Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN BAYI BARU LAHIR


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga

KELOMPOK I
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Crispina S. Nuryanti
Leli Ika Hariyati
Alfan Fachrul Rozi
Anggar Dwi Untari
Selvi Ratu Djawa
Rian Kusuma Dewi
Awalludin Suprihadi P
Delisa Alfriani

131611123001
131611123002
131611123003
131611123004
131611123005
131611123006
131611123007
131611123008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan pada bayi ditujukan pada bayi usia 29 hari sampai dengan
11 bulan dengan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi klinis kesehatan (Kemenkes, 2014). Dari data
(Kemenkes, 2014) kelompok usia anak di Indonesia pada tahun 2013 mencakup 37,66 %
dari seluruh kelompok usia, dimana kelompok usia bayi sejumlah 4.665.025.
Pelayanan kesehatan pada bayi menurut (Kemenkes, 2014) terdiri dari
penimbangan berat badan, pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, Polio 1-4, dan
Campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) bayi,
pemberian vitamin A pada bayi, penyuluhan perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan
ASI Eksklusif dan pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI). Namun dalam
pelaksanaan pelayanannya masalah pelayanan kesehatan pada bayi yang sering terjadi
terjadi di Indonesia adalah pemberian ASI ekslusif dan pemberian imunisasi dasar.
Cakupan pemberian ASI ekslusif pada bayi 0-6 bulan di Indonesia 2014 sebesar 52,3%
(target nasional 80%), sedangkan cakupan

imunisasi dasar lengkap pada bayi

di

Indonesia tahun 2014 sebesar 86,9% (target nasional 90%) (Kemenkes, 2014).
Untuk mengatasi masalah pelayanan tersebut perlu adanya kerjasama antar
berbagai pihak diantaranya pemerintah, tenaga

kesehatan dan keluarga. Keluarga

menjadi salah satu bagian penting dalam pemberian pelayanan kesehatan pada bayi
karena keluarga merupakan bagian terdekat dari bayi tersebut.
Namun keluarga pada tahap perkembangan dengan bayi baru lahir terkadang
kesulitan ikut serta menjalankan perannya dalam pemberian pelayanan kesehatan pada
bayi. Hal ini karena periode keluarga dengan bayi baru lahir adalah waktu transisi fisik
dan psikologis bagi ibu dan seluruh keluarga. Orang tua harus beradaptasi terhadap
perubahan struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga, yaitu anak. Dengan
kehadiran anak maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola interaksi dalam
keluarga harus dikembangkan. Pada periode transisi, keluarga membutuhkan adaptasi
yang cepat, sehingga kondisi ini menempatkan keluarga menjadi sangat rentan dan
mereka memerlukan

bantuan

untuk beradaptasi dengan

peran yang baru. Untuk

mengetahui peran perawatpada keluarga dengan bayi baru lahir maka kelompok kami
tertarik untuk membahas asuhan keperawatan pada keluarga dengan bayi baru lahir.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar serta asuhan keperawatan keluarga
dengan bayi baru lahir.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pengertian keluarga dengan bayi baru
lahir
b. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang tahap perkembangan keluarga dengan
bayi baru lahir
c. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang tugas keluarga dengan bayi baru lahir
d. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang permasalahan yang terjadi pada keluarga
dengan bayi baru lahir
e. Mahasiswa mampu menjelaskan proses keperawatan keluarga dengan bayi baru
lahir
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil penulisan makalah ini dapat membantu dan mempermudah mahasiswa
dalam memahami dan membentuk kerangka berpikir secara sistematis tentang asuhan
keperawatan keluarga dengan bayi baru lahir.
2. Manfaat Praktis
a. Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada keluarga dengan bayi
baru lahir.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP DASAR KELUARGA
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan (Setiadi, 2008).
Menurut UU No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang
terdiri dari suami-isteri, atau suami-isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya.
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan,
adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang
umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial diri tiap
anggota keluarga (Duval dan logan, 1986 dalam Setiadi, 2008).
2. Tipe Keluarga
Menurut Sri Setyowati (2007), Tipe keluarga dibagi menjadi dua macam yaitu :
a. Tipe Keluarga Tradisional
1) Keluarga Inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak-anak
2) Keluarga Besar (Exstended Family), adalah keluarga inti ditambah dengan
sanak saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan
sebagainya.
3) Keluarga Dyad, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami dan istri
tanpa anak.
4) Single Parent yaitu suatu rumah yang terdiri satu orang tua (ayah/ibu)
dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian
atau kematian
5) Single Adult yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa
(misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost untuk
bekerja/kuliah)
b. Tipe Keluarga Non Tradisional
1) The Unmarriedteenege Mother, yaitu keluarga yang terdiri dari orang tua
(terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah
2) The Stepparent Family, yaitu keluarga dengan orang tua tiri
3) Commune Family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan
saudara hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama,
pengalaman yang sama: sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok
atau membesarkan anak bersama.

4) The Non Heterosexual Conhibiting Family


Keluarga yang hidup bersama dan berganti-ganti pasangan melalui pernikahan
5) Gay And Lesbian Family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana
suami-istri (marital partners)
6) Foster Family , yaitu keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga atau sudara didalam waktu sementara, pada saat orang tua anak
tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang
aslinya
7) Homeless Family, yaitu keluarga yang terbentuk dan tidaknya mempunyai
perlindungan yang permanent karena krisis personal yang dihubungkan
dengan keadaan ekonomi dan suatu problem kesehatan mental
8) Gang , yaitu sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda
yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi
berkembang dalam kekerasan dan krminal dalam kehdupannya.
3. Struktur Keluarga
Menurut Setiadi (2008), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya
adalah:
a. Patrilineal, yaitu keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah
b. Matrilineal, yaitu keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu
c. Matrilokal, yaitu sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri
d. Patrilokal, yaitu sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami
e. Keluarga kawinan, yaitu hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembina
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena
adanya hubungan dengan suami atau istri.
4. Fungsi Keluarga
Menurut Setiadi (2008), terdapat beberapa fungsi keluarga, antara lain:
a. Fungsi Biologi
1) Untuk meneruskan keturunan
2) Memelihara dan membesarkan anak
3) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
4) Memelihara dan merawat anggota keluarga
b. Fungsi Psikologi
1) Memberikan kasih sayang dan rasa aman
2) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
3) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4) Memberikan identitas keluarga
c. Fungsi Sosialisasi
1) Membina sosial pada anak
2) Membina norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan
anak

3) Menaruh nilai-nilai budaya keluarga


d. Fungsi Ekonomi
1) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
2) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak, jaminan hari tua
dan sebagainya
e. Fungsi Pendidikan
1) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan
membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki
2) Mempersiapkan anak untuk kehiduoan dewasa yang akan datang dalam
memenuhi peranannya sebagai orang dewasa
3) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya

Sedangkan menurut Effendy (1998) dalam (Setiadi, 2008), dari berbagai fungsi diatas
terdapat 3 fungsi pokok keluarga , yaitu:
a. Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada
anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang
sesuai usia dan kebutuhannya
b. Asuh adalah memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar
kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan anak-anak yang
sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual
c. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi
manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
5. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan
Lima (5) tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan menurut
Friedman (1998), dalam (Murwani, 2008), yaitu:
a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung
menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya
perubahan perlu segera dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi
beberapa besar perubahannya.
b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang
tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara
keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan
keluarga maka segera melakukan tindakan tepat agar masalah kesehatan dapat

dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan seyogyanya


meminta bantuan orang lain dilingkungan sekitar keluarga.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Perawatan ini dapat dilakukan tindakan dirumh apabila keluarga memiliki
kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama atau kepelayanan
kesehatan untuk memperoleh tindakan lanjutan agar masalah yang lebih para tidak
terjadi.
d. Mempertahankan /menciptakan suasana rumah sehat
e. Mempertahankan hubungan dengan menggunakan fasilitas kesehatan masyarakat
(pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).
6. Tahap Perkembangan Keluarga
Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara unik,
namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama (Rodgers cit
Friedman, 1998).
Duval, 1997 dalam Sudiharto 2007 menjelaskan bahwa daur atau siklus
kehidupan keluarga terdiri dari delapan tahap perkembangan yang mempunyai tugas
dan risiko tertentu dalam tiap tahap perkembangannya.
a. Pasangan baru/keluarga baru (bargaining family)
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan
perempuan membentuk keluarga melalui perkawainan sah dan meninggalkan
(psikologi) keluarga masing-masing: (pasangan baru menikah yang belum
mempunyai anak)
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
1) Membina hubungan intim/perkawinan yang saling memuaskan
2) Menetapkan tujuan bersama
3) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok social
4) Persiapan menjadi orang tua
5) Mendiskusikan rencana memiliki anak dan memahami prenatal care
(pengertian kehamilan, persalinan dan menjadi orang tua)
b. Keluarga dengan kelahiran anak pertama (child-bearing)
Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan sampai
kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan. Masa
ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan menimbulkan krisis keluarga.
Studi klasik Le Master (1957) dari 46 orang tus dinyatakan 17% tidak bermasalah,
selebihnya bermasalah dalam hal:
1) Suami merasa diabaikan
2) Peningkatan perselisihan dan argument
3) Interupsi dalam jadwal kontinyu
4) Kehidupan seksual dan social terganggu dan menurun

Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:


1) Parsiapan menjadi orang tua
2) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
sexual dan kegiatan keluarga
3) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan
4) Membagi peran dan tagging jawab
c. Keluarga dengan anak pra-sekolah
Tahap ini dimulai saat anak pertama/tertua berusia 2,5 tahun dan berakhir
saaat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan disesuaikan dengan kebutuhan
pada anak pra sekolah (sesuai dengan tumbuh kembang, proses belajar dan kontak
sosial) dan merencanakan kelahiran berikutnya.
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat tinggal,
privasi dan rasa aman
2) Membantu anak bersosialisasi
3) Berdaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain
juga harus terpenuhi
4) Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun di luar
keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)
5) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang paling
repot)
6) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
7) Merencakana kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak
d. Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah, anak tertua berusia 6 tahun
dan berakhir pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah
anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk:
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
1) Membantu sosialisasi anak: tetangga, sekolah dan lingkungan, termasuk
membantu anak-anak mencapai prestasi ayng baik di sekolah, membantu
anak-anak membina hubungan dengan teman sebaya)
2) Mempertahankan keintiman pasangan/mempertahankan hubungan perkawinan
yang memuaskan
3) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat,
termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga
e. Keluarga dengan anak remaja
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir
sampai 6 -7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah
orangtuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi
tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri
menjadi lebih dewasa:

Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:


1) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengingat
remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya
2) Memfokuskan kembali hubungan perkawinan
3) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Hindari
perdebatan, kecurigaan dan permusuhan
4) Perubahan system peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga
f. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan
berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini
tergantung dari jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada anak yang belum
berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua:
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
1) Memperluas keluarga intim/harmonis menjadi keluarga besar, termasuk
penambahan anggota keluarga dengan kehadiran anggota keluarga yang baru
melalui pernikahan anak-anak yang telah dewasa.
2) Menata kembali hubungan perkawainan
3) Membantu orang tua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua
(menyiapkan datangnya proses penuaan termasuk timbulnya masalah-masalah
kesehatan)
4) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
g. Keluarga usia pertengahan (middle age family)
Tahap ini dimulai pada saaat anak yang terakhir maninggalkan rumah dan
berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal:
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
1) Mempertahankan kesehatan
2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya, anak dan
cucu
3) Meningkatkan keakraban pasangan
h. Keluarga usia lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu
pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya
meninggal:
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
1) Mempertahankan suasana rumah uyang menyenangkan
2) Adaptasi dengan perubahan: kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan
3) Mempertahankan keakraban dengan pasangan dan saling merawat
4) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
5) Melakukan life review (merenungkan hidupnya)

B. KONSEP DASAR BAYI BARU LAHIR


1. Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran
(Saifuddin, 2002).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Depkes,
2005).
2. Karakteristik
Karakteristik bayi baru lahir normal adalah :
a.

Bayi yang memiliki berat badan 2500 - 4000 gram

b.

Bayi yang memiliki panjang badan 48 - 52 cm

c.

Bayi yang memiliki lingkar dada 30 - 38 cm

d.

Bayi yang memiliki lingkar kepala 33 - 35 cm

e.

Bayi yang memiliki frekuensi jantung 120 - 160 kali/menit

f.

Bayi yang memiliki frekwensi pernafasan 40 60 kali/menit

g.

Bayi kulit kemerah - merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup

h.

Bayi yang memiliki rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna

i.

Bayi yang memiliki kuku agak panjang dan lemas

j.

Bayi yang memiliki ciri genetalia : perempuan, labia mayora sudah menutupi
labia miyora.Laki laki , testis sudah turun dan skrotum sudah ada

k.

Bayi yang memiliki reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik

l.

Bayi yang memiliki reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah
baik

m. Bayi yang memiliki reflek graps atau menggenggan sudah baik


n.

Bayi yang memiliki pola eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam
pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan.
(Pusdiknakes, 2003).

3. Tugas Perkembangan Keluarga Dengan Bayi Baru Lahir


Tugas perkembangan keluarga dengan bayi baru lahir antara lain :
a. Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi, seksual dan kegiatan)
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

c. Membagi peran dan tanggung jawab (bagaiman peran orang tua terhadap bayi
d.
e.
f.
g.
h.
i.

dengan memberi sentuhan dan kehangatan)


Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak
Konseling KB post partum 6 minggu
Menata ruang untuk anak
Biaya/dana Child Bearing
Memfasilitasi role learning anggota keluarga
Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin
Sedangkan menurut Carter dan Mc. Goldrick (1988), tugas perkembangan dalam

tahap ini adalah:


a. Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap (mengintegrasikan
bayi baru ke dalam keluarga)
b. Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota
keluarga
c. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
d. Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peranperan orang tua dan kakek/nenek.
4. Permasalahan Pada Keluarga Dengan Bayi Baru Lahir
Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan menimbulkan krisis
keluarga. Studi klasik Le Master (1957) dari 46 orang tua dinyatakan 17% tidak
bermasalah selebihnya bermasalah dalam hal :
a. Suami merasa diabaikan
b. Peningkatan perselisihan dan argument
c. Interupsi dalam jadwal kontinu
d. Kehidupan seksual dan sosial terganggu dan menurun.
5. Peran Perawat Dalam Tahap Perkembangan Keluarga Dengan Bayi Baru Lahir
Menurut Mubarak, dkk (2006), peran perawat dalam tahap ini adalah melakukan
perawatan dan konsultasi antara lain:
a. Bagaimana cara menentukan gizi yang baik untuk ibu hamil dan bayi
b. Mengenali gangguan kesehatan bayi secara dini dan mengatasinya
c. Imunisasi yang dibutuhkan anak
d. Tumbuh kembang anak yang baik
e. Interaksi keluarga
f. Keluarga berencana
g. Pemenuhan kebutuhan anak terutama pada ibu yang bekerja
C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN BAYI BARU
LAHIR
1. Pengkajian
Pengkajian adalah suatu tahapan dimana seseorang perawat mengambil informasi
secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya (Murwani, 2008).
a. Data Umum
1) Nama Kepala keluarga (KK)

