Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

PERCOBAAN 6
PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN
MASSA JENIS GAS

Nama
NIM
Kelompok
Asisten

: Hendra Budi Setiawan


: 141810301035
:4
: Nehemia Fernandes

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2016

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Partikel-partikel dalam keadaan gas bergerak secara acak. Jarak antara
partikel partikel relatif jauh lebih besar daripada ukuran-ukuran partikel, sehingga
gaya tarik-menarik antar partikel sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Laju
suatu partikel berubah-ubah, hal ini disebabkan terjadinya tumbukan antara
partikel yang satu dengan lainnya ataupun partikel dengan dinding wadah. Laju
rata-rata partikel tersebut juga akan meningkat.

Berat molekul senyawa volatil dapat diketahui berdasarkan pengukuran


masa jenis gas. Setiap benda memiliki massa jenis atau berat jenis yang berbedabeda. Massa jenis merupakan salah satu ciri untuk mengetahui kerapatan zat.
Massa jenis zat dapat dihitung dengan membandingkan massa zat (benda) dengan
volumenya. Massa jenis dapat dicari dengan menggunakan Viktor Meyer.
Berbeda dengan cairan atau padatan, gas mudah dimampatkan. Gas tidak
mempunyai bentuk dan volume yang tetap, gas akan selalu mengisi setiap ruang
di mana gas tersebut ditempatkan. Volume gas akan berubah dengan adanya
perubahan suhu dan tekanan. Hal tersebut menyebabkan berat jenis gas juga
berubah bila suhu dan tekanan berubah. Semakin tinggi tekanan suatu jumlah
tertentu gas pada suhu yang konstan akan menyebabkan volume menjadi semakin
kecil dan akibatnya berat jenis akan semakin besar. Sifat gas yang menempati
ruang membuat kita sulit untuk mengukur massa dari sauatu gas, maka dari itu
diperlukan suatu metode untuk dapat melakukan pengukuran seperti menentukan
massa dari suatu gas.
1.2 Rumusan Masalah
-

Bagaimana menentukan berat molekul senyawa volatil berdasarkan


pengukuran massa jenis gas ?

Bagaimana cara menggunakan persamaan gas ideal ?

1.3 Tujuan Percobaan


1. Mengetahui cara menentukan berat molekul senyawa volatil berdasarkan
pengukuran massa jenis gas.
2. Mengetahui cara menggunakan persamaan gas ideal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Material Safety Data Sheet
2.1.1. Kloroform
Kloroform berupa cairan tidak berwarna dengan bau yang manis yang
mempunyai titik lebur -63 oC, titik didih 61 oC, tekanan uap 159 mm Hg di 20o C
dan kelarutannya dalam

air sebesar 8 g / l pada 20 oC. Kloroform dapat

menyebabkan inhalasi, iritasi pada mata dan kulit apabila terjadi kontak langsung.
Selain itu apabila terjadi kontak terus menerus dapat merusak sistem saraf,
jantung dan hati dan ginjal. Senyawa ini berbahaya, jika tertelan dapat
menyebabkan luka seperti terbakar di mulut dan tenggorokan, nyeri di dada dan
muntah. Kontak langsung dengan kulit dapat dicegah dengan segera bilas kulit
yang terkontaminasi dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit.
Pembuangannya dilakukan melalui westafel dengan mengalirka air kran apabila
larutannya pekat (Sciencelab, 2016).
2.1.2. Aseton
Aseton berwujud cair dan tidak berwarna dengan aroma seperti mint. Berat
molekul aseton 58.08 g mol-1 dan dapat mendidih pada suhu 56.2 oC serta
meleleh pada suhu -95.35 oC. Aseton cenderung mudah larut dalam air, baik air
dingin maupun air panas. Berbahaya bila terjadi kontak langsung dengan mata dan
kulit. Sangat berbahaya bila tertelan atau terhirup asapnya secara langsung, karena
dapat merusak organ dalam seperti liver dan hati. Penanganan yang dapat
dilakukan bila terjadi kontak langsung mata, mata segera dibasuh dengan air

selama 15 menit dengan mata terbuka. Kontak langsung dengan kulit harus
segara menyiram bagian kulit yang terkena cairan dengan air yang banyak dan
segera menutupi bagian kulit, serta melepaskan pakaian dan sepatu yang
terkontaminasi. Penanganan bila terhirup yaitu segera pindah ke tempat dengan
udara yang lebih segar, bila tidak bernapas segera lakukan napas buatan atau
bantuan oksigen. Penanganan bila tertelan yaitu jangan memberikan apapun
melalui mulut kepada orang yang tidak sadar dan segera hubungi dokter
(Sciencelab, 2016).
2.1.3

