Anda di halaman 1dari 6

MANIFESTASI KLINIK DAN DATA LAB

1. Gejala dan keluhan


MANIFES
Nyeri lutut kiri

Merasakan
sendi berbunyi
kretek-kretek
saat digerakkan.

Tidak
ada
keluhan
pada
sendi lainnya

KOMENTAR
Keluhan utama yang dirasakan pasien
OA yaitu nyeri pada sendi, utamanya
yaitu sendi yang menyangga berat/beban
tubuh (lutut atau pinggang). Nyeri
biasanya dirasakan utamanya setalah
beraktivitas dan berkurang saat istirahat.
Nyeri yang dialami pasien dirasakan
setelah melakukan aktivitas berjalan dan
berdiri
lama
kemudian
nyerinya
berkurang saat istirahat, hal tersebut
merupakan gejala dari OA. Ditambah
lagi pasien memiliki riwayat nyeri lutut
kiri sejak 2006 dan lutut kanan sejak
2008, hal tersebut dimungkinkan pasien
sudah mengalami OA sejak lama
(Hamijoyo, 2012).

sejak dua minggu yll


setelah
melakukan
aktivitas berjalan dan
berdiri lama karena
beberapa
hari
sebelumnya ada acara
pernikahan dirumahnya
- nyeri utamanya diasakan
pada saat berjalan dan
perubahan posisis dari
duduk ke berdiri.
- Riwayat nyeri lutut kiri
sudah sejak awal th
2006, lutut kanan sejak
2008 kumat-kumatan
- Nyeri lutut berkurang
saat istirahat
Pada pasien OA umum untuk merasakan sendi yang berbunyi kretekkretek apabila digerakkan. Hal tersebut dinamakan krepitus (Hamihoyo,
2012). Krepitus adalah peristiwa pergeseran antar sendi yang biasanya
disertai dengan suara retak (kretek-kretek). Pergeseran antar sendi yang
berujung degan suara retak tersebut disebabkan karena adanya
pengurangan bantalan sendi yang terjadi pada OA yaitu akibat
penutunan kartilago dan hipertrofi (pembesaran) tulang. Suara retak
tersebut dapat redam namun penderita dapat merasakannya sendiri.
Krepitus ini merupakan gejala yang menonjol juga dari OA (Pyzocha et
al., 2014; Anonim, 2016).
OA dapat terjadi pada setiap sendi seperti pinggang, lutut, jari, tulang
dan belakang namun yang umum terjadi yaitu pada lutut (Pyzocha et
al., 2014).

2. Pemeriksaan fisik
a. BB : 62 kg TB : 154 cm BMI : 26.14 kg/m2
Kategori

BMI (kg/m2)

Resiko Comorbiditas

Underweight

< 18.5 kg/m2

Rendah (tetapi resiko terhadap masalah-masalah

klinis lain meningkat)


Batas Normal

18.5 - 24.9 kg/m2

Overweight:

> 25

Pre-obese

25.0 29.9 kg/m2

Meningkat

Obese I

30.0 - 34.9kg/m2

Sedang

Obese II

35.0 - 39.9 kg/m2

Berbahaya

Obese III

> 40.0 kg/m2

Sangat Berbahaya

Rata-rata

BMI pasien termasuk dalam pre-obese, dimana semakin tinggi nilai BMI menunjukkan
semakin besarnya beban tubuh. Sendi lutut merupakan tumpuan dari setengah berat
badan seseorang selama berjalan. Berat badan yang meningkat akan memperberat
tumpuan pada sendi lutut dan pembebanan lutut dapat menyebabkan kerusakan kartilago,
kegagalan ligament dan struktur lain. Hal ini akan menyebabkan sendi kehilangan sifat
kompresibilitasnya dan menyebabkan terjadinya perubahan biofisika yang berupa fraktur
jaringan kolagen dan degradasi proteoglikan. Dalam suatu penelitian oleh Syahirul.
(2015) menyebutkan bahwa populasi dengan berat badan lebih dan obesitas mempunyai
factor resiko osteoarthritis lutut lebih besar dibandingkan dengan populasi dengan berat
badan normal. Obesitas merupakan factor resiko kuat bagi OA lutut bilateral atau
unilateral.
b. Tekanan Darah : 110/80
Pada pasien usia lanjut, nilai normal tekanan darah untuk pasien usia pertengahan yaitu
kurang dari 140/90 mmHg, sedangkan untuk pasien usia 65 tahun yaitu kurang dari
160/90 mmHg (Nugroho, 2008). Sehingga tekanan darah pada pasien tergolong rendah.
Tekanan darah rendah dapat disebabkan karena usia, pengobatan dan kondisi cuaca.
Pasien yang sedang relaks atau rajin berolahraga umumnya akan mempunyai tekanan
darah yang lebih rendah.
c. Denyut nadi : 80x/menit regular
Nilai normal denyut nadi adalah 60-100 kali permenit. Pada pasien tergolong normal.
Denyut nadi yang cepat dapat disebabkan oleh aktivitas olahraga; anemia; mengonsumsi
obat-obatan, stimulan (seperti kafein, amfetamin, pil diet, rokok), dan alkohol; menderita
demam atau beberapa jenis penyakit jantung; serta kelenjar tiroid yang terlalu aktif, dan

