Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN

PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
TINGKAT 1, D IV KEPERAWATAN
1.
2.
3.
4.
5.

Ni Putu Amelia Rosalita Dewi


Putu Epriliani
Ni Komang Ayu Risna Muliantini
Luh Agustina Rahayu
I Gusti Ayu Indah Juliari

( P07120214003)
(P07120214010)
(P07120214011)
(P07120214030)
(P07120214031)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


TAHUN AKADEMIK 2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN

18

1. Latar Belakang
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam
mempertahankan keseimbangan fisiologi maupun psikologis. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kebutuhan dasar manusia antara lain: 1). Penyakit yaitu keadaan sakit maka beberapa fungsi organ
tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar dari biasanya.2). Hubungan keluarga; Hubungan
keluarga yang baik dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya. 3).
Konsep diri, terutama konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan bagi seseorang.
Konsep diri yang sehat memberikan perasaan yang positif terhadap diri. Orang yang merasa positif
tentang dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup
yang sehat sehingga lebih mudah memenuhi kebutuhan dasarnya. 4). Tahap Perkembangan; Setiap
tahap perkembangan, manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis,
psikologis, sosial, maupun spiritual.
Ada beberapa ahli yang menyebutkan tentang kebutuhan dasar diantaranya menuru A. Maslow
dan Virginia Henderson. Menurut Maslow kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau
hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi
diri). Hierarchy of needs (hirarki kebutuhan) dari Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki 5
macam kebutuhan yaitu physiological needs (kebutuhan fisiologis), safety and security needs
(kebutuhan akan rasa aman), love and belonging needs (kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa
memiliki), esteem needs (kebutuhan akan harga diri), dan self-actualization (kebutuhan akan aktualisasi
diri).
Virginia Henderson mengungkapkan bahwa kesehatan berkaitan demgan kemampuan pasien untuk
memenuhi 14 komponen kebutuhan dasar hidup untuk memandirikan pasien. Adapun 14 komponen
kebutuhan dasar hidup tersebut meliputi :
1. Bernafas dengan normal
2. Makan dan minum cukup.
3. Pembuangan eliminassi tubuh.
4. Bergerak dan mempertahankan posisi yang nyaman.
5. Tidur dan istirahat.
6. Memilih pakaian pantas, berpakaian dan menanggalkan pakaian.
7. Mempertahankan suhu tubuh dalam kondisi normal dengan memodifikasi Lingkungan.
8. Menjaga kebersihan tubuh dan memelihara kesehatan dan melindungi kulit

9. Menghindari bahaya dilingkungannya dan menghindari cedera yang lain.


10. Komunikasi dengan orang lain dalam pernyataan emosi, kebutuhan, ketakutan dan pendapat.
11. Beribadah menurut kepercayaan seseorang.
12. Bekerja sedemikian rupa sehingga ada rasa pemenuhan akan kebutuhan.
13. Kebutuhan bermain dan rekreasi
14. Belajar, menemukan atau mencukupi keingintahuan akan pertumbuhan dan kesehatan yang normal
dan dapat menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Setiap ahli memang berpendapat berbeda-beda mengenai kebutuhan manusia namun kita perlu
mengaplikasikan pendapat ahli itu dalam membuat suatu asuhan keperawatan agar perawat mampu
memenuhi kebutuhan pasien/klien ketika mengalami suatu permasalahan kesehatan sehingga perawat
dapat dengan tepat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Maka dari itu kami membuat
makalah yang berkaitan dengan salah satu pemenuhan kebutuhan manusia yaitu Kebutuhan Rasa
Aman dan Nyaman.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman?
2. Bagaimana pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi kebutuhan rasa aman dan
nyaman (hipotermi) ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman.
2. Untuk mengetahui pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi kebutuhan rasa
aman dan nyaman (hipotermi).
D. Manfaat
Bagi mahasiswa keperawatan agar mampu memahami tentang konsep kebutuhan rasa aman dan
nyaman serta dapat mengetahui cara pengkajian kebutuhan rasa aman dan nyaman.

BAB II
KONSEP DASAR
1. Konsep Rasa Aman
Keamanan adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau bisa juga keadaan aman
dan tentram (Potter& Perry, 2006).
Kebutuhan akan keselamatan atau keamanan adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya
fisik.