2) Alamat dan telepon


3) Pekerjaan kepala keluarga
4) Pendidikan kepala keluarga
5) Komposisi keluarga
6) Tipe keluarga
7) Tipe bangsa
8) Agama
9) Status sosial ekonomi keluarga
10) Aktivitas rekreasi keluarga
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
Yang perlu dikaji pada tahap perkembangan adalah:
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
2) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
3) Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada inti, yang meliputi riwayat
penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga,
perhatian terhadap pencegahan penyakit (imunisasi), sumber pelayanan
kesehatan yang bisa digunakan serta riwayat perkembangan dan kejadiankejadian atau pengalaman penting yang berhubungan dengan kesehatan.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan
istri.
c. Data Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Karakterisitik rumah diidentifikasikan dengan melihat luas rumah, tipe rumah,
jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakkan perabotan
rumah tangga, jenis septic tank, jarak septic tank dengan sumber air, sumber
air minum yang digunakan serta denah rumah.
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat,
yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan/kesepakatan penduduk
setempat, budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.
3) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan keluarga
berpindah tempat.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan tentang waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta
perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana interaksi keluarga dengan
masyarakat.
5) Sistem pendukung keluarga

Sistem pendukung keluarga meliputi jumlah anggota keluarga yang sehat,


fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan. Fasilitas
mencakup fasilitas fisik, fasilitas psikologis atau dukungan dari anggota
keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan dari masyarakat setempat.
d. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga.
2) Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain
untuk merubah perilaku.
3) Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga baik secara formal
maupun informal.
4) Nilai/norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga, yang
berhubungan dengan kesehatan.
e. Fungsi-fungsi keluarga
1) Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki
dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga
lainnya, bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga, dan bagaimana
keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
2) Fungsi sosialisasi
Hal yang perlu dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga,
sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku.
3) Fungsi perawatan kesehatan
Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian,
perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit. Sejauh mana
pengetahuan keluarga mengenai sehat sakit. Kesanggupan keluarga di dalam
melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari kemampuan keluarga
melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal
masalah, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan, melakukan
perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan
yang dapat meningkatkan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan
fasilitas kesehatan yang terdapat dilingkungan setempat.
4) Fungsi reproduksi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah :
a) Berapa jumlah anak
b) Bagaimana keluarga merencanakan jumlah anak yang diinginkan

c) Metode apa yang digunakan kelurga dalam upaya mengendalikan jumlah


anggota keluarga
5) Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah:
a) Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan snadang,pangan dan papan
b) Sejauh mana keluarga memanfaatkan suumber yang ada di masyarakat
dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
f. Stress dan koping keluarga
1) Stresor jangka pendek dan panjang
a) Stresor jangka pendek yaitu stresor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu 6 bulan.
b) Stresor jangka panjang yaitu stresor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stresor
Hal yang oerlu dikaji adalah sejauh mana keluarga bersepon terhadap
situasi/stresor.
3) Strategi koping yang digunakan
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
4) Strategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional keluarga yang digunakan
keluarga bila menghadapi permasalahan.
g. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga.
h. Harapan keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas
kesehatan yang ada.
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul

a.
b.
c.
d.
e.

Ketidakcukupan ASI
Ketidakefektifan pemberian ASI
Kesiapan meningkatkan pemberian ASI
Risiko ketidakmampuan menjadi orang tua
Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan

3. Prioritas Masalah
1

NO KRITERIA
Sifat masalah
Aktual (Tidak/kurang sehat)
Ancaman kesehatan
Keadaan sejahtera
Kemungkinan masalah dapat
diubah
Mudah
Sebagian
Tidak dapat

SKOR

BOBOT

3
2
1

2
1
0

Potensi masalah untuk dicegah


Tinggi
Sedang
Rendah
Menonjolnya masalah
Masalah berat, harus segera
ditangani
Ada masalah, tetapi tidak
perlu segera ditangani
Masalah tidak dirasakan
Skoring :
Skor
_____________ x Bobot
Angka tertinggi

3
2
1
2
1
0

BAB III
TINJAUAN KASUS
Kasus:
Tn.B 28 tahun dan Ny.B 26 tahun adalah pasangan suami istri. Usia pernikahan mereka 1,5
tahun. Mereka memiliki satu anak perempuan bernama Bayi C yang berusia 3 bulan.
Persalinan terakhir adalah 3 bulan yang lalu pada tanggal 07 Agustus 2016. Ia melahirkan
normal di puskesmas ditolong bidan. Berat lahir bayi 2800 gram. Ny.B menyatakan
persalinan Ny.B lancar dan cepat. Tn.B tinggal satu rumah dengan istri, anak, dan ibu mertua.
Tn.B bertempat tinggal di Sleman. Tn.B dan Ny.B pendidikan terakhirnya adalah SMP. Tn.B
bekerja sebagai buruh dan Ny.B adalah seorang karyawan. Pada keluarga Tn.B terdapat
beberapa masalah kesehatan yang terjadi, yaitu menurut Ny.B, Bayi C baru diberi imunisasi
satu kali saat ia lahir. Setelahnya bayi belum dibawa ke puskesmas untuk imunisasi. Menurut
catatan imunisasi bayi C baru diberi imunisasi satu kali. Status gizi bayi kurang. Berat badan
bayi saat ini 4700 gram, bayi dalam keadaan sehat, gerak aktif. Bayi C belum diberi
tambahan vitamin A. Bayi hanya diberikan susu SGM, karena ASI Ny.B keluar hanya sedikit.
Ny.B tidak rutin membawa bayi nya ke posyandu karena menyesuaikan waktu kerjanya.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN.B DENGAN TAHAP TUMBUH


KEMBANG KELUARGA CHILDBEARING
A. PENGKAJIAN
1. Struktur dan Sifat Keluarga
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama

: Tn.B

Umur

: 28 Tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Buruh

Alamat

: Sleman

Suku/Kebangsaan

: Jawa/Indonesia

Jumlah anggota keluarga : 3


b. Daftar Anggota Keluarga

No

Nama L/P

Umur

Agama

Hub. Dg

Pendidikan

Pekerjaan

Ny.B

26 th

Islam

KK
Istri

SMP

Karyawan

Anak

Belum

Laundry
-

Mertua

sekolah
SD

1
2
3

By.C
Ny.M

P
P
P

3 bln
60 th

Islam
Islam

c. Genogram
Ny.M
(60 th)

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Sakit

Ny.B
(26 th)

Tn.B
(28 th)

: Tinggal satu rumah


: Meninggal

By.C
(3 bln)

d. Struktur Keluarga
Keluarga Tn.B menganut struktur keluarga matrilokal. Tipe keluarga Tn.B
termasuk keluarga ekstended family, merupakan beberapa keluarga yang tinggal
bersama, karena keluarga Tn.B tinggal dengan mertua.
e. Tahap perkembangan keluarga
Keluarga Tn.B berada pada tahap II yakni keluarga Child Bearing, karena
memiliki anak pertama usia 3 bulan.
f. Tugas Perkembangan Yang Belum Terpenuhi
Tugas

perkembangan

keluarga

yang

belum

terpenuhi

yaitu

belum

mengimunisasikan bayinya dan tidak memberikan ASI serta berat badan bayi
kurang.
g. Hobby Masing-masing Anggota Keluarga
Ny.B menyatakan ia dan keluarga tidak memiliki hobi tertentu. Tetapi kalau ada
waktu senggang ia menyempatkan untuk jalan-jalan.
h. Hubungan antar anggota keluarga
1) Hubungan suami-istri:

