Anda di halaman 1dari 8

Maximilan Bittner: Target Lazada Jadi E-Commerce

Terbesar di Indonesia
by Radito Wicaksono - February 1, 2013
(http://swa.co.id/swa/ceo-interview/maximilan-bittner-target-lazada-jadi-e-commerceterbesar-di-indonesia)
Indonesia benar-benar menjelma menjadi surga bagi para penggiat bisnis e-commerce akhirakhir ini. Tidak hanya pelaku e-commerce lokal, yang dari hari ke hari selalu mencatatkan
nama baru di daftar panjang perusahaan e-commerce yang hadir di Indonesia, tetapi ecommerce asing pun tak ingin ketinggalan untuk merasakan atmosfer yang cukup baik ini.
Beberapa perusahaan asal luar negeri pun sudah secara resmi menyatakan hadir di tengahtengah masyarakat Indonesia secara langsung. Beberapa di antaranya menunjukkan
keseriusan untuk menggarap pasar di Indonesia, salah satunya dengan cara membuka kantor
perwakilan di Indonesia.
Salah satu e-commerce tersebut adalah Lazada. Dengan mengusung bendera Lazada
Indonesia, perusahaan yang merupakan anak cabang dari perusahaan terkemuka asal Jerman,
Rocket Internet ini, turut meramaikan pasar e-commerce di Indonesia.
Selain di Indonesia, Lazada sudah hadir di 4 negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia,
Thailand, Vietnam, dan Filipina. Khusus untuk di Indonesia, Lazada mengaku mendapatkan
tantangan yang begitu besar dalam usahanya menggarap pasar online disini.
Seperti diutarakan oleh Maximilian Bittner, Chief Executive Officer Lazada South East Asia,
Indonesia memiliki karakter yang berbeda dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Selain
dari wilayahnya yang memang terbesar dan terdiri dari banyak pulau, kurangnya kepercayaan
masyarakat Indonesia untuk melakukan aktifitas transaksi secara online pun masih banyak
terjadi.
Namun, dengan kondisi e-commerce di Indonesia yang tersu berkembang saat ini, ditambah
terjadinya peningkatan pengguna internet yang diprediksi akan mencapai angka 160 juta
orang di tahun 2016, Max, begitu pria ini akrab disapa, menyatakan keyakinannya untuk
meraih kesuksesan di Indonesia.
Pada suatu kesempatan, di sela-sela acara Think 2013 with Google pekan lalu, pria yang
sempat berkarir di beberapa perusahaan global lain, seperti McKinsey & Company, 3i Group
plc, Morgan Stanley ini berkenan untuk membagi waktunya untuk diwawancarai seputar
harapan Lazada di Indonesia.
Meski hanya beberapa menit waktu yang diberikan oleh dirinya, tentu kesempatan untuk
berbincang dengan pria yang memang banyak menghabiskan waktunya di Singapura ini
adalah moment yang sangat berharga. Maklum, ketika itu, Max harus bergegas menuju
bandara, untuk kembali ke Singapura. Tim dari SWA pun tak ingin menyia-nyiakan
kesempatan tersebut.

