuat bentuk-bentuk runcing yang tidak teratur
(puncak-puncaknya tidak sama tinggi). Anyaman jenis ini disebut serpentijn chevron
(serpent = ular).
Gambar 152 merupakan
salah

satu

contoh

dari

serpentijn chevron, yang


didasarkan
anyaman

pada
keper

pola
rangkap

2/2.
Dalam anyaman ini terlihat
bahwa
runcingnya
Gambar 152
pertemuan antara garis keper kiri dengan keper kanan tidak sama tinggi. Perhatikan lusi
no. 1, 7 , 12, 15, 18 dan 23.

Gambar 153
Gambar 153 adalah contoh lain dari anyaman serpentijn chevron yang didasarkan atas
anyaman keper diperkuat :

3
1

1
3

Ubahan rupa permukaan kain dapat dilakukan dengan jalan:


(1) Menggunakan warna yang berbeda antara lusi dan pakan
(2) Menggunakan strip-strip warna pada benang lusi saja
(3) Memberikan design strip dengan tetal lusi yang berbeda
Anyaman keper runcing dapat pula dibuat berarah miring. Gambar 154 menunjukan
anyaman keper runcing berarah miring (puncak-puncaknya tidak terletak horizontal tetapi
makin tinggi).
Pola dasar yang digunakan
adalah anyaman keper 4 gun.
Gambar 155 adalah anyaman
chevron

miring

berserta

sistem cucukan gunnya. Pola


anyaman

dasar

keper diperkuat :

Gambar 154

digunakan
1

Gambar 155
g. Anyaman wajik
Nama lain : Anyaman intan (diamond)
Disebut anyaman wajik karena bentuknya seperti potongan wajik (riutvorming). Jenis
anyaman ini dapat dibuat dengan 2 macam jalan, yaitu:
(1) Dengan membuat cucukan runcing ditempat gambar cucukan gun, dan membuat
rencana pena dalam bentuk runcing pula.
(2) Dengan menggabungkan keper runcing lusi dan keper runcing (chevron) pakan.
Menggambar anyaman wajik ataupun membuat pegging plan, untuk mudahnya digambar
dulu efek lusi pendek seperti terlihat pada gambar 156, kemudian pada kotak-kotak
kosong (efek pakan) ditambahkan efek lusi sesuai dengan pola anyaman dasar yang
diinginkan.

Gambar 156

Gambar 158

Gambar 157

Gambar 159

Anyaman wajik 10 gun dengan berbagai variasi terlihat pula pada gambar 157,159.
sedangkan diamond 12 gun pada gambar 158 dan 157. Anyaman dibuat menurut prosedur
no.1 yakni atas dasar cucukan gun dan pegging plan. Gun yang digunakan sebanyak 6
buah tiap rapot diperlukan 10 buah kartu dobby.
Untuk membuat pegging plan, mula-mula dibuat gambar titik-titik dalam bentuk runcing
yang ujung runcingnya berada disisi kanan, sedangkan 2 ujung yang terbuka disisi kiri.
Pada ujung dibagian atas letak titik tidak sama (tidak segaris) dengan titik yang terletak
dibawah. Dalam gambar terlihat bahwa ujung bawah titiknya dimulai dari garis pada

no.1, sedang ujung atas berakhir pada beris no.2. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh
anyaman diamond 1 rapot.
Begitupun cucukan gun, lusi nomor 1 dicucuk pada gun no.1, sedang lusi nomor 10
(terakhir) dicucuk pada gun no.2, yakni untuk mendapatkan anyaman diamond 1 rapot.
Untuk mendapatkan anyaman diamond yang baik maka pagging plan tersebut ditambah
dengan titik-titik lain menurut pola anyaman yang diinginkan. Dalam gambar terlihat
bahwa pegging plan diatur titik-titiknya sedemikian sehingga sesuai dengan pola
anyaman keper diperkuat 2/2.
Gambar 158 menunjukan anyaman wajik 12 gun yang dibuat menurut cara ke-2, atas
dasar pola anyaman keper rangkap 3/3.
Cara menggambar dapat dilakukan dengan dua macam jalan, yaitu:
-