Ancaman

terhadap

keselamatan

seseorang

dapat

dikategorikan

sebagai

ancaman

mekanis,,kimiawi, retmal dan bakteriologis. Kebutuhan akan keaman terkait dengan konteks fisiologis
dan hubungan interpersonal. Keamanan fisiologis berkaitan dengan sesuatu yang mengancam tubuh
dan kehidupan seseorang. Ancaman itu bisa nyata atau hanya imajinasi (mis, penyakit, nyeri, cemas,
dan sebaginya). Dalam konteks hubungan interpersonal bergantung pada banyak faktor, seperti
kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengontrol masalah, kemampuan memahami, tingkah laku

yang konsisten dengan orang lain, serta kemampuan memahami orang-orang di sekitarnya dan
lingkungannya. Ketidaktahuan akan sesuatu kadang membuat perasaan cemas dan tidak aman.
(Asmadi, 2005).
Mempertahankan keselamatan fisik melibatkan keadaan mengurangi atau mengelurkan ancaman
pada tubuh atau kehidupan. Ancaman tersebut mungkin penyakit, kecelakaan,bahaya,atau pemajanan
pada lingkungan. Pada saat sakit, seorang klien mungkin rentan terhadap komplikasi seperti infiksi,
oleh karena itu bergantung pada profesional dalam sistem pelayann kesehatan untuk perlindungan.
Memenuhi kebutuhan keselamatan fisik kadang mengambil prioritas lebih dahulu di atas
pemenuhan kebutuhan fisiologis.Misalnya,seorang perawat mungkin perlu melindungiklien disointasi
dari kemungkinan jatuh dari tempat tidur sebelum memberikan perawatan untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi. (Potter&Perry, 2005).
Lingkup kebutuhan keamanan atau keselamatan lingkungan klien mencakup semua faktor fisik
dan psikososial yang mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup klien.
Untuk selamat dan aman secara psikologi, seorang manusia harus memahami apa yang diharapkan dari
orang lain, termasuk anggota keluarga dan profesionl pemberi perawatan kesehatan. Seseorang harus
mengethuai apa yang diharapkan dari prosedur, pengalaman yang baru, dan hal-hal yang dijumpai
dalam lingkungan. Setiap orang merasakan beberapa ancaman keselamatan psikologis pada
pengalaman yang baru dan yang tidak dikenal. (Potter&Perry,2005).
Orang dewasa yang sehat secara umum mampu memenuhi kebutuhan keselamatan fisik dan
psikologis merekat tanpa bantuan dari profsional pemberi perawatan kesehatan.Bagaimanapun,orang
yang sakit atau acat lebih renta untukterncam kesejahteraan fisik dan emosinya,sehingga intervensi
yang dilakukan perawat adalah untuk membantu melindungi mereka dari bahaya. (Potter&Perry, 2005).
1.2 Kebutuhan Dasar Yang Dapat Mengancam Keselamatan Klien
1. Oksigen
Bahaya umum yang ditemukan di rumah adalah sistem pemanasan. Pembakaran yang tidak
mempunyai pembuangan yang tepat akan menyebabkan penumpukan karbon monoksida (CO) di
dalam ruangan. CO berikatan kuat dengan oksigen sehingga mencegah terbentuknya oksihemoglobin,
dan akhirnya menyebabkan berkurangnya oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
2. Kelembaban

Kelembaban relatif adalah jumlah uap air di udara dibandingkan dengan uap air maksimum
yang dapat dikandung oleh udara pada suhu yang sama. Jika kelembaban relatifnya tinggi, maka
kelembaban kulit terevaporasi lambat, begitu pula sebaliknya. Orang tidak akan nyaman bila berada
pada cuaca panas dan lembab. Orang akan merasa dingin dan nyaman bila berada pada suhu 32 0 C
dengan kelembaban 30%.
3. Nutrisi

Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat dan aman memerlukan kontrol lingkungan dan
pengetahuan. Kulkas, air bersih dan pembuangan sampah diperlukan pengetahuan yang benar,
sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi aman.

Makanan yang tidak dikelola dengan baik akan meningkatkan terjadinya risiko infeksi dan
keracunan makanan. Infeksi bakteri melalui makanan disebabkan karena adanya kontaminasi
makanan dengan bakteri seperti salmonela, shigela, dan listeriosa. Keracunan makanan seringkali
disebabkan oleh ingesti toksin bakteri seperti stafilokokus dan klostridium yang dihasilkan dalam
makanan.
Walaupun sebagian besar penyakit akibat makanan disebabkan oleh bakteri, tetapi penyakit

hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A yang disebarkan melalui kontaminasi feses terhadap
makanan, air, atau susu.
4. Suhu

Suhu lingkungan yang nyaman bervariasi untuk setiap individu. Suhu yang nyaman berada pada
rentang 18 0 23 0 C.

Terpapar suhu udara yang sangat dingin dalam waktu yang lama menyebabkan radang dingin
(frostbite) dan hipotermia. Hipotermi terjadi saat suhu tubuh = atau < 35

C, denyut jantung

lemah dan tidak teratur, pernafasan dangkal dan lambat, muka pucat, menggigil. Dapat terjadi
kematian. Pemaparan panas yang ekstrem dapat menyebabkan heatstroke (sengatan terik
matahari) atau heat exhaustion (udara yang panas). Heat exhaustion menyebabkan diaforesis
yang berlebihan, hipotensi, perubahan status mental, kejang otot, dan mual. Heatstroke adalah
salah satu kondisi yang mengancam kehidupan dengan ditandai oleh perubahan status mental
yang berat, koma, hiperpireksia dengan kulit kering yang panas, dan suhu rectal > 405 0 C.

