Anda di halaman 1dari 5

PELAYANAN PASIEN TB YANG DIDUGA

TB MDR (MULTY DRUGS RESISTANCE)


RSUD Syarifah
Ambami Rato Ebu
BANGKALAN

NO. DOKUMEN

NO. REVISI

HALAMAN

217.04.2012

00

1/5

TANGGAL TERBIT
PROSEDUR
TETAP

Pengertian

DITETAPKAN
Direktur

8 NOVEMBER 2012
drg. YUSRO
Pembina Tingkat I
NIP. 19610226 198911 2 001
TB resistensi obat anti TB (OAT) adalah suatu fenomena
buatan manusia, sebagai akibat dari pengobatan pasien TB
yang tidak adekuat dan penularan dari pasien TB MDR
tersebut. Pengobatan yang tidak adekuat biasanya akibat
dari regimen, dosis, dan cara pemakaian yang tidak benar,
ketidakteraturan dan ketidakpatuhan pasien untuk minum
obat, terputusnya ketersediaan OAT, kualitas obat yang

Tujuan

rendah
- Mengurangi angka kejadian MDR TB akibat kesalahan
pengobatan pasien TB.
- Menurunkan angka kematian dan kesakitan serta
mencegah penularan dengan cara menyembuhkan
pasien

Kebijakan

- Undang Undang Nomor 23 Tahun 2009 tentang


Kesehatan
- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor

364/Menkes/SK/V/2009

Tentang

Pedoman

Penanggulangan Tuberkulosis (TB)


- Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular
- Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
203/Menkes/SK/III/ 1999 tentang Gerakan Terpadu
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
Prosedur

Persiapan alat :
- Alat Pelindung Diri (APD) yaitu Masker untuk petugas
dan keluarga pasien

PELAYANAN PASIEN TB YANG DIDUGA


TB MDR (MULTY DRUGS RESISTANCE)

RSUD Syarifah
Ambami Rato Ebu
BANGKALAN
PROSEDUR
TETAP

NO. DOKUMEN

NO. REVISI

HALAMAN

217.04.2012

00

2/5

TANGGAL TERBIT
8 NOVEMBER 2012
1.

Semua Suspek TB MDR adalah semua orang yang


mempunyai Gejala TB dan memenuhi salah satu
kriteria dibawah ini:
-

Prosedur

Pasien TB kronik.
Pasien
TB
pengobatan
kategori
yang tidak konversi setelah 3 bulan pengobatan.
Pasien TB yang mempunyai riwayat pengobatan TB
yang tidak standar serta menggunakan kuinolon dan
obat injeksi lini kedua minimal selama 1 bulan.
Pasien TB pengobatan kategori 1 yang gagal.
Pasien TB pengobatan kategori 1 yang
tetap positif setelah 3 bulan pengobatan.
Pasien TB kasus kambuh (relaps), kategori 1 dan
kategori 2.
Pasien TB yang kembali setelah loss to follow-up
(lalai berobat/default).
Suspek TB yang mempunyai riwayat kontak erat
dengan pasien TB MDR.
Pasien ko-infeksi TB-HIV yang tidak respon
terhadap pemberian OAT

2.

Pasien tuberkulosis yang disebabkan kuman


resisten obat (khususnya MDR) seharusnya diobati
dengan paduan obat khusus yang mengandung obat anti
tuberkulosis lini kedua.
3.
Pengobatan TB MDR, pilihan pengobatan
berdasarkan :
-

Ketersediaan OAT lini kedua (second-line)

Pola resistensi setempat dan riwayat penggunaan


OAT lini kedua

Uji kepekaan obat lini pertama dan kedua

4. Klasifikasi obat anti tuberkulosis dibagi atas 5 kelompok


berdasarkan potensi dan efikasinya, yaitu :

PELAYANAN PASIEN TB YANG DIDUGA


TB MDR (MULTY DRUGS RESISTANCE)

RSUD Syarifah
Ambami Rato Ebu
BANGKALAN
PROSEDUR
TETAP

NO. DOKUMEN

NO. REVISI

HALAMAN

217.04.2012

00

3/5

TANGGAL TERBIT
8 NOVEMBER 2012

Kelompok

1:

Sebaiknya

digunakan

karena

kelompok ini paling efektif dan dapat ditoleransi


dengan baik (Pirazinamid, Etambutol)

Kelompok 2: Bersifat bakterisidal (Kanamisin atau


kapreomisin jika alergi terhadap kanamisin)

Prosedur

Kelompok

3:

Fluorokuinolon

yang

bersifat

bakterisidal tinggi(Levofloksasin)

Kelompok 4: Bersifat bakteriostatik tinggi (PAS,


Ethionamid, Sikloserin)

Kelompok 5: Obat yang belum jelas efikasinya.


