Anda di halaman 1dari 5

Anemia Defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi

dalam darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena


terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi
dalam darah.
Menurut Evatt, anemia Defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh
berkurangnya cadangan besi tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya
saturasi transferin, berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum
tulang. Secara morfologis keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik
hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hemoglobin.
Zat besi diperlukan untuk hemopoesis (pembentukan darah) dan juga diperlukan
oleh berbagai enzim sebagai faktor penggiat. Zat besi yang terdapat dalam
enzim juga diperlukan untuk mengangkut elektro (sitokrom), untuk mengaktifkan
oksigen (oksidase dan oksigenase). Perdarahan menahun yang menyebabkan
kehilangan besi atau kebutuhan besi yang meningkat akan dikompensasi tubuh
sehingga cadangan besi makin menurun (Bakta, 2006). Jika cadangan besi
menurun, keadaan ini disebut keseimbangan zat besi yang negatif, yaitu tahap
deplesi besi (iron depleted state). Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar
feritin serum, peningkatan absorbsi besi dalam usus, serta pengecatan besi
dalam sumsum tulang negatif. Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka
cadangan besi menjadi kosong sama sekali, penyediaan besi untuk eritropoesis
berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia
secara klinis belum terjadi. Keadaan ini disebut sebagai iron deficient
erythropoiesis. Pada fase ini kelainan pertama yang dijumpai adalah peningkatan
kadar free protophorphyrin atau zinc protophorphyrin dalam eritrosit. Saturasi
transferin menurun dan kapasitas ikat besi total (total iron binding capacity =
TIBC) meningkat, serta peningkatan reseptor transferin dalam serum. Apabila
penurunan jumlah besi terus terjadi maka eritropoesis semakin terganggu
sehingga kadar hemoglobin mulai menurun (Tabel 2.2). Akibatnya timbul anemia
hipokromik mikrositik, disebut sebagai anemia defisiensi besi (iron deficiency
anemia).
Menurut Bakta (2006) anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh karena
rendahnya asupan besi, gangguan absorbsi, serta kehilangan besi akibat
perdarahan menahun:
1. Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari:
a. Saluran cerna: akibat dari tukak peptik, pemakaian salisilat atau NSAID,
kanker lambung, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang
b. Saluran genitalia (perempuan): menorrhagia.
c. Saluran kemih: hematuria.
d. Saluran nafas: hemoptisis.
2. Faktor nutrisi, yaitu akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan
(asupan yang kurang) atau kualitas besi (bioavailabilitas) besi yang rendah.

3. Kebutuhan besi meningkat, seperti pada prematuritas, anak dalam masa


pertumbuhan, dan kehamilan.
4. Gangguan absorbsi besi, seperti pada gastrektomi dan kolitis kronik, atau
dikonsumsi bersama kandungan fosfat (sayuran), tanin (teh dan kopi),
polyphenol (coklat, teh, dan kopi), dan kalsium (susu dan produk susu).
Akibat Anemia Defisiensi Besi Akibat-kibat yang merugikan kesehatan pada
individu yang menderita anemi gizi besi adalah
1. Bagi bayi dan anak (0-9 tahun)
a. Gangguan perkembangan motorik dan koordinasi. b. Gangguan
perkembangan dan kemampuan belajar. c. Gangguan pada psikologis dan
perilaku
2.Remaja (10-19 tahun)
a. Gangguan kemampuan belajar
b. Penurunan kemampuan bekerja dan aktivitas fisik
c. Dampak negatif terhadap sistem pertahanan tubuh dalam melawan penyakit
infeksi
3.Orang dewasa pria dan wanita
a. Penurunan kerja fisik dan pendapatan.
b. Penurunan daya tahan terhadap keletihan
4.Wanita hamil
a. Peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu
b. Peningkatan angka kesakitan dan kematian janin
c. Peningkatan resiko janin dengan berat badan lahir rendah
Manifestasi Klinis
1. Gejala Umum Anemia Gejala umum anemia disebut juga sebagai sindrom
anemia (anemic syndrome) dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila kadar
hemoglobin kurang dari 7-8 g/dl. Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat
lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Pada pemeriksaan
fisik dijumpai pasien yang pucat, terutama pada konjungtiva dan jaringan di
bawah kuku (Bakta, 2006). Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar
hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas.
2. Gejala Khas Defisiensi Besi Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi,
tetapi tidak dijumpai pada anemia jenis lain adalah (Bakta, 2006): a. Koilonychia,
yaitu kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan
menjadi cekung sehingga mirip sendok. b. Atrofi papil lidah, yaitu permukaan

lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang. c. Stomatitis
angularis (cheilosis), yaitu adanya keradangan pada sudut mulut sehingga
tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan. d. Disfagia, yaitu nyeri
menelan karena kerusakan epitel hipofaring
Menurut Guillermo dan Arguelles (Riswan, 2003) pemeriksaan yang dapat
dilakukan antara lain:
A. Pemeriksaan Laboratorium
1. Hemoglobin (Hb) Hemoglobin adalah parameter status besi yang memberikan
suatu ukuran kuantitatif tentang beratnya kekurangan zat besi setelah anemia
berkembang.
2. Penentuan Indeks Eritrosit Penentuan indeks eritrosit secara tidak langsung
dengan flowcytometri
3. Pemeriksaan Hapusan Darah Perifer Pemeriksaan hapusan darah perifer
dilakukan secara manual.
4. Luas Distribusi Sel Darah Merah (Red Distribution Wide = RDW) Luas distribusi
sel darah merah adalah parameter sel darah merah yang masih relatif baru,
dipakai secara kombinasi dengan parameter lainnya untuk membuat klasifikasi
anemia. RDW merupakan variasi dalam ukuran sel merah untuk mendeteksi
tingkat anisositosis yang tidak kentara. Kenaikan nilai RDW merupakan
manifestasi hematologi paling awal dari kekurangan zat besi, serta lebih peka
dari besi serum, jenuh transferin, ataupun serum feritin. MCV rendah bersama
dengan naiknya RDW adalah pertanda meyakinkan dari kekurangan zat besi.
6. Besi Serum (Serum Iron = SI) Besi serum peka terhadap kekurangan zat besi
ringan, serta menurun setelah cadangan besi habis sebelum tingkat hemoglobin
jatuh. Keterbatasan besi serum karena variasi diurnal yang luas dan
spesitifitasnya yang kurang. Besi serum yang rendah ditemukan setelah
kehilangan darah maupun donor, pada kehamilan, infeksi kronis, syok, pireksia,
rhematoid artritis, dan malignansi. Besi serum dipakai kombinasi dengan
parameter lain, dan bukan ukuran mutlak status besi yang spesifiK
7. Serum Transferin (Tf) Transferin adalah protein tranport besi dan diukur
bersama -sama dengan besi serum. Serum transferin dapat meningkat pada
kekurangan besi dan dapat menurun secara keliru pada peradangan akut, infeksi
kronis, penyakit ginjal dan keganasan.
8. Transferrin Saturation (Jenuh Transferin) Jenuh transferin adalah rasio besi
serum dengan kemampuan mengikat besi, merupakan indikator yang paling
akurat dari suplai besi ke sumsum tulang. Penurunan jenuh transferin dibawah
10% merupakan indeks kekurangan suplai besi yang meyakinkan terhadap
perkembangan eritrosit.
9. Serum Feritin Serum feritin adalah suatu parameter yang terpercaya dan
sensitif untuk menentukan cadangan besi orang sehat. Serum feritin secara luas

