Anda di halaman 1dari 30

Persiapan Persalinan

Tempat Melahirkan
Tempat melahirkan hendaknya disesuaikan dengan jarak tempuh dari rumah untuk
memperkirakan waktu sampai ke rumah sakit.
Perhatikan kepadatan lalu lintas pada jam-jam tertentu sehingga anda dapat
mempersiapkan jalur alternatif untuk sampai ke rumah sakit.
Prosedur masuk, fasilitas yang ada, biaya persalinan.
Lokasi kamar bersalin, agar dalam keadaan darurat mempercepat sampai ke tempat
tujuan
Tempat plasenta (ari-ari) harus sudah direncanakan di mana plasenta akan diurus,
apakah di rumah atau di tempat bersalin. Biasanya sudah disiapkan di tempat bersalin.
Kebersihan Diri dan Aktivitas Yang Dapat Dilakukan Menjelang Persalinan
Sangat disarankan untuk menjaga kebersihan diri menjelang persalinan, manfaatnya
antara lain :
a. Dengan mandi dan membersihkan badan, ibu akan mengurangi kemungkinan adanya
kuman yang masuk selama persalinan. Hal ini mengyrangi terjadinya infeksi sesudah
melahirkan.
b. Ibu akan merasa nyaman selama menjalani proses persalinan.
Saat ini, ibu yang akan melahirkan, tidak di-huknah untuk mengeluarkan tinja.
Bulu kemaluan tidak dicukur seluruhnya, hanya bagian yang dekat anus yang akan
dibersihkan, karena hal tersebut akan mempermudah penjahitan jika ibu ternyata
diepisiotomi.
Selama menunggu persalinan tiba, ibu diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sekitar
kamar bersalin.
Ibu boleh minum dan makan makanan ringan selama menunggu persalinan, disarankan
untuk tidak mengkonsumsi makanan yang berbau menyengat seperti petai atau jengkol.
Hindari kepanikan dan ketakutan
Siapkan diri ibu, ingat bahwa setelah semua ini ibu akan mendapatkan buah hati yang
didambakan.
Simpan tenaga anda untuk melahirkan, tenaga anda akan terkuras jika berteriak-teriak
dan bersikap gelisah.
Dengan bersikap tenang, ibu dapat melalui saat persalinan dengan baik dan lebih siap.
Dukungan dari orang-orang terdekat, perhatian dan kasih sayang tentu akan membantu
memberikan semangat untuk ibu yang akan melahirkan.
Persiapan kebutuhan untuk persalinan
Perkirakan jarak antara rumah dan rumah sakit serta lalu lintas yang harus dilalui jika
akan bersalin.
Perkirakan kapan waktu persalinan untuk

Sumber : Persiapan Persalinan - Bidanku.com http://bidanku.com/persiapanpersalinan#ixzz3pGdQ3A00


Pengertian Kebutuhan Fisik dan Psikologis
A. Kebutuhan Fisik
Merupakan berhubungan dengan keadaan jasmani atau fisik seseorang terhadap barang dan jasa.
Contoh yang termasuk ke dalam kebutuhan jasmani dalam bentuk barang antara lain pakaian,
makanan, minuman, obat-obatan, dan vitamin. Adapun yang yang termasuk ke dalam kebutuhan
jasmani dalam bentuk jasa antara lain kebutuhan rekreasi, mendengarkan musik, dan menonton
televisi dan bioskop. (Wikipedia.com)
A. Kebutuhan Psikologis
1. Kebutuhan Rasa Aman
Disebut juga dengan safety needs. Rasa aman dalam bentuk lingkungan psikologis yaitu
terbebas dari gangguan dan ancaman serta permasalahan yang dapat mengganggu ketenangan
hidup seseorang.
2. Kebutuhan akan Rasa Cinta dan memiliki atau Kebutuhan Social
Disebut juga dengan love and belongingnext needs. Pemenuhan kebutuhan ini cenderung pada
terciptanya hubungan social yang harmonis dan kepemilikan.
3. Kebutuhan Harga diri
Disebut juga dengan self esteem needs. Setiap manusia membutuhkan pengakuan secara layak
atas keberadaannya bagi orang lain. Hak dan martabatnya sebagai manusia tidak dilecehkan oleh
orang lain, bilamana terjadi pelecehan harga diri maka setiap orang akan marah atau tersinggung.
4. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Disebut juga self actualization needs. Setiap orang memiliki potensi dan itu perlu
pengembangan dan pengaktualisasian. Orang akan menjadi puas dan bahagia bilamana dapat
mewujudkan peran dan tanggungjawab dengan baik.

2.2 Kebutuhan Dasar Ibu dan keluarga


Kebutuhan dasar selama persalinan tidak terlepas dengan asuhan yang diberikan bidan.
Asuhan kebidanan yang diberikan, hendaknya asuhan yang sayang ibu dan bayi. Asuhan yang
sayang ibu ini akan memberikan perasaan aman dan nyaman selama persalinan dan kelahiran.
a. Konsep Asuhan Sayang Ibu.
Konsep asuhan sayang ibu menurut Pusdiknakes, 2003 adalah sebagai berikut.

b. Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan kelangsungan hidup ibu.
Pemberian asuhan harus saling menghargai budaya, kepercayaan, menjaga privasi, memenuhi
kebutuhan dan keinginan ibu.
c. Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses persalinan, menghargai
kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga
dalam pengambilan keputusan.
d. Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses
alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa adanya komplikasi.
e. Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugas kesehatan.
f. Asuhan sayang ibu menjamin ibu dan keluarganya dengan memberitahu tentang apa yang terjadi
dan apa yang bisa diharapkan. (Pusdiknakes.2003.18-21)

Badan Coalition Of Improving Maternity Services (CIMS) melahirkan Safe Motherhood


Intiative pada tahun 1987. CIMS merumuskan sepuluh langkah asuhan sayang ibu sebagai
berikut:

1. Menawarkan adanya pendampingan saat melahirkan untuk mendapatkan dukungan emosional


dan fisik secara berkesinambungan.
2. Memberi informasi mengenai praktek kebidanan, termasuk intervensi dan hasil asuhan.
3. Memberi asuhan yang peka dan responsif dengan kepercayaan, nilai dan adat istiadat.
4. Memberikan kebebasan bagi ibu yang akan bersalin untuk memilih posisi persalinan yang
nyaman bagi ibu.
5. Merumuskan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk pemberian asuhan yang
berkesinambungan.
6. Tidak rutin menggunakan praktek dan prosedur yang tidak didukung oleh penelitian ilmiah
tentang manfaatnya, seperti: pencukuran, enema, pemberian cairan intervena, menunda
kebutuhan gizi, merobek selaput ketuban, pemantauan janin secara elektronik.
7. Mengajarkan pada pemberi asuhan dalam metode meringankan rasa nyeri dengan/ tanpa obatobatan.
8. Mendorong semua ibu untuk memberi ASI dan mengasuh bayinya secara mandiri.
9. Menganjurkan tidak menyunat bayi baru lahir jika bukan karena kewajiban agama. Berupaya
untuk mempromosikan pemberian ASI dengan baik. (Pusdiknakes.2003.18-21)

