Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Protein merupakan kelompok dari makromolekul organik kompleks yang

diantaranya terkandung hidrogen, okisgen, nitrogen, karbon, fosfor dan sulfur


serta terdiri dari satu atau beberapa rantai dari asam amino.
Pengertian protein dalam ilmu gizi adalah suatu kelompok makronutrisi
berupa senyawa asam amino yang berfungsi sebagai zat pembangun dan
pendorong metabolisme dalam tubuh. Zat ini tidak dapat dihasilkan sendiri oleh
manusia kecuali lewat makanan seperti halnya makanan yang mengandung
protein.
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain diantaranya
polinukleotida, polisakarida, lipid, dan yang merupakan penyusun utama dalam
perkembangan makhluk hidup. Protein juga merupakan salah satu molekul yang
paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan pertama kali oleh Jns
Jakob Berzelius pada tahun 1838.
Analisis protein dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan dua metode
yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Kadar protein yang ditentukan berdasarkan
cara Kjeldahl disebut sebagai kadar protein kasar (crude protein) karena terikut
senyawaan N bukan protein. Prinsip kerja dari metode Kjeldahl adalah protein dan
komponen organic dalam sampel didestruksi dengan menggunakan asam sulfat
dan katalis. Hasil destruksi dinetralkan dengan menggunakan larutan alkali dan
melalui destilasi. Destilat ditampung dalam larutan asam borat. Selanjutnya ionion borat yang terbentuk dititrasi dengan menggunakan larutan HCl.
Uji kualitatif protein adalah untuk mengetahui di dalam sampel apakah
terkandung protein atau tidak. Ada 9 cara untuk uji kualitatif protein, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Reaksi Biuret
Reaksi Milion
Reaksi Xantoprotein
Reaksi Hopkims Cole
1

5.
6.
7.
8.
9.

Reaksi Ninhidrin
Reaksi Ehrlich
Reaksi Sakaguchi
Reaksi Sullivan
Reaksi Diazotasi Pauli

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Biuret?
2. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Milion?
3. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Xantoprotein?
4. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Hopkims Cole?
5. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Ninhidrin?
6. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Ehrlich?
7. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Sakaguchi?
8. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Sullivan?
9. Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi Diazotasi Pauli?
1.3.

Tujuan Penulisan
Untuk Mengetahui Bagaimana Metode, Reaksi dan Spesifikasi Reaksi,

Biuret, Milion, Xantoprotein, Hopkims Cole, Ninhidrin, Ehrlich, Sakaguchi, dan


Sullivan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Uji Biuret
2

Uji biuret digunakan untuk menunjukkan adanya ikatan peptida dalam


suatu zat yang diuji. Adanya ikatan peptida mengindikasikan adanya protein,
karena asam amino berikatan dengan asam amino yang lain melalui ikatan peptida
membentuk protein. Ikatan peptida merupakan ikatan yang terbentuk ketika atom
karbon dari gugus karboksil suatu molekul berikatan dengan atom nitrogen dari
gugus amina molekul lain. Reaksi tersebut melepaskan molekul air sehingga
disebut reaksi kondensasi.

Gambar di atas menunjukkan adanya dua molekul asam amino yang


berikatan dengan ikatan peptida dan membentuk molekul protein. Ikatan peptida
tersebut yang akan bereaksi dengan reagen biuret menghasilkan perubahan warna.
Reaksi positif uji biuret ditunjukkan dengan munculnya warna ungu atau merah
muda akibat adanya persenyawaan antara Cu++ dari reagen biuret dengan NH
dari ikatan peptida dan O dari air. Semakin panjang ikatan peptida (banyak asam
amino yang berikatan) akan memunculkan warna ungu, semakin pendek ikatan
peptida (sedikit asam amino yang berikatan) akan memunculkan warna merah
muda.
Bahan dan pereaksi:

NaOH 10%, CuSO4 0,1%

Bahan yang akan diuji dalam bentuk larutan.

Langkah kerja:

Masukkan bahan yang akan diuji dalam tabung reaksi sebanyak 2 ml.

Masukkan 2 ml NaOH 10% dalam tabung yang sama.

Tetesi larutan diatas dengan 1-10 tetes CuSO4 0,1% dengan menggunakan
pipet.

Amati perubahan warna yang terbentuk.


3

Catatan:
Uji biuret biasa digunakan untuk uji protein secara umum. Uji biuret akan
menunjukkan hasil negatif pada asam amino bebas karena tidak memiliki ikatan
peptida. Gambar disamping menunjukkaan hasil positif uji biuret terhadap suatu
larutan yang ditandai dengan berubahnya larutan menjadi berwarna ungu.
Bahan-bahan yang positif uji biuret

Putih telur rebus

Pasta daging

Susu

Bahan-bahan yang negatif uji biuret

Kuning telur

Tepung

Gula

2.2. Uji Milion


Uji millon umumnya digunakan untuk menunjukkan adanya asam amino
tirosin pada suatu zat. Uji millon bekerja terhadap derivat-derivat monofenol
seperti tirosin. Pereaksi yang digunakan merupakan larutan merkuri (Hg) dalam
asam nitrat (HNO3).
Tirosin

akan

ter-nitrasi

oleh

asam

nitrat

sehingga

memperoleh

penambahan gugus N=O, gugus tersebut secara reversibel (bolak-balik) dapat


berubah menjadi N-OH (hidroksifenil). Merkuri dalam pereaksi millon akan
bereaksi dengan gugus hidroksifenil dari tirosin membentuk warna merah.

Gambar . Reaksi uji millon


Bahan dan pereaksi:

Pereaksi millon (2,5 gr merkuri sulfat + 5 ml HNO3pekat + 15 ml


aquades)

Larutan yang akan diuji

Langkah kerja:

Masukkan 2 ml bahan yang akan diuji ke dalam tabung reaksi.

Tambahkan dengan 5 tetes pereaksi millon.

Panaskan dengan hati-hati.

Perhatikan perubahan warna yang terjadi.

Catatan:
Uji millon tidak spesifik untuk asam amino tirosin. Semua senyawa yang
mengandung gugus fenol akan positif dengan uji ini. Bahan-bahan yang
mengandung senyawa fenol seperti minyak cengkeh dan cairan pembasmi rumput
dapat menunjukkan hasil positif dengan uji millon, padahal bahan-bahan tersebut
tidak mengandung tirosin.
2.3. Uji Xantoprotein
Uji xanthoprotein digunakan untuk menunjukkan adanya asam amino
tirosin, fenilalanin, dan triptofan dalam protein. Inti benzen yang terdapat di
dalam molekul tirosin, fenilalanin, dan triptofan akan ter-nitrasi dengan
penambahan HNO3. Senyawa nitro yang terbentuk berwarna kuning dan dalam
lingkungan alkalis akan terionisasi dengan bebas dan warnanya menjadi lebih tua
atau berubah menjadi jingga.

Gambar . Reaksi dalam uji xanthoprotein


Bahan dan pereaksi:

HNO3pekat

NaOH pekat

Larutan yang akan diuji

Langkah kerja:

Masukkan 2 ml larutan yang akan diuji ke dalam tabung reaksi.

Tambahkan dengan 1 ml HNO3pekat.

Perhatikan terbentuknya endapan putih.

Panaskan perlahan, endapan putih akan hilang dan larutan berubah


menjadi kuning.

Dinginkan, tambahkan tetes demi tetes NaOH pekat.

Amati perubahan warna.

2.4. Uji Hepkins Cole


Uji hopkins cole atau tes hopkins cole merupakan uji kimia yang
digunakan untuk menunjukkan adanya asam amino triptofan. Pereaksi yang
dipakai mengandung asam glioksilat. Kondensasi 2 inti induk dari trptofan oleh
asam glioksilat akan menghasilkan senyawa berwarna ungu. Reaksi positif
ditunjukkan dengan adanya cincin ungu pada bidang batas.
Reaksi kondensasi merupakan penggabungan monomer-monomer menjadi
polimer disertai dengan pelepasan molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.
Selengkapnya tentang kondensasi dapat dibaca pada artikel Reaksi Kondensasi.

Gambar . Triptofan
Bahan dan pereaksi:

Reagen hopkins cole: Larutkan HgSO4 1% ke dalam H2SO4 10%


kemudian campurkan 1 tetes larutan formaldehida encer (diencerkan 500 kali)
dengan 1 tetes merkuri sulfat.

H2SO4 pekat

Bahan yang akan diujikan

Langkah kerja:

Masukkan 2 ml bahan yang akan diujikan ke dalam tabung reaksi.

Tambahkan 2 ml reagen hopkins cole.

Tambahkan 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung dengan hatihati.

Amati cincin ungu pada perbatasan dua cairan.

Catatan:
Reaksi ini tidak berhasil apabila terdapat oksidator kuat seperti nitrat dan
klorat. Asam sulfat yang digunakan harus sangat murni, yang tidak mengandung
bahan-bahan yang dapat berperan sebagai oksidator.
2.5. Uji Ninhidrin
Uji Ninhidrin atau tes ninhidrin digunakan untuk menunjukkan adanya
asam amino dalam zat yang di uji .Dalam uji ini digunakan larutan ninhidrin
untuk mendeteksi semua jenis asam amino. Ninhidrin (2,2-Dihydroxyindane-1,3dione) merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk mendeteksi gugus amina
dalam molekul asam amino.
Asam amino bereaksi dengan ninhidrin membentuk aldehida dengan satu
atom C lebih rendah dan melepaskan molekul NH3 dan CO2. Ninhidrin yang
telah bereaksi akan membentuk hidrindantin. Hasil positif ditandai dengan
terbentuknya kompleks berwarna biru/keunguan yang disebabkan oleh molekul
ninhidrin dan hidrindantin yang yang bereaksi dengan NH3 setelah asam amino
tersebut dioksidasi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar . Molekul ninhidrin


Ringkasan reaksi:
Ninhidrin + asam amino hidrindantin (perubahan dari ninhidrin) +

aldehida + NH3 + CO2 (pecahan asam amino).


Ninhidrin + hidrindantin + NH3 senyawa berwarna biru/keunguan.

Bahan dan pereaksi:

Larutan ninhidrin 0.1%

Zat yang akan diuji

Langkah kerja:

Masukkan 2 ml yang yang akan diuji dalam tabung reaksi.

Tambahkan 5 tetes ninhidrin 0.1%.

Panaskan dalam penangas air selama 10 menit.

Amati munculnya warna biru/keunguan

Gambar . Reaksi ninhidrin


Catatan:
Uji ninhidrin digunakan oleh kepolisian untuk menunjukkan sidik jari
yang tertinggal di tempat kejadian perkara. Keringat yang dikeluarkan
mengandung asam amino, sehingga dapat dideteksi dengan ninhidrin. Keringat
akan menempel pada suatu permukaan dengan pola yang khusus sesuai dengan
sisik jari pemiliknya. Polisi akan menyemprotkan larutan ninhidrin pada benda
yang disentuh pelaku sehingga akan muncul bercak berwarna keunguan yang
merupakan sidik jari pelaku.

Gambar . Hasil positif uji ninhidrin

2.6. Uji Erhclich

Gambar . Triptofan
Uji Ehrlich merupakan uji kimia yang digunakan untuk mendeteksi adanya
asam amino triptofan. Reagen ehrlich akan bereaksi dengan gugus indole dalam
triptofan membentuk komponen berwarna biru. Gugus indole merupakan struktur
bisiklik, gabungan dari cincin benzena dengan cincin pirol.
Bahan dan pereaksi:

Reagen ehrlich (0.5-2.0 gpdimethylaminobenzaldehyde (DMAB) dalam


50 ml 95% ethanol dan 50 ml asam kloridapekat).

Bahan yang akan diuji.

Langkah kerja:

Masukkan 0.5 ml zat yang akan diuji ke dalam tabung reaksi.

Tambahkan 2 ml reagen ehrlich.

Amati perubahan warna yang terjadi.

Catatan:
Uji ehrlich dapat mendeteksi gugus indole, amina aromatik, dan ureida.
Uji ehrich biasa digunakan untuk mendeteksi urobilinogen dalam urin
dengan memberikan reaksi berwarna pink gelap hingga merah.
2.7. Uji Sakaguchi
Uji Sakaguchi adalah uji kimia yang digunakan untuk mendeteksi asam
amino arginin. Arginin memiliki kelompok-R propil (3 metil) dengan gugus
guanidin di ujungnya. Gugus guanidin merupakan atom C yang mengikat
N2 dengan ikatan tunggal dan mengikat N dengan ikatan ganda. Gugus guanidin

10

akan bereaksi dalam uji sakaguchi. Dalam kondisi basa, alpha naphtol akan
bereaksi dengan gugus guanidin dalam arginin yang telah teroksidasi sodium
hipoklorit, menghasilkan senyawa berwarna merah. Apabila protein yang diuji
dengan tes sakaguchi menunjukkan perubahan warna merah berarti dalam protein
tersebut terdapat arginin.

Gambar . Arginin
Bahan dan pereaksi:

NaOH 10%

Sodium hipoclorit (NaClO)

Alpha naphtol (1% dalam alkohol)

Bahan yang akan diujikan

Langkah kerja:

Masukkan 2 ml bahan yang akan diuji ke dalam tabung reaksi.

Tambahkan beberapa tetes NaOH.

Tambahkan dua tetes alpha naphtol.

Tambahkan 5 tetes sodium hipoclorit.

Amati perubahan warna yang terjadi.

Catatan:
Sodium hipoklorit dapat diganti dengan agen pengoksidasi lain seperti
larutan bromin (beberapa tetes bromin dalam 100 ml air).

11

2.8. Reaksi Sullivan

Reaksi
Sullivan
protein
yang
struktur
memliki
residu
kimianya
sistein
dengan
(natrium
naftokuinon-4sulfonat
1,2dan
natrium
menbentuk
hidrosulfit)
merah.
Intensitas
warna
bergantung
yang
terbentuk
pada
jumlah
resude
pada
Selain
protein
dengan
tersebut.
pereaksi
Sullivan,
warna
merah
dapat
protein
terjadi
tersebut
jika
ditambahkan
larutan
natrium
dengan
amonica
encer.
Dalam larutan basa, larutan protein yang struktur kimianya memliki residu

sistein dengan preaksi Sullivan (natrium 1,2-naftokuinon-4sulfonat dan natrium

hidrosulfit) dapat menbentuk larutan berwarna merah. Intensitas warna yang


terbentuk bergantung pada jumlah

resude sistein yang terdapat pada protein

tersebut. Selain dengan pereaksi Sullivan, warna merah protein ini juga dapat
terjadi jika protein tersebut ditambahkan dengan larutan natrium nitroprusid
dalam amonica encer.
2.9. Reaksi Diazotasi Pauli
Diazotasi adalah reaksi antara amin aromatis primer dengan asam nitrit
yang berasal dari natrium nitrit dalam suasana asam untuk membentuk garam
diazonium. Metode ini hampir digunakan terhadap sulfadiazin dan senyawa lain
yang mempunyai gugus amin aromatis primer bebas atau yang pada hidrolisis
atau reduksi mampu menghasilkan amin aromatis primer bebas atau yang pada
hidrolisis atau reduksi mampu menghasilkan amin aromatis primer.
Diazotasi ini telah digunakan secara umum untuk penetapan senyawasenyawa dalam industri zat warna, senyawa farmasi dan dapat dipakai untuk
penetapan semua senyawa-senyawa yang mengandung gugus amina aromatis
primer
Salah satu metode yang termasuk dalam titrasi redoks adalah diazotasi
(nitritometri). Titrasi diazotasi berdasarkan pada pembentukan garam diazonium
dari gugus amin aromatis bebas yang direaksikan dengan asam nitrit, dimana
asam nitrit ini diperoleh dengan cara mereaksikan natrium nitrit dengan suatu
asam.
Titrasi diazotasi sangat sederhana dan sangat berguna untuk menetapkan
kadar senyawa-senyawa antibiotik sulfonamida dan juga senyawa-senyawa
anestesika lokal golongan asam amino benzoat (Gandjar dan Rohman, 2007).
Metode titrasi diazotasi disebut juga dengan nitrimetri yakni metode
penetapan kadar secara kuantitatif dengan menggunakan larutan baku natrium
nitrit. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina

12

aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam
diazonium (Gandjar dan Rohman, 2007).
Titrasi nitrimetri merupakan titrasi yang dipergunakan dalam analisa
senyawa-senyawa organik, khususnya untuk persenyawaan amina primer.
Penetapan kuantitas zat didasari oleh reaksi antara fenil amina primer (aromatik)
dengan natrium nitrit dalam suasana asam yang membentuk garam diazonium dan
dikenal sebagai reaksi diazotasi. Untuk membuat suasana asam umumnya
digunakan asam klorida.
Titrasi diazotasi ini sangat sederhana dan sangat berguna untuk
menetapkan kadar-kadar senyawa antibiotik sulfonamide dan juga senyawasenyawa anastetika lokal golongan asam amina benzoate. Metode titrasi diazotasi
disebut juga nitrimetri, yaitu metode penetapan kadar secara kuatitatif dengan
menggunakan larutan baku NaNO2-. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi
yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam
membentuk garam. Titik akhir titrasi diazotasi tercapai apabila pada penggoresan
larutan yang dititrasi pada pasta kanji iodide atau kertas kanji iodide akan
terbentuk warna hijau tosca atau biru

13

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ada banyak metode yang dapat dilakukan dalam analisa kualitatif protein,
dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa semua metode memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing masing dalam penggunaannya.
Oleh sebab itu pelajari dan cermati metode apa yang cocok digunakan
untuk sampel.
3.2. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini pembaca lebih dapat mengerti dan
memahami tentang metode analisis kualitatif protein.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. UsseryD.1998.GeneExpressionRegulation.http://www.cbs.dtu.dk/staff/dave/D
NACenDog.html.Diakses pada 16 November 2013
2. Jolane Abrams. 2010. DNA, RNA, and Protein: Life at its
simplest. http://www.postmodern.com/~jka/rnaworld/nfrna/nf-rnadefed.html.
Diakses pada 16 November 2013
3. Crick F. 1970. Central dogma of molecular biology. Nature 227:561-563.
4. Paustian T. 2001. Protein Structure. University of Wisconsin
Madison.http://lecturer.ukdw.ac.id/dhira/BacterialStructure/Proteins.html.
Diakses pada 16 November 2013
5. Ophart, C.E., 2003. Virtual Chembook. Elmhurst College.
6. Poedjiadi, Anna1991. Dasar-dasar biokimia.Jakarta: UI press 1994. Dasardasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
7. Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi, 1996. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian.Penerbit Liberty: Yogyakarta.
8. Winarno, F. G., 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia: Jakarta.
9. http://himka1polban.wordpress.com/laporan/kimia-pangan/penentuan-kadarprotein-metode-kjeldahl-dan-lowry/
10. Kurniawan,
Gigih.
2013. Protein
Analysis
Kjeldahl
Metodh. http://chemistryinorganic.blogspot.com/2013/03/ProteinKjeldahl.html (online). Diakses pada tanggal 05 Juli 2014.
11. Harmita. 2006. Analisis Kuantitatif Bahan Baku dan Sediaan Farmasi edisi I
(hal 98-101). Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia. Depok.
12. https://www.academia.edu/7838810/Diazotasi
13. https://himka1polban.files.wordpress.com/2013/11/laporan-nitrimetri-analiskimia-polban.pdf
14. http://w-afif-mufida-fk12.web.unair.ac.id/artikel_detail-68244-Love
%20Kimia%20Love%20Chemistry-Analisis%20Titrimetri.html
15. Prof. Dr. Gholib Ibnu dan R.Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka
Pelajar: Yogyakarta.
16. Watson, Jhon. 2010. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Bandung : Grafindo
17. Media Pratama
18. Wunas,
J. Said. 1986. Analisa
Kimia
Farmasi
Kuantitatif. Makassar : UNHAS

15

Anda mungkin juga menyukai