Anda di halaman 1dari 27

REFLEKSI KASUS

SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun oleh:
Siswanto, S. Ked.
Pembimbing:
dr. Tini Padmoningsih, Sp. KJ.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG
PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 1 DESEMBER 2014-3 JANUARI 2015

STATUS PASIEN
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT JIWA PROF. DR. SOEROJO MAGELANG
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. WOH

Usia

: 28 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Bojongsari, Purbalingga

Suku

: Jawa

Agama

: Islam

Pendidikan

: Diploma (D-II)

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Status Pernikahan

: Menikah

Tanggal Masuk RS

: 22 November 2014

No. CM

: 112825

ANAMNESIS (RIWAYAT PSIKIATRI)


Autoanamnesis pada tanggal : 12 Desember 2014
Alloanamnesis pada tanggal : 16 Desember 2014
Data alloanamnesis didapat dari keluarga:
Nama

: Tn. CS

Usia

: 32 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki


Agama

: Islam

Hubungan

: Suami

A. Keluhan Utama
Pasien dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang
(RSJS) oleh suaminya dengan keluhan pasien tidak mengenali keluarganya
dan bicara sendiri sejak 3 bulan yang lalu.

B. Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien datang ke RSJS Magelang diantar oleh suaminya dengan
keluhan pasien tidak mengenali keluarganya dan bicara sendiri sejak 3 bulan
yang lalu. Pasien sering mengurung diri di rumah dan tidak ada keinginan
untuk melakukan aktivitas apapun.
Menurut cerita pasien, mula awalnya sebelum pergi ke Jakarta pasien
sudah sakit dan lemas badannya hampir lunglai, tapi pasien tetap pergi ke
sana. Sempat orang tua mengajak berobat dahulu sebelum ke Jakarta, tapi
pasien menolak dan lebih berkeinginan tetap ke sana. Sampai akhirnya tiba di
Jakarta, pasien sering mendengar suara-suara yang menyuruh/mendorongnya
keluar rumah, lalu malam harinya pasien keluar rumah. Dan kemudian pasien
tersesat di sebuah rumah yang penghuninya bukan manusia lazimnya,
sehingga pasien berpikiran apakah pasien sudah meninggal. Itulah pertama
kali pasien merasa tersesat dan merasa ada dorongan hati untuk meninggalkan
rumah dan mencari ruh, karena pada waktu itu pasien mengetahui dirinya
akan meninggal. Akan tetapi, pasien masih sayang dengan orang tuanya dan
anak-anaknya, sehingga berasanya belum ingin mati.
Pasien mengaku pernah dipaksa masuk ke rumah kosong belakang
kontrakan suami, lalu berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang
mendengar. Pada saat sudah pagi, pintu rumahnya dibuka seolah-olah mau
menolong, tapi ternyata malah dikurung. Pasien sempat ingin mengeluarkan
diri, tapi tidak berhasil. Pada waktu itu, saat malam hari, pasien mengatakan
bahwa ingin meninggal, karena serasa lemah dan ruh seperti sudah di kepala.
Pasien pernah berobat di Rumah Sakit Jiwa Temanggung di
Purbalingga kurang lebih 10 hari pada 3 bulan yang lalu sebelum masuk ke
RSJS, setelah itu pernah berobat alternatif dan dirawat di pondok pesantren
selama 8 hari, dan kemudian dibolehkan pulang.
Setelah pasien kembali ke rumah, pasien masih dapat beraktivitas
seperti biasa. Namun, pasien merasa ada keganjilan. Sebelumnya pasien yang
merasa senang, kemudian menjadi murung dan tidak bisa beraktivitas seperti
biasanya karena menurut pasien hatinya tidak bisa dibohongi oleh kemiripan

sosok keluarganya. Pasien menjadi tidak bisa beinteraksi dan berkomunikasi


dengan keluarga maupun dengan orang lain di sekitarnya. Selain itu, pasien
sangat merasa yakin bahwa suami dan anak-anaknya akan meninggalkannya,
sehingga pasien sering sedih dan murung. Tidak lama setelah kepulangannya
di rumah, pasien diajak untuk menjenguk keluarganya di Magelang, tetapi
pasien malah dibawa ke RSJS Magelang untuk diobati dan dirawat.
Grafik perjalanan penyakit:

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Psikiatri
Pasien pernah dirawat sebelumnya di Rumah Sakit Jiwa Temanggung di
Purbalingga. Pasien maupun keluarga pasien lupa mengenai lama
perawatan dan jenis pengobatan yang diberikan kepada pasien.
2. Riwayat Medis Umum
Riwayat trauma kepala, kejang, hipertensi, asma, diabetes mellitus, dan
penyakit ginjal disangkal.
3. Riwayat Obat-Obatan dan Alkohol
Penggunaan NAPZA dan merokok disangkal.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Tidak ada data yang valid mengenai riwayat pasien.
2. Riwayat Masa Anak-Anak Awal (0-3 Tahun)
Tidak ada data yang valid mengenai riwayat pasien.
3. Riwayat Masa Anak-Anak Tengah (3-11 Tahun)
Tidak ada data yang valid mengenai riwayat pasien.
4. Riwayat Masa Anak-Anak Akhir dan Remaja (11-18 Tahun)
Tidak ada data yang valid mengenai riwayat pasien.
5. Riwayat Masa Dewasa
a. Riwayat Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah tamat diploma (D-II).
b. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sebelum menikah pasien
pernah bekerja sebagai PKL di Dirjen BIPH Urusan Haji di
Departemen Agama Jakarta Pusat dan pernah menjadi ketua HIMA
PGTK Seksi Keagamaan.
c. Riwayat Pernikahan
Pasien sudah menikah. Pasien sangat senang memiliki suami yang
baik, pengertian,dan suka bercanda.
d. Riwayat Aktivitas dan Psikososial
Pasien termasuk orang yang periang dan sering berinteraksi dan
bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Pasien mengaku
sangat senang saat kedatangan keluarga jauh, saat berkumpul-kumpul
keluarga, saat mengunjungi tempat tinggal saudara, dan saat rekreasi
bersama keluarga. Pasien mengaku bisa berperan menjadi ibu yang
sayang keluarga, menjadi istri yang baik, menjadi tetangga yang baik,
dan bermanfaat dalam masyarakat.
e. Riwayat Hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum.

f. Riwayat Keagamaan
Pasien beragama islam dan dibesarkan dalam keluarga islam. Pasien
taat menjalankan shalat lima waktu.
g. Riwayat Psikoseksual
Pasien mengaku mengalami menstruasi pertama kali pada saat SMP.
Tidak pernah berhubungan seksual sebelum menikah, tetapi pasien
mengaku pernah dicabuli oleh pamannya sendiri waku berusia 5
tahun.
h. Riwayat Situasi Hidup Sekarang
Pasien tinggal bersama dengan keluarganya,yaitu suaminya dan kedua
anaknya. Keadaan ekonomi cukup.
E. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Tidak

ditemukan

keluhan/gangguan yang sama di dalam keluarganya.


Genogram:

Keterangan:
: Laki-Laki
: Perempuan
: Pasien

----- : Tinggal serumah


Taraf Kepercayaan
Autoanamnesis: Dapat dipercaya
Alloanamnesis : Dapat dipercaya
III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis/Internus
1. Kesadaan Umum : Baik, kesan gizi cukup
2. Kesadaran : Compos mentis (GCS 15)
3. Tanda Vital :
a. Tekanan darah

: 120/80 mmHg

b. Nadi

: 84x/menit

c. Pernapasan

: 20x/menit

d. Suhu

: 36,7C (afebris)

4. Kepala

: Normosefali, tidak ditemukan bekas luka

5. Mata

: Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-, pupil isokor 3

mm, RCL +/+, RCTL +/+


6. Leher

: Kelenjar getah bening dan tiroid tidak teraba membesar

7. Paru

: Suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

8. Jantung

: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

9. Abdomen

: Datar, bising usus (+), supel, nyeri tekan (-)

10. Ekstremitas : Tonus dan pergerakan normal, edema (-), akral hangat (+)
B. Status Neurologis
1. GCS

: E4V5M6 = 15

2. Kaku Kuduk

:-

3. Nervus Kranialis

: Tidak ada kelainan

4. Pemeriksaan Motorik:

Superior

Inferior

Kekuatan

5/5

5/5

Gerakan

Bebas/Bebas

Bebas/Bebas

Tonus

N/N

N/N

IV.

Trofi

Eu/Eu

Eu/Eu

Refleks Fisiologis

+/+

+/+

Refleks Patologis

-/-

-/-

Pemeriksaan Sensibilitas:

+/+

+/+

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 15 Desember 2014 di RSJS Magelang.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan: Tampak seorang perempuan, sesuai umur, rawat diri baik,
berpakaian lengkap dan rapi.
2. Kesadaran
a. Kesadaran Neurologis : Jernih (compos mentis)
b. Kesadaran Psikologis : Terganggu (berkabut)
c. Kesadaran Sosial

: Mampu berkomunikasi dan berinteraksi

3. Pembicaraan
a. Kualitas

: Lambat, pelan, lancar

b. Kuantitas

: Banyak kata yang diucap

4. Tingkah Laku : Hipoaktif


5. Sikap terhadap pemeriksa : Kurang kooperatif
B. Alam Perasaan
1. Mood : Hipotim
2. Afek

: Appropriate, blunted

C. Gangguan Persepsi
1. Ilusi

:-

2. Halusinasi

: Auditorik (+): Sudah berkurang Pasien merasa

mendengar suara yang menyuruhnya keluar rumah.


3. Depersonalisasi

:-

4. Derealisasi

:-

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : Non-realistic
2. Arus pikir

: Miskin ide, remming

: Waham curiga (+) Pasien sangat yakin akan

3. Isi pikir

ditinggalkan oleh suaminya.


E. Sensorium dan Kognisi
1. Tingkat Kesadaran

: Jernih

2. Orientasi Waktu

: Baik

Tempat

: Baik

Orang

: Baik

Situasional

: Baik

3. Daya Ingat Segera

: Baik

Jangka Pendek

: Baik

Jangka Panjang : Baik


4. Konsentrasi

: Baik

5. Perhatian

: Mudah ditarik

6. Kemampuan Baca Tulis

: Baik

7. Kemampuan Visuospasial

: Baik

8. Pikiran Abstrak

: Baik

F. Pengendalian Impuls : Cukup


G. Tilikan : Impaired insight
Pemeriksaan status mental pada tanggal 22 November 2014 di RSJS Magelang.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan: Tampak seorang perempuan, sesuai umur, rawat diri baik,
berpakaian lengkap dan rapi.
2. Kesadaran
a. Kesadaran Neurologis

: Jernih (compos mentis)

b. Kesadaran Psikologis

: Terganggu (berkabut)

c. Kesadaran Sosial

: Mampu berkomunikasi dan berinteraksi

3. Pembicaraan
a. Kualitas

: Lambat, pelan, tidak lancar

b. Kuantitas : Sedikit kata-kata yang diucap


4. Tingkah Laku : Hipoaktif

5. Sikap terhadap Pemeriksa : Tidak kooperatif


B. Alam Perasaan
1. Mood

: Hipotim

2. Afek

: Appropriate, blunted, labil

C. Gangguan Persepsi
1. Ilusi

:-

2. Halusinasi

: Auditorik (+) Pasien merasa mendengar suara yang

menyuruhnya keluar rumah.


3. Depersonalisasi

:-

4. Derealisasi

:-

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : Non-realistic
2. Arus pikir

: Miskin ide, remming

3. Isi pikir

: Waham nihilistik (+) Pasien yakin mengetahui bahwa

dia akan meninggal dan merasa seperti ruhnya sudah berada di kepala,
serta berkeinginan untuk mencari ruhnya, waham curiga (+) Pasien
sangat takut ditinggalkan oleh suaminya.
E. Sensorium dan Kognisi
1. Tingkat Kesadaran

: Jernih

2. Orientasi Waktu

: Baik

Tempat

: Baik

Orang

: Baik

Situasional

: Baik

3. Daya Ingat Segera


Jangka Pendek

: Baik
: Baik

Jangka Panjang : Baik


4. Konsentrasi

: Mudah terganggu

5. Perhatian

: Susah ditarik

6. Kemampuan Baca Tulis

: Cukup

7. Kemampuan Visuospasial

: Baik

8. Pikiran Abstrak

: Baik

10

F. Pengendalian Impuls : Cukup


G. Tilikan : Impaired insight
V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 23 November 2014:
Jenis Pemeriksaan
Hb
Eritrosit
Leukosit
Glukosa
Ureum
Kreatinin
Albumin
Kolesterol
SGOT
SGPT

Hasil
12,1 g/dl
4,89juta/l
7.490/l
89 mg/dl
10 mg/dl
0,6 mg/dl
4,42 g/dl
177 mg/dl
26,3 U/l
11,5 U/l

Nilai Normal
12-16 g/dl
4-5juta/l
5.000-10.000/l
75-115 mg/dl
10-50 mg/dl
0,5-1,1 mg/dl
3,8-5,1 g/dl
<200 mg/dl
0-31 U/l
0-32 U/l

Keterangan
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Pemeriksaan EKG pada tanggal 9 Desember 2014 Dalam batas normal:

11

VI.

RESUME
-

Gejala
Pasien sering mendengar suara-suara
yang
menyuruh/mendorongnya
keluar rumah
Pasien mengaku tersesat di
sebuah
rumah
yang penghuninya
bukan manusia lazimnya.
Pasien
merasa
ada dorongan hati untuk meninggalkan
rumah
dan mencari ruh, karena pada waktu itu pasien
mengetahui dirinya akan meninggal.
Pasien mengatakan bahwa
ingin meninggal, karena
serasa lemah dan ruh
seperti sudah di kepala
Sebelumnya pasien yang
merasa senang, kemudian
menjadi murung dan tidak bisa beraktivitas
seperti biasanya karena
menurut pasien hatinya
tidak bisa dibohongi oleh
kemiripan
sosok
keluarganya.
Pasien sangat merasa yakin
bahwa suami dan anakanaknya
akan
meninggalkannya,
sehingga pasien sering
sedih dan murung

Status Mental
Hendaya
Pembicaraan:
- Pasien
menjadi
o Kualitas:
Lambat,
murung,
sedih,
sampai tidak bisa
pelan, tidak lancar
beraktivitas seperti
o Kuantitas:
Sedikit
biasanya.
kata-kata yang diucap
- Pasien menjadi tidak
Behaviour: Hipoaktif
mampu berinteraksi
Attitude:
Kurang
dan berkomunikasi
kooperatif
dengan
keluarga
Mood: Hipotim
maupun
dengan
Afek:
Inappropriate,
orang
lain
di
blunted, labil
sekitarnya.
Gangguan
persepsi:
Halusinasi auditorik (+)
Proses pikir:
o Bentuk pikir: Nonrealistic
o Arus pikir: Miskin
ide, remming
o Isi pikir: Waham
nihilistik,
waham
curiga
Sensorium dan kognisi:
o Konsentrasi: Mudah
terganggu
o Perhatian:
Susah
ditarik
Tilikan: Impaired insight

12

VII.

DIAGNOSIS BANDING
F20.0 Skizofrenia Paranoid
Pedoman Diagnostik Menurut PPDGJ III
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
Sebagai tambahan:

Pada Pasien Ini


Terpenuhi

1. Halusinasi dan/atau waham harus menonjol:


a) suarasuara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi Terpenuhi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi
tawa (laughing);
b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, Tidak terpenuhi
atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada
tetapi jarang menonjol;
c) waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham Terpenuhi
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau passivity (delusion of passivity), dan keyakinan
dikejarkejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;
2. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta
gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

Terpenuhi

F20.3 Skizofrenia Tak Terinci


Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III

Pada pasien ini

Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.

Terpenuhi

Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia Tidak terpenuhi


paranoid, hebefrenik, dan katatonik.
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau Tidak terpenuhi
depresi pasca-skizofrenia.

13

F25.1 Skizoafektif Tipe Depresif


Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III
Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe

Pada pasien ini


Tidak terpenuhi

depresif yang tunggal, maupun untuk gangguan berulang dimana


sebagian besar episode didominasi oleh skizoafektif tipe depresif.
Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala

Terpenuhi

khas, baik depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti


tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F32).
Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas ada satu, dan

Tidak terpenuhi

sebaiknya ada dua, gejala khas skizofrenia (sebagaimana


ditetapkan dalam pedoman diagnostik skizofrenia, F20.- pedoman
diagnostik (a) sampai dengan (d)).

VIII.

DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
AKSIS I

: F20.0 Skizofrenia Paranoid

AKSIS II

: R46.8 Diagnosis aksis II tertunda

AKSIS III : Tidak ada diagnosis


AKSIS IV : Tidak ada diagnosis
AKSIS V
IX.

: GAF admission: 40-31

PENATALAKSANAAN
A. Psikofarmaka
1. Obat antipsikotik:
Emergency: Injeksi Haloperidol IM 5 mg (1 Ampul)
Maintenance: Risperidone Tablet 2 x 2 mg
2. Obat sedasi:
Injeksi Diazepam IV 5 mg (1 Ampul)

14

B. Non Farmakoterapi
1. Rawat inap
2. Edukasi keluarga
a. Menjelaskan tentang penyakit pasien kepada keluarga, perjalanan
penyakit dan prognosisnya.
b. Menasihati keluarga untuk memberikan dukungan moral kepada
pasien.
c. Menasihati keluarga untuk memahami cara berpikir pasien.
d. Menasihati keluarga agar mengawasi pasien ketika minum obat dan
membawa pasien kontrol tepat waktu.
Terapi anjuran : Terapi elektrokonvulsif (ECT)

X.

PROGNOSIS
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Faktor Risiko
Onset lambat
Faktor pencetus jelas
Riwayat pekerjaan, sosial, premorbid baik
Menikah
Sistem pendukung baik
Gejala positif menonjol
Non-genetik
Usia 15-25 tahun
Tidak ada kekambuhan
Kesimpulan

Terpenuhi

Prognosis

Tidak
Buruk
Tidak
Buruk
Ya
Baik
Ya
Baik
Ya
Baik
Ya
Baik
Ya
Baik
Tidak
Baik
Tidak
Buruk
Dubia ad bonam

15

TINJAUAN PUSTAKA
SKIZOFRENIA PARANOID
Latar Belakang
Skizofrenia

merupakan

psikosis

fungsional

paling

berat,

dan

menimbulkan disorganisasi personalitas terbesar, pasien tidak mempunyai


realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal di Rumkital Dr. Ramelan
PAV VI A terdapat 16 klien (100%) dan ada 4 klien yang mengalami gangguan
skizofrenia paranoid (25%). Di Indonesia, sekitar 12% dari total jumlah
penduduk

mengalami

skizofrenia,

yaitu

mencapai

per

1000

penduduk, prevalensi 1,44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4,6 per 1000
penduduk di pedesaan berarti jumlah penyandang skizofrenia 600.000 orang
produktif.
Salah satu bentuk gangguan jiwa yang terdapat di seluruh dunia adalah
gangguan jiwa skizofrenia. Skizofrenia berasal dari dua kata Skizo yang artinya
retak atau pecah (split), dan frenia yang artinya jiwa. Secara klasik skizofrenia
tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar,
jalannya penyakit agak konstan. Pikiran melayang (flight of ideas) lebih sering
terdapat pada mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis, 2005).
Kriteria waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998), yang mengatakan
kondisi klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah.
Waham menurut Maramis (1998), Keliat (1998), dan Ramdi (2000)
menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak
sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang
kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat
diubah-ubah. Mayer-Gross dalam Maramis (1998) membagi waham dalam 2
kelompok, yaitu primer dan sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis,
tanpa penyebab dari luar, sedangkan waham sekunder biasanya logis
kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara untuk menerangkan gejalagejala skizofrenia lain, waham dinamakan menurut isinya, salah satunya adalah
waham kebesaran. Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American

16

Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk


dunia menderita skizofrenia. 75% penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada
usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena
tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari
keluarga

dan

lingkungannya

karena

dianggap

sebagai

bagian

dari

tahap penyesuaian diri.


Skizofrenia didiagnosis berdasarkan gejala profil. Berkorelasi saraf tidak
memberikan kriteria cukup berguna. Diagnosis didasarkan pada yang dilaporkan
sendiri pengalaman orang tersebut, dan kelainan pada perilaku yang dilaporkan
oleh anggota keluarga, teman atau rekan kerja, diikuti dengan penilaian klinis
oleh seorang psikiater, pekerja sosial, psikolog klinis, atau profesional kesehatan
mental lainnya.
Definisi
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinya retak atau
pecah (split), dan frenia yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang
menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau
keretakan kepribadian (Hawari, 2003).
Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab
(banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
pertimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya (Hawari, 2003).
Skizofrenia adalah gangguan terhadap fungsi otak yang timbul akibat
ketidakseimbangan dopamin (salah satu sel kimia dalam otak), dan juga
disebabkan oleh tekanan yang dialami oleh individu. Merupakan gangguan jiwa
psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons
emosional dan menarik diri dari hubungan sosial. Seringkali diikuti dengan delusi
(keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Skizofrenia paranoid adalah yang terbanyak dialami oleh penderita skizofrenia.
Terapi pada pasien ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi sosial, sehingga
dapat memiliki peran sosial di masyarakat.

17

Tinjauan Teori
1.

Teori Somatogenik
a. Keturunan
Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi
saudara tiri 0,9-1,8%, bagi saudara kandung 7-15%, bagi anak dengan salah
satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68%, kembar 2 telur 2-15% dan
kembar satu telur 61-86% (Maramis, 1998; 215).
b. Endokrin
Teori

ini

dikemukakan

berhubung

dengan

sering

timbulnya

skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan


waktu klimakterium, tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.
c. Metabolisme
Teori ini didasarkan karena penderita skizofrenia tampak pucat, tidak
sehat, ujung ekstremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat
badan menurun, serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat
asam menurun. Hipotesis ini masih dalam pembuktian dengan pemberian
obat halusinogenik.
d. Susunan Saraf Pusat
Penyebab skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP, yaitu pada
diensefalon atau korteks otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan
mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefak
pada waktu membuat sediaan.
2.

Teori Psikogenik
a. Teori Adolf Meyer
Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit fisik/jasmani sebab hingga
sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis
yang khas pada SSP, tetapi Meyer mengakui bahwa suatu konstitusi yang
inferior atau penyakit fisik/jasmaniah dapat mempengaruhi timbulnya
skizofrenia. Menurut Meyer, skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah,
suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lamakelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (autisme).

18

b. Teori Sigmund Freud


Pada skizofrenia paranoid terdapat:
1) Kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun
somatic.
2) Superego dikesampingkan, sehingga tidak bertenaga lagi dan ide yang
berkuasa, serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.
3) Kehilangan kapasitas untuk pemindahan (transference), sehingga
terapi psikoanalitik tidak mungkin.
c. Eugen Bleuler
Penggunaan istilah skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit
ini, yaitu jiwa yang terpecah-belah, adanya keretakan atau disharmoni antara
proses berpikir, perasaan, dan perbuatan. Bleuler membagi gejala skizofrenia
menjadi 2 kelompok, yaitu gejala primer (gangguan proses pikiran, gangguan
emosi, gangguan kemauan, dan autisme) dan gejala sekunder (waham,
halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).
d. Teori Lain
Skizofrenia sebagai suatu sindrom yang dapat disebabkan oleh
bermacam-macam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah,
maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit fisik seperti sifilis otak, aterosklerosis
otak, dan penyakit lain yang belum diketahui.
Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala menurut Bleuler:
1. Gejala Primer
a. Gangguan proses pikir (bentuk, langkah, dan isi pikiran). Yang paling
menonjol adalah gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi.
b. Gangguan afek-emosi. Terjadi kedangkalan afek-emosi.

Hilangnya

kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik.


c. Gangguan kemauan
Terjadi kelemahan kemauan
Perilaku negativisme atas permintaan
Otomatisme: merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain
d. Gejala Psikomotor
Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme

19

Stereotipi
Katelepsi: mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama
Ekolalia dan Ekopraksia
2. Gejala Sekunder
a. Delusi
b. Halusinasi
c. Cara bicara/berpikir yang tidak teratur.
d. Perilaku negatif, misalkan kasar, kurang termotivasi, muram, perhatian
menurun.
Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam
jalannya penyakit. Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama-kelamaan
menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simpleks, atau gejala-gejala hebefrenik
dan katatonik bercampuran. Skizofrenia paranoid memiliki perkembangan gejala
yang konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai
dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara lebih teliti
juga didapatkan gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya
mungkin subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit
sering dapat digolongkan skizoid, mudah tersinggung, suka menyendiri, dan
kurang percaya pada orang lain. Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia
paranoid dapat didiganosis apabila terdapat butir-butir berikut:
Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
Sebagai tambahan:
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol:

Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang saling berkomentar tentang diri
pasien, yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau tanpa bentuk
verbal berupa bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa.
Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau
lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol.

20

Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan


(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau
passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang
beraneka ragam, adalah yang paling khas.
o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala
katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.
Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu
atau lebih delusi atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul
pada usia lebih tua daripada pasien skizofrenik hebefrenik atau katatonik.
Kekuatan ego pada pasien skizofrenia paranoid cenderung lebih besar dari pasien
katatonik dan hebefrenik. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang
lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional, dan perilakunya
dibandingkan tipe skizofrenik lain.
Pasien skizofrenik paranoid biasanya bersikap tegang, pencuriga, berhatihati, dan tak ramah. Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif. Pasien
skizofrenik paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka secara
adekuat di dalam situasi sosial. Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh
gangguan psikosis mereka dan cenderung tetap intak.
Cara Pengobatan
Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama
menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju ke
kemunduran mental.
Terapist jangan melihat kepada penderita skizofrenia sebagai penderita
yang tidak dapat disembuhkan lagi atau sebagai suatu makhluk yang aneh dan
inferior. Bila sudah dapat diadakan kontan, maka dilakukan bimbingan tentang
hal-hal yang praktis.
Biarpun penderita mungkin tidak sempurna sembuh, tetapi dengan
pengobatan dan bimbingan yang baik penderita dapat ditolong untuk berfungsi
terus, bekerja sederhana di rumah ataupun di luar rumah.

21

Keluarga atau orang lain di lingkungan penderita diberi penerangan


(manipulasi lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya.
1. Farmakoterapi
Neuroleptika dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita
dengan skizofrenia yang menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih
berfaedah pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat. Pada penderita
paranoid trifuloperazin rupanya lebih berhasil. Dengan fenotiazin biasanya
waham dan halusinasi hilang dalam waktu 2-3 minggu. Bila tetap masih ada
waham dan halusinasi, maka penderita tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi
lebih tidak kooperatif, tidak mau ikut serta dengan kegiatan lingkungannya dan
tidak mau turut terapi kerja.
Sesudah gejala-gejala menghilang, maka dosis dipertahankan selama
beberapa bulan lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan
skizofrenia itu sudah lebih dari satu kali, maka sesudah gejala-gejala mereda,
obat diberi terus selama satu atau dua tahun.
Kepada pasien dengan skizofrenia menahun, neuroleptika diberi dalam
jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya dengan dosis yang naik turun sesuai
dengan keadaan pasien (seperti juga pemberian obat kepada pasien dengan
penyakit fisik/jasmaniah yang menahun, seperti diabetes mellitus, hipertensi,
payah jantung, dan sebagainya). Senantiasa kita harus awas terhadap gejala/efek
samping.
Hasilnya lebih baik bila neuoleptika mulai diberi dalam dua tahun
pertama dari penyakit. Tidak ada dosis standar untuk obat ini, tetapi dosis
ditetapkan secara individual.

22

2. Terapi Elektro-Konvulsi (TEK/ECT)


Seperti juga dengan terapi konvulsi yang lain, cara bekerjanya
elektrokonvulsi belum diketahui dengan jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi
konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak
dengan penderita. Akan tetapi, terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang
akan datang.
Bila dibandingkan dengan terapi koma insulin, maka dengan ECT lebih
sering terjadi serangan ulangan. Akan tetapi, ECT lebih mudah diberikan bila
dilakukan secara ambulant, bahaya lebih kurang, lebih murah, dan tidak
memerlukan tenaga yang khusus pada terapi koma insulin.
ECT baik hasilnya pada jenis katatonik terutama stupor. Terhadap
skizofrenia simpleks efeknya mengecewakan; bila gejala hanya ringan dan diberi
ECT, kadang-kadang gejala menjadi lebih berat.
3. Terapi Koma Insulin
Meskipun pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan
penyakit, hasilnya memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar bila dimulai
dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit. Terapi koma insulin memberi
hasil yang baik pada katatonia dan skizofrenia paranoid.
4. Psikoterapi dan Rehabilitasi
Psikoterapi dalam bentuk psikoanalisis tidak membawa hasil yang
diharapkan bahkan ada yang berpendapat tidak boleh dilakukan pada penderita
dengan skizofrenia karena justru dapat menambah isolasi dan autisme. Yang
dapat membantu penderita ialah psikoterapi suportif individual atau kelompok,
serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke
masyarakat.
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan
orang lain, penderita lain, perawat, dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak
mengasingkan diri lagi, karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk kebiasaan
yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan
bersama. Pemikiran masalah falsafat atau kesenian bebas dalam bentuk melukis
bebas atau bermain musik bebas, tidak dianjurkan sebab dapat menambah

23

autisme. Bila dilakukan juga, maka harus ada pemimpin dan ada tujuan yang
lebih dahulu ditentukan.
Perlu juga diperhatikan lingkungan penderita. Bila mungkin diatur
sedemikian rupa, sehingga ia tidak mengalami stres terlalu banyak. Bila mungkin
sebaiknya ia dikembalikan ke pekerjaan sebelum sakit, dan tergantung pada
kesembuhan apakah tanggung jawabnya dalam pekerjaan itu akan penuh atau
tidak.
5. Lobotomi Prefrontal.
Dapat dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila
penderita sangat mengganggu lingkungannya. Jadi, prognosis skizofrenia tidak
begitu buruk seperti dikira orang sampai dengan pertengahan abad ini. Lebihlebih dengan neuroleptika, lebih banyak penderita dapat dirawat di luar rumah
sakit jiwa. Dan memang seharusnya demikian. Sedapat-dapatnya penderita harus
tinggal di lingkungannya sendiri, harus tetap melakukan hubungan dengan
keluarganya untuk memudahkan proses rehabilitasi. Dalam hal ini dokter umum
dapat memegang peranan yang penting, mengingat juga kekurangan ahli
kedokteran jiwa di negara kita. Dokter umum lebih mengenal penderita dengan
lingkungannya, keluarganya, rumahnya, dan pekerjaannya, sehingga ia lebih
dapat menolong penderita hidup terus secara wajar dengan segala suka dan
dukanya.
6. Katarsis
Proses katarsis sangat dikenal dalam psikologi, terutama dalam aliran
psikoanalisis. Maksudnya adalah adanya pelepasan emosi-emosi yang terpendam.
Proses katarsis sangat penting bagi orang-orang yang sedang menghadapi
masalah emosional. Pada umumnya orang-orang yang menghadapi masalah yang
sangat berat atau menghadapi situasi yang menyedihkan, mengecewakan,
menjengkelkan atau seringkali tidak mau atau tidak bisa mengungkapkannya
kepada orang lain. Mereka lebih senang memendamnya dalam hatinya sendiri
atau berusaha melupakanny. Tapi justru dengan menekan segala macam perasaan,
emosi pikiran-pikiran yang mengganggu alam bawah sadarnya, maka timbul
berbagai macam gangguan-gangguan psikologis, seperti depresi, kecemasan atau

24

berbagai bentuk penyakit fisik, seperti penyakit jantung, penyakit hati, atau
tekanan darah tinggi.
Kesimpulan
Skizofrenia paranoid merupakan gangguan psikotik yang merusak, yang
dapat melibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi
(halusinasi), pembicaraan, emosi, dan perilaku. Keyakinan irasional bahwa
dirinya seorang yang penting (delusi grandiosa) atau isi pikiran yang
menunjukkan kecurigaan tanpa sebab yang jelas, seperti bahwa orang lain
bermaksud buruk atau bermaksud mencelakainya. Para penderita skizofrenia tipe
paranoid secara mencolok tampak berbeda karena delusi dan halusinasinya,
sementara keterampilan kognitif dan afek mereka relatif utuh. Mereka pada
umumnya tidak mengalami disorganisasi dalam pembicaraan atau afek datar.
Penanganan skizofrenia paranoid dapat dilakukan dengan beberapa
pendekatan seperti:
1.
2.
3.
4.

Farmakoterapi
Terapi elektro-konvulsi (TEK/ECT)
Terapi koma insulin
Psikoterapi dan rehabilitasi, yaitu psikoterapi suportif individual atau

kelompok
5. Lobotomi prefrontal
6. Katarsis
7. Hipnotis

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan dan Sadock. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku dan
Psikiatri Klinis. Edisi Ketujuh. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. Hlm: 685729.
2. Maslim R. Panduan Praktis: Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Cetakan
III. Jakarta: PT. Nuh Jaya; 2007. Hlm: 14-22.
3. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya; 2003. Hlm: 46-49.
4. Chandra, Andi. 2011. Psikologi Abnormal. Medan: Universitas Medan Area.
5. Maramis WF. 2009. Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi Kedua. Surabaya: Pusat
Penerbitan dan Percetakan.
6. Maslim R. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas
dari PPDGJ-III. Jakarta: PT. Nuh Jaya.

26

Jurnal (Juni 2014)


ECT: Its Brain Enabling Effects
A Review of Electroconvulsive Therapy-Induced Structural Brain Plasticity
Latar Belakang: Sejak 2 dekade terakhir, bukti baru tentang plastisitas otak telah
menyebabkan sebuah perubahan pada kedua penelitian ECT preklinis dan klinis
dari pemalsuan hipotesis kerusakan otak terhadap penyelidikan efek-efek
kemungkinan neuroplastisitas otak.
Metode: Dengan meninjau kembali literatur manusia dan hewan yang tersedia,
kami telah memeriksa teori bahwa perubahan struktural menginduksi kejang
sangat penting untuk keefektifan terapi ECT.
Hasil: Antara penelitian menusia dan

hewan

mengusulkan

stimulasi

elektrokonvulsif/terapi

(ECT)

berhubungan

dengan

elektrokonvulsif

neuroplastisitas (neurogenesis, sinaptogenesis, angiogenesis, atau gliogenesis).


Kesimpulan: Masih tetap belum jelas apakah perubahan struktural dapat
menjelaskan keefektifan terapi dan/atau dapat dihubungkan ke kerusakan kognitif
dan memori (sementara) setelah ECT. Metode untuk menilai secara in vivo
plastisitas otak dari pasien yang telah diterapi dengan ECT akan menjadi
kepentingan khusus pada penelitian masa depan longitudinal untuk memberikan
dukungan pada data sistem/koreksi yang tersedia sekarang ini.

27