Anda di halaman 1dari 25

Phiyo & OneTo

Selasa, 26 Juli 2011


KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TM 1 DAN TM II

KATA PENGANTAR

Rasan syukur kami panjatkan serta kami junjungkan kehadirat tuhan yang maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga makalah ini yang berjudul KOMPLIKASI
DAN PENYULIT KEHAMILAN TM I DAN TM II dapat di selesaikan.

Makalah ini mencoba memberikan gambaran atau pengetahuan kepada para mahasiswa
Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung ataupun pembaca tentang KOMPLIKASI DAN
PENYULIT KEHAMILAN TM I DAN TM II secara keseluruhan.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam peroses pembuatan makalah ini kami
sampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada TIM dosen yang mengampu untuk matakuliah
ini yang telah memberikan bimbingan, kami haturkan terimakasih yang tak terhingga.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran
yang mambangun sangat kami harapkan. Dengan harapan makalah ini dapat berguna bagi
banyak pihak,

Bandar Lampung,

Agustus 2011

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar

belakang

masalah

Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah ini maka untuk menambah wawasan ataupun

pengetahuan bagi seorang bidan tentang Komplikasi dan penyulit kehamilan. Seorang bidan
diwajibkan dan memehami bagaimana menangani pasien dengan Komplikasi dan penyulit
kehamilan.
1.2 Tujuan

Agar mahasiswa memahami dan mengerti tentang penanganan Komplikasi dan penyulit
kehamilan.

Untuk menambah wawasan atau pengetahuan bagi mahasiswa dan para pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN
KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TM 1 DAN TM II
1. Anemia Kehamilan
1.1 Pengertian Anemia
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, dapat diatasi malalui
pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi. Anemia hamil disebut potential danger
to mother and child (potensial membahayakan ibu dan anak), menurut WHO menetapkan HB
normal ibu hamil yaitu 11 gr

1.2 Kebutuhan zat besi pada wanita hamil


Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan
perdarahan sebanyak 50 sampai 80cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai

40mgr. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel
darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta.
Sebagai gambaran berapa banyak kebutuhan zat besi pada setiap kehamilan perhatikan sebagai
berikut:
Meningkatkan sel darah ibu

: 500 mgr Fe

Terdapat dalam plasenta

: 300 mgr Fe

Untuk darah janin

: 100 mgr Fe

Jumlah

: 900 mgr Fe

Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi
(pengenceran) dengan peningkatan volume 30% samai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32
sapai 34 minggu. Jumlah peningkatan sel darah 18% sampai 30%, dan hemoglobin sekitar 19%.
Setelah persalinan dengan lahirnya plasenta dan perdarahan ibu akan kehilangan zat besi sekitar
900 mgr.

1.3 Diagnosis anemia pada kehamilan


Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa dan
pemeriksaan penunjang seperti menggunakan alat HB sahli. Pada anamnesa akan didapatkan
keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, dan keluhan mual muntah lebih
hebat pada hamil muda. Sedangkan menggunakan alat HB sahli digolongkan sebagai berikut:

Hb 11 gr%

Tidak Anemia

9-10 gr%

Anemia Ringan

7-8 gr%

Anemia Sedang

< 7 gr%

Anemia Berat

Pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan, yaitu pada TM 1 dan TM III.
Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan
pemberian

preparat

Fe

sebanyak

90

tablet

selama

hamil.

1.4 Bentuk-bentuk anemia


Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sel darah adalah sebagai berikut:
a. Komponen (bahan) yang berasal dari makanan terdiri dari:
Protein, Glukosa dan lemak
Vitamin B12, B6, Asam folat, dan Vit c
Elemen dasar: Fe, ion Cu dan Zink
b. Sumber pembentukan darah
Sumsum tulang
c. Kemampuan resorbsi usus halus terhadap bahan yang diperlukan
d. Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari. Sel-sel darah merah yang sudah tua
dihancurkan kembali menjadi bahan baku untuk menjadi sel darah yang baru.
e. Terjadi perdarahan kronik (menahun)
Gangguan menstruasi
Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti mioma uteri , polip
serviks, penyakit darah
Parasit dalam usus: askariasis, ankilostimiasis, taenia
Berdasarkan faktor-faktor tersebut diatas, anemia dapat digolongkan menjadi:
1.

