Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Bronchopneumonia


1. Pengertian
Menurut IKA FKUI (2007), bronchopneumonia merupakan kata lain dari
pneumonia

lobularis

yang

terjadi

pada

ujung

bronchiolus.

Bronchopneumonia adalah jenis infeksi paru yang disebabkan oleh agen


infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar alveoli (Amin & Hardi,
2015).
Bronchopneumoni adalah suatu peradangan pada parenkim paru yang
meluas sampai bronkhioli atau dengan kata lain peradangan yang terjadi
pada jaringan paru melalui cara penyebaran langsung melalui saluran
pernapasan atau melalui hematogen sampai ke bronkus (Sujono & Sukarmin,
2009).
Kesimpulannya bronchopneumonia merupakan salah satu dari klasifikasi
pneumonia berdasarkan anatomisnya terjadi pada bronchiolus dan biasanya
dijumpai pada anak kecil atau bayi yang disebabkan oleh agen infeksius
seperti bakteri, virus, jamur, ataupun benda asing.
2. Etiologi
Secara umum bronchopneumonia diakibatkan penurunan mekanisme
pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang normal dan
sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan
yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya mukus, gerakan silia yang
menggerakkan kuman keluar dari organ dan sekresi humoral setempat.
Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur,
protozoa, mikrobakteria, mikoplasma, dan riketsia. Antara lain :
a. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenza, Klebsiella
b. Virus
: Legionella Pneumoniae
c. Jamur
: Aspergillus Spesies, Candida Albicans
d. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paruparu
e. Terjadi karena kongesti paru yang lama
f. Riwayat terjadinya ISPA yang terlalu lama

Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan


tubuh yang menurun, misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP),
penyakit menahun, faktor iatrogen seperti trauma pada paru, anestesia,
aspirasi, pengobatan dengan antibiotika yang tidak sempurna (IKA FKUI,
2007)
3. Patofisiologi
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan
oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan
sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus
ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk
produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai
alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis,
emfisema dan atelektasis
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas,
dan bunyi napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru
dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk
melembabkan rongga pleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam
rongga

paru)

mengakibatkan

adalah

tindak

peningkatan

lanjut
frekuensi

dari

pembedahan.

napas,

Atelektasis

hipoksemia,

acidosis

respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan
mengakibatkan terjadinya gagal napas.
Proses masuknya kuman yang menyebabkan pneumonia setelah masuk ke
dalam tubuh, dapat dibagi menjadi 4 stadium yaitu :
1) Stadium kongesti (4 jam sampai 12 jam pertama) : kapiler melebar dan
kongesti serta di dalam alveolus terdapat eksudat jernih, bakteri dalam
jumlah banyak, beberapa neutrofil dan makrofag.
2) Stadium hepatisa merah (48 jam berikutnya) : lobus dan lobulus yang
terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara, warna menjadi
merah dan pada perabaan terasa seperti hepar. Dalam alveolus
didapatkan fibrin, leukosit neutrofil, eksudat dan banyak sekali eritrosit
dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat pendek.
3) Stadium hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari) : lobus masih tetap padat dan
warna merah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura suram karena

diliputi oleh fibrin. Alveolus terisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi
fagositosis pneumococcus. Kapiler tidak lagi kongestif.
4) Stadium resolusi (7 sampai 11 hari) : eksudat berkurang, dalam alveolus
makrofag bertambah dan leukosit mengalami nekrosis dan degenasi
lemak. Fibrin direasorbsi dan menghilang.

Bagan patofisiologi bronchopneumonia (Amin, 2015)

Penderita yang dirawat di RS


Penderita yg mengalami supresi system
pertahanan tubuh
KontAminasi peralatan RS
Infeksi saluran

Jamur, virus, bakteri,


protozoa

pernapasan bawah

Saluran pernapasan
atas

Proses
peradangan

Kuman berlebih di
bronkus

Kuman terbawa di
saluran cerna

Akumulasi secret di
bronkus

Ketidakefektifan bersihan
jalan napas

Infeksi saluran
pencernaan

Mucus bronkus
meningkat

Peningkatan peristaltik
usus malabsorbsi

Peningkatan
flora
Eksplorasi
meningkat
normal dalam usus

Bau mulut tdk sedap


Anoreksia
Edema
antara
kapiler
Metabolic
anaerob
Eksudat
plasma
masuk
Intake
kurang
dan
alveoli
Dilatasi
Hipoksia
pembuluh
meningkat
Suplai
O2
menurun
Intoleransi
aktifitas
alveoli