Berikut adalah hasil wawancara singkat dengan Maximilian Bittner, CEO Lazada South East
Asia.
Apa target bisnis Lazada di Indonesia baik di tahun 2013 dan tahun-tahun
berikutnya?
Kami tentunya berharap untuk mampu menjadi e-commerce terbesar di Indonesia. Untuk itu,
kami berharap untuk terus memberikan pelayanan dan pengalaman terbaik kepada konsumen.
Dengan pencapaian seperti itu, tentu kami akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen
kami disini, dan selanjutnya, tentu kami akan mampu meningkatkan pendapatan kami dari
sisi bisnis.
Apa ada target spesifik dari semua itu? Terutama dalam jangka waktu terdekat ini?
Untuk beberapa waktu ke depan, kami akan tetap memfokuskan diri kepada peningkatan
pelayanan kami kepada para pelanggan. Kami ingin menjangkau pelanggan di wilayah
Indonesia lebih luas lagi. Kami juga selalu berusaha untuk memberikan penawaran produkproduk yang lebih baik lagi kedepannya. Produk-produk yang tersedia di Lazada pun selalu
kami tingkatkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Kami akan berusaha untuk terus
menyediakan produk-produk, dari semua kategori, dengan lebih mendalam. Dengan begitu,
semua orang dapat mencari apa saja yang mereka inginkan.
Apa strategi yang Lazada jalankan untuk menggarap pasar di Indonesia?
Indonesia memiliki karakter yang berbeda dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Tidak
mudah untuk menaklukan pasar di Indonesia. Negara ini memiliki wilayah yang sangat besar,
begitupun juga dengan jumlah masyarakatnya. Namun, hal tersulit adalah meyakinkan
masyarakat Indonesia untuk melakukan aktifitas belanja secara online. Disamping itu, masih
ada keenganan dari masyarakat Indonesia untuk melakukan transaksi secara elektronik.
Masyarakat disini masih banyak yang enggan menggunakan metode pembayaran seperti
Paypal, jadi kami masih banyak melakukan metode cash on delivery.
Untuk itu, kunci untuk mampu menggarap pasar di Indonesia, dibandingkan negara-negara
lain di Asia Tenggara adalah, kami harus mampu meyakinkan pelanggan supaya ingin
mencari dan membeli setiap produk dari setiap kategori di situs kami. Cara untuk
meyakinkan mereka adalah dengan memberikan pelayanan terbaik terutama dari sisi logistik.
Hal tersebut tidak lah mudah. Untuk itu, kami terus mencari tahu bagaimana menjalankan hal
tersebut dengan sebaik-baiknya. Kami harus mampu memberikan dan menawarkan kepada
mereka segala produk yang ada di situs kami. Semua harus kami berikan secara sangat
transparan. Dengan begitu, berarti kami telah memberikan penawaran yang sempurna kepada
pelanggan dan mereka akan menaruh kepercayaan kepada kami.
Bagaimana sejauh ini hasil yang sudah didapatkan?
Sejauh ini, kami telah meraih hasil yang cukup menggembirakan. Semua sesuai dengan
harapan kami. Pelanggan di Indonesia sudah mampu menerima kehadiran kami disini. Setiap
hari kami mendapatkan pengunjung yang hadir di situs kami, terus bertambah setiap harinya.
Selain itu, kami telah mampu mengatasi hambatan kepercayaan pelanggan, yang sebelumnya
ada di tengah-tengah pelanggan kami. Disamping itu, kami pun telah mampu meyakinkan
banyak orang disini untuk melakukan aktifitas beli barang secara online.

Apa saran Anda bagi e-commerce maupun startup di Indonesia agar mampu meraih
kesuksesan dalam berbisnis?
Perusahaan di Indonesia harus mampu membangun produk yang mereka hasilkan. Bukan
sekedar produk, tapi mereka pun harus mengerti apa yang dibutuhkan pelanggan. Customer
focus! Apa pun yang dilakukan di bisnis berbasis internet, tentu tidak boleh melupakan
pengguna akhir mereka. Dan disamping itu semua, tentu mereka tidak boleh melupakan sisi
teknis perusahaan mereka. Jaringan internet, logistik, dan sebagainya juga harus diperhatikan
tentunya. Dan bagi para pelaku bisnis tersebut, terutama bagi para penggiat startup, mereka
harus mampu memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi yang mereka punya.
Namun, di luar itu semua, e-commerce di Indonesia akan mampu mengembangkan diri lebih
besar lagi jika didukung oleh ekosistem yang sangat baik. Tentu untuk mewujudkan hal ini,
harus ada kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari perbankan, penyedia infrastruktur
telekomunikasi, logistic, dan tentunya dukungan dari pemerintah melalui regulasi-regulasi
yang dihasilkan. (EVA)