Jalan pertama:

Gambar efek-efek lusi pendek dari bawah keatas dengan angka loncat (v) = 1,
dengan arah kekanan (lihat gambar titik-titik) sebanyak 12 titik. Efek-efek lusi
pendek ini akan merupakan gambar efek pakan 12 gun.
Kemudian dibuat efek lusi pendek dengan arah kiri, dimulai dari lusi no.12 diatas
pakan no.2, dan berhenti pada lusi no.2 diatas pakan no.12. Dengan demikian maka
jumlah efek lusi pendek arah kiri ini hanya ada 11 buah saja. (Ini berlaku untuk
semua anyaman diamond, dimana dalam 1 rapot jumlah efek lusi kiri = jumlah efek
lusi kanan -1). Untuk memperoleh pola anyaman 3/3, maka efek-efek lusi pendek
tersebut ditambah dengan efek-efek lusi yang sesuai. (lihat gambar nomor 158).
-

Jalan Kedua:

Buat gambar efek lusi dengan anyaman keper 3/3 ke arah kanan, dimulai dari lusi
no.1, menurut banyaknya benang lusi dalam 1 rapot (disini 12 helai). Kemudian
buatlah anyaman keper 3/3 ke arah kiri yang sesuai dengan keper kanan, tetapi
dimulai dari lusi nomor 12 diatas pakan no.2 dan berakhir pada lusi nomor 2 dan
pakan nomor 12. Dengan demikian banyaknya lusi float lusi kearah kiri hanya 11
buah. Akhirnya ditengah kotak-kotak dari diamond ditambah efek-efek lusi yang
sesuai.

Variasi Anyaman wajik (diamond) sangat banyak, terutama pada anyaman-anyaman


wajik dalam bentuk besar. Umumnya pada anyaman wajik mempunyai jumlah lusi/ pakan
sebanyak dua kali dari jumlah lusi/pakan anyaman pola dasarnya.
Jika pola anyaman dasar dipakai anyaman keper diperkuat, maka variasi anyaman
jumlahnya tidak terbatas. Salah satu contoh, dibawah ini diberikan beberapa ubahan
anyaman wajik yang didasarkan atas pola anyaman keper diperkuat 7 gun, sehingga
banyaknya gun dari anyaman wajiknya adalah 7 x 2 = 14 buah.
i. Anyaman mata burung (bird eye)
Anyaman sejenis ini disebut juga diaver weave. Biasanya hanya menggunakan
4, 5 dan 6 gun dan didasarkan atas cucukan gun dan pegging plan dalam bentuk runcing
teratur.
Dapat juga dikatakan bahwa anyaman mata burung adalah anyaman wajik dalam bentuk
kecil. Dalam kotak wajik selalu diberi efek lusi ditengah-tengahnya, Apabila kotak wajik
tersebut merupakan efek pakan.

Gambar 160
Gambar 160 diatas ialah dalah satu contoh dari anyaman mata burung yang menggunakan
6 buah gun.
2. Turunan Keper Tidak Langsung
a. Anyaman keper curam
Anyaman keper curam adalah anyaman keper yang kemiringan garis kepernya
mempunyai sudut lebih besar dari 45 o. Keper curam yang dibicarakan disini hanyalah
keper curam yang kecuramannya dikarenakan oleh V > 1.
Keper curam yang sering dipakai adalah keper curam 63o, yang biasanya digunakan pada
kain-kain doeskin, covert, garbadine, kain elastis dan lain-lain. Kadang-kadang juga

terdapat pada kain wanita sebagai penghias. Pada umumnya keper curam diturunkan dari
keper diperkuat.
Ada pula keper curam yang istimewa ialah anyaman untuk kain yang elastis. Tenunan ini
mudah ditarik dan baik dipakai untuk rijbroeken, karenanya juga anyaman rijbroek (lihat
gambar 177).