Asuhan yang mendukung selama persalinan merupakan standar pelayanan kebidanan. Yang
dimaksud dengan asuhan mendukung adalah bersifat aktif dan ikut serta selama proses
berlangsung. Kebutuhan dasar ibu selama persalinan menurut Lesser dan Kenne meliputi:
1. Asuhan fisik dan psikologis
2. Kehadiran seorang pendamping secara terus-menurus
3. Pengurangan rasa sakit
4. Penerimaan atas sikap dan perilakunya dan
5. Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan aman ( Rohana, Reny Saswita,
Marisah.2011.40)
Asuhan Tubuh dan fisik
Asuahan ini berorientasi pada tubuh ibu selama dalam proses persalinan hal ini juga yang
akan menghindari ibu dari infeksi. Adapun asuhan yang dapat di berikan adalah sebagai berikut:
1. Menjaga Kebersihan Diri
a. Menganjurkan ibu membasuh sekitar kemaluannya sesudah BAK atau BAB dan menjaganya
agar tetap bersih dan kering. Hal ini dapat menimbulkan kenyamanan dan relaksasi serta
menurunkan resiko infeksi karena adanya kombinasi anatar bloody show, keringat, cairan
amnion, larutan untuk pemeriksaan vagina dan juga veses dapat membuat ibu bersalin merasa
tidak nyaman dan sangat menyengsarakan ibu. Oleh karena itu, gunakan kipas atau bisa juga
dengan kertas atau lap yang dapat di gunakan sebagai kipas.
b. Mandi di bak atau shower dapat menjadi sangat menyegarkan dan menimbulakn rasa santai, dan
merasa sehat. Jika fasilitas tidak memungkinkan, mandi di tempat tidur juga bisa menimbulakn
efek menyegarkan.
2. Berendam
Air telah dihubungkan dengan suatu perasaan sejahtera selama berabad-abad yang lalu.
Ketertarikan terhadap air dalam proses persalinan dan kelahiran bayi ini telah berkembang.
Beberapa wanita memilih untuk menggunakan kolam hanya untuk berrendam pada kala I
dan beberapa wanita memilih untuk melahirkan di dalam air, dan yang lainnya telah memberikan
komentar tentang betapa rileksnya mereka selama berada di dalam air.
Berendam dapat menjadi tindakan pendukung dan kenyamanan yang paling
menenangkan. Diperlukan bak yang cukup dalam agar air dapat menutup abdomen ibu. Hal ini

merupakan suatu bentuk hidroterapi dan kegembiraan yang akan meredakan dan membantu
konstraksi pada ibu bersalin.
3. Perawatan mulut
Ibu yang sedang ada dalam proses persalian biasanya nafasnya bau, bibir kering dan
pecah-pecah, tenggorokan kering terutama jika dalam persalinan selama beberapa jam tanpa
cairan oral dan tanpa perawatan mulut. Hal ini menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak
menyenangkan bagi orang di sekitarnya. Hal diatas dapat di hindari jika ibu mampu mencerna
cairan selama persalinannya.
Perawatan yang dapat di berikan adalah sebagai berikut:
a. Menggosok gigi, ibu bersalin harus di ingatkan untuk membawa sikat dan pasta gigi kerumah
sakit atau rumah bersalin untuk digunakan selama persalinan.
b. Mencuci mulut, dengan pemberian produk pencuci mulut sebagai tindakan untuk menyegarkan
c.

nafas
Pemberian gliserin untuk mengindari terjadinya kekeringan pada bibir, dapat di gunakan gliserin

dengan cara mengusapkannya.


d. Pemberian permen untuk melembabkan mulut dan tenggorokan, untuk mencegah aspirasi
sebaiknya anjurkan untuk mengkonsumsi permen lolipop.
4. Pengipasan
Ibu yang sedang dalam proses persalinan biasanya banyak mengeluarkan keringat,
bahkan pada ruang persalinan dengan kontrol suhu terbaik pun mereka akan mengeluh
berkeringat pada beberapa waktu tertentu. Tempat persalinan yang tidak menggunakan pendingin
akan menyebabkan perasaan tidak nyaman dan sangat menyengsarakan ibu oleh karena itu
gunakan kipas atau bisa juga dengankertas atau lap yang digunakakan sebagai pengkipas aman. (
Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.41)

Kehadiran Seorang Pendamping


Fungsi hadirnya seorang pendamping pada saat persalinan yaitu mengurangi rasa sakit,
membuat waktu persalinan lebih singkat, dan menurunkan kemungkinan persalian denga operasi.
Kebanyakan ibu bersalin sulit mengemukakan pertanyaan secara langsung pada penolong
persalinan pada saat bersalin. Kehadiran seorang pendamping memungkinkan ibu bersalin untuk
memiliki rasa percaya diri lebih besar untuk bertanya secara langsung atau melalui pendamping.

Dukungan membawa dampak positif adalah dukungan yang bersifat fisik atau emosional.
Dukungan tersebut juga meliputi beberapa aspek perawatan seperti menggosok-gosok punggung
ibu atau memegang tangannya, mempertahankan kontak mata, ditemani oleh orang-orang yang
ramah , dan di beri kepastian, bahwa ibu yang berada dalam persalinan tidak akan di tinggal
sendiri.
Penelitian juga menunjukan bukti bahwa kehadiran seorang pendamping pada saat persalian
dpat menimbulkan efek positif terhadap persalinan dalam arti dapat menurunkan morbiditas,
mengurangi rasa sakit, persalinan yang lebih singkat dan menurunnya persalinan dengan
operasi ; selain itu kehadiran seorang pendamping persalinan dapat menimbulakn rasa nyaman,
aman, semangat dukungan emosional dan dapat membesarkan hati ibu.
Beberapa penelitian membandingkan dukungan pendamping persalinan yang terus menerus
denga yang hadir sewaktu-waktu, baik oleh tenaga profesional maupun non profesional. Hasil
penelitian tersebut menunjukan bahwa dukungan pendamping dari non profesional yang terus
menerus lebih penting di bandingkan dukungan yang hanya hadir sewaktu-waktu. Alasannya
adalah memantapkan rasa percaya diri ibu.
Pendamping persalinan bisa di lakukan oleh suami, anggota keluarga, atau teman yang dia
inginkan selama proses persalinan menganjurkan mereka (pendamping) untuk melakukan peran
aktif dalam mendukung ibu dan mengidentifikasi langkah-langkah yang mungkin sangat
membantu masalah kenyamanan ibu. ( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.42)
Seorang bidan harus menghargai keinginan ibu untuk menghadirkan teman atau saudara
yang khusus menemaninya. Adapun dukungan yang dapat di berikan pendamping adalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pengusap keringat
Menemani atau membimbing ibu jalan-jalan
Memberikan minum
Mengubah posisi
Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan melakukan tindakan yang bermanfaat lainnya.
Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa nyaman
Membantu ibu bernafas pada saat kontraksi
Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan memeberikan pujian kepada ibu