Anemia defesiensi besi (Kekurangan zat besi)

2.

Anemia megaloblastik (Kekurangan vitamin B12)

3.

Anemia hemolitik (Pemecahan sel-sel darah lebih cepat dari pembentukan)

4.

Anemia hipoplastik (Gangguan pembentukan sel-sel darah)

1.5 Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin


1.
a.

Pengaruh anemia terhadap kehamilan


Bahaya selama hamil

Dapat terjadi abotus

Persalinan prematuritas

Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim

Mudah terjadi infeksi

Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr%)

Mola hidatidosa

Hiperemesis gravidarum

Perdarahan antepartum

Ketuban pecah dini (KPD)


b. Bahaya saat persalinan

Gangguan his-kekuatan mengejan


Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar

Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan
tindakan operasi kebidanan

Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena atonia
uteri
Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri
c.
Pada kala nifas

2.

Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahn postpartum


Memudahkan infeksi puerperium
Pengeluaran ASI berkurang
Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan
Anemia kala nifas
Mudah terjadi infeksi mamae
Bahaya terhadap janin

Abortus

Terjadi kematian intrauterine

Persalinan prematuritas tinggi

Berat badan lahir rendah

Kelahiran dengan anemia

Dapat terjadi cacat bawaan

Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal

Inteligensia rendah

1.6 Pengobatan anemia dalam kehamilan


Untuk menghindari terjadinya anemia pada ibu hamil yaitu:
Melakukan pemeriksaan sebelum hamil meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan
laboratorium, termasuk pemeriksaan tinja untuk mengetahui adanya infeksi parasit
Mengkonsumsi preparat Fe diantaranya Barralat, Biosanbe,Iberet,
Vitonal, dan Hemaviton.
2.

Hiperemesis gravidarum

2.1 Pengertian hiperemesis gravidarum


Emesis gravidarum (mual-muntah) saat hamil dapat diatasi dengan berobat jalan, serta
pemberian obat penenang dan anti muntah. Tetapi sebagian kecil ibu hamil tidak dapat mengatasi
mual muntah yang berkelanjutan sehingga menggangu kehidupan sehari-hari dan menimbulkan
kekurangan cairan dan menggangunya keseimbangan elektrolit.
Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan cadangan karbohidrat habis dipakai untuk
keperluan energi, sehingga pembakaran tubuh beralih pada cadangan lemak dan protein, karena
pembakaran lemak kurang sempurna terjadilah badan keton dalam darah yang dapat menambah
beratnya gejala klinik.
Muntah yang berlebihan menyebabakan cairan tubuh makin berkurang, sehingga darh menjadi
kental (hemokonsentrasi) yang dapat melambatkan peredaran darah yang berarti konsumsi O2
dan makanan kejaringan berkurang. Muntah yang berlebihan dapat menyebabkan pecahnya
pembuluh darah kapiler pada lambung dan esophagus, sehingga muntah bercampur darah.

2.2 Penyebab hiperemesis gravidarum


Faktor predisposisinya:
1. Faktor adaptasi dan hormonal

2.

Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gavidarum. Dapat
dimasukkan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, wanita
primigravida, dan overdistensi rahim pada hamil ganda dan mola hidatidosa. Sebagian kecil
primigravida belum mampu beradapatasi terhadap hormonal estrogen dan koreonik
gonadotropin, sedangkan pada hamil ganda dan mola hidatidosa, jumlah hormon yang
dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan terjadi hiperemesis gravidarum itu.
Faktor psikologis

Hubungan faktor psikologis dengan hiperenesis gravidarum belum jelas. Besar kemungkinan
wanita hamil yag menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan dengan suami
dan sebagainya, diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum.
3.

Faktor alergi

Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili korialis yang masuk kedalam
peredaran darah ibu, maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis
gravidarum.
2.3 Gejala klinik hiperemesis gravidarum
Gambaran gejala hiperemesis gravidarum secara klinis dapat dibagi menjadi 3 tingkat:
1.