Suami menyatakan hubungan dengan istri harmonis. Bila ada masalah


diselesaikan bersama. Suami menyatakan sering menghabiskan waktu bersama
istri dan anaknya. Saat kunjungan dilakukan, suami tampak sering
membimbing istrinya menjawab pertanyaan perawat.
2) Hubungan orang tua-anak:
Saat kunjungan rumah dilakukan, suami sedang istirahat siang. Ia bermainmain dengan anaknya dan membuatkan susu untuk anaknya. Tn.B menyatakan
bila istirahat siang, ia selalu pulang untuk menemui anaknya.
3) Hubungan antar anggota, baik dengan anggota keluarga dan keluarga lain:
Tn.B menyatakan hubungan dengan anggota keluarga dan dengan tetangga
baik, tidak pernah ada masalah berarti. Tn.B mengatakan jika ada masalah
dengan tetangga akan diselesaikan bersama. Tn.B jarang ikut kegiatan di
masyarakat seperti kerja bakti dan pengajian. Hubungan anggota keluarga
dengan keluarga yang lain juga baik. Adik-adik Ny.B tinggal di dekat rumah
Ny.B sehingga bisa saling membatu jika ada kesulitan. Anggota keluarga Tn.B
selalu berinteraksi dengan tetangga dan saling membantu apabila ada
kesulitan. Adik Ny.B menyatakan tetangga dan saudara sering mengingatkan
Ny.B untuk mengimunisasikan bayinya, tetapi Ny.B menolak.
i. Anggota keluarga yang berpengaruh dalam mengambil keputusan
Tn.B menyatakan, ia yang mengambil keputusan dalam keluarga karena ia adalah
kepala keluarga. Segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga harus dengan
persetujuannya.
j. Kebiasaan anggota keluarga sehari-hari
1) Nutrisi
a) Frekuwensi makan : Tn.B menyatakan makan tidak teratur, karena ia
bekerja di pabrik. Sedangkan istri dan mertua makan 3x sehari. By.C
minum tidak tentu, rata-rata 6-7 x sehari, tergantung kebutuhan bayi. Jika
menangis, diberikan susu. sekali memberikan 100 cc
b) Porsi makan : Tn.B menyatakan ia makan satu piring penuh, sedangkan
istri dan mertua satu piring rata dan kadang sedikit. By.C minum susu
banyaknya tergantung tangisan. Tn.B menyatakan bayinya habis satu
kotak susu sehari (satu kotak susu=150 gr).
c) Jenis Makanan
:
- Makanan pokok

: nasi

- Porsi

: cukup

- Lauk pauk

: tahu tempe

- Sayuran

: berbagai macam sayuran

- Porsi sayuran

: cukup

- Buah-buahan

: jarang

- Makanan Selingan

: ada , mi instan

d) Cara Pengolahan dan penyajian makanan


Ny.B menyatakan ia memasak menu yang bervariasi tiap harinya. Setiap
hari menu ganti. Apabila makanan bersisa akan dibuang. Makanan akan
disajikan langsung setelah memasak. Keluarga makan sendiri-sendiri,
jarang bersama, karena jadwal kerja yang berbeda antar anggota keluarga.
Alat makan menggunakan piring dan sendok.
e) Makanan pantang keluarga
Tn.B menyatakan ia memiliki makanan pantangan ikan laut, karena akan
menyebabkan alergi gatal-gatal. Tetapi Ny.B dan mertuanya tidak memiliki
makanan pantangan.
f) Makanan kesukaan keluarga
Ny.B menyatakan tidak ada makanan tertentu yang menjadi kesukaan
keluarga, keluarga makan apa adanya.
k. Kebiasaan Minum Keluarga
Tn.B menyatakan ia minum 6 gelas/hari. Ia lebih sering minum kopi. Sedangkan,
Ny.B minum 3 gelas/hari. Ny.M minum 4 gelas/hari, lebih sering minum teh
manis.
l. Pola Istirahat
Tn.B menyatakan keluarga jarang istirahat siang. Tn.B menyatakan sering
mengkonsumsi kopi dan sering begadang. Ia sering susah tidur. Ny.B tidur di
malam hari setelah Bayi C tidur. Dan bangun di pagi hari jam 05.00. Ny.B
menyatakan tidurnya cukup. Ny.B menyatakan bayinya jarang rewel, kalau siang
jarang tidur, tapi kalau malam dapat tidur nyenyak. Di malam hari bayi rewel
kalau mau tidur saja. Bayi C hanya sesekali saja rewel. Ny.M tidur jam 22.00 dan
bangun pukul 03.00.
m. Rekreasi
Ny.B mengatakan keluarga jarang berekreasi, karena ia dan suami sibuk kerja,
tetapi jika ada waktu luang, ia menyempatkan untuk jalan-jalan. Adanya waktu
senggang tidak tentu, tetapi jarang. Setiap hari keluarga Tn.B memenuhi
kebutuhan rekreasi dengan menonton TV, berkumpul keluarga, melepas lelah dan
bermain-main bersama bayi C.

n. Pemanfaatan waktu senggang


Ny.B dan Tn.B menyatakan kesibukannya selain bekerja adalah mengasuh
anaknya. Tn.B tidak pernah berolah raga. Keluarga Tn.B juga sering menonton
TV bila waktu senggang..
o. Pola eliminasi
1) Miksi
Tn.B menyatakan keluarganya buang air kecil teratur dengan frekuensi 5 kali
sehari. Tetapi saat keadaan dingin frekuensi meningkat hingga 6-7 kali sehari.
Mereka Buang air kecil di kamar mandi yang berada di samping rumah. Ny.B
menyatakan tidak tahu frekuensi buang air kecil By.C.
2) Defekasi
Tn.B menyatakan keluarganya buang air besar sehari sekali saat pagi hari di
WC samping rumah. Ny.B menyatakan frekuensi buang air besar anaknya
tidak tentu. Kadang sekali, kadang dua kali sehari.
p. Hygiene perorangan
Keluarga Tn.B mandi 2 kali sehari menggunakan sabun. Keluarga Tn.B
menggosok gigi 2 kali sehari ketika mandi pagi dan sore. Keluarga Tn.B keramas
2 kali seminggu menggunakan shampoo. Keluarga Tn.B ganti baju dua kali sehari.
Terkadang baju dipakai dua kali, sehingga digantung di kamar masing- masing.
Kebiasaan memotong kuku jika kuku sudah panjang. Keluarga Tn.B jarang
mencuci tangan sebelum makan dan mencuci kaki sebelum tidur. Keluarga Tn.B
menggunakan WC samping rumah untuk keperluan eliminasi.
Ny.B menyatakan By.C mandi dua kali sehari menggunakan air hangat. Yang
memandikan Ny.B, tetapi jika Ny.B tidak dirumah, bayi C dimandikan neneknya.
Setelah mandi bayi ganti baju dan diberi bedak.
q. Kebiasaan keluarga yang merugikan
Tn.B menyatakan memiliki kebiasaan merokok habis 1 bungkus perhari dan
menyatakan lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Ny.B menyatakan
suaminya selalu merokok dan tidak bisa menghentikan suaminya merokok. Tn.B
kadang merokok disamping bayi C.
2. Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya
a. Penghasilan
1) Pekerjaan dan penghasilan utama
Tn.B menyatakan kerja di pabrik sebagai buruh dengan penghasilan sekitar
600.000 sebulan atau 20.000 perhari. Sedangkan Ny.B mengatakan bekerja

sebagai keryawan laundry dengan penghasilan 500.000 perbulan. Tn.B


bekerja dari pagi sampai sore dan istirahat saat jam 12 siang, sedangkan Ny.B
bekerja dengan 2 shift yaitu kadang pagi ( jam 09.00-16.00 WIB) kadang
siang (13.00-21.00 WIB).
2) Penghasilan sampingan/tambahan : tidak ada
b. Penggunaan dan Pemanfaatan dana keluarga per bulan:
Selain untuk biaya kebutuhan pokok dan makan sehari-hari , penghasilan Tn.B
dihabiskan untuk membeli rokok serta susu untuk bayinya. Tn.B tidak ada
pengeluaran untuk pendidikan anak namun kadang pengeluaran untuk biaya
perbaikan rumah. Pengeluaran untuk biaya kesehatan jarang, karena jarang
berobat. Keluarga Tn.B jarang menabung.
Dilihat dari penghasilan masing-masing anggota keluarga, dan harta benda yang
dimiliki, keluarga masuk dalam status sosial ekonomi menengah ke bawah.
c. Pengelolaan keuangan dikelola oleh istri.
d. Hubungan anggota keluarga dalam masyarakat:
Ny.B menyatakan mengikuti arisan ibu-ibu yang diadakan di kampungnya.
Namun sering tidak hadir karena bartabrakan dengan jadwal kerjanya sedangkan
Tn.B menyatakan tidak pernah mengikuti kegiatan yang diadakan di kampungnya.
Ny.B menyatakan sering ngobrol dengan tetangganya dan sering saling
membantu. Ny.M menyatakan juga jarang ikut PKK dan arisan. Ny M juga jarang
ke pengajian.
e. Fasilitas untuk pertemuan masyarakat:
Pertemuan biasa dilakukan di masjid (untuk pengajian). Kumpulan PKK
dilakukan di rumah kepala dusun. Arisan dilakukan di rumah salah seorang warga
secara bergilir.
3. Faktor Rumah Dan Lingkungan
a. Rumah
1) Denah rumah
Halaman
Teras
R.Tamu

R.Keluarga

K.Tidur

K.Tidur

Dapur
KM

K.Tidur

2) Status kepemilikan
3) Dinding rumah
4) Lantai
5) Langit-langit
6) Atap rumah
7) Ventilasi ruangan
8) Jenis ventilasi
9) Pemanfaatan jendela
10) Penenerangan

: Milik sendiri
: Permanen
: semen
: tanpa eternit
: genting
: kurang dari 10% kali luas lantai
: Melalui jendela, pintu,
: kadang-kadang dibuka
: malam hari dengan listrik, pada siang hari masih bisa

membaca meskipun tidak ada lampu.


11) Ukuran rumah
: 68m2
12) Pembagian ruang:
ada 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 ruang dapur, tidak ada
ruang makan, dan 1 kamar mandi. Rumah tersebut dihuni oleh 4 orang .
13) Kebersihan rumah: disapu tiap hari sekali
b. Sarana Memasak:
1)

Bahan bakar untuk memasak menggunakan kayu bakar karena


karburator bocor dan belum membeli yang baru. Ny.B memasak di luar rumah
yaitu berada di samping rumah

2)

Tempat menyimpan peralatan dapur berada di rak piring

3)

Kebersihan dapur

: tidak ada sampah berserakan di dapur

c. Sampah
1) Sarana pembuangan sampah : ada di dapur berupa tempat sampah tertutup.
2) Tempat pembuangan sampah : bak sampah
3) Letak pembuangan sampah

: halaman depan rumah berjarak 5 meter

4) Jarak tempat sampah dengan sumber air minum : 8 meter


5) Pengelolaan sampah

: dibakar

d. Sumber air
1)

Sumber air minum

2)

Jarak sumber air dengan WC

3)

Pencemaran air

: tidak ada

4)

Kualitas air

a)
b)
c)
d)

Warna
Bau
Rasa
Kebersihan sumber air

: sumur gali
: kurang dari 10 meter

: tidak berwarna
: tidak berbau
: tidak berasa
: cukup bersih, area sekitar sumur disemen

e. Pembuangan air limbah


1)

Jenis limbah

: rumah tangga

2)

Bak limbah

: tidak ada

3)

Saluran limbah

: dibuang ke samping rumah

4)

Jarak limbah dengan sumur : kurang dari 10 m

5)

Letak

: samping rumah

6)

Vektor

: tikus, nyamuk

7)

Bau limbah

: tidak tercium bau limbah

8)

Kebersihan

: cukup

f. Jamban keluarga
1)

Pemilikan jamban

: punya

2)

Jenis jamban

: jongkok

3)

Letak jamban

4)

Jarak jamban-sumur : kurang dari 10 m

5)

Vektor

6)

Kebersihan jamban : baik

g. Kandang ternak

: luar rumah
: adanya tikus dan nyamuk
: tidak ada

h. Halaman
1) Pemilikan

: punya, luas 10 m 2

2) Pemanfaatan

: tidak dimanfaatkan

3) Letak

: depan rumah

4) Kebersihan

:tidak banyak daun dan sampah berserakan

i. Kamar mandi
1)
2)
3)
4)

Pemilikan
Letak
Bak mandi
Kebersihan

: ada
: luar rumah
: Ada
: lantai kamar mandi disikat seminggu sekali, bak mandi

tidak ada jentik.


j. Lingkungan
1)
2)
3)
4)

Geografi rumah
: desa
Jarak dengan tetangga : berdekatan
Suasana
: ramai
Lokasi
: dekat rumah

k. Fasilitas perdagangan

: warung 200 m, toko 300 m

l. Fasilitas peribadatan

: masjid 500 m

m. Fasilitas kesehatan

: Puskesmas Mlati 2 1 km, Puskesmas Gamping

2 4 km.
n. Sarana hiburan

: ada, berupa TV, radio

o. Fasilitas transportasi

: ada, 1 buah sepeda motor

4. Riwayat Kesehatan Keluarga


a. Riwayat Kesehatan Anggota Keluarga
Dalam keluarga, tidak ada riwayat penyakit menular, menahun, menurun.
Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga:
Tn. B menyatakan ia tak pernah menderita sakit serius, selama ini ia merasa sehatsehat saja, demikian pula dg Ny.B. Ny.M juga menyatakan Ia tak memiliki
keluhan kesehatan. Ia juga tidak memiliki penyakit serius meskipun sudah tua.
Ny.B menyatakan ayahnya meninggal karena penyakit tua. Ayahnya meninggal 11
bulan yang lalu. Ny.M menyatakan suaminya meninggal karena penyakut yang
parah, dan ia tak tahu penyakit apa. Ia menyatakan sudah memeriksakan suaminya
ke berbagai tempat tetapi tak kunjung membaik dan akhirnya meninggal.
Ny.B juga menyatakan bayinya jarang sakit. Selama ini sehat-sehat saja. Ny. M
menyatakan bayi C pernah sekali pilek.
b. Kebiasaan Memeriksakan Diri
1) Waktu : bila sakit dan ada waktu
2) Tempat : Puskesmas Mlati 2. Tn.B menyatakan rumahnya merupakan wilayah
puskesmas Gamping 2, tetapi karena jauh, ia memilih ke puskesmas Mlati 2 saja

c. Kebiasaan Minum Obat


1) Waktu

: bila sakit

2) Asal obat yang diminum

: dokter puskesmas, warung

d. Kesehatan Ibu dan Anak


1) Riwayat kehamilan yang lalu:
Ny.B menyatakan ia baru hamil sekali. Ia melahirkan pada usia 9 bulan di
puskesmas Mlati 2. Ny.B menyatakan tidak ada keluhan selama hamil. Ny.B
menyatakan lebih sering tidur dan malas ketika hamil. Ny.B menyatakan tidak
pernah periksa selama hamil. Buku KIA Ny.B menunjukkan ia pernah ANC
1x. Selama hamil ia merasa biasa-biasa saja. Ny.B menyatakan walaupun
selama hamil tidak kontol, ia tetap sehat. Pola makan dan kegiatan sama saja
ketika hamil dan tidak hamil. Tidak ada makanan pantangan ketika hamil.
2) Ibu hamil: tidak ada

3) Persalinan
Persalinan terakhir adalah 3 bulan yang lalu pada tanggal 22 juli 2016. Ia
melahirkan normal di puskesmas ditolong bidan. Berat lahir bayi 2800 gram.
Ny. M menyatakan persalinan Ny.B lancar dan cepat.
4) Masa nifas
Ny.B menyatakan ia nifas normal, tetapi lamanya ia sudah lupa. Tidak ada
keluhan pada masa nifas. Nafsu makan tidak berubah selama nifas.
Ny.B menyatakan ASI hanya keluar sedikit di awal kelahiran bayi. Ia
memberikan ASI hanya 2 hari saja, selanjutnya ASI masih keluar sedikitsedikit tetapi bayi tidak mau menyusu, bayi sering rewel sehingga ia
memberikan susu formula SGM pada bayinya. hingga sekarang, ASI sudah
tidak keluar. Saat pengkajian, ibu memberi susu formula dengan botol pada
bayi.
Selama ini bayi C diirawat oleh Tn.B dan Ny.B sendiri, tetapi ketika Tn.B dan
Ny.B bekerja, bayi C dirawat oleh neneknya. Ny.B menyatakan anaknya
selama ini sehat dan tidak pernah sakit.
5) Keluarga Berencana
Pasangan Usia Subur

