Anda di halaman 1dari 15

ANTI INFLAMASI

TUJUAN

- Mengenal cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek anti inflamasi


suatu obat
- Memahami mekanisme kerja obat anti inflamasi
LANDASAN TEORI
Obat analgesik antipiretik serta obat anti inflamasi nonsteorid merupakan sustu kelompok
obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian
obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.
Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga
sebagai obat mirip aspirin (aspirin like drugs).
Kemampuan penelitian dalam dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan mengapa
kelompok heterogen tersebut memiliki kesempatan efek terapi dan efek samping. Ternyata
sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas penghambatan 6
biosintesisprostaglandin (PG). Akan diuraikan dahulu mekanisme dan sifat dasar obat mirip
aspirin sebelum membahas masing-masing sub golongan.
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari obat anti inflamasi ini telah disebutkan di atas bahwa efek terapi
maupun efek samping obat-pbat ini sebagian besar tergantung dari penghambatan biosintesis PG.
Mekanisme kerja yang berhubungan dengan sistem biosintesis PG ini mulai dilaporkan pada
tahun 1971 oleh Vane dan kawan-kawan yang memperlihatkan secara in vitro bahwa dosis
rendah aspirin dan indometasin menghambat produksi enzimatik PG. Penelitian lanjutan telah
membuktikan bahwa PG akan dilepaskan bilamana sel mengalami keruskan.
Walaupun in vitro obat AINS diketahui menghambat berbagai reaksi biokomiawi,
hubungan dengan efek analgesik, antipiretik dan anti inflamasinya belum jelas. Selain itu obat
AINS secara umum tidak menghambat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan dengan efek

analgesik, anti piretik dan anti inflamasinya belum jelas. Selain itu obat AINS secara umum tidak
menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui ikut berperan dalam inflamasi.
Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam
arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase dengan cara yang
berbeda. Khusus parasetamol, hambatan biosintesis PG hanya terjadi bila lingkungannya rendah
kadar peroksid seperti di hipotalamus. Lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksid
yang dihasilkan oleh leukosit. Ini menjelaskan mengapa efek anti inflamasi parasetamol praktis
tidak ada. Aspiin sendiri menghambat dengan mengasetilasi gugus akatif serin dari enzim ini.
Dan trombosit sangat rentan terhadap penghambatan ini karena sel ini tidak mampu mengadakan
regenerasi enzimnya. Sehingga dosis tunggal aspirin 40 mg sehari telah cukup untuk
menghambat siklo oksigenase trombosit manusia selama masa hidup trombosit yaitu 8-11 hari.
Inflamasi sampai sekarang fenomena inflamasi pada tingkat bioseluler masih belum dapat
dijelaskan secara rinci. Walaupun demikian banyak hal yang telah diketahui dan disepakati.
Fenomena inflamasi ini meliputi kerusakan likrovaskuler, meningkatnya permeabilitas kapiler
dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala proses inflamasi yang sudah dikenal adalah
kalor, rubor, tumor, dolor dan functio laesa. Selama berlangsungnya fenomena inflamasi banyak
mediatpr kimiawi yang dilepaskan secara local antara lain histamin, 5-hidroksitriptamin (5HT),
factor kemotaktik, bradikinin, leukotrien dan PG. Peneitian terakhir menunjukkan autakoid lipid
PAF juga merupakan mediator inflamasi. Dengan migrasi sel fahosit ke daerah ini, terjadi lisis
membran lisozim dan lepasnya enzim pemecah. Obat mirip aspiri dapat dikatakan tidak berefek
terhadap mediator-mediator kimiawi tersebut kecuali PG.
Secara in vitro terbukti bahwa prostaglandin E2 (PGE2) dan prostasiklin (PGI2) dalam
jumlah nanogram, menimbulkan eritem, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah local.
Histamin dan bradikinin dapat meningkatkan permeabilitas vascular, tetapi efek vasodilatasinya
tidak besar. Dengan penambahan sedikit PG, efek eksudasi histamin plasma dan bradikinin
menjadi lebih jelas. Migrasi leukosit ke jaringan radang merupakan aspek penting dalam proses
inflamasi. PG sendiri tidak bersifat kemotaktik, tetapi produk lain dari asam arakidonat yakni
leukotrien B4 merupakan zat kemotaktik yang sangat poten.
Rasa nyeri PG hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerudakan jaringan atau
inflamasi. Penelitin telah membuktikan bahwa PG menyebabkan sensitisasi reseptor nyeri
terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. Jadi PG meni,bulkan keadaan hiperalgesia kemudian

mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang
nyata.
Obat mirip aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang ditimbulkan oleh
efek langsung PG. Ini menunjukkan bahwa sintesis PG yang dihambat oleh golongan obat ini
dan bukannya blokade langsung.
Demam, suhu badan diatur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas. Alat
pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus. Pada keadaan emam keseimbangan ini terganggu
tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat mirip aspirin. Ada bukti bahwa peningkatan suhu
tubuh pada keadaan patologik diawali penglepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin seperti
interleukin-1 (IL-1) yang memacu penglepasan PG yang berlebihan di daerah preoptik
hipotalamus. Selain itu PGE2 terbukti menimbulkan demam setelah diinfuskan ke ventrikel
serebral atau disuntikkan ke daerah hipotalamus. Obat mirip aspirin menekan efek zat pirogen
endogen dengan menghambat sintesis PG. Tetapi demam yang timbul akibat pemberian PG tidak
dipengaruhi, demiian pula peningkatan suhu oleh sebab lain seperti latihan fisik.
Efek Farmakodinamik
Semua obat mirip aspirin bersifat antipiretik, anlagesik dan antiinflamasi. Ada
perbedaaan aktivitas di antara obat-obat tersebut misalnya parasetamol (asetaminofen) bersifat
antipiretik dan analgesik tetapi sifat anti inflamasinya lemah sekali.
Efek analgesik, sebagai analgesik obat mirip aspirin hanya efektif terhadap nyeri dengan
intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia dan nyeri lain yang
berasal dari integumen, juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek
analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesik opiat. Tetapi berbeda dengan opiat, obat
mirip aspirin tidak menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang
merugikan. Obat mirip aspirin hanya mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri, tidak
mempengaruhi sensorik lain. Nyeri akibat terpotongnya saraf aferen, tidak teratasi dengan obat
mirip aspirin. Sebaliknya nyeri kronis pasca bedah dapat diatasi oleh obat mirip aspirin.
Efek antipiretik, sebagai antipiretik obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan
hanya pada keadaan demam. Walaupun demikian kebanyakan obat ini memperlihatkan efek
antipiretik in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik ksrena bersifat toksik bila

digunakan secara rutin atau terlalu lama. Fenilbutazon dan antireumatik lainnya tidak dibenarkan
digunakan sebagai antipiretik
Efek anti inflamasi kebanyakan obat mirip aspirin terutama yang baru lebih dimanfaatkan
sebagai anti inflamasi pada pengobatan kelainan muskuloskeletal, seperti arthritis rheumatoid,
osteoartritis dan spondilitis ankilosa. Tetapi harus diingat bahwa obat mirip aspirin hanya
meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara simtomatik,
tidak menghentikan, memperbaiki atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan
muskulosketal ini.
Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptic
yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna. Beratnya efek
samping ini berbeda pada masing-masing obat, dua mekanisme terjadinya iritasi lambung adalah
iritasi yang bersifat local yang menimbulkan difusi kembali asam lambung ke mukosa dan
menyebabkan kerusakan jaringan atau perdarahan lambung yang bersifat sistemik melalui
hambatan biosintesis PGE2 dan PGI2. kedua PG ini banyak ditemukan di mukosa lambung
dengan fungsi menghambat sekresi asam lambung dan merangsang sekresi mucus usus halus
yang bersifat sitoprotektif. Mekanisme kedua ini terjadi pada pemberian parenteral. Inflamasi
diidetifikasikan sebagai suatu reaksi lokal organisme terhadap suatu iritasi atau keadaan non
fisiologik.
Secara skematis dibedakan 4 fase gejala-gejala inflamasi :
1.

Eritem : vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan tertahannya darah oleh perubahan


permeabilitas pembuluh sehingga plasma dapat keluar dari dinding pembuluh.

2.

Ekstravasasi : keluarnya plasma melalui dinding pembuluh darah dan menyebabkan udem.

3.

Suppurasi dan nekrosis : pembentukan nanah dan kematian jaringan yang disebabkan oleh
penimbunan lekosit-lekosit di daerah inflasi.

4.