Klien yang menderita sakit kronik, lansia dan bayi mempunyai risiko terbesar mengalami cedera
akibat panas yang ekstrem.

2. Konsep Rasa Nyaman

Perubahan kenyamanan adalah keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak
menyenangkan dan berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya (Carpenito, Linda Jual,
2000). Kolcaba (1992, dalam Potter & Perry, 2006) megungkapkan kenyamanan/rasa nyaman adalah
suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu
kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan
transenden (keadaan tentang sesuatu yang melebihi masalah dan nyeri). Kenyamanan mesti dipandang
secara holistik yang mencakup empat aspek yaitu:
a.

Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.

b.

Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan sosial.

c.

Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri sendiri yang meliputi harga
diri, seksualitas, dan makna kehidupan).

d. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman eksternal manusia seperti cahaya,
bunyi, temperatur, warna, dan unsur alamiah lainnya.
Meningkatkan kebutuhan rasa nyaman diartikan perawat telah memberikan kekuatan, harapan,
hiburan, dukungan, dorongan, dan bantuan. Secara umum dalam aplikasinya pemenuhan kebutuhan
rasa nyaman adalah kebutuhan rasa nyaman bebas dari rasa nyeri, dan hipo/hipertermia. Hal ini
disebabkan karena kondisi nyeri dan hipo/hipertermia merupakan kondisi yang mempengaruhi
perasaan tidak nyaman pasien yang ditunjukan dengan timbulnya gejala dan tanda pada pasien.
Kebutuhan rasa nyaman(Aziz 2004:172, Kebutuhan Dasar Manusia) yang dimaksud di sini
adalah kebutuhan rasa nyaman bebas dari nyeri dan hipo/hipertermia mengingat nyeri dan
hipo/hipertermia merupakan keadaan yang dapat mempengaruhi perasaan tidak nyaman bagi tubuh.
Rasa tidak nyaman ini ditunjukkan dengan ada tanda dan gejala seperti ketika ada nyeri, pasien
menunjukan prilaku protektif dan tidak tenang,peningkatan tekanan, frekuensi nadi, peningkatan atau
penurunanan napas, diaforesis, wajah mnyeringai, dan prilaku distraksi, sperti menangis dan merintih.
Sedangkan rasa nyaman pada hipo/hipertermia merupakan suatu keadaan yang dialami pasien dengan
merasakan kedinginan atau kepanasan yang ditandai dengan suhu dibawah 35,5 0C (hipotermia) dan
diatas 370C (hipertermia).
Faktor faktor yang Mempengaruhi Keamanan dan Kenyamanan
1.

Emosi

Kecemasan, depresi, dan marah akan mudah terjadi dan mempengaruhi keamanan dan kenyamanan
2.

Status Mobilisasi

Keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot, dan kesadaran menurun memudahkan terjadinya
resiko injury
3.

Gangguan Persepsi Sensory

Mempengaruhi adaptasi terhadap rangsangan yang berbahaya seperti gangguan penciuman dan
penglihatan
4.

Keadaan Imunits

Gangguan ini akan menimbulkan daya tahan tubuh kurang sehingga mudah terserang penyakit
5.

Tingkat Kesadaran

Pada pasien koma, respon akan enurun terhadap rangsangan, paralisis, disorientasi, dan kurang tidur.
6.

Informasi atau Komunikasi

Gangguan komunikasi seperti aphasia atau tidak dapat membaca dapat menimbulkan kecelakaan.
7.

Gangguan Tingkat Pengetahuan

Kesadaran akan terjadi gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi sebelumnya.
8.

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional

Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan anafilaktik syok


9.

Status nutrisi

Keadaan kurang nutrisi dapat menimbulkan kelemahan dan mudah menimbulkan penyakit, demikian
sebaliknya dapat beresiko terhadap penyakit tertentu.
10. Usia
Pembedaan perkembangan yang ditemukan diantara kelompok usia anak-anak dan lansia
mempengaruhi reaksi terhadap nyeri
11. Jenis Kelamin
Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam merespon nyeri dan tingkat
kenyamanannya.
12. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri dan tingkat
kenyaman yang mereka punyai.
3. Gangguan Rasa Aman dan Nyaman ( Hipotermia)
1. Kebutuhan Rasa Nyaman (Hipotermia)
a. Definisi

