Anda di halaman 1dari 57

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ACUTE LIMB ISCHEMIA

(ALI) STAGE IIa


RUMAH SAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
HARAPAN KITA JAKARTA
Disusun untuk memenuhi Tugas Akhir Pelatihan Keperawatan Kardiovaskular
Tingkat Dasar Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta
Pembimbing : Ns. Sofiawati S. Kep

Oleh:
KELOMPOK B
Arif
Sumiaty
Netti Ovianti
Syamsul Putra
Tyas Ratna Puri

Divisi Pendidikan dan Latihan


Program Pelatihan Keperawatan Kardiovaskular Tingkat Dasar
Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Penyakit tidak menular masih menjadi masalah kesehatan yang besar di
Indonesia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2005
bahwa dari 58 juta kematian di dunia, 17,5 juta (30%) diantaranya disebabkan
oleh penyakit jantung dan pembuluh darah Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
pada tahun 2007 angka kematian penyakit tidak menular meningkat dari 41,7%
pada tahun 1995 menjadi 59,5% (Kemenkes, 2009). Dari hasil ini menunjukkan
bahwa terjadi peningkatan angka mortalitas dari tahun ke tahun dan prevalensi
penyakit tidak menular yang masih sangat tinggi.
Salah satu penyakit pembuluh darah yang mengancam adalah Acute Limb
Ischemic (ALI). ALI merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan perfusi
perifer akibat trombus ataupun emboli mengakibatkan perfusi jaringan tidak
adekuat kurang dari 14 hari. Kondisi seperti ini diperkirakan mendekati 150 kasus
orang per tahunnya (Norgren et al dalam Creager et al, 2012). Angka mortalitas
pada kasus ALI ini pun akan semakin tinggi apabila tidak dilakukan penanganan
yang tepat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jivegard pada tahun 1980, angka
mortalitas pada kasus ALI mencapai 25% dari total kasus yang ada. Studi lainnya
yang dilakukan oleh Blasidell pada tahun 2002mengatakan bahwa mortalitas ALI
dapat diakibatkan oleh cedera reperfusi iskemik.Studi deskriptif ini menujukkan
bahwa pasien dengan iskemia berat, paralisis, dan mottle kebiruan mengalami
mortalitas 85% setelah menjalani revaskularisasi. Hal ini disebabkan oleh adanya
inflamasi yang cukup hebat pada tungkai bawah. Respon inflamasi ini dapat
mengakibatkan

kerusakan

jaringan

dan

komplikasi

berupa

sindroma

kompartemen, serta kematian jaringan otot (Juzar et al, 2007).


Penanganan

kasus

ALI

yang

cepat

dan

tepat

diharapkan

dapat

menurunkanangka mortalitas akibat ALI. Selain menurunkan angka mortalitas,


penanganan terhadap kasus ALI juga harus meminimalisasikan angka morbiditas.

Berdasarkan

The

Trans-Atlantic

Inter-Society

Consensus

Document

on

Management of Peripheral Arterial Disease (TASC II) tahun 2007, angka


morbiditas ALI meliputi 10-15% diakibatkan oleh perdarahan pre atau post
operasi, lebih dari 25% akibat amputasi, 5%-25% akibat fasiotomi, dan 20%
akibat gangguan fungsi ginjal (Norgren et all, 2007) .
Oleh karena itu, penanganan terhadap kasus ALI ini harus dilakukan secara
holistik meliputi aspek biologis-psikologis-sosial-spiritual. Pemantauan pre dan
pasca revaskularisasi yang dilakukan pada pasien dengan ALIharus diberikan
secara optimal untuk mengurangi risiko komplikasi yang terjadi seperti stroke
hemoragik, kompartemen syndrom, melena, bleeding,dan lain lain. Peran perawat
sangat penting dalam melakukan pemantauan pada pasienALI. Untuk itu, penulis
tertarik untuk membahas tentang ALI dan memberikan asuhan keperawatan pada
pasien dengan ALI.
2. Metode Penulisan
Kelompok menggunakan metode penulisan deskriptif, di dalamnya meliputi
sistematika sebagai berikut :
BAB I

Membahas latar belakang kasus, tujuan dari penulisan makalah,


dan batasan masalah yang penulis ambil dari makalah ini.

BAB II

Membahas teori yang berhubungan dengan kasus berdasarkan


pada literatur yang penulis dapatkan baik dari studi kepustakaan
maupun jurnal.

BAB III Membahas kasus beserta analisa dan asuhan keperawatan yang
telah penulis lakukan pada pasien dengan ALI stadium IIa
BAB IV Merupakan pembahasan kasus yang dikaitkan dengan teori yang
telah dibahas pada bab II
BAB V

Merupakan kesimpulan dari penulisan makalah dan saran yang


penulis berikan terkait kasus ALI.

3. Tujuan Penulisan
3.1 Tujuan umum
Mampu

melakukan

Asuhan

Keperawatan

secara

langsung

dan

komprehensif pada pasien dengan ALI yang meliputi aspek biologipsikologi-sosial-spiritual melalui pendekatan standar proses keperawatan.
3.2 Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
a. Mampu memahami teori ALI
b. Mampu memahami tindakan yang diberikan pada pasien dengan ALI
c. Mampu memahami komplikasi dari penanganan ALI
d. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan ALI Stadium IIa
e. Mampu merumuskan analisa data pada klien dengan ALI Stadium IIa
f. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan ALI
Stadium IIa
g. Mampu melakukan perencanaan keperawatan pada pasien dengan
ALI Stadium IIa
h. Mampu melakukan implementasi keperawatan pada pasien dengan
ALI) Stadium IIa
i. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan ALI
Stadium IIa
j. Mampu melakukan dokumentasi keperawatan pada pasien dengan
ALI Stadium IIa
4. Ruang Lingkup
Penulis membatasi pembahasan tentang asuhan keperawatan

pasien Akut

Limb Iskemik (ALI) Grade IIa Ekstremitas Bawah Sinistra di intensif care
unit dewasa Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.

5. Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi
bagi para perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
ALI sehingga intervensi keperawatan yang dilakukan dapat lebih optimal.
Selanjutnya, hasil penulisan ini juga diharapkan mampu memberikan
pengetahuan bagi para perawat mengenai penyakit ALI.

BAB II
TINJAUAN TEORI
9

1. Anatomi Sistem Kardiovaskuler


Sistem kardiovaskular adalah suatu sistem organ yang bertugas untuk
menyampaikan nutrisi (seperti asam amino dan elektrolit), hormon, sel darah dan
lainnya dari dan menuju sel-sel tubuh manusia, yang bertujuan untuk menjaga
keseimbangan homeostasis tubuh. Sistem ini terdiri atas organ jantung dan
pembuluh-pembuluh darah.
Jantung merupakan organ yang terdiri dari empat ruangan, yaitu atrium kanan,
ventrikel kanan, atrium kiri dan ventrikel kiri. Sistem ini bekerja dengan
mengikuti pola sebagai berikut:

Gambar 2.1.1: Sistem Sirkulasi


Darah yang rendah kandungan oksigen dan tinggi CO2 yang berasal dari
sirkulasi sistemik dihantarkan melalui vena kava superior dan inferior menuju
atrium kanan masuk ke ventrikel kanan lalu dihantarkan melalui arteri pulmonalis
menuju ke paru untuk di oksigenasi kembali. Selanjutnya darah yang telah kaya
akan oksigen akan masuk melalui vena pulmonalis menuju atrium kiri, lalu masuk
ke ventrikel kiri untuk dihantarkan menuju sirkulasi sistemik melalui pembuluh
aorta,demikian seterusnya.

10

2. Pembuluh Darah
Secara umum, pembuluh darah yang ada di dalam tubuh dapat dibagi menjadi:
pembuluh yang membawa darah menjauhi jantung (arteri) dan menuju jantung
(vena). Secara umum pembuluh darah terdiri dari 3 lapisan yaitu tunika intima,
tunika media,tunika adventitia:

Gambar. lapisan Pembuluh Darah


a. Tunika Intima
Adalah lapisan pembuluh darah paling dalam yang bersentuhan
langsung dengan darah terdiri dari sel-sel endotel.
b. Tunika Media
Adalah lapisan pemuluh darah tengah yang terdiri dari otot
polos dan jaringan elastis.
c. Tunika Adventitia
Adalah lapisan pemuluh darah paling terluar berupa jaringan
kolagen dan elastis. Lapisan ini berfungsi melindungi dan
menguatkan pembuluh darah dengan jaringan sekitarnya.
2.1 Arteri