Degenerasi jaringan : tidak terdapat pembentukan sel-sel baru untuk pembentukan


pembuluh darah dan makin bertambahnya serat-serat kolagen yang tidak berfungsi.
Masing-masing tahap diatas dipengaruhi oleh faktor-faktor humoral seperti histamin,

serotonin, bradikinin dan prostaglandin. Kebanyakan dari gejala tersebut di atas telah dijadikan
sebagai dasar berbagai metode percobaan untuk mengevaluasi obat-obat antiinflamasi. Gejala
eritem dapat diuji pada marmot yang disinari ultraviolet: pembentukan udem dapat dilakukan
pada kaki tikus dengan penyuntikan seperti karegen, kaolin, serotonin, dekstran dll.

Inflamasi
Inflamasi, dalam bahasa Indonesia sehari-hari, yaitu radang. Kita sering mendengar
misalnya, radang usus, radang otak, radang paru-paru, peradangan, bengkak memar dan
seterusnya. Penggunaan istilah ini telah dikenal secara tradisi sejak jaman Yunani dan
Tiongkok kuno, ribuan tahun yang lalu. Dari penemuan-penemuan terakhir, para pakar
berpendapat bahwa, sebetulnya inflamasi (atau radang) bukanlah berupa penyakit itu sendiri.
Inflamasi diperlukan oleh tubuh kita, karena proses reaksi biokimia inflamasi di dalam tubuh
ditujukan melawan invasi bakteri dari luar, zat-zat yang negatif bagi sel-sel, jaringan sel,
serta organ-organ, ataupun bila terjadi luka. Dalam hubungan ini, jenis sel seperti leukocyte,
neutrophil, berperan memusnahkan invasor. Dapat kita gambarkan fungsinya seperti pasukan
keamanan dari sesuatu bahaya yang menyerang keseimbangan tubuh. Terutama neutrophil,
berperan sebagai patrol keamanan tubuh kita, begitu menemukan sesuatu yang asing ditubuh,
serta merta akan memusnahkannya. Dalam proses inflamasi, chemical mediator (juga disebut
lipd mediator karena berasal dari asam lemak AA, DHA dan EPA) berupa leukotriene dan
prostaglandins, turunan dari AA, memegang peranan penting. Pada waktu yang bersamaan,
proses pemusnahan awal terhadap invasor, neutrophil mengeluarkan chemical mediator yang
mana memberikan sinyal berikutnya merekrut lebih banyak lagi sel neutrophil dan leukocyte
untuk turut beraksi memusnahkan invasor. Proses pemusnahan ini disebut phagocytosis
(kemampuan memakan, menelan). Dalam proses ini neutrophil mengeluarkan agent, enzyme
(reactive oxygen species, hydrolytic enzymes, dan lain-lain), yang secara umum juga tidak
baik bagi tubuh dan dapat merusak sel, jaringan sel. Pertahanan tubuh telah menyiapkan
mekanisme sedemikian rupa, pada tahap tertentu, aksi selanjutnya dari neutrophil harus
dicegah. Pencegahan tersebut terjadi di mana biosintesa chemical mediator yang proinflamasi, leukotrine, distop, dan beralih ke biosintesa chemical mediator anti-inflamasi jenis
lipoxins.
Peralihan atau switch biosintesa dari mediator pro-inflamasi ke anti-inflamasi
Munculnya prostaglandins dari sel neutrophil juga mengisyaratkan secara
terprogram, nasib biosintesa mediator ini (semacam feedback) sendiri akan berakhir, dengan
meregulasi (down regulation) enzyme 15-LO yang terdapat di dalam sel neutrophil,

