Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIK FARMAKOKINETIK

Simulasi Model In Vitro Farmakokinetik Obat setelah Pemberian secara


Intravena

OLEH :
KELOMPOK 1 B

AHMAD HASYIM ABBAS

(1113102000010)

AISYAH

(1113102000030)

PUSPA NOVADIANTI S

(1113102000028)

RIZKI MARTA PUTRI

(1113102000049)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
OKTOBER/2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Nasib obat dalam tubuh atau yang dikenal dengan istilah farmakokinetik mencakup
absorpsi, distribusi, metabolism dan eksresi. Aktivitas dan toksisitas obat di dalam tubuh
dapat digambarkan dari model farmakokinetik. Model farmakokinetik merupakan model
matematika yang menggambarkan hubungan antara dosis dan konsentrasi obat dalam
setiap individu. Parameter dari model menggambarkan faktor-faktor yang dipercaya
penting dalam penentuan observasi dari konsentrasi atau efek obat.
Parameter tersebut antara lain terdiri dari beberapa parameter antara lain parameter
primer yang terdiri dari volume distribusi (Vd); klerens (Cl); dan kecepatan absorbsi (Ka),
parameter sekunder terdiri dari kecepatan eliminasi (K); dan waktu paruh (T1/2), serta
parameter-parameter turunan. Model farmakokinetik tersebut mempunyai aplikasi
langsung untuk terapi obat berkenaan dengan menentukan aturan dosis yang sesuai
(Aiache, 1993).
Model kompartemen yang sering digunakan adalah model kompartemen satu
terbuka, model ini menganggap bahwa berbagai perubahan kadar obat dalam plasma
mencerminkan perubahan yang sebanding dengan kadar obat dalam jaringan. Tetapi model
ini tidak menganggap bahwa konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut adalah sama
dengan berbagai waktu. Di samping itu, obat di dalam tubuh juga tidak ditentukan secara
langsung, tetapi dapat ditentukan konsentrasi obatnya dengan menggunakan cuplikan
cairan tubuh (Shargel, 1988).
Pengaplikasian mengenai model kompartemen farmakokinetika diperlukan agar
mahasiswa lebih memahami tidak hanya secara teori. Pada praktikum ini dilakukan
percobaan secara in vitro model farmakokinetika obat setelah pemberian secara intravena.
Bahan obat yang diujikan yaitu Paracetamol.

1.2. Tujuan

Setelah melakukan praktikum ini, diharapkan mahasiswa


1. Dapat menjelaskan proses farmakokinetika obat didalam tubuh setelah pemberian
secara bolus intravena dengan simulasi model I=in vitro farmakokinetik obat
2. Mampu memplot data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala semilogaritmik
3. Mampu menentukan berbagai parameter farmakokinetik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Model Farmakokinetika
Model farmakokinetik merupakan model matematika yang menggambarkan hubungan
antara dosis dan konsentrasi obat dalam setiap individu. Parameter dari model menggambarkan
faktor-faktor yang dipercaya penting dalam penentuan observasi dari konsentrasi atau efek obat.
Parameter tersebut antara lain terdiri dari beberapa parameter antara lain parameter primer yang
terdiri dari volume distribusi (Vd); klerens (Cl); dan kecepatan absorbsi (Ka), parameter sekunder
terdiri dari kecepatan eliminasi (K); dan waktu paruh (T1/2), serta parameter-parameter turunan.
Model farmakokinetik tersebut mempunyai aplikasi langsung untuk terapi obat berkenaan dengan
menentukan aturan dosis yang sesuai (Aiache, 1993).
Kompartemen adalah suatu kesatuan yang dapat digambarkan dengan suatu volume
tertentu dan suatu konsentrasi. Perilaku obat dalam sistem biologi dapat digambarkan dengan
kompartemen satu atau kompartemen dua. Kadang-kadang perlu untuk menggunakan
multikompartemen, dimulai dengan determinasi apakah data eksperimen cocok atau pas untuk
model kompartemen satu dan jika tidak pas coba dapat mencoba model yang memuaskan.
Sebenarnya tubuh manusia adalah model kompartemen multimillion (multikompartemen),
mengingat konsentrasi obat tiap organel berbeda-beda. (Hakim, L., 2014).
Model kompartemen yang sering digunakan adalah model kompartemen satu terbuka,
model ini menganggap bahwa berbagai perubahan kadar obat dalam plasma mencerminkan
perubahan yang sebanding dengan kadar obat dalam jaringan. Tetapi model ini tidak menganggap
bahwa konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut adalah sama dengan berbagai waktu. Di
samping itu, obat di dalam tubuh juga tidak ditentukan secara langsung, tetapi dapat ditentukan
konsentrasi obatnya dengan menggunakan cuplikan cairan tubuh (Shargel, 1988).
Jika tubuh diasumsikan sebagai satu kompartemen, tidak berarti bahwa kadar obat sama di
dalam setiap jaringan atau organ, namun asumsi yang berlaku pada model tersebut ialah bahwa
perubahan kadar obat di dalam darah mencerminkan perubahan kadar obat di jaringan. Lalu
eliminasi (metabolism dan ekskresi) obat dari tubuh setiap saat sebanding dengan jumlah atau
kadar obat yang tersisa di dalam tubuh pada saat itu (Ritschel, 1992).

