Anda di halaman 1dari 2

Kota Palu adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia.

Kota Palu merupakan


kota yang terletak di Sulawesi Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Donggala di sebelah barat
dan Utara, Kabupaten Sigi di sebelah selatan, dan Kabupaten Parigi Moutong di sebelah timur.
Mantan walikota Palu, Hj. Longki Djanggola pernah mengatakan bahwa Kota Palu merupakan
kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Secara
Astronomis Kota Palu terletak di 0,35 1,20 LU dan 120 122,90 BT. Kota Palu merupakan
salah satu kota yang dilewati oleh garis Khatulistiwa sehingga keadaan iklim yang ada di Kota
Palu masuk kedalam kategori Tropis Kering. Menurut data BPS tahun 2010 Kota Palu memiliki
curah hujan yang cukup signifikan, sehingga keadaan sirkulasi air pada sumber-sumber alami di
Kota Palu cukup melimpah meskipun di musim kemarau.
Asal usul nama kota Palu adalah kata Topalu'e yang artinya Tanah yang terangkat karena
dahulu, mengutip cerita rakyat, nenek moyang suku kaili yang mendiami dataran tinggi Kota
Palu lah yang menggagaskan sebutan tersebut kepada tanah kaili ini, menurut cerita nenek
moyang yang melihat proses turun nya air laut dan daratan yang naik ke permukaan sehingga
disebutlah ToPaluE, karena terjadi gempa dan pergeseran lempeng (palu koro) sehingga
daerah yang tadinya lautan tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang
menjadi Kota Palu. Setelah dieliti daerah ini awalnya memang merupakan lautan, hal ini dapat
dibuktikan dengan ditemukan nya jenis batuan karang di daerah-daerah di kota palu, bukti yang
masih dapat dilihat sampai sekarang yaitu adanya batu karang berukuran 70cm di sebuah bukit
yang di gali dan sekarang menjadi bagian dari Jln. Soekarno-Hatta. Seolah di pertontonkan, batu
karang tersebut di biarkan menonjol di perpotongan bukit yang terletak tidak jauh dari Kampus
Universitas Tadulako.
Istilah lain juga menyebutkan bahwa kata asal usul nama Kota Palu berasal dari bahasa
kaili VOLO yang berarti bambu yang tumbuh dari daerah Tawaeli sampai di daerah sigi. Bambu
sangat erat kaitannya dengan masyarakat suku Kaili, ini dikarenakan ketergantungan masyarakat
Kaili dalam penggunaan bambu sebagai kebutuhan sehari-hari mereka. baik itu dijadikan Bahan
makanan (Rebung), Bahan bangunan seperti dinding, tikar, dll. Atau perlengkapan sehari hari,
juga permainan Tilako, serta alat musik Lalove.

Teluk Palu di sekitar tahun 1900


Pada awal mulanya, Kota Palu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Palu. Pada masa
penjajahan Belanda, Kerajaan Palu menjadi bagian dari wilayah kekuasaan (Onder Afdeling
Palu) yang terdiri dari tiga wilayah yaitu Landschap Palu yang mencakup distrik Palu Timur,
Palu Tengah, dan Palu Barat; Landschap Kulawi; dan Landschap Sigi Dolo.
Masyarakat Kota Palu sangat heterogen. Penduduk yang menetap di kota ini berasal dari
berbagai suku bangsa seperti Bugis, Toraja dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Barat, Gorontalo, Manado, Jawa, Arab, Tionghoa, dan Kaili yang merupakan suku asli
dan terbesar di Sulawesi Tengah.
Kota Palu sering diasosiasikan dengan kekerasan dan konflik. Padahal, masyarakat tidak
terpengaruh oleh konflik atau bentrokan antarwarga. Bentrokan antarwarga di Kelurahan Nunu
dan Kelurahan Tavanjuka yang sempat diberitakan di media massa tidak mempengaruhi aktivitas
masyarakat. Warga tetap beraktivitas seperti biasa.