Memahami Perilaku Belanja Online


by SWAOnline - September 2, 2016
(http://swa.co.id/swa/my-article/memahami-perilaku-belanja-online)
Andi adalah konsumen dari generasi milenial yang ingin membeli gawai terbaru untuk ulang
tahunnya minggu depan. Dia adalah pembeli yang bijaksana yang suka mempelajari segala
sesuatu tentang sebuah produk sebelum membelinya secara online. Dia membandingkan
harga produk di berbagai situs, membaca ulasan dari konsumen lain, dan bahkan
membandingkan rating sebelum memutuskan untuk membeli. Setelah melakukan pemesanan
barang dengan moda pembayaran tunai, , Andi juga melacak pergerakan pengiriman barang
sampai barangnya terkirim. Akhirnya gawai yang dipesan sampai di rumahnya dalam 3 hari.
Dia sangat senang mendapatkan produknya dan ingin membagi pengalaman di akun media
sosialnya.
Kisah Andi adalah satu dari jutaan pembeli yang mengeksplorasi e-commerce di Indonesia.
Setiap hari makin banyak orang yang mendalami dunia pengalaman berbelanja secara digital.
Keadaan ini utamanya didorong oleh meningkatnya penetrasi internet dari 32% di tahun
2013 menjadi 38% di tahun 2015. Ada peningkatan tajam penggunaan internet sekitar 19% di
tahun 2015 dari tahun 2013. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang ingin memanfaatkan
momentum ini.
Peningkatan jumlah merek smartphone dengan harga terjangkau dan akses data yang lebih
murah membuat teknologi menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat umum. Ini mengarah ke
peningkatan bertahap dalam belanja online dari 9,4% (2013) menjadi 11,6% (2015), yang
melambung sekitar 23%. Meskipun penggunaan e-commerce terbilang masih berada pada
tahap awal, tidak akan memerlukan waktu yang lama untuk menyaksikan perubahan besar
dalam industri e-commerce. Data pada grafik 3 mengindikasikan bahwa para peritel online
menghabiskan banyak biaya beriklan untuk menarik pengguna baru untuk membeli secara
online dan juga menggoda pembeli yang sudah ada untuk menghabiskan uang lebih banyak
saat berbelanja online.
Namun demikian, tidak semua pembeli berperilaku sama saat mereka berbelanja online.
Cukup adil untuk mengatakan bahwa perilaku belanja online memperlihatkan kemiripan
dengan kurva adopsi teknologi. Di satu sisi ada para inovator yang akan sangat bersemangat
dengan adanya peningkatan dan fitur terbaru, sementara yang lainnya akan menolak
perubahan. Di sisi lain juga ada jarak antara pengadopsi teknologi awal dengan pelanggan
dari pasar pada umumnya.
Mari kita memahami lebih lanjut tentang e-commerce di Indonesia dan hubungannya dengan
peluang dan tantangannya untuk para peritel online di Indonesia. Nielsen baru-baru ini
melakukan survei terhadap 5000 responden di 5 kota besar di Indonesia untuk
memperkirakan besarnya pasar industri e-commerce. Penelitian ini dilakukan pada 3 modul
terpisah pada awal tahun ini. Lebih jauh lagi penelitian ini untuk memahami perilaku
pembelian para pembelanja online untuk 10 kategori produk (elektronik konsumen, fashion,
travel, IT & mobile, dan lain-lain). Ini adalah upaya untuk memahami perilaku dan dinamika
pembelian dari orang-orang yang melakukan pembelian secara online.

Memelajari Industri E-Commerce

Industri e-commerce di Indonesia diperkirakan akan bernilai lebih dari Rp70 Triliun
per tahun.

Produk-produk Elektronik Konsumen dan Travel berkontribusi lebih dari 50% dari
total nilai pasar.

Dalam hal frekuensi pembelian, produk-produk Fashion/Pakaian Olahraga adalah


kategori yang paling populer dibeli secara online (68%) diikuti oleh Travel (35%) dan
Kosmetik (29%).