stres. Sedangkan denyut nadi rendah saat istirahat bisa dikarenakan oleh penyakit
jantung, mengonsumsi obat-obatan untuk mengobati penyakit jantung, tingkat kebugaran
yang baik, kelenjar tiroid kurang aktif (hipotiroidisme).
d. VAS nyeri skor : 4/10
VAS (Visula Analogue Scale) merupakan metode pengukuran nyeri. metode ini
digunakan untuk memeriksa intensitas nyeri dan secara khusus meliputi 0-10 cm garis,
dengan setiap ujungnya ditandai dengan level intensitas nyeri (ujung kiri diberi tanda no
pain dan ujung kanan diberi tanda bad pain (nyeri hebat). Pasien diminta untuk
menandai disepanjang garis tersebut sesuai dengan level intensitas nyeri yang dirasakan
pasien. Kemudian jaraknya diukur dari batas kiri sampai pada tanda yang diberi oleh
pasien (ukuran mm), dan itulah skorenya yang menunjukkan level intensitas nyeri. jika
nila 0= tidak nyeri, 2-4= nyeri ringan, 5= sangat nyeri, >7 = nyeri berat. pada skor pasien
4/10 termasuk nyeri ringan.
e. Pemeriksaan dada dan perut tidak ada kelainan
3. Pemeriksaan lutut
Nyeri kedua lutut saat ditekuk. Tidak ada tanda-tanda radang pada sendi lutut. Tidak ada
tanda efusi sendi lutut. Krepitasi pada kedua lutut saat digerakkan. Nyeri sendi pada
pasien OA biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat.
Nyeri sendi ini dapat disebabkan karena peradangan sendi (sinovitis), efusi sendi dan
edema sumsum tulang. Osteofit juga merupakan salah satu penyebab timbulnya nyeri.
krepitasi atau rasa gemeratak yang timbul pada sendi yang sakit. Gejala ini umum
dijumpai pada pasien OA lutut. Pada awalnya hanya berupa perasaan akan adanya
sesuatu yang patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa. Seiring dengan
berkembangnya penyakit, krepitasi dapat terdengan hingga jarak tertentu (Soeroso,
2006).
4. Pemeriksaan lab
RDW-SD
RDW-CV

46,3
15,2

Leukosit
Eosinofil
Basofil
Neutrofil

9,47
2,9
0,1
72,1

Limfosit

16,1

Monosit

8,8

Masih dalam rentang normal dimana RDW yaitu red blood cell distribution width yang
digunakan untuk mengetahui volume dan ukuran sel darah merah. RDW-SD menunjukkan
ukuran sedangkan RDW-CV dihitung dari standar deviasi RDW-SD dan rerata MCV.
dbN
dbN
dbN
Sedikit meningkat. Peningkatannya dapat disebabkan karena reaksi tubuh terhadap
patogen/adanya inflamasi, dapat meningkat pada kondisi cedera.
Sedikit menurun. Dapat disebabkan karena stres berlebih atau aktifitas yang terlampau lama
dimana sebelumnya pasien melakukan aktivitas berjalan dan berdiri lama beberapa hari
sebelumnya karena ada acara pernikahan di rumahnya.
dbN

Trombosit 180
GDS
115
mg
/dl
Ureum
32.1
mg/d
l
Kreatinin 1.8
mg/d
l

dbN
normal. Hal ini menandakan bahwa pasien tidak mengalami hiperglikemia.

Menunjukkan kondisi normal.

Di atas normal. Peningkatan kadar serum kreatinin terjadi akibat kerusakan fungsi ginjal,
keadaan ketotik, hiperglikemi, latihan yang berat, dan konsumsi daging yang dimasak.
Kreatinin plasma merupakan indeks GFR yang lebih cermat daripada BUN karena
kecepatan produksinya merupakan fungsi dari massa otot yang sedikit sekali mengalami
perubahan. Sedangkan BUN terutama dipengaruhi oleh jumlah protein dalam diet dan
katabolisme protein tubuh (Price dan Wilson, 2006). Selain itu, konsentrasi kreatinin
merupakan indikator fungsi ginjal yang lebih baik daripada urea atau asam urat karena tidak
dipengaruhi oleh diet, olahraga atau hormon.