11

Arteri disebut juga dengan pembuluh nadi. Pembuluh jenis ini


adalah pembuluh darah yang berasal dari bilik jantung yang memiliki
dinding tebal dan kaku. Pembuluh darah arteri terdiri dari dua jenis, yaitu
pembuluh aorta dan pembuluh pulmonalis.
2.2 Aorta
Merupakan pembuluh arteri yang datang dari bilik jantung sebelah
kiri dan bertugas mengangkut oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh.
Pangkal aorta memiliki diameter sekitar 3 cm dan memberikan cabang
sinus-sinus coroner dekat annulus aorta asenden yang kemudian menjadi
arkus aorta dan bercabang brakiosefalika, left comon carotid artery, dan
left subclavian artery.
Di mediastinum superior aorta berputar 180 O dari arah kranial
menjadi kaudal, pada arah anteroposterior dan sedikit ke kiri. Aorta
torakalis desenden berjalan ke kaudal pada mediastinum posterior dari
arkus aorta, dan menjadi aorta abdominalis pada diafragma (Gray,
Dawkins, Morgan, & Simpson, 2005).
Aorta berakhir di bagian depan corpus vertebrae lumbalis IV
dengan membagi menjadi arteria iliaca communis, dextra dan sinistra.
Setiap arteria iliaca communis berjalan ke bawah dan ke luar dan
membagi menjadi arteria iliaca interna dan externa.
2.3 Vena
Vena merupakan pembuluh yang mengalirkan darah dari sistemik
kembali ke jantung (atrium kanan), kecuali vena pulmonalis yang berasal
dari paru menuju atrium kiri. Semua vena-vena sistemik akan bermuara
pada vena cava superior dan vena cava inferior. Vena mengandung banyak
darah kaya karbon dioksida, kecuali vena pulmonalis mengandung banyak
oksigen. Vena merupakan pembuluh berdinding lebih tipis, kurang elastis,
dan lubang pembuluh lebih besar daripada arteri. Pembuluh ini
mempunyai beberapa katup untuk mencegah agar darah tidak berbalik
arah.
2.4 Kapiler

12

Kapiler merupakan pembuluh darah berukuran kecil sebagai


perpanjangan arteri dan vena. Dinding sel pembuluh ini bersifat
permeabel sehingga cairan tubuh zat-zat terlarut dapat keluar masuk
melalui

dinding

karbondioksida,

selnya.

Selain

zat-zat makanan,

itu,

juga

pertukaran

serta hasil-hasil

oksigen,
ekskresi

dengan jaringan yang ada disekeliling kapiler. Beberapa pembuluh darah


kapiler mempunyai lubang berukuran sempit sehingga sel darah dapat
rusak jika melewatinya.
Diameter pembuluh darah inid apat berubah-ubah. kapiler dapat
menyempit karena pengaruh temperatur lingkungan yang rendah dan
membesar bila ada pengaruh temperatur lingkungan yang tinggi
sertabahan kimia, sererti bahan histamin. Meskipun ukuran arteriole dan
kapiler lebih kecil dibandingkan dengan arteri dan vena, tetapi jumlah
volume darah secara keseluruhan lebih besar di areriole dan kapiler.
Volume darah di dalam kapiler 800 kali volume darah di dalam arteri dan
vena.

3. Anatomi Pembuluh Darah Ekstremitas


a. Arteri ekstremitas atas

13

Gambar Anatomi arteri lengan


b. Vena ekstremitas atas

Gambar Anatomi vena lengan


c. Arteri Tungkai

14

Gambar Anatomi arteri tungkai


Setelah melewati daerah pelvis, arteri iliaka menjadi arteri
femoralis, yang bergerak turun di sebelah anterior paha. Arteri femoralis
mengalirkan darah ke kulit dan otot paha dalam. Pada bagian bawah paha,
arteri femoralis menyilang di posterior dan menjadi arteri tibialis anterior
dan tibialis posterior. Arteri tibialis bergerak turun disebelah depan dari
kaki bagian bawah menuju bagian dorsal/ punggung telapak kaki
danmenjadi arteri dorsalis pedis. Arteri tibialis posterior bergerak turun
menyusuri betis dan kaki bagian bawah dan bercabang menjadi arteri
plantaris di dalam telapak bagian bawah.
Arteria iliaca interna adalah arteri untuk struktur bagian dalam
perlvis dan region gluteal. Arteria iliaca externa merupakan lanjutan
arteria iliaca communis untuk berjalan dibawah ligamentum inguinalis dan
menjadi arteria femoralis.
Arteria femoralis adalah arteri utama pada tungkai. Arteri ini
merupakan sambungan arteria iliaca externa, dimulai pada ligamentum
inguinalis, berjalan ke bawah pada sisi dalam paha dan berlanjut ke
belakang pada sisi medial femur melalui lubang pada musculus adductor

15

magnus untuk menjadi arteria popliteal. Arteri ini memberi cabangcabang untuk otot paha dan femur.
Arteria popliteal, merupakan lanjutkan arteria femoralis, berjalan
ke bawah di dalam rongga popliteal di belakang lutut terbagi menjadi
arteria tibialis anterior dan arteria tibialis posterior. Arteria tibialis
anterior berjalan menuruni bagian depan tungkai ke dorsum pedis. Arteria
tibialis posterior berjalan ke bawah dibagian belakang tungkai, kemudian
di dalam sulcus pada sisi dalam pergelangan kaki dibelakang malleolus
medialis menuju telapak kaki.(Gibson, 2003)
d. Vena Tungkai

Gambar Anatomi vena tungkai

Darah yang meninggalkan kapiler-kapiler di setiap jari kaki bergabung


membentuk jaringan vena plantaris. Jaringan plantar mengalirkan darah menuju
vena dalam kaki (yaitu vena tibialis anterior, tibialis posterior, poplitea dan
femoralis). Vena safena magna dan safena parva supervisialis mengalirkan darah
di telapak kaki dari arkus vena dorsalis menuju vena poplitea dan vena femoralis.

16

4. Acute Limb Ischemia (ALI)


4.1 Pengertian
Acute Limb Ischemia didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana
terjadinya penurunan mendadak atau memburuknya iskemia ekstremitas
yang terjadi kurang dari 14 hari (Limpijankit, 2008)
4.2 Etiologi
ALI timbul dari obstruksi mendadak dalam aliran arteri yang menuju ke
ekstremitas yang disebabkan karena emboli atau trombolisis yang berasal
dari jantung atau dari luar jantung.
4.2.1

Emboli
Emboli adalah hambatan pada aliran pembuluh darah.
Hambatan yang dimaksud di sini bisa berupa gelembung udara
atau darah yang menggumpal. Emboli yang muncul pada tubuh
manusia dapat mengganggu organ tubuh karena kekurangan
oksigen.
Organ-organ vital tubuh manusia, seperti otak, jantung dan
paru-paru, tidak bisa berfungsi dengan baik ketika pasokan
oksigen terhambat. Pada otak, emboli menyebabkan stroke.
Sedangkan pada paru-paru, emboli menyebabkan embolisme
paru. Bukan hanya fungsi organ saja yang terganggu, namun
terlalu lama kekurangan oksigen bisa membuat jaringan organ
tersebut rusak secara permanen.
Emboli merupakan etiologi yang paling umum dari ALI
karena proses emboli, biasanya tromboemboli dan umumnya
bersumber dari jantung (di lebih dari 75% kasus). Lokasi umum
terkena emboli adalah saluran aorta, saluran femoral atau arteri
popliteal.
Emboli akut pada arteri, biasanya terjadi pada arteri yang
sehat. Emboli dapat berasal dari jantung (Atrial Fibrilasi, MI, MS,
CHF) atau dilated disease arteries (aneurisma aorta, flap). Emboli
tiba-tiba menyumbat percabangan arteri yang sehat, biasanya

17

emboli menetap pada bifurkasio arteri, misalnya bifurkasio aorta,


bifurkasio iliaka, bifurkasio femoral dan bifurkasio popliteal.
Dimana emboli akan mengakibatkan aliran darah kejaringan yang
terkena berhenti.
Tanda dan gejala yang muncul secara tiba-tiba dalam
beberapa menit, tidak terdapat klaudikasio, ada riwayat atrial
fibrasi, ekstremitas yang terkena tampak kekuningan (yellowish),
pulsasi pada kontralateral ekstremitas bisa normal bisa tidak,
dapat terdiagnosa secara klinis dan dilakukan pengobatan dengan
pemberian warparin atau embolektomi.
4.2.2

Trombus
Trombus adalah bekuan darah yang menempel di dinding
vaskuler, hal ini terjadi karena permukaan tempat darah mengalir
yaitu endothel maupun jantung mengalami kerusakan yang
dikenal sebagai disfungsi endothel atau endothel injured. Adanya
difungsi endothel ini akan mengundang thrombosit untuk
melakukan adhesi dan selanjutnya dengan bantuan faktor-faktor
pembekuan

darah

akan

terjadi

agregasi

trombosit

dan

terbentuklah bekuan darah yang komponen utamanya adalah


trombosit.
Adanya trombus yang masih melekat pada dinding ini
mengakibatkan

gangguan

aliran

karena

trombus

tersebut

berpotensi untuk membesar. Trombus berpotensi untuk lepas yang


selanjutnya akan berjalan didalam aliran darah yang disebut
sebagai embolus
Trombosis akut pada arteri terjadi pada arteri yang
sebelumnya terdapat kelainan (disease). Dimana atherosclerosis
menyebabkan penyempitan cabang arteri secara progresif, yang
akan menstimulus pembentukan kolateral, kemudian aliran darah
akan melambat, dan permukaan pembuluh darah yang kasar dapat

18

menyebabkan thrombosis akut, sehingga aliran darah kejaringan


yang terkena menurun atau berhenti.
Tanda dan gejala yang muncul dapat terjadi dalam beberapa
jam

sampai

berhari-hari,

ada

klaudikasio,

ada

riwayat

aterosklerotik kronik, ekstremitas yang terkena tampak sianotik


dan lebam, pulsasi pada kontralateral ekstremitas bisa ada bisa
tidak, dapat terdiagnosa dengan angiography dan dilakukan
tindakan

bypass

fibrinolitik.Perawat

atau

pemberian

harus

obat-obatan

pahamanatomi

dan

seperti
fisiologi

vaskulersehingga dapat menjadi waspada menghadapi perubahan


yang tiba-tiba menjadi dingin atau berbintik-bintik, mengetahui
letak denyut nadi yang dangkal, terampil merabanya, dan
melaporkan setiap perubahan yang mendadak. (Pearce, 2009)
4.3 Tanda dan Gejala ALI
Menurut Trans Atlantic Inter-Society (TASC) tahun 2007, ditemukan
tanda dan gejala yang termasuk dalam ALI yang disebut 6P yaitu :
4.3.1

Pain/ Nyeri
Serangan hebat waktunya terus menerus didaerah ekstremitas
yang terlokalisasi dan muncul secara tiba-tiba intensitasnya tidak
menunjukan tingkat iskemia yang terjadi

4.3.2

Pulselessness/ Tidak Ada Nadi


Akurasi nadi saat di palpasi sangat bervariasi bisa menunjukkan
kelemahan atau tidak teraba sama sekali.