Hipotermia berasal dari kata hypo dan termios yang berarti suatu kondisi kesehatan
dimana tubuh kehilangan suhu panasnya secara cepat sehingga menyebabkan temperature tubuh
menurun drastis. Hipotermia terjadi jika suhu tubuh di bawah 35 o C. Saat suhu tubuh menurun
drastis maka jantung, sistem saraf dan organ tubuh lainnya tidak dapat bekerja dengan baik dan
pada akhirnya akan menyebabkan gagal jantung, rusaknya sistem pernapasan bahkan kematian.
Dan dapat dialami oleh bayi hingga lansia.
2. Gejala dan Indikasi
Hipotermia terjadi bila terjadi penurunan suhu inti tubuh dibawah 35C (95F). Pada suhu ini,
mekanisme kompensasi fisiologis tubuh gagal untuk menjaga panas tubuh. Hipotermia diawali
dengan gejala kedinginan seperti biasa, dari badan gemetar menahan dingin sampai gigi
berkerotakan karena tidak kuat menahan dingin. Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia
akan semakin cepat dan hebat.Biasanya pederita merasa kurang nyaman dengan suhu tubuhnya.
Ciri-ciri Hipotermia di bedakan menjadi dua yaitu Hipotermia ringan dan Hipotermia yang akut
atau berat .
Ciri-ciri hipotermia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
-

Hipotermia Ringan
Ciri-ciri orang yang terkena Hipotermia ringan adalah bicara melantur, kulit menjadi agak pucat,
detak jantung melemah, tekanan darah menurun, badan menggigil. Keadaan penderita akan menjadi
semakin memburuk jika tidak segera ditangani.

Hipotermia Berat
Ciri - ciri orang yang terkena Hipotermia berat penderita akan mulai berhalusinasi dan tidak lagi
merasa kedinginan bahkan akan merasa kegerahan sehingga penderita bisa melepaskan pakaiannya
satu-persatu. Keadaan ini sangat berbahaya sehingga harus segera di berikan penanganan yang cepat
namun harus dengan hati hati.

Stadium lanjut hipotermia


Ciri cirri orang yang terkena Hipotermia stadium lanjut adalah muka pucat, ujung kaki dan tangan
berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, Kulit mengeras, merah dan timbul edema
terutama pada punggung, kaki dan tangan

(sklerema).

3. Faktor Penyebab Hipotermia


Menurut DepKes RI, 2010, faktor penyebab Hipotermia adalah :
a.

Faktor lingkungan

b.

Syok

c.

Infeksi

d.

Gangguan endokrin metabolik

e.

Kurang gizi , energi protein( KKP)

f.

Obat- obatan

g. Aneka cuaca

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun psikologis,
jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap
terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien
tentang masalahnya/penyakitnya.
2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada saat perawat
mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST
(Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time)
3. Riwayat perkembangan
- Remaja
Penggunaan obat-obatan dan alkohol yang bisa menyebabkan pembunuhan dan bunuh diri
Kecelakaan kendaraan bermotor
-

Orang dewasa

Penggunaan alkohol
Perokok

Lansia

Risiko jatuh
Luka bakar, kecelakaan mobil

Bayi todler, prasekolah

Bahaya keracunan krn meningkatnya aktivitas oral, dan kemampuan mengeksplorasi

lingkungan
Risiko jatuh

Anak sekolah

Lebih berisiko cedera oleh orang karena anak


Usia sekolah lebih berpartisipasi dalam berbagai aktivitas di luar rumah dan lingkungan sekitar
rumahnya.

4. Riwayat kesehatan
- Keluarga
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami masalah / penyakit yang
sama.
-

Masalalu
Dalam hal ini yang perlu dikaji adalah apakah dahulu pasien pernah mengalami

masalah/penyakit yang sama atau penyakit lain yang dapat memicu timbulnya masalah lain.
Saat ini
Dalam hal ini yang dikaji adalah tentang bagaimana kondisi kesehatan pasien pada waktu ini.
5. Riwayat psikososial
-

Riwayat sosiaol yang perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya :
pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
Sedangkan psikologinya disini perawat perlu mengetahui tentang :
1. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya meliputi:
- Faktor faktor yang berhubungan dengan sistem sensori komunikasi klien seperti adanya
perubahan perilaku klien karena perubahan sensori komunikasi : halusinasi, gangguan proses
pikir, kelesuan, ilusi, kebosanan dan tidak bergairah, perasaan terasing, kurangnya konsentrasi,
-

kurangnya koordinasi dan keseimbangan.


Faktor risiko yang berhubungan dengan keadaan klien : kesadaran menurun, kelemahan fisik,

2.
3.
4.
7.
8.

immobilisasi, penggunaan alat bantu.