Dalam buku cocrane database, suatu kajian ulang sistemmatik dari 14 percobaan yang
melibatkan 5000 wanita, memperlihatkan bahwa kehadiran seorang pendamping secara terus
menerus selama persalinan dan kelahiran akan menghasilkan hal sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Kelahiran dengan bantuan vakum dan forsep sebagai semakin kecil


Tindakan pembedahan untuk membantu kelahiran berkurang
APGAR skor kurang <7 lebih sedikit
Durasi persalinan semakin pendek
Kepuasan ibu yang semakin besar dalam pengalaman melahirkan mereka.
( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.42-43)
Pengurangan Rasa Nyeri
Metode pengurangan nyeri yang di berikan oleh pendamping persalinan secra terus menerus,
sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sederhana
Efektif
Biaya rendah
Resiko rendah
Kemajuan persalinan
Hasil kelahiran bertambah baik
Bersifat sayang ibu
Menurut Varney Midwifery, pendekatan yang dapat dilakukan untuk mnegurangi rasa sakit
adalah sebgai berikut:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Menghadirkan seseorang yang dapat mendukung persalinan


Pengaturan posisi
Relaksasi dan latihan pernafasan
Istirahat dan privasi
Penjelasan mengenai proses atau kemajuan persalinan dan prosedur tindakan
Asuhan tubuh
Sentuhan
Penny Simpkin, mengemukakan cara untuk mengurangi rasa sakit dengan cara sebagai
berikut:

1. Mengurangi rasa sakit pada sumbernya


2. Memberikan rangsangan alternatif yang kuat
3. Mengurangi reaksi mental negatif, emosional, dan reaksi ibu terhadap rasa sakit.
( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.43)
Nyeri dalam persalinan dapat di kendalikan dengan dua metode yaitu nonfarmakologis dan
farmakologis:

Nonfarmakologis
1. Satu kompres panas
Sebuah studi kecil mengenai kompres panas yang di letakkan di fundus, menemukan
bahwa tindakan ini akan meningkatkan aktivitas rahim . Kompres panas meningkatkan suhu
kulit lokal, mengurangi spasme otot dan meningkatkan ambang nyeri. Hal yang harus di
perhatikan oleh pendamping persalinan adalah panas dari alat kompres harus dapat di rasakan
senyaman mungkin oleh ibu, karena kemungkinan pada saat persalinan ibu tidak dapat bereaksi
terhadap panas yang berlebihan.
Cara pemberian kompres panas:
a. Bungkus sumber panas dengan satu atau du lapis handuk untuk memastikan sumber tidak terlalu
panas
b. Letakkan handuk basah hangat, bantalan panas, kantung pasta silika yang di panaskan, atau botol
air panas di perut bagian bawah, paha, punggung bawah, nahu, atau perineum.
Kompres panas tidak dapat di gunakan jika ibu melaporkan rasa tidak nyaman dengan panas
atau sedang demam, dan ketika bidan merasa khawatir terhadap kemungkinan terjadi bahaya
akibat panas tersebut. ( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.44)
2. Kompres dingin
Kompres dingin berguna untuk mengurangi ketegangan nyeri sendi dan otot, mengurangi
pembengkakan , dan menyejukan kulit. Kompres dingin akan membuat baal daerah yang terkena
dengan memoperlambat transmisi nyeri melalui neuron-neuron sensorik.
Cara pemberian kompres dingin:
a. Bungkus sumber dingin dengan satu atau dua lapis handuk untuk memastikan sumber tersebut
tidak terlalu dingin dan menghindari rasa tidak nyaman mendadak yang akan terjadi jika benda
dingin langsung di letakkan pada kulit dan kemungkinan toleransi dari rasa sejuk menjadi rasa
dingin.
b. Letakkan sumber kompres dingin pada punggung bawah atau perineum (kantong es, kantong
c.

jeli, kain basah yang diinginkan, atau botol plastik beku)


Pasang sabuk kantong jeli di punggung bawah sehingga memungkinkan ibu dapat bergerak

bebas
d. Kompres dingin pada rektum membantu mengurangi rasa nyeri yang tejadi karena hemoroid
Kompres dingin tidak dapat di gunakan jika ibu tidak menginginkanya dan ketika ibu
mengatakn bahwa penggunaan kompres dingin tidak membantu atau justru malah mengganggu. (
Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.44-45)

3. Hidroterapi
Selain mengurangi ketegangan, nyeri otot, nyeri sendi. Hidroterapi juka dapat
mengurangiefek grafitasi bersama ketidaknyamanan yang berkaitan dengan tekanan pada
panggul dan struktur lain, tekanan yang merata pada daerah tubuh yang terendam, dan
kehangatan seringkali menghasilkan penurunan nyeri dan kemajuan persalinan aktiv yang lebih
cepat.
Jika menggunakan bak mandi, pastikan bahwa air yang di gunakan berkisar antara 3737,50C, karena iar yang lebih hangat dapat meningkatkan suhu tubuh ibu dan mengakibatkan
trakikardi.
Pemantuan janin pada hidroterapi di lakukan dengan menggunakan doppler genggam
yang kedap air. Hidroterapi tidak dapat digunakan jika keseimbangan atau kemampuan berdiri
ibu tidak memadai-karena pengaruh obat-obatan atau sebab-sebab lain, terjadi perdarahan atau
gawat janin pada saat pembukaan lengkap dan tidak ada rencana untuk melahirkan di dalam air,
atau jika wanita sudah mendapatkan anastesi epidural untuk mengatasi nyeri. ( Rohana, Reny
Saswita, Marisah.2011.45)
4. Counterpressure
Tekanan yang terus menerus selama kontraksi di lakukan pada tulang sakrum wanita atau
kepalan salah satu tangan, atau pemerasan pada kedua pinggul. Hal tersebut dapat membantu
mengurangi nyeri punggung yang dirasakan oleh wanita melahirkan. Belum jelas bagaimana ini
dapat membantu, tetapi penekanan ini sangat membantu dalam mengurangi nyeri yang
dirasakan. Remasan panggul dapat mengurangi peregangan yang terjadi pada sakro iliaka
sehingga mengurangi tegangan-tegangan yang terjadi akibat penekanan internal dari kepala
janin. Counterpressure tidak dapat diteruskan jika wanita merasa penekanan tidak dapat
menolong dalam mengurangi rasa nyeri yang dideritanya.