4.3.3

Pallor/ Pucat (mottle)


Terjadinya perubahan warna kulit pada ekstremitas yang
mengalami gangguan perfusi yang diakibatkan oleh aliran darah
yang dialirkan tidak sampai atau pelan.

4.3.4

Paresthesia/ Baal
Terjadinya mati rasa pada ekstremitas yang mengalami gangguan
perfusi.

4.3.5

Paralysis/ Kelumpuhan

19

Kehilangan sensasi motorik pada ekstremitas, adanya parasthesia


dan paralisis merupakan pertanda yang buruk dan membutuhkan
penanganan segera.
4.3.6

Perishingly cold
Ektremitas

yang

mengalami

sumbatan

terasa

dingin

(poikilothermia)
4.4 Faktor Resiko
Rangkuti (2008) dan Al-Thani et al (2009) mengatakan bahwa beberapa
faktor resiko untuk penyakit arteri perifer dapat diklasifikasikan menjadi
faktor resiko yang tidak dapat dirubah dan faktor resiko yang dapat
dirubah.
a. Faktor resiko yang tidak dapat dirubah
1) Usia
2) Ras/ Etnis
3) Genetik
b. Faktor resiko yang dapat dirubah
1) Merokok
2) Inflamasi
3) Gagal ginjal kronik
4) Diabetes mellitus
5) Hiperkoagulasi
6) Hiperlipidemia
7) Hipertensi
4.5 Klasifikasi ALI
Acute Limb Ischemia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a. Terminologi:
1. Onset
a) Akut : kurang dari 14 hari
b) Akut on kronik : perburukkan tanda dan gejala kurang
dari 14 hari

20

c) Kronik iskemik stabil : lebih dari 14 hari


2. Severity
a) Inkomplit : tungkai tidak terancam
b) Komplit : tungkai terancam
c) Irreversible : yang tidak dapat dirubah
b. Tingkat/ Stadium Keparahan :
Kategori
I. Viable

Deskripsi
Tidak

Capilla

Parali

Kehilang

ry

sis

an

return
lengkap

otot
Tidak

sensorik
Tidak

segera
IIa.

mengancam
Bila

Threatned

dilakukan

Utuh/pe

Tidak

Sebagian

lan

tindakan

Signal Doppler
Arteri

Vena

terden

Terden

gar

gar

Tdk

Terden

terden

gar

gar

bisa
diselamatka
IIb.

n
Bisa

Pelan/

Sebagi

Threatned

diselamatka

tidak

an

jika

Sebagian

ada

Tdk

terdeng

terden

ar

gar

dilakukan
tindakan
III.

Irrevers

emergensi
Amputasi

ible

primer

Tidak
ada

biasanya

Utuh

utuh

Tdk

Tdk

terden

terdeng

gar

ar

diperlukan
Tabel Tingkat keparahan Acute Limb Ischemia

4.6 Komplikasi ALI


a. Hyperkalemia
b. Compartment Syndrome(bisa disebabkan reperfusi pembuluh darah)

21

c. Nekrose jaringan
d. Perdarahan termasuk didalamnya stroke hemorragik, perdarahan
gusi, hematemesis melena dll.
e. Sepsis
4.7 Pemeriksaan Penunjang
a. Doppler Vaskular/ Duplex Sonografi Vaskular
Pemeriksaan diagnostic non invasif dengan menggunakan tranduser
untuk melihat pembuluh darah arteri atau vena secara langsung baik
normal atau abnormal (lokasi obstruksi).
b. MSCT
Prosedur diagnostic ini dalam bidang vascular memberikan
gambaran langsung dinding pembuluh darah sehingga dapat dengan
jelas dibedakan antara pembuluh darah yang mengalami oklusi atau
tidak.
c. Arteriografi
Dilakukan pada saat pasien sebelum dan setelah tindakan diagnostic
invasif non bedah (PIAT, Trombosuction/ manual atau mekanikal,
PTA, Stent).
d. Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium harus diperlukan untuk menilai fungsi ginjal,
hematologi awal, profil koagulasi serta bukti hiperkalemia dan
asidosis. Koreksi ketidakseimbangan elektrolit yang mendasari dan
antikoagulan

sistemik

harus

dilanjutkan

bersamaan

dengan

pemeriksaan lainnya. (Limpijankit, 2008)

4.8 Penatalaksanaan dan Pengobatan


4.8.1

Penatalaksanaan Awal
1. Pertahankan posisi kaki atau tangan sedikit lebih rendah dari
jantung

22

2. Hindari penekanan
3. Hindari

temperatur

yang

ekstrim

(dingin

memicu

vasospasme, panas meningkatkan metabolisme)


4. Segera beri antikoagulan dengan heparin/ LMWH untuk
mencegah bekuan lebih lanjut
5. Analgetik yang tepat
6. Beri oksigen (Oxygen inhalation)
7. Pengobatan untuk masalah jantung (mis : CHF, AF) supaya
ALI tidak berulang.
4.8.2

Penatalaksanaan Lanjutan
Penatalaksanaan (manajemen) pada keadaan iskemik
tungkai akut adalah tindakan revaskularisasi. Pilihan dan timing
revaskularisasi sangat tergantung pada penilian klinis tingkat
iskemia tungkai. (tergantung Stadium ALI pada saat datang di
pelayanan kesehatan).
1) CLASS

I:

PIAT

(Percutaneous

Intra

Arterial

Thrombolysis)
a) Dosis PIAT Fibrinolitik
Dissolusi thrombus dihasilkan melalui stimulasi
proses konversi dari fibrin-bound plasminogen ke enzim
aktif plasmin. Plasmin adalah protease yang dapat
mendegradasi fibrin sehingga thrombus kembali melarut
(dissolusi). Tindakan trombolisis pada iskemia akut
tungkai sangat berbeda dengan trombolisis pada infark
miokard akut oleh karena terbukti bahwa zat trombolitik
tidak dapat diberikan secara sistemik pada tromboemboli
tungkai dan harus diberikan intralesi.

23

Cara pemberian trombolitik :


1) Infus
Infus streptokinase 5000 U/jam atau t-PA 0,5 mg/jam
selama beberapa jam.
2) High Dose Bolus
Bolus t-PA 5 mg tiap 10 menit sebanyak 3 kali,
kemudian dilanjutkan infus 3,5 mg/jam sampai 4 jam
(bila diperlukan).
Umumnya kontraindikasi terapi trombolisis pada setiap
pasien dengan kelainan pendarahan atau lesi anatomik
yang bisa terjadi pendarahan.
Dibawah ini adalah kontraindikasi yang absolut
dan relatif terhadap pemberian terapi trombolisis pada
ALI menurut Limpijankit (2008).
Absolut - Secara klinis adanya pendarahan yang aktif dan
signifikan
- Pendarahan intrakranial
Relatif

- Adanya tanda-tanda kompartemen sindrom


- Riwayat RJP 10 hari terakhir
- Pembedahan mayor non vaskular atau trauma
pada 10 hari terakhir
- Hipertensi tidak terkontrol >180 mmHg sistolik
atau >110 mmHg diastolik
- Tumor intrakranial
- Riwayat operasi mata yang masih baru
- Bedah saraf (intrakranial/ spinal) dalam 3 bln
terakhir
- Trauma intrakranial 3 bln terakhir
- Pendarahan gastrointestinal kurang dari 10 hari
terakhir
- Pendarahan internal yang masih baru
- Kegagalan fungsi hati biasanya pada kasus dengan
koagulopati
24

- Endocarditis bacterial
- Kehamilan dan status postpartum yang masih baru
- Pendarahan Retinopati diabetic
- Harapan hidup kurang dari 1 tahun
Tabel Kontraindikasi untuk terapi trombolitik
2) CLASS IIa : PIAT or Trombo Suction (Manual atau
mekanikal percutaneous embolectomi atau embolectomi
secara bedah)
Dilakukan pada pasien dengan kontraindikasi trombolitik,
dan bisa digunakan sebagai prosedur tambahan untuk
trombolisis yang incomplit atau embolisasi distal. Dilakukan
di ruang cathetherisasi dengan langsung memberikan
thrombolitik pada area thrombus.
3) CLASS IIb

Percutaneous

embolectomi

atau

embolectomi secara bedah


Tindakan operasi revaskularisasi tungkai bawah umumnya
adalah tindakan embolektomi.
a) Teknik Embolektomi
Kedua tungkai sampai umbilicus dipersiapkan
untuk akses operasi. Dilakukan insisi oblique lipat paha
untuk ekspos bifurcation femoralis, dan kemudian
keseluruhan cabang dilingkari dengan silastic band.
Hindari penggunaan klem oleh karena dapat memecah
thrombus sehingga menyulitkan pengambilan thrombus
secara utuh. Insisi arteriotomi transversal dilakukan pada
arteri femoralis komunis proksimal dari bifurcation
sambil menghindari adanya plaque di tempat tersebut.
Setiap tombus di tempat arteriotomi dapat dilepaskan
dengan menggunakan suction atau forceps sambil
sebentar-sebentar melepas jipratan silastic.

25

Jika tidak ada aliran pulsasi dari proksimal, maka


kateter fogarty dengan balon 4 Fr atau 5 Fr dimasukkan
ke

proksimal

sampai

ke

aorta

kemudian

balon

dikembangkan dan ditarik perlahan. Jangan lupa menekan


arteri femoralis kontralateral untuk mencegah embolisasi
ke tungkai kontralateral. Bila aliran tetap tidak ada maka
diperlukan tindakan bypass femoro-femoral atau aksilofemoral. Jika ada embolus pelana (saddle-embolus)
biasanya dapat diambil melalui embolektomi bilateral.
Selanjutnya dengan menggunakan kateter fogarty 3
Fr atau 4 Fr dilakukan embolektomi ke distal sejauh
mungkin melalui femoralis superfisialis dan profunda.
Tidak diperbolehkan memaksa bila ditemukan tahanan
dalam memasukkan kateter; karena dapat menyebabkan
diseksi atau perforasi.
Balon kateter dikembangkan bertahap sambil
menarik kateter sehingga tekanan berlebihan ke lapisan
intima dapat dihindari. Prosedur diatas diulangi sampai
beberapa kali bila perlu.
b) Kegagalan Tindakan Embolektomi
Bila arteriogram menunjukkan kegagalan tindakan
embolektomi dapat dilakukan pemberian streptokinase
100.000 U atau t-PA 15 mg intravaskular dan setelah 1
jam dilakukan kembali pemeriksaan arteriogram.
Adanya

stenosis

yang

persisten

memerlukan

tindakan eksplorasi pada percabangan di bawah lutut.


Bila ditemukan lokasi tromboemboli yang persisten dapat
dikerjakan embolektomi ulang atau langsung membuat
bypass.

26

4) CLASS III :

Amputasi

Dilakukan pada Iskemik yang

irreversibledengan

kerusakan jaringan yang permanen (ALI Class III ).


Level amputasi ditentukan berdasarkan level pulsasi :
bila pulsasi teraba di arteri poplitea diamputasi dibawah lutut,
dan bila pulsasi tidak teraba di arteri poplitea maka
diamputasi diatas lutut.

27

Suplai O2

Patoflow Acute Limb Ischemia (ALI)

Penyebab lain

Faktor Resiko

EMBOLI

TROMBUS

Lepas & beredar di


dalam pembuluh darah

Terjadi penyempitan lumen


cabang arteri secara progresif

Ukuran emboli lebih besar


dari lumen pembuluh
darah

2.
Menstimulus
pembentukan
kolateral

Terjadi sumbatan pada


percabangan arteri

3. darah melambat dan


Aliran
permukaan kasar dapat
menyebabkan thrombosis akut

Aliran darah ke distal


ekstremitas berkurang/ berhenti
4.
Iskemia jaringan ekstremitas

Acute Limb5.
Ischemia (ALI)
STADIUM ALI

Heparini
sasi

PALLOR

Ketidakefektifan
Perfusi Jaringan Perifer

Suplai O2

PERISHING
LY COLD

Resiko Perdarahan
Perfusi Sel

Stadium I :
PIAT
Ansietas

Metabolisme Aerob
menjadi anaerob

Stadium IIa :
PIAT/Trombosuction

Stadium IIb :
Embolectomi Surgery

6.

Penurunan Produktivitas

Pergerakan otot
motorik

Penurunan energi
(ATP )

Pergerakan otot
motorik

Stadium III :
AMPUTASI

Sensori
PARASTES

PARALISIS

Intoleransi
Aktifitas

Asam Laktat

PAIN

Gangguan
Mobilitas Fisik

Resiko Cedera

28

5. Asuhan Keperawatan Acute Limb Ischemia


5.1 Pengkajian
a. Riwayat Penyakit
Untuk mengetahui apakah gejala yang timbul adalah ALI atau bukan,
mengetahui onset waktu terjadinya dan termasuk severitas ALI dan
penyebabnya. Serta pengkajian riwayat penyakit dalam pengkajiannya
berfokus kepada tanda dan gejala ALI yaitu 6 P.
b. Keluhan Utama
Alasan pasien masuk atau datang kepelayanan kesehatan (difokuskan
dalam tanda dan gejala ALI : 6 P)
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian hanya berfokus dalam penyakit yang diderita sekarang,
mulai dari kapan mulai terjadi, lokasi, tanda dan gejala, penyebab dan
apakah pasien rujukan dari rumah sakit lain?.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
1) Pengkajian penyakit dahulu juga berfokus kepada tanda dan
gejala ALI, contoh : menanyakan apakah pasien mempunyai
nyeri pada kaki sebelumnya (riwayat klaudikasio).
2) Adakah masalah pada sirkulasi yang buruk pada masa lalu?
3) Apakah pasien pernah didiagnosis penyakit jantung?
4) Apakah pasien memiliki riwayat penyakit yang serius dan
memiliki faktor resiko?
5.2 Pemeriksaan Fisik
Berfokus mengkaji pulsasi, warna, temperatur, fungsi sensorik dan fungsi
motorik.
5.3 Pemeriksaan Diagnostik
a. Angiografi
b. Doppler vaskuler
c. MSCT
d. Echokardiografi
e. Ekg

29

5.4 Diagnosa Keperawatan


Berdasarkan

Nanda

(2012)

dapat

disimpulkan

bahwa

diagnosa

keperawatan yang dapat ditemukan pada kasus ALI diantaranya:


1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
penurunan suplai oksigen kejaringan perifer
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan penurunan
sirkulasi arteri dan oksigenasi jaringan
3. Gangguan

pemenuhan

kebutuhan

dasar

berhubungan

dengan

kerusakan neuromuskular
4. Gangguan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan

kerusakan

neuromuscular akibat penurunan suplai oksigen ke jaringan yang


mengakibatkan paralisis
5. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi dan
program pengobatan
6. Resiko perdarahan berhubungan dengan pemberian antikoagulan
(heparin)
7. Resiko cedera berhubungan dengan disfungsi sensori

30

5.5 Intervensi Keperawatan


Perencanaan asuhan keperawatan pada ALI yang disusun berdasarkan diagnosa keperawatan Nanda (2012) yang muncul
diantaranya:
No
1

Diagnosa
Tujuan
Ketidakefektifan perfusi jaringan Setelah
dilakukana.

Kriteria Hasil
tekanan darah dalam batas a.

Intervensi Keperawatan
observasi
tanda-tanda
vital:

perifer

dengan tindakan keperawatan

normal

tekanan darah, frekuensi nadi,

oksigen diharapkan gangguan


b.
perfusi jaringan dapat

mmHg
frekuensi

penurunan

berhubungan
suplai

kejaringan perifer

teratasi

c.

110/70-130/90
nadi

60- b.

100x/menit
Pada ekstremitas yang ALI:

frekuensi nafas, dan temperatur.


kaji tingkat keadekuatan perfusi
jaringan dan saturasi oksigen pada

akral hangat, nadi teraba c.

ekstremitas yang ALI


kaji CRT, perhatikan

kuat, keluhan baal dapat

pengisian

kapiler,

lihat

terkontrol, fase pengisian

ada/tidaknya

sianosis

perifer,

kapiler

tanda

<2

vasokonstriksi

detik,

vasokonstriksi

waktu

jaringan,

perifer

ukur pertambahan bengkak, tanda

berkurang, saturasi oksigen

kematian jaringan perifer pada

perifer >90%
d.

ekstremitas yang ALI


perhatikan
tingkat

e.

terapi yang telah didapatkan klien


minimalkan penekanan pada area

efektifitas

ekstremitas (kurangi penekanan

31

akibat pakaian, selimut) yang


f.

mengalami ALI
menurunkan posisi tungkai yang
mengalami ALI lebih rendah dari

Gangguan rasa nyaman (nyeri) Setelah dilakukan

a. Frekuensi

berhubungan

x/menit
b. Frekuensi

sirkulasi
jaringan

dengan

arteri

dan

penurunan tindakan keperawatan


oksigenasi diharapkan gangguan
rasa nyaman (nyeri)
dapat teratasi

nafas
nadi

x/menit
c. Klien mengatakan

16-20 a.

posisi kepala
Monitor

tanda-tanda

vital, terutama frekuensi nafas.


60-100 b.
Kaji skala, frekuensi,
intensitas, dan penyebab nyeri
nyeri

pada ekstremitas yang mengalami

berkurang/terkontrol
ALI
d. Skala nyeri 2-4
c.
Kaji pola aktivitas
e. Sianosis pada ekstremi- tas
yang masih dapat ditoleransi oleh
yang
mengalami
ALI
klien, serta mekanisme mengatasi
berkurang
nyeri yang dapat dilakukan oleh
d.

klien secara mandiri


Ajarkan/ingatkan
klien teknik relaksasi nafas dalam

dan pengalihan fokus


e.
Berikan

kompres

hangat bila diperlukan

32

f.

Berikan posisi yang

g.

nyaman pada klien


Minimalkan aktivitas
khususnya

daerah

ekstremitas

yang mengalami ALI


h. Kolaborasi pemberian
3

Gangguan pemenuhan kebutuhan Setelah dilakukan


dasar

berhubungan

kerusakan neuromuskular

a.

dengan tindakan keperawatan

Klien

menunjukkan a.

kemandirian

dalam

diharapkan gangguan

kebutuhan makan, minum,

pemenuhan kebutuhan
b.
dasar dapat teratasi

dan personal hygiene


Klien
tidak
tergantung
seluruhnya
medis

c.

pada

dalam

aktifitas
Klien

petugas

d.

mobilitas

analgetik sesuai indikasi


Kaji tingkat aktivitas yang

dapat ditoleransi oleh klien


b.
Motivasi
klien
untuk
memaksimalkan fungsi tubuh yang
c.

lain dengan latihan secara teratur


Monitor
alat-alat
yang
dibutuhkan

melakukan

pasien

untuk

perawatan diri, makan, berpakaian,


menunjukkan

d.
kemandirian
mobilitas
e.
dalam menggunakan tempat
tidur
Klien

terapai

terlibat

dalam

fisik

dengan

toiletting
Berikan posisi semifowler
Bantu
pasien
dalam
menerima

kebutuhan
f.
Anjurkan

ketergantungan
pasien

untuk

menjalankan ADL, untuk melihat

33

e.

bantuan minimal
Klien berinisiatif

untuk g.

melakukan mobilitas fisik di

tingkat kemampuan pasien


Anjurkan untuk mandiri
tetapi tetap membantu pasien jika

tempat tidur
h.

pasien tidak mampu menjalankan


Ajarkan pada keluarga untuk
tetap memandirikan pasien dan
tetap membantu jika pasien tidak

mampu
i.
Kolaborasi dengan fisioterapi
4

Gangguan

mobilitas

berhubungan

dengan

fisik Setelah dilakukan

b.

aktivitas yang diinginkan


menggerakkan anggota tubuhnya
Pasien dapat memenuhi b.
Jelaskan
akibat
dari

c.

perawatan diri sendiri


immobilisasi
Pasien
mencapai c.
Jelaskan

kerusakan tindakan keperawatan

neuromuscular akibat penurunan diharapkan gangguan


suplai oksigen ke jaringan yang mobilitas fisik dapat
mengakibatkan paralisis

a.

dalam latihan aktivitas


Pasien berpartisipasi pada a.
Motivasi
pasien

teratasi

peningkatan

toleransi

aktivitas yang dapat diukur,


ini

dibuktikan

untuk

latihan

melakukan

rentang gerak aktif pada anggota

dengan

menurunnya kelemahan dan


kelelahan

gerak aktif
d.
Ajarkan

manfaat

dalam

e.

gerak yang sehat


Evaluasi tingkat kemampuan
pasien

dalam

menggerakkan

anggota badannya yang sehat

34

f.

Rubah posisi pasien tiap 2


jam dan

libatkan

kemampuan

pasien
g.
Kolaborasi dengan fisioterapi
5

Cemas berhubungan dengan kurang Setelah dilakukan

a.

Ekspresi

pengetahuan tentang kondisi dan tindakan keperawatan


b.
program pengobatan
diharapkan cemas

wajah a.
b.

menunjukkan rileks
Pasien
mengatakan
penurunan

klien dapat teratasi

ansietas

atau

perasaan takut
Pasien mengerti dan mampu

c.

atau menyangkal dalam mengikuti


program medik
c.
Orientasikan
informasikan

menjalani koordinasi dengan


tenaga

kesehatan

dan

tentang

semua

prosedur yang akan dilakukan

dalam
d.

pengobatan

dalam melakukan latihan


Catat adanya kegelisahan
dan adanya rasa ketakutan

terhadap pasien
Informasikan

dan

jelaskan

tentang kondisi dan prognosis


6

Resiko

perdarahan

berhubungan Setelah dilakukan

dengan

pemberian

antikoagulan tindakan keperawatan

(heparin)

pasien dengan kolaborasi


Tidak ada tanda-tanda a. Kaji
adanya
tanda-tanda

a.

perdarahan:

hematuri,

perdarahan: hematuri, perdarahan

diharapkan

perdarahan gusi, hematoma

gusi, perdarahan ditempat lain

perdarahan tidak

dan perdarahan di tempat

terjadi

lain

dan hematoma
b. Observasi tanda-tanda vital : TD,

35

b.

Tanda-tanda

vital

dalam batas normal


c.
Nilai PT/APTT dalam
batas normal

HR, RR
c. Pertahankan

IV

kondisi lancar
d. Kolaborasi
laboratorium
pertahankan

line

dalam

pemeriksaan
PT/APTT
nilai

dan

PT/APTT

dalam batas normal selain itu cek


Hb

36

5.6 Implementasi Keperawatan


Tindakan keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang
telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara
optimal (Patricia A. Potter, 2009). Tindakan keperawatan tersebut
dilaksanakan sebagian oleh pasien itu sendiri, oleh perawat secara mandiri
atau mungkin bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya misalnya ahli
gizi dan fisioterapis. Hal ini sangat tergantung jenis tindakan,
kemampuan/keterampilan pasien serta perawat itu sendiri.
Proses implementasi keperawatan terdiri dari 5 tahap, yaitu:
1. Mengkaji ulang pasien
2. Menelaah dan memodifikasi rencana asuhan keperawatan
3. Mengidentifikasi bidang bantuan
4. Mengimplementasi intervensi keperawatan
5. Mengkomunikasikan intervensi keperawatan
Rencana keperawatan biasanya mencerminkan tujuan intervensi
keperawatan. Setelah itu respon pasien terhadap pengobatan di catat di
lembar catatan. Dengan menuliskan waktu dan rincian tentang intervensi
mendokumentasikan bahwa prosedur telah diselesaikan.
Pada saat tenaga keperawatan memberikan asuhan keperawatan,
proses pengumpulan dan analisa data berjalan terus-menerus guna
perubahan atau penyesuaian tindakan keperawatan. Beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi pelaksanaan perawatan aantara lain fasilitas / alat
yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan fisik
dimana harus dilakukan.
5.7 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta
pengkajian ulang rencana keperawatan (Patricia A. Potter, 2009).
Langkah-langkah
perkembangan

evaluasi
pasien,

terdiri

dari

mengintrepetasikan

pengumpulan
perkembangan

data-data
pasien,

membandingkan data keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan


dengan kriteria pencapaian tujuan yang ada telah ditetapkan, mengukur

34

dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang


berlaku.
a. Tujuan tercapai, tujuan tercapai apabila pasien menunjukkan
perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan
kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian, tujuan tercapai sebagian adalah bila
pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan
hanya sebagian dari kriteria pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan
c. Tujuan sama sekali tidak tercapai, tujuan sama sekali tidak tercapai
jika pasien menunjukkan perubaha perilaku perkembangan
kesehatan atau bahkan timbul masalah baru.
Evaluasi dari revisi rencana perawatan dan berfikir kritis sejalan
dengan hasil evaluasi, penyesuaian terhadap rencana asuhan dibuat sesuai
dengan keperluan. Setelah melakukan evaluasi keperawatan tahap
selanjutnya adalah mencatat hasil tindakan keperawatan. Dokumentasi
asuhan keperawatan merupakan bukti jadi pelaksanaan keperawataan yang
menggunakan metode pendekatan proses keperawatan dan catatan respon
klien terhadap tindakan medis, tindakan keperawatan atau reaksi klien
tehadap penyakitnya.

35

BAB III
TINJAUAN KASUS
SKEMA KASUS

Pemasangan
IABP

EMBOLI

Atrial
Fibrilasi
( EF 31% )

Perokok

DM Tipe II

Viscositas
meningkat

Aliran Darah
Menurun

Flow
Melambat

TROMBUS

Terjadi sumbatan pada


arteri / percabangan arteri

Aliran darah ke distal ekstremitas


berkurang/ berhenti

Acute Limb
Ischemia (ALI)
GanguanPerfusi
Jaringan Perifer

Iskemia jaringan ekstremitas

Suplai O2

Antikougulan

Acute Limb
Ischemia (ALI)

PALLOR

PERISHINGL
Y COLD

Resiko
Infeksi

Resiko

36

3. 1

PENGKAJIAN

3.1.1

Identitas Pasien
Nama

: Tn.KS

No. RM

: 2015_39-02-80

Tempat/Tanggal Lahir

: 05-06-1954

Alamat

: Jln. Sedap Malam No.16 Medan Tuntungan


Sempaka Medan

Pendidikan terakhir

: SLTA

Agama

: Kristen

Tanggal masuk RS

: 09 Agustus 2016, pkl 13.19 WIB

Tanggal Pengkajian

: 18Agustus 2016, pkl 09.00 WIB

Diagnosa medis

Post Operasi OPCAB X3 + ALI stage II a


tungkai Kanan

Dokter Penanggungjawab : dr. DH


3.1.2

Keluhan Utama
Tampak kelima jari kaki kanan kehitaman, ada bulae di betis kanan

3.1.3

Riwayat penyakit saat ini


Pada tanggal 09-08-2016 pasien masuk dari poliklinik. Telah
dilakukan operasi CABG pada tanggal 10-08-2016.dengan graft SVGDiagonal, LIMA-LAD dan SVG-RCA.Selama perawatan produksi urine
pasien tidak ada sehingga pasien dipasang CRRT,hemodinamik tidak stabil
dan sering terjadi perubahan gambaran EKG VT dan atrial fibrilasi maka
pada tanggal 12-08-2016 pasien dipasang IABP dengan kateter no 7.5 fr
Pada tanggal 17-08-2016IABP dicabut karena diketahui bahwa pasien
mengalami gangguan perfusi pada tungkai kanan. Pada kelima jari kaki
kanan kehitaman dan terasa dingin.dilakukan duplek sonografi femoralis
dengan hasil Tungkai
1. Stenosis + 60-65% pada bifurcatio arteri femoralis dextra.
2. Flow arteri positif sampai dengan tungkai kanan ( arteri tibialis
posterior)

37

3. Flow vena positif sampai dengan distal kedua tungkai


4. Flow arteri negatif pada arteri dorsalis pedis kanan
Obat-obat yang digunakan adalah :
1. Heparin 600ui/jam
2. Allupurinol 3 x 500mg
3. Trental 1200mg/ 24 jam
4. Bicnat 10 meq/ jam
5. Morphin 10 mcg/ kgbb/jam
6. Cordaron 380 mg/ 24 jam
7. Dobutamin 5 microgram/kgbb/menit IV
3.1.4

Riwayat Penyakit Dahulu


Tahun 2004 pasien serangan jantung,dirawat di ICU RS Herna
Medan, dilakukan angiografi di RS Murni Teguh dengan hasil LM middistal 80% stenosis, RCA total Oklusi, LCx total oklusi di proksimal
(3VD).

3.1.5 Riwayat Penyakit Keluarga


Istri pasien mengatakan bahwa orangtua pasien tidak ada mengalami
penyakit jantung.
3.1.6

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan ekstremitasbawah ( Tanggal 18-08-2016):
Aspek Dinilai
Nadi Dorsalis Pedis
Nadi Tibialis Posterior
CRT

Kaki kanan
Kaki kiri
Tidak teraba
Teraba ++ 90x/menit
Tidak Teraba
Teraba ++ 90x/menit
Tidak bisa dinilai Ibu jari kaki kurang
karena ke lima jari dari 2 detik

Suhu

kakihitam.
Dingin

Hangat

2. Sistem respirasi

38

Suara napas vesikuler di kedua lapang paru.Pergerakan dada


simetris.Sesak tidak ada.Pasien terpasang ventilator dengan mode
PSIMV, FiO2 40% ,SaO2 98%, RR 12 x/mnt
3. Sistem Kardiovaskuler:
Pemeriksaan tanda-tanda vital (18-08-2016) pada tangan kanan
a. TD: 136/90 mmHg,
b. Nadi 90 x/menit, ireguler kuat
c. Pernapasan 16x/menit,
d. Suhu 37 C,
e. SaO2 : 98%
f. Terdengar BJ I dan BJ II normal
g. CRT ekstremitas atas < 2 detik.
4. Sistem Eliminasi:
BAB tidak ada selama pasien di ICU dan BAK tidak ada, pasien
terpasang CRRT
5. Status Neurologis:
Tanggal 18-08-2016, Kesadaran SAS 3.
6. Status Nutrisi:
18/8/2015Terpasang NGT, Pasien mendapat diit Nephrisol 6 x 200 ml.
7. Pola interaksi social (sebelum MRS):
Menurut keluarga Pasien mempunyai hubungan dengan keluarga dan
tetangga baik.

39

3.1.7

Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium
NO

Tanggal Pemeriksaan

Pemeriksaan

08-08-2016

86.2
28.9
33.5

33450
79.000
30
82.5
27.9
33.9

18-08-2016
8.8
26.8
2.80
40870
79.000
32
83.2
28.6
34.3

RDW(CV)

13.4

156

16

10

APTT

31.7

45.6

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
22
23
24
25
26
27
28
29

Kontrol
CRP
PH
PaO2
PaCO2
HCO3
BE
SaO2
Kalium
Natrium
Chlorida
Kalsium
Magnesium
GDS
Ureum
Kreatinin
BUN
Asam Laktat

29,0
3

29.0

1
2
3
4
5

13.8
41.2
4.78
14510
267.000

6
7
8

HB
Ht
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hct
VER(MCV)
HER(MHV)
KHER(MCHC)

17-08-2016
8.3
22.9

7.4
90.8
35.8
22.4
-4.5
973
4.31
131.6
93.4
4.31
0.55
206
58.9
2.10
23
2.8

7.4
90.8
37.4
20.2
-4.5
97.2
5.38
129
92
1.23
0.53
413
56.2
2.62
26
2.5

Nilai
Rujukan
13,7-17,5
40,1-51
4,63-6,68
4,23-9,07
163-337
40-48

25-33

22-26
-2.4-2.3

2. EKG

40

No

Interpretasi

12 / 8 /2016

19/8/2016

Irama

Tidak teratur

Tidak teratur

HR

100 (HR QRS)

80 (HR QRS)

Axis

Normal

Normal

Gel P

Tidak teratur

Tidak teratur

PR Interval

QRS Kompleks

Sempit

Sempit

ST Segmen

ST Elevasi di V1 V4

ST Elevasi di V1 V4

Gambaran

AF Rapid Ventrikular

AF normo Ventrikular

Respon

Respon

Stemi Antero Septal

Stemi Antero Septal

3. Rontgen thorax
CTR 57% (Cardio Megali), segmen pulmonal tidak menonjol
4. Angiografi post CABG
SVG-diagonal dan LIMA-LAD Patent; SVG-RCA non Fungsional.

5. Pemeriksaan DUS
Tanggal
04-08-2016

Duplex Ultra Sonografi


Tungkai
-

Plague stabil pada arteri femoralis kanan

Tidak ditemukan thrombus pada vena tungkai

41

12/8/2016

- Normal flow pada arteri kedua tungkai


Terpasang IABP pada femoralis kanan
Tungkai
-

Flow arteri positif sampai dengan tungkai kanan ( arteri


tibialis posterior)

17-08-2016

Flow arteri positif sampai dengan distal tungkai kiri

Multiple Plague pada arteri kedua tungkai

Flow vena positif sampai dengan distal kedua tungkai

Stenosis + 60-65% pada bifurcatio arteri femoralis dextra.

Thrombus parsial mengisi pada arteri femoralis superfisial


proksimal sampai dengan arteri femoralis superfisial distal
kanan.

Multiple plak pada arteri kedua tungkai

Flow arteri negatif pada arteri dorsalis pedis kanan

Tungkai
-

Stenosis + 60-65% pada bifurcatio arteri femoralis dextra.

Thrombus parsial mengisi pada arteri femoralis superfisial


proksimal sampai dengan arteri femoralis superfisial distal
kanan.

18-08-2016

Multiple plak pada arteri kedua tungkai

Flow arteri negatif pada arteri dorsalis pedis kana

Flow arteri positif sampai dengan distal kedua tungkai


kanan ( arteri tibia posterior dan arteri tibia anterior )

18-08-2016

Flow positif pada vena s/d distal.

Carotis
-

Plague tidak stabil pada pada bulbus arteri karotis kiri

Plague stabil pada pada bulbus arteri communis kiri

Normal flow arteri karotis

Normal flow dan normal diameter pada areteri vertebralis


kiri

Arteri karotis kanan tidak tersosialisasi oleh kardia.

42

Terpasang akses vena dalam pada vena jugularis

6. Myocardial Perfusion Imaging


Kesimpulan: LV function ; LVEF =31% EDV =202ml ESV = 140 ml
3.2 ANALISA DATA
N
o
1

Data
Ds:Negatif
Do:
- Terpasang

Masalah Keperawatan
Gangguan

Ventilatordengan

mode

PSIMV 12, FiO2 40% , RR 12


x/mnt,PEEP 5
-

Kesadaran sas 3

Kelima jari kaki kanan berwarna hitam

Terdapat bulae dibetis kanan

Jaringan

Perfusi
ke

perifer

Tungkai
kananberhubungan
dengan adanya thrombus
di arteri tungkai kanan
post pemasangan IABP

Hasil DUS :
-

Stenosis + 60-65% pada bifurcatio arteri


femoralis dextra.

Thrombus parsial mengisi pada arteri


femoralis superfisial proksimal sampai
dengan arteri femoralis superfisial distal
kanan.

Multiple plak pada arteri kedua tungkai

Flow arteri negatif pada arteri dorsalis


pedis kanan

CRT Tidak bisa dinilai karena ke lima


jari kaki kanan hitam.

Suhu kaki kanan dingin

Nadi pada dorsalis pedis kaki kanan

tidak teraba.
DS :Negatif
DO :
-

Pasien menggunakan terapi pengencer

Resiko
perdarahanberhubungan
dengan pemberian terapi
43

darah: Heparin 600 iu/jam, trental anti koagulan


1200mg/24 jam
-

Hasil pemeriksaan labor :


APTT = 45
Thrombosit = 79.000
Hb = 8.3

Terpsang CRRT

Adanya luka bekas pemasangan IABP

dan luka operasi dikaki dan dada


Ds : Negatif
DO :
-

Bekas luka terbuka (bekas puncture,


luka operasi)

Resiko

infeksi

berhubungan

dengan

pemasangan alat invasif


dan luka terbuka.

Terjadi ALI pada tungkai kanan

Leukosit : 40870

Terpasang

alat

invasif

CRRT,

Vetilator, vena dan arteri line, NGT,


Cateter urin.

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan Perfusi Jaringan ke perifer Tungkai kanan b/d adanya thrombus
di arteri tungkai kanan post pemasangan IABP
2. Resiko perdarahan berhubungan dengan pemberian terapi anti koagulan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan alat invasif dan luka
terbuka.

44

3.4 RENCANA, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN


NO
1

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan dan
Kriteria
Hasil

Perencanaan

Gangguan Perfusi Setelah dilakukan 1) Observasi


Jaringan
perifer

ke intervensi
Tungkai keperawatan

kanan b/d adanya kolaboratif


thrombus di arteri selama 2x 24 jam
tungkai

kanan perfusi ke perifer

post pemasangan ekstremitas


IABP

bawah

adekuat

dengan kriteria :
1. Nadi perifer
teraba

kuat

kedua
bawah
2. Tidak

asi

vital

tanda

dan

klinis pasien
2) Pantau
sirkulasi

kelemahan

dan

klinis

pasien
2. Memantau

keempat

darah

ekstremitas

terutama

terutama

ekstremitas

pada

dan

CRT)
3) Bandingkan

akral

dan

CRT)
3. Membanding
kan

asi

pasien

tanda

terpasang

dan

Ventilator
O:
mmHg N: 90
x/ menit
2. Denyut Nadi
pada dorsalis

bawah

warna

Implementasi
(Tgl 19-082016)
07.00 14.00
1. Mengobserv

dikaji karena

1. TD : 136/90

(denyut nadi,

(denyut nadi,

S : Tidak bisa

vital

sirkulasi

ekstremitas

Evaluasi
(Tgl 18-082016)

tanda-

darah

akral
ada

1. Mengobserv

tanda-tanda

bawah

ekstremitas

Implementasi
18-08-2016
07.00 14.00

pedis kanan
tidak teraba,

S : Tidak bisa

tanda-

dikaji karena

vital

pasien

klinis

pasien
2. Memantau
sirkulasi
darah

Evaluasi
(Tgl 19-082016)

terpasang
Ventilator
O:
1. TD : 143/54

pada

mmHg N: 83

terutama

x/

ekstremitas

SpO2 100%

bawah
(denyut nadi,
akral

dan

menit

S : 37 c
2. Denyut Nadi
pada dorsalis

nadi dorsalis

pedis kanan

kiri

CRT)
tersa 3. Membanding

tidak teraba,

kuat

kan

warna

nadi dorsalis

45

ekstremitas

warna

bawah
3. Warna kulit
tidak pucat
4. Suhu

2detik

pada
keempat
ekstremitas
4) Posisikan

ekstremitas
hangat
5. CRT

kulit

kaki
<

rendah

kulit

pada 3. Warna kulit


kaki

kanan

keempat

ekstremitas
4. Memposisik

lebih

hitam

ekstremitas
4. Memposisik

an kaki lebih
rendah

dari

jantung

dari

untuk

untuk

meningkatka

meningkatka

n perfusi ke

n perfusi ke

tungkai
5. Menghindari

pada

kaki

kanan
6) Jaga

kaki

kiri

terlihat
edua

penekanan
pada

sementara

kemerahan.k

jantung

penekanan

pada

keempat

lebih

tungkai
5) Hindari

kulit

kaki

kanan
6. Menjaga
temperature

temperatur

ruangan agar

ruangan agar

tidak terlalu

tidak terlalu

dingin

dan

ekstrimitas
kanan

kiri

tersa

kuat
3. Warna kulit
kaki

kanan

an kaki lebih

lebih

hitam

rendah

sementara

dari

jantung

kaki

kiri

untuk

terlihat

meningkatka

kemerahan,e

n perfusi ke

ktrimitas atas

tungkai
kemerahan.
kemerahan.
5. Menghindari 4. Posisi kaki
4. Posisi kaki
penekanan
sudah lebih
sudah lebih
pada
kaki
rendah
rendah
kanan
daripada
daripada
6. Menjaga
kaki kiri
kaki kiri
temperature 5. Kaki kanan
5. Kaki kanan
ruangan agar
terasa lebih
terasa lebih
tidak terlalu
dingin
dingin
dingin dan
daripada
daripada

46

dingin

dan

tidak terlalu
panas.
Kolaborasi
Memberikan
terapi

panas.
Kolaborasi
Memberikan

anti

koagulan
untuk
mencegah
pembekuan
darah

tidak terlalu

terapi
heparin
untuk
mencegah
pembekuan
darah

kaki kiri
6. Kaki pasien
diselimuti

1. Memberikan

selimut

terapi

dengan

heparin
yang

ringan

untuk
mencegah

7. Suhu

pembekuan

ruangan

darah

dalam batas
normal untuk
runganan

kaki kiri
6. Kaki pasien
diselimuti
dengan
selimut
dengan
bahan

yang

ringan
7. Suhu
ruangan
dalam batas
normal untuk
runganan
Intensif
8. Terapi

Intensif

heparin tetap

8. Terapi
heparin

panas.
Kolaborasi

dengan

bahan

tidak terlalu

di

berikan 600
unit/jam dan
heparin juga

600 unit/jam
dan heparin
dalam
CVVH

47

ada

dalam

A: Masalah

pengencer

keperawatan

CVVH

belum

A: Masalah

teratasi
P:

keperawatan

1. Pertahankan

belum

intervensi
2. Observasi

teratasi
P:

pulsasi

1. Pertahankan

perifer

intervensi
2. Observasi
pulsasi
2

Resiko

Setelah dilakukan 1. Kaji

perdarahan

intervensi

berhubungan

keperawatan

perubahan
&

dengan pemberian kolaboratif


terapi
koagulan

anti selama 2x 24 jam


tidak
perdarahan

1. Mengobserv

terjadi

pada pasien
2. Amati
apakah

ada

tanda-tanda
perdarahan
3. Ukur

asi

perifer
S: Tidak bisa

S: Tidak bisa

dikaji karena

asi

tanda-tanda

pasien

tanda-tanda

pasien

perdarahan

terpasang

perdarahan

terpasang

dari ( bekas

Ventilator

dari ( bekas

Ventilator

luka,
dan

adanya

1. Mengobserv

gusi
mulut

O:

luka,
dan

adanya

gusi
mulut

dikaji karena

O:

48

dengan kriteria
1. Tidak
ada
hematuria
dan

darah

serta
dan

perhatikan
perubahan

hematemesis
2. Tidak
ada
kehilangan
darah

tekanan

yang

terlihat
3. Tekanan
darah dalam

dari tekanan
darah
4. Perhatikan
apakah

ada

tanda-tanga
ptekie

pada

kulit pasien
batas normal
5. Perhatikan
4. Laboratoriu
apakah ada
m
dalam
tanda-tanda
batas normal
perdarahan
:
pada
gusi
Hemoglobin,
dan
mulut
hematokrit,
serta
PT & PTT
konjungtiva

1. Tidak

konjungtiva
2. Mengobserv
asi

tanda-tanda

nal,

tanda-tanda

penunjang

gusi,

mulut

dan

konjungtiva
2. TD : 136/90

dalam

pemeriksaan

asi

gastrointesti

perubahan

mmHg N: 90
x/ menit
3. Leukosit

A:

serta

1. Tidak

konjungtiva
2. Mengobserv

perdarahan

adanya

vital
3. Berkolaboras

ada

perdarahan
gastrointesti

perubahan

nal,

tanda-tanda

penunjang

gusi,

mulut

dan

konjungtiva
2. TD : 143/54

dalam

pemeriksaan
:

tanda-tanda

adanya

vital
3. Berkolaboras

ada

mmHg N: 83
x/ menit
3. Leukosit

40870;

36450;

Trombosit

Trombosit

79.000;

65.000;

APTT 45.6;

APTT 45.6;

HB 8.8 gr/dl

HB 7,6 gr/dl

Masalah

A:

Masalah

perdarahan

perdarahan

tidak terjadi

tidak terjadi

49

P:

P:

1. Pertahankan

1. Pertahankan

intervensi

intervensi

keperawatan
2. Kolaborasi

keperawatan
2. Kolaborasi

dalam

dalam

pemberian

pemberian

terapi jika

terapi jika di

ditemukan

temukan

tanda

tanda tanda

perdarahan

perdarahan.

Resiko

infeksi Tujuan :
3. Observasi
4. Mengobserv S :Tidak bisa
1. Mengobserv S :Tidak bisa
Setelah dilakukan
berhubungan
tanda tanda
asi tanda
dikaji karena
asi tanda
dikaji karena
tindakan
dengan
infeksi
tanda infeksi
pasien
tanda infeksi
pasien
keperawatan 2 x
5. Mengobserv
2. Mengobserv
pemasangan alat
4. Observasi
terpasang
terpasang
24
jam
asi tanda
asi tanda
invasif dan luka
tanda tanda
Ventilator
Ventilator
diharapkan
tanda vital
tanda vital
terbuka.
vital
6. Mengaanti
3. Mengaanti
O:
O:
infeksi
tidak

50

terjadi
Kriteria hasil:
1. Tidak

5. Ganti

ada

tanda tanda
infeksi
tumor,
color).
2. Tanda
tanda

vital

dalam batas
normal

di

balutan luka

1. Tidaka

di

setiap hari

temukan

setiap hari

temukan

setiap hari

atau jika

tanda-tanda

atau jika

tanda-tanda

atau jika
6. Lakukan
perawatan

1. Tidaka

balutan luka

kotor

(rubor, dolor,

balutan luka

luka dengan
teknik septik
dan
antiseptik.
Kolaborasi
dengan
dokter dalam
pemberian
antibiotik.

kotor
7. Melakukan

Infeksi
kotor
2. Luka tampak 4. Melakukan

Infeksi
2. Luka tampak

perawatan

bersih,ditutu

perawatan

kehitaman,b

luka dengan

dengan

luka dengan

ulae

teknik septik

kasa lembab

teknik septik

berkurang,di

dan

(nacl 0,9%)

dan

tutup dengan

antiseptik
8. Melakukan
perawatan
pada semua
alat invasif
yang
terpasang.
9. Berkolaboras
i dengan
dokter dalam
pemberian

tidak

ada

kemerahan,

kehitaman
bulae
ada,

bengkak .
3. TD : 136/90
mmHg N: 90
x/

nacl

0.9%

yang

lembab.
dokter dalam 3. TD : 143/54

tampak

masih

kasa

i dengan

masih

dan

antiseptik.
5. Berkolaboras

sudah

menit

pemberian

mmHg N: 84

antibiotik
6. Melakukan

x/ menit S :
37

perawatan
pada semua
alat invasif
yang

Infeksi

belum terjadi
P :

Intervensi

51

antibiotik.
10. Melakukan

suhu 370 C
4. Semua alat

oral higiene

invasif

dan suction

terpasang

berkala jika

dengan

ada slem di

baik,tidak

selang ETT

ada

terpasang.

dipertahanka
n.

tanda

kemerahan
pada tempat
5.

insersinya.
antibiotik
meropenem
diberikan
sesuai

hasil

kolaborasi.
A

Infeksi

belum terjadi
P

Intervensi

dipertahanka

52

n.

53

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian
Pada KasusTn.KS terjadi ALI akibat pemasangan IABP pada tungkai
kanan, penulis tidak menemukan literature yang menyatakan kejadian ALI akibat
Pemasangan
Dalam literature terdapat 5 atau 6 tanda-tanda yang menyatakan ALI,
tetapi pada pasien ini hanya didapakan 2 tanda ALI saja yaitu : pallor dan
Pulseless, karena pasien terpasang ventilator dan diberikan Relaxan.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Ada 7 Diagnosa keperawatan yang ada pada tinjuan teoritis tapi Tn. KS
hanya terdapat 3 diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien saat
ini.
Diagnosa

yang

diangkat

berupa

diagnosa

aktual

dan

diagnosa

risiko.Diagnosa keperawatan tersebut adalah:


1. Gangguan Perfusi Jaringan ke perifer Tungkai kanan b/d adanya
thrombus di arteri tungkai kanan post pemasangan IABP
2. Resiko perdarahan berhubungan dengan pemberian terapi anti
koagulan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan alat invasif dan luka
terbuka.
4.3 Rencana Asuhan Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan disusun berdasarkan tinjauan pustaka
dengan guide line ALI.Rencana keperawatan yang disusun oleh kelompok
juga disesuaikan dengan kondisi, tujuan dan kriteria keberhasilan.Rencana
Asuhan keperawatan yang diberikan, diharapkan dapat meningkatkan status
kesehatan pasien menjadi lebih optimal.

54

4.4 Implementasi dan Evaluasi Asuhan Keperawatan


Implementasi dan evaluasi asuhan keperawatan dilakukan selama
2hari.Implementasi dilakukan berdasarkan rencana asuhan keperawatan
yang telah disusun.Implementasi yang dilakukan merupakan intervensi
mandiri dan kolaborasi.Evaluasi bertujuan untuk melihat keefektifan
implentasi yang telah dilakukan.Pada kasus ini, implementasi yang
dilakukan selama 2 hari tidaklah cukup.Oleh sebab itu, tingkat keberhasilan
asuhan keperawatan tidak signifikan dan tidak semua rencana asuhan
keperawatan dapat mengatasi masalah kesehatan yang dialami pasien.

55

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk memberikan asuhan
keperawatan pada pasien ALI agar tercapai hasil yang optimal.
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien postoperasi
CABG dan DM dengan Acute Limb Ischemic (ALI) grade IIa ekstremitas
bawah dekstra di ruangIntensive Care

Unit ( ICU)di RS pusat jantung

nasional harapan kita, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :


1.Penatalaksanaan ALI harus secepat mungkin..
2.Perawat harus mampu mengenali tanda dan gejala ALI lebih cepat
3.Sebagai seorang perawat harus tahu mendeteksi ALI dengan 5P + 1P Pada
tahap evaluasi penulis mengadakan kerjasama dengan perawat ruangan
dan keluarga pasien untuk melakukan evaluasi keadaan pasien
4.Dalam melakukan pengkajian harus fokus pada masalah.
Proses revaskularisasi merupakan salah satu tindakan kolaborasi antara
perawat

dengan

tenaga

medis.

Pemantauan

sebelum

dan

setelah

revaskularisasi merupakan hal yang harus dilakukan perawat sehingga dapat


melihat keberhasilan terapi yang diberikan.Pemantauan yang tidak dilakukan
dengan teliti dapat menimbulkan komplikasi baru seperti stroke hemoragik
yang dapat terjadi pada pasien. Hal ini menunjukkan bahwa pemantauan
selama proses dan post revaskularisasi ini merupakan hal yang sangat
penting untuk dilakukan.
5.2 Saran
5.2.1

Bagi peserta didik


Memahami patofisiologi, tanda tanda dan gejala Ali.Melalui makalah
ini, penulis berharap agar studi mengenai ALI diperluas karena
mengingat banyak sekali faktor risiko yang menyebabkan ALI.Selain
itu, diharapkan perawat mampu melakukan pengkajian yang holistik
untuk melihat masalah-masalah keperawatanyang terdapat pada

56

pasien.Asuhan keperawatan dilakukan dengan teliti sehingga terapi


yang diberikan pada pasien ALI optimal. Untuk mencapai hal
demikian, perawat juga diharapkan meningkatkan pengetahuan pada
masalah penyakit vaskuler khususnya Acute Limb Ischemic (ALI),
untuk mencegah timbulnya komplikasi pada penyakit ALI maupun
komplikasi yang timbul sebagai akibat dari penatalaksanaan ALI
tersebut.
5.2.2

Rumah sakit
Diharapkan adanya peningkatan kualitas dalam melakukan asuhan
keperawatan pada semua pasien di RSPJPDHK terutama dalam hal
penyuluhan kesehatan yang berkesinambungan baik melalui diskusi
maupun berupa leaflet selama pasien dirawat sehingga morbiditas ALI
dapat dikendalikan dan segera teratasi jika terjadi di masyarakat

5.2.3

Saran untuk sejawat


Sebaiknya perawat mengetahui dan mengenali tanda dan gejala ALI
sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat bagi
pasien. Dalam menyusun perencanaan keperawatan, diharapkan
adanya peningkatan kerjasama, pengawasan dan perawatan pada
pasien ALI agar dapat dikendalikan prognosisnya semakin membaik

5.2.4

Saran untuk Diklat


Harus menambah sarana dan prasarana misakan (Lieafelat, literature,
pustaka, ) pembimbingharus sejalan, qualified, penguji

5.2.5

Bagi penyelenggara pelatihan


Perlu dilakukan pengenalan dengan pembimbing diruangan sehingga
peserta pelatihan mengetahui akan berdiskusi dengan siapa diruangan

57

DAFTAR PUSTAKA

Creager, M., Kaufman, J., dan Conte, M.S. 2012. Acute Limb Ischemia. The New
England Journal of Medicine, vol. 366, no. 23, 2198-2206.
Gibson, J. (2003). Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat (edisi bahasa
Indonesia ed.). Jakarta: EGC.
Gray, H. H., Dawkins, K. D., Morgan, J. M., & Simpson, I. A. (2005). Lecture
Note Kardiologi edisi keempat. Jakarta: Erlangga.
Juzar, D., Kasim, M., Hersunarti, N., dan Kaligis. 2007. Effect of Pentoxifylline
on Platelet-Activating Factor Production in Acute Limb IschemicReperfusion Injury. Jurnal Kardiologi Indonesia, vol. 28, no. 2, 93-99.
Keputusan

Kementrian

Kesehatan

Republik

Indonesia.

2009.

Pedoman

Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Diunduh pada


http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK.pdftanggal

12

Mei 2015.
Limpijankit, T. (2008). Manual of Carotid and Peripheral Vascular Interventions.
Bangkok: Beyond Enterprise.
NANDA. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
dan NANDA NIC-NOC (Revisi Jilid 1,2,3 ed.). Jogjakarta: Mediaction.
Norgren, L., Hiatt, W.L, et al. 2007. Inter-Society Consensus for the Management
of Peripheral Arterial Disease (TASC II). European Vascular Journal, vol.
33, suplement 1, 1-75.
Palmer, A., & Williams, B. (2007). Simple Guide Tekanan Darah Tinggi
(Indonesian Edition ed.). Jakarta: Erlangga.
Pearce, E. C. (2009). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Porth, C. (2011). Essentials of Pathophysiology : Concepts of Altered Health
States 3rd Edition. Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
Smith, J. L., & Egan, J. N. (2008). Sinyal-Sinyal Bahaya Tubuh Anda BODY
SIGNS Dari Ujung Rambut Hingga Ujung Kaki. Jakarta Selatan: Ufuk Press.

58