Gambar 178
Gambar 177
Anyaman lain dari keper curam 63o adalah anyaman tricotine, yang mirip seperti kain
rajut dan dipakai untuk bahan pakaian wanita. Anyaman ini mempunyai garis keper lebar.
(lihat gambar 178).
b. Anyaman keper landai (keper datar)
Cara menggambarnya analog dengan keper curam, tetapi dengan angka loncat
kearah horizontal. Dapat pula dibuat dengan memutar 90o dari keper curam. Sebagai
contoh lihat gambar 174,

Gambar 174
c. Anyaman keper lengkung (Curved Twills)
Anyaman keeper lengkung dibuat atas dasar salah satu anyaman keeper dasar atau
keeper diperkuat. Pola dasar sekaligus dapat digunakan sebagai pegging plannya, dan
cucukan dapat dibuat terlebih dahulu selaku pedoman dalam membuat anyaman keper
lengkung. (Lihat gambar 179 )

Gambar 179
Garis keper lengkung pada anyaman ini akan tampak lebih jelas apabila benang yang
membentuk garis keper digunakan benang yang berwarna.
Anyaman ini misalnya dipakai untuk kain piyama. Namun keper lengkung jarang
digunakan atau terbatas pemakaiannya, karena terdapat keburukan yang disebabkan oleh
panjang float pakan berbeda-beda diberbagai tempat. Hal ini mengakibatkan benang
kurang keteguhannya di dalam kain.
Keper lengkung dapat pula menurunkan anyaman dengan garis keper yang arahnya
berlawanan seperti pada keper runcing (pointed twill).
d. Keper pecah (broken twills)
Keper pecah adalah turunan anyaman keper dasar. Keper pecah terdiri dari
gabungan keper lusi dengan keper pakan, dimana keduanya disusun bergantian kearah
vertical pada kelompok benang lusi, dan kearah horizontal pada kelompok-kelompok lusi
yang biasanya jumlah lusi tiap kelompok sama.
Jika:

maka :

= banyak lusi 1 rapot

= banyak pakan dalam 1 rapot anyaman dasar

Vk

= angka loncat kelompok lusi

lk

= jumlah lusi tiap kelompok


l = lk x p

Vk = p
Umumnya keper pecah diturunkan dari keper rangkap (balanced twill weaves). Lihatlah
contoh gambar dibawah ini:

Dengan cara yang sesuai dengan diatas, dapat pula dibuat keper pecah arah pakan.
e. Keper tulang ikan
Nama lain :

- Herring bone twill (H.B.T)


- Epingle

Epingle adalah anyaman keper yang terdiri dari keper kanan dan keper kiri dan
perpindahan garis keper kanan kepada keper kiri tidak saling bertemu melainkan
bersilangan. Apabila perpindahan arah garis keper ini saling bertemu satu sama lain,
anyaman tersebut menjadi keper runcing.
Anyaman epingle juga diturunkan dari keper rangkap (balance twill). Untuk
mempermudah cara menggambarnya, maka dapat digunakan pedoman bahwa pada
perpindahan arah garis keper dipakai V = p.
HBT banyak dipakai pada kain-kain untuk pakaian wanita, flanel untuk pakaian anakanak, dan lain-lain. Agar supaya garis keper tampak menonjol, maka untuk keper kanan
digunakan benang lusi dengan twist S, sedang keper kiri digunakan lusi dengan putaran
Z. Hal ini akan menyebabkan suatu keadan yang disebut dengan defleksi.

A
C
B
Gambar 183

b
Gambar 184

f. Keper jalin
Untuk hiasan dalam handuk, mantel wanita, meubelstoffen banyak menggunakan
keper jalin.
Prinsip dari keper jalin adalah turunan dari keper rangkap, dimana garis-garis keper
saling beranyam.
Gambar 189 dan 190 adalah contoh dari keper jalin. Untuk membuat anyaman ini dapat
digunakan pedoman sebagai berikut:
(1) Pola anyaman dasar adalah keper rangkap.
(2) Banyak benang lusi dalam 1 rapot keper jalin adalah kelipatan dari banyak lusi (dalam
1 rapot) anyaman dasar. (l2 = kelipatan l1).
(3) Banyak garis keper yang saling beranyam = banyak lusi dalam satu rapot dari keper
jalin dibagi banyak lusi dalam satu rapot dari anyaman dasar:

