Anda di halaman 1dari 3

Rizky Dwi Gustina

21040114120025
Kelas A

Model Pengembangan Wilayah dari Atas dan Dari Bawah

Banyak para akhli dan buku-buku yang menghubungkan teori pusat


pengembangan ini dengan teknik perencanaan wilayah. Konsep Growth Pole
atau poles de croissance diperkenalkan oleh Francois Ferroux (1955) sebagai
seorang akhli perencanaan wilayah berkebangsaan Perancis yang
pendapatnya bersumber dari teori innovasi ciptaan Schumpeter.
Menurut Ferroux : berdasarkan fakta dasar perkembangan keruangan
(spasial), pertumbuhan tidak terjadi di sembarang tempat dan juga tidak
terjadi secara serentak; pertumbuhan itu terjadi pada titik-titik atau kutubkutub perkembangan, dengan intensitas yang berubah-ubah; dan
pertumbuhan itu menyebar sepanjang saluran-saluran yang beraneka ragam
terhadap keseluruhan perekonomian.
Gore, C(1984): growth pole telah di definisikan oleh berbagai pakar
secara berbeda-beda dan lebih spesifik:

Boudeville (1966) : kutub pertumbuhan regional, yi sekelompok


industri yg mengalami ekspansi yg berlokasi di suatu daerah
perkotaan dan mendo-rong perkembangan kegiatan ekonomi
lebih lan-jut ke seluruh daerah pengaruhnya.
MCCrone (1969) suatu pusat pertumbuhan yang terdiri dari suatu
kompleks industri yang saling berkaitan dan mendapat
keunggulan ekonomi dari keuntungan lokasi (locational
proximity).
Nichols (1969) suatu pusat pertumbuhan adalah suatu pusat
kegiatan ekonomi di perkotaan yg mengalami pertumbuhan
secara self sustaining, dan sampai suatu titik pertumbuhan itu
didorong ke luar daerah pusat terutama ke daerah-daerah yang
kurang berkembang.
Parr (1973) suatu pusat pengembangan menyajikan suatu pusat
perkotaan dgn ukuran populasi yang terdefinisikan meliputi salah
satu karakteristik pertumbuhan (a) pertumbuhan penduduk
(kesempatan kerja) pd tingkat yg lebih besar dari rata-rata
ukuran regional, dan (b) pertumbuhan absolut penduduk
(kesempatan kerja) yang lebih besar daripada pertumbuhan
regional.
Lasuen (1974) pusat pengembangan adalah sekelompok industri
yg besar yg mempunyai keterkaitan yg kuat melalui hubungan
input-output antara leading industri di sekitarnya yg secara
geografi membentuk kluster. Leading industri mendorong ke

Rizky Dwi Gustina


21040114120025
Kelas A

seluruh kelompok, menginovasi, dan tum-buh pd tempat yg lebih


cepat daripada industri-industri eksternal ke pusat.
Gore, C (1974) menyimpulkan beberapa pengertian growth pole

Suatu aglomerasi spasial dari industri yang saling berkaitan.


Suatu aglomerasi spasial dari industri yang saling berkaitan yang
mengandung suatu pertumbuhan industri propulsive.
Suatu aglomerasi spasial dari industri yang saling berkaitan,
yang berlokasi di suatu pusat kota, yang melalui ekspansinya
mendorong pertumbuhan pada daerah hinterland.
Suatu pusat perkotaan yang tumbuh yg mendorong
pertumbuhan pada daerah hinterland.
Suatu pusat kota yang mengalami pertumbuhan.