Alkohol
Alkohol

merupakan

sebutan

untuk

senyawa

hidrokarbon

yang

mengandung gugus OH pada senyawanya. Alkohol dalam ilmu kimia terdapat


berbagai macam jenis tergantung panjang rantai karbon yang dimilikinya, namun
dalam keseharian alkohol identik dengan etanol. Etanol merupakan salah satu
jenis alkohol yang memiliki jumlah C sebanyak. Alkohol dapat dikenali dengan
rumus umumnya CnH2n+1OH' atau R-OH. Larutan alkohol merupakan asam lemah.
Titik didih terendah dari alkohol dimiliki oleh senyawa methanol (metil alkohol),
yakni sebesar 64.5C (148.1F) dan titik kritis terendah adalah isopropil alkohol,
yakni sebesar 235C (455F). Alkohol dapat menyebabkan iritasi pada mata dan
kulit, serta gangguan pernafasan dan pencernaan. Mata yang terkena bahan ini
segera dibilas dengan air selama 15 menit. Kulit yang terkena alkohol segera
dibilas dan disabun hingga bersih. Korban yang menghirup bahan ini segera
dipindahkan ketempat yang segar. Alkohol yang tertelan tidak boleh dimuntahkan
dan tidak boelah memasukkan apapun kedalam mulut. Segera menghubungi tim
medis untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Alkohol disimpan dalam wadah
kosong dan tertutup rapat. Alkohol disimpan dalam ruangan sejuk (maksimal
23oC/73,4oF) dan ruangan berventilasi baik (Anonim, 2015). (sciencelab, 2016).
2.2 Dasar Teori
Gas yang terdiri atas molekul yang bergerak menurut jalannya yang lurus ke
segala arah, dengan kecepatan yang sangat tinggi. Molekul-molekul gas ini selalu
bertumbukkan dengan molekul-molekul lainnya atau dengan dinding bejana.
Tumbukan terhadap dinding bejana ini yang menyebabkan adanya tekanan.

Molekul gas selalu bergerak ke segala arah maka gas yang satu mudah bercampur
dengan gas yang lain. Semua gas dibagi 2 yaitu gas ideal dan nyata. Gas ideal
merupakan gas yang mengikuti secara sempurna hukum-hukum gas. Gas nyata
merupakan gas yang hanya mengikuti hukum-hukumnya gas pada tekanan rendah.
Gas ideal sebenarnya tidak ada sehingga hanya merupakan gas hipotesis. Semua
gas sebenarnya gas nyata. Gas ideal dianggap bahwa molekul-molekulna tidak
tarik menarik dan volume molekulnya dapat diabaikan terhadap volume gas itu
sendiri atau ruang yang ditempati. Sifat gas ideal hanya didekati oleh gas beratom
satu pada tekanan rendah dan temperatur yang relatif tinggi (Sukardjo, 1989).
Senyawa volatil merupakan zat terlarut yang mudah menguap. Suatu cairan
volatil dengan titik didih kurang dari 100 oC ditempatkan dalam erlenmeyer
tertutup. Erlenmeyer ini