Pengaruh sakit terhadap cara hidup
Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
Riwayat spiritual
Pemeriksaan fisik

Dibawah ini adalah salah satu pengkajian yang dilakukan perawat terhadap pasien yang mengalami
gangguan rasa aman dan nyaman yang disebabkan oleh hipotermia.
1. Biodata pasien
a. Identitas Klien
Nomor Register : 05.07.94
Nama Pasien

: Tn. L

Umur

: 65 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Kristen

Alamat

: Jl. Kenanga No. 3

Suku/Bangsa

: Jawa/Indonesia

b. Identitas penanggung
Nama

: Tn. M

Umur

: 35 tahun

Agama

: Kristen

No. RM

: 04.02.04

Tgl. Pengkajian

: 10 Februari 2004

Pekerjaan

: Karyawan Bank Swasta

Hubungan dengan klien

: anak kandung

Alamat

; Jl. Kenanga No. 3

2. Alasan masuk RS
Klien merasa menggigil, ekstremitas dingin dan tampak gelisah di rumah tanggal 1 November 2014.
3. Riwayat kesehatan saat ini
Klien mengatakan pada tanggal 1 November 2014 sekitar pukul 10.00 pagi klien merasa kedinginan
dan gelisah. Kemudian klien memakai jaket tetapi tidak ada perubahan. Lalu klien dan keluarga pergi
ke dokter praktek dan klien dianjurkan untukopname.
4. Riwayat kesehatan masa lalu
Menurut klien bahwa dia pernah dioperasi App pada umur 20 tahun dan juga pernah dirawat karena
menderita ulkus peptikum.
5.Riwayat Psikososial
I. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
-Pola koping:
Klien dapat menerima keadaan penyakitnya sebagai suatu yang wajar terjadi di usia tua.
-Harapan klien tentang penyakitnya:
Klien berharap penyakitnya sembuh dan tidak dapat kambuh lagi dan jangan sampai dirawat lagi di
RS.

-Faktor stressor:
Merasa bosan dan diam terus di rumah.
-Konsep diri:
Klien tidak merasa rendah diri karena penyakitnya dianggap wajar terjadi pada usia tua.
-Hubungan dengan masyarakat:
Klien di lingkungan bergabung dengan masyarakat lainnya.
-Aktivitas sosial:
Klien mau mengikuti kegiatan di sosial di masyarakat sesuai dengan kemampuannya.
-Kegiatan keagamaan:
Klien rajin ke gereja
-Keyakinan tentang kesehatan
Klien menyadari bahwa kesehatan itu merupakan hal yang paling penting.
II. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi

: ditemukan kulit tampak pucat, menggigil, gelisah, dan lemah

Palpasi

: pada permukaan ini ditemukan kulit teraba dingin, nadi lambat.

Auskultasi

: tekanan darah menurun.

III. Observasi
Observasi TTV
S : 33 C
N : 50 x/menit
TD : 90/60 mmHg
P : 24 x/menit
III. Pengelompokan Data
Data Objektif
1. Suhu tubuh 33 C
2. Kulit teraba dingin
3. Tampak menggigil
4. Gelisah

5. Mengantuk
6. Tampak pucat dan menggigil
7. Pemenuhan ADL dilakukan oleh perawat dan keluarga
8. Tampak cemas dan ketakutan
9. Klien dan keluarga sering menanyakan kondisinya
10.Observasi TTV:
S : 33 C
TD : 90/60 mmHg
Data Subjektif
1. Pasien merasa menggigil
2. Merasa lemah
N : 50 x/menit
P : 24 x/menit
3. Pasien merasa mengantuk terus
4. Pasien sering menanyakan kondisinya
5. Klien merasa tidak berdaya akan kondisinya
B. Diagnosis Keperawatan
Kegiatan dalam diagnosa keperawatan:

Analisa data

Identifikasi masalah

Formulasi diagnosa

Pada data focus dibagi menjadi 2 yaitu: Data Obyektif ( data yang didapat dari hasil
pemeriksaan,dan dari hasil observasi perawat), Data Subyektif ( data yang didapat dari keluhan
pasien/dari hasil anamnesa). Data ini untuk mempermudah perawat dalam menentukan masalah
kebutuhan pasien
Pada data etiologi diisi berdasarkan masalah yang berhubungan dengan penyakit pasien. Data
etiologi ini berguna untuk mempermudah perawat dalam merumuskan diagnosa dan intervensi.
Pada kotak masalah diisi kebutuhan yang telah ditentukan oleh perawat sesuai dengan data-data yang
telah didapat dan ditulis pada data focus. Masalah ini berfungsi untuk mempermudahkan perawat
dalam perumusan diagnosa dan perencanaan tindakan terhadap pasien.

Salah satu diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan pemenuhan rasa aman dan nyaman
adalah hipotermi (selain nyeri) yaitu dengan proses pendiagnosisan seperti di bawah ini:
I. Analisa Data
No.

Data
-

2.

3.