Sehingga berdasarkan kondisi pasien dapat dikatakan pasien sudah mengalami


penurunan fungsi ginjal yang kemungkinan dikarenakan akibat penggunaan terapi
NSAID yang lama untuk mengatasi kondisi nyeri pada pasien OA, ditambah lagi
pasien mengkonsumsi meloxicam yg merupakan NSAID.
PCT

0.150.4%

MPV

11.1
fl

Dalam rentang normal. PCT adalah parameter untuk mendeteksi proporsi volume seluruh
darah yang ditempati oleh trombosit. Nilai PCT diperoleh dari hasil hitung trombosit dan
volume trombosit rata-rata. Nilai normal PCT ini adalah 0,15-0,4 %. Platelet crit (PCT)
yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk membedakan antara keadaan trombositopenia
(jumlah trombosit rendah atau dibawah normal) dengan pseudotrombositopenia. Hal ini
menunjukkan bahwa pasien tidak mengalami trombositopenia dikarenakan PCT pasien tidak
berada dibawah 0.15%
Mean platelet volume (MPV) mengukur ukuran trombosit yang beredar dalam darah perifer.
Oleh karena trombosit muda berukuran lebih besar maka MPV yang tinggi merupakan
petanda peningkatan produksi trombosit atau mungkin sebagai kompensasi untuk
mempercepat penghancuran platelet. Pada kasus ini MPV pasien yaitu 11.1 fl yg
menandakan masih berada dalam batas normal.

5. Pemeriksaan rontgent
Hasil pemeriksaan rontgent dikatakan bahwa Osteofit dan penyempitan celah sendi lutut. Tulang
tampak porotik. Kelgreen and Lawrence grade III bilateral
a. Osteofit : merupakan pertumbuhan tulang baru (semacam taji) yang terbentuk di tepi
sendi. Pada OA terdapat gambaran radiografi yang khas, yaitu osteofit. Osteofit
merupakan respon terhadap proses degerasi tulang rawan sendi dan remodelling tulang
sudkhondral, termasuk pelepasan sitokin anabolik yang menstimulasi proliferasi dan
pembentukan sel tulang dan matrik kartilageneus. Proses terbentuknya osteofit:
1. Osteofit terjadi sebagai akibat proliferasi pembuluh darah pada tempat di mana
rawan sendi berdegenerasi.
2. Osteofit tumbuh karena kongesti vena yang di sebabkan perubahan sinusoid
sumsum yang tetekan oleh krista subkondral.
3. Osteofit tumbuh karena rangsagan serpihan rawan sendi yang menimbulkan
sinofitis. Hal ini akan menimbulkan osteofit pada tepi sendi atau tempat perlekatan
tendon atau ligamen dengan tulang. Bila osteoathritis berjalan lambat, osteofit dapat
tumbuh sangat besar, sebaliknya bila osteoatritis berjalan cepat, osteofit yang
berbentuk kecil atau tidak berbentuk sama sekali.
Dengan terbentuknya osteofit maka akan mengiritasi membrana sinovialis dimana
terdapat banyak reseptor-reseptor nyeri dan ini akan menimbulkan hydrops. Karena
terpaparnya ujung-ujung saraf poli-modal yang terdapat disekitar sendi oleh karena
terbentuknya osteofit serta adanya pembengkakan dan penebalan jaringan lunak disekitar
sendi maka akan menimbulkan nyeri tekan dan nyeri gerak (Irfan dan Rizka, 2006).
b. Penyempitan celah sendi lutut : akibat hilangnya kartilago akan menyebabkan
penyempitan rongga sendi yang tidak sama. penyempitan celah sendi membuat
permukaan sendi tidak beraturan sehingga dapat menyebabkan instabilitas . Kartilago
berfungsi sebagai pelindung sendi. Kartilago dilumasi oleh cairan sendi sehingga mampu
menghilangkan gesekan antar tulang yang terjadi ketika bergerak.
c. Kelgreen and Lawrence grade III bilateral : Berdasarkan gambaran radiografi tersebut,
Kellgren dan Lawrence membagi OA menjadi empat grade yaitu :
- Derajat 0 apabila gambaran radiologi normal,
- derajat 1 apabila terdapat penyempitan celah sendi meragukan dan kemungkinan adanya
osteofit,
- derajat 2 apabila terdapat osteofit nyata dan penyempitan celah sendi tak ada atau
meragukan,
- derajat 3 osteofit nyata, penyempitan celah sendi dan sedikit sclerosis (peningkatan
densitas), kemungkinan deformitas,

derajat 4 apabila terdapat osteofit besar, penyempitan berat, sclerosis berat, deformitas
nyata
.

Gambar 1. Kriteria Penilaian OA menurut Kellgren-Lawrence


DAFTAR PUSTAKA
Irfan, M., Rizka Gahara. Beda Pengaruh Penambahan Long Axis Oscillated Traction Pada
Intervensi MWD Dan TENS Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Pada Capsullar Pattern
Akibat Osteoatritis Lutut. Jurnal Fisioterapi Indonusa.2006. Vol 6(1).
Anonim, 2016. Crepitus Definition. http://www.arthritis-health.com/glossary/crepitus .
Haijoyo L., 2012. Pengapuran Sendi atau Osteoartritis. http://reumatologi.or.id/reuarttail?id=23.
Pyzocha N.J., and Maurer D.M. Osteoarthritis. Family Medicine, 2014: 1-9.
Nugroho, H.W. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. Penerbit Buku Kedokteran, EGC :
Jakarta.
Syahrul, Annas. 2015. Hubungan Obesitas dengan Tejadinya Osteoartritis Lutut Pada Lansia
Kecamaan Laweyan Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Soeroso, Joewono, Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2006 .
Osteoartritis. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu