Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


KELOMPOK KHUSUS : BALITA

Oleh Kelompok II :
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

NAMA
Tiur Trihastutik
Reny Tjahja Hidayati
Erna Eka Wulandari
Intan Cahyanti Sugianto
Enny Selawaty Boangmanalu
Risca Maya Proboandini
Yohanes Pemandi Doka
Dicky Rahmatsyah

NIM
131611123055
131611123056
131611123057
131611123058
131611123059
131611123060
131611123061
131611123062

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat yang sama, dibawah
pimpinan pemerintahan yang sama, saling berinteraksi, saling mengenal, dan mempunyai
minat yang sama (Riyadi, 2010). Salah satu kelompok khusus dalam keperawatan komunitas
adalah kelompok balita. Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010), Balita adalah istilah
umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun).
Masalah kesehatan balita di Indonesia masih menjadi perhatian serius, karena masih
tingginya angka kematian balita di Indonesia terutama pada kasus gizi buruk. Berdasarkan
Hasil RISKESDAS tahun 2013 Prevalensi gizi buruk berdasarkan BB/TB,yaitu sangat kurus
secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 persen, terdapat penurunan
dibandingkan tahun 2010 (6,0 %)dan tahun 2007 (6,2 %). Demikian pula halnya dengan
prevalensi kurus sebesar 6,8 persen juga menunjukkan adanya penurunan dari 7,3 persen
(tahun 2010) dan 7,4 persen (tahun 2007). Secara keseluruhan prevalensi anak balita kurus
dan sangat kurus menurun dari 13,6 persen pada tahun 2007 menjadi 12,1 persen pada tahun
2013.
Diare dan pneumonia merupakan penyebab kematian berikutnya pada bayi dan balita,
disamping penyakit lainnya yang diakibatkan oleh masalah gizi. Selain itu kasus kekerasan
terhadap anak baik fisik maupun seksual yang masih tinggi di Indonesia membuat pemrintah
tidak berdiam diri. Untuk mengatasi masalah yang sering menimbulkan kematian pada balita,
pemerintah telah membuat program dan kebijakan yang bertujuan untuk menurunkan angka
kematian pada bayi dan balita, diantaranya adalah kegiatan posyandu, BKB (Bina Keluarga
Balita), dan program PAUD. Sementara sebagai perawat, yang dapat dilakukan di komunitas
adalah memberi penyuluhan atau pendidikan kesehatan, baik untuk topik sehat atau pun sakit
seperti pengetahuan penyakit dan pengelolaan penyakit pada balita, serta memberi informasi
kepada ibu tentang pentingnya pemberian ASI dan tahap perkembangan yang terjadi pada
masa balita.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana konsep dan asuhan keperawatan komunitas pada kelompok khusus
balita?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai asuhan keperawatan
pada kelompok khusus balita
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui konsep Kelompok Khusus
2. Mengetahui konsep balita dan tumbuh kembang yang terjadi pada masa balita
3. Mengetahui Tentang Tumbuh Kembang Balita
4. Mengetahui masalah kesehatan yang terjadi pada kelompok balita
5. Pelayanan Kesehatan Bagi Kelompok Balita
6. Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Khusus Balita
2

7. Tahap tahap Perawatan Kelompok Khusus


8. Asuhan Keperawatan Pada Kelompok Khusus
9. Menyusun asuhan keperawatan komunitas pada kelompok balita sesuai dengan
kasus
1.4 Manfaat
Mahasiswa mampu memahami konsep dan proses asuhan keperawatan komunitas pada
agregat balita sehingga dapat menjadi bekal saat melakukan proses asuhan keperawatan
komunitas pada masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kelompok Khusus


Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat atau komunitas adalah individu,
keluarga/kelompok dan masyarakat dengan fokus upaya kesehatan primer, sekunder dan
tersier. Sehingga pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan perkembangan sosial akan
membantu masyarakat dalam mendorong semangat untuk merawat diri sendiri, hidup mandiri
dan menentukan nasibnya sendiri dalam menciptakan derajat kesehatan yang optimal
Kelompok khusus adalah sekelompok masyarakat atau individu yang karena keadaan
fisik, mental maupun sosial budaya dan ekonominya perlu mendapatkan bantuan, bimbingan
dan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan, karena ketidakmampuan dan
ketidaktahuan mereka dalam memelihara kesehatan dan keperawatan terhadap dirinya sendiri
(Effendy,1998).
Menurut Effendy ( 1998), Tujuan dari perawatan kelompok khusus ini adalah :
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kemampuan dan derajat kesehatan kelompok untuk dapat
menolong diri mereka sendiri dan tidak terlalu bergantung kepada pihak lain.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan dan perawatan kelompok khusus sesuai
dengan macam, jenis dan tipe kelompok
b. Menyusun perencanaan asuhan keperawatan/ kesehatan yang mereka hadapi
berdasarkan masalah yang terdapat pada kelompok
c. Penanggulangan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi
berdasarkan rencana yang telah mereka susun
d. Meningkatkan kemampuan kelompok khusus dalam memelihara kesehatan
mereka sendiri
e. Mengurangi ketergantungan kelompok khusus dari pihak lain dalam
pemeliharaan dan perawatan diri sendiri
f. Meningkatkan produktifitas kelompok khusus untuk lebih banyak berbuat
dalam rangka meningkatkan kemampuan mereka sendiri
g. Memperluas jangkuan pelayanan kesehatan dan keperawatan dalam
menunjangfungsi puskesmas dalam rangka pengembangan pelayanan
kesehatan masyarakat.
Ada dua sasaran pokok pembinaan kelompok khusus,yaitu melalui institusi-institusi
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap kelompok khusus dan pelayanan
kelompok khusus yang ada dimasyarakat yang telah terorganisir secara baik atau melalui
posyandu yang ditujukan untuk ibu hamil,bayi,dan anak balita,atau terhadap kelompokkelompok khusus dengan ciri khas tertentu.
Jadi, Kelompok khusus di komunitas dengan balita adalah sekumpulan individu dalam
suatu wilayah dengan usia anak dibawah lima tahun yang karena keadaan fisik,mental
maupun sosial budayanya perlu mendapatkan pelayanan kesehatan serta bantuan dan
bimbingan yang secara terorganisir dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat melalui
pembentukan kader kesehatan diantara kelompok tersebut
4

2.2 Konsep Balita


Kesehatan terhadap balita sudah menjadi subjek penting yang perlu diselenggarakan
diseluruh dunia. Banyak anak-anak menderita gizi buruk, beberapa bayi dan balita belum
menerima imunisasi yang lengkap,kecelakaan dan ijuri penyebab yang utama kematian pada
bayi dan balita dan juga meningkatnya kematian pada balita akibat kurangnya pencegahan
terhadap beberapa penyakit yang seharusnya bisa diatasi (Allender et al,2011 ).
Balita atau anak bawah umur lima tahun adalah anak usia kurang dari lima
tahun sehingga bagi usia di bawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini.
Namun faal (kerja alat tubuh semestinya) bagi usia di bawah satu tahun berbeda dengan
anak usia di atas satu tahun, maka anak di bawah satu tahun tidak termasuk ke dalam
golongan yang dikatakan balita. Anak usia 1-5 tahun dapat pula dikatakan mulai
disapih sampai dengan pra-sekolah. Sesuai dengan pertumbuhan badan dan perkembangan
kecerdasannya, faal tubuhnya juga mengalami perkembangan sehingga jenis makanan dan
cara pemberiannya pun harus disesuaikan dengan keadaannya.
Berdasarkan karakteristiknya balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu anak yang berumur 1-3 tahun yang dikenal dengan Batita merupakan konsumen
pasif. Sedangkan usia prasekolah lebih dikenal sebagai konsumen aktif (Uripi, 2014).
a. Masa Toddler (1-3 tahun),
Pada masa ini pertumbuhan fisik anak lebih lambat dibandingkan dengan masa bayi,
tetapi perkembangan motoriknya berjalan lebih cepat. Anak sering mengalami penurunan
nafsu makan sehingga tampak kurus dan anak mulai suka berjalan-jalan. Sehingga anak
perlu diawasi dalam beraktivitas karena tidak memperhatikan bahaya (Nursalam, 2015).
Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan
kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan
berjalan sudah bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas. Masa balita
merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan
pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan
anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa
yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut golden
age atau masa keemasan.
b. Usia prasekolah lebih dikenal sebagai konsumen aktif
2.3 Tumbuh Kembang Balita
Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, namun prosesnya
senantiasa melalui tiga pola yang sama, yakni:
1. Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian bawah
(sefalokaudal). Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga ke ujung kaki,
anak akan berusaha menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar
menggunakan kakinya.
2. Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar. Contohnya adalah anak
akan lebih dulu menguasai penggunaan telapak tangan untuk menggenggam,
sebelum ia mampu meraih benda dengan jari.
3. Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar mengeksplorasi
keterampilan-keterampilan lain. Seperti melempar, menendang, berlari dan
lain-lain.
5