Hiperemesis gravidarum tingkat pertama

Muntah berlangsung terus


Makan berkurang
Berat badan menurun
Kulit dehidrasi-tonusnya lemah
Nyeri di daerah epigastrium
Tekanan darah turun dan nadi meningkat
Lidah kering
Mata tampak cekung
2.
Hiperemesis gravidarum tingkat k dua
Penderita tampak lebih lemah
Gejala dehidrasi makin tampak mata cekung, tugor kulit makin kurang, lidah kering dan
kotor
Tekanan darah turun dan nadi meningkat
Berat badan makin menurun
Mata ikterik
Gejala hemokonsentrasi makin tampak: urin berkurang, badan aseton dalam urin
meningkat
Terjadinya gangguan buang air besar
Mulai tampak gejala gangguan kesadaran, menjadi apatis
Napas berbau aseton
3.
Hiperemesis gravidarum tingkat ke tiga
Muntah berkurang
Keadaan umum wanita hamil makin menurun: tekanan darah turun, nadi meningkat,
suhu naik, keadaan dehidrasi makin jelas
Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus
Gangguan kesadaran dalam bentuk: somnolen sampai koma: komplikasi susunan saraf
pusat (ensefalopati wernicke): nistagmus-perubahan arah bola mata, diplopia-gambar
tampak ganda, perunbahan mental

2.4 Diagnosis hiperemesis gravidarum


menetapkan kejadian hiperemesis gravidarum tidak sukar, dengan menentukan kehamilan,
muntah berlebihan sampai menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi.s

Diagnosis hiperemesis gravidarum


Menetapkan kejadian niperemsis gravidarum tidak sukar, dengan menentukan kehamilan,
muntah berlebihan sampai menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi.
Pengobatan hiperemesis gravidarum
Pengobatan yang baik pada emesis gravidarum sehingga dapat mencegah hiperemesis
gravidarum. Dalam keadaan muntah berlebihan dan dehidrasi ringan, penderita emesis
gravidarum sebaiknya dirawat sehingga dapat mencegah hiperemesis gravidarum. Konsep
pengobatan yang dapat diberikan sebagai berikut:
1. Isolasi dan pengobatan psikologis.
Dengan melakukan isolasi di ruangan sudah dapat meringankan wanita hamil karena perubahan
suasana dari lingkungan rumah tangga. Petugas dapat memberikan komunikasi, informasi, dan
edukasi tentang berbagai masalah berkaitan dengan kehamilan.
2. Pemberian cairan pengganti.
Dalam keadaan darurat diberikan cairan pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi.
Cairan pengganti yang diberikan adalah glukosa 5% sampai 10% dengan keuntungan dapat
mengganti cairan yang hilang dan berfungsi sebagai sumber energi, sehingga terjadi perubahan
metabolisme dari lemak dan protein menuju ke arah pemecahan glukosa. Dalam cairan dapat
ditambahkan vitamin C, B kompleks atau kalium yang diperlukan untuk kelancaran
metabolisme. Selama pemberian cairan harus mendapat perhatian tentang keseimbangan cairan
yang masuk dan keluar melalui kateter, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan. Lancarnya
pengeluaran urin memberikan petunjuk bahwa keadaan wanita hamil berangsur-angsur membaik.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan darah, urin dan bila mungkin fungsi hati dan ginjal. Bila
keadaan muntah berkurang, kesadaran membaik, wanita hamil dapat diberikan makan minum
dan mobilisasi.
3. Obat yang dapat diberikan

Memberikan obat pada hiperemesis gravidarum sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, sehingga
dapat dipilih obat yang tidak bersifat teratogenik (dapat menyebabkan kelainan congenital cacat
bawaan bayi).
Konggonen (susunan obat) yang dapat diberikan adalah
a. Sedativa ringan.
b. Anti alergi
c. Obat anti mual-muntah.
d. Vitamin.
4. Menghentikan kehamilan.
Pada beberapa kasus, pengobatan, hiperemesis gravidarum tidak berhasil malah terjadi
kemunduran dan keadaan semakin menurun sehingga diperlukan pertimbangan untuk melakukan
gugur kandung. Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung diantaranya :
a. Gangguan kejiwaan
b. Gangguan penglihatan.
c. Gangguan faal.
Dengan memperhatikan keadaan tersebut gugur kandung dapat dipatimbangkan pada
hiperemesis gravidarum.
Prognosa dan sikap bidan pada hiperemesis gravidarum
Sebagian besar emesis gravidarum dapat diatasi dengan berobat jalan sehingga sangat sedikit
memerlukan pengobatan rumah sakit. Pengobatan penderita hiperemesis gravidarum yang
dirawat di rumah sakit, hampir seluruhnya dapat dipulangkan dengan memuaskan, sehingga
kehamilannya dapat diteruskan.