2.2. Jalur Intravaskuler dan Ekstravaskuler


Jalur pemberian obat ada 2 yaitu intravaskular dan ekstravaskular. Pada pemberian secara
intravaskular, obat akan langsung berada di sirkulasi sistemik tanpa mengalami absorpsi,
sedangkan pada pemberian secara ekstravaskular umumnya obat mengalami absorpsi
(Zunilda,.dkk, 1995).

Gambar 3: Grafik semilog kecepatan eliminasi obat pada model kompartemen satu

Persamaan kinetika obat dalam darah pada pemberian bolus intravena dengan satu dosis D
yang mengikuti model satu kompartemen diberikan dengan persamaan :
C1 = C0 e-k.t
Dimana C1 adalah kadar obat dalam waktu t, C0 adalah kadar obat pada waktu 0,k atau ke
adalah konstanta kecepatan eliminasi obat. Dengan menggunakan kadar obat pada berbagai waktu,
harga C0 dan k dapat dihitung dengan cara regresi linier setelah persamaan ditransformasikan ke
dalam nilai logaritmik :
InC1 = InC0 k.t

Model farmakokinetika untuk obat yang diberikan dengan injeksi IV cepat. D: obat dalam
tubuh; Vd: Volume distribusi; K: tetapan laju eliminasi. Setelah ditentukan nilai Cp dan K,
berbagai parameter farmakokinetik obat yang berkaitan dengan cara pemberian obat secara bolus
intravaskuler dapat dihitung, seperti: (Hakim, L, 2014)

volume distribusi (Vd): volume dalam tubuh di mana obat terlarut,

klirens (Cl),

waktu paruh eliminasi (t )

Luas di bawah kurva dalam plasma (AUC)

Bioavalaibilitas (ketersediaan hayati)

Vd = D/Cp
Cl = Vd.Ke
t = 0,693/K
AUC= (C1+C0) x (t1-t0)
2
Absorpsi sistemik suatu obat melalui saluran gastrointestinal atau tempat absorpsi lain
tergantung sifat fisiko kimia obat, bentuk sediaan, dan anatomi fisiologi tempat absorpsi. Factorfaktor seperti luas permukaan saluran cerna, kecepatan pengosongan lambung, motilitas
gastrointestinal, metabolism oleh mikroflora usus, dana aliran darah di tempat absorpsi, semuanya
dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi (Shargel dkk, 2005).
Pada pemberian ekstravaskuler ini terdapat proses absorpsi obat, pada waktu ke 0 tidak ada
obat pada sirkulasi sistemik, dan setelah absorpsi konsentrasi meningkat dan berkurang setelah
eliminasi. Bentuk model yang menerangkan kinetik obat setelah pemberian kstravaskuler adalah:
(Hakim, L., 2014)

Persamaan yang merangkan perubahan kadar obat dalam darah, plasma, serum, atau
sampel hayati lainnya pada tiap waktu (Ct) adalah: (Hakim, L., 2014)

= ketersediaan hayati (bioavailabilitas)

Dev

= dosis obat yang diberikan secara ekstravaskular

Dari persamaan terebut dapat diketahui bahwa semakin cepat atau banyak obat yang
diabsorpsi masuk ke dalam sistem sirkulasi atau semakin besar dosis, maka semakin cepat dan
tinggi kadar obat di dalam darah. Demikian sebaliknya, semakin banyak obat yang terdistribusi ke
dalam jaringan, semakin rendah kadar obat di dalam darah.

2.3. Spektrofotometer UV-Visibel


Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan
fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu
dan fotometer adalah alat pengukuran intenditas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi.
Jadi, spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relative jika energi tersebut
ditransmisikan, direflesikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk
menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada
interaksi antara materi (atom atau molekul) dengan cahaya atau radiasi elektromagnetik (REM).
Peralatan yang digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer.
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh suatu
sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang
gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 400750 nm. Metode pengukuran menggunakan prinsip spektrofotometri adalah berdasarkan absorbsi
cahaya pada panjang gelombang tertentu melalui suatu larutan yang mengandung kontaminan
yang akan ditentukan konsentrasinya. Proses ini disebut absorbsi spektrofotometri, dan jika
panjang gelombang yang digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai
kolorimetri, karena memberikan warna. Prinsip kerja dari metode ini adalah jumlah cahaya yang
di absorpsi oleh larutan sebanding konsentrasi kontaminan dalam larutan.
Spektrofotometer terdiri atas spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan
sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur
intensitas cahaya yang ditranmisikan atau yang diabsorpsi. Spektrofotometer tersusun atas sumber
spektrum yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan
suatu alat untuk mengukur pebedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding.