kemudian biosintesa beralih ke mediator yang lain, yang anti-inflamasi. Namun hal lain yang
sangat menentukan peralihan ini adalah kemampuan enzyme 5-LO (5-Lipoxigenase.
Penemuan enzyme ini dan satu lagi, COX, Cyclooxygenase, yang membawa Samuelsson B.
dan Bergstrom S. mendapatkan penghargaan Nobel tahun 1982) mengkonversi secara reaksi
enzymatic dari AA menjadi leukotriene (LTB4), lalu beralih pada tahap berikutnya ke
lipoxins. Dalam hubungan ini exzyme 5-LO juga substrate dependent (tergantung dari
kondisi mikro setempat), di mana enzyme tersebut, satu dari sekian step proses biosintesa,
dapat menggunakan dan mengkonversi DHA, EPA menjadi grup senyawa resolvins.
Pada tingkat sel, munculnya neutrophil dan terbentuknya nanah (pustule, lihat gambar
bawah) mengisyaratkan peralihan dari mediator pro- ke anti-inflamasi, dan pembatasan atau
pencegahan pengrekrutan neutrophil berikutnya dari pembulu darah ke lokasi kejadian. Mediator
anti-inflamasi, lipoxins, resolvins, dan protectins memobilisasi sel macrophage (monocyte)
yang dapat memakan sel neutrophil, serta membersihkan Histologi leukosit.
Leukosit adalah sel darah Yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Didalam
darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-900 sel/mm3, bila jumlahnya
lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dari 5000 disebut leukopenia.
Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit),
yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai
bentuk inti yang bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan inti
bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler : linfosit sel kecil,
sitoplasma sedikit; monosit sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak. Granula.
Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humora organisme terhadap zat-zat
asingan. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis lekosit dapat
meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan
penyambung Jumlah leukosit per mikroliter darah, pada orang dewasa normal adalah 400011000, waktu lahir 15000-25000, dan menjelang hari ke empat turun sampai 12000, pada usia 4
tahun sesuai jumlah normal. Variasi kuantitatif dalam sel-sel darah putih tergantung pada usia.
waktu lahir, 4 tahun dan pada usia 14 -15 tahun persentase khas dewasa tercapai. Bila memeriksa
variasi Fisiologi dan Patologi sel-sel darah tidak hanya persentase tetapi juga jumlah absolut
masing-masing jenis per unit volume darah harus diambil.

ALAT DAN BAHAN


Alat
- Timbangan hewan
- Alat suntik ip
- Stopwatch
- Spidol permanent
- Plestimometer
Bahan

Cara Kerja
1. Timbang tikus
2. Berikan tanda batas pada kaki belakang kiri untuk setiap tikus dengan spidol, agar
pemasukan kaki ke dalam air raksa setiap kali selalu sama.
3. Pada tahap pendahuluan volume kaki tikus diukur dan dinyatakan sebagai volume dasar.
Pada setiap kali pengukuran volume, tinggi cairan raksa pada alat diperiksa dan dicatat
sebelum dan sesudah pengukuran, usahakan jangan sampai ada air raksa yang tertumpah.
4. Tikus diberi obat secara i.p. Satu jam kemudian telapak kaki kiri diukur volume
pembengkakan dengan alat Plethysmometer dengan mencatat kenaikan air raksa pada alat
tersebut (Vo). Selanjutnya, 0,05 ml larutan karagenan diberikan pada telapak kaki kiri
tikus secara subkutan.
5. Volume kaki yang diberi karagenan diukur setiap 30 menit sampai menit ke 60. Catat
perbedaan volume kaki untuk setiap jam pengukuran (Vt).
6. Hasil pengamatan dicantumkan dalam table untuk setiap kelompok.

7. Selanjutnya untuk setiap kelompok dihitung persentase rata-rata dan bandingkan


persentase yang diperoleh kelompok yang diberi obat terhadap kelompok kontrol pada
jam yang sama.
8. Gambarkan grafik persentase inhibisi radang terhadap waktu.
PEMBAHASAN
Percobaan ini menggunakan alat yang bernama Plethysmometer air raksa untuk
mengindikasikan terjadinya inflamasi pada kaki bawah sebelah kiri tikus, dengan pengukuran
persentase besarnya radang pembengkakan. Caranya, tikus yang belum diberi obat diberi tanda
yang melingkari pergelangan kakinya sampai batas bulu, lalu kaki tersebut dicelupkan dalam air
raksa sampai batas lingkaran tadi dan diamati tinggi air raksa sebagai konversi volume kaki tikus
yang tercelup dalam air raksa tersebut. Kaki kiri tikus dipakai karena kaki tikus tidak terdapat
bulu, sehingga efek inflamasinya secara fisik dapat diamati lebih jelas karena bulu pada tikus
dapat menghambat pengamatan volume inflamasi yang terbentuk. Untuk memudahkan
pengamatan, karagenan diinjeksikan secara subkutan pada kaki tikus tersebut agar efeknya lebih
cepat. Selain itu, kaki kiri bawah digunakan agar memudahkan pada saat pencelupan dalam air
raksa dan memperhitungkan bahwa kaki bawah ukurannya lebih besar daripada kaki atas.
Perlakuan yang diberikan pada tikus I, sebagai kontrol, adalah pemberian suspensi PGA
secara peroral, lalu 60 menit kemudian disuntikkan karagenan secara subkutan, lalu diamati
pembengkakan yang terjadi setiap 15 menit selama 75 menit. Suspensi PGA berfungsi sebagai
injeksi untuk kontrol, yakni sebagai pelarut dari kedua obat (indometasin dan piroksikam tidak
larut dalam air, sehingga pada tikus uji I dan uij II obat yang diinjeksikan dilarutkan dalam
PGA), PGA digunakan untuk memperoleh efek yang sama, atau dengan kata lain, sebagai
blangko. Suspensi PGA diberikan secara peroral untuk memperoleh efek sistemik. Karagenan
berfungsi sebagai inflamator, dan disuntikkan secara subkutan pada telapak kaki kiri bawah tikus
untuk memperoleh efek lokal yang cepat. Pengamatan setiap 15 menit selama 75 menit
dilakukan dengan tujuan mengukur besarnya inflamasi yang terjadi pada kaki tikus akibat injeksi
karagenan. Dari hasil pengamatan secara umum diperoleh bahwa pada t ke 1 ( setelah 30 menit
penyuntikan) tinggi air raksa menurun agak tajam dibandingkan pada t ke 0. Selanjutnya, pada
tiap jam berikutnya tinggi air raksa mengalami peningkatan secara bertahap, lalu turun pada t ke
75 menit.