Keguguran atau abortus


Keguguran adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan
dengan berat badan kurang dari 1000 gr atau umur hamil kurang dari 28 minggu. Kejadian
abortus sulit diketahui, karena sebagian besar tidak dilaporkan dan dilakukan atas permintaan.
Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% sampai 15%.
Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi :
A. Berdasarkan kejadian :

1.

Keguguran spontan.
Terjadi tanpa ada unsur tindakan dari luar dan dengan kekuatan sendiri.

2. Keguguran buatan.
Sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat diakhiri. Upaya menghilangkan hasil
konsepsi
dapat dilakukan benfasarkan:
a. Indakasi medis.
Menghilangkan kehamilan atas indikasi ibu, untuk dapat menyelamatkan jiwanya.
Indikasi medis tersebut diantaranya:
Penyakit jantung, ginjal atau hati yang berat.
Gangguan jiwa ibu.
Dijumpai kelainan bawaan berat dengan pemeriksaan ultrasonografi.
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim
b. Indikasi sosial.
pengguguran kandungan dilakukan atas dasar aspek social :
Menginginkan jenis kelamin tertentu.
Tidak ingin punya anak.
Jarak kehamilan terlalu pendek.
Belum siap untuk hamil.
Kehamilan yang tidak diinginkan.

B. Berdasarkan petaksananya
Berdasarkan pelaku gugur kandung, dapat dibagi atau dikelompokkan:
1. Keguguran buatan terapeutik.
dilakukan tenaga medis secara legeartis berdasar indikasi medis.
2. Keguguran buatan ilegal.
dilakukan tanpa dasar hukum atau melawan hukum.
C. Berdasarkan gambaran klinisnya gugur kandung dibagi menjadi :

1. Keguguran lengkap (abortus kompletus).


semua hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya.
2. Keguguran tidak lengkap (abortus inkomletus).
sebagian hasil konsepsi masih tersisa dalam rahim yang dapat menimbulkan penyulit.
3. Keguguran mengancam (imminen).
4. Keguguran tak terhalangi (abortus insipien).
5. Keguguran habitualis.
6. Keguguran dengan infeksi (abortus infeksiosus).
7. Missed abortion.
Penyebab keguguran (abortus)
Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat bebetapa faktor
sebagai berikut :
1. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi.
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan
yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi
dapat
terjadi karena :
a. Faktor kromosom.
Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom seks.
b. Faktor lingkungan endometrium.
Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi.
Gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan
c. Pengaruh luar.
Infeksi endometrium. endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi.

Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil
konsepsi terganggu.
2. Kelainan pada plasenta.
a. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak dapat berfungsi.
b. Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes melitus.
c. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga menimbulkan
keguguran.
3. Penyakit ibu.
Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan
melalui plasenta :
a. Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis.
b. Anemia ibu. melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju sirkulasif retroplasenter
c. Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit
diabetes melitus.
4. Kelainan yang terdapat dalam rahim.
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan abnormaldalam
bentuk mioma uteri, uterus arkuatus, uterus septus, retrofleksia uteri, serviksinkompeten,
bekas operasi pada serviks (konisasi, amputasi serviks), robekan serviks postpartum.

Patofisiologi keguguran
Patofisiotogi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan
plasenta, yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O 2. Bagian yang
terlepas dianggap benda asing, sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi.
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal, yang
menyebabkan berbagai penyulit. Oleh karena itu, keguguran memberikan gejala umum sakit
perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian
hasil konsepsi.
Dasar diagnosis keguguran

Keguguran atau abortus yang dibahas adalah yang terjadi spontan dan bukan keguguran buatan.
Dugaan keguguran diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut :

Terdapat keterlambatan datang bulan

Terjadi perdarahan

Disertai sakit perut

Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi

Pemeriksaan hasil tes hamil dapat masih positif atau sudah negatif.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat ditetapkan diagnosis klinik keguguran (abortus) :

Abortus imminen

Abortus insipien

Abortus inkompletus/kompletus

Abortus infeksiosus atau septik

Habitual abortus

Missed abortion.
Dengan basil pemeriksaan demikian tatalaksana penanganan keguguran disesuaikan dengan
diagnosis klinik.