mempunyai lubang kecil pada bagian tutupnya,

kemudian labu erlenmeyer dipanaskan sampai 100 oC, maka cairan tadi akan
menguap dan mendorong udara pada labu erlenmeyer tersebut keluar melalui
lubang kecil tadi. Semua udara keluar akhirnya uap itu sendiri yang akan keluar,
sampai uap itu akan berhenti keluar ketika sama dengan tekanan udara luar.
Kondisi kesetimbangan ini, labu erlenmeyer hanya berisi uap cairan dengan
tekanan sama dengan tekanan atmosfir, volumenya sama dengan labu erlenmeyer
dan suhu sama dengan titik didih air dalam penangas air (kira - kira 100 oC). Labu
erlenmeyer ini kemudian diambil dari penangas air, dinginkan dan ditimbang
sehingga massa gas yang terdapat didalamnya dapat diketahui (Rosenberg, 1996).
Gas terdiri atas molekul-molekul yang bergerak menurut jalan-jalan yang
lurus ke segala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Molekul-molekul gas
ini selalu bertumbukan dengan molekul-molekul yang lain atau dengan dinding
bejana. Tumbukan terhadap dinding bejana ini yang menyebabkan adanya
tekanan. Volume dari molekul-molekul gas sangat kecil bila dibandingkan dengan
volume yang ditempati oleh gas tersebut, sehingga sebenarnya banyak ruang
kosong antara molekul-molekulnya. Hal ini yang menyebabkan gas mempunyai
rapat yang lebih kecil daripada cairan atau zat padat. Hal ini juga yang
menyebabkan gas bersifat kompresibel atau mudah ditekan (Sukardjo, 1997).

Gas bersifat dapat berekspansi ke dalam ruangan yang tersedia sehingga


mencapai tekanan yang homogen terhadap dinding dari ruangan tempat gas itu
berada. Suatu gas dikatakan ideal apabila:
a. Jarak antara molekul-molekul gas itu sedemikian jauhnya sehingga gaya
tarik menarik dan gaya tolak-menolak antar molekul-molekul gas dapat
diabaikan.
b. Isi dari molekul-molekul gas itu kecil sekali sehingga dapat diabaikan
sehingga yang ada hanyalah volum ruangan tempat gas itu berada.
c. Memenuhi hukum-hukum yang berlaku pada gas ideal, yaitu: hukum
Boyle, hukum Gay-Lussac, hukum Avogadro, dan Gas ideal.
(Djamil, 1986).
Jumlah gas dalam suatu contoh gas dinyatakan dalam mol (n) maka suatu
bentuk persamaan umum mengenai sifat-sifat gas dapat diformulasikan.
Sebenarnya hukum avogadro menyatakan bahwa 1 mol gas ideal mempunyai
volume yang sama apabila suhu dan tekanannya sama (Bird, 1987).
Volume sejumlah tertentu gas pada suhu yang konstan berbanding terbalik
dengan tekanan yang di alami gas tersebut. Hubungan di atas dikemukakan oleh
Robert Boyle pada tahun 1622 ketika melakukan percobaan dengan menggunakan
udara. Hubungan ini dikenal sebagai Hukum Boyle dan secara matematis dapat
dinyatakan sebagai berikut :
V ~ 1/ P ( atau PV = konstan )...............................................................................(1)
V = volume, P = tekanan
( Bird,1987 ).
Volume sejumlah gas tertentu sebanding dengan suhu absolutnya pada
tekanan konstan. Hukum diatas dapat dituliskan sebagai berikut :
V = T.......................................................................................................................2)
Hubungan diatas ditemukan oleh Charles pada tahun 1787 dan dikenal sebagai
Hukum Charles. Hasil penemuan Charles dijadikan dasar untuk mendefinisikan
suatu skala suhu yang baru yang dikenal sebagai skala suhu nol absolute atau
skala Kelvin. Hubungan antara ckala celcius dengan skala Kelvin dinyatakan :
K = C + 273,15.....................................................................................................(3)
K = suhu absolut, C = suhu dalam derajat Celcius

( Bird,1987).
Pada tekanan dan temperatur tetap, volume gas sebanding dengan jumlah
gas yang ada :
V ~ n ( pada p, T tetap ).........................................................................................(4)
V = Volume, n = mol gas
Pernyataan ini adalah kandungan utama dari asas yang dinyatakan oleh amedeo
Avogadro, yaitu volume yang sama dari gas pada tekanan dan temperatur sama
mengandung jumlah molekul yang sama ( Atkins,1997).
Persamaan gas ideal bersama-sama dengan massa jenis gas dapat digunakan
untuk menentukan berat molekul senyawa volatil. Dari persamaan gas ideal atau
hukum gas ideal didapat ditulis :
PV = nRT...............................................................................................................(5)
PV = (m/BM)RT....................................................................................................(6)
Dengan mengubah persamaan di atas maka akan diperoleh :
P(BM) = (m/V)RT.................................................................................................(7)
P(BM) = p RT........................................................................................................(8)
( Tim kimia fisik,2014).