Lebih dari 20% adalah Exclusive Click Shopper yang langsung membeli online tanpa
banyak melakukan penelusuran (browsing).

Profil pembelanja e-commerce lebih kepada kelompok usia muda (kurang dari 25
tahun).

Wanita mendominasi pembelian produk Kosmetik, Perawatan Pribadi dan Bahan


Makanan (F&B).

Rekomendasi dari keluarga/teman dan situs jaringan sosial pada merupakan pemberi
pengaruh utama pada proses pembelian.

Sebagian besar pembelanja online melakukan Pencarian & Perbandingan Produk


serta Membaca Ulasan Produk sebelum membeli.

Setelah membeli, mereka menciptakan Word of Mouth dengan berbagi pengalaman


tentang produk pada situs jaringan sosial. Pembayaran melalui internet banking
dianggap terpercaya dan aman untuk belanja online

Tantangan bagi Industri E-Commerce


Meskipun konsumen melakukan eksplorasi saat belanja online, ada kekhawatiran yang
muncul terkait masalah Kepercayaan akan Kondisi barang sama seperti yang ditampilkan di
situs. Apakah produknya asli atau palsu? Apakah ada jaminan produk akan diterima pada
saat pemesanan atau pembayaran dilakukan secara online?
Penghalang lain adalah tentang berbagi informasi pribadi dan informasi bank dengan pihak
ketiga, yang bisa saja mengirimkan email yang tidak diinginkan kepada pelanggan. Tidak
lupa juga tantangan yang melekat di setiap negara yang berada dalam fase pertumbuhan
teknologi digital, contohnya kecepatan internet yang lambat. Meskipun untuk membangun
kepercayaan pembelanja diperlukan usaha yang terorganisir dan rencana jangka panjang,
namun masalah lambatnya kecepatan internet dapat diatasi dengan mengembangkan

App/Website yang kompatibel dengan kecepatan internet yang berbeda-beda (misalnya basic
HTML & full version).
Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia, mengatakan, Sangat penting bagi
peritel online untuk membangun Kepercayaan, yang dapat dilakukan dengan meningkatkan
kesadaran dan pengenalan/kebiasaan mengenai langkah-langkah keamanan dunia maya dan
layanan pembayaran yang aman untuk belanja online.
Melihat ke Depan
Saat ini kemudahan dan kenyamanan dalam membandingkan produk di berbagai situs tetap
menjadi dasar dari industri e-commerce. Namun dalam waktu dekat pengalaman belanja
keseluruhan dalam kenyamanan menemukan produk, proses pemesanan yang cepat dan
layanan pembayaran yang aman akan menjadi kunci untuk menarik para pembelanja untuk
melakukan pembelian ulang.
Industri e-commerce di Indonesia dipenuhi oleh bertumbuhnya isu Kepercayaan di antara
para pembeli, masalah logistik dan infrastuktur yang masih dalam tahap pengembangan dan
sisi kompetitif pasar dimana tidak ada peritel online yang dinyatakan sebagai pemimpin
pasar. Namun demikian dengan populasi lebih dari 200 juta dan penggunaan smartphone
yang meningkat, Indonesia tampaknya tetap memiliki potensi fundamental pasar e-commerce
yang besar.
Oleh: Marlina Elizabeth, Corporate and Marketing Communications The Nielsen Company
Indonesia

