Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Kortikosteroid merupakan obat yang sangat banyak dan luas dipakai


dalam dunia kedokteran. Begitu luasnya penggunaan kortikosteroid ini bahkan
banyak yang digunakan tidak sesuai dengan indikasi maupun dosis dan lama
pemberian,seperti pada penggunaan kortikosteroid sebagai obat untuk menambah
nafsu makan dalam waktu yang lama dan berulang sehingga bias memberikan
efek yang tidak diinginkan.
Untuk menghindari hal tersebut diperlukan pemahaman yang mendalam
dan benar tentang kortikosteroid baik farmakokinetik,physiologi didalam tubuh
maupun akibat-akibat yang bisa terjadi bila menggunakan obat tersebut.
Kortokosteroid pertamakali dipakai untuk pengobatan pada tahun 1949
oleh Hence et al untuk pengobatan rheumatoid arthritis. Sejak saat tersebut
kortikosteroid semakin luas dipakai dan dikembangkan usaha-usaha untuk
membuat senyawa-senyawa glukokorticoid sintetik untuk mendapatkan efek
glukokortikoid yang lebih besar dengan efek mineralokortikoid lebih kecil serta
serendah mungkin efek samping ( 1 )
DEFINISI
Kortikosteroid adalah hormon yang tergolong dalam kelompok hormon
steroid yang dihasilkan oleh kelenjar korteks adrenal. Pada kondisi fight & fight,
hipotalamus beraksi dengan menghasilkan corticotropin releasing factor (CRF),
CRF kemudian akan menstimulasi kelenjar pituitari anterior untuk menghasilkan
adrenocorticotrophin stimulating hormone (ACTH). ACTH akan memasuki
sistem sirkulasi dan menuju ke kelenjar korteks adrenal dan menstimulasi
produksi hormon korticosteroid. Hormon ini berperan penting mengatur respon
tubuh

terhadap

stress,

system

kekebalan

tubuh,

pengaturan

gluconeogenesis, metabolism lemak, protein dan juga emosi.

inflamasi,

Kelenjar korteks adrenal dapat dibagikan kepada tiga bagian, yaitu zona
glomerulosa, zona fasikulata dan zona retikularis. Hormon kortikosteroid juga
terbagi kepada tiga, yaitu glukokorticoid, aldosterone dan androgen. Aldosteron
diproduksi di zona glomerulosa yang paling luar, glukokorticoid diproduksi pada
zona fasikulata yang berada di tengah, dan terkakhir, hormon androgen diproduksi
pada zona paling dalam yaitu zona retikularis.
Glukokortikoid berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak,
dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan
fosfolipid, serta dapat menurunkan kerja eosinophil,contoh dari glukokortikoid
adalah kortisol. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid, yang
berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di
ginjal,contoh dari mineralokorticoid adalah aldosteron. Beberapa kortikosteroid
menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut dalam beberapa derajat, dan lainnya
hanya mengeluarkan satu jenis efek.
Dalam bidang farmasi, obat-obatan yang disintesis sehingga memiliki efek
seperti hormon kortikosteroid alami memiliki manfaat yang cukup penting.
Deksametason dan turunannya tergolong glukokortikoid, sedangkan prednison
dan turunannya memiliki kerja mineralokortikoid disamping kerja glukokortikoid
KLASIFIKASI KORTIKOSTEROID
Hormon kortikosteroid dihasilkan dari kolesterol di korteks kelenjar
adrenal yang terletak di atas ginjal. Reaksi pembentukannya dikatalisis oleh enzim
golongan sitokrom P450.

Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis


yang menonjol darinya, yaitu:
1. Glukokortikoid
- Contohnya: kortisol
- berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
- bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid,
serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil.
2. Mineralokortikoid
- Contohnya: aldosteron, desoksikortikosteron, fludokortison
- berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan
garam di ginjal.
Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi tiga golongan, berdasarkan masa
kerjanya, antara lain kerja singkat (<12 jam), kerja sedang (12-36 jam), dan kerja lama
(>36 jam).
Tabel 1 Perbandingan potensi relatif dan dosis ekuivalen sediaan kortikosteroid
Kortikosteroid
Kortisol
(Hidrokortison)
Kortison
Kortikosteron
6-- metil
prednisolon
Pludrokortison
(Mineral kortikoid)
Prednison
Prednisolon
Triamnisolon
Parametason
Betametason
Deksametason

Retensi Natrium
1

Potensi
Antiinflamasi
1

Lama Kerja
S

Dosis Ekuivalen
(mg)
20

0,8
15
0,5

0,8
0,35
5

S
S
I

25
4

125

10

0,8
0,8
0
0
0
0

4
4
5
10
25
25

I
I
I
L
L
L

5
5
4
2
0,75
0,75

Keterangan:

* hanya berlaku untuk pemberian oral atau IV


S: kerja singkat (t biologik 8-12 jam)
I : intermediate, kerja sedang (t biologik 12-36 jam)
L : kerja lama (t biologik 36-72 jam)

INDIKASI KORTIKOSTEROID
1. Terapi Substitusi
Pemberian kortikosteroid disini bertujuan memperbaiki kekurangan akibat
insufisiensi sekresi korteks adrenal akibat gangguan fungsi atau struktur adrenal sendiri
(insufisiensi primer) atau hipofisis (insufisiensi sekunder). Insufisiensi adrenal akut

umumnya disebabkan oleh kelainan pada adrenal atau oleh penghentian pengobatan
kortikosteroid dosis besar secara tiba-tiba.
2. Terapi Non-Endokrin
Dasar penggunaan kortikosteroid dalam terapi ini adalah adanya efek antiinflamasinya dan kemampuannya menekan reaksi imun. Pada penyakit yang dasarnya
respon imun, obat ini bermanfaat. Pada keadaan yang perlu penanganan reaksi radang
atau reaksi imun untuk mencegah kerusakan jaringan yang parah dan menimbulakan
kecacatan, penggunaan kortikosteroid mungkin berbahaya sehingga perlu disertai dengan
penanganan tepat bagi penyebabnya. Preparat kortikosteroid adalah preparat dengan kerja
singkat dan kerja sedang misalnya prednison atau metil prednisolon dengan dosis
serendah mungkin. Kemungkinan efek samping harus terus dimonitor. Contoh
penggunaannya adalah
a. Fungsi paru pada Fetus, penyempurnaan