Abortus imminen (keguguran mengancam)


Keguguran mengancam (abortus imminen) ditegakkan dengan jalan :
Terdapat keterlambatan datang bulan.
Terdapat perdarahan, disertai perut sakit (mules).
Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur hamil dan terjadi kontraksi
otot rahim.
Hasil pemeriksaan dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, kanalis servikalis masih
tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim.
Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif.
Penanganan abortus imminen dilaksanakan dengan :

a.

Istirahat total ditempat tidur.

Meningkatkan aliran darah ke rahim.


Mengurangi rangsangan mekanis.
b. Obat-obatan yang dapat diberikan :
Penenang : Penobarbital 3 x 30 mgr, Valium.
Anti perdarahan : Adona, Transamin.
Vitamin B kompleks.
Hormonal : Progestron.
Penguat plasenta : Gestanon, Duphaston.
Anti kontraksi rahim : Duvadilan, Papaverin.
c. Evaluasi.
Perdarahan jumlah dan lamanya.
Tes kehamilan dapat diulangi.
Konsultasi pada dokter ahli untuk penanganan lebih lanjut dan pemeriksaan
ultrasonografi.
Keguguran membakat (abortus insipien)
Keguguran membakat ini tidak dapat dihentikan, karena setiap saat dapat terjadi ancaman
perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. Keguguran membakat ditandai dengan :
Perdarahan lebih banyak.
Perut mules (sakit) lebih hebat.
Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan
jaringan/hasil konsepsi dapat diraba
Penanganan keguguran membakat :
Pada umur hamil kurang dari 14 minggu, dapat segera dilakukan kuretage, sehingga hasil
konsepsi seluruhnya dapat dikeluarkan.
Pada kasus, dengan perdarahan banyak, dikeluarkan secara ligital.
Apabila bidan menghadapi keguguran membakat, segera berkonsultasi dengan dokter, sehingga
penderita mendapat penanganan yang tepat dan cepat.

Keguguran tak lengkap (abortus inkompletus)


Keguguran tak lengkap (abortus inkompletus) ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil
konsepsi dan uterus, sehingga sisanya memberikan gejala klinis.
Gejala klinis yang mungkin dapat terjadi :

Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.

Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat.

Terjadi infeksi dengan ditandai suhu tinggi.

Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma).


Pada pemeriksaan dijumpai gambaran :

Kanalis servikalis terbuka.

Dapat diraba jaringan dalam rahim atau di kanalis servikalis.

Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus.

Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah.


Penanganan keguguran tak lengkap (abortus inkompletus)
a. Dalam keadaan gawat karena kekurangan darah, dapat dipasang infus dan transfusi darah,
untuk

memulihkan keadaan umum.

b. Diikuti kerokan:
Langsung pada umur hamil kurang dari 14 minggu.
Dengan induksi pada umur hamil di atas 14 minggu.
c. Pengobatan.
Berikan uterotonika.
Antibiotika untuk menghindari infeksi.
Keguguran lengkap (abortus kompletus)

