Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Dalam Hukum ketenagakerjaan yang menjadi pokok pembicaraan


adalah seseorang yang bekerja pada orang lain dan bukan orang yang
bekerja untuk dirinya sendiri. Pengertian hukum ketenagakerjaan amatlah
luas cakupannya sehingga perlu adanya pembatasan tentang macam
pekerjaan yang tidak tercakup dalam hukum ketenagakerjaan.
Dari beberapa perumusan tentang penegrtian hukum perburuhan
dari para ahli Kartasapoetra dan Widianingsih , Mollenaar , Mr Hok , Mr
Soetikno , dan Imam Soepomo maka daptlah kiranya dirumuskan
beberapa

unsur

pokok

yang harus

ada

dalam

pengertian

hukum

perburuhan atau hukum ketenagakerjaan, yaitu :


1. adanya serangkaian peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis
2. peraturan tersebut mengenai suatu kejadian
3. adanya orang yang bekerja (buruh atau pekerja) pada pihak lain
(majikan atau pengusaha)
4. adanya upah
Berkaitan dengan penghertian hukum perburuhan ini perlu pula
dikemukakan pendapat dari Mr Van Esveld yang tidak membatasi
lapangan hukum perburuhan pada hubungan kerja dimana pekerjaan
dilakukan dibawah pimpinan tetapi meliputi pula pekerjaan yang dilakuk
an oleh orang yang melakukan pekerjaan atas tanggung jawab dan risiko
sendiri. Pendapat Esveld ini jelas bertentangan dengan pembatasan yang
telah disebutkan di atas yaitu tentang macam pekerjaan yang tidak
tercakup dalam hukum perburuhan, salah satunya ada lah orang yang
bekerja atas dasar risiko dan tanggung jawab sendiri, menunjuk pada
suatu kejadian di mana

seseorang yang disebut majikan dengan

menerima upah, jadi jelas bahwa orang bekerja atas risiko dan tanggung
jawab sendiri tidak termasuk dalam hukum perburuhan. Karena tidak
menunjukkan adanya hubungan antara orang yang satu (buruh atau
pekerja) denga orang lain (majikan atau pengusaha).
Imam Soepomo, berkaitan dengan pendapat Mr Van Esveld diatas,
menyebutkan bahwa hukum perburtuhan ini lain halnya dengan hukum
tenaga kerja atau hukum Angkatan Kerja dan tidak juga meliputi pekerjaan
bebas (diluar hubungan kerja) seperti yang dikemukakan Mr Van Esveld.
Untuk membukti kan hal itu maka dapat dilihat dalam Undang Undang

Nomor 12 tahun 1984, yang menyebutkan bahwa pekerjaan yang


dijalankan oleh buruh atau pekerja untuk mejaikan atau penguasaha
dalam hubungan kerja dengan menerima upah.
PEMBAHASAN
Sejarah dan Perkembangan Hukum Ketenagakerjaan
A. Lahirnya Undang Undang Nomor 13/2003
Pembangunan

nasional

sebagai

amanat

Pembukaan

Undang

Undang Dasar 1945 pada hakekatnya bertujuan untuk mewujudkan


masyarakat

adil,

makmur

dan

sejahtera.

Pembangunan

nasional

dilaksanakan antara lain melalui pembangunan di bidang ekonomi.


Pembangunan perekenomian akan melibatkan beberapa pihak, salah
satunya adalah tenaga kerja. Pembangunan ketenagakerjaan di negara
kita didasarkan pada ketentuan Undang Undang Nomor 13 tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan. Undang Undang Nomor 13 tahun 2003 ini dapat
dikatakan sebagai pengganti Undang Undang Nomor 25 tahun 1997
tentang Ketenagakerjaan dengan beberapa penyempurnaan. Seharusnya
Undang Undang Nomor 25 tahun 1997 dilaksanakan mulai tanggal 1
Oktber 1988 namun urung dilaksanakan sebagai akibat adanya resistensi
dari sekelompok pekerja. Akibatnya undang undang ini ditunda selama
dua tahun melalui Undang Undang Nomor 11 tahun 1988. Setelah dua
tahun ditunda, pekerja tetap melakukan resistensi terhadap keberlakuan
Undang Undang Nomor 25 tahun 1997 tersebut bahkan menuntut untuk
melakukan pencabutan. Hal ini mengakibatkan pemerintah menerbitkan
Peraturan Pememrintah Pengganti Undang Undang Nomor 3 tahun 2000
untuk