DO :
Umur klien 65 tahun
- Suhu tubuh 33 C
- Kulit teraba dingin
- Tampak menggigil
DS:
Merasa dingin dan
Merasa menggigil
DO:
- Tampak lemah
- Pemenuhan ADL dilakukan oleh perawat dan keluarga
DS:
- Merasa lemah
DO:
- Klien sering menanyakan kondisinya
- Gelisah
- Nampak cemas dan ketakutan
DS:
- Klien merasa tidak berdaya akan kondisinya

II. Kemungkinan Penyebab


Usia (65 tahun) menyebabkan disfungsi otonomi khususnya pada hipotalamus pada region post
sehingga terjadi penurunan fungsi termoregulasi tubuh dan juga karena kehilangan massa otot
dan cadangan lemak. Penurunan suhu tubuh menyebabkan penurunan metabolisme tubuh
sehingga terjadi penurunan energi yang menyebabkan kelemahan.
Kurangnya pengetahuan dan informasi sehingga keadaannya merupakan ancaman kehidupan.
III. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan suhu tubuh berhubungan dengan regulasi suhu tak efektif akibat
usia ditandai dengan:
Umur klien 65 tahun
-

Suhu tubuh 33 C

Kulit teraba dingin

Tampak pucat dan menggigil

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suhu tubuh ditandai dengan:


-

Tampak lemah

Pembatasan aktivitas

Pemenuhan ADL dilakukan oleh perawat dan keluarga

3. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keadaan kondisinya (ancaman)


ditandai dengan:
-

Nampak cemas dan ketakutan

Klien dan keluarga sering menanyakan kondisinya

Gelisah

C. Intervensi
Hal-hal yang didokumentasikan pada tahap perencanaan :
1. Seperangkat tujuan dan kriteria hasil sesuai dengan prioritas masalah.
2. Tindakan keperawatan mandiri diprioritaskan kemudian tindakan keperawatan kolaborasi.
3. Pendidikan kesehatan kepada pasien dan atau kepada keluarga.
4. Rencana tindakan harus logis dan operasional
5.

Berikan tanda tangan dan nama jelas


Pada format ini juga terdapat kolom-kolom yaitu kolom tanngal, no.dx, tujuan, kriteria hasil,

intervensi, dan rasional.

Tanggal diisi berdasarkan kapan perawat membuat intervensi/rencana tindakan untuk memenuhi
kebutuhan

pasien.Berguna

untuk

memepermudah

perawat

dalam

perencanaan

dan

pendokumentasian.
No.Dx dituliskan berdasarkan jumlah masalah yang sebelumnya telah ditentukan oleh perawat.
Tujuannya agar mempermudah perawat dalam penyusuanan data dan mengurangi kemungkinan

terjadinya pertukaran data pada setiap kebutuhan.


Tujuan Dan Kriteria Hasil ditulis berdasarkan masalah yang terdapat pada pasien berfungsi untuk
memudahkan perawat dalam menyusun intervensi dan menjadi patokan bagi perawat untuk
melakukan asuhan keperawatan. Kriteria Hasil biasanya ditulis berdasarkan data tidak normal yang
terdapat pada data focus dan ditulis menjadi keadaan normal.

Intervensi diisi berdasarkan rencana perawat dalam memenuhi kebutuhan pada pasiennya.
Berfungsi untuk memudahkan perawat dalam melakukan tindakan keperawatan. Disetiap intervensi
harus memiliki rasional. Intervensi keperawatan harus ditulis dengan spesifik dan dinyatakan
denagn jelas(operasional) dan dimulai dengan kata kerja/kata perintah. Pda penyusunan intervensi

perawat juga harus merencanakan tindakan mandiri dan kolaboratif dengan tenaga kesehatan lain.
Rasional ditulis sesuai pada intervensi yang telah dibuat oleh perawat, rasional disertakan untuk
membantu perwat pelaksanaan dalam menhubungkan prinsip patofisiologi dan psikologi dengan
intervensi keperawatan yang dipilih.
Perencanaan tindakan keperawatan pada pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman terutama
hipotermi yaitu:
1. Penurunan suhu tubuh berhubungan dengan regulasi suhu tak efektif akibat
usia ditandai dengan:

Umur klien 60 tahun

Suhu tubuh 35 C

Kulit teraba dingin

Tampak pucat dan menggigil

Tujuan: mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal dengan kriteria


-

Suhu 36 37 C

Tidak menggigil

Tidak pucat

Intervensi:
a. Pantau suhu klien setiap 2 jam
Rasional: perubahan suhu yang signifikan membantu dalam pemberian
intervensi.
b. Berikan selimut tambahan
Rasional: pemberian selimut tambahan dapat mengurangi evaporasi dan
radiasi sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan.
c. Berikan buli-buli panas pada kaki
Rasional: memberikan rangsangan panas dari luar untuk membantu
mempertahankan suhu tubuh yang optimal
d. Pantau suhu lingkungan
Rasional: menjaga suhu lingkungan tetap konstan sehingga tidak terjadi

pertukaran antara suhu tubuh dan suhu ruangan.