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
3.1.2 Alat
- Labu erlenmeyer
- Gelas piala
- Alumunium foil
- Karet gelang
- Neraca analitik
- Termometer
- Bunsen
3.1.3 Bahan
- Cairan volatil (kloroform, aseton, alkohol)
- Akuades
3.2 Skema Kerja
7 mL Volatil
- dimasukkan dalam erlenmeyer 100 mL yang ditutup dengan karet
gelang yang sudah ditimbang terlebih dahulu
- dilubangi tutup alumunium foil dengan jarum agar uap dapat keluar
- direndam erlenmeyer yang berisi kloroform didalam air yang
mendidih
- dibiarkan hingga cairan volatil menguap semuanya lalu diangkat dan
didinginkan di desikator dan diukur suhu air pada penangas
- ditimbang labu erlenmeyer menggunakan neraca setelah dingin
- ditentukan volume labu erlenmeyer dengan mengisi erlenmeyer
dengan air sampai penuh lalu ditimbang
- diukur suhu air yang ada di erlenmeyer
- diukur tekanan menggunakan barometer

Hasil

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Hasil dari percobaan kali ini yaitu sebagai berikut :
Senyawa Volatil

Perlakuan

Kloroform

Aseton

Alkohol

Temperatur (oC)

93

93

92

Massa erlenmeyer kosong (gram)

34,917

43,849

26,592

35,562

44,382

27,116

35,809

44,486

27,171

100,809

109,466

102,074

Massa erlenmeyer + aluminium foil


+ karet gelang (gram)
Massa erlenmeyer setelah
dipanaskan (gram)
Massa air + erlenmeyer (gram)

Hasil pengolahan data dari hasil percobaan kali ini yaitu sebagai berikut :
Senyawa Volatil

Volume Air (L)

Berat Molekul
(g/mol)

Efisiensi (%)

Kloroform

0,065892

112,58

94,30

Aseton

0,065617

47,60

81,96

Alkohol

0,075482

21,82

47,36

4.2 Pembahasan
Senyawa volatil merupakan senyawa yang mudah menguap. Salah satu
contoh senyawa vollatil adalah kloroform. Kloroform merupakan senyawa yang
memiliki titik didih sekitar 60 oC oleh karenanya pemanasan harus konstan dan
dijaga. Tekanan uap juga tergantung pada temperatur, semakin besar tekanan
uapnya maka akan semakin mudah menguap. Persamaan gas ideal dapat
digunakan untuk menentukan berat molekul senyawa volatil. Persamaan yang
menghubungkan langsung massa molekul gas dengan rapatannya dapat
diturunkan dari hukum gas ideal. Jika jumlah mol suatu gas dapat diketahui
dengan membagi massanya dalam gram dengan massa molekulnya.
Praktikum kali ini baerkaitan dengan penentuan berat molekul berdasarkan
pengukuran massa jenis gas. Dimana bertujuan untuk menentukan berat molekul
senyawa volatil berdasarkan pengukuran massa jenis gas dan mengetahui dan
memahami menggunakan persamaan gas ideal. Salah satu contoh senyawa vollatil
adalah kloroform. Kloroform merupakan senyawa yang memiliki titik didih yaitu
60oC oleh karenanya pemanasan harus konstan dan dijaga. Sedangkan volatilitas
merupakan kecenderungan seberapa mudah suatu senyawa untuk menguap yang
ditentukan oleh tekanan uapnya. Tekanan uap juga tergantung pada temperatur,
semakin besar tekanan uapnya maka akan semakin mudah menguap. Persamaan
gas ideal bersama-sama dengan massa jenis gas dapat digunakan untuk
menentukan berat molekul senyawa volatil. Dalam hal ini digunakan konsep gas
ideal. Persamaan yang menghubungkan langsung massa molekul gas dengan
rapatannya dapat diturunkan dari hukum gas ideal. Jika jumlah mol suatu gas
dapat diketahui dengan menbagi massanya dalam gram dengan massa
molekulnya.
Sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah kloroform, aseton
dan alkohol. Pemilihan sampel tersebut sesuai dengan tujuan dari prakyikum ini
yaitu mencari Berat Molekul dari suatu volatil dimana senyawa ini mudah didapat
dan memiliki titik didih di bawah 100 oC. Dengan rendahnya titik didih ini,
percobaan tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk membuat zat volatil
tersebut menguap. Langkah pertama yang dilakukan yaitu menentukan massa tiga