: ada

Umur pasangan usia subur

: 28 dan 36 tahun

Pernah mendengar KB

: pernah

Kalau pernah mendengarkan dari: bidan, tetangga, TV


Telah ikut KB

: belum

Ny. B menyatakan saat ini belum mengikuti KB. Saat ditanya apakah ingin
KB, Ny.B menjawab ingin KB, tetapi ia tak tahu kapan akan mulai KB dan
belum memilih KB yang akan digunakan.
6) Pemeriksaan Bayi
Keluarga Tn.B mempunyai seorang bayi. Bayi C diikutkan di posyandu, akan
tetapi Ny.B tidak rutin membawa bayi ke posyandu karena menyesuaikan
waktu kerjanya. Kalau ibu kerjanya masuk pagi, anak tidak diantar ke
posyandu. KMS diisi oleh kader posyandu.
Pertumbuhan dan perkembangan bayi saat ini ia dapat bergerak aktif, dapat
mengoceh dan sudah berusaha miring untuk tengkurap.

Ny.B menyatakan bayi baru diberi imunisasi saat ia lahir. Setelahnya, bayi
belum dibawa ke puskesmas untuk imunisasi. Catatan imunisasi bayi C
menunjukkan ia baru diimunisasi saat lahir.
Status gizi bayi kurang. Berat badan bayi saat ini 4,7 kg. Bayi C dalam keadaan
sehat, gerak aktif. Bayi belum diberi tambahan vitamin A. Bayi belum
diberikan makanan tambahan. Ia hanya diberikan susu SGM.
e. Riwayat Kesehatan-Mental-Psikososial-Spiritual
1) Memenuhi kebutuhan jiwa:
a) Pemenuhan rasa aman: Tn.B mengatakan keluarganya merasa aman
tinggal di lingkungan rumahnya
b) Perasaan bangga atau senang: keluarga Tn.B merasa senang bila bisa
berkumpul bersama dan tidak ada masalah.
c) Semangat untuk maju
: Tn.B mengatakan selama ini ia biasa saja.
Tidak terlalu bersemangat.
2) Pemenuhan status sosial:
a) Perasaan dilayani: Tn.B mengatakan selalu mendapatkan pelayanan yang
baik jika sedang membutuhkan untuk mengurus surat-surat, dll baik dari
lingkungan tempat tinggal seperti : RT, RW, Dukuh, Kelurahan, dan
instansi pemerintahan lainya .
b) Perasaan dibenci: Tn.B mengatakan selalu akrab dengan tetangga sekitar,

hubungan dengan keluarga yang lain baik, tidak merasa dibenci dan tidak
ada permasalahan dengan orang lain.
c) Perasaan diasingkan: Tn.B mengatakan walaupun hidupnya pas-pasan

tetangga sekitar menghargai keluarganya dan tidak mengucilkanya.


3) Riwayat kesehatan mental keluarga
Keluarga klien menyatakan tidak ada yang pernah dirawat di RS Jiwa. Ny.M
menyatakan dulu suaminya sering mengamuk di rumah sehingga diperiksakan
ke RS Grhasia, tetapi tidak sampai dirawat disana, hanya kontol rutin tiap kali
obat habis. Ny.M menyatakan kata dokter disana, Tn.M tidak ada gangguan
jiwa, sehingga tidak perlu dirawat di RS.
4) Gangguan mental pada anggota keluarga: Tn.B mengatakan tidak ada anggota
keluarga yang merasa bersalah, gagal, kecewa, tertekan dan dalam keluarga
tidak sering bertengkar.
5) Penampilan tingkah laku anggota keluarga yang menonjol:
Tn.B menyatakan dirinya tegas, Bayi C ceria, Ny.B taat kepadanya.
Sedangkan Ny.M terbuka untuk membantu permasalahan keluarganya.
f. Riwayat Spiritual Anggota Keluarga

Tn.B dan Ny.B menyatakan solat tetapi tidak 5 waktu. Ny.M solat rutin 5 waktu.
Keluarga jarang mengikuti pengajian rutin di masjid. Tn.B rutin solat jumat.
Keluarga rutin solat di hari raya.
g. Tanggapan keluarga terhadap pelayanan kesehatan :
Tn.B menyatakan tidak pernah periksa ke puskesmas. Ny.B juga jarang periksa ke
puskesmas. Keluarga menyatakan jika ada sedikit keluhan dibiarkan akan sembuh
sendiri. Mertua yang sudah lansia juga tidak pernah datang ke posyandu lansia. Ia
tidak pernah diukur tekanan darahnya. Tn.B menyatakan tidak pernah diukur
tekanan darahnya juga sehat-sehat saja. Tn.B menyatakan khawatir akan
kesehatan anaknya , karena berat badannya yang rendah. Ny.B menyatakan perlu
untuk membawa anaknya ditimbang rutin di posyandu, tetapi ia sering sibuk
bekerja. Ny.B menyatakan kadang takut pergi ke puskesmas karena takut dimarahi
bidan, karena ia pernah mengalaminya.
h. Keadaan Kesehatan keluarga saat kunjungan
No
1

Nama Umur L/P


Tn.B
28
L

Ny B

26

Ny.M

60

Kesehatan
N : 72 x/menit, RR : 16x/menit, TD : 120/70 mmHg
BB : 50 Kg, TB : 160 cm , IMT: 20,32
Keluhan: Tn.B mengeluh nyeri pada pinggang
kanan belakang sejak beberapa bulan yang lalu,
tetapi ia tidak pernah memeriksakan kesehatannya.
BB : 47 Kg, TB : 163 cm, IMT: 17,7
N : 80x/menit, RR : 17x/menit, TD : 120/80 mmHg
Keluhan: tidak ada keluhan
N : 88x/menit
RR : 18x/menit
TD : 140/90 mmHg
BB : 56 kg
TB : 159 cm
IMT: 22,22
Keluhan: tidak ada keluhan
APGAR lansia: 9
Index katz: 6
Skor short portable mental questioner: 7

5. PERSEPSI DAN TANGGAPAN KELUARGA TERHADAP MASALAH


a. Persepsi keluarga terhadap masalah yang dihadapi:
Tn.B menyatakan khawatir karena berat badan anaknya kurang. Saat pengkajian,
Tn.B beberapa kali menanyakan berapa berat badan anaknya tadi saat di