( Rohana, Reny Saswita,

Marisah.2011.46)
5. Penekanan Lutut
Tekanan langsung melalui tulang paha kearah satu atau du asendi pinggul melepaskan
sendi sakro iliaka dari ketegangan dan dapat mengurangi rasa nyeri. Penekanan lutut tidak dapat
dugunakan jika ibu mengalami nyeri sendi, peradangan, atau kerusakan pada lutut, dan ketika ibu
mengalami penekanan lutut tidak membantu mengurangi rasa nyeri.
Penekanan lutut di lakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Wanita dengan posisi duduk
Wanita duduk tegak di kursi dengan kaki ditempatkan di lantai , jika tidak sampai, gunakan buku
atau penyasngga lain sehingga kaki bisa menapak. Pendamping atau bidan berlutut di depan ibu

sambil memegang lutut dan menekannya sepanjang kontraksi . Wanita akan merasakan
punggung terasa lega dan nyeri berkurang.
b. Wanita dengan posisi berbaring miring dengan satu atau dua bantal menyangga lutut.
Diperlukan 2 orang, tekanan hanya pada lutut yang terletak di bagian atas, wanita menekuk lutut
atas dan sendi pinggul sampai membentuk sudut 90 derajat. Satu orang menekan sakrum wanita
selama kontraksi untuk menstabilaknannya dan yang lainnya menekan lutut atas langsung kearah
sendi pinggul wanita. ( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.46-47)
6. Gerakan
Menggerak-gerakan tubuh secara berirama merupakan salah satu cara yang alamiah untuk
mengkoping persalianan dengan baik. Gerakan tubuh yang berirama adalah berdiri dan berayaun
pada sebuah meja, berlutut sambil bergoyang dengan di sangga pasangan, atau dengan bantuan
sebuah bola besar yang mampu menhan bebab sampai dengan 136 kg. Jika sangga pasangan,
maka akan mengurangi produksi ketoklamin sehingga meningkatkan perasaan sejahtera
Bentuk bulat dari bola memungkinkan ibu untuk berayun tanpa usaha. Hal yang perlu di
perhatikan adalah wanita sebaiknya berpegangan pada tempat tidur atau pada pasangannya
sampai ia merasa seimbang. Bola ini juga dapat digunakan untuk meringankan beban punggung
orang tua saat mereka harus menggendong bayinya di bandingkan dengan berjalan dengan
dengan menggendong bayinya.
Meskipun sudah dialami oleh sebagian besar wanita, rasa nyeri saat persalinan bersifat
unik dan berbeda pada tiap individu. Rasa nyeri memiliki karakteristik tertentu yang sama atau
bersifat

umum.

Pengendalian

rasa

nyeri

berhubungan

dengan

keputusan

untuk

mengimplementasikan atau memberikan pengendalian rasa nyeri tersebut.


Rasa nyeri pada persalinan yang di alami saat persalinan di sebabkan oleh kontraksi
uterus, dilatasi serviks, dan distensia perineum; yang terjadi pada akhir kala I dan II dengan
peregangan vagina dan dasar panggul untuk mengakomodasikan bagian terendah janin.
Adapun tindakan pendukung yang dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Pengaturan posisi
Faktor penting saat seorang wanita dalam persalinan adalah bukan saat ia akhirnya
melahirkan, tetapi saat ia tetap mampu bergerak dengan gelisah selama persalinan. Mobilisasi
akan membantu ibu untuk merasa terkendali.
Membiarkan ibu bersalin ountuk memilih posisi persalinan memiliki banyak keuntungan,
misalnya mengurangi rasa tidak nyaman; mengurangi trauma perineum, dan menjadi lebih

mudah meneran. Posisi juga merupakan salah satu dsar yang mempengaruhi keutuhan perineum.
Oleh karena itu, ibu bersalin harus diperolehkan memilih posisi mereka sendiri saat persalinan.
Posisi yang di terapkan saat persalinan harus dapat menghindari terjadinya hipoksia pada
janin, menciptakan pola kontraksi uterus yang efisien, meningkatkan dimensi pelvis,
memudahkan pengamatan janin, memebrikan paparan perineum yang baik, menyediakan daerah
yang bersih untuk melahirkan, dan menimbulkan perasaan yang nyaman bagi ibu.
a. Posisi berbsring terlentang
Posisi ini mengharuskan ibu berbaring kekiri atau kekanan. Salah satu kaki diangkat, sedangkan
kaki lainnya dalam keadaan lurus. Posisi yang disebut posisi lateral ini, umumnya dilakukan bila
posisi kepala bayi belum tepat.
Normalnya, posisi ubun-ubun bayi berada didepan jalan lahir. Posisi bayi dikatakan tidak normal
jika posisi ubun-ubunnya berada dibelakangnya atau disamping. Dalam kondisi tersebut biasanya
dokter akan mengarahkan ibu untuk mengambil posisi miring. Arah posisi ibu tergantung pada
letak ubun-ubun bayi. Jika berada dikiri, maka ibu dianjurkan untuk mengambil posisi miring

kekiri sehingga bayi diharapkan bisa berputar,demikian pula sebaliknya.


Keuntungan posisi berbaring miring adalah:
Peredaran darah balik ibu berjalan lancar,sehingga pengiriman oksigen dalam darah dari ibu ke

janin melalui plasenta tidak terganggu.


Kontraksi uterus lebih efektif
Memudahkan bidan dalam memberikan petolongan persalinan
Karena tidak terlalu menekan, proses pembukaan akan berlangsung secara perlahan lahan
sehingga persalinan berlangsung lebih nyaman
Posisi berbaring adalah:

Memerlukan bantuan untuk memegangi paha kanan ibu


b. Jongkok
Posisi ini sudah dikenal sebagai posisi bersalin yang alami.
Keuntungan posisi jongkok adalah :
Memperluas rongga panggul, diameter transversal bertambah 1 cm dan diameter anteroposterior

bertambah 2 cm
Proses persalinan lebih mudah
Posisi ini menggunakan gaya gravitasi untuk membantu turunya bayi
Mengurangi trauma pada perineum
Kekurangan posisi jongkok adalah:

Memungkinkan timbul cedera pada kepala bayi,karena tubuh bayi yang berada dijalan lahir bisa
meluncur dengan cepat. Untuk menghindari cedera, biasanya ibu berjongkok diatas bantalan

empuk yang berguna menahan kepala bayi


c. Merangkak
Pada posisi ini ibu merebahkan badan dengan posisi merangkak , kedua tanggan menyanggah

tubuh dan kedua kaki ditekuk sambil dibuka.


Keuntungan posisi merangkak adalah:
Posisi merangkak seringkali merupakan posisi paling baik bagi ibu yang mengalami nyeri

punggung saat persalinan


Mengurangi rasa sakit
Mengurangi keluhan hemoroid
d. Semi duduk
Posisi ini merupakan posisi yang paling umum diterapkan di RS/RSB di indonesia. Pada posisi
ini, ibu duduk dengan punggung bersandar pada bantal, kaki ditekuk, dan paha dibuka kearah

samping. Posisi ini cukup dapat membuka ibu merasa nyaman.


Kentungan posisi semi duduk adalah :
Memudahkan melahirkan kepala bayi
Kerugian posisi semi duduk adalah :

Titik berat berada pada tulang sakrum , sehingga tulang koksigis akan terdorong kedepan, dan

e.

akan menyebabkan rongga menjadi lebih sempit.


Duduk
Pada posisi ini, duduklah diatas tempat tidur dengan disangga beberapa bantal atau bersandar
pada tubuh pasangan. Kedua kaki ditekuk dan dibuka, tangan memegang lutut, dan tangan
pasangan membantu memegang perut ibu

Keuntungan posisi duduk adalah :


Posisi ini memanfaatka gaya gravitasi untuk membantu turunya bayi
Memberi kesempatan untuk istirahat diantara dua kontraksi
Memudahkan melahirkan kepala bayi
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih posisi persalinan.

a.

Keamanan
Posisi yang baik idealnya tidak menimbulkan cedera. Walaupun ada faktor penyulit yang
memungkinkan cedera pada ibu maupun bayinya. Paling tidak kemungkinan tersebut
diminimalkan. Cedera yang umumnya terjadi pada ibu antara lainsobeknya rahim, perdarahan

hebat, dan robekan jalan lahir, sedangkan trauma pada bayi di antaranya trauma kepala, patah
kaki atau patah tangan.
b. Kenyamanan
Tidak bisa dipungkiri bahwa persalinan merupakan kerja keras dan perjuangan bagi ibu maupun
tim medis yang menanganinya. Oleh karena itu ibu berhak mendapatkan pelayanan terbaik,
termasuk tempat bersalinyang nyaman. Tempat tidur dan segala keperluannya haruslah
c.

memenuhi standart higine guna meminimalkan resiko bayi maupun ibu terkena infeksi.
Bantuan medis
Apapun kondisi pesalinan yang dipilih, prosesnya haruslah dbantu oleh tim medis yang ahli
dan terlatih. Dokter, bdan, dokter anak serta perawat yang membantu harus bener-benar
memahami tugasnya dalam memimpin damn mendampingi ibu menjalani proses persalinan.
Dengan deikian, resiko terjadinya cedera bisa diminimalkan.
Pengaturan posisi juga melibatkan penempatan bantal, ibu bersalin memerlukan bantal
dibawah kepalanya untuk dapat meningkatkan relaksasi, mengurangi tekanan otot, dan
mengeliminasi titik-titik tekanan. Beberapa hal dibawah ini juga dapat mengurangi rasa nyeri

pada ibudiantaranya adalah sebagai berikut :


a) Anjurkan ibu mencoba posisi yang nyaman
b) Ibu boleh berjalan, berdiri ,duduk, ataupun jongkok ,berbaring, miring atau merangkak
c) Jangan menempatkan ibu pada posisi terlentang karena dapast menyebabkan supine hypotensi
sindrome
2. Relaksasi dan latihan pernafasan
Bernafas dalan dengan rileks sewaktu ada his, dengan cara meminta ibu untuk menarik nafas
panjang, tahan nepas sebentar , kemudian lepaskan dengan cara meniup sewaktu ada his. Akan
tetapi hal tersebut sudah tidak dianjurkan lagi sekanrang ibu dianjurkan untuk bernapas seperti
biasa dan meneran pada pada saat ibu merasakan adanya dorongan.
3. Usapan di punggung atau abdomen
Jika ibu suka, lakukan pemijatan dipunggung atau mengusap perut dengan lembut. Hal ini dapat
memberikan dukungan dan kenyamanan pada ibu bersalin sehingga akan mengurangi rasa sakit.
4. Pengosongan kandung kemih
Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin. Kandung kemih yang penuh akan menyebaban
nyeri pada bagian abdominal juda menyebabkan sulit turunya bagian terendah dari janin.
( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.47-54)
Metode pengendalian nyeri punggung persalinan secara farmakologis:
1. Sedatif, misalnya golongan barbitural
2. Opiod, misalnya morfin

Penerimaan terhadap kelakuan dan tingkah lakunya


Penerimaan akan tingkah laku dan sikap, juga kepercayaannya mengenai apapun yang
ibu lakukan merupakan hal terbaik yang mampu ia lakukan pada saat itu.
Biarkan sikap dan tingkah lakunya,beberapa ibu mungkin akan berteriak pada puncak
kontraksi, berusaha untuk dim, dan ada pula yang menangis. Itu semua merupakn tingkah laku
yang pada saat itu dapat dilakukannya. Sebagai seorang bidan yang dapat dilakukan adalah
dengan menyemangatinya dan bukan memarahinya.
Persalinan dan kelahiran merupan hal yang fisiologis namun banyak wanita yang tidak
siap untuk menghadapi persalinanya. Wanita biasanya membutuhkan perhatian lebih dari
suaminya dan keluarganya, bahkan bidan sebagai penolong persalinan\.
Asuhan yang harus diberikan adalah pemberian dukungan mental dan penjelasan kepada
ibu bahwa rasa sakit ini alami selma persalinan merupakan suatu proses yang harus dilalui dan
diharapkan ibu tenang dalam menghadapi persalinan. ( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.5455)
Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang aman
Setiap ibu membutuhkan informasi tentang kemajuan persalinannya, sehngga ia
mampu mengambil keputusan dan ia juga perlu diyakinkan bahwa kwmajuan persalinananya
normal. Kita hendaknya menyadari bahwa kata kata menpunyai pengaruh yang sangat kuat,
baik positif maupun negatif.
setiap ibu bersalin selalui ingin mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya:
1.

Penjelasan tentang proses dan perkembangan persalinan. Wanita yang telah siap mempunyai
anak biasanya mengetahui proses-proses persalinan dan merasa ingin diinformasikan mengenai
perkembangannnya, dsedangkan pada ibu yang belum siap biasanya mereka ingi mengetahui apa

2.

saja yang terjadi pada tubuhnya.


Jelaskan semua hasil pemeriksaan.menjelaskan mengenai hasil pemeriksaan akan mengurangi
kebingungan pada ibu, ingat bahwa pada setiap tindakan yang akan kita lakukan harus

memperoleh persetujuan.
3. Pengurangan rasa takut akan menurunkan nyeri akibat ketegangan dari rasa takut.
4. Penjelasan tentang prosedur dan adanya pembatasan hal ini memungkinkan ibu bersalin merasa
aman dan dapat mengatasinya secara efektif. Ibu bersalin harus menyadari bahwa prosedur dan
keterbatasan prosedur merupakan salah satu hal yang ia perlukan dan adan membantunya.
( Rohana, Reny Saswita, Marisah.2011.55)

2.3 Bentuk Pemenuhan Kebutuhan Fisik Ibu dan Keluarga


A. Kebersihan dan kenyamanan
Wanita yang sedang bersalin akan merasa sangat panas dan berkeringat banyak,
karena itu akan sangat mendambakan kesempatan untuk mandi atau bersiram jika ia
bisa. Jika si ibu bisa berdiri ia akan senang bila bisa digosok tubuhnya dengan spons,
khususnya bagian muka dan lehernya dengan air dingin. Sebuah gaun yang bersih dan
adem akan sangat disukai dan sebuah kipas angin akan sangat menyejukkan.
Mulutnya bisa disegarkan dengan menggosok gigi. Ia mungkin pula ingin mengulum
ngulum es.

B.

Rasa Aman dan Nyaman Selama Kehamilan

Ketidaknyamanan fisik maupun psikologis dapat terjadi pada ibu selama


kehamilan. Kerjasama bidan dengan keluarga sangat diharapkan agar dapat
memberikan perhatian dan mengatasi masalah yang terjadi selama kehamilan.
Dukungan dari suami, keluarga yang lain dan tenagakesehatan dapat memberikan
perasaan aman dan nyaman selama kehamilan. Kebutuhan ibu hamil ada dua, yaitu:
1. Menerima tanda-tanda bahwa ibu dicintai dan dihargai.
2. Merasa yakin akan penerimaan pasangannya terhadap calon bayinya
C.

