Anda di halaman 1dari 6

KAPITA SELEKTA

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA


Kesehatan dalam Perspektif Hukum Administrasi Negara

Oleh :
DONI SUMARDI
(3012210122)
KELAS A

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PANCASILA
2015

PRAKATA

Puji syukur kepada Allah SWT berkat rahmat serta karunia-nya sehingga
saya

dapat menyelesaikan makalah Mata kuliah Kapita Selekta Hukum

Administrasi Negara. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang dimana salah
satunya membahas mengenai studi Perspektif dalam Hukum Administrasi Negara.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada Dosen Kapita Selekta Hukum Administrasi Negara yang telah membimbing
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
guna kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. kami berharap makalah ini
dapat bermanfaat serta memberi pengetahuan baik kami maupun pembacanya dan
menjadi dasar untuk makalah selanjutkan akhir kata kami mengucapkan banyak
terima kasih.

Jakarta, 17 September 2015

A. LATAR BELAKANG

Pengertian administrasi dari bahasa latin adalah ad dan ministrare yang berarti
membantu, melayani dan memenuhi. Dalam bahasa inggris administration yang
merupakan segenap proses penyelenggaraan atau penataan tugas - tugas pokok pada
suatu usaha kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Hubungan
administrasi dengan managemen dan tata usaha sering dikacaukan pengertiannya.
Managemen merupakan bagian dari administrasi sedangkan tata usaha ialah kegiatan
pengumpulan data dan informasi dengan pencatatan secara sistematis pada suatu
organisasi.
Pengertian administrasi negara mencakup semua kegiatan negara untuk menunaikan
dan melaksanakan kebijakan negara. Jadi pengertian administrasi terdiri dari tiga unsur
yaitu (1.) kegiatan melibatkan dua orang atau lebih, (2.) kegiatan dilakukan secara
bersama-sama, dan (3.) ada tujuan yang ingin dicapai. Ada dua pengertian administrasi
negara yaitu secara luas dan sempit. Dalam arti luas sebagai bentuk kegiatan negara
dalam melaksanakan kekuatan politiknya, sedangkan dalam arti sempit sebagai kegiatan
badan eksekutif dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintahan. Melengkapi
pengertian ini Prajudi Admosudijo memberikan tiga arti dari administrasi negara, yaitu
(1) sebagai aparatur negara, aparatur pemerintahan, (2) sebagai aktifitas melayani
pemerintah, dan (3) sebagai proses tehnis penyelenggara undang-undang. Dengan
demikian administrasi negara dasar dan tujuannya adalah sesuai dengan dasar dan
tujuan negara republik Indonesia, yaitu tercapainya kesejahteraan rakyat dan keadilan
sosial. Administrasi negara yang baik memperlukan social partisipation, social
responsibility, social report dan social control.
Pengertian hukum administrasi negara berdasarkan pendapat para ahli dapat
dikemukakan bahwa hukum administrasi negara adalah peraturan-peraturan hukum
yang mengatur dan mengikat para penyelenggara negara dan pemerintahan dalam
melaksanakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Penyelenggaraan
pemerintahan yang baik adalah penyelenggaraan pemerintahan yang didasarkan pada
hukum. Sejalan dengan penalaran ini, maka hukum administrasi negara dijadikan

instrumen untuk terselenggaranya pemerintahan yang baik. Dengan adanya hukum


administrasi negara akan terlihat secara konkrit sejauh mana kualitas hubungan antara
pemerintah dengan masyarakat.
Perkembangan hukum administrasi negara sebelum abad ke-19 hukum dibagi
kedalam hukum publik dan hukum privat. Hukum publik meliputi hukum tata negara,
hukum administrasi negara dan hukum pidana. Sedangkan hukum privat terdiri dari
hukum perdata dan hukum dagang. Sesudah abad ke-19 kedudukan hukum administrasi
negara (HAN) dalam ilmu hukum tidak lagi menjadi bagian dari tata negara, tetapi
sudah merupakan hukum publik yang berdiri sendiri.
Hukum Kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung
dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan. hal tersebut menyangkut hak dan kewajiban
menerima pelayanan kesehatan (baik perorangan dan lapisan masyarakat) maupun dari
penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam segala aspeknya, organisasinya, sarana,
standar pelayanan medik dan lain-lain. Hukum Kesehatan terbagi antara hukum
kedokteran, hukum keperawatan, hukum farmasi klinik, dan hukum rumah sakit. Tujuan
dari hukum kesehatan adalah untuk mengatur tertib dan tetramnya pergaulann hidup.

B. PEMBAHASAN
Vertical Specialism dan Horizontal Specialism berbicara mengenai penerapan
Hukum Administrasi dalam dunia kesehatan. Vertical Specialism merupakan suatu
hubungan antara tenaga kesehatan sebagai subyek hukum dengan negara. Vertical
Specialism mengatur mengenai hubungan hukum antara tenaga kesehatan dengan
negara, hal ini merupakan suatu pertanggungjawaban hukum administrasi dari tenaga
kesehatan terhadap pemerintah/negara. Sehingga apabila terjadi pelanggaran, akan
muncul pertanggungjawaban administrasinya yang tidak semata - mata diancam dengan
sanksi administratif, akan tetapi juga disertai sanksi pidana.

Dalam UU Nomor 9 tahun 1960 dalam pasal 10 ayat (3) : pemerintah mengatur
kedudukan hukum, wewenang, dan kesanggupan hukum tenaga kesahatan, yang dengan
demikian mengatur bahwa seseorang yang telah menyelesaikan pendidikannya, tidak
dapat secara langsung mengamalkan ilmunya tersebut dalam masyarakat. Seseorang
tersebut harus mendapatkan izin dari Negara yang dalam hal ini adalah Menteri
Kesehatan. Hal ini pun dinyatakan dalam UU nomor 6 tahun 1963 tentang Tenaga
Kesehatan, dalam pasal 3 yang menyatakan bahwa syarat untuk melakukan pekerjaan
sebagai dokter adalah memiliki ijazah dokter yang berlaku dan memperoleh izin dari
Menteri Kesehatan. Sebagai contoh, seorang dokter yang akan membuka praktek dokter
harus memiliki surat izin praktek terlebih dahulu. Hal ini diaplikasikan dengan adanya
pendaftaran yang dilakukan oleh petinggi Universitas kepada menteri Kesehatan
terhadap para dokter yang baru saja menyelesaikan pendidikannya. Dengan adanya
pendaftaran tersebut, para dokter yang akan melakukan masa baktinya mendapatkan
surat izin ataupun surat penugasan dari Menteri kesehatan.
Dengan adanya ketentuan tersebut, maka menjamin

adanya

suatu

pertanggungjawaban dari tenaga kesehatan apabila terjadi hal-hal yang dapat


menimbulkan kerugian pada pasien.
Sedangkan yang dimaksud dengan horizontal specialism adalah hubungan antara
para tenaga kesehatan atau dalam hal ini mngenai organisasi intern para tenaga
kesehatan tersebut. Hubungan antar tenaga kesehatan ini menimbulkan adanya hukum
diantara paara anggotanya. Hukum tersebut biasanya disebut dengan hukum otonom,
yaitu ketentuan hukum yang dibuat oleh suatu organisasi profesi kesehatan tertentu,
diberlakukan hanya untuk anggota organisasi tersebut serta pengawasannya dilakukan
oleh organisasi yang bersangkutan. Dalam dunia kedokteran dikenal adanya Ikatan
Dokter Indonesia (IDI), dalam dunia keperawatan dan bidan adanya organisasi Profesi
Perawat/Bidan (PPNI/IBI) yang masing-masing mengeluarkan kode etik untuk masingmasing anggotanya dan melakukan pengawasan terhadap anggotanya. Dalam
prakteknya, seorang dokter yang melakukan kesalahan maupun pelanggaran dalam
menjalankan tugasnya, akan dikenai sanksi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berupa
teguran sampai kepada pencabutan izin praktek. Ini semua merupakan suatu usaha

untuk menjaga hak dan kewajiban health provider dan health receiver agar tercipta
suatu hubungan yang baik dan saling menghormati.
C. KESIMPULAN
Vertical Specialism dan Horizontal Specialism merupakan Penerapan di bidang
Hukum Kesehatan. Vertical Specialism merupakan suatu hubungan antara tenaga
kesehatan sebagai subyek hukum dengan negara sedangkan horizontal specialism
adalah hubungan antara para tenaga kesehatan atau dalam hal ini mengenai organisasi
intern para tenaga kesehatan tersebut. Contoh dalam Vertical Specialism adalah apabila
seseorang

telah

menyelesaikan

pendidikannya,

tidak

dapat

secara

langsung

mengamalkan ilmunya tersebut dalam masyarakat. Seseorang tersebut harus


mendapatkan izin dari Negara yang dalam hal ini adalah Menteri Kesehatan. Dan dalam
Horizontal Specialism seorang dokter yang melakukan kesalahan maupun pelanggaran
dalam menjalankan tugasnya, akan dikenai sanksi, contohnya sanksinya adalah
pencabutan izin praktek. Ini semua merupakan suatu usaha untuk menjaga hak dan
kewajiban health provider dan health receiver agar tercipta suatu hubungan yang baik
dan saling menghormati.