posyandu. Saat dilakukan pengkajian, keluarga tampak heran dan khawatir, ada
apa dengan anaknya kok sampai didatangi dan dilakukan pendataan.
b. Tanggapan/mekanisme koping keluarga terhadap masalah:
Jika ada masalah keluarga Tn.B selalu mencari solusi bersama, keputusan ada di
Tn.B.
c. Tugas kesehatan keluarga
1) Keluarga mampu mengenal masalah
Keluarga Tn.B mengetahui mengenai berat badan anaknya yang kurang,
karena kader posyandu selalu memberitahukannya. Tn.B menyatakan khawatir
karena berat badan anaknya kurang. Saat pengkajian, Tn.B beberapa kali
menanyakan berapa berat badan anaknya tadi saat di posyandu. Keluarga Tn.B
menyatakan tidak mengetahui takaran susu formula yang benar.
Keluarga Tn.B menyatakan tidak tahu kalau penyebab berat badan kurang
pada bayi adalah asupan susu yang kurang.
Ny.M menyatakan dulu Ny.B juga tidak mau minum ASI, tetapi ia biarkan
saja. Ia menyatakan Ny.B tetap sehat walau tidak minum ASI.
Tn.B menjawab dengan santai saat ditanya tentang imunisasi anaknya. Ia
menyatakan belum diimunisasikan karena tidak sempat. Ny.B menyatakan ia
tahu kalau anak tidak diimunisasi akan beresiko terkena penyakit..
Tn.B menyatakan ia, istri dan mertua mengetahui jika ada rasa tidak nyaman
di tubuh adalah masalah kesehatan.
2) Keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat
Ny.B menyatakan ia tidak memberikan ASI sejak anaknya usia 2 hari. Ia
menyatakan tidak memberikan ASI karena ASI hanya keluar sedikit, tetapi
pada hari ke-2 anak tidak mau menyusu sehingga ia menghentikan pemberian
ASI. Hingga sekarang ASI tidak keluar lagi. Sejak usia 2 hari itu, Ny.B
memberi bayi susu formula.
Tn.B menyatakan pernah mencampuri susu formula dengan sedikit bubur
susu, tetapi Bayi C diam dan tidak menangis. keluarga ingin menghemat susu,
karena susu mahal.
Keluarga Tn.B jarang periksa jika sakit, jika ada sedikit keluhan, Tn.B
menyatakan dibiarkan saja akan sembuh sendiri.
Ny.B menyatakan belum membawa anaknya ke puskesmas karena sibuk kerja.
Ny.B menyadari sebenarnya penting untuk mengimunisasikan anaknya. Ia
sudah diberikan penjelasan oleh bidan bahwa ia harus membawa anaknya
datang ke puskesmas saat usia bayinya 40 hari, namun hingga kini belum

mengimunisasikan bayinya. Ny.B juga mengetahui jadwal imunisasi


puskesmas yaitu hari selasa. Ny.B menyatakan malas membawa anak
imunisasi karena takut dimarahi bidan dan malas antri di puskesmas. Selain
itu, ia tidak tega melihat anaknya kesakitan kalau disuntik.
3) Keluarga mampu melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit
Tn.B menyatakan ia ada keluhan di pinggang tetapi ia biarkan saja. Ny.B tidak
memberikan ASI bagi bayinya. Ny.B memberi susu formula dengan botol buat
bayinya. Ny.B tidak menyendawakan anak setelah diberi susu. Ny.B
membawa anak ke posyandu untuk ditimbang tetapi tidak rutin. Ny.B belum
membawa anaknya untuk imunisasi. Catatan imunisasi Bayi C menunjukkan
ia baru diimunisasi saat lahir. Nenek dan saudara yang sering membuatkan
By.C susu menyatakan memberikan susu 1 sendok takar dalam 100 cc. Ny.M
menyatakan dalam memberikan susu, botol kadang direbus. Ny.M menyatakan
jika susu tidak habis,bisa didiamkan lebih dari 2 jam, lalu diberikan lagi
4) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan
Anggota keluarga mengerti potensi yang ada pada setiap anggota keluarga dan
mengerti tentang sumber keluarga yang dimiliki.
Keluarga menyadari bahwa dengan menciptakan lingkungan yang bersih dapat
mencegah penyebaran penyakit.
Anggota keluarga Tn.B yang lain membiarkan Ny.B tidak menyusui bayinya.
Adik Ny.B menyatakan keluarga dan tetangga berulang kali menasehati agar
Ny.B KB dan membawa anaknya imunisasi tetapi Ny.B ngeyel.
5) Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia di
lingkungan
Keluarga mengetahui dengan jelas tentang segala fasilitas kesehatan yang ada
di sekitar
Keluarga memahami dan mengerti keuntungan yang diperoleh jika
memanfaatkan fasilitas kesehatan
Keluarga percaya terhadap fasilitas kesehatan, terbukti Ny.B membawa bayi
ke posyandu, meskipun tidak rutin
Fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga
Keluarga memiliki jaminan kesehatan jamkesmas dan dapat memanfaatkan
jamkesmas tersebut.

Keluarga Tn.B jarang periksa ke puskesmas jika sakit.


Ny.M tidak pernah memeriksakan kesehatan ke posyandu lansia
Ny.B dulu tidak mengkonsultasikan mengenai ASI untuk bayinya.
Ny.B tidak kontrol selama nifas. Buku KIA Ny.B menunjukkan ia tak pernah
kontrol selama nifas.

6. ANALISA DATA
Data
DS:
Ny.B menyatakan ASI hanya keluar

Masalah
Ketidakcukupan

Etiologi
air

susu ibu pada Ny.B di

sedikit di awal kelahiran bayi.


keluarga Tn.B
DO:
a. Saat pengkajian, ibu memberi
susu formula dengan botol pada
bayi.
b. Status gizi bayi kurang
DS:
a. Ny.M menyatakan dulu Ny.B juga
tidak mau minum ASI, tetapi ia
biarkan saja. Ia menyatakan Ny.B
tetap sehat walau tidak minum
ASI
b. Keluarga Tn.B menyatakan tidak

Ketidakmampuan
Keluarga

Tn.B

mengenal
masalah
pemberian

ASI

pada bayi C

mengetahui takaran susu formula


yang benar
c. Keluarga Tn.B menyatakan tidak
tahu kalau penyebab berat badan
kurang pada bayi adalah asupan
susu yang kurang.
DO:DS:
a. Ny.B menyatakan

Ketidakmampuan
ia

tidak

memberikan ASI sejak anaknya

keluarga
mengambil

Tn.B

usia 2 hari. Ia menyatakan tidak

keputusan dengan

memberikan

tepat

ASI

karena

ASI

untuk

hanya keluar sedikit, tetapi pada

memberikan ASI

hari

bagi bayi C

ke-2

anak

tidak

menyusu

sehingga

menghentikan

pemberian

mau
ia
ASI.

Hingga sekarang ASI tidak keluar


lagi. Sejak usia 2 hari itu, Ny.B
memberi bayi susu formula.
b. Tn.B
menyatakan
pernah
mencampuri susu formula dengan
sedikit bubur susu, tetapi bayi C
diam dan tidak menangis. Tn.B
ingin menghemat susu karena
susu mahal
DO:DS:
a. Ny.B menyatakan membawa anak
ke posyandu untuk ditimbang
tetapi tidak rutin.
b. Bayi C minum tidak tentu, ratarata 6-7 x sehari, tergantung
kebutuhan bayi. Jika menangis,
diberikan

susu.

sekali

memberikan 100 cc.


c. Nenek dan saudara yang sering
membuatkan

By.N

susu

menyatakan memberikan susu 1


sendok takar dalam 100 cc.
d. Ny.M menyatakan jika susu tidak
habis,bisa didiamkan lebih dari 2
jam, lalu diberikan lagi.
DO:
a. Ny.B tidak memberikan ASI bagi
bayinya
b. Ny.B tidak menyendawakan anak
setelah diberi susu.

Ketidakmampuan
keluarga

Tn.B

merawat bayi C

c. Berat badan bayi saat ini 4,7 kg


DS:
Anggota keluarga Tn.B yang lain

Ketidakmampuan
keluarga

membiarkan Ny.B tidak menyusui

Tn.B

memelihara

bayinya.
DO:-

lingkungan yang
mendukung
kesehatan bayi C
Ketidakmampuan

DS:
a. Ny.B

dulu

tidak

keluarga

Tn.B

mengkonsultasikan mengenai ASI

memanfaatkan

untuk bayinya.

pelayanan

b. Ny.B tidak kontrol selama nifas

kesehatan

bagi

DO:
Buku KIA Ny.B menunjukkan ia tak

pemberian nutrisi
bayi C.

pernah kontrol selama nifas

7. SKORING DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA PRIORITAS


a. Ketidakcukupan ASI
No
1.