Posisi
Persalinan dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal, tanpa disadari dan mau tak
mau harus berlangsung. Untuk membantu ibu agar tetap tenang dan rileks sedapat mungkin
bidan tidak boleh memaksakan pemilihan posisi yang diinginkan oleh ibu dalam persalinannya.
Sebaiknya, peranan bidan adalah untuk mendukung ibu dalam pemilihan posisi apapun yang
dipilihnya, menyarankan alternatif alternatif hanya apabila tindakan ibu tidak efektif atau
membahayakan bagi dirinya sendiri atau bagi bayinya. Bila ada anggota keluarga yang hadir

untuk melayani sebagai pendukung ibu, maka bidan bisa menawarkan dukungan pada orang
yang mendukung ibu tersebut.
Posisi untuk persalinan
POSISI
Duduk / setengah duduk

ALASAN / RASIONALISASI
Lebih mudah bagi bidan untuk membimbing kelahiran

Posisi merangkak

kepala bayi dan mengamati/mensupport perineum


Baik untuk persalinan dengan punggung yang sakit,
membantu bayi melakukan rotasi, peregangan minimal pada

Berjongkok / berdiri

perineum
Membantu penurunan kepala bayi, memperbesar ukuran

Berbaring miring ke kiri

panggul, memperbesar dorongan untuk meneran


Memberi rasa santai bagi ibu yang letih, memberi
oksigenisasi yang baik bagi bayi, membantu mencegah
terjadinya laserasi

D. Kontak fisik
Si ibu mungkin tidak ingin bercakap cakap tetapi ia mungkin akan merasa nyaman dengan
kontak fisik. Partnernya hendaknya didorong untuk mau berpegangan tangan dengannya,
menggosok punggungnya, menyeka wajahnya dengan spons atau mungkin hanya mendekapnya.
Sebagian pasangan suami istri mungkin ingin mempraktekkan dimana partnernya mengelus
elus perut dan paha wanita atau tehnik tehnik lain yang serupa. Mereka yang menginginkan
kelahiran yang aktif bisa mencoba stimulasi puting dan klitoris untuk mendorong pelepasan
oksitosin dari kelenjar pituitary dan dengan demikian merangsang kontraksi uterus secara
alamiah. Hal ini juga akan merangsang produksi endogenous opiates, yang memberikan sedikit
analgesia alamiah.
E.

Pijatan
Wanita yang menderita sakit punggung atau nyeri selama persalinan mungkin akan merasakan
pijatan sangat meringankan. Sebagian wanita mungkin akan merasakan pijatan pada abdominal
menyenangkan, elusan ringan diatas seluruh perut emang bisa terasa enak, dengan menggunakan
kedua tangan dan melakukan ujung jari menyentuh daerah symphysis pubis, melintas diatas
fundus uterus dan kemudian turun ke kedua sisi perut.

F.

Kebutuhan cairan dan nutrisi

Berdasar hasil penelitian terdahulu bahwa pemberian makanan padat dengan pasien yang
memerlukan anestesi tidak disetujui. Motilitas, absorpsi dan sekresi asam lambung menurun. Hal
ini dapat menyebabkan makanan dapat tertinggal di lambung sehingga dapat terjadi aspirasi
pneumonia. Namun demikian, kebutuhan akan cairan masih diperbolehkan. Selama persalinan,
ibu memerlukan minum dan sangat dianjurkan minum minuman yang manis dan berenergi.
Sebagian ibu masih berkeinginan untuk makan selama fase laten persalinan , tetapi memasuki
fase aktif , hanya ingin minum saja. Pemberian makan dan minum selama persalinan merupakan
hal yang tepat, karena memberikan lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi (dehidrasi dapat
menghambat kontraksi / tidak teratur dan kurang efektif). Oleh karena itu, anjurkan ibu makan
dan minum selama persalinan dan kelahiran bayi, anjurkan

keluarga selalu menawarkan

makanan ringan dan sering minum pada ibu selama persalinan.


G. Kebutuhan eliminasi
Selama persalinan terjadi penekanan pada pleksus sakrum oleh bagian terendah janin
sehingga menyebabkan retensi urin maupun sering berkemih. retensi urin terjadi apabila:
1. Tekanan pada pleksus sakrum menyebabkan terjadinya inhibisi impuls sehingga vesica
uretra menjadi penuh tetapi tidak timbul rasa berkemih
2. Distensi yang menghambat saraf reseptor pada dinding vesica uretra
3. Tekanan oleh bagian terendah pada vesica uretra
4. Kurangnya privasi/postur yang kurang baik
5. Kurangnya kesadaran untuk berkemih dan
6. Anastesi regional, epidural, blok pudendal sehingga obat mempengaruhi saraf vesica
uretra.
Pemenuhan kebutuhan eliminai selama persalinan perlu difasilitasi agar membantu kemajuan
persalinan dan pasien merasa nyaman. Oleh karena itu, anjurkan ibu untuk bereliminasi secara

spontan minimal 2 jam sekali selama persalinan, apabila tidak mungkin dapat dilakukan
kateterisasi.
Pengaruh kandung kemih penuh selama persalinan, sebagai berikut:
1. Menghambat penurunan bagian terendah janin, terutama bila berada di atas spina
isciadika
2. Menurunkan efisiensi kontraksi uterus
3. Menimbulkan nyeri yang tidak perlu;
4. Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada kala II
5. Memperlambat kelahiran plasenta dan
6. Mencetuskan perdarahan pasca persalinan dengan menghambat kontaksi uterus.
(Ari Sulistyawati, 2010)
2.4 Bentuk Pemenuhan Kebutuhan Psikologis Ibu dan Keluarga
A. Persiapan untuk persalinan
Pada suatu tahap dalam masa persalinannya semua wanita akan menyadari keharusan untuk
melahirkan anaknya.
B. Memberikan informasi
Idealnya setiap wanita yang hamil haruslah memperoleh kesempatan untuk membentuk
hubungan dengan seorang bidan tertentu agar supaya advis bisa diberikan secara konsisten dan
wanita tersebut akan merasa rileks dan bisa bebas meminta informasi. Dengan cara demikian
setiap wanita akan bisa mendapatkan informasi sebanyak yang diinginkannya.
C.

Mengurangi kecemasan
Meskipun setiap wanita mungkin akan merasa sedikit takut tentang beberapa aspek dari
kehamilan dan persalinan, banyak diantaranya merasa bahwa hal tersebut tidaklah berdasar.

D. Keikutsertaan dalam perencanaan

Pasangan pasangan yang bisa berpartisipasi dalam perencanaan asuhan mereka dengan cara
ini akan merasa bahwa hal tersebut akan dianggap penting bagi para pemberi asuhan dan akan
merasa lebih tenang dalam menghadapi seluruh pengalaman memasuki rumah sakit. Bidan harus
ingat bahwa bagi pasangan pasangan muda, sebuah rumah sakit itu bagaikan benda asing,
lingkungan yang belum dikenal yang dihubungkan dengan sakit dan mati dan bahwa mungkin
saja mereka belum pernah datang ke tempat seperti itu.
E.

