Anda di halaman 1dari 15

BUKU TAMBANG

Dasar Hukum Pertambangan


UU Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan
UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
PP No 32 Tahun 1969 tentang Petunjuk Pelaksanaan
UU Nomor 11 Tahun 1967, berikut perubahannya
PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten / Kota Peraturan Daerah
Kabupaten Cianjur

Nomor 11 Tahun 2004 tentang Pertambangan Umum

Ruang Lingkup
Ruang lingkup kajian hukum pertambangan meliputi pertambangan umum, dan
pertambnagan minyak dan gas bumi. Pertambangan umum merupakan pertambangan bahan
galian di luar minyak dan gas bumi pertambangan umum dibedakan menjadi lima golongan,
yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Pertambangan mineral radioaktif


Pertambangan mineral logam
Pertambangan mineral nonlogam
Pertambangan batu bara, gambut, dan bitumen padat,
Pertambangan panas bumi

Definisi K3 Tambang
K3 DALAM PERTAMBANGAN Pengertian Kesehatan dan Keselamatan
Kerja Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan
sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi
baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka
menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula
meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.
Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam
mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya.
Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut maka disusunlah
UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami
perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.
Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh
mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral
dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai agama.
Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan perundanganundangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya
yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai
menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada.

Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
yang ruang lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah,
permukaan air, di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum
Republik Indonesia. Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja
dimulai dari perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan,
pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan
aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
Pengantar Keskem
Apabila tindakan atau kondisi tidak aman muncul, maka terdapat resiko cedera pada orang atau
kerusakan pada peralatan. Untuk menghindari resiko tersebut, kita harus berusaha untuk
menghilangkan kondisi-kondisi dan tindakan-tindakan yang tidak aman. Hal ini dilakukan
dengan memahami dan menangani penyebab-penyebab terjadinya tindakan-tindakan atau
kondisi-kondisi yang tidak aman.
Areal Kerja Anda
Anda dapat mengurangi resiko cidera diareal kerja anda dengan cara :
- Membuang semua limbah dan sampah ditempat yang benar.
- Menjaga agar semua pelindung mesin, susran tangan dan alat pengaman lainnya tetap
terpasang.
- Hanya mengoprasikan peralatan, sakelar dan valve (katup) yang pelatihannya telah anda
ikiti, dan oleh personil yang berwenang untuk mengoprasikannya.
- Melakukan inspeksi rutin ditempat kerja anda untuk memeriksa kondisi-kondisi yang
tidak aman. Menyingkirkan potensi bahaya dan atau memberitahukan kepada Surpervisor
anda.
- Jika anda melihat tindakan yang tidak aman hentikan tindakan itu. Setiap orang
mempunyai wewenang untuk mencegah dirinya atau teman sekerjanya agar tidak terluka.
PERIJINAN
Kendaraan hanya dapat dioperasikan bagi yang mempunyai Simper,Kimper / Mine Permit
yang telah dikeluarkan oleh Perusahaan atau Pemerintah / Ijin dari Pimpinan Perusahaan
yang dikeluarkan oleh Kepala Tenik Tambang :
Tidak seorangpun diijinkan mengemudikan atau mengoperasikan kendaraan jenis apapun
diareal lokasi tambang / jalan hauling, tanpa mempunyai SIMPER,KIMPER / MINE
PERMIT.
Areal tambang / jalan hauling merupakan Areal terbatas ( restricted area ) semua unit
diluar perusahaan wajib melaporkan ijin tertulis dari perusahaan tambang dan dipintu
masuk akses jalan tambang / hauling akan dipasang rambu " Restricted Area "

Rambu-rambu
Rambu yang telah dipasang dijalan harus dipatuhi oleh semua pengemudi.
Sabuk
Pengaman.
Setiap kendaraan yang bergerak, sabuk pengaman (Seat Belt) harus dikenakan dengan baik oleh
setiap operator / pengemudi dan oleh semua penumpang dari kendaraan apapun yang telah
dilengkapi
sabuk
pengaman.
Batas Kecepa
\
tan.
Batas kecepatan maksimal untuk semua jenis kendaraan :
Di Areal Penambangan : 35 km/jam
Di Areal jalan Angkut Batubara (Hauling Road) : 50 km/jam
Di Areal pemukiman & kantor : 30 km/jam