Tidak disediakan dalam program ini.

4.

Paduan obat TB MDR: paduan ini hanya diberikan


pada pasien yang sudah terbukti TB MDR
-

Paduan obat standard diatas harus disesuaikan


kembali berdasarkan keadaan di bawah ini:
a.Hasil uji
kepekaan OAT
lini
kedua
menunjukkan resisten terhadap salah satu obat
diatas. Etambutol dan pirazinamid tetap digunakan
b. Ada riwayat penggunaan salah satu obat
tersebut di atas sebelumnya sehingga dicurigai
ada resistensi, misalnya : pasien sudah pernah
mendapat kuinolon untuk pengobatan TB
sebelumnya, maka dipakai levofloksasin dosis
tinggi. Apabila sudah terbukti resisten terhadap
levofloksasin regimen pengobatan ditambah PAS,
atas pertimbangan dan persetujuan dari tim ahli
klinis atau tim terapeutik.

PELAYANAN PASIEN TB YANG DIDUGA


TB MDR (MULTY DRUGS RESISTANCE)

RSUD Syarifah
Ambami Rato Ebu
BANGKALAN
PROSEDUR
TETAP

NO. DOKUMEN

NO. REVISI

HALAMAN

217.04.2012

00

4/5

TANGGAL TERBIT
8 NOVEMBER 2012
c. Terjadi efek samping yang berat akibat salah satu obat
yang sudah dapat diidentifikasi sebagi penyebabnya

Prosedur

d. Terjadi perburukan keadaan klinis, sebelum maupun


setelah
konversi biakan.
Hal-hal
yang
harus
diperhatikan adalah kondisi umum, batuk, produksi
dahak, demam, penurunan berat badan
5. Prinsip paduan pengobatan TB MDR
Setiap rejimen TB MDR terdiri dari paling kurang 4
macam obat dengan efektifitas yang pasti atau
hampir pasti.
PAS
ditambahkan
ketika
ada
resistensi
diperkirakan atau hampir dipastikan ada pada
fluorokuinolon. Kapreomisin
diberikan
bila
terbukti resisten kanamisin.
Dosis obat berdasarkan berat badan.
Obat suntikan (kanamisin atau kapreomisin)
digunakan sekurang-kurangnya selama 6 bulan atau
4 bulan setelah terjadi konversi biakan.
Periode ini dikenal sebagai fase intensif.
Lama pengobatan minimal adalah 18 bulan setelah
konversi biakan ( pemeriksaan dahak dan biakan 2
kali berurutan dengan jarak pemeriksaan 30 hari
menunjukkan hasil negatif.
6. Suntikan diberikan 5x/minggu selama rawat inap dan
rawat jalan. Obat per oral diminum setiap hari. Pada
fase intesif obat oral diminum didepas petugas
kesehatan kecuali pada hari libur diminum didepan
PMO.
Sedangkan pada fase lanjutan obat oral
diberikan maksimum 1 minggu dan diminum didepan
PMO. Setiap pemberian suntikan maupun
7. obat oral dibawah
pengobatan.`

pengawasan

selama

masa

PELAYANAN PASIEN TB YANG DIDUGA


TB MDR (MULTY DRUGS RESISTANCE)

RSUD Syarifah
Ambami Rato Ebu
BANGKALAN
PROSEDUR
TETAP

NO. DOKUMEN

NO. REVISI

HALAMAN

217.04.2012

00

5/5

TANGGAL TERBIT
8 NOVEMBER 2012
8.

Pada pasien yang mendapat sikloserin harus


ditambahkan Piridoxin (vit. B6), dengan dosis 50 mg
untuk setiap 250 mg sikloserin

9. Semua obat sebaiknya diberikan dalam dosis tunggal


Prosedur

Unit Terkait

Poli paru, unit DOTS, Laboratorium, Radiologi, Depo


Farmasi