ransaksi Kuartal III 2016 OLX Rp37 Triliun


by Arie Liliyah - August 27, 2016
(http://swa.co.id/swa/trends/marketing/transaksi-kuartal-iii-2016-olx-rp-37-triliun)
Dengan terus memberdayakan masyarakat untuk meng-upgrade diri, pertumbuhan positif pun
terus dinikmati oleh situs iklan baris online ini. Pada kuartal III/2016 OLX mengumumkan
pencapaian terakhir mereka, 1 juta pengguna aktif aplikasi Android & iOS setiap harinya.
Tiap bulan, OLX memfasilitasi 1.6 juta transaksi dengan nilai transaksi lebih dari Rp 37
triliun. Kategori yang berkontribusi paling besar adalah kendaraan bermotor. Selama kuartal
ketiga, penjualan mobil mencapai 260 ribu unit dengan kisaran harga jual Rp 160 juta per
unit. Kemudian motor, penjualannya mencapai 270 ribu unit dengan harga sekitar Rp 13 juta
per unit.
Pertumbuhan tren yang begitu cepat memunculkan dorongan untuk mengikuti dan
mengadaptasi gaya hidup terbaru yang lebih moderen, praktis dan nyaman. Selain membantu
meng-upgrade kualitas hidup ke level yang lebih baik, adaptasi tren ini juga menjadi sebuah
simbol kemapanan baru.
Namun, mengadaptasi tren terbaru bukan perkara mudah. Sering kali dibutuhkan sejumlah
dana yang tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat. Hal ini membuat masyarakat terpaksa
menunda untuk mewujudkan keinginan mereka.
Memiliki kualitas hidup yang lebih baik adalah impian semua orang, tetapi hal ini tidak
mudah diwujudkan. E-commerce memberikan akses bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk
mendapatkan hal yang mereka butuhkan. Sayangnya, sering kali kendala yang muncul adalah
keterbatasan dana yang dibutuhkan, ujar Daniel Tumiwa, CEO OLX Indonesia.
Hal semacam ini menjadi insipirasi kami untuk melakukan berbagai inisiatif, membuka
akses bagi sebanyak mungkin masyarakat Indonesia untuk bisa maju dan meningkatkan
kualitas hidup mereka. sambungnya.
Hal menarik yang muncul di OLX adalah inspirasi datang dari para pengguna. Menurut
survei yang dilakukan OLX pada pertengahan tahun 2016, mayoritas responden ternyata
mengumpulkan berbagai macam jenis barang untuk dijadikan modal dalam mencapai
keinginan atau mimpinya. Misalnya, untuk meng-upgrade smartphone, mereka tidak hanya
menjual smartphone lamanya, tetapi juga mengumpulkan barang-barang lain yang sudah
tidak terpakai, seperti pakaian, sepatu, jam tangan hingga alat elektronik lainnya untuk

menjadi modal tambahan. Dengan melakukan hal tersebut, mereka mendapatkan smartphone
yang diinginkan dengan lebih cepat dan dengan sedikit tambahan dana yang dibutuhkan.
Di sisi lain, para pengguna OLX juga memanfaatkan jutaan barang second hand atau preloved yang dijual di platform OLX.co.id. Barang-barang tersebut dinilai sebagai sebuah
pilihan cermat karena berkualitas dan harganya lebih terjangkau. Banyak sekali barang
second hand yang dijual di OLX merupakan keluaran terbaru, dan dijual beberapa bulan
setelah peluncuran. Misalnya, Galaxy S7 32GB yang belum lama diluncurkan, saat ini sudah
beredar dalam kondisi second, di OLX.co.id. Harganya mulai dari Rp6,5 juta. Ini jauh lebih
murah daripada harga barunya yang mencapai Rp8,9 juta, ujar Edward Kilian, Chief
Marketing Officer OLX.
Kejelian pengguna dalam memanfaatkan platform OLX, menjadi inspirasi OLX untuk
meluncurkan kampanye #BekasJadiApapun. Kampanye ini bertujuan untuk mengajak
masyarakat memanfaatkan berbagai macam barang yang tidak terpakai, untuk menjadi modal
mewujudkan mimpi atau keinginannya.
Melalui kampanye #BekasJadiApapun, masyarakat diajak menceritakan pengalamanannya
dalam mewujudkan keinginan dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak
terpakai.OLX menyediakan voucher bahan bakar selama setahun penuh untuk mereka yang
berhasil mewujudkan keinginannya di kategori otomotif. Pada kategori gadget, OLX
menyediakan hadiah berupa pulsa setahun penuh. Dan untuk kategori lainnya, OLX
menyediakan voucher belanja setahun penuh.(EVA)