Keguguran lengkap (abortus kompletus) berarti seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan,
sehingga tidak memerlukan tindakan.
Gambaran klinisnya adalah uterus telah mengecil, perdarahan sedikit, dan kanalis servikalis telah
tertutup.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang keguguran lengkap, bidan dapat berkonsultasi
dengan dokter, sehingga tidak merugikan penderita.
Keguguran disertai infeksi (abortus infeksiosus)
Keguguran disertai infeksi sebagian besar dalam bentuk tidak lengkap dan dilakukan dengan cara
kurang legeartis. Keguguran dengan infeksi memerlukan tindakan medis khusus, sehingga bidan
perlu berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan. Di samping itu penatalaksanaan khusus
diperlukan pada keguguran habitualis dan missed abortion. Tugas bidan adalah mengirimkan
penderita ke pusat pelayanan kesehatan yang dapat memberikan pertolongan khusus.
Penyulit keguguran
Keguguran mempunyai penyulit sebagai berikut
1. Perdarahan.
Dapat terjadi sedikit dalam waktu panjang.
Dapat terjadi mendadak banyak, sehingga menimbulkan syok.
2. Infeksi.
Pada penanganan yang tidak legeartis.
Keguguran tak lengkap.
3. Degenerasi ganas.
Keguguran dapat menjadi korio karsinoma sekitar 15% sampai 20%.
Gejala khorio karsinoma adalah terdapat perdarahan berlangsung lama, terjadi
pembesaran/perlunakan rahim (Trias Acosta Sison), terdapat metastase ke vagina atau
lainnya.
4. Penyulit saat melakukan kuretage.
Dapat terjadi perforasi dengan gejala :

Kuret terasa tembus.


Penderita kesakitan.
Penderita syok.
Dapat terjadi perdarahan dalamperut dan infeksi dalam abdomen.
Kehamilan Ektopik
Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut dalam lumen
tuba. Tuba fallopii tidak mempunyai kemampuan untuk berkemampuan untuk berkembang dan
menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah.
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang berbahaya karena tempat implantasinya tidak
memberikan kesempatan untuk tumbuh kembang mencapai aterm. Perjalanan klinik kehamilan
ektopik bervariasi, sehingga bidan dapat dimintai pertolongan pertama. Oleh karena itu, bidan di
daerah pedesaan perlu mengetahui kemungkinan terganggunya kehamilan ektopik, sehingga
dapat melakukan rujukan medis. Terdapat dua pengertian yang perlu mendapat perhatian, yaitu
kehamilan ektopik adalah
Kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan kehamilan ekstrauterin adalah
kehamilan yang berimplantasi di luar uterus. Dengan pengertian itu maka kehamilan pada pars
interstitial tuba dan kehamilan pada servikal termasuk kehamilan intrauterin, tetapi mempunyai
sifat kehamilan ektopik yang sangat bahaya. Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada
tuba, jarang terjadi pad ovariurn, atau rongga abdomen (perut).
Berdasarkan tempat implantasinya kehamilan ektopik :
Pars intentisial tuba
Pars ismika tuba
Pan ampuralis tuba
Kehamilan infundibulum tuba
Kehamilan abdominal primer atau sekunder
Kejadian kehamilan ektopik bervariasi pada setiap pusat penelitian atau rumah sakit Frekuensi
ini tergantung dari beberapa faktor diantaranya :
a. Pemakaian antibiotika.
Menyebabkan kesembuhan dari infeksi pada tuba, tetapi lumennya menyempit sehingga

memperbesar kejadian hamil ektopik.


Pemakaian alat kontrasepsi meningkatkan kejadian hamil ektopik, karena fungsinya
menghindari hamil tetapi tidak sekaligus mengurangi hamil ektopik.
b. Umur penderita hamil ektopik antara 20 sampai 40 tahun dengan puncaknya pada
usia sekitar 30 tahun. Variasi frekuensinya antara 1:125-330 kasus.
A. Penyebab kehamilan ektopik
Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada tuba sehingga setiap gangguan pada tuba
yang disebabkan infeksi akan menimbulkan gangguan dalam perjalanan hasil konsepsi
menuju rahim. Sebagai gambaran penyebab kehamilan ektopik dapat dijabarkan sebagai
berikut :
a. Gangguan pada lumen tuba.
Infeksi menimbulkan perlekatan endosalping sehingga menyempitkan lumen.
* Hipoplasia tuba sehingga lumennya menyempit.
Operasi plastik pada tuba (rekonstruksi) atau melepaskan perlekatan dan tetap
menyempitkan tuba.
b. Gangguan di luar tuba.
* Terdapat endometriosis tuba sehingga memperbesar kemungkinan implantasi.
Terdapat divertikel pada lumen tuba.
Terdapat perlekatan sekitar tuba sehingga memperkecil lumen tuba.
* Kemungkinan migrasi eksternal, sehingga hasil konsepsi mencapai tuba dalam
keadaan Blastula.
Gejala klinik kehamilan ektopik
Gambaran klinik kehamilan ektopik bervariasi dari bentuk abortus tuba atau terjadi ruptura tuba.
Mungkin dijumpai rasa nyeri dan gejala hamil muda. Pada pemeriksaan dalam terdapat
pemhesaran uterus yang tidak sesuai dengan tua kehamilan dan belum dapat diraba kehamilan
pada tuba, karena tuba dalam keadaan lembek.
Bila terjadi gangguan kehamilan tuba, gejalanya tergantung pada tua kehamilan tuba, lamanya ke
dalam rongga abdomen, jumlah darah yang terdapat dalam rongga abdomen, dan keadaan umum