Kriteria

Skala Bobot

Skoring

Pembenaran

a. Sifat Masalah: 3
Ancaman
Kesehatan
(Resiko)

3/3 x 1 =
1

Sifat masalah ini termasuk


masalah kesehatan aktual,
karena status gizi pada
bayi C yang kurang yaitu
berat badan bayi saat ini
4,7 kg dan ASI Ny.B
hanya keluar sedikit pada
awal kelahiran bayi

b. Kemungkinan

1/2 x 2 =
1

Sarana yankes terjangkau,


perhatian
keluarga
terhadap bayi ada tetapi
ASI sudah tidak lagi keluar
dan
keluarga
tidak
menyadari
pentingnya
pemberian ASI serta status
ekonomi
keluarga
tergolong rendah yang
menyebabkan pemberian
takaran
susu
formula

masalah dapat
di

ubah

Sebagian

rendah
c. Potensi

3/3 x 1 =
1

Bayi masih berusia 3


bulan, keluarga sudah
berusaha
memberikan
nutrisi bagi bayi tetapi
kurang tepat. Jika keluarga
memberikan susu formula
dengan takaran yang pas
dapat meningkatkan berat
badan bayi.

2/2 x 1 =
1

Tn.B menyadari kalau


berat badan anaknya yang
kurang
harus
segera
diatasi. Tn.B khawatir
dengan
berat
badan
anaknya

masalah
untuk
dicegah:
Tinggi

d. Menonjolnya

masalah:
Masalah
berat, harus
segera
ditangani
Total
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakcukupan ASI

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No

Diagnosis

Tujuan dan kriteria

Intervensi

Keperawatan
hasil
1. Ketidakcukupan Setelah diberi asuhan 1. Beri pendidikan kesehatan kepada
ASI (00216)

keperawatan

keluarga

mampu

mengenal

masalah

pemberian

keluarga tentang nutrisi yang baik


bagi bayi
2. Anjurkan

membersihkan botol setiap selesai

dengan kriteria hasil:


mampu

memberikan makan
3. Jelaskan
kepada

menyebutkan

kemungkinan

kembali nutrisi yang


tepat bagi bayi
b. Keluarga

untuk

membuang sisa susu formula dan

nutrisi pada bayi C,


a. Keluarga

keluarga

keluarga

penyebab

berat

badan bayi kurang


4. Evaluasi pemahaman keluarga

dapat

menyebutkan
kembali
kemungkinan
penyebab

BB

kurang pada bayi


Setelah diberi asuhan 1.
keperawatan
mampu

keluarga Berikan pendidikan kesehatan tentang


mengambil

cara menyiapkan susu formula,

keputusan yang tepat

yaitu takaran yang benar dalam

untuk

memberikan

memberikan susu dan pentingnya

nutrisi bagi bayi C,

takaran susu bayi yang benar

dengan kriteria hasil:


a.

terhadap kebutuhan nutrisi bayi

Keluarga
akan

2.

menyatakan Jelaskan kepada keluarga untuk tidak


memberikan

mencampur

makanan

seperti

susu sesuai takaran

bubur, sereal kedalam botol, yaitu

yang benar

hanya susu formula/ASI saja

b.

3.

Keluarga
akan

menyatakan Dampingi
memberikan

mengambil

keluarga
keputusan

sampai
dengan

susu

saja

sampai

tepat

bayi usia 6 bulan


Setelah diberi asuhan 1.
keperawatan

keluarga Ajarkan cara memberikan takaran

mampu merawat bayi


C, dengan kriteria hasil:
a.

susu yang tepat


2.
Jelaskan

Ny.B rutin membawa

menimbang

bayi ke posyandu
b.

mengenai
anak

pentingnya
rutin

ke

posyandu
3.

Takaran susu untuk bayi Anjurkan


C

1/3

takar

sendok makan/100

menyendawakan

setelah minum susu


4.
Demonstrasikan

cc air

bayi

c.

cara

menyendawakan bayi
5.

Keluarga
menyendawakan

Observasi cara pembuatan susu bayi

bayi setelah diberi


susu
Setelah diberi asuhan 1. Berikan pengertian bagi keluarga
keluarga

tentang masalah yang dialami

memelihara

bayi C
2. Berikan pengertian kepada Ny.M

keperawatan
mampu
lingkungan

yang

mendukung

kesehatan

dan

adik

Ny.B

pentingnya

dukungan keluarga bagi Ny.B


bayi C, dengan kriteria 3. Anjurkan keluarga membantu
hasil:

pemberian nutrisi yang tepat bagi

a. Keluarga

bayi.

mendukung

Ny.B

memberikan nutrisi
yang tepat bagi bayi
b. Keluarga
memotivasi

Ny.B

untuk merawat bayi


dengan baik
Setelah diberi asuhan 1.

keperawatan

keluarga Beri pengertian pada Ny.B tentang

mampu memanfaatkan

peran pelayanan kesehatan bagi

pelayanan

pemenuhan kenbutuhan nutrisi

kesehatan

bagi pemberian nutrisi


bayi C ,dengan kriteria
hasil:
a. Ny.B menyebutkan
kembali

peran

pelayanan

Motivasi

Ny.B

masalah
segera

mendeteksi

kesehatan

bayi

untuk

pemenuhan

nutrisi

bayi
b. Ny.B

mengkonsultasikan
bayi

secara rutin (1 bulan


sekali ke posyandu)

dini
dan

mengkoinsultasikan

kepada petugas kesehatan

kesehatan

kesehatan

bayi
2.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat terdiri kepala keluarga serta
beberapa orang yang berkumpul dan tinggal dalam satuatap dalam keadaan saling
ketergantungan. Sedangkan bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
Keluarga dengan bayi baru lahirperlu memahami tugas perkembangan yang harus
dilakukan sehingga tidak terjadi berbagaipermasalahan pada keluarga tersebut seperti
suami merasa diabaikan, peningkatan perselisihan dan argument, interupsi dalam jadwal
kontinu dan kehidupan seksual dan sosial terganggu dan menurun.
Perawat perlu berperan dalan perkembangan keluarga tahap ini dengan
memberikan perawatan dan konsultasi seperti bagaimana cara menentukan gizi yang baik
untuk ibu hamil dan bayi, mengenali gangguan kesehatan bayi secara dini dan
mengatasinya, imunisasi yang dibutuhkan anak, tumbuh kembang anak yang baik,
interaksi keluarga, keluarga berencana, pemenuhan kebutuhan anak terutama pada ibu
yang bekerja.
B. SARAN
1. Bagi perawat diharapkan mampu menciptakan hubunganyang harmonis dengan
keluarga sengga keluarga diharapkanmampu memahami tentang masalah yang sedang
dialami/ terjadi pada keluarga dengan bayi baru lahir
2. Bagi Keluarga hendaknya mengenal masalah yang terjadi pada anggota keluarganya,
menerapkan apa yang telah disampaikan perawat melalui pendidikan kesehatan guna
mengatasi masalah kesehatan yang ada di keluarga secara mandiri, ikut serta
mempertahankan dan mempergunakan fasilitas kesehatan yang ada dan mencegah
terjadinya penyakit sebaikanya keluarga sedini mungkin memeriksakan anggota
keluarga yang sakit ke puskesmas yang terdekat serta keluarga sebaiknya melakukan
modifikasi lingkungan yang sehat di sekitar lingkungan keluarga seperti menjaga
kebersihan lingkungan rumah sekitar, dan mampu menjaga pola hidup sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Glorya Bulechek et al. (2016). Nursing Intervention Classification (NIC), 6th Indonesian
edition. Elsevier Singapore Pte Ltd
Setyowati, S. (2007). Penuntun Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: Trans Info
Media
Sue Moorhead, et al. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC) Ed 5thIndonesian
Editon. Elsevier Singapore Pte Ltd
Mubarak,dkk. (2006). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Komunitas 2 Teori dan Aplikasi Dalam
Praktik dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan Komunitas, Gerontik dan
Keluarga. Yogyakarta : Sagung Seto
Murwani. (2008). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan Aplikasi Kasus. Yogyakarta :
Mitra Cendikia Press
Sudiharto. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan
Transkultural. Jakarta : EGC