Mendahului
Mendahului kendaraan lain harus dengan :
1. Mendahului kendaraan lain harus dilakukan dengan hati-hati dengan menyalakan lampu
sen dan hanya bila aman untuk melakukannya .Jarak pandang kedepannya harus baik dan
pastikan jalan harus bebas dari kendaraan yang melaju dari depan (dalam jarak 150 m)
supaya kendaraan dapat melakukannya dengan aman.
2. Semua jenis kendaraan / alat yang dalam kondisi rusak.
3. Semua manufer untuk mendahului kendaraan harus dilakukan dari sebelah kanan, untuk
mendahului kendaraan dari sebelah kiri tidak diperbolehkan.
4. Pengemudi tidak boleh mendahului kendaraan yang ada didepannya, yaitu dengan aturan
sebagai berikut:
Pada tempat dimana terdapat larangan " DILARANG MENDAHULUI ".
Berada pada jarak pandang yang terbatas.
Pada jarak 100 meter dari persimpangan.
Jika jalanan terlalu sempit untuk mendaki dengan aman.

Aturan Sign / Retting.


1.

2.

Sign Kanan
Akan Mendahului
Memberi isyarat akan belok kanan
Memberi isyarat tidak boleh Mendahului
Berpapasan dengan kendaraan lain
Sign Kiri
Kembali kelajur kiri setelah mendahului
Memberi isyarat akan belok kiri
Memberi isyarat silahkan mendahului
Akan Berhenti

Mundur.
Memundurkan kendaraan adalah langkah yang memerlukan sikap hati- hati dan perhatian ekstra
karena pandangan kebelakang terbatas dan selalu ada batasan jarak yang tidak bisa untuk kita
melihat (Blind Area), untuk itu para pengemudi dan operator bertanggung jawab untuk mematuhi
peraturan berikut ini :
Periksalah bagian belakang dan samping kendaraan anda untuk memastikan bahwa
daerah dimana anda akan memundurkan kendaraan aman dan bebas dari kendaraan atau
penghalang yang lainnya.
Mundurkan kendaraan dengan perlahan-lahan dan hati-hati.
Jangan memundurkan kendaraan sampai ke jalan utama tanpa ada pemandu dari orang
yang mengawasi lalu lintas.
Jarak antar kendara/unit

Dalam kondisi normal dan dengan jarak pandang yang baik dan kondisi jalan kering, haul
truck harus menjaga jarak sekurang- kurangnya empat kali panjang truck (40 m),
dibelakang kendaraan yang melaju didepannya. Apabila kondisi jalan basah atau jarak

pandang kurang baik, jarak harus dijaga sekurang- kurangnya menjadi delapan kali
panjang truck.
Kendaraan ringan yang mengikuti haul truck harus mengatur posisinya dibelakang truck
sehingga sopir truck dapat melihatnya melalui kaca spion sebelah kanan.
Hidupkan selalu headlamp dan berhenti serta parkirkan kendaraan dengan aman kala
hujan turun atau jalan licin.

Mendekati rambu stop / beri jalan.

Kendaraan tidak boleh berhenti disamping kendaraan lainnya yang sedang menunggu di
atau sedang mendekati Rambu Stop atau Rambu Jalan.
Kendaraan harus berhenti pada tempat yang terpasang Rambu Stop, jika setelah berhenti
tidak ada kendaran dari arah lain yang menuju rambu tersebut, baru boleh melanjutkan.
Jika mendekati Rambu beri Jalan, kendaraan harus pelan yang memungkinkan dapat
berhenti segera, jika tidak ada kendaraan dari arah lain dalam jarak 100 m, harus tetap
menunggu sampai lewat.

Memutar/manufer

Kendaraan harus ditepikan disebelah kiri jalan,tidak ada kendaraan lain yang menuju
ketempat tersebut.
Tidak ada lokasi yang pandangan pengemudi terbatas / tertutup terhadap kemungkinan
datangnya kendaraan lain.
Tidak dilokasi jalan turunan atau tanjakan tajam.
Gunakan lampu sign dan klakson.

Parkir
Saat memarkir kendaraan harus memperhatikan ketentuan :
Semua kendaraan harus diparkir pada tempat yang aman dan dalam posisi yang tidak
akan menimbulkan bahaya lalulintas terhadap kendaraan lain.
Mesin harus dimatikan dan kunci kontak dicabut
Handbrake harus di aktifkan
Masukkan transmisi pada gigi "satu (Menanjak)" atau "mundur ( menurun)".
Jika terpaksa parkir didaerah tanjakan atau turunan, belokkan roda kearah tebing /
tanggul.

Parkir ditepi jalan (ditempat yang di-ijinkan), harus disebelah kiri jalan dengan kendaraan
menghadap searah arus lalu lintas.
Wajib memasang ganjal pada ban dari depan dan belakang ban agar tidak terjadi
pergerakan kendaraan maju maupun mundur.

Larangan parkir.

Di areal front loading atau unit yang sedang beroperasi


Pada tempat- tempat dimana terdapat tanda "Dilarang Parkir".
Dalam jarak 20 m dari persimpangan jalan.
Tikungan atau belokan jalan yang tajam sehingga tidak memungkinkan untuk melihat
adanya kendaraan di depan.
Blind Zone / bagian yang tidak terlihat oleh operator, yaitu dibelakang kendaraan yang
lebih besar yang sedang diparkir.
Dalam jarak 20 m dari tepi atau sisi tebing sisi slope.

ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

APD (Alat Pelindung Diri) adalah suatu perangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja
untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan potensial bahaya atau
kecelakaan
kerja.

JENIS- JENIS ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

1. Topi Pelindung/Pengaman (Safety Helmet).

Adalah sebagai pelindung dari benda-benda keras, benturan, pukulan, terjatuh, dan terkena arus
listrik dll.

2. Rompi (safety vest).

Adalah sebagai pengaman apabila pada kondisi gelap atau agar kelihatan jika pada malam hari.

3. Sepatu pelindung (safety shoes).

Adalah untuk mencegah tergelincir dan tusukan benda tajam.

4. Alat Pelidung Mata (eye protector)

Adalah sebagai pelindung dari pengaruh cahaya dan dari lemparan benda-benda kecil dan panas.

5. Alat pelindung pernafasan (respiration protector)

Memberikan perlindungan dari kekurangan oksigen dan pencemaran oleh partikel (debu, kabut,
asap dan uap logam).

6. Alat pelindung telinga (ear protector).

Adalah memberikan perlindungan telinga dari kebisingan dan menehan frekuensi bunyi yang
terlalu besar.

7. Sarung Tangan (work gloves).


Memberikan perlindungan dari bahaya listrik dan agar tidak luka jika memegang sesuatu.

lnduksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja


a. lnduksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja harus diberikan pada karyawan dan
tamu.
b. lnduksi harus dilakukan di ruangan khusus.
c. Bahan materi induksi harus tersedia dalam jumlah yang sesuai dengan jumlah
peserta dan jenis induksi.
d. Alat bantu untuk mempermudah dan memperjelas penyampaian materi induksi
harus disesuaikan dengan jenis dan kondisi yang ada.di lokasi.
e. Setiap perserta induksi haws mengisi daftar hadir dan daftar periksa.
f. Daftar periksa yang telah ditandatangani peserta dan penyaji induksi diarsipkan
oleh bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
g. Hasil induksi didokumentasikan oleh perusahaan.
h. Jenis induksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah induksi umum, induksi
lokal, induksi tamu, dan induksi ulang.

lnduksi umum
a) lnduksi haws diberikan kepada karyawan baru yang akan melakukan pekerjaan di
perusahaan.
b) lnduksi dilakukan oleh orang yang berkompeten yang diberi wewenang oleh
perusahaan.
c) Topik materi induksi harus dimasukkan dalam suatu daftar periksa dan akan menjadi
acuan bagi pelaksana induksi. Topik tersebut sekurang-kurangnya mencakup:
1. Hak dan kewajiban karyawan dan pengusaha dalam ha1 Keselamatan dan
Kesehatan Kerja berdasarkan peraturan yang berlaku.
2. Kebijakan dan sistem manejemen K3 perusahaan.
3. Peraturan umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja perusahaan.
4. Prestasi K3 dan pengalaman kegagalan sistem K3 (Kecelakaan).
5. Gambaran umum kegiatan perusahaan dan struktur organisasi perusahaan.
6. Prosedur penanganan gawat darurat, nomor telepon, komunikasi saluran rad~o.
7. Prosedur evakuasi dan tempat berkumpul blla ada kebakaran dan atau keadaan
darurat.

8. Denah lokasi tambang dan Pusat Pertolongan Pertama Kecelakaan (P3K).


d) lnduksi diakhiri dengan evaluasi tertulis dan d~berikank artu identitas karyawan.
e) Peserta dan penyaji induksi menandatangani daftar periksa.
lnduksi local
a) lnduksi harus diberikan kepada karyawan yang sudah mendapatkan induksi umum dan
karyawan pindahanlmutasi.
b) lnduksi harus diberikan oleh pengawas atau orang yang ditunjuknya yang memiliki
pengetahuan yang cukup tentang daerah tersebut dan prosedur keselamatan terkait,
c) Topik materi lnduksi sekurang-kurangnya dimasukkan dalam suatu daftar periksa dan
akan menjadi acuan bagi pelaksana induksi. Topik tersebut sekurang-kurangnya
mencakup:
1. Prosedur evakuasi dan tempat berkumpul bila ada kebakaran di lokasi
2. Pengenalan terhadap lokasi dan alat kerja serta fasilitas lainnya
3. Potensi bahaya dan kecelakaan yang pernah terjadi di lokasi kerja
4. Alat pelindung diri yang wajib untuk lokasi tersebut
5. Gambaran umum kegiatan departemenlunit kerja dan struktur organisasinya
6. Prosedur kerja yang terkait dengan tugas yang akan dikerjakan atau akan segera
dilakukan.
d) lnduksi diakhiri dengan evaluasi tertulis,
e) Peserta dan penyaji induksi menandatangani daftar periksa.

lnduksi tamu
a) lnduksi dilakukan saat tamu akan masuk ke daerah kerja.
b) lnduksi untuk tamu diberikan oleh pegawai K3 ataupetugas lain yang ditunjuk.
c) Topiklmateri induksi dimasukan dalam suatu brosur yang disediakan khusus untuk
petunjuk tarnu, mencakup:
1. Gambaran umum perusahaan.
2. Kebijakan perusahaan tentang K3,
3. Kewajiban tamu selama berada di lingkungan pekerjaan.
4. Tempat berkumpul bila ada kebakaran dan fasilitas lainnya.
d) Para tamu tersebut selalu didampingi oleh pengawas daerah kerja atau orang yang
ditunjuknya bila tamu tersebut hendak ke lapangan.
e) Tamu yang sudah mendapat induksi diberikan tanda pengenal tamu/visitor.
lnduksi ulang

a) lnduksi diberikan kepada karyawan yang dinilai belum cukup pengetahuannya tentang
aspek K3 atau dijumpai tidak cakap dalam melaksanakan suatu prosedur kerja (SOP)
b) lnduksi diberikan berkaitan dengan suatu pelanggaran atas prosedur kerja tertentu yang
telah berakibat kecelakaan.
c) lnduksi diberikan oleh pengawaslatasan langsung dan dibatasi hanya pada topik yang
terkait dengan pelanggaran prosedur atau kekurangtahuannya tersebut.
d) Hasil induksi dikirimkan ke bagian keselamatan kerja untuk dilaporkan ke Kepala
Teknik Tambang.