mengakomodasikan

keinginan

para

pekerja

tersebut,

sambil

mempersiapkan Rancangan Undang Undang Ketenagakerjaa sebagai


pengganti Undang Undang Nomor 25 tahun 1997 tersebut.
Terbitnya Undang Undang Nomor 13 tahun 2003 diharapkan
mampu menjawab berbagai tantangan dan problematika perlindungan
pekerja serta para TKI. Namun demikian menurut Aloysius Uwiyono,
Undang Undang Nomor 13 tahun 2003 masih mengandung beberapa
kelemahan sebagai berikut :
1. Perjanjian Kerja Waktu tertentu. Di satu sisi Perjanjian Kerja Waktu
Tertentu dapat dibuat berdasarkan jangka waktu yang berarti tidak

mempersoalkan apakah pekerjaan itu bersifat tetap atau tidak. Di


lain pihak, ada pasal lain dalam Undang Undang Nomor 13 tahun
2003 ini yang melarang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk
pekerjaan yang bersifat tetap. Bahkan apabila ketentuan terakhir i
ni dilanggar, maka perjanjian kerja waktu tertentu tersebut akan
berubah secara otomatis menjadi perjanjian kerja waktu tidak
tertentu.
2. Outsourcing. Sejak diundangkannya Undang undang Nomor 13
tahun 2003, outsourcing pekerj a menjadi menjamur. Hal ini
disebabkan pengusaha dalam rangka efisiensi merasa aman jika
buruh yang di outsource adalah buruhnya perusahaan jasa pekerja.
Sehingga yang bertanggung jawab terhadap buruh outsource tadi
adalah perusahaan jasa pekerja.
B. Sejarah Perkembangan Hukum Ketenagakerjaan
Sejarah perkembangan hukum ketenagakerjaan dapat dibagi dalam
beberapa periode. Adapun periodisasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Masa Sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
Perbudakan yaitu suatu ke adaan dimana seseorang yang disebut
budak melakukan pekerjaan di bawah perintah pihak yang lain
yaitu pemilik budak. Seseorang budak tidak memiliki hak apapun
dalam hubungan kerja bahkan juga tidak memiliki hak atas
kehidupannya. Kewajiban budak yaitu mel aksanakan semua
perintah kerja yang diberikan pemilik budak. Para pemilik budak
yaitu satu-satunya pihak yang memiliki hak untuk mengattur dan
memberi kerja serta hak lainnya atas budak yang dimilikinya.
Hukum perburuhan/perbudakan yang ada pada masa ini adalah
hukum perburuhan asli Indonesia, dengan demikian disebut dengan
hukum

perburuhan

adat,

Pemerintah

Hindia-Belanda

mulai

mengatur masalah perbudakan pada tahu n 1817 yaitu dengan


melarang memasukkan budak ke pulau Jawa untuk membatasi
bertambahnya budak. Setelah tahun-tahun tersebut pemerintah
Hindia-Belanda berturut-turut mengeluarkan peraturan-peraturan
untuk meringankan beban para budak.

Pada

tahun

Regerings

1854

pemerintah

reglement

(RR)

Hindia-Belanda

yang

mengeluarkan

menetapkan

penghapusan

perbudakan. Pasal 115 RR tersebut menetapkan bahwa paling


lambat tanggal 1 Januari 1860, perbudakan seluruh Hindia-Belanda
dihapus.
2. Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
Kalau sebelum kemerdekaan arah hukum perburuhan banyak
diwarnai oleh politik hukum pemerintah Hindia-Belanda, yang pada
kenyataannya

merupakan

pemerintah

kolonial,

maka

setelah

kemerdekaan arah yang mendasarinya jelas, yaitu Undang-Undang


Dasar 1945. Hal ini dapat kita lihat dalam pasal 27 ayat (2) yang
berbunyi,

tiap-tiap

warga

negara

berhak

atas

pekerjaan

penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.maka diatur dalam


undang-undanng yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1993
tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek).
Dalam rangka reformasi ketenagakerjaan tersebut, pemerintah
bersama DPR telah mengundangkan beberapa undang-undang
yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, yaitu Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja / Serikat Buruh,
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI).

PENUTUP
Kesimpulan
1. Lahirnya Undang Undang Nomor 13/2003 sebagai pengganti Undang
Undang Nomor 25 tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan dengan
beberapa penyempurnaan yang seharusnya Undang Undang Nomor
25 tahun 1997 dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktber 1988 namun
urung

dilaksanakan

sebagai

akibat

adanya

resistensi

dari

sekelompok pekerja. Akibatnya undang undang ini ditunda selama


dua tahun melalui Undang Undang Nomor 11 tahun 1988.
2. Sejarah perkembangan hukum ketenagakerjaan dapat dibagi dalam
beberapa periode yaitu masa sebelum proklamasi kemerdekaan 17
Agustus 1945 dan masa setelah proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945.