Berkenalan dengan para staf


Berkenalan dengan staf ruang bangsal persalinan serta melihat lihat lingkungannya akan
sangat berguna bagi sebagian besar wanita. Jika penggunaan perlengkapan dijelaskan tentu akan
terasa tidak seperti rumah sakit dan akan kurang menakutkan. Pendekatan tim asuhan akan
dirancang untuk bisa menaarkan kesinambungan asuhan dari si pemberi asuhan kepada setiap
wanita agar supaya dia mendapatkan rasa aman bahwa ia akan bertemu dengan orang orang
yang sudah dikenalnya selama kontak dengan penyedia jasa persalinannya.

F.

Support Keluarga
Kehamilan merupakan krisis bagi kehidupan keluarga yang dapat diikuti dengan stres dan
kecemasan. Perubahan dan adaptasi selama kehamilan, tidak hanya dirasakan oleh ibu tetapi
seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, selama kehamilan seluruh anggota keluarga harus
terlibat terutama suami. Dukungan dan kasih sayang dari anggota keluarga dapat memberikan
perasaan nyaman dan aman ketika ibu merasa takut dan khawatir dengan kehamilannya.

G. Dukungan Suami
Dukungan dan peran serta suami selama kehamilan meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam
menghadapi kehamilan dan persalinan bahkan dapat memicu produk ASI. Tugas suami yaitu
memberikan

perhatian

dan

membina

hubungan

baik

dengan

istri,

sehingga

istri

mengkonsultasikan setiap masalah yang dialaminya selama kehamilan. Penelitian yang dimuat
dalam artikel What Your Partner Might Need From You During Pregnancy terbitan Allina
Hospitals dan Clinics (2001), Amerika Serikat, mengatakan keberhasilan seorang istri dalam
mencukupi kebutuhan ASI untuk bayinya kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar peran dan
keterlibatan suami dalam masa kehamilan. Contoh dukungan suami selama kehamilan antara

lain: mengajak istri jalan-jalan ringan, menemani istri memeriksakan kehamilannya, tidak
membuat masalah dalam berkomunikasi.
Penelitian di Indonesia, dukungan suami yang diharapkan istri yang sedang hamil antara lain:
1. Suami mendambakan bayi dalam kandungan istri
2. Suami senang mendapat keturunan
3. Suami menunjukkan kebahagiaan pada kehamilan istri saat ini
4. Suami memperhatikan kesehatan istri
5. Suami menghibur atau menenangkan ketika istri menghadapi masalah
6. Suami menasihati istri agar tidak terlalu lelah bekerja
7. Suami membantu tugas istri
8. Suami berdoa untuk kesehatan istri dan keselamatan ibu-calon bayi
9. Suami menunggu ketika istri melahirkan baik secara normal maupun operasi
H. Dukungan Keluarga
Keluarga harus menjadi bagian dalam mempersiapkan pasangan menjadi orang tua.
dukungan keluarga dapat berbentuk:
1. Orang tua kandung maupun mertua mendukung kehamilan ini
2. Orang tua kandung maupun mertua sering berkunjung
3. Seluruh keluarga mendoakan keselamatan ibu dan bayi
4. Menyelenggarakan ritual adat istiadat

I.

Dukungan Lingkungan

Dukungan lingkungan dapat berupa:


1. Doa bersama untuk keselamatan ibu dan bayi
2. Membicarakan dan menasehati tentang pengalaman hamil dan melahirkan
3. Kesediaan untuk mengantarkan ibu periksa
4. Menunggui ibu ketika melahirkan
5. Mereka dapat menjadi seperti saudara ibu hamil
J.

Support Tenaga Kesehatan


Tenaga kesehatan khususnya bidan sangat berperan dalam memberikan dukungan pada ibu
hamil. Bidan sebagai tempat mencurahkan segala isi hati dan kesulitannya dalam menghadapi
kehamilan dan persalinan. Tenaga kesehatan harus mampu mengenali keadaan yang terjadi
disekitar ibu hamil. Hubungan yang baik, saling mempercayai dapat memudahkan bidan/ tenaga
kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan.
Peran bidan dalam memberikan dukungan antara lain:
melalui kelas antenatal, memberikan kesempatan kepada ibu hamil yang bermasalah untuk
konsultasi , meyakinkan bahwa ibu dapat menghadapi perubahan selama kehamilan, membagi
pengalaman yang pernah dirasakan sendiri, dan memutuskan apa yang harus diberitahukan pada
ibu dalam menghadapi kehamilannya.

K. Persiapan Menjadi Orang Tua


Persiapan menjadi orang tua sangat penting karena akan terjadi banyak perubahan peran
ketika bayi lahir. Bagi pasangan baru, persipan dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi.
Sedangkan bagi pasangan yang telah mempunyai lebih dari satu anak dapat belajar dari
pengalaman mengasuh anak sebelumnya. Persiapan yang tidak kalah pentingnya adalah
persiapan ekonomi. Persiapan menjadi orang tua mempunyai dua komposnen yaitu:
1. Komponenyang bersifat praktis dan mekanis, melibatkan keterampilan kognitif dan
motorik Keterampilan kognitif-motorik misalnya memberi makan, menjaga dari
bahaya. Kemampuan ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan budaya.

2. Komponen yang bersifat emosional, melibatkan keterampilan afektif dan kognitif


Keterampilan kognitif-afektif misalnya: bersikap yang lembut, waspada dan memberi
perhatian kepada bayinya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan terhadap kehadiran dari bayi baru lahir adalah:
1. Temperamen
2. Cara pasangan mengartikan stres dan bantuan
3. Bagaimana mereka berkomunikasi dan mengubah peran sosial mereka
Terdapat 2 fase peralihan menjadi orang tua yaitu fase penantian dan fase bulan madu.

Fase Penantian

1. Berkaitan dampaknya pada kehamilan


2. Calon orang tua perlu menyelesaikan tugasnya untuk menjadi orang tua, misalnya: pembagian
tugas dalam keluarga.
3. Pasangan dalam fase ini akan mengalami perasaan yang hebat, tantangan, dan tanggung jawab

Fase bulan madu

1. Sangat berdampak pada masa puerperium, perlu mendapat perhatian pada asuhan kebidanannya
2. Bersifat psikis dan bukan merupakan saat damai dan gembira
3. Hubungan antar pasangan memiliki peran penting dalam membina hubungan baru dengan bayi
4. Merupakan fase yang berat adaptasi dengan anggota baru.
L. Persiapan Sibling
Sibling rivalry adalah rasa persaingan antara saudara kandung akibat kelahiran anak
berikutnya. Sibling ditunjukkan dengan penolakan terhadap kelahiran adiknya, menangis,
menarik diri dari lingkungannya, menjauh dari ibunya atau melakukan kekerasan terhadap
adiknya. Usia dan tingkat perkembangan anak mempengaruhi respon mereka. Oleh karena itu,
persiapan harus memenuhi kebutuhan setiap anak. Persiapan bagi anak mencakup penjelasan
yang dilihat dan di dengar.