Prinsip Kerja dari Spektrofotometer


Prinsip kerja spektrofotometer adalah interaksi antara obat atau molekul dengan radiasi
elektromagnetik (REM) yang energinya sesuai. Interaksi tersebut dapat membuat molekul suatu
obat menghamburkan REM, menyerap REM atau mengemisikan REM. Apabila terjadi
penyerapan REM sebagai interaksi antara molekul dengan REM, maka akan penyerapan tersebut
akan diemisikan oleh molekul tersebut. Interaksi tersebut akan meningkatkan energi potensi
elektron (eksitasi) pada tingkat aksitan (ground state). Namun, posisi molekul yang mengalami
eksitasi tersebut tidaklah stabil. Sehingga dengan cepat molekul tersebut akan kembali ke ground
state dan akan mengemisikannya. Apabila pada molekul yang sederhana tadi hanya terjadi transisi
elektronik pada suatu macam gugus maka akan terjadi suatu absorbsi yang merupakan garis
spektrum.

Tipe Instrumen Spektrofotometri UV-Vis


1. Double (or dual) beam spektrofotometer, dimana mengandung sumber cahaya UV-Visible,
cahaya UV-Visible akan melewati dua sel dan dektetor (photomultipier) untuk mengetahui
banyaknya cahaya yang melewati sel. Prinsip dari spektrofotometer adalah absorbansi pada
panjang gelombang tertentu yang diatur oleh pengguna dan membaca pajang gelombang UV-Vis
yang masuk. Double beam memiliki variable panjang gelombang atau multiwavelength.
Spektrofotometer di kontrol dan memberikan kemampuan fleksibilitas yang baik, contoh
membentuk grafik kalibrasi untuk menentukan konsentrasi yang tidak diketahui. Kalkulasi dari
spetrofotometer UV-Vis Double beam adalah

Keterangan I0 = cahaya yang ditransmisikan awal I = Cahya ditransmisikan pada sampel

2. Single beam spektrometer UV-vis memiliki prinsip yang sama dengan double
beam, tetapi pertama melakukan absropsi terhadap blanko, kemudian bar sampel yang dideteksi
(Rosaleen J. Andreson dkk, 2004). Pada Single beam berdasarkan pada sinar tunggal yang akan
ditentukan jumlahnya pada satu panjang gelombang (Hobart H. Willlard dkk, 1998)

Komponen Spektrofotometer UV-Vis


Spektrofotometer terdiri dari beberapa instrumentasi, yaitu sebagai berikut :
1. Sumber cahaya/ radiasi Dua sumber radiasi yang digunakan dalam spktrofotometer yang
mana diantaranya dapat menyediakan selang panjang gelombang dari 200 nm - 800 nm. a.
Untuk pengukuran di atas 320 nm, sumber radiasi dari bahan tungsten halogen b. Untuk
pengukuran di bawah 320 nm, sumber radiasi dari bahan deuterium.
2. Monokromator Digunakan untuk memperoleh sumber sinar yang monokromatis. Alatnya
dapat berupa prisma ataupun grating. Untuk mengarahkan sinar monokromatis yang
diinginkan dari hasil penguraian ini dapat digunakan celah. Jika celah posisinya tetap,
maka prisma atau gratingnya yang dirotasikan untuk mendapatkan yang diinginkan.
3. Sel absorbsi. Pada pengukuran di daerah tampak kurvet kaca atau kurvet kaca corex dapat
digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus menggunakan sel kuarasa

karena gelas tidak tembus daerah cahaya pada daerah ini. Umumnya tebal kurvetnya adalah
10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang
digunakan biasanya berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan.
4. Detektor Peranan detector penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada
berbagai panjang gelombang. Pada spektrofotometer, tabung pengganda electron yang
digunakan prinsip kerjanya telah diuraikan. Setiap detector menyerap tenaga foton yang
mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kuantitatif seperti
sebagai arus listrik atau perubahan-perubahan panas. Kebanyakan detector menghasilkan
sinyal listrik yang dapat mengaktifkan meter atau pencatat. Setiap pencatat harus
menghasilkan sinyal yang secara kuantitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang
mengenainya.
5. Hasil Keluaran Dalam instrumen manual diperoleh hasil keluaran secara tetap dari
beberapa bentuk yang mana menunjukan transmitansi secara langsung atau dugunakan
sebagai penunjuk nol dalam sirkuit potensiometri. Potensiometri biasanya dikalibrasi
dalam satuan transmitansi dan dalam satuan absorbansi. Instrumen modern lebih
digunakan karena mempunyai hubungan keluaran digital pada mikroprosesor yang
memberikan nilai absorbansi secara langsung atau dapat dikalibrasi dalam satuan
konsentrasi setelah larutan standar diukur