e. Batasi aktivitas
Rasional: aktivitas yang tinggi meningkatkan metabolisme tubuh
sehingga meningkatkan pengeluaran panas dari tubuh.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suhu tubuh ditandai
dengan:
-

Tampak lemah

Pembatasan aktivitas

Pemenuhan ADL dilakukan oleh perawat dan keluarga

Tujuan: aktivitas terpenuhi dengan kriteria


-

Observasi TTV dalam batas normal (S: 36 37 C, Nadi: 80 x/menit,TD : 130/80 mmHg,
P : 24 x/menit).

Pemenuhan ADL oleh klien

Intervensi:
a. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan parameter frekuensi nadi
20/menit di atas frekuensi istirahat.
Rasional: parameter menunjukkan respons fisiologis pasien terhadap
stress aktivitas.
b. Kaji kesiapan klien untuk meningkatkan aktivitas karena kelemahan.
Rasional: stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan
tingkat aktivitas individual.
c. Berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional: teknik penghematan energi, menurunkan penggunaan energi
sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
d. Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih periode aktivitas.
Rasional: Pengaturan jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan
aktivitas dan mencegah kelemahan.
e. Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu
Rasional: membantu meningkatkan harga diri klien bila melakukan
sendiri.

3. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keadaan kondisinya


(ancaman) ditandai dengan:
- Nampak cemas dan ketakutan
- Klien dan keluarga sering menanyakan kondisinya
- Gelisah
Tujuan: cemas teratasi dengan kriteria:
-

Tidak cemas

Muka tampak cerah

Keluarga dan klien kooperatif terhadap asuhan keperawatan

Intervensi:
a. Kaji rasa cemas untuk validasi observasi klien misalnya: apakah merasa takut.
Rasional: perasaan adalah nyata dan membantu klien untuk terbuka
sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya.
b. Catat petunjuk perilaku misalnya: gelisah
Rasional: indikator derajat/stress, di mana dapat terjadi sebagai akibat
gejala fisik kondisinya.
c. Tentukan persepsi klien tentang proses penyakitnya.
Rasional: membuat pengaturan dasar dan memberikan kesadaran
kebutuhan belajar individu.
d. Dorong klien menyatakan perasaannya.
Rasional: membuat hubungan terapeutik dan membantu klien untuk
mengidentifikasi masalah yang menyebabkan kecemasan.
f. Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan.
Rasional: keterlibatan klien dalam perencanaan perawatan memberikan
rasa kontrol dan membantu menurunkan kecemasan.
g. Catat pembatasan fokus perhatian klien misalnya: konsentrasi pada suatu
hal pada waktu tertentu.
Rasional: penyempitan fokus umumnya merefleksikan rasa tak
kepanikan.
h. Berikan lingkungan tenang dan istirahat
Rasional: memindahkan klien dari stress luar, meningkatkan relaksasi dan

membantu menurunkan ansietas.


i. Bantu klien menggunakan mekanisme koping misalnya: teknik mengatasi
stress.
Rasional: mekanisme koping mampu mengatasi masalah.
j. Dorong keluarga untuk menyatakan perhatiannya.
Rasional: tindakan dukungan dapat membantu mengurangi stress.
D. Implementasi / Pelaksanaan
Merupakan pelaksanaan rencana intervensi keperawatan
Terdiri semua aktivitas yang dilakukan oleh perawat dan klien untuk merubah efek dari masalah
dilakukan oleh :
a. Perawat
b. Perawat dan klien
c. Perawat dan keluarga
d. Perawat, klien dan keluarga
e. Tenaga non keperawatan lain
Dan kegiatan yang dilakukan :
1. Melanjutkan pengumpulan data dan pengkajian. Pada saat melakukan kegiatan perawat tetap
menjalankan pengkajian dan pengumpulan data
2. Melaksanakan intervensi keperawatan
3. Mendokumentasikan asuhan keperawatan
4. Memberikan laporan keperawatan secara verbal
5. Mempertahankan rencana asuhan
Tujuan Dokumentasi Pelaksanaan
1. Mengevaluasi kondisi kesehatan pasien dalam periode yang singkat (evaluasi formatif) setelah tindakan
dilakukan.
2. Mengetahui jumlah tenaga/jenis tenaga kesehatan yang terlihat langsung memberikan pelayanan
kesehatan kepada pasien.
3. Mengetahui jenis tindakan keperawatan yang telah diberikan.
4. Mengetahui pendidikan kesehatan yang telah diberikan.
5. Dokumentasi legal intervensi keperawatan yang telah diberikan kepada klien dan keluarganya

Hal-hal yang perlu didokumentasikan pada tahap implementasi :

1. Mencatat waktu dan tanggal pelaksanaan.


2. Mencatat diagnosa keperawatan nomor berapa yang dilakukan intervensi tersebut
3. Mencatat semua jenis intervensi keperawatan termasuk hasilnya
4. Berikan tanda tangan dan nama jelas perawat satu tim kesehatan yang telah melakukan intervensi.
Pengimplementasian proses keperawatan pada pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman terutama
hipotermi yaitu:

Implementasi untuk diagnosa: penurunan suhu tubuh berhubungan dengan


regulasi suhu tak efektif akibat usia.
1.Tanggal 10 Februari 2004 jam 09.00
Memantau suhu klien setiap 2 jam (suhu: 35,5 C)
2. Tanggal 10 Februari 2004 jam 09.05
Memberikan selimut tambahan
3.Tanggal 10 Februari 2004 jam 09.10
Memberikan buli-buli panas pada daerah kaki
4.Tanggal 10 Februari 2004 jam 09.20
Memantau suhu lingkungan kamar klien
5.Tanggal 10 Februari 2004 jam 09.45
Membatasi aktivitas klien dengan memenuhi segala kebutuhan klien di
tempat tidur.
Catatan: untuk diagnosa ke-2 dan ke-3 implementasinya disesuaikan dengan
intervensi.
E. Evaluasi
Macam-macam evaluasi yaitu:
1. Evaluasi formatif

Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon pasien segera pada saat / setelah
dilakukan tindakan keperawatan

Ditulis pada catatan perawatan

Contoh: membantu pasien duduk semifowler, pasien dapat duduk selama 30 menit tanpa
pusing

2. Evaluasi Sumatif

Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa status kesehatan sesuai waktu
pada tujuan

Ditulis pada catatan perkembangan

Evaluasi ditulis setiap kali setelah semua tindakan dilakukan terhadap pasien. Pada tahap evaluasi
dibagi menjadi 4 tahap yaitu :
S : Hasil pemeriksaan terakhir yang dikeluhkan oleh pasien biasanya data ini berhubungan dengan
criteria hasil
O : Hasil pemeriksaan terkhir yang dilakukan oleh perawat biasanya data ini juga berhubungan dengan
criteria hasil.
A : Pada tahap ini dijelaskan apakah masalah kebutuhan pasien telah terpenuhi atau tidak
P : Dijelaskan rencana tindak lanjut yang akan dilakukan terhadap pasien.
Evaluasi proses keperawatan pada pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman terutama hipotermi
yaitu:

Evaluasi untuk diagnosa: penurunan suhu tubuh berhubungan dengan regulasi


suhu tak efektif akibat usia.
S : Klien mengatakan tidak merasa menggigil lagi
O : - Suhu tubuh 37 C
- Kulit tidak teraba dingin
- Tidak pucat
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Jadi, kebutuhan rasa aman adalah sebuah keadaan yang bebas dari cedera fisik, perasaan terasa
tenang bebas dari ancaman sehingga hidup seseorang terasa tentram yang dipengaruhi oleh kebutuhan
seperti oksigen,kelembapan, nutrisi dan suhu sedangkan kebutuhan rasa nyaman adalah suatu keadaan
telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang
meningkatkan penampilan sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan
tentang sesuatu yang melebihi masalah dan nyeri). Kenyamanan mesti dipandang secara holistik yang
mencakup empat aspek yaitu: fisik, sosial, psikospiritual, dan lingkungan. Kemudian dalam melakukan
pengkajian perawat perlu mengkaji biodata pasien,keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST),
riwayat perkembangan ( remaja, orang dewasa,lansia,bayi todler, prasekolah, anak sekolah) dan
riwayat psikososial, lalu setelah itu proses keperawatan dilanjutkan dengan tahap diagnosis
keperawatan, intervensi ( perencanaan), implementasi (pelaksanaan) dan evaluasi. Itulah 5 proses
keperawatan yang wajib perawat lakukan saat memberikan pelayanan asuhan keperawatan kebutuhan
rasa aman dan nyaman (hipotermi).

DAFTAR PUSTAKA

Barakuseinata.2013. Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman.


http://barakuswinata.blogspot.com/2013/01/kebutuhan-rasa-aman-nyaman.html (Diakses 27 Oktober
2014)
Judith M.Wilkinson.2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC
Hidayat, AAA., Musifatul Uliyah. 2004. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: EGC.
Potter, Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, Proses, dan Praktik, Edisi 4, Jakarta:
EGC.
Jurnal,Bidan.2012. Hipotermi pada Bayi.
http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/07/hipotermi-pada-bayi-baru-lahir-dan.html
Oktober 2014)

(Diakses

27

Anda mungkin juga menyukai