Cara untuk mengatasi terjadinya siblig , antara lain:


1. Menjelaskan pada anak tentang posisinya
2. Melibatkan anak dalam persiapan kelahiran adiknya
3. Mengajak anak berkomunikasi dengan calon bayi yang ada dalam kandungan ibunya
4. Mengenalkan anak dengan profil bayi .(Ari Sulistyawati, 2010)

Tanda Bahaya Kala 1

Bahaya / komplikasi persalinan sulit / abnormal.

1. kematian ibu atau kematian bayi atau keduanya


2. ruptura uteri
3. infeksi / sepsis puerperal
4. perdarahan postpartum
5. fistel

Deteksi penyulit persalinan

Rujuk Ibu apa bila didapatkan salah satu atau lebih penyulit seperti berikut:
1.

Riwayat bedah sesar.

2.

Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur darah (show).

3.

Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu).

4.

Ketuban pecah disertai dengan mekonium yang kental.

5.

Ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit meconium disertai dengan tanda-tanda
gawat janin

6.

Ketuban pecah (>24 jam) atau ketuban pecah pada kehamilan kurang dari 37 minggu.

7.

Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi:

Temperature > 380C

Menggigil

Nyeri abdomen

Cairan ketuban berbau

8.

Tekanan darah lebih dari 160/110 dan terdapat protein dalam urin (preeklamsi berat).

9.

Tinggi fundus 40 cm atau lebih. (makrosomia, Polihidramnion, gemeli)

10.

DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali/menit pada dua kali penilaian dengan jarak 5
menit pada (gawat janin).

11.

Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5.

12.

Presentasi bukan belakang kepala.

13.

Presentasi majemuk.

14.

Tali pusat menumbung.

15.

Tanda dan gejala syok

16.

Tanda dan gejala persalinan dengan fase laten berkepanjangan :

Pembukaan servik kurang dari 4 cm setelah 8 jam


Kontraksi teratur (lebih dari 2 kali dalam 10 menit)
17.

Tanda atau gejala belum inpartu

Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya 20 detik
Tidak ada perubahan pada serviks dalam waktu 1-2 jam
18.

Tanda atau gejala Partus lama :

Pembukaan servik mengarah kesebelah kanan garis waspada


(partograf)
Pembukaan servik kurang dari 1 cm per jam
Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit, dan lamanya 40 detik.

May
7

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN PERSALINAN PADA KALA 1


BAB I
PENDAHULUAN

PEMBAHASAN
2.1 Partograf
Partograf merupakan gambaran persalinan yang meliputi semua pencatatan
yang berhubungan dengan penatalaksanaannya. Hasil rekaman ini lebih efisien
daripada catatan panjang dan memberikan gambaran pictogram terhadap hal-hal
yang penting dari persalinan serta tindakan yang segera harus dilakukan terhadap
perkembangan persalinan yang abnormal.
Nilai suatu partograf meliputi :
- Pencatatan yang jelas
- Urutan waktu yang jelas
- Diagnosis suatu kemajuan persalinan yang abnormal

- Memudahkan saat penggantian staf atau gilliran dinas


- Untuk pendidikan
- Untuk penelitian.
Bagian-bagian partograf :
1. Identitas
2. Denyut jantung janin
3. Servikograf
4. Waktu
5. Air ketuban
6. Kontraksi per 10 menit
7. Oksitosin
8. Obat-obatan dan cairan intravena
9. Nadi dan tekanan darah ibu
10. Urin
11. Temperatur ibu
12. Kala III.
A. Identitas
Identitas meliputi :
- Tanggal Hari pertama haid terakhir

- Gravida Taksiran parrtus


- Para Nomor register
- Abortus Pecah ketubaan janin
- Nama
B. Denyut Jantung Janin
Denyut jantung janin dihitung dan dicatat setiap 30 menit lalu menghubungkan
setiap titik (jumlah denyut jantung janin dihubungkan).
C. Servikograf
Friedman membagi persalinan dalam 2 fase, yaitu :
1. Fase I (fase laten) Biasanya berlangsung selama 8-10 jam, dimulai dari awal
persalinan sampai pembukaan serviks 3 cm.
2. Fase II (fase aktif) Fase ini dimulai dari pembukaan serviks 3 cm sampai
pembukaan lengkap (10 cm). Pemeriksaan dalam vagina dilakukan saat pasien
masuk rumah sakit, dilanjutkan setiap 4 jam untuk menilai pembukaan serviks.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan lebih sering pada pasien yang persalinannya sudah
berjalan lebih jauh, terutama pasien multipara. Pembukaan mulut rahim dicatat
dengan tanda X. Bila pasien masuk rumah sakit dalam fase aktif, tanda X
diletakkan pada garis waspada sedangkan waktu masuknya pasien ditulis dibawah
tanda X. Apabila pembukaan mulut rahim ketika pasien masuk rumah sakit dalam
fase laten kemudian masuk kedalam fase aktif dalam jangka waktu kurang 8 jam
maka tanda X dipindahkan ke garis waspada. Perpindahan ini digambarkan
dengan garis putus-putus sampai pada garis waspada dan diberi tanda Tr.

Untuk menentukan seberapa jauh bagian depan anak turun ke dalam rongga
panggul, digunakan bidang HODGE (H) sebagai berikut :

1. HI

: Sama dengan pintu atas panggul

2. HII

: Sejajar dengan H I melalui pinggir bawah simfisis pubis

3. HIII : Sejajar dengan H I melalui spina iskiadika


4. HIV : Sejajar dengan H I melalui ujung tulang koksigeus.
Porsio dinilai dengan memperhatikan kekakuan, lunak, tebal, mendatar
atau melepasnya porsio.
D. Waktu
Waktu 0 dianggap pada saat pasien masuk rumah sakit bukan pada saat
timbulnya persalinan.
E. Air Ketuban
Air ketuban bisa :
- Utuh (U)
- Jernih (J)
- Campur mekonium (M)
- Kering (K)
Mulase (penyisipan tulang tengkorak janin) ditandai dengan :

: Tulang tengkorak terpisah dan sutura dapat teraba dengan mudah

: Tulang tengkorak saling berdekatan

++

: Tulang tengkorak tumpang tindih

+++

: Tulang tengkorak tumpang tindih dengan nyata.

Posisi kepala ditandai dengan memperhatikan letak dari ubun-ubun kecil.


F. Kontraksi Uterus
Kontraksi uterus dihitung per 10 menit, terbagi atas :
- Kurang 20 detik : Tanpa arsiran
- 20-40 detik : Dengan arsiran
- Lebih 40 detik : Dihitamkan
G. Oksitosin
Hal yang diperhatikan :
- Jumlah unit per 500 cc
- Jumlah tetesan per menit
H. Nadi & Tekanan Darah Ibu
Nadi diukur setiap 30 menit; tekanan darah diukur setiap jam atau lebih sering bila
ada indikasi (edema, hipertensi).
I.

Urin

Yang diukur :
- Volume
- Albumin
- Glukosa