Gambar 1. Komponen Alat Spektrofotometer Uv-Vis

Hukum Lambert-Beer
Jika intensitas cahaya Io pada panjang gelombang tertentu dilewatkan melalui larutan yang
mengandung bahan yang mengabsorpsi cahaya dapat diukur dengan detektor. Hukum Lambert
Beer digunakan untuk menggambarkan absorpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu yang
diberikan oleh absorpsi spesi dalam larutan :

Keterangan : A adalah absorbansi;


adalah absorptivitas molar (L mol -1 cm -1 );
1 adalah panjang laluan sinar melalui larutan (cm);
c adalah konsentrasi spesi (molal)

2.4. Parasetamol dan Sifat Fisika Kimianya


Parasetamol merupakan zat hablur atau serbuk hablur putih tidak berbau, rasa pahit.
Kelarutanya adalah larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95 % P, 13 bagian aseton P,
dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam alkali hidroksida.
Berat molekulnya adalah 151, 16 dengan nama senyawa N asetil p aminofenol ( Depkes RI,
1995 ).
Rumus

struktur

dari

parasetamol

atau

asetaminofen

adalah

Berikut dibawah ini merupakan sifat fisika kimia parasetamol :

Nama senyawa : 4-hidroksiasetanilida [103-90-2] ,N-Acetyl-p-aminophenol , Paracetamolum


, N-(4-hydroxipheny-1) acetamide. ( Martindal )

Struktur molekul : C8H9NO2

Berat molekul : 151,16

Sifat organoleptis : Bentuk hablur atau serbuk putih Rasa pahit, dan tidak berbau

Sifat dalam larutan :


Farmakope III : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%), dalam 13 bagian

aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali
hidroksida
Martindale : Larut dalam 70 bagian air , dalam 20 bagian air mendidih , Dalam 7 10
bagian alkohol , dalam 9 bagian propilen glikol , dalam 15 bagian sodium hydroxide 1N, Sangat
mudah larut dalam kloroform , Praktis tak larut dalam eter

Titik leleh : titik leburnya 169-172C.

PKa : 9,9

Stabilitas : Sediaan harus disimpan pada suhu 15-30 C. Sediaan bentuk larutan atau suspensi
tidak boleh dibekukan (stabilitas penyimpanan). Parasetamol sangat stabil dengan air, Stabil
pada pH > 6, dan tidak stabil pada pH asam atau pada kondisi alkalin (stabilitas terhadap
pelarut).

Dosis :
Farmakope III : 6-12 bulan 50 mg (1xp), 200 mg (1xh)

1-5 tahun 50-100 mg (1xp), 200-400 mg (1xh)


5-10 tahun 100-200 mg (1xp), 400-800 mg (1xh)
10 tahun 250 mg (1xp), 1 g (1xh)
Dewasa 500 mg (1xp), 500mg-2 g (1xh)

Dewasa & anak >12 thn; oral 650 mg atau 1 g tiap 4-6 jam bila perlu, maksimum 4 g per hari.
Anak utk tiap 4-6 jam (maksimum 5 dosis per 24 jam) :
- < 4 bln (2.7 - 5 kg) 40 mg,
- 4-11 bln (5-8 kg) 80 mg,
- 2-3 bln (8-11 kg)120 mg,
- 2-3 thn (11-16 kg)160 mg

Indikasi : Analgetis, antipiretik, parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu lama karena
kemungkinan menimbulkan nefropati analgetik

Kontra Indikasi : reaksi hipersensitifitas dan kelainan darah, Disfungsi ginjal atau hati

Efek samping : Eritem dan Urtikaria, gejala yang lebih berat berupa demam dan lasi pada
mukosa. Penggunaan semua jenis analgesik dosis besar secar menahun dapat menyebabkan
nefropati analgesic.

Farmakokinetik : parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.


Konserntrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh plasma antara
1-3 jam. Pada plasma,25% parasetamol terikat protein plasma dan dimetabolis oleh enzim
mikrosom hati. 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan
asam sulfat.Obat dapat mengalami hidroksilasi, metabolit dari hasil tersebut dapat
menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit.

Farmakodinamik: efek analgesiknya menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri sedang dan
menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti
salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai anti reumatik.
efek iritasi, erosi, gangguan pernafasan dan perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini.
Memiliki keseimbangan asam basa.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
1. Bak suhu
2. Gelas beaker
3. Vial
4. Spuit (alat suntikan)
5. Labu ukur
6. Spektrofotometri
3.1.2 Bahan
1. Larutan Parasetamol
2. Larutan NaOH 0,1 N
3. Aquades

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N
1. NaOH ditimbang sebanyak 4 gram
2. Setelah itu NaOH dilarutkan dengan sedikit aquades
3. NaOH yang sudah terlarut dimasukkan ke dalam labu ukur 1000 mL
4. Di tambahkan aquades ke dalam labu ukur sampai volume 1000 mL

3.2.2 Simulasi Model In vitro Farmakokinetik Rute Intravena


1. 2 buah beaker glass dimasukkan ke dalam bak suhu
2. Masing-masing beaker glass diisi dengan NaOH 0,1 N sebanyak 200 mL
3. Kemudian 5 mL larutan parasetamol dimasukkan ke dalam beaker glass
yang telah diisi dengan NaOH 0,1 N.
4. Pada masingmasing beaker glass diambil cuplikan sebanyak 5 mL dan 4
ml pada waktu 10, 20,30, 40 dan 50 menit setelah obat di masukkan ke
dalam wadah
5. Setiap kali pengambilan cuplikan di tambahkan larutan NaOH 0,1 N
dengan volume yang sama dengan volume cuplikan
6. Kadar obat dalam cuplikan ditentukan dengan menggunakan
spektrofotometrik
7. Plot data kadar obat terhadap waktu pada kertas semilogaritmik atau
dengan mengunakan Excel
8. Tentukan parameter farmakokinetik dari obat parasetamol tersebut (C0, k,
Vd, Cl dan t1/2)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil
4.1.1 Bobot PCT Sebenarnya pada Larutan PCT 200 ppm
Bobot PCT = 200 ppm x 250 mL
= 200 g/ml x 250 mL
= 50.000 g
= 50 mg

4.1.2 Gelas Uji A (5 mL)


Waktu (t) (menit)

Kadar (C) (ppm)

10

5,282

20

5,105

30

4,776

40

4,55

50

4,29

4.1.3 Gelas Uji B (4 mL)


Waktu (t) (menit)

Kadar (C) (ppm)

10

5,133

20

4,971

30

4,828

40

4,731

50

4.2

4,386

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan simulasi model in vitro farmakokinetik obat
setelah pemberian secara intravena. Sebelum dilakukan percobaan, terlebih dahulu dibuat
larutan parasetamol (PCT) di dalam 250 mL NaOH sehingga didapat larutan PCT 200 ppm.
Alasan digunakannya NaOH sebagai pelarut adalah karena PCT larut di dalam NaOH 1 N
(Depkes RI, 2014). Sementara itu, jumlah PCT yang dilarutkan dianggap tidak diketahui
sehingga harus dibahas. Pada saat yang sama, disiapkan waterbath dengan suhu 37oC lalu
diletakkan dua gelas beker (yang kemudian disebut gelas uji A dan gelas uji B) berisi 200
mL larutan NaOH 1N. Masing-masing gelas uji dianggap sebagai kompartemen darah.
Setelah terbentuk larutan PCT 200 ppm yang homogen, kemudian diambil 5 mL
dari larutan tersebut dan dimasukkan ke dalam masing-masing gelas uji A dan B yang telah
hangat. Sejumlah 5 mL larutan PCT yang dimasukkan ke dalam gelas uji dianggap sebagai
sediaan injeksi. Setelah itu, cairan dalam gelas uji A dan B dikeluarkan (dicuplik) dengan
kecepatan konstan (dianggap sebagai proses ekskresi renal) dari menit ke-10 hingga menit
ke-50 (interval 10 menit). Volume cairan yang dicuplik masing-masing sebanyak 5 mL pada
gelas uji A dan 4 mL pada gelas uji B. Selanjutnya cairan yang hilang karena ekskresi diganti
dengan larutan NaOH dalam volume yang setara dengan yang diekskresikan. Larutan NaOH
pengganti tersebut kemudian dianggap sebagai air yang diminum. Tiap cuplikan kemudian
ditentukan kadarnya menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Lalu data kadar diplotkan
terhadap waktu pada perangkat lunak Ms. Excel dan kertas semilogaritmik. Kemudian
dihitung harga C0, k, VD, Cl, dan t1/2.
Pada percobaan ini digunakan prinsip kompartemen 1 terbuka yang sesuai dengan
injeksi intravena (IV) bolus yaitu penyederhanaan disposisi obat dalam tubuh manusia di
mana tubuh digambarkan sebagai satu wadah (gelas beker) yang terus-menerus terisi cairan
(larutan NaOH pengganti) serta obat akan dieliminasi secara kontinyu per satuan waktu
tertentu (ekskresi renal). Parameter-parameter tersebut dianggap tetap di dalam
farmakokinetika sehingga jika diketahui satu seri kadar/konsentrasi obat yang dikumpulkan
dalam berbagai waktu maka dapat diketahui pula volume cairan dalam wadah/kompartemen
(VD, volume distribusi) dan laju eliminasi obat (k). Selain itu pada model kompratemen 1,

obat diinjeksikan sekaligus sehingga akan berdistribusi secara serentak dan homogen ke
dalam kompartemen lalu seluruh dosis obat masuk ke aliran darah dengan segera dan proses
absorpsi dianggap terjadi seketika. Eliminasi obat terjadi jika semua dosis terlarut dalam
tangki cairan secara merata akibat kesetimbangan obat antara darah dan jaringan cepat.
(Shargel, L., dkk., 2012)

Gambar 3.1 Model Kompartemen Satu Terbuka


Sumber: Shargel, L., dkk., 2012

Selanjutnya orde reaksi pada kompartemen percobaan mengikuti reaksi orde ke-0
di mana jumlah obat berkurang dalam jarak/interval waktu yang tetap serta hubungan v.s.
kadar yang linier. Adapun orde reaksi yaitu menunjukkan cara bagaimana konsentrasi obat
atau pereaksi memengaruhi laju suatu reaksi kimia. (Shargel, L., dkk., 2012)

Gambar 3.1 Kurva Reaksi Orde Ke-0


Sumber: nonsibihighschool.org

Sebelum menentukan parameter-parameter farmakokinetika, terlebih dahulu


dilakukan plot data kadar dalam ppm (sumbu y) terhadap waktu dalam menit (sumbu x).
Setelah itu, dipilih layout kurva yang menampilkan rumus regresi linier dan lineritas dari
kurva pada perangkat lunak Ms. Excel. Kurva yang diperoleh yaitu sebagai berikut.

Kurva Cp Gelas Uji A (Orde Ke-0)


6

Kurva Cp (Orde Ke-0)

Cp (ppm)

5
Linear (Kurva Cp (Orde Ke0))

4
3
2

y = -0.0254x + 5.5623
R = 0.994

1
0
0

20

40

60

Waktu (menit)

Cp (ppm)

Kurva Cp Gelas Uji B (Orde Ke-0)


5.2
5.1
5
4.9
4.8
4.7
4.6
4.5
4.4
4.3

Kurva Cp (Orde Ke-0)


Linear (Kurva Cp (Orde Ke0))
y = -0.0173x + 5.33
R = 0.9497

20

40

60

Waktu (menit)

Setelah memplotkan data, diperoleh persamaan regresi linier masing-masing kurva


yaitu y = -0,0254x + 5,5623 dengan nilai regresi = R2 = 0,994 untuk gelas uji A dan y = 0,0173x + 5,33 dengan nilai regresi = R2 = 0,9497. Dari data nilai regresi terlihat bahwa
kurva yang dihasilkan pada kurva Cp gelas uji A lebih baik daripada gelas uji B karena R2
mendekati 1 sehingga kurva Cp gelas uji A lebih linier daripada kurva Cp gelas uji B.
Linearitas yang kecil pada gelas uji B dapat disebabkan oleh pengadukan gelas uji yang
kurang sempurna ataupun pencucian alat pencuplik yang kurang bersih sehingga masih
menyisakan sejumlah obat yang kemudian ikut terdeteksi di menit selanjutnya.