Menurut Sigmund Freud tahap perkembangan manusia terdiri dari lima fase,
yaitu fase oral, fase anal, fase phalic, fase laten, dan fase genital. Dari kelima fase
ini, tiga fase awal yaitu fase oral, anal dan phalic dilalui saat masa balita (Wong,
2009).
1. Fase Oral
Fase oral dimulai dari saat dilahirkan sampai dengan 1-2 tahun. Pada
fase ini bayi merasa dipuaskan dengan makan dan menyusui dan terjadi
kelekatan dan hubungan yang emosional antara anak dan ibu. Beberapa
mengatakan bahwa pada saat anak yang mengalami gangguan pada fase ini
akan sering mengalami stres dengan gejala gangguan pada lambung seperti
maag atau gastritis.
2. Fase Anal
Fase anal berkembang pada saat balita menginjak umur 15 bulan
sampai dengan umur 3 tahun. Pada fase ini balita merasa puas dapat melakukan
aktivitas buang air besar dan buang air kecil. Fase ini dikenal pula sebagai
periode "toilet training". Kegagalan pada fase ini akan menciptakan orang
dengan kepribadian agresif dan kompulsif, beberapa mengatakan kelainan sadomasokis disebabkan oleh kegagalan pada fase ini.
3. Fase Phallic
Fase phallic disebut juga sebagai fase erotik, fase ini berkembang pada
anak umur 3 sampai 6 tahun. Yang paling menonjol adalah pada anak laki-laki
dimana anak ini suka memegangi penisnya, dan ini seringkali membuat marah
orangtuanya. Kegagalan pada fase ini akan menciptakan kepribadian yang
imoral dan tidak tahu aturan.
Teori perkembangan menurut Erick Erikson terdiri dari fase kepercayaan vs
ketidak-percayaan (0-1th), otonomi vs rasa malu dan ragu ragu (1-3th), inisiatif vs
rasa bersalah (3-5th), industri vs inferioritas (6-11th), identitas vs difusi (12-18th),
keintiman vs absorpsi diri atau isolasi (19-25th), generativitas vs stagnasi (25-45th),
serta integritas vs keputus-asaan dan isolasi (45th-meninggal). Dari beberapa fase
ini, fase yang dialami oleh balita adalah fase kepercayaan vs ketidak-percayaan,
otonomi vs rasa malu dan ragu ragu, serta Inisiatif vs rasa bersalah (Wong, 2009).
1. Kepercayaan vs ketidak-percayaan, (0-1 tahun).
Masa bayi ditandai adanya kecenderungan trustmistrust. Perilaku bayi
didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di
sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang
dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Bayi akan menangis sebagai
respon ketidakpercayaannya dengan hal-hal yang dianggap asing.
2. Otonomi vs rasa malu dan ragu ragu, (1-3 tahun).
Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya
kecenderungan autonomy shame-doubt. Pada masa ini sampai-batas-batas
tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan,
6

bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di
pihak lain dia juga mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat,
sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya
3. Inisiatif vs rasa bersalah, (3-5 tahun).
Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan
initiative guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan,
dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa
kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya
dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia
memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau
berinisatif atau berbuat.

2.4 Masalah-Masalah Yang Sering Terjadi Pada Kelompok Balita


Balita adalah kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit karena sistem kekebalan
tubuh mereka belum terbangun sempurna. Pada usia ini, anak rawan dengan berbagai
gangguan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Menurut Allender ( 2011) dalam buku
Community Health Nursing menjelaskan beberapa masalah yang sering terjadi pada
balita dilingkungannya,yaitu :
1. Kecelakaan dan Injuri
Anak-anak pada masa toddler dan preschoolers mudah mengalami kecelakaan saat
bermain. Kecelakaan ini dapat menyebabkan kematian atau cacat yang signifikan.
Anak-anak pada masa infant dan toddler beresiko untuk jatuh ketika mereka tanpa
pengawasan, terjadinya luka bakar akibat menyentuh benda-benda panas, tersengat
arus listrik,tenggelam, kecelakaan lalu lintas, keracunan bahan kimiawi..Untuk
itu,perawat di komunitas perlu mengajarkan kepada orangtua mengenai bahayabahaya ini dan bagaimana cara untuk mencegahnya.
2. Perlakuan yang tidak tepat terhadap anak
Kekerasan terhadap anak merupakan salah satu perlakuan yang tidak tepat pada anak,
yang meliputi perlakuan terhadap fisik, emosional,pengabaian ( terhadap fisik,
medis,atau pendidikan), kekerasan seksual ( eksploitasi seksual dan pornografi anak )
Perlakuan yang tidak menyenangkan dapat terjadi karena,yaitu perilaku orangtua atau
pengasuh,karateristik keluarga,faktor dari anak-anak, dan lingkungan.
Perilaku orangtua seperti sering depresi atau cemas memainkan peranan yang penting
dimana mereka tidak mau merawat anaknya dengan baik. Kareteristik keluarga yang
mencakup kekerasan dalam rumah tangga, stres keuangan dan pekerjaan,dan menarik
diri dari lingkungan sosial dapat meningkatkan perlakuan yang tidak menyenangkan
bagi anak-anak.
3. Penyakit Menular
Anak-anak pada masa infant,toddler dan pre-school mudah terserang penyakit
akut dibandingkan kelompok umur yang lain. Masalah yang biasa terjadi pada anakanak ini adalah Infeksi saluran pernapasan( infeksi telinga,pilek atau influensa ),
konjungtivitis,dan masalah pada saluran pencernaan. Penyakit ini umumnya terjadi
karena proses sistem kekebalan tubuh masih berlangsung dan juga karena faktor
kontak dengan dunia luar. Infeksi Saluran Pernapasan Akut sering terjadi pada anak
7