dipakai dalam praktek klinik dan pengamatan populasi. Serum feritin < 12 ug/l
sangat spesifik untuk kekurangan zat besi, yang berarti kehabisan semua
cadangan besi, sehingga dapat dianggap sebagai diagnostik untuk kekurangan
zat besi
. B. Pemeriksaan Sumsum Tulang Masih dianggap sebagai standar emas untuk
penilaian cadangan besi, walaupun mempunyai beberapa keterbatasan.
Pemeriksaan histologis sumsum tulang dilakukan untuk menilai jumlah
hemosiderin dalam sel-sel retikulum. Tanda karakteristik dari kekurangan zat besi
adalah tidak ada besi retikuler. Keterbatasan metode ini seperti sifat subjektifnya
sehingga tergantung keahlian pemeriksa, jumlah struma sumsum yang memadai
dan teknik yang dipergunakan. Pengujian sumsum tulang adalah suatu teknik
invasif, sehingga sedikit dipakai untuk mengevaluasi cadangan besi dalam
populasi umum.
Pencegahan dan Pengobatan Anemia Defisiensi Besi
Upaya yang dilakukan dalam pencegahandan penanggulangan anemia adalah
a. Suplementasi tabet Fe
b. Fortifikasi makanan dengan besi
c. Mengubah kebiasaan pola makanan dengan menambahkan konsumsi pangan
yang memudahkan absorbsi besi seperti menambahkan vitamin C.
d. Penurunan kehilangan besi dengan pemberantasan cacing. Dalam upaya
mencegah dan menanggulangi anemia adalah dengan mengkonsumsi tablet
tambah darah. Telah terbukti dari berbagai penelitian bahwa suplementasi, zat
besi dapat meningkatkan kada Hemoglobin
e. Pengobatan Anemia Defisiensi Besi
Sejak tahun 1997 pemerintah telah merintis langkah baru dalam mencegah dan
menanggulangi anemia, salah satu pilihannya adalah mengkonsumsi tablet
tambah darah. Telah terbukti dari berbagai peneltian bahwa suplemen zat besi
dapat meningkatkan hemoglobin. Pencegahan dan Penanggulangan Anemia
Defisiensi Besi Dapat dilakukan antara lain dengan cara:
a. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan Mengkonsumsi pangan
hewani dalam jumlah cukup.
b. Suplementasi zat besi Pemberian suplemen besi menguntungkan karena
dapat memperbaiki status hemoglobin dalam waktu yang relatif singkat.
Di Indonesia pil besi yang umum digunakan dalam suplementasi zat besi
adalah frrous sulfat.
Efek samping dari pemberian besi feroral adalah mual, ketidaknyamanan
epigastrium, kejang perut, konstipasi dan diare. Efek ini tergantung dosis yang
diberikan dan dapat diatasi dengan mengurangi dosis dan meminum tablet
segera setelah makan atau bersamaan dengan makanan. a. Fortifikasi zat besi
Fortifikasi adalah penambahan suatu jenis zat gizi ke dalam bahan pangan untuk

meningkatkan kualitas pangan . Kesulitan untuk fortifikasi zat besi adalah sifat
zat besi yang reaktif dan cenderung mengubah penampilanm bahan yang di
fortifikasi. Sebaliknya fortifikasi zat besi tidak mengubah rasa, warna,
penampakan dan daya simpan bahan pangan. Selain itu pangan yang
difortifikasi adalah yang banyak dikonsumsi masyarakat seperti tepung gandum
untuk pembuatan roti. b. Penanggulangan penyakit infeksi dan parasit Penyakt
infeksi dan parasit merupakan salah satu penyebab anemia gizi besi. Dengan
menanggulangi penyakit infeksi dan memberantas parasit diharapkan bisa
meningkatkan status besi tubuh.
Khaidir, Masrizal. "ANEMIA DEFISIENSI BESI." Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas 2.1 (2007).

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI DENGAN USIA


KEHAMILAN TRIMESTER I, II, DAN III PADA IBU HAMIL DI RSUP H. ADAM MALIK
MEDAN TAHUN 2008-2009 Oleh: THREESA SEREPINA SINURAT FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010