Setelah didapat data kurva, lalu dicari harga kadar pada menit ke-0 (C0) yang
didapatkan dari persamaan di masing-masing kurva sebagai berikut.
1. Gelas Uji A
y = -0,0254x + 5,5623 Cp = -kt + C0 maka C0 = 5,5623 ppm
2. Gelas uji B
y = -0,0173x + 5,33 Cp = -kt + C0 maka C0 = 5,33 ppm
Oleh karena itu, didapat C0 pada gelas uji A dan B berturut-turut yaitu 5,5623 ppm dan 5,33
ppm. Secara teoritits, C0 yang didapat pada kedua gelas uji seharusnya sama. Namun,
persamaan kurva yang didapat dari plot data berbeda sehingga hasilnya pun berbeda.
Sama halnya dengan C0, harga laju eliminasi obat (k) juga didapatkan dari
persamaan kurva, sehingga nilai k pada gelas uji A (kA) = 0,0254/menit sementara nilai k
pada gelas uji B (kB) = 0,0173/menit. Nilai k yang didapat bernilai konstan pada masingmasing gelas uji dan menunjukkan laju penurunan konsentrasi obat dalam tubuh per menit.
Dosis yang digunakan yaitu 5 mL larutan PCT 200 ppm sehingga dapat diketahui
berapa mg PCT di awal penginjeksian atau dengan kata lain Div = 5 mL x 200 ppm = 5 mL
x 200 g/mL = 1000 g = 1 g. Sehingga didapat dosis PCT yang diinjeksikan (Div) yaitu
1000 g atau 1 mg.
Volume distribusi (VD) merupakan parameter farmakokinetik selanjutnya yang
dicari dalam praktikum kali ini. VD menyatakan suatu volume yang harus diperhitungkan
dalam memperkirakan jumlah obat dalam tubuh dari konsentrasi obat yang ditemukan dalam
kompartemen sampel (Shargel, L., dkk., 2012). VD juga dapat dianggap sebagai volume di
mana obat terlarut sehingga memiliki persamaan matematis:
VD = Div / C0
1. Volume Distribusi pada Gelas Uji A (VD(A))
VD(A) = 1000 g / 5,5623 g/mL = 179,7817 mL
2. Volume Distribusi pada Gelas Uji B (VD(B))
VD(B) = 1000 g / 5,33 g/mL = 187,6173 mL
Volume distribusi yang didapat juga seharusnya sama pada kedua gelas uji, tetapi serupa
dengan nilai C0, nilainya menjadi berbeda akibat persamaan kurva pada masing-masing gelas
uji juga berbeda. VD juga menyatakan volume cairan dalam wadah/kompartemen/gelas uji.
Oleh sebab itu, nilai VD sama dengan banyak volume larutan NaOH dalam gelas beker

sehingga nilai VD yang seharusnya didapat melalui persamaan matematis adalah 200 mL
atau setidaknya mendekati 200 mL. Akan tetapi, nilai VD yang didapat dari persamaan jauh
lebih sedikit dibandingkan dengan nilai sebenarnya. Hal ini dapat disebabkan beberapa
faktor kesalahan yang telah disebutkan pada pembahasan linearitas, sehingga distribusi obat
tidak merata.
Klirens (Cl) adalah jumlah obat yang dieksresikan dari ginjal per satuan waktu.
Secara matematis, klirens dinyatakan sebagai berikut.
Cl = k x VD
1. Klirens pada Gelas Uji A (ClA)
ClA = kA x VD(A) = 0,0254/menit x 200 mL = 5,08 mL/menit
2. Klirens pada Gelas Uji B (ClB)
ClB = kB x VD(B) = 0,0173/menit x 200 mL = 3,46 mL/menit
Pada perhitungan klirens digunakan VD ideal/sebenarnya karena hasil VD yang didapat
melalui perhitungan matematis terlalu menyimpang. Kirens yang didapat pada gelas uji A
(ClA = 5,08 mL/menit) sesuai dengan volume yang dicuplik yaitu 5 mL. Sedangkan
penyimpangan terjadi pada hasil klirens pada gelas uji B (ClB = 3,46 mL/menit) yang
seharusnya sesuai dengan volume yang dicuplik pada gelas uji B yaitu 4 mL. Pengadukan
dan pencucian alat pencuplik yang tidak maksimal dapat menyebabkan penyimpangpenyimpangan tersebut.
Parameter farmakokinetik selanjutnya yaitu waktu paruh t1/2. Waktu paruh (t1/2)
menyatakan waktu yang diperlukan agar konsentrasi obat berkurang menjadi separuhnya
(Shargel, L., dkk., 2012). Waktu paruh reaksi orde ke-0 tidak tetap dan bergantung pada
konsentrasi obat awal yang secara matematis dirumuskan sebagai berikut.
t1/2 = 0,5C0 / k0
1. Waktu Paruh pada Gelas Uji A (t1/2(A))
t1/2(A)

= 0,5C0 / k0
= (0,5 x 5,5623 g/mL) / 0,0254/menit
= 109,494 menit
= 1,824 jam

2. Waktu Paruh pada Gelas Uji B (t1/2(B))

t1/2(B)

= 0,5C0 / k0
= (0,5 x 5,33 g/mL) / 0,0173/menit
= 154,046 menit
= 2,567 jam

Waktu paruh (t1/2) yang didapat pada praktikum yaitu 1,824 jam pada gelas uji A dan 2,567
jam pada gelas uji B. Walaupun C0 yang didapat berbeda, tetapi t1/2 yang dihasilkan dapat
diterima karena t1/2(A) > t1/2(B) akibat klirens pada gelas uji A (5 mL) lebih besar dari klirens
pada gelas uji B (4 mL).
Parameter yang juga dapat ditentukan yaitu besar Area Under Curve (AUC) yang
menggambarkan profil obat dalam darah. Pada pembahasan ini dilakukan penentuan AUC
dari menit ke-o hingga ke-50 (AUC050 ) dan AUC dari menit ke-0 hingga menit ke-tak hingga
(AUC0 ). Cara menentukan nilai AUC050 dapat dilakukan dengan menggunakan rumus
trapesium sebagai berikut.
=

( + )

Adapun nilai AUC0 dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan matematis berikut.