ibu sebelum kehamilan terjadi. Dengan demikian trias gejala klinik hamil ektopik terganggu
sebagai berikut :
1. Amenorea.
Lamanya amenorea bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan.
Dengan amerorea dapat dijumpai tanda tanda hamil muda, yaitu morning sickness,
mual-muntah, terjadi perasaan ngidam.
2. Terjadi nyeri abdomen.
Nyeri abdomen disebabkaa kehamilan tuba yang pecah.
Rasa nyeri dapat menjalar ke seluruh abdomen tergantung dari perdarahan di
dalamnya.
Bila rangsangan darah dalam abdomen mencapai diafragma, dapat terjadi nyeri di
daerah bahu.
Bila darahnya membentuk hematokel yaitu timbunan di daerah kavum Douglas akan
terjadi rasa nyeri di bagian bawah dan saat buang air besar.
3. Perdarahan.
Terjadinya abortus atau ruptura kehamilan tuba terdapat perdarahan ke dalam kavum
abdomen dalam jumlah yang bervariasi.
Darah yang tertimbun dalam kavum abdomen tidak berfungsi sehingga terjadi
gangguan
dalam sirkulasi umum yang menyebabkan nadi meningkat, tekanan darah menurun
sampai jatuh dalam keadaan syok.
Hilangnya darah dari peredaran darah umum yang mengakibatkan penderita tampak
anemis, daerah ujung ekstremitas dingin, berkeringat dingin, kesadaran menurun, dan
pada abdomen terdapat timbunan darah.
Setelah kehamilannya mati, desidua dalam kavum uteri dikeluarkan dalam bentuk
desidua
Spuria, seluruhnya dikeluarkan bersama dan dalam bentuk perdarahan hitam seperti
mentruasi.
Diagnosis hamil ektopik yang terganggu

Menegakkan diagnosis hamil ektopik terganggu tidaklah terlalu sukar dengan melakukan :
1. Anamnesa tentang trias kehamilan ektopik terganggu.
Terdapat amenorea (terlambat datang bulan).
Terdapat rasa nyeri mendadak disertai rasa nyeri di daerah bahu dan seluruh abdomen.
Terdapat perdarahan melalui vaginal.
2. Pemeriksaan fisik.
a. Fisik umum.
Penderita tampak anemis dan sakit
Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma tidak sadar.
Daerah ujung dingin.
Pemeriksaan nadi meningkat, tekanan darah turun sampai syok.
Pemeriksaan abdomen : perut kembung, terdapat cairan bebas-darah, nyeri saat
perabaan.
b. Pemeriksaan khusus melalui vaginal.
Nyeri goyang pada pemeriksaan serviks.
Kavum Douglas menonjol dan nyeri.
Mungkin terasa tumor disamping uterus.
Pada hematokel tumor dan uterus sulit dibedakan.
3. Kehamilan abdominal.
Kehamilan abdominal dapat berlanjut sampai mencapai besar tertentu. Dalam
perkembangannya kadang kadang mencapai aterm, atau mati karena kekurangan nutrisi
yang disebabkan plasenta tidak mencapai tempat yaqg baik. Karena trimplantasi di luar
rahim, setiap gerakan menimbulkan rasa sakit, gerakan janin tampak dengan jelas di bawah
dinding abdomen.