Selain itu, dari data di atas dapat dilihat bahwa pada t ke 0 tinggi air raksa lebih besar
dibandingkan dengan t selanjutnya. Seharusnya tidak demikian, hal ini disebabkan karena pada
saat pencelupan kaki tikus ke dalam air raksa, volume air raksa ada yang hilang dikarenakan kaki
tikus bergerak-gerak. Volume tersebut tidak dihitung sehingga menyebabkan kekeliruan dalam
pembacaan tinggi air raksa. Peningkatan tinggi air raksa terjadi mulai dari t ke 1 secara bertahap,
hal ini menunjukkan pembentukan inflamasi pada kaki tikus, walaupun sangat kecil hingga
nyaris tidak terlihat. Lalu penurunan tinggi air raksa pada t ke 75 menit menunjukkan bahwa efek
injeksi karagenan sudah mulai berkurang sehingga inflamasi yang terbentuk mulai mereda
(dalam hal ini ukuran telapak kaki mengecil) dan kemudian lama kelamaan akan menghilang.
Tikus kontrol ini berguna untuk membandingkan antara volume inflamasi pada kaki kiri bawah
tikus yang tidak diberi obat antiinflamasi dengan volume inflamasi pada kaki kiri bawah tikus
yang diberi obat antiinflamasi. Inflamasi yang terbentuk diamati, dan ternyata terbukti bahwa
volumenya lebih besar daripada volume inflamasi pada tikus uji. Dalam hal ini, karagenan yang
dinjeksi secara subkutan berhasil menimbulkan efek inflamasi sebagaimana fungsinya yakni
untuk membentuk udem. Pembentukan udem oleh karagenan tidak menyebabkan kerusakan
jaringan meskipun udem dapat bertahan selama 6 jam dan berangsur-angsur akan berkurang dan
setelah 24 jam menghitung tanpa meninggalkan bekas.
Pada tikus II, sebagai tikus uji, mendapat perlakuan yakni pemberian oral Aspirin, lalu 60
menit kemudian disuntikkan karagenan secara subkutan lalu diamati setiap 15 menit selama 75
menit. Aspirin diberi secara per oral. Percobaan ini dilakukan untuk menguji efektivitas Aspirin
pada pembentukan anti inflamasi.

Setelah penyuntikan karagenan, pengamatan dilakukan

dengan cara yang sama pada tikus I. Yakni tiap 15 menit, kaki tikus dicelupkan dalam air raksa
dan diamati tinggi air raksa yang terjadi untuk mengindikasikan volume inflamasi yang
terbentuk. Dari hasil pengamatan secara umum diperoleh bahwa pada t ke 1 (setelah 1 jam
penyuntikan) tinggi air raksa menurun agak tajam dibandingkan pada t ke 0. Selanjutnya, pada
tiap jam berikutnya tinggi air raksa mengalami peningkatan secara bertahap, lalu turun pada t ke
4 (75 menit).
Pada tikus III sebagai tikus uji, mendapat perlakuan yakni pemberian oral fenilbutazon,
lalu 60 menit kemudian disuntikkan karagenan secara subkutan lalu diamati setiap 15 menit
selama 75 menit. Percobaan ini dilakukan untuk menguji efektivitas fenilbutazon pada
pembentukan inflamasi. Setelah penyuntikan karagenan, pengamatan dilakukan dengan cara