= +

= C0 / k0

1.
a. AUC050 pada gelas uji A
=

(1 + 2)

2

= 0,919 + 1,625 + 1,0538 + 1,149


= 4,747 ppm . menit
b. AUC050 pada gelas uji B
=

(1 + 2)

2

= 0,818 + 0,7 + 0,463 + 1,57


= 3,555 ppm . menit

2.
a. AUC0 pada gelas uji A

= AUC050 + AUC50

= 4,747 + C0 / k0
= 4,747 ppm . menit + 5,5623 ppm / 0,0254/menit
= 4,747 ppm . menit + 168,897 ppm . menit
= 173,644 ppm . menit
b. AUC0 pada gelas uji B

= AUC050 + AUC50

= 3,555 + C0 / k0
= 3,555 ppm . menit + 5,33 ppm / 0,0173/menit
= 3,555 ppm . menit + 253,526 ppm . menit
= 257,081 ppm . menit

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Setelah dilakukan praktikum simulasi model in vitro farmakokinetik obat setelah
pemberian secara intravena dapat ditarik beberapa kesimpulan yakni sebagai berikut.
1.

Digunakan model kompartemen satu terbuka dengan orde reaksi ke-0 untuk simulasi.

2.

Persamaan regresi linier kurva A dan B berturut-turut yaitu y = -0,0254x + 5,5623


dengan R2 = 0,994 serta y = -0,0173x + 5,33 dengan R2 = 0,9497.

3.

Didapat C0 pada gelas uji A dan B berturut-turut yaitu 5,5623 ppm dan 5,33 ppm.

4.

Harga laju eliminasi obat (k) didapatkan dari persamaan kurva, sehingga kA =
0,0254/menit dan kB = 0,0173/menit.

5.

Dosis PCT yang diinjeksikan (Div) yaitu 1000 g atau 1 mg.

6.

Volume distribusi pada gelas uji A (VD(A)) = 179,7817 mL dan volume distribusi pada
gelas uji B (VD(B)) = 187,6173 mL. Seharusnya VD = ~ 200 mL.

7.

Kirens yang didapat pada gelas uji A (ClA) = 5,08 mL/menit, sesuai dengan volume yang
dicuplik yaitu 5 mL. Sedangkan penyimpangan terjadi pada hasil klirens pada gelas uji
B (ClB = 3,46 mL/menit).

8.

Waktu paruh (t1/2) yang didapat pada praktikum yaitu 1,824 jam pada gelas uji A dan
2,567 jam pada gelas uji B.

9.

AUC050 pada gelas uji A = 4,747 ppm . menit dan AUC050 pada gelas uji B = 3,555 ppm .
menit.

10. AUC0 pada gelas uji A = 173,644 ppm . menit dan AUC0 pada gelas uji B = 257,081
ppm . menit.

5.2

Saran
1.

Kepada praktikan agar mengambil cuplikan dengan baik, benar, dan teliti.

2.

Kepada praktikan agar membersihkan alat cuplikan dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Aiache, J.M, 1993. Farmasetika 2 Biofarmasi Edisi ke-2. Surabaya: Penerbit Airlangga University
Press.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Anonim. 1995.
Clinical Aplications, 6th ed., Washington: AphA.
Depkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: BPOM RI. Farmakope Indonesia Edisi
IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Hakim, L., 2014. Farmakokinetik. Yogyakarta: Bursa Ilmu.
Martin, A. 1993. Physical Pharmacy. Ed ke-4. Philadelphia and London: Lea & Febiger.
Ritschel, W.A. dan Kearns, G.L. 1992. Handbook of Basic Pharmacokinetics-Including
Shargel, L., dkk.. 2012. Biofarmasetikan dan Farmakokinetika, 5th ed.. Surabaya: Airlangga
University Press.
Willard, Hobart H. 1998. Instrument Methods of Analysis. USA: WadsWorth
Zunilda, S.B, dan F.D. Suyatna. 1995. Pengantar Farmakologi. Dalam Farmakologi dan Terapi
Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press.