A. MOLA HYDATIDOSA
Mola hydatidosa adalah tumor yanq jinak (benigna) dari chorion.
Patologi :

Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung-gelembung berisi cairan jernih. Biasanya tidak
ada janin, hanya pada mola partialis kadang-kadang ada janin.
Gelembung itu sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur. Gelembung ini dapat
mengisi seluruh cavum uteri.
Di bawah mikroskop nampak degenerasi hydropik dari stroma jonjot, tidak adanya pembuluh
darah dan proliferasi trofoblast. Pada pemeriksaan chromosom didapatkan poliploidi dan hampir
pada semua kasus mola susunan sex chromatin adalah wanita.

Gejala-gejala
Pada pasien dengan amnenorrhoe terdapat :

perdarahan kadang-kadang sedikit, kadang-kadang banyak.


Karena perdarahan ini pasien biasanya anaemis.

rahim lebih besar dari pada sesuai dengan tuanya kehamilan.

hyperemesis lebih sering terjadi, lebih keras dan lebih lama.

mungkin timbul preeklampsi atau eklampsi.


Terjadinya preeklampsi atau eklampsi sebelum minggu ke 24 menunjuk ke arah mola
hydatidosa.

tidak ada tanda-tanda adanya janin ; tidak ada ballottement, tidak ada bunyi jantung anak dan
tidak nampak rangka janin pada Rontgen foto.
Pada mola partialis. keadaan yang jarang terjadi, dapat diketemukan janin.

kadar gonadotropin chorion tinggi dalam darah dan air kencing.


Diagnosa
Diagnosa baru pasti kalau kita melihat lahirnya gelembung-gelembung mola.
Untuk membuat diagnosa sering dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
1.

Ro loto :

kalau ada rangka janin maka kemungkinan terbesar bahwa kehamilan biasa
walaupun pada mola partialis kadang-kadang terdapat janin. Tidak terlihatnya janin
tidak menentukan.
2. reaksi biologis:

misalnya Galli Mainini ; pada mola hydatidosa kadar gonadotropin chorion dalam darah dan air
kencing sangat tinggi maka reaksi Galli Mainini dilakukan kwantitatip. Kadar gonadotropin yang
diperoleh selalu harus dibandingkan dengan kadar gonadotropin pada kehamilan biasa dengan
umur yang sama.
Pada kehamilan muda kadar gonadotropin naik dan mencapai puncaknya pada
Harike 100 sesudah mana kadar tersebut turun. Kadar yang tinggi sesudah hari ke 100dari
kehamilan lebih berarti dari pada kadar yang tinggi sebelum hari ke 100.
3. percobaan sonde:
pada mola sonde mudah masuk ke dalam cavum uteri, pada
kehamilan biasa ada tahanan oleh janin.
4. teknik baru yang sedang diperkembanqkan ialah :
- Arteriografi yanq memperlihatkan pengisian bilateral vena uterina yang dini.
- Suntikan zat kontras kedam uterus : memperlihatkan gambaran sarang tawon.
- Ultrasonoqrafi : gambaran badai salju.
5. Prognosa
Mola hydatidosa rnerupakan sebab kematian yang penting.
Kematian disebabkan oleh :
1.

perdarahan.

2.

perforasi misalnya oleh mola destruens di mana gelembung menembus dinding rahim
sampai terjadi perforasi.

3.

Infeksi, sepsis.

4.

choriocarcinoma setelah mola hydatidosa antara 2% 8% dan makin tinggi pada umur
tua.

6. Pengobatan
Mengingat bahaya tersebut di atas maka mola hydatidosa harus digugurkan segera setelah
diagnosa ditentukan, tetapi mengingat bahaya choriocarcinoma harus diadakan follow-up yang
teliti, jadi terapi terdiri atas 2 bagjan :
1. Pengguguran dan curettage dari mola atau dilakukan hysterektomi.

2. Follow-up untuk mengawa

Diposkan oleh Phiyoo & OneTo.... di 07.45


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: MAKALAH
1 komentar:

1.
Bahaudin Nursyah26 Juli 2011 09.37
Nice blog..!!
Balas
Muat yang lain...
Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut
Arsip Blog

2011 (1)
o Juli (1)

KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TM 1 DAN TM II

Mengenai Saya

Phiyoo & OneTo....


Lihat profil lengkapku

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.