Diare
Ketidakseimbang nutrisi
kurang
dari kebutuhan
Gg. Difusi
dalam
tubuh
Akumulasi
asam
Peningkatan
hiperventilisasi
suhu
tubuh
Penurunan
capliance
paru
plasma
fatique
Iritan PMN
eritrositlaktat
pecah

Resiko ketidakseimbangan
elektrolit
Ketidakefektifan
Bersihan
Retraksi Dada/Nafas
Jalan
Nafas
Septikimia
Dispneu
Hidung
Pergeseran
Peningkatan
Dinding
metabolisme
Paru
Gg.Cuping
Pertukaran
Edema Parugas

4. Tanda dan Gejala


Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak
adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyabab yang
luas, gejala klinis yang kadang kadang tidak khas terutama pada bayi,
terbatasnya penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi non infeksi yang
relatif lebih sering, dan faktor patogenesis. Disamping itu, kelompok usia
pada anak merupakan faktor pentingyang menyebabkan karakteristik penyakit
berbeda beda, sehingga perlu pertimbangan dalam tatalaksana pneumonia.
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat
ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut (Nastiti, 2008) :
Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise,
penurunan napsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual,
muntah atau diare; kadang kadang ditemukan gejala infeksi

ekstrapulmoner.
Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak nafas, retraksi dada,
takipnea, napas cuping hidung, udara kering, merintih, kejang dan
sianosis.

Namun pada bronkhopneumonia biasanya tidak terjadi nafas cepat dan


dangkal, pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut dan hidung.
Pada bronchopneumonia, hasil pemeriksaan fisis tergantung dari pada luas
daerah yang terkena. Pada perkusi thoraks sering ditemukan kelainan. Pada
auskultasi mungkin hanya terdengar ronkhi basah nyaring halus atau sedang.
Bila sarang bronchpneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada
perkusi terdengar keredupan dan suara pernafasan pada auskultasi terdengar
mengeras. Pada stadium resolusi, ronkhi terdengar lagi (IKA FKUI, 2005).
5. Pemeriksaan Penujang

Menurut Irman (2008) , berikut ini adalah beberapa pemeriksaan penunjang


pada bronchopneumonia :
a. Chest X ray : teridentifikasi adanya penyebaran (misal : lobus dan
bronkhial); dapat juga menunjukan multipel abses/infiltat, empiema
(staphilococcus).
b. Analisis gas darah (ABGs) : abnormalitas mungkin timbul tergantung dari
luasnya kerusakan paru paru.
c. Periksa darah lengkap (CBC) : leukositosis biasanya timbul, meskipun
nilai pemeriksaan darah putih rendah pada infeksi virus.
d. LED : meningkat.
e. Pemeriksaan fungsi paru paru : volume mungkin menurun (kongesti dan
kolaps alveolar) : tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas
pemenuhan udara menurun, hipoksemia.
f. Elektrolit : sodium dan klorida mungkin rendah.
6. Komplikasi
Komplikasi pada anak meliputi empiema torasis, otitis media akut,
perikarditis purulenta, pneumothoraks, atau infeksi seperti meningitis
purulenta (Nastiti, 2008). Empiema torasis dan otitis media akut merupakan
komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteria. Komplikasi lain
seperti meningitis, perikarditis, osteomielitis, peritonitis lebih jarang dilihat
(IKA FKUI,2007).
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat diberikan menurut Amin (2015), antara lain :
a. Menjaga kelancaran pernafasan
b. Kebutuhan istirahat
Pasien ini sering hiperpireksia maka pasien perlu cukup istirahat, semua
kebutuhan pasien harus ditolong di tempat tidur.
c. Kebutuhan nutrisi dan cairan
Pasien bronchopneumonia hampir selalu mengalami masukan makanan
yang kurang. Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari dan masukan
cairan yang kurang dapat menyababan dehidrasi. Untuk mencegah
dehidrasi dan kekurangan kalori dipasang infus dengan cairan glukosa
5% dan NaCl 0,9%
d. Mengontrol suhu tubuh.
e. Pengobatan
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi. Akan tetapi,
karena hal itu perlu waktu dan pasien perlu terapi secepatnya maka
biasanya diberikan penicilin ditambah dengan Cloramfenikol atau

diberikan antibiotik yang mempunyai spektrum luas seperti Ampicilin.


Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari. Karena
sebagian besar pasien jatuh kedalam asidosis metabolik akibat kurang
makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan analisis
gas darah arteri.
8. Konsep Tumbuh Kembang bayi usia 8-9 bulan
a. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Menurut (Sujono,2009) tumbuh kembang anak usia 8-9 bulan dapat
digambarkan sebagai berikut :
1) Fisik : sudah bisa duduk dengan sendirinya, koordinasi tangan ke
mulut sangat sering, bayi mulai tengkurap sendiri dan mulai belajar
untuk merangkak, sudah bisa mengambil benda dengan menggunakan
jari-jarinya.
2) Sensoris : bayi tertarik dengan benda benda kecil yang ada
disekitarnya.
3) Sosialisasi : bayi mengalami stranger anxiety/merasa cemas terhadap
hal-hal yang belum dikenalnya (orang asing) sehingga dia akan
menangis dan mendorong. Anak juga akan merespon meronta-ronta,
merangkul/memeluk orang yang dicintainya, jika dimarahi dia sudah
bisa menerima reaksi menangis dan tidak senang.
4) Bahasa : bayi sudah mulai mengulang kata-kata dada..dada tetapi
belum mempunyai arti.

B. Konsep

Dasar

Asuhan

Keperawatan

Pasien

Anak

dengan

Bronchopneumonia
1. Pengkajian
Kaji riwayat alergi dalam keluarga dan gangguan genetik, riwayat pasien
tentang disfungsi pernapasan sebelumnya : bukti terbaru penularan terhadap
infeksi, alergen, atau iritan lain dan trauma. Kaji frekuensi, kedalaman,
kemudahan, pernapasan sulit dan irama pernapasan. Kaji adanya bukti
infeksi, batuk, mengi, sianosis, nyeri dada, sputum, dan pernapasan buruk.

10

Kaji faktor faktor yang mempengaruhi tipe penyakit dan respon terhadap
infeksi pernapasan akut (misalnya pertumbuhan dan usia anak, kemampuan
untuk mengatasi infeksi pernapasan akut, kontak dengan anak yang terinfeksi,
gangguan penyerta yang mempengaruhi saluran napas). Kaji status
pernapasan : pantau pernapasan untuk frekuensi, kedalaman, pola, adanya
retraksi dan pernapasan cuping hidung. Auskultasi paru : evaluasi bunyi
napas (tipe dan lokasi), deteksi adanya krekels atau mengi, deteksi area
konsolidasi, evaluasi keefektifan fisioterapi dada, evaluasi ada atau tidaknya
retraksi dan pernapasan cuping hidung. Observasi adanya suara serak, stridor,
dan batuk. Pantau frekuensi jantung dan keteraturannya. Observasi perilaku :
gelisah, peka rangsang, ketakutan. Observasi adanya tanda-tanda berikut :
nyeri dada, nyeri abdomen,dispnea (Donna L. Wong, 2004).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim muncul menurut Amin (2015) pada anak
dengan bronchopneumonia antara lain adalah ketidakefektifan bersihan jalan
nafas b.d inflamasi trakeobronchial dan peningkatan sputum, gangguan
pertukaran gas b.d perubahan membran alveolus kapiler, ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kebutuhan metabolik sekunder
terhadap demam dan proses infeksi, intoleransi aktifitas b.d insufisiensi O2
untuk aktifitas sehari-hari, dan resiko ketidakseimbangan elektrolit b.d
perubahan kadar elektrolit dalam serum (diare).