l2

l1

(4) Banyak float yang membentuk garis keper adalah

l2

Gambar 190

Gambar 189

g. Keper sekrup
Salah satu perkembangan dari epingle atau HBT adalah keper sekrup. Untuk
membuat anyaman keper sekrup dapat digunakan pedoman sebagai berikut:
Jika

l = banyak lusi dalam 1 rapot dari anyaman dasar


l1 = banyak lusi dalam 1 rapot dari anyaman keper sekrup
p = banyak lusi dalam 1 rapot dari anyaman dasar
p1 = banyak lusi dalam 1 rapot dari anyaman keper sekrup

Maka :(1) Banyak benang lusi keper sekrup dalam 1 rapot = banyak gun yang harus
digunakan (l1 = G1), dan merupakan kelipatan dari banyak-nya gun anyaman
dasar. Dalam contoh 193, l1 = 12.
(2) Panjang garis keper dan jumlah lusi (pakan) keper sekrup mempunyai
pembagi persekutuan.
Dalam contoh :

Panjang keper pakan (k1) = 8


Panjang keper kiri yang panjang (k2) = 6
Panjang keper kiri yang pendek (k3) = 4
Jumlah lusi keper sekrup 1 rapot (l1) = 12
Jumlah pakan keper sekrup 1 rapot (p1) = 36

(3) Pembuatan garis-garis keper kanan dimulai dengan penggeseran kekanan


dan keatas terhadap permukaan keper kanan sebelumnya. Penggeseran ke kanan
digunakan angka loncat horizontal (Vh) = l, sedangkan penggeseran keatas
(Va) = (G + Vh), dimana G = jumlah gun keper dasar.
Dalam contoh :

Vh = x 4 = 2
Va = G + Vh = 4 + 2 = 6

(4) Banyak pakan keper sekrup dalam 1 rapot (p2) = (Va / Vh) x G1,
Dalam contoh :

(p2) = (6 / 2) x 12 = 36

(5) Efek (float) lusi merupakan pembagi persekutuan dari p1, l1 dan Va.

Gambar 193

h. Anyaman babat
Nama lain : Honey Comb (Sarang madu)
Anyaman babat adalah anyaman yang membentuk kelompok-kelompok lusi dan
kelompok-kelompok pakan, kelompok-kelompok mana masing-masing terdiri dari float
lusi (pakan) yang mempunyai panjang berbeda-beda.
Kelompok-kelompok benang lusi/pakan tiap helainya tidak sama panjang floatnya dalam
anyaman babat akan menyebabkan permukaan kain bermotif dalam bentuk relief (gambar
timbul). Motif tersebut sesuai dengan bentuk daging babat atau bentuk sarang madu.
Float panjang membentuk bukit-bukit sedang float pendek membentuk lembah.

Dengan adanya float panjang pada anyaman babat, maka akan mengakibatkan kain
mempunyai sifat daya serap air yang besar. Karenanya anyaman babat terdapat pula pada
kain handuk. Anyaman babat banyak juga dipakai sebagai hiasan pada kain-kain wanita.
Bentuk lain dari anyaman babat adalah anyaman babat : Brighton Honeycomb weave.
Untuk membuat anyaman jenis ini dapat digunakan pedoman sebagai berikut:
(1) jumlah lusi (pakan) adalah merupakan kelipatan dari angka 4.
(2) float terpanjang = (L/2) 1, dimana L = jumlah lusi dalam 1 rapot. Float terpanjang
pada hakekatnya menunjukan pula jumlah lusi tiap kelompok.
(3) Cucukan gun yang digunakan adalah cucukan lurus.
(4) Cara menggambar diperlihatkan pada gambar 196a, b, c dan d.

B
A

D
C

Gambar 196

Anda mungkin juga menyukai