Anda di halaman 1dari 16

REFLEKSI KASUS

GANGGUAN PSIKOTIK AKIBAT PENYALAHGUNAAN


NAPZA

Disusun oleh:
Muthi Melatiara
030.09.161
Pembimbing:
dr. Tini Padmoningsih, Sp.KJ.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG
PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 23 MARET 2015 17 APRIL 2015
STATUS PASIEN
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO MAGELANG
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. KAS
Usia
: 31 tahun (1 Juli 1983)
Jenis kelamin
: laki-laki
Alamat
: Pogung Dalangan RT.9 RW.050 No.14A Sinduaji Mlati
Suku
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Status Pernikahan

:
:
:
:
:

Sleman, Yogyakarta
Bali
Hindu
SMA sederajat
tidak bekerja
belum menikah

Tanggal Masuk RS
No. CM
II.

: 2 Maret 2015
: 00117292

ANAMNESIS (RIWAYAT PSIKIATRI)


Autoanamnesis pada tanggal : 1 April 2015
Alloanamnesis pada tanggal : 4 April 2015
Data alloanamnesis didapat dari keluarga:
Nama
: Tn. IDMP
Usia
: 75 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat
: Pogung Dalangan RT.9 RW.050 No.14A Sinduaji Mlati Sleman,
Agama
Pekerjaan
Hubungan

Yogyakarta
: Hindu
: wirasasta (usaha kost) dan pendeta agama Hindu
: ayah kandung

A. Keluhan Utama
Pasien dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo (RSJS)
Magelang satu bulan yang lalu oleh ayahnya dan beberapa orang polisi karena
mengamuk sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit.
B. Riwayat Perjalanan Penyakit
Pasien telah mengalami gangguan jiwa sejak kurang lebih sebelas
tahun yang lalu. Sebelum rawat inap kali ini, pasien pernah dirawat di RS
Sardjito Yogyakarta, RSJ Grhasia Yogyakarta, dan beberapa kali masuk panti
rehabilitasi narkoba. Pasien menggunakan narkoba sejak berusia 13 tahun.
Narkoba yang digunakan adalah jenis nipam, triplek (triheksilfenidil), dan
lexotan. Selain narkoba, pasien juga seorang perokok dan peminum. Biasa
minum corona (5%), sunrise (45%), ciu oplosan dengan kratingdaeng.
Menurut cerita pasien, ia mengkonsumsi barang-barang terlarang tersebut
karena terpengaruh lingkungan hingga ketagihan seperti sekarang.
Pertama kali dirawat di RS Sardjito pada tahun 2004 karena pasien
membuat keributan, menantang tetangga untuk berkelahi. Pasien dirawat
selama beberapa hari lalu kabur, pulang ke rumah sendiri. Berpikir pasien
masih perlu obat, ayah pasien meminta obat kepada dokter. Obat diberikan
kepada pasien secara sembunyi-sembunyi, karena pasien tidak merasa sakit,
maka ia selalu menolak dan marah bila disuruh minum obat. Satu setengah
tahun kemudian pasien dibujuk keluarga untuk masuk panti rehabilitasi
1

dengan alasan untuk bekerja (dibohongi) karena tingkah laku pasien yang
tidak kunjung membaik.
Di panti, perilaku pasien baik dan sempat mengatakan ingin berhenti
menggunakan barang-barang terlarang tersebut. Di panti sering berkelahi
karena pasien merasa sering dikerjai. Sekitar dua tahun yang lalu, pasien
dirawat di RSJ Grhasia Yogyakarta karena sering bicara sendiri, marahmarah, dan tingkah lakunya aneh. Keluar dari RSJ, pasien tidak bekerja,
sering menghambur-hamburkan uang, memberi barang dibeli kepada orang
lain, mudah marah dan mengamuk, merusak barang, serta bicara sendiri.
Makan, minum, mandi masih dilakukan sendiri, namun dilakukan sesuka
pasien (tidak setiap hari). Tidak pernah terlihat sedih, cenderung marah setiap
harinya. Kali ini pasien datang ke RSJS Magelang bersama ayah kandung dan
beberapa orang polisi karena mengamuk dan memukuli ayah pasien akibat
tidak mendapatkan yang diinginkan. Ia juga mendengar suara yang
memerintahnya untuk makan dan mandi. Suara tersebut diyakini pasien
adalah suara Nn.Y dan pasien juga yakin di dalam tubuhnya terdapat Nn.Y,
wanita yang akan dinikahinya. Pasien berpacaran dengan Nn.Y, seorang WTS
di Sarkem Yogyakarta. Pada tubuh pasien tampak beberapa luka bakar. Pasien
bercerita ia sengaja membakar tubuhnya dan tiap bentuk luka, melambangkan
sesuatu, tidak ada rasa sakit saat membakar tubuh.
Grafik perjalanan penyakit:
Gejala

2004

2007

2012

2015

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Psikiatri
Fungsi peran

Pasien pernah dirawat sebelumnya di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta


dan RSJ Grhasia Yogyakarta. Pasien maupun keluarga pasien lupa
mengenai lama perawatan dan jenis pengobatan yang diberikan kepada
pasien.
2. Riwayat Medis Umum
Riwayat trauma kepala, kejang, hipertensi, asma, diabetes mellitus, dan
penyakit ginjal disangkal.
3. Riwayat Obat-Obatan dan Alkohol
Penggunaan NAPZA berupa nipam, triplek (THP), lexotan sejak usia 13
tahun. Minum alkohol corona, sunrise, dan oplosan.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Tidak ada data yang valid mengenai riwayat pasien.
2. Riwayat Masa Anak-Anak Awal (0-3 tahun)
Tidak ada data yang valid mengenai riwayat pasien.
3. Riwayat Masa Anak-Anak Tengah (3-11 tahun)
Pasien sering ditinggal oleh ayahnya keluar kota, di rumah sering
diceritakan oleh ibunya bahwa kedua orangtuanya sering orangtuanya
berkelahi di rumah, namun tidak ada yang dilakukan pasien untuk
membela ibunya. Di bangku SD sudah mulai merokok, tapi tidak
dilakukan secara terang-terangan. Pendidikan SD tidak mengalami
kendala berarti. Pasien tidak pernah membawa temannya bermain ke
rumah.
4. Riwayat Masa Anak-Anak Akhir dan Remaja (11-18 tahun)
Pasien mulai menggunakan narkoba dan minum minuman keras. Hidup
terpisah dengan orangtua, sekolah di Bali sejak SMA sederajat, tinggal
dengan kakak. Memiliki masalah dengan kakak ipar, kakak yang tinggal
serumah dengan pasien meninggal saat pasien duduk dibangku SMA.
5. Riwayat Masa Dewasa
a. Riwayat Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien, pasien sempat duduk di politeknik (PPKP)
Yogyakarta selama 2 tahun, tidak menyelesaikan sekolahnya karena
ada masalah dengan beberapa materi pelajaran. Pasien suka membolos
dan sempat mengaku kepada orangtua sudah tidak bisa lagi mengikuti
pelajaran.
b. Riwayat Pekerjaan
3

Lulus SMA pasien sempat membuat kerajinan kesenian, sebagian


dijual, sebagioan hanya disimpan. Hanya berlangsung sebentar, lalu
pasien tidak pernah bekerja lagi. Pekerjaan sehari-harinya hanya
bermain sabung ayam.
c. Riwayat Pernikahan
Pasien belum menikah.
d. Riwayat Aktivitas dan Psikososial
Pasien sejak kecil tidak terlalu terbuka dengan kedua orangtuanya,
bila ada masalah ditangani sendiri. Senang dengan kegiatan kesenian,
namun sejak keluar masuk RS dan panti rehabilitasi, aktivitasaktivitas positif tersebut sudah tidak dilakukan lagi.
e. Riwayat Hukum
Pasien beberapa kali digrebek polisi di rumahnya karena perbuatan
onar dan penyalahgunaan narkoba.
f. Riwayat Keagamaan
Pasien beragama Hindu dan dibesarkan dalam keluarga Hindu. Ayah
pasien adalah seorang pemuka agama (pendeta) terpandang di Bali,
oleh karena itu sering pulang pergi Bali-Yogyakarta. Pasien
merupakan pengganti ayahnya (sebagai pemuka agama) bila ayahnya
sudah meninggal dunia.
g. Riwayat Psikoseksual
Pasien mengaku kerap berhubungan seksual sebelum menikah dengan
WTS di Sarkem.
h. Riwayat Situasi Hidup Sekarang
Pasien tinggal bersama dengan kedua orangtuanya dengan status
ekonomi menengah ke atas. Ayah pasien merupakan orang terpandang
di kampungnya di Bali, dahulu ayahnya bekerja sebagai guru dan
pelukis, namun sekarang hanya mengandalkan hasil dari kost-kostan
yang dimiliki di Yogyakarta sebagai sumber penghasilan untuk
orangtua dan pasien.
E. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Tidak ditemukan
keluhan/gangguan yang sama pada kakak pasien. Ayah pasien kerap berobat
di psikiater, minum obat setiap hari sampai sekarang, bila tidak minum obat
tersebut, beliau merasa stress karena seringnya berselisih dengan istrinya.

Psikiaternya mengatakan bahwa ayah pasien adalah seorang yang


perfeksionis. Dalam observasi, ayah pasien terkesan dominan dalam keluarga
dan kerap menyalahkan istrinya dalam segala hal dan menjunjung tinggi adatadat Bali dan percaya terhadap hal-hal mistis. Kondisi keluarga pasien sejak
kecil tidak harmonis dan terdapat banyak kekerasan dalam rumah tangga
tersebut.
Genogram:

Keterangan:
: Laki-Laki
: Perempuan
: Pasien
----- : Tinggal serumah
F. Taraf Kepercayaan

III.

Autoanamnesis: Tidak dapat dipercaya


Alloanamnesis : Dapat dipercaya
PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis/Internus
1. Kesadaan Umum : Baik, kesan gizi cukup
2. Kesadaran : Composmentis (GCS 15)
3. Tanda Vital :
a. Tekanan darah
: 120/90 mmHg
b. Nadi
: 84x/menit
c. Pernapasan
: 20x/menit
d. Suhu
: 36,7C (afebris)
4. Kepala
: Normosefali, tidak ditemukan bekas luka
5. Mata : Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-,pupil
6.
7.
8.
9.

Leher
Paru
Jantung
Abdomen

isokor 3 mm, RCL +/+, RCTL +/+


: Kelenjar getah bening dan tiroid tidak teraba membesar
: Suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop(-)
: Datar, bising usus(+), supel, nyeri tekan(-)
10.Ekstremitas
: Tonus dan pergerakan normal, edema(-),
akral hangat (+). Skar berupa plak hipertrofi sewarna kulit-

hiperpigmentasi multiple ukuran plakat tepi tegas pada


regio brachii dan antebrachii sinistra.
B. Status Neurologis
1. GCS
: E4V5M6 = 15
2. Kaku Kuduk
:3. Nervus Kranialis
: Tidak ada kelainan
4. Pemeriksaan Motorik:
Superior
Kekuatan
5/5
Gerakan
Bebas/Bebas
Tonus
N/N
Trofi
Eu/Eu
Refleks Fisiologis
+/+
Refleks Patologis
-/Pemeriksaan Sensibilitas:
IV.

Inferior
5/5
Bebas/Bebas
N/N
Eu/Eu
+/+
-/-

+/+

+/+

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 1 April 2015 di RSJS Magelang.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan: seorang laki-laki tampak sesuai umur, rawat diri baik,
berpakaian lengkap, ekspresi tampak murung.
2. Kesadaran
a. Kesadaran Neurologis : Compos mentis
b. Kesadaran Psikologis : Terganggu
c. Kesadaran Sosial
: Mampu berkomunikasi dan berinteraksi
3. Pembicaraan
a. Kualitas
b. Kuantitas

: Lambat, pelan, tidak lancar,

remming, inkoheren
: Sedikit kata yang diucap

4. Tingkah Laku
: Hipoaktif
5. Sikap terhadap pemeriksa : Kurang kooperatif
B. Alam Perasaan
1. Mood
2. Afek

: Hipotim
: Inappropriate, blunted

C. Gangguan Persepsi
1. Ilusi

:2. Halusinasi
Pasien

: Auditorik (+)
mendengar

suara

Ny.Y

yang

menyuruhnya untuk makan, mandi.


6

3. Depersonalisasi
4. Derealisasi

::-

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir
2. Arus pikir

: Non-realistic
: Miskin ide, remming
3. Isi pikir
:
Waham

nihilistik,

waham curiga, waham persepsi


E. Sensorium dan Kognisi
1. Tingkat Kesadaran
: Jernih
2. Orientasi Waktu
: Baik
Tempat
: Baik
Orang
: Baik
Situasional
: Baik
3. Daya Ingat Segera
: Baik
Jangka Pendek : Baik
Jangka Panjang: Baik
4. Konsentrasi
: Baik
5. Perhatian
: Mudah ditarik
6. Kemampuan Baca Tulis
: Baik
7. Kemampuan Visuospasial : Baik
8. Pikiran Abstrak
: Baik
F. Pengendalian Impuls
1. Daya Nilai Sosial
: Baik
2. Respons Terhadap Pemeriksa : Baik
G. Tilikan : Impaired insight
V.

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan EKG Dalam batas normal:
Frekuensi
: 128x/menit
Irama
: sinus rythm
Axis
: 60o
Posisi
: ventrikel
Interval P-R
: 0.20
Interval QRS : 0.08
Interval QT
: 0.36
Zona Transisi : V3
RESUME
Tn.KAS, laki-laki, 31 tahun, suku Bali, tinggal di Yogyakarta, agama
Hindu, pendidikan terakhir SMA, anak terakhir dari empat bersaudara, tidak
bekerja, belum menikah, datang ke IGD RSJS Magelang satu bulan yang lalu

diantar oleh ayah dan beberapa orang karena mengamuk sejak satu hari sebelum
masuk rumah sakit.
Pasien mengalami gangguan jiwa sejak kurang lebih sebelas tahun yang
lalu, di usia 20 tahun, dirawat di RS Sardjito Yogyakarta, RSJ Grhasia
Yogyakarta, dan beberapa kali di panti rehabilitasi narkoba dengan gejala sering
mengamuk dan membuat keributan. Pasien menggunakan narkoba golongan
benzodiazepin dan triheksilfenidil, merokok, dan mengkonsumsi alkohol sejak
berusia 13 tahun karena terpengaruh teman. Sebelumnya pasien merupakan anak
yang pendiam, tidak banyak teman dekat, dan kerap berkelahi serta membuat
keributan. Kondisi keluarga pasien sejak kecil tidak harmonis dan terdapat
banyak kekerasan dalam rumah tangga tersebut.
Pertama kali dirawat di RS Sardjito tahun 2004 karena membuat
keributan, menantang tetangga untuk berkelahi, dirawat selama beberapa hari lalu
kabur dari RS. Pasien tidak merasa sakit sehingga obat diberikan secara
sembunyi-sembunyi. Satu setengah tahun kemudian pasien dibujuk keluarga
untuk masuk panti rehabilitasi karena masih menggunakan narkoba dan tingkah
laku tidak berubah. Di panti sering berkelahi karena merasa sering dikerjai. Pada
2013 dirawat di RSJ Grhasia Yogyakarta karena sering bicara sendiri, marahmarah, dan tingkah lakunya aneh. Keluar dari RSJ Grhasia, tidak bekerja, sering
menghambur-hamburkan uang, memberi barang dibeli kepada orang lain, mudah
marah dan mengamuk, merusak barang, serta bicara sendiri. Makan, minum,
mandi masih dilakukan sendiri. Tidak pernah terlihat sedih, cenderung marah
setiap harinya. Kali ini ke RSJS Magelang bersama ayah kandung dan beberapa
orang polisi karena mengamuk dan memukuli ayah pasien karena tidak
mendapatkan yang diinginkan. Saat ini mendengar suara yang memerintah untuk
makan dan mandi. Suara tersebut diyakini pasien adalah suara Nn.Y, pacar
pasien. Selain itu ia juga merasa Ny.Y ada di dalam tubuhnya.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas
normal kecuali adanya plak hipertrofi sewarna kulit-hiperpigmentasi multiple
ukuran plakat tepi tegas pada regio brachii dan antebrachii sinistra. Status mental
didapatkan pembicaraan kualitasnya lambat, pelan, tidak lancar, remming,
kuantitas sedikit kata-kata yang diucap, hipoaktif, hipotim, afek inappropriate,

blunted, gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik, bentuk pikir nonrealistik, arus pikir miskin ide, remming, inkoheren, gangguan isi pikir berupa
waham nihilistik, waham curiga, waham persepsi, konsentrasi mudah terganggu,
perhatian susah ditarik, dan tilikan impaired insight. Dengan adanya gejala-gejala
tersebut pasien menjadi murung, sedih, sampai tidak bisa beraktivitas seperti
biasanya, tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik pada
keluarga maupun dengan orang lain di sekitarnya.
Pada pasien ini dapat ditemukan sindroma sebagai berikut :
Sindroma Skizofrenia

Sindroma Paranoid
Sindroma Depresi

VII.

Halusinasi auditorik
Dellusion of refference
Dellusion of perception
Berbicara sendiri
Impaired reality testing
Afek inappropriate
Inkoheren
Dellusion of refference
Hipotim
Bicara sedikit
Perbuatan membahayakan diri
sendiri

DIAGNOSIS BANDING
F19.74 Gangguan psikotik onset lambat
Pedoman Diagnostik Menurut PPDGJ III
Gangguan psikotik dengan onset lebih dari 2 minggu setelah
penggunaan zat.
Gejala psikotik

Pada Pasien Ini


Terpenuhi
Terpenuhi

F20.3 Skizofrenia Paranoid


Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III

Pada pasien ini

Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.

Terpenuhi

Sebagai tambahan:
1. Halusinasi dan/atau waham harus menonjol:
a) suarasuara halusinasi yang mengancam pasien atau Terpenuhi
memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa

bentuk

verbal

berupa

bunyi

pluit

(whistling),

mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);


b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau Tidak terpenuhi
bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh;
halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol;
c) waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham Terpenuhi
dikendalikan

(delusion

of

control),

dipengaruhi

(delusion of influence), atau passivity (delusion of


passivity), dan keyakinan dikejarkejar yang beraneka
ragam, adalah yang paling khas;
2. Gangguan

afektif,

dorongan

kehendak

dan Terpenuhi

pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak


nyata/tidak menonjol.
F32.3Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik

Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III


Episode depresi berat yang memenuhi kriteria

Pada pasien ini


Tidak terpenuhi

menurut F32.2

Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.


Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa,
kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan
pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.

Terpenuhi

Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa


suara yang menghina atau menuduh, atau bau
kotoran

atau

daging

membusuk.

Retardasi

psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.


Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat
ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan
afek (mood-congruent)
F1x.75 Gangguan Psikotik Residual atau Onset Lambat

Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III


Onset dari gangguan harus segera langsung

Pada pasien ini


Terpenuhi
10

berkaitan dengan penggunaan alkohol atau zat


psikoaktif.

Gangguan fungsi kognitif, afek, kepribadian, atau


perilaku yang disebabkan oleh alkohol atau zat
psikoaktif yang berlangsung melampaui jangka

Terpenuhi

waktu khasiat psikoaktifnya (efek residual zat


tersebut terbukti secara jelas). Gangguan tersebut
harus

memperlihatkan

suatu

perubahan

atau

kelebihan yang jelas dari fungsi sebelumnya yang


normal.

Gangguan ini harus dibedakan dari kondisi yang


berhubungan dengan peristiwa putus zat (F1x.3 dan

Terpenuhi

F1x.4). Pada kondisi tertentu untuk zat tertentu


fenomena putus zat dapat terjadi beberapa hari atau
minggu sesudah zat dihentikan penggunaannya.
VIII.

DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
AKSIS I : F19.75 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
multiple dan penggunaan zat psikoaktif lainnya, gangguan psikotik
onset lambat
Z63.8 Masalah hubungan orangtua anak. Ketidakharmonisan dan
kekerasan dalam rumah tangga
Z91.1 Ketidakpatuhan terhadap pengobatan
AKSIS II : F60.2 Ciri kepribadian dissosial
AKSIS III : Skar hipertrofi multiple regio brachii-antebrachii sinistra (skar
luka bakar)
AKSIS IV : Masalah berkaitan dengan hukum dalam penyalahgunaan narkoba
AKSIS V

IX.

dan perbuatan onar


: GAF admission: 20-11

PENATALAKSANAAN
A. Psikofarmaka
1. Obat antipsikotik:
Emergency: Injeksi Haloperidol IM 5 mg (1 Ampul)
Maintenance: Clozapine 2 x 100 mg
2. Obat sedasi:
11

Injeksi Diazepam IV5 mg (1 Ampul)


B. Non Farmakoterapi
1. Rawat inap
2. Edukasi keluarga
a. Menjelaskan tentang penyakit pasien kepada keluarga, perjalanan
penyakit dan prognosisnya.
b. Menasihati keluarga untuk memberikan dukungan moral kepada
pasien karena dukungan keluarga sangatlah penting.
c. Menasihati keluarga agar mengawasi pasien ketika minum obat dan
membawa pasien kontrol tepat waktu.
3. Detoksifikasi alkohol dan memuali rehabilitasi
4. Cognitive behavioral therapy (psikoterapi indivisual suportif dan
konseling keluarga)
Anjuran : Periksa laboratorium fungsi hepar, ginjal, dan kandungan zat pada urin
X.

dan darah
PROGNOSIS
No
.
1.
2.
3.
4.

5.

6.
7.
8.
9.

Faktor Risiko

Terpenuhi

Prognosis

Onset lambat
Faktor pencetus jelas berupa permasalahan

Tidak

Baik

Ya

Buruk

Tidak
Tidak

Buruk
Buruk

Tidak

Buruk

keluarga, domestic violance


Riwayat pekerjaan, sosial, premorbid baik
Menikah
Sistem pendukung baik. Pengawas minum
obat adalah ayah pasien yang bersifat
dominan dalam keluarga dan juga memiliki
gangguan jiwa
Gejala positif menonjol
Non-genetik
Usia 15-25 tahun
Tidak ada kekambuhan
Kesimpulan

Ad Vitam

: Dubia

Ad Fungsionam

: Dubia ad malam

Ad Sanationam

: Dubia ad malam

Tidak
Buruk
Tidak
Buruk
Ya
Buruk
Ya
Buruk
Dubia ad malam

12

XI.

JURNAL TERKAIT KASUS


Psychosis among Substance Users
Thirtalli J, Benegal V. Psychosis among Substance Users. Current Opinion in
Psychiatry 2006; 19:239245. Lippincott Williams & Wilkins.
Abstract: Tulisan ini bertujuan untuk menelaah kembali bukti dari penggunaan
(penyalahgunaan) zat dapat menyebabkan psikosis pada orang nonpsikotik.
Artikel ini mengemukakan bahwa psikosis terjadi secara berkelanjutan.
Pemeriksaan pada individu yang memiliki gangguan psikotik terlebih dahul tidak
dilakukan pada penelitian ini. Penggunaan kokain, amfetamin, ganja dan alkohol
tampaknya memiliki resiko besar terjadinya psikosis. Lama dan banyaknya
penggunaan, usia pertama kali penggunaan dan kerentanan menderita psikosis
karena faktor familial, kemungkinan genetik dan faktor kepribadian merupakan
penentu timbulnya psikosis. Epidemiologi dan studi biologi juga mendukung
bahwa ganja merupakan faktor pelengkap dari timbulny skizofrenia. Bukti
kausatif yang ada atas pengaruh zat-zat tersebut masih belum cukup sistematik.
Pada studi yang dilakukan dalam menulis artikel ini menggambarkan bahwa
terdapat bukti yang kuat bahwa menyalahgunaan zat berhubungan dengan resiko
kuat terjadinya psikosis dan pemeriksaan juga menunjukkan bukti kausal
perkembangan psikosis. Beberapa pemeriksan sistematik terhadap issue ini
seolah-olah seperti secercah cahaya dalam ilmu neurobiologi psikosis dan dapat
membantu populasi yang rentan dalam program pencegahan primer.

XII.

PEMBAHASAN KASUS
Kasus mengenai gangguan psikotik akibat penggunaan NAPZA ini
diangkat penulis karena ketertarikan akan peran substansi-substansi zat yang
terkandung pada NAPZA terhadap gangguan psikotik. Berdasarkan jurnal yang
didapat mengenai psikosis pada pengguna zat-zat tertentu ini, disebutkan terdapat
bukti kausal bahwa kandungan zat-zat tersebut mempengaruhi otak penggunanya.
Pada pengguna yang menggunakan alkohol dan benzodiazepin, seperti pasien
kasus ini yang menggunakan narkoba jenis Lexotan dan Nipam dari
golongan benzodiazepin serta Ciu dan Corona yang mengandung alkohol,

13

terbukti terjadi perubahan pada otak pengguna dengan pemeriksaan PET CTscan. PET (positron emission tomography) CT Scan merupakan pemeriksaan
radiologi dengan menggunakan bahan radioaktif yang dimasukkan ke dalam
tubuh. Berdasarkan penelitian dan artikel ini dan sebelumnya disebutkan pada
pengguna alkoholik terjadi hipoperfusi pada talamus sehingga menimbulkan
gejala halusinasi pada alkoholik. Pada pengguna stimulansia (MAP), MAP
mencegah ransporter dopamin sehingga menyebabkan peningkatan kadar
dopamin di celah sinaps. Pemeriksaan dengan PET menunjukkan pada pasien
psikotik karena menggunakan MAP yang sudah berhenti mengkonsumsi selama
dua bulan, rasio reseptor D2 pada korteks frontalis, nukleus accumbens, korteks
orbitofrontal dan dorsolateral prefrontal berkurang secara signifikan. Pada
pengguna

ganja

terdapat

perubahan

poliforfik

dari

gen

catechol-O-

methyltransferase (COMT) yang semakin memperbesar pengaruh ganja pada


pengguna dewasa muda untuk timbulnya psikosis pada orang dewasa. Pada
pengguna kokain, lebih dari separuh akan mengalami paranoia dan halusinasi,
terutama pada laki-laki dengan durasi dan jumlah penggunaan yang besar, dan
mempunyai BMI (body mass index) kurang. Tetapi pada pengguna kokain dan
ganja, psikosis yang berlangsung kronis jarang ditemukan. Prevalensi gejala
psikotik pada berbagai zat yang biasa disalahgunakan masing-masing adalah
sebgaia berikut, 85% pada halusinogen, 82% pada PCP (phencyclidine) 80%
pada kokain, 64% ganja, 56% amfetamin, 54% opioid, 41% pada alkohol, dan
32% pada golongan sedatif seperti benzodiazepin, 100% pada pengguna kokai
yang lama dan parah. Pada penggunaan zat multipel seperti kokain dan zat
lainnya, gejala psikosis cenderung lebih diakibatkan oleh kokain daripada zat
lainnya tersebut. Selain kontribusi zat-zat tersebut secara langsung terhadap
perubahan organik dari struktur otak yang dipengaruhi oleh lama dan banyaknya
zat yang dikonsumsi, usia pertama kali menggunakan, dan kerentanan menderita
psikosis karena faktor familial, kemungkinan genetik dan faktor kepribadian
merupakan penentu timbulnya psikosis.
Pada pasien ini penggunaan zat dimulai sejak usia muda yakni diusianya
13 tahun hingga beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, terdapat faktor

14

familial dimana ayah pasien juga menderita gangguan jiwa, dan kepribadian
pasien yang dissosiatif serta kerap melihat kekerasan di rumah semakin
memperkuat kemungkinan pasien untuk mengalami gejala psikotik walaupun
pada jurnal disebutkan penggunaan zat sedatif hanya memberikan prevalensi
menderita psikosis sebesar 32%, lebih kecil dibandingkan dengan zat-zat lainnya.

15