yang sama pada tikus I. Yakni tiap 15 menit, kaki tikus dicelupkan dalam air raksa dan diamati
tinggi air raksa yang terjadi untuk mengindikasikan volume inflamasi yang terbentuk. Dari hasil
pengamatan secara umum diperoleh bahwa pada t ke 1 (setelah 1 jam penyuntikan) tinggi air
raksa menurun agak tajam dibandingkan pada t ke 0. Selanjutnya, pada tiap jam berikutnya
tinggi air raksa mengalami peningkatan secara bertahap, lau turun pada t ke 4 (75 menit).
Hasil-hasil pengamatan dicantumkan dalam tabel untuk setiap kelompok.
Kemudian perhitungan persentase peradangan (kenaikan volume kaki) dilakukan dengan
membandingkannya terhadap volume dasar sebelum menyuntikkan karagenan dengan rumus:
radang obat=

Vt Vo
x 100
Vo

Perhitungan persentase peradangan dilakukan untuk tiap 15 menitnya agar kita dapat mengetahui
seberapa besar proses peradangan pada kaki tikus telah terjadi tiap 15 menit. Selanjutnya untuk
setiap kelompok dihitung persentase rata-rata dan bandingkan persentase yang diperoleh
kelompok yang diberi obat terhadap kelompok kontrol pada jam yang sama dan perhitungan
persentase inhibisi peradangan dilakukan dengan rumus:
h ibisi=

radang kontrol radang obat


x 100
radang obat

Perhitungan persentase inhibisi peradangan dilakukan agar kita dapat mengetahui seberapa besar
penghambatan obat uji (fenilbutazon) terhadap peradangan pada kaki tikus. Lalu grafik
persentase inhibisi peradangan terhadap waktu dibuat.
Sebagian besar efek terapi dan efek samping obat analgesik-antipiretik dan antiinflamasi
(AINS) berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostaglandin (PG). Dosis rendah aspirin
dapat menghambat produksi enzimatis prostaglandin. Prostaglandin akan dilepaskan bilamana
sel mengalami kerusakan. Walaupun in vitro obat AINS diketahui menghambat berbagai reaksi
biokimiawi, hubungan dengan efek analgesik, antipiretik dan anti inflamasinya belum jelas.
Selain itu obat AINS secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui ikut
berperan dalam inflamasi. Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga
konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase
dengan cara yang berbeda.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil, pada tikus yang tidak
diberikan obat antiinflamasi mengalami peradangan sebesar 20,96% pada menit ke-45, 77,27%
pada menit ke-60, dan -36,32% pada menit ke-75. Seharusnya terjadi peningkatan besar
peradangan yang disebabkan oleh tidak adanya obat antiinflamasi di dalam tubuh tikus sehingga
proses peradangan tidak terhambat, tetapi hasil perhitungan data pengamatan yang diperoleh
menunjukkan bahwa pada menit ke-75 terjadi penurunan besar peradangan. Penurunan besar
peradangan ini kemungkinan disebabkan oleh cara pemberian intrakutan karagenan pada telapak
kaki tikus yang masih salah sehingga karagenan yang bertindak sebagai penginduksi inflamasi
tidak bekerja dengan baik dan cepat pada telapak kaki tikus. Kemungkinan lain juga bisa
disebabkan oleh pengukuran volume kaki tikus yang tidak tepat karena memang tikus tidak mau
mendiamkan kakinya ketika akan dicelupkan ke dalam air raksa sehingga mungkin saja
pencelupan kaki tikus ke dalam air raksa tidak sesuai tanda batas. Kemungkinan lainnya juga
bisa disebabkan karena pembacaan tinggi air raksa yang tidak tepat oleh praktikan. Dan juga
seharusnya tidak ada nilai negatif pada hasil perhitungan persentase perradangan karena ini
menandakan bahwa volume awal (Vo) yang dipakai bukanlah volume yang sebenarnya yang
kemungkinan disebabkan oleh tidak tepatnya pengukuran tinggi air raksa volume kaki tikus.
Pada tikus yang diberikan aspirin didapat hasil sebesar (isi)% pada menit ke-45, (isi)%
pada menit ke-60 dan (isi)% pada menit ke-75. Bila dibandingkan dengan tikus yang tidak
diberikan antiinflamasi, pada menit ke-45, 60, dan 75, besar peradangan pada tikus yang
diberikan aspirin lebih kecil. Hal ini menandakan adanya efek antiinflamasi oleh aspirin yang
telah bekerja di dalam tubuh tikus. Pada tikus yang diberikan obat uji fenilbutazon, diperoleh
hasil sebesar -(isi)% pada menit ke-45, (isi)% pada menit ke-60 dan (isi)% pada menit ke-75.
Hasil perhitungan persentase peradangan ini sangat aneh sehingga tidak dapat disimpulkan
bahwa apakah fenilbutazon kurang efektif atau lebih efektif sebagai antiinflamasi dibandingkan
dengan aspirin.
Selanjutnya berdasarkan persen inhibisi obat uji fenilbutazon dibandingkan dengan
aspirin, didapat hasil pada menit ke-45 sebesar (isi)% menit ke-60 sebesar (isi)% dan pada menit
ke-75 sebesar (isi)% Berdasarkan hasil tersebut, tidak dapat dikatakan apakah fenilbutazon lebih
efektif atau kurang efektif untuk menginhibisi peradangan karena pada menit ke-60 ke menit ke75 terjadi pengurangan potensinya sehingga hasil pengamatan percobaan kali ini dipertanyakan.
Hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh, selama percobaan kali ini, dari awal hingga akhir,

cara pemberian intrakutan karagenan pada telapak kaki tikus yang masih salah sehingga
karagenan yang bertindak sebagai penginduksi inflamasi tidak bekerja dengan baik dan cepat
pada telapak kaki tikus. Kemungkinan lain juga bisa disebabkan oleh pengukuran volume kaki
tikus yang tidak tepat karena memang tikus tidak mau mendiamkan kakinya ketika akan
dicelupkan ke dalam air raksa sehingga mungkin saja pencelupan kaki tikus ke dalam air raksa
tidak sesuai tanda batas. Kemungkinan lainnya juga bisa disebabkan karena pembacaan tinggi air
raksa yang tidak tepat oleh praktikan.
Aktivitas antiinflamasi obat ditunjukkan oleh kemampuan obat mengurangi udema yang
diinduksi pada telapak kaki hewan percobaan. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan,
didapatkan bahwa tikus kelompok kontrol yang diberikan PGA mengalami peradangan sebesar
77,27 % Sedangkan pada tikus kelompok uji I yang diberikan aspirin didapat hasil peradangan
66,36 %. Pada tikus kelompok uji II yang diberikan obat fenilbutazon, diperoleh hasil
peradangan 5,13 %. Persentase peradangan yang terjadi pada kelompok kontrol lebih besar
dibanding persentase peradangan yang terjadi pada kelompo uji I (aspirin) dan uji II
(fenilbutazon), menunjukkan bahwa aspirin dan fenilbutazon memiliki aktivitas antiinflamasi.
Selain itu, adanya aktivitas antiinflamasi pada aspirin dan fenilbutazon juga menunjukkan cara
pemberian obat pada tikus yakni dengan cara oral telah dilakukan dengan baik sehingga aspirin
dan fenilbutazon mampu memberikan efek antiinflamasi pada hewan percobaan.
Nilai inhibisi radang rata-rata pada aspirin adalah sebesar 204,4 % sementara pada
fenilbutazon, nilai inhibisi radang rata-rata adalah sebesar 82,5%. Nilai inhibisi radang adalah
nilai yang menunjukkan kemmapuan obat uji untuk menekan radang (aktivitas inflamasi) dimana
peradangan pada kelompok kontrol adalah 100%. Pada percobaan, didapatkan bahwa nilai
inhibisi aspirin lebih besar dibandingkan dengan nilai inhibisi radang fenilbutazon.
Dari grafik, dapat dilihat bahwa uji I (aspirin) mampu menurunkan peradangan pada
hewan uji dimulai pada menit ke 60 dan 75 secara signifikan. Sementara, kemampuan inhibisi
fenilbutazon dimulai dari menit 60 namun tidak terlalu signifikan di menit 75. Dari percobaan ini
dapat disimpulkan bahwa kemampuan inhibisi radang aspirin lebih tinggi dari fenilbutazon.
Percobaan yang dilakukan kali ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas farmakologi
Aspirin dan Fenilbutazon sebagai obat antiinflamasi pada tikus yang kemudian diinjeksi
karagenan, sebagai inisiator terjadinya inflamasi tersebut. Selain itu, untuk membandingkan
efektivitas farmakologi Aspirin dan Fenilbutazon sebagai obat antiinflamasi pada tikus.

Inflamasi diidentifikasikan sebagai suatu reaksi lokal organisme terhadap suatu iritasi atau
keadaan non fisiologik.
Tikus yang digunakan dalam percobaan ini berjumlah tiga ekor dengan tiga perlakuan
yang masing-masing berbeda. Mula-mula, semua tikus yang akan digunakan ditimbang dahulu.
Tikus I, sebagai kontrol, memiliki berat badan 148 gr, sebagai uji, yang berat badannya secara
berurutan adalah 153 gr dan 106 gr. Penimbangan berat badan dilakukan untuk menentukan dosis
injeksi yang akan diberikan. Adapun dosis yang diberikan untuk masing-masing tikus memiliki
konsentrasi obat 2 gr/2 mL, sehingga setelah dihitung diperoleh dosis untuk tikus I = 0,37 mL,
tikus II = 0,3825 mL, tikus III = 0,265 mL, yang dipergunakan untuk semua jenis obat yang akan
diinjeksikan. Sedangkan obat antiinflamasi yang digunakan adalah Aspirin dan Fenilbutazon.

KESIMPULAN
-

Efek yang ditimbulkan akibat pemberian karagenan pada hewan percobaan adalah
terjadinya udem, yang terlihat dari bertambahnya volume kaki tikus setelah diukur
dengan alat pletismometer.

Mekanisme karagenan dalam menimbulkan inflamasi adalah dengan merangsang lisisnya


sel mast dan melepaskan mediator-mediator radang yang dapat mengakibatkan
vasodilatasi sehingga menimbulkan eksudasi dinding kapiler dan migrasi fagosit ke
daerah radang sehingga terjadi pembengkakan pada daerah tersebut.

Efek antiinflamasi dari pemberian NA Diklofenak adalah mengurangi udem pada kaki
tikus akibat pemberian karagenan.

Inflamasi terjadi karena reaksi antara antigen dengan antibodi yang dapat merangsang
pelepasan mediator radang sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh kapiler dan migrasi
fagosit ke daerah radang, yang mengakibatkan hiperemia dan udem pada daerah
terjadinya inflamasi.

Azas dasar percobaan aktivitas antiinflamasi dapat dipahami dan diperoleh petunjukpetunjuk yang praktis bahwa untuk menguji efek antiinflamasi suatu obat, hewan
percobaan harus diberi obat antiinflamasi terlebih dahulu baru dibuat inflamasi sehingga
persentase inhibisi peradangan dapat diamati.

Beberapa kemungkinan dan batasan yang merupakan sifat teknik percobaan dapat
ditunjukkan bahwa pembentukan udem oleh karagenan tidak menyebabkan kerusakan
jaringan meskipun udem dapat bertahan selama beberapa jam dan berangsur-angsur akan
berkurang tanpa meninggalkan bekas.

DAFTAR PUSTAKA
Astawa, P.; Bakta, M.; Budha, K. (2008). Makrofag Pengekspresi IL-1 serta Respons Inflamasi
Sistemik pada Fiksasi Interna Dini Fraktur Femur Tertutup Lebih Rendah Dibandingkan
dengan yang Tertunda.
http://www.unud.ac.id/files/cdk/files/022_13TerapiObatCimetidine.pdf/022_13
Effendi, Z., dr. (2007). Peranan Leukosit sebagai Antiinflamasi Alergik dalam Tubuh.
http://www.digilib.usu.ac.id/files/cdk/files/022_13jurnalinflamasi.pdf/022_13.html
Munaf ST; Syamsul. (1994). Catatan Kuliah Farmakologi Bagian II. Staf Pengajar Laboratorium
Farmakologi-FK UNSRI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 214.
Mycek,M.J. (1995). Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi 2. Jakarta: Widya Medika. Hal 404.
Neal, M.J. (2006). Farmakologi Medis At Glance. Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit PT Erlangga.
Hal 70-71.
Tan, T.,J. (2008). Mujizat omega-3 terhadap kesehatan (III).
http://digilib.litbang.depkes.go.id/ go . php ? id = jkpkbppk gdl grey 2008 sa2382173broni -1662 -.
Tjay, T.H. (2002). Obat-Obat Penting. Edisi V. Cetakan II. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia. Hal 308.
Wilmana, P.F. (1995). Analgesik-Antipiretik Analgesik Anti-Inflamasi Nonsteroid Dan Obat
Pirai, dalam Farmakologi dan Terapi. Editor Sulistia G. Ganiswara. Edisi IV. Jakarta:
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UI. Hal 207-209.