umur dibawah 5 tahun. Diare pada anak merupakan masalah yang sebenarnya dapat
dicegah dan ditangani. Terjadinya diare pada balita tidak terlepas dari peran faktor
perilaku yang menyebabkan penyebaran kuman, terutama yang berhubungan dengan
interaksi perilaku ibu dalam mengasuh anak dan faktor lingkungan dimana anak
tinggal. Faktor perilaku yang menyebabkan penyebaran kuman dan meningkatkan
resiko terjadinya diare yaitu tidak memberikan ASI ekslusif secara penuh pada bulan
pertama kehidupan, tidak menjaga hygiene alat makan dan minum anak.
4. Penyakit Kronik
Penyakit kronik pada anak dapat mengurangi kualitas hidup mereka.Penyakit kronis
itu seperti asma,autisme, anemia,alergi terhadap makanan,muscular distophy, Fibrosis
kistik. Asma merupakan salah satu masalah serius yang perlu segera ditangani.
Perawat di komunitas perlu menolong orangtua dalam penyedian perawatan yang
sesuai dan mendorong pemberian obat asma dan perawatan yang layak.
5. Masalah Nutrisi dan Kebersihan Gigi serta Mulut
Gizi kurang dan Gizi buruk
Masalah terbesar yang disebabkan oleh gizi buruk yang banyak dijumpai di
kalangan anak-anak Indonesia adalah malnutrisi protein energi, defisiensi yodium,
defisiensi vitamin A, anemia defisiensi zat besi dan obesitas. Masalah malnutrisi dapat
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak dan remaja.
Penyebab gizi kurang dan gizi buruk antara lain, yaitu: kurangnya pengetahuan dan
perilaku serta kebiasaan makan, penyakit infeksi, serta ketersediaan pangan.
Tingginya AKB dan masalah gizi pada bayi dapat ditangani sejak awal dengan
cara pemberian Air Susu Ibu (ASI). Menurut penelitian yang dilakukan oleh UNICEF,
risiko kematian bayi bisa berkurang sebanyak 22% dengan pemberian ASI ekslusif.
Melalui pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat menjamin kecukupan gizi bayi
serta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Manfaat lain yang
diperoleh dari pemberian ASI adalah hemat dan mudah dalam pemberiannya serta
manfaat jangka panjang adalah meningkatkan kualitas generasi penerus karena ASI
dapat meningkatkan kecerdasan intelektual dan emosional anak.
Kebersihan Gigi serta Mulut
Kesehatan gigi dan mulut menjadi perhatian yang serius pada kelompok ini karena
pada masa ini anak sudah mulai menyukai makanan-makanan tertentu. Pada kelompok
ini juga anak lebih suka makananan yang manis. Kombinasi gula dan bakteri dapat
menyebabkan gangguan pada gigi dan komposisi gigi menentukan karies pada gigi.
Penggunaan dot pada umur 15 s.d 16 bulan selama tidur dapat menyebabkan
kerusakan pada gigi. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada gigi depan dan molar
sehingg perlu dilakukan pencabutan gigi yang rusak. Orangtua perlu dianjurkan untuk
melatih anaknya untuk menggosok gigi. Mengurangi konsumsi makan yang manis
bukan hanya saja untuk menurunkan terjadinya kerusakan gigi tetapi juga menurunkan
penyakit kronis pada saat dewasa.
2.5 Pelayanan Kesehatan Bagi Kelompok Balita
Berbagai macam progaram baik langsung maupun tidak langsung yang disediakan
bagi kelompok ini dapat ditemukan dimasyarakat. Keperawatan komunitas memainkan peran
yang besar dan vital dalam penyediaan pelayanan ini. Pada keperawatan komunitas programprogram ini dibagi kedalam tiga kategori,yang merupakan tiga prioritas penting dalam praktik
8

keperawatan kesehatan komunitas,yaitu prevention (pencegahan),protection( perlindungan )


dan promotion ( Pendidikan kesehatan ).
a. Program Pencegahan Kesehatan
Puskesmas baik itu diperkotaan maupun dipedesaan sudah menyediakan bagi
keluarga-keluarga untuk mendapatkan pendidikan kesehatan dalam keluarga,pendidikan
kesehatan dan keamanan,imunisasi, dan pelayanan keluarga berencana. Keperawatan
kesehatan komunitas dalam kolaborasinya dengan disiplin ilmu lain biasanya menjadi
penyedia layanan yang utama dalam program-prograam ini.Tujuan utamanya adalah untuk
menjaga kesehatan masyarakat pada khususnya dan layanan pencegahan pada umumnya.
Salah satu contoh kegiatan pencegahan ini adalah program imunisasi untuk meningkatkan
kekebalan tubuh anak dari penyakit-penyakit menular, Pendidikan orangtua untuk
mengontrol stres dan mengatasai tantangan selama menjadi orangtua, program pendidikan
anak usia dini.
b. Program Perlindungan Kesehatan
Program ini didesain untuk melindungi anak-anak dari sakit dan kecelakaan. Pada
perlindungan dari kecelakaan lalu lintas misalnya dapat dilakukan dengan pendidikan bagi
pengendara kendaraan bermotor. Perlindungan anak dari penyimpangan dan kekerasan
merupakan bagian yang sangat penting. Perawat yang melihat bekas luka pada anak perlu
menanyakan kepada orangtua tentang bekas luka tersebut.
c. Program Pendidikan Kesehatan
Program ini didesain agar memiliki efek positif pada kognitif anak dan perkembangan
sosialnya.Beberapa program pendidikan kesehatan ini sudah mempertimbangkan pada
kesehatan anak dan interaksi positif antara orangtua dan anak serta perkembangan
sosialnya.
Di Indonesia, Pemerintah telah membuat berbagai kebijakan untuk mengatasi persoalan
kesehatan anak, khususnya untuk menurunkan angka kematian anak, di antaranya sebagai
berikut:
1. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Adalah dengan meletakkan dasar pelayanan kesehatan pada sektor pelayanan dasar.
Pelayanan dasar dapat dilakukan di puskesmas induk, puskesmas pembantu,
posyandu, serta unit-unit terkait di masyarakat. Cakupan pelayanan diperluas dengan
pemerataan pelayanan kesehatan untuk segala aspek atau lapisan masyarakat. Bentuk
pelayanan tersebut dilakukan dalam rangka jangkauan pemerataan pelayanan
kesehatan. Upaya pemerataan tersebut dapat dilakukan dengan penyebaran bidan desa,
perawat komunitas, fasilitas balai kesehatan, poskesdes, dan puskesmas keliling.
2. Meningkatkan status gizi masyarakat
Dengan pemberian gizi yang baik diharapkan pertumbuhan dan perkembangan anak
akan baik pula sehingga dapat memperbaiki status kesehatan anak. Upaya tersebut
dapat dilakukan melalui upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK). Kegiatan UPGK
tersebut didorong dan diarahkan pada peningkatan status gizi, khususnya pada
masyarakat yang rawan memiliki resiko tinggi terhadap kematian atau kesakitan.
Kelompok beresiko tinggi terdiri atas anak balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia
yang golongan ekonominya rendah.
3. Meningkatkan peran serta masyarakat
9

Peningkatan peran serta masyarakat dalam membantu perbaikan status kesehatan ini
penting, sebab upaya pemerintahan dalam rangka menurunkan kematian bayi dan anak
tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, melainkan peran serta masyarakat
dengan keterlibatan atau partisipasi secara langsung. Melalui peran serta masyarakat
diharapkan mampu pula bersifat efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan. Upaya
atau program pelayanan kesehatan yang membutuhkan peran serta masyarakat antara
lain pelaksanaan imunisasi, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan, perbaikan gizi.
4. Meningktakan manajemen kesehatan
Upaya pelaksanaan program pelayanan kesehatan anak dapat berjalan dan berhasil
dengan baik bila didukung dengan perbaikan dalam pengelolahan pelayanan
kesehatan. Dalam hal ini adalah peningkatan manajemen pelayanan kesehatan melalui
pendayagunaan tenaga kesehatan professional yang mampu secara langsung mengatasi
masalah kesehatan anak.
Adapun kegiatan-kegiatan yang menunjang kebijakan tersebut antara lain :
1. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)
Posyandu adalah pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan
dukungan teknis dan petugas Puskesmas. Merupakan salah satu wujud peran serta
masyarakat dalam pembangunan kesehatan, tempat mayarakat memperoleh pelayanan
KB, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan diare pada
waktu dan tempat yang sama. Kegiatan di posyandu merupakan kegiatan nyata yang
melibatkan partisipasi masyarakat dan untuk masyarakat, yang dilaksanakan oleh
kader-kader kesehatan, yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari
puskesmas mengenai pelayanan kesehatan dasar dengan tujuan tertentu.
a.
b.

c.
d.
e.

Tujuan penyelenggaraan posyandu yaitu:


Mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak dan angka kelahiran.
Mempercepat penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)
agar masyarakat dapat mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan lain yang
menunjang sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
Meningkatkan kemandirian masyarakat.
Meningkatkan cakupan Puskesmas.
Mempercepat tercapainya NKKBS (Sudarono, 1989). Sasaran penyelenggaraan
Posyandu dalam hal ini adalah pada bayi usia kurang dari 1 tahun, anak Balita, ibu
hamil, melahirkan, dan menyusui, serta wanita Pasangan Usia Subur (PUS).

Kegiatan posyandu bermacam-macam diantaranya adalah:


a. Penyuluhan nutrisi di Posyandu sebagai bagian dari UPGK dalam langkah-langkah
kebijaksananaan perbaikan gizi yang merupakan kegiatan upaya langsung
meliputi, pemantauan tumbuh kembang balita dengan KMS melalui penimbangan
oleh kader, Pemberian Makananan Tambahan (PMT), pemeriksaan kesehatan
anak, penyuluhan gizi ditekankan pada pentingya penggunaan ASI dan makanan
pendamping ASI (MP-ASI), pemeberian kapsul vitamin A dan pemberian oralit.
b. Selain itu juga pemberian pelayanan anak usia balita yang meliputi pelayanan
keluarga untuk ibu dan anak dengan memberikan pelayanan imunisasi,
penanggulangan diare, dan penyuluhan kesehatan.
10

2. BKB (Bina Keluarga Balita)


Bina keluarga balita adalah kegiatan yang khusus mengelola tentang
pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan
kelompok umurm yang dilaksanakan oleh sejumlah kader dan berada di tingkat RW.
(Pedoman Pembinaan Kelompok Bina Keluarga Balita Tahun 2006). Program ini
merupakan suatu program yang melengkapi program-program pengembangan sumber
daya manusia yang telah dilaksanakan seperti program-program perbaikan kesehatan
dan gizi ibu dan anak.
Tujuan BKB
a. Bagi orang tua:
1) Agar dapat merawat dan mengasuh anak serta pandai membagi waktu.
2) Memperluas wawasan dan pengetahuan tentang pola asuh anak yang benar.
3) Meningkatkan keterampilan dalam hal mengasuh dan mendidik anak balita.
4) Supaya lebih terarah dalam cara pembinaan anak.
5) Mampu mencurahkan perhatian dan kasih sayang terhadap anak sehingga
tercipta ikatan batin yang kuat.
6) Mampu membentuk anak yang berkualitas.
b. Bagi anak, diharapkan:
1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Berkepribadian luhur
3) Tumbuh dan berkembang secara optimal
4) Cerdas, terampil, dan sehat
5) Memiliki dasar kepribadian yang kuat guna perkembangan selanjutnya.
3. Program PAUD
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang
pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan, ditujukan bagi anak sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun, dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang
diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan anak usia dini
merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada
peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik
halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan
spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi,
sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak.
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
Membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang
sesuai dengan tingkat perkembangannya
Membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

2.6.Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Khusus Balita


Perawat komunitas minimal dapat berperan sebagai pemberi pelayanan
kesehatan melalui asuhan keperawatan, pendidik atau penyuluh kesehatan, penemu
kasus, koordinator, pelaksana konseling keperawatan, dan model peran.
Dua peran perawat kesehatan komunitas, yaitu sebagai pendidik dan penyuluh
kesehatan serta pelaksana konseling keperawatan kepada kelompok khusus balita
11

yang merupakan bagian dari ruang lingkup promosi kesehatan. Berdasarkan peran
tersebut, perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mendukung kelompok
khusus balita mencapai derajat kesehatan yang optimal. Peran perawat komunitas
pada kelompok khusus balita:
1. Pelaksana Pelayanan Keperawatan (care provider).
Peranan utama perawat komunitas yaitu sebagai pelaksana asuhan
keperawatan kepada balita, baik itu balita dalam kondisi sehat maupun sakit.
2. Pendidik (health educator).
Perawat sebagai pendidik atau penyuluh, memberikan pendidikan atau
informasi kepada keluarga yang berhubungan dengan kesehatan balita.
Diperlukan pengkajian tentang kebutuhan klien untuk menentukan kegiatan
yang akan dilakukan dalam penyuluhan atau pendidikan kesehatan balita. Dari
hasil pengkajian diharapkan dapat diketahui tingkat pengetahuan klien dan
informasi apa yang dibutuhkan.
3. Konselor.
Perawat dapat menjadi tempat bertanya atau konsultasi oleh orangtua yang
mempunyai balita untuk membantu memberikan jalan keluar berbagai
permasalahan kesehatan balita dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pemantau Kesehatan (health monitor)
Perawat ikut berperan memantau kesehatan balita melalui posyandu,
puskesmas, atau kunjungan rumah. Pemantauan ini berguna untuk mengetahui
dinamika kesehatan balita terutama pertumbuhan dan perkembangannya,
sehingga jika terjadi masalah kesehatan dapat dideteksi sejak dini dan diatasi
secara tepat dengan segera.
5. Koordinator Pelayanan Kesehatan (coordinator of service).
Pelayanan kesehatan merupakan kegiatan yang bersifat menyeluruh dan
tidak terpisah-pisah. Perawat juga dapat berperan sebagai pionir untuk
mengkoordinir berbagai kegiatan pelayanan di masyarakat terutama kesehatan
balita dalam mencapai tujuan kesehatan melalui kerjasama dengan tim
kesehatan lainnya.
6. Pembaharu (inovator).
Tidak semua masyarakat mempunyai bekal pengetahuan mengenai
kesehatan balita. Perawat disamping memberikan penyuluhan juga menjadi
pembaharu untuk merubah perilaku atau pola asuh orangtua terhadap balita di
suatu wilayah, misalnya budaya yang tidak sesuai dengan perilaku sehat.
7. Panutan (role model)
Perawat sebagai salah satu tenaga medis dipandang memiliki ilmu kesehatan
yang lebih dari profesi lainnya di luar bidang kesehatan. Oleh sebab itu akan
lebih mulia bagi perawat untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan seharihari sehingga dapat memberikan contoh baik, misalnya memberi contoh tata
cara merawat balita.
8. Fasilitator
Perawat menjadi penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan
kesehatan dan instansi terkait, melaksanakan rujukan.
2.7 Ruang Lingkup Asuhan Keperawatan Kelompok Khusus Balita
12

Ruang lingkup kegiatan keperawatan kelompok khusus balita mencakup upayaupaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan resosilitatif melalui berbagai kegiatan
yang terorganisisasi sebagai berikut:
1. Upaya Promotif
a. Penyuluhan untuk memberikan informasi kepada orangtua, terutama ibu
tentang pemenuhan dan peningkatan gizi bayi dan balita sesuai usia
tumbuh kembangnya. Bayi usia 1-6 bulan hanya boleh diberikan ASI,
lebih dari 6 bulan diperbolehkan untuk diberikan MP-ASI.
b. Memberikan informasi tentang kebersihan diri bayi meliputi cara
memandikan bayi yang benar, cara perawatan tali pusat, cara mengganti
popok bayi, dsb.
c. Penyuluhan tentang pentingnya imunisasi yang meliputi jenis-jenis
imunisasi, usia pada saat dilakukan imunisasi, manfaat, efek samping, dan
akibat yang akan timbul jika tidak dilakukan imunisasi.
d. Memberikan informasi tentang pentingnya memeriksakan bayi dan balita
yang sakit ke petugas kesehatan
e. Memberikan informasi tentang pemantauan tumbuh kembang balita.
2. Upaya Preventif
a. Imunisasi terhadap bayi dan balita.
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas,
maupun kunjungan rumah.
c. Posyandu untuk penimbangan dan pemantauan kesehatan balita.
d. Pemberian vitamin A, yodium, dan obat cacing.
e. Skrining untuk deteksi penyakit / kelainan pada bayi dan balita sejak dini.
3. Upaya Kuratif
a. Melakukan pelayanan kesehatan dan keperawatan.
b. Melakukan rujukan medis dan kesehatan. Bayi atau balita dengan penyakit
tertentu perlu diberikan perawatan lebih lanjut.
c. Perawatan lanjutan dari Rumah Sakit, dilakukan oleh orangtua tetapi
masih dalam pengawasan petugas kesehatan untuk memulihkan kondisi
kesehatan bayi atau balita.
d. Perawatan tali pusat terkendali pada bayi baru lahir.
3. Upaya Rehabilitatif
Bayi dan balita pasca sakit, perlu waktu untuk masa pemulihan. Upaya
pemulihan yang dapat dilakukan yaitu latihan fisik dan fisioterapi.
4. Resosialitatif
Upaya mengembalikan ke dalam pergaulan masyarakat. Misal: kelompok
balita yang diasingkan karena autis, ADHD.
Semua lingkup tersebut harus dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang terorganisir,sebagai
berikut:
a. Pelayanan kesehatan dan keperawatan
b. Penyuluhan kesehatan
c. Bimbingan dan pemecahan masalah terhadap anggota kelompok dan kader
kesehatan dan petugas kesehatan
d. Penemuan kasus secara dini
e. Melakukan rujukan medik dan kesehatan
13

f. Melakukan kordinasi dan kerjasama dengan masyarakat,kader, dan petugas


kesehatan

2.8 Tahap tahap Perawatan Kelompok Khusus


a. Tahap Persiapan
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan pada tahap ini, yaitu :
1. Mengidentifikasi jumlah kelompok khusus yang ada dimasyarakat dan jumlah
posyandu yang ada diwilyah binaan
2. Mengadakan pendekatan sebagai penjajagan awal pembinaan kelompok khusus
terhadap institusi yang menyelenggarakannya dan kelompok khusus yang ada
dimasyarakat
3. Identifikasi masalah kelompok khusus dimasyarakat melalui pengumpulan data
4. Menganalisa data kelompok khusus dimasyarakat
5. Merumuskan masalah dan prioritas masalah kesehatan dan keperawatan kelompok
khusus dimasyarakat
6. Libatkan kader kesehatan dalam tahap ini
b. Tahap Perencanaan
Menyusun perencanaan penanggungan masalah kesehatan/keperawatan bersama kader
kesehatan yang menyangkut jadwal kegiatan ( tujuan,sasaran,jenis pelayanan,biaya
dan kriteria hasil ),Jadwal kunjungan,tenaga pelaksana pengaorganisasian kegiatan.
c. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan didasarkan atas rencana kerja yang telah disepakati, yang
disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Pelaksanaan kegiatan dapat berupa :
1. Pendidikan dan pelatihan kader
2. Pelayanan kesehatan dan keperawatan
3. Imunisasi
4. Penemuan kasus dini
5. Rujukan bila dianggap perlu
6. Pencatatn dan pelaporan kegiatan
d. Penilaian
Penilaian atas keberhasilan kegiatan didasarkan atas kriteria yang telah disusun.
Penilaian dilakukan selama kegiatan berlangsung dan setelah kegiatan dilaksanakan
secara keseluruhan
2.9 Asuhan Keperawatan Kelompok Khusus
Asuhan Keperawatan komunitas adalah suatu kerangka kerja untuk memecahkan
masalah kesehatan yang ada di masyarakat secara sistematis dan rasional yang didasarkan
pada kebutuhan dan masalah masyarakat. Model community as partner terdapat dua
komponen utama yaitu roda pengkajian komunitas dan proses keperawatan. Roda
pengkajian komunitas terdiri: (1) inti komunitas (the community core), (2) subsistem
komunitas (the community subsystems), dan (3) persepsi (perception). Model ini lebih
berfokus pada perawatan kesehatan masyarakat yang merupakan praktek, keilmuan, dan

14

metodenya melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi penuh dalam meningkatkan


kesehatannya.
Pada dasarnya langkah-langkah proses keperawatan kelompok khusus sama halnya
dengan langkah-langkah proses keperawatan tingkat individu, keluarga, maupun
masyarakat,yang berbeda hanya sasarannya saja. Sedangkan permasalahan yang timbul
adalah permasalahan dilihat dari segi kelompok, tetapi bila menyangkut gangguan sistem
tubuh penangannya secara individu sama dengan gangguan-gangguan sistem lainnya.
Disamping itu yang perlu dikaji secara mendalam adalah latar belakang yang mendorong
timbulnya masalah tersebut. Oleh karena itu, pengkajiannya menekankan pada aspek
kebiasaan,adat istiadat dan budaya,pendidikan sosial ekonomi,kesehatan perseorangan,
lingkungan,perilaku dan pandangannya terhadap kesehatan umumnya.
a.

Pengkajian
Pengumpulan data merupakan langkah awal untuk menentukan masalah dan
kebutuhan kelompok akan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan. Oleh karena itu
untuk mengkaji permasalahan kelompok diperlukan data-data sebagai berikut :
1) Identitas Kelompok, yang mencakup : besar dan kecilnya kelompok,latar belakang
pendidikan,tingkat sosial ekonomi,kebiasaan,adat istiadat,pekerjaan,agama yang
dianut,kepercayaan dan lokasi tempat tinggal
2) Masalah kesehatan,yang mencakup :
Masalah kesehatan yang sering terjadi
Besarnya anggota kelompok yang mempunyai masalah
Keadaan kesehatan anggota kelompok umumnya
Sifat masalah pada kelompok,apakah yang mengancam kesehatan atau telah
menganca, kehidupan
3) Pemanfaatan fasilitas kesehatan diantaranya puskesmas,posyandu, polindes,pustu,atau
poskesdes.
4) Keikutsertaan dalam upaya kesehatan
5) Status kesehatan kelompok,yang meliputi :penyakit yang pernah diderita, keadaan
gizi kelompok pada umumnya,imunisasi,kesehatan ibu dan anak
6) Kondisi sanitasi lingkungan tempat tinggal anggota kelompok,meliputi
perumahan,sember air minum,pembuangan air limbah,pembuangan sampah,dan
tempat pembuangan tinja.
1. Data inti
a. Demografi
Variabel yang dapat dikaji adalah jumlah balita baik laki-laki maupun
perempuan. Data diperoleh melalui puskesmas, laporan tahunan atau
rekapitulasi jumlah kunjungan pasien yang berobat.
b. Statistik vital
Data statistik vital yang dapat dikaji adalah jumlah angka kesakitan dan
angka kematian balita. Angka kesakitan dan kematian tersebut diperoleh
dari penelusuran data sekunder baik dari Puskesmas atau Kelurahan.
c. Karakteristik penduduk
1. Fisik: Keluhan yang dialami oleh warga terkait anaknya. Perawat
mengobservasi ketika ada program posyandu.
15

2. Psikologis: efek psikologis terhadap anak maupun orang tua yaitu


berupa kesedihan karena anaknya berisiko tidak bisa bermain dengan
anak-anak sebaya lainnya dan pertumbuhan anak pun akan terhambat
atau sulit untuk berkembang.
3. Sosial: sikap masyarakat terhadap adanya kasus penyakit masih acuh
dan tidak memberikan tanggapan berupa bantuan untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan, namun orang tua membawa anak ke posyandu
rutin untuk ditimbang.
4. Perilaku: seperti pola makan yang kurang baik mungkin mempengaruhi
penyebab anak mengalami gizi kurang, diare dan penyakit lainnya,
terlebih banyak orang tua yang kurang mampu dalam hal ekonomi.
2. Sub sistem
a. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik yang kurang bersih akan menambah dampak buruk terhadap
penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena penyakit, makanan yang
sehat sulit didapat, selain itu kerentanan terhadap vektor penyakit menjadi salah
satu tingginya risiko peningkatan kejadian sakit diwilayah tersebut.
b. Sistem kesehatan
Jarak antara desa dengan puskesmas tidak terlalu jauh yaitu hanya 1 km, desa
tersebut memiliki 1 posyandu dalam 1 RW dan aktif melaksanakan program
kerja yang dilaksanakan 1 bulan sekali, namun untuk ketersedian posbindu
belum ada.
c. Ekonomi
Pekerjaan yang dominan diwilayah tersebut yaitu buruh, petani,dan lainnya yang
berpenghasilan bervariasi untuk setiap keluarga.
d. Keamanan dan transportasi
Wilayah tersebut memiliki mobil yang disediakan oleh pemberi bantuan untuk
dimaanfaatkan oleh masyarakat dalam hal memfasilitasi masyarakat untuk
mempermudah akses mendapatkan layanan kesehatan.
Variabel keamanan meliputi jenis dan tipe pelayanan keamanan yang ada,
tingkat kenyamanan dan keamanan penduduk serta jenis dan tipe gangguan
keamanan yang ada.
a.

b.

c.

Kebijakan dan pemerintahan


Jenis kebijakan yang sedang diberlakukan, kegiatan promosi kesehatan yang
sudah dilakukan, kebijakan terhadap kemudahan mendapatkan pelayanan
kesehatan, serta adanya partisipasi masyarakat dalam.
Komunikasi
Komunikasi meliputi jenis dan tipe komunikasi yang digunakan penduduk,
khususnya komunikasi formal dan informal yang digunakan dalam keluarga.
Jenis bahasa yang digunakan terutama dalam penyampaian informasi kesehatan
gizi, daya dukung keluarga terhadap balita yang sakit.
Pendidikan
Pendidikan sebagai sub sistem meliputi tingkat pengetahuan penduduk tentang
pengertian tentang penyakit balita yang dihadapi, bahaya dan dampaknya, cara
16

d.

mengatasi, bagaimana cara perawatan, serta cara mencegahnya. Mayoritas


penduduk berpendidikan rendah yaitu SD bahkan tidak sekolah.
Rekreasi
Yang perlu dikaji adalah jenis dan tipe sarana rekreasi yang ada, tingkat
partisipasi atau kemanfaatan dari sarana rekreasi serta jaminan keamanan dari
sarana rekreasi yang ada.

3. Persepsi
Persepsi masyarakat dan keluarga terhadap suatu penyakit balita masih acuh,
mungkin dipengaruhi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat ataupun kurangnya
pengetahuan kesehatan mengenai suatu penyakit
b. Diagnosa Keperawatan
Analisa data dilakukan setelah dilakukan pengumpulan data melalui kegiatan
wawancara dan pemeriksaan fisik, sehingga dapat dirumuskan menjadi suatu diagnosa
keperawatan. Analisa data adalah kemampuan untuk mengaitkan data dan
menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki, sehingga dapat
diketahui kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh balita. Tujuan analisa data:
a.
Menetapkan kebutuhan balita
b.
Menetapkan kekuatan.
c.
Mengidentifikasi pola respon balita
d.
Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan.
Perumusan masalah berdasarkan analisa data yang dapat menemukan masalah
kesehatan dan keperawatan yang dihadapi oleh kelompok khusus balita. Masalah yang
sudah ditemukan tersebut perawat dapat menyusun rencana asuhan keperawatan yang
selanjutnya dapat diteruskan dengan intervensi. Masalah yang ditemukan terkadang
tidak dapat di selesaikan sekaligus sehingga diperlukan prioritas masalah. Prioritas
masalah dapat ditentukan berdasarkan hierarki Maslow yaitu:
a.
Keadaan yang mengancam kehidupan.
b.
Keadaaan yang mengancam kesehatan.
c.
Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
Penetapan diagnosa keperawatan kelompok, didasarkan pada
1) Masalah kesehatan yang dijumpai kelompok dengan mempertimbangkan faktor
resiko dan potensial terjadinya masalah atau penyakit
2) Kemampuan kelompok dalam pemecahan masalah dilihat dari segi sumber daya
kelompok yang berkaitan dengan kemampuan finansial,pengetahuan dan dukungan
keluarga dari masing-masing anggota kelompok.
c. Perencanaan Asuhan Keperawatan
Dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah disusun dengan melibatkan
anggota kelompk yang bersangkutan,mencakup :
1) Tujuan keperwatan yang ingin dicapai
2) Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
3) Kriteria kebehasilan
Dalam menyusun rencana asuhan keperawatan kelompok ada beberapa hal yang
penting perlu diperhatikan antara lain :
17

1) Keterlibatan pengurus dan anggota kelompok dalam menyusun perencanaan


keperawatan
2) Keterpaduan dengan pelayanan kesehatan lainnya baik tenaga biaya sarana maupun
waktu
3) Kerjsama lintas program dan sektor sehingga program pelayanan bersifat
menyeluruh
d. Pelaksaanaan
Merupakan realisasi rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan bersama
dengan kelompok. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan
keperwatan ayang ditujukan kepada kelompok adalah
1) Tindakan keperawatan dapat dilaksanakan oleh tenaga keperawatan atau kader
kesehatan sesuai dengan kewenangannya
2) Dilakukan dalam rangka alih teknologi dan keterampilan keperwatan
3) Dimasayarakat
lebih
ditekankan
kepada
anggota
kelompok,kader
kesehatan,pengurus kelomppok, dan keluarga
4) Bila ada masalah yang tak tertanggulangi dilakukan rujukan medis atau rujukan
kesehatan
e. Penilaian
Penilaian terhadap hasil asuhan keperawatan dan kesehatan dilakukan berdsarkan
kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dalam perencanaan,melalui :
1) Membandingkan hasil tindakan keperawatan yang telah dilakukan dengan tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya
2) Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian,perencanaan
dan pelaksanaan

18

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELOMPOK KHUSUS : BALITA

3.1 Penerapan Kasus


Di kelurahan X RT 03 RW 09 Posyandu Y terdapat 45 orang balita yang terdiri diri
dari usia 0 - 5 bulan sebanyak 7 orang, usia 6 - 11 bulan sebanyak 9 orang, usia 12 23
bulan sebanyak 15 orang, usia 24 -59 bulan sebanyak 15 orang. Sebagian besar balita ini
dibawa ke posyandu secara rutin.Berdasarkan informasi dari kader posyandu, balita yang
menderita gizi buruk berdasarkan BB/TB sebanyak 3 orang pada usia 12-23 bulan, balita
yang diare sebanyak 6 orang (pada usia 7 bulan sebanyak 2 orang, pada usia 18 bulan 4
orang dan pada usia 24 bulan sebanyak 1 orang ). Balita yang berat badannya tidak sesuai
dengan umur (Berat badan balita yang berada digaris kuning dan digaris merah) 5 orang.
Semua balita usia 6 bulan sampai dengan 59 bulan sudah mendapatkan vitamin A.
Sebagian besar ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan kepala keluarganya
sebagian besar sebagai buruh pabrik, yaitu 40 orang kepala keluarga dengan penghasilan
rata-rata Rp. 900.000 Rp. 1.200.000 dan sebagian lagi bekerja di pemerintahan,yaitu
sebanyak 5 kepala keluarga dengan penghasilan Rp. 1.500.000. Tingkat pendidikan orang
tua balita lulusan SD 30 KK, SMP 10 KK dan selebihnya SMA/SMK ( 5 KK ). Kondisi
rumah dilingkungan tersebut permanen yang saling berdekatan sehingga apabila terjadi
kebakaran, sangat sulit bagi petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api.
Rumah dilingkungan tersebut Pembangunan gorong- gorong di sungai, sehingga air di
bendung dan tidak mengalir lancar, selokan di depan rumah warga banyak yang
tersumbat, jalan di depan rumah kotor, banyak kardus basah sisa sampah banjir yang di
buang sembarangan. Warga diposyandu Y beragama Islam sebanyak 40 KK dan kristen
sebannyak 5 KK. Di wilayah ini memiliki 1 masjid, 1 gereja, 1 paud , 1 TK, 1 Atap SDN
X. Untuk beraktivitas warga menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi.
Berdasarkan informasi dari kader setempat, pada bulan ini sudah terdapat 2 orang anak
mengalami kecelakaan sepada motor. Biasanya ibu- ibu sering mengajak balitanya naik
mobil aneka warna yang diputarkan lagu- lagu anak untuk berkeliling di sekitar kampung
dengan biaya Rp.5000 untuk 1x putaran. Selain itu setiap minggu pagi, ibu yang memiliki
balita, sering membawa balitanya jalan-jalan di pasar pagi dadakan yang ada di sepanjang
pintu gerbang jalan tol surabayamalang dekat kampung warga. Berdasarkan survei
kesehatan rumah tangga ( SKRT ) yang didapat dari Puskesmas M, mayoritas makanan
yang dikonsumsi sehari-hari kurang memenuhi kebutuhan gizi,diantaranya nasi
gaplek,nasi aking,dan air tajin. Selain itu , ibu balita memberikan air cucian beras ( Air
taajin ) sebagai pengganti susu. Ibu yang balita yang memiliki balita berumur 2459
bulan sering membelikan makanan ringan dan mie instan di warung- warung terdekat.

19

3.2 Pengkajian
Di kelurahan X posyandu Y
a. DATA INTI
Di kelurahan X posyandu Y terdapat 45 balita
Usia 0 - 5 bulan sebanyak 7 orang, usia 6 - 11 bulan sebanyak 9 orang, usia 12 23
bulan sebanyak 15 orang, usia 24 -59 bulan sebanyak 15 orang. Pekerjaan: sebagian
besar ibu yang memiliki balita bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedangkan kepala
keluarganya sebagian bekerja di pabrik sebagai buruh pabrik,yaitu 30 orang kepala
keluarga dan sebagian lagi di pemerintahan,yaitu sebenyak 15 kepala keluarga
Agama: Islam ( 40 KK ) dan Kristen ( 5 KK )
Data statistik: Berdasarkan informasi dari kader setempat .
- Balita yang menderita gizi buruk berdasarkan BB/TB sebanyak 3 orang pada usia
12-23 bulan
- Balita yang diare sebanyak 6 orang (pada usia 7 bulan sebanyak 2 orang,pada usia
18 bulan 1 orang dan pada usia 24 bulan sebanyak 3 orang )
- Balita yang berat badannya tidak sesuai dengan umur (Berat badan balita yang
berada digaris kuning dan digaris merah) 5 orang.
- Pada bulan ini sudah terdapat 2 orang anak mengalami kecelakaan sepada motor
b. DATA SUBSISTEM
1. Lingkungan Fisik
a. Perumahan dan lingkungan: antar rumah berdekatan, tipe rumah permanen,
pembangunan gorong- gorong di sungai sehingga air di bendung dan tidak
mengalir lancar, selokan di depan rumah warga banyak yang tersumbat,
jalan di depan rumah kotor, banyak kardus basah sisa sampah banjir yang di
buang sembarangan.
b. Lingkungan terbuka: Mayoritas tidak mempunyai halaman rumah yang luas.
c. Kebiasaan:
berdasarkan survei kesehatan rumah tangga ( SKRT ) yang didapat dari
Puskesmas M, mayoritas makanan yang dikonsumsi sehari-hari kurang
memenuhi kebutuhan gizi,diantaranya nasi gaplek,nasi aking,dan air tajin.
Selain itu ,ibu balita memberikan air cucian beras ( Air taajin ) sebagai
pengganti susu. Ibu yang balita yang memiliki balita berumur 2459 bulan
sering membelikan makanan ringan dan mie instan di warung- warung
terdekat.
d. Transportasi: ibu mengantarkan balita ke posyandu dengan jalan kaki
sedangkan untuk beraktivitas biasanya menggunakan sepeda motor.
e. Pusat pelayanan : kantor kelurahan
f. Tempat belanja: warung terdekat dan pasar tradisional
g. Tempat ibadah: 1 Masjid dan 1 Gereja.
2. Pelayanan Kesehatan Dan Sosial
Pelayanan kesehatan terdapat 1 Posyandu dan 1 Puskesmas.
3. Ekonomi
Berdasarkan hasil wawancara, penghasilan rata- rata kepala keluarga perbulan
Rp. 900.000- 1.500.000.
4. Keamanan Dan Transportasi
20

5.

6.

7.

8.

9.

Bila terjadi kebakaran, mobil pemadam kebakaran kesulitan untuk masuk di


pemukiman warga karena jarak antar rumah berdekatan dan gangnya sangat
sempit. Mayoritas warga menggunakan alat transportasi sepeda motor untuk
pergi beraktivitas. Berdasarkan informasi dari kader setempat, pada bulan ini
sudah terdapat 2 orang anak mengalami kecelakaan sepada motor.
Pemerintahan
Posyandu Y merupakan RT 03 dan RW 09 di kelurahan X. Kader yang dimiliki
sebanyak 5 orang.
Politik
Pemerintah melalui Puskesmas sudah memberikan pelatihan kader, untuk
mengajarkan kepada ibu balita, agar segera memberikan oralit pada balitanya
yang terkena diare dan lansung dibawa ke puskesmas untuk tindakan lebih
lanjut.
Komunikasi
Komunikasi ibu yang dilakukan pada balitanya dengan komunikasi verbal
maupun non verbal. Informasi dari RT/RW setempat dilakukan dengan
menggunakan pengeras suara melalui siaran di masjid.
Pendidikan
Tingkat pendidikan orang tua balita lulusan SD 30 KK, SMP 10 KK dan
selebihnya SMA/SMK 5 KK. Terdapat 1 TK, 1 Paud, 1 atap SDN X.
Rekreasi
Dari hasil wawancara, ibu sering mengajak balitanya naik mobil aneka warna
yang diputarkan lagu- lagu anak untuk berkeliling di sekitar kampung dengan
biaya Rp.5000 untuk 1x putaran, serta setiap minggu pagi, ibu yang memiliki
balita, sering membawa balitanya jalan-jalan di pasar pagi dadakan yang ada di
sepanjang pintu gerbang jalan tol surabaya malang dekat kampung warga.

21

3.2 Analisa Data


No.
Data
Etiologi
1. DS:
Kurangnya
- Ibu balita mengatakan tidakpengetahuan
tahu bagaimana cara mencuci
tangan
yang
benar
dan
penyedian menu seimbang bagi
balita
- Ibu balita mengatakan anak
sering rewel apabila balita tidak
dibelikan jajan di warung.
DO:
Balita yang diare sebanyak 6
orang (pada usia 7 bulan
sebanyak 2 orang,pada usia 18
bulan 1 orang dan pada usia 24
bulan sebanyak 3 orang )
Pembangunan gorong-gorong
di sungai, sehingga air di
bendung dan tidak mengalir
lancar.
Selokan di depan rumah warga
banyak yang tersumbat.
Jalan di depan rumah kotor.
Banyak kardus basah sisa
sampah banjir yang di buang
sembarangan.
2.

DS :
- Ibu balita mengatakan
memberikan air cucian beras ( Air
taajin ) sebagai pengganti susu

Kader mengatakan mayoritas


makanan yang dikonsumsi
sehari-hari kurang memenuhi
kebutuhan gizi,diantaranya nasi
gaplek,nasi aking,dan air tajin
DO :
- Ibu yang balita yang memiliki
balita berumur 2459 bulan
sering membelikan makanan
ringan dan mie instan di
warung- warung terdekat
- Balita yang diare sebanyak 6

Faktor ekonomi

Masalah
Perilaku kesehatan
cenderung beresiko di
kelurahan X RT 03 RW
09 Posyandu Y tahun
2016

Ketidakseimbangan
nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh pada
kelompok balita di
kelurahan X RT 03 RW
09 Posyandu Y tahun
2016

22

orang (pada usia 7 bulan


sebanyak 2 orang,pada usia 18
bulan 1 orang dan pada usia 24
bulan sebanyak 3 orang )
Balita yang menderita gizi
buruk berdasarkan BB/TB
sebanyak 3 orang pada usia 1223 bulan
Balita yang berat badannya
tidak sesuai dengan umur (Berat
badan balita yang berada digaris
kuning dan digaris merah) 5
orang.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perilaku kesehatan cenderung beresiko di kelurahan X RT 03 RW 09 Posyandu Y
tahun 2016 berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh pada kelompok balita di
kelurahan X RT 03 RW 09 Posyandu Y tahun 2016 berhubungan faktor ekonomi
Diagnosa keperawatan
komunitas

Pentingnya
penyelesaia
n masalah
1. Rendah
2. Sedang
3. Tinggi

Perilaku kesehatan cenderung


beresiko di kelurahan X RT 03
RW 09 Posyandu Y tahun 2016
berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan

Perubahan (+)
untuk
penyelesaian di
komunitas
0. Tidak ada
1. Rendah
2. Sedang
3. Tinggi
2

Ketidakseimbangan
nutrisi
:
kurang dari kebutuhan tubuh pada
kelompok balita di kelurahan X
RT 03 RW 09 Posyandu Y tahun
2016
berhubungan
Faktor
ekonomi

Penyelesaian
untuk
peningkatan
kualitas hidup
0. Tidak ada
1. Rendah
2. Sedang
3. Tinggi
2

Total
score

63

23

24

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Domain 1 : Promosi
Kesehatan
Kelas 2 : Manajemen
Kesehatan
Perilaku kesehatan
cenderung beresiko di
kelurahan X RT 03 RW
09 Posyandu Y tahun
2016 berhubungan
dengan kurangnya
pengetahuan

NOC (NURSING
NIC (NURSING INTERVENTION
OUTCOME
CLASSIFICATION)
CLASSIFICATION)
1602 perilaku promosi
1.
Modifikasi perilaku
kesehatan
Kaji motivasi warga tentang perlunya
1805 pengetahuan:
perubahan
perilaku kesehatan
Bantu warga dalam mengidentifikasi
1902 kontrol risiko
kemampuan dan berikan motivasi untuk
1803 pengetahuan proses
meningkatkannya
penyakit
Berikan dukungan untuk mengubah ke
1700 kepercayaan
arah tindakan yang lebih baik/ dinginkan
mengenai kesehatan
Berikan jaminan bahwa intervensi
170001 merasakan
diimplementasi
pentingnya mengambil
2.
Pendidikan Kesehatan
tindakan
Identifikasi faktor internal dan external
170003 merasakan
yang dapat meningkatkan atau
manfaat (dari bertindak)
mengurangi motivasi berperilaku sehat.
184207 pentingnya sanitasi
Pertimbangkan riwayat individu, dan
tangan
riwayat sosial budaya masyarakat
Tentukan pengetahuan kesehatan dan
perilaku gaya hidup warga
Bantu warga untuk mengembangkan dan
memperjelas keyakinan dan nilai-nilai
kesehatan
Tekankan manfaat kesehatan positif yang
bisa didapatkan dalam jangka pendek
oleh perilaku gaya hidup
Libatkan warga dalam perencanaan
implementasi gaya hidup, atau
modifikasi perilaku kesehatan,
Rencanakan tindak lanjut jangka panjang
untuk memperkuat perilaku kesehatan
3. Identifikasi Risiko
Kaji riwayat kesehatan lalu
Identifikasi risiko biologis, lingkungan, dan
perilaku

25

Diskusikan dan rencanakan aktivitasaktivitas pengurangan risiko berkolaborasi


dengan individu dan kelompok
4. Pengajaran pross penyakit
Kaji pengetahuan terkait proses penyakit
Jelaskan tanda dan gejala umum penyakit
Eksplorasi bersama apakah klien telah
melakukan manajemen gejala
Jelaskan proses penyakit
Diskusikan modifikasi gaya hidup

Ketidakseimbangan
nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh pada
kelompok balita di
kelurahan X RT 03 RW
09 Posyandu Y tahun
2016
berhubungan
Faktor ekonomi

NOC :
185314 strategi untuk
menciptakan sikap yang
sehat tentang makanan
184103 strategi untuk
mencapai BB optimal
184109 praktik gizi yang
sehat
184111 strategi modifikasi
intake makanan
2904019 menyediakan
nutrisi sesuai usia

Manajemen Nutrisi
Kaji status gizi dan kemapuan untuk
memenuhi kebutuhan gizi
Identifikasi alergi atau intoleransi aktivitas
Intruksikan mengenai kebutuhan nutrisi
(membahas pedoman diet dan piramida
makanan)
Anjurkan diit yang sesuai dengan usia dan
perkembangan
Bantuan peningkatan Berat Badan
Diskusikan kemungkinan penyebab berat badan
kurang
Konseling Nutrisi
Fasilitasi untuk mengidentifikasi perilaku
makan yang harus diubah
Gunakan standar gizi yang bisa diterima
guna membantu pasien mengevaluasi intake
diit yang adekuat
Bantu pasien mempertimbangkan faktorfaktor seperti: umur, tahap perkembangan,
pengalaman makan sebelumnya, penyakit,
budaya, dan keuangan dalam merencanakan

26

cara memenuhi kebutuhan nutrisi


Diskusikan kebutuhan nutrisi dan persepsi
mengenai diit yang yang direkomendasikan
Diskusikan perilaku membeli makanan dan
hambatan biaya

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau
lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H,
2016). Balita termasuk salah satu agregat / kelompok risiko tinggi. Hal ini
dikarenakan pada balita juga berpotensi muncul masalah yang kompleks,
terlebih yang berhubungan dengan konsep tumbuh kembang. Oleh karena itu,
konsep keperawatan yang diberikan pada agregat ini diaplikasikan dalam
bentuk pelayanan-pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang memberikan
layanan dalam upaya menjaga kesehatan balita adalah Posyandu (Pos
Pelayanan Terpadu), imunisasi, BKB (Bina Keluarga Balita), PAUD
(Pendidikan Anak Usia Dini), SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang).

4.2

Saran
a. Bagi Perawat
Perawat sebagai care giver diharapkan mampu memberikan pelayanan
kesehatan kepada balita dan keluarga dalam bentuk promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitative.
b. Bagi Keluarga

27

Keluarga terutama ibu merupakan pemegang peran penting dalam


menentukan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan balita. Oleh
karena itu keluarga diharapkan mampu memahami konsep tumbuh
kembang pada balita dan mampu mendampingi pertumbuhan dan
perkembangan balita dengan baik sehingga bisa mengoptimalkan tumbuh
kembang balita.

DAFTAR PUSTAKA
Elisabeth T. Anderson dan RN. Judith Mc. Farlane. 2012. Community as a Partner,
6th Ed +Introduction to Community Based Nursing, 5th Ed: Theory and
Practic in Nursing. Lippincot Williams and Wilkins, 2012
Efendi, Ferry & Makhfudli. 2013. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan
Praktik Keperawatan. Jakarta : Salemba medika
Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, A. Aziz Alimul.2008.Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan.Jakarta:Salemba Medika
Supartini,Yupi. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC
http://eprints.undip.ac.id/153/1/Moeljono_Trastotenojo.pdf diakses pada tanggal 14
September 2014 pukul 08.05 WIB
http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-content/uploads/downloads/2011/01/MateriAdvokasi-BBL.pdf diakses pada tanggal 14 September 2014 pukul 08.09
WIB
http://badankbp.blogspot.com/ diaskses pada tanggal 13 september 2014 pukul 19.15
wib
http://arifsulistyo.wordpress.com/jurusan-pls/pengertian-paud/
diaskses
pada
tanggal !3 Sepetember 2014 pukul 20.15 WIB
Effendy,Nasrul,1998,Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat edisi 2 ,egc

28

Allender,Judith Ann,et al,2011,Community Health Nursing Promoting and Protecting


The Publics Health,7th edition,USA : Lippincott Williams & Wilkins

29

Anda mungkin juga menyukai