3. Perencanaan
Perencanaan dilakukan sesuai dengan diagnosa yang telah ditetapkan
menurut Amin (2015) adalah sebagai berikut :
a. Diagnosa : Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d inflamasi
trakeobronchial dan peningkatan sputum. NOC dari diagnosa tersebut
adalah patenkan jalan nafas (airways patency) dan ventilitation. Dengan
kriteria hasil suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu,
menunjukan jalan nafas yang paten (irama nafas teratur dan frekuensi
nafas normal). NIC yang dapat diberikan yaitu posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi, auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan, berikan bronkodilator bila perlu, lakukan suction jika

11

diperlukan, atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan, serta


Monitor respirasi dan status O2.
b. Diagnosa : gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolus
kapiler. NOC dari diagnosa tersebut adalah pertukarna gas normal,
ventilitation

dan

vital

sign

normal.

Dengan

kriteria

hasil

mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat,


serta memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda tanda distress
pernafasan. NIC yang dapat diberikan adalah monitor (rata-rata,
kedalaman, irama dan usaha respirasi), catat pergerakan dada, amati
kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, monitor suara nafas (seperti
dengkur), monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis),
auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan
suara tambahan, Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi,
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan, lakukan suction
pada mayo (pada penurunan kesadaran), berikan bronkodilator bila perlu,
atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan, monitor respirasi
dan status O2.
c. Diagnosa : ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
NOC dari diagnosa tersebut adalah nutritional status : food and fluid
Intake, nutrient intake, BB terkontrol. Dengan kriteria hasil adanya
peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan, berat badan ideal sesuai
dengan tinggi badan, mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi, tidak
ada tanda tanda malnutrisi dan tidak terjadi penurunan berat badan yang
berarti. NIC yang dapat dilakukan yaitu monitor mual dan muntah,
monitor kadar (albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht), BB pasien
dalam batas normal, monitor adanya penurunan berat badan, yakinkan
diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi,
berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi),
monitor pertumbuhan dan perkembangan.
d. Diagnosa : intoleransi aktifitas b.d insufisiensi O2 untuk aktifitas seharihari. NOC dari diagnosa tersebut adalah konservasi energi dan toleransi
aktivitas. Dengan kriteria hasil berpartisipasi dalam aktifitas fisik tanpa

12

disertai dengan peningkatan (tekanan darah, nadi dan RR), tanda-tanda


vital normal, level kelemahan, status kardiopulmonari adekuat, dan
sirkulasi baik. NIC yang dapat dilakukan adalah bantu untuk memilih
aktivitas konsisten sesuai dengan kemampuan (fisik, psikologi, dan
sosial), bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktifitas, sediakan penguat positif bagi yang aktif beraktifitas, monitor
respon (fisik, emosi, sosial, dan spiritual), bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang.
e. Diagnosa : resiko ketidakseimbangan elektrolit b.d perubahan kadar
elektrolit dalam serum (diare). NOC dari diagnosa tersebut adalah balance
cairan, hidrasi, dan intake makanan yang minuman tercukupi. Dengan
kriteria hasil mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, Bj
urine normal, HT normal, (tekanan darah, nadi, suhu tubuh,dan RR)
dalam batas normal, tidak ada tanda dehidrasi (elastisitas turgor kulit baik,
membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan). NIC
yang dapat dilakukan adalah pertahankan catatan intake dan output yang
akurat, monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah ortostatik), monitor vital sign, kolaborasi
pemberian cairan IV, monitor status cairan termasuk intake dan output
cairan, monitor tingkat Hb dan hematokrit, dan dorong keluarga untuk
membantu pasien makan.
4. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan pasien terdapat 4 tindakan yang utama
yaitu

melaksanakan

prosedur

keperawatan,

melakukan

observasi,

memberikan pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan, dan


melaksanakan program pengobatan. Pelaksanaan tindakan keperawatan yang
telah direncanakan dilakukan berdasarkan standar asuhan keperawatan dan
sistem pendelegasian yang telah ditetapkan (Taqqiyah & Jauhar, 2013).
5. Evaluasi
Hasil yang diharapkan pada pasien dengan bronchopneumonia menurut Amin
(2015) adalah patennya jalan nafas, peningkatan ventilasi dan oksigenasi
yang adekuat, intake makanan dan cairan adekuat, konservasi energi dan
toleransi aktivitas dan (balance cairan, hidrasi, dan intake makanan yang

13

minuman) tercukupi. Kemudian menurut Kartika Sari (2013), ditambahkan


dengan hilang/berkurangnya kecemasan dan pengetahuan meningkat.