erlenmeyer kosong agar dapat menentukan massa cairan yang akan diuji.
Kemudian berat masing-masing erlenmeyer yang ditutup dengan alumium foil
yang diikat dengan karet gelang ditimbang lagi yaitu erlenmeyer yang digunakan
untuk kloroform memiliki berat 35,562 g, erlenmeyer yang digunakan untuk
aseton memiliki berat 44,382 g, dan erlenmeyer yang digunakan untuk alkohol
27,116 g. Setelah itu sampel volatil sebanyak 7 mL dimasukkan kedalam masingmasing gelas erlenmeyer. Erlenmayer berisi volatil ini direndam di penangas air
dengan melubangi bagian tutup erlenmayer dengan jarum kecil. Hal ini bertujuan
sebagai tempat keluarnya udara saat pemanasan berlangsung. Uap cairan yang
dihasilkan saat pemanasan tersebut akan mendorong udara yang ada di dalam
erlenmayer dan keluar melalui lubang kecil tersebut. Reaksi yang terjadi ketika
pemanasan:
CH3Cl (aq)

CH3Cl (g)

Reaksi diatas merupakan reaksi endoterm karena proses terjadinya reaksi


membutuhkan panas dari luar sistem. Reaksi ini akan terus terjadi sampai reaktan
habis. Saat reaktan habis itulah dikatakan bahwa wadah terisi penuh oleh gas dan
tekanan yang dihasilkan sama dengan tekanan atmosfer atau dengan kata lain
membentuk kesetimbangan, sehingga dalam perhitungan berat molekul digunakan
tekanan atmosfer dan suhu yang digunakan adalah suhu penangas air. Setelah
kloroform habis menguap dipindahkan dari penangas dan didinginkan agar uap
kloroform dapat berubah menjadi cair sehingga mudah ditimbang. Saat
didinginkan seluruh uap kloroform yang ada pada labu erlenmeyer akan kembali
mengembun dan kembali berubah wujud menjadi cair. Erlenmeyer kemudian
ditimbang dengan neraca analitik. Hasil pengamatan menunjukkan massa labu
erlenmayer, aluminium foil, karet gelang dan cairan kloroform setelah diuapkan
adalah 35,809 gram pada labu erlenmeyer kloroform, 44,486 gram pada labu
erlenmeyer aseton dan 27,171 gram pada labu erlenmeyer alkohol. Suhu penangas
air rata - rata adalah 92 C. Volume dari uap volatil tersebut sama dengan volume
labu erlenmayer, sehingga cara menententukan volume gas dari volatil adalah
dengan mengisi labu erlenmayer dengan air sampai penuh dan menghitung massa
airnya untuk kemudian dicari volumenya melalui rumus.

V=
Berat molekul dari senyawa volatil dapat ditentukan menggunakan
persamaan gas ideal yaitu dengan diketahui volume air dan massa jenisnya maka
dapat ditentukan massa jenis zatnya sehingga jika diketahui massa jenis zatnya
maka berat molekul dapat diketahui. Massa cairan volatil sangat berpengaruh
terhadap berat molekulnya, dimana semakin besar massa suatu cairan volatil,
maka makin besar pula berat molekulnya. Berat molekul volatil dari labu
erlenmayer yang berisi kloroform adalah 112,58 gram/mol; 47,60 gram/mol pada
labu erlenmeyer berisi aseton, dan 21,82 gram/mol pada labu erlenmeyer berisi
alkohol. Berat molekul volatil yang didapat dari percobaan berbeda dengan nilai
berat molekul kloroform secara teori yaitu 119,38 gram/mol untuk kloroform,
58,08 gram/mol untuk aseton, dan 46,07 gram/mol untuk alkohol. Perbedaan yang
terjadi ini mungkin disebabkan karena adanya uap air yang ikut masuk pada
erlenmeyer. Faktor lainnya yaitu uap kloroform juga dimungkinkan ada yang
keluar dari erlenmeyer dikarenakan lubang jarum yang terlalu besar ataupun
penutup yang kurang rapat.
Efisiensi merupakan perbandingan hasil percobaaan dengan keadaan
standar yang dinyatakan dalam persentase. Perhitungan efisiensi ini digunakan
untukan mengetahui tingkat keberhasilan dari percobaaan yang dilakukan. Nilai
efisiensi yang kurang dari 100 % dalam percobaan penentuan berat molekul ini
mengindikasikan bahwa hasil percobaan nilainya lebih kecil dari berat molekul
standart, sedangkan apabila nilai efisiensi diatas 100 % maka hasil percobaan
lebih besar dari pada berat molekul standar. Percobaan ini dilakukan tiga kali,
sehingga efisiensi pada percobaan labu erlenmeye kloroform adalah 94,90 %;
percobaan labu erlenmeyer aseton adalah 81,96 % dan pada percobaan erlenmeyer
alkohol adalah 47,56 %. Efisiensi tersebut menunjukkan bahwa berat molekul
rata-rata yang diperoleh dari praktikum memiliki nilai yang lebih kecil dari pada
berat molekul volatil secara teoritis.
Sumber utama kesalahan yang terjadi saat praktikum yaitu ketika labu
Erlenmeyer kosong ditimbang, labu ini penuh udara. Setelah pemanasan dan

pendinginan tidak semua uap cairan kembali ke bentuk cairnya, sehingga akan
mengurangi udara yang masuk ke dalam labu Erlenmeyer dalam keadaan semua
uap cairan kembali kebentuk cairnya. Oleh karna itu, massa cairan

sebenarnya

harus ditambahkan dengan massa udara yang tidak dapat masuk kembali ke dalam
labu Erlenmeyer karena adanya cairan yang tidak mengembun. Kesalahan
mungkin juga disebabkan oleh keluarnya uap volatil karena lubang terlalu besar
atau penutup alumunium foil yang kurang rapat.

BAB 5. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah :
- Penentuan berat molekul gas dapat dilakukan dengan cara menggunakan rumus
gas ideal. Volume yang tidak diketahui dapat dicari dengan cara memasukkan
air sampai penuh kemudian ditimbang lalu dari rumus V =

, dapat diketahui

volume dari erlenmeyer.


- Persamaan gas ideal yaitu PV=nRT dapat digunakan pada percobaan ini yaitu
dengan mengganti n menjadi massa dibagi BM.
5.2 SARAN
Saran untuk praktikum ini adalah:
1. Tutup erlenmayer dengan rapat sehingga tidak ada uap yang keluar.
2. Usahakan erlenmayer yang dimasukkan ke penangas, air di bawah aluminium
foil untuk menghindari ada air yang masuk dalam labu erlenmayer.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2016.

Material

Safety

Data

Sheet

Acetone.[Serial

Online].

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927062. [Diakses tanggal


28 maret 2016]
Anonim.2016.

Material

Safety

Data

Sheet

Alkohol.[Serial

Online].

https://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769. [Diakses tanggal


28 maret 2016].
Anonim.2016.

Material

Safety

Data

Sheet

Kloroform.[Serial

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927133.

Online].

[Diakses tanggal

28 maret 2016]
Atkins, P.W. 1994. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
Bird, T. 1993. Kimia Fisika untuk Universitas. Cetakan ke-2. Jakart: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Rosenberg, Jerome. 1996. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga.
Sukardjo. 1989. Termodinamika Kimia. Jakarta: Erlangga.
Tim Kimia Fisik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Jember: FMIPA
Universitas Jember.

LAMPIRAN

1. Menentukan volume air


a. Erlenmeyer kloroform
= 65,892 mL = 0,065892 L
b. Erlenmeyer aseton
V2 =

= 65,617 mL = 0,065617 L

c. Erlenmeyer alkohol
V3 =

= 75,482 mL = 0,075482 L

2. Menentukan berat molekul


a. Erlenmeyer kloroform
BM =

= 112,58 g/mol

b. Erlenmeyer aseton

BM =

= 47,60 g/mol

c. Erlenmeyer alkohol

BM =

= 21,82 g/mol

3. Menentukan efisiensi
a. Erlenmeyer kloroform
=

100% =

100% = 94,30 %

b. Erlenmeyer aseton

100% =

100% = 81,96 %

c. Erlenmeyer alkohol

100% =

100% = 47,36 %

Anda mungkin juga menyukai