Jadi dapat katakan bahwa pusat pengembangan/kutub pertumbuhan


merupakan suatu konsentrasi industri atau kegiatan ekonomi pada suatu
tempat tertentu yang kesemuanya saling berkaitan melalui hubungan inputoutput dengan industri utama (leading and propulsive industry).
Richardson (1978) menyimpulkan: Jika kegiatan ekonomi yang saling
berkaitan dikonsentrasikan pada suatu tempat, pertumbuhan ekonomi
daerah yang bersangkutan akan meningkat lebih cepat dibanding jika
kegiatan ekonomi tersebut tersebar dan terpencar ke seluruh pelosok
daerah. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa jika sebuah pusat
pengembangan didirikan pada suatu daerah yang relatif masih kurang
berkembang, laju pertumbuhan pada daerah yang bersangkutan akan dapat
ditingkatkan sehingga perbedaan kemakmuran antar wilayah secara
bertahap akan dapat dikurangi.

Leading/Propulsive Industry, pada kutub pertumbuhan, perusahaanperusahaan propulsip yang besar termasuk leading industries
mendominasi unit-unit ekonomi lainnya. Suatu leading industry
mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut: Kaitan-kaitan antar industri yg
kuat dg sektor-sektor lainnya. Kaitan ini dapat berbentuk kaitan ke
depan (forward linkage) dan ke belakang (backward linkage). ;
Permintaan terhadap produknya mempunyai elastisitas pendapatan yg
tinggi, yg produknya biasanya dijual ke pasar-pasar nasional.
Efek Polarisasi atau Backwash Effect : Konsep dasar tentang efek
polarisasi dan backwash effect sangat erat kaitannya dengan teori
pusat pengembangan ini. Konsep ini menyatakan bahwa pertumbuhan
dari leading industries (propulsive growth) akan mendorong polarisasi

Rizky Dwi Gustina


21040114120025
Kelas A

dari unit-unit ekonomi lainnya dari daerah hinterland ke kutub


pertumbuhan. Proses konsentrasi spasial sumberdaya kedalam suatu
pusat atau core disebut backwash (Myrdal) atau polarisasi (Hirschman)
(Bradford, M.G and W.A. Kent, 1980). Dampak polarisasi bagi pusat
pengembangan adalah adanya keuntungan aglomerasi, namun dapat
menimbul-kan polarisasi geografik dengan mengalirnya sumberdaya ke
dan konsentrasi kegiatan ekonomi pada pusat-pusat yang jumlahnya
terbatas di suatu daerah.
Spread Effects / Trickle Down Effect menyatakan bahwa pada
waktunya, kualitas propulsip dinamik (output) dari kutub pertumbuhan
akan memencar keluar dan memasuki ruang di sekitarnya (hinterland),
sehingga dengan terdistribusinya output dari pusat pengembangan
dapat mendorong pertumbuhan ruang di sekitarnya.
Model Pengembangan Wilayah dari Atas ke Bawah
Atas
Terpadu

Wilayah
Kota
Kota Kecil & Menengah

Bawah

Desa & Periferi

Sektor Kunci
Industri Manufaktur
Agro-Industri
Agro-Tourism
Industri Kecil (UMKM)

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan


wilayah dari atas berarti pengembangan yang memandang dari inti
atau pusat pertumbuhan (Kota) dan mengucur ke periferi atau daerah
belakang. Pengembangan dari atas bersumber dari teori ekonomi neo
klasik dan manifestasi keruangan adalah konsep pusat pertumbuhan.
Sampai saat ini startegi pengembangan digerakkan oleh permintaan
dari luar dan inovasi, dan juga dari sebagian kecil dinamika sektor atau
kelompok-kelompok geografi. Pengembangan ini sifatnya cenderung
perkotaan dan industri, padat modal dan didominasi oleh teknologi
tinggi. Dengan kata lain sektor kunci pengembangan ini adalah industri
manufaktur.
Sedangkan konsep pengembangan wilayah dari bawah berarti
konsep ini mensyaratkan adanya suatu tahapan dalam internalisasi
sumber daya untuk menghasilkan produk bagi pemenuhan konsumsi
masyarakat lokal, misalnya melalui cara pengembangan industri padat
karya skala kecil (UMKM). Hal ini didukung pendapat Hirschman (1975)
bahwa pengembangan wilayah atas suatu periphery hanya dapat
dilakukan dengan melindungin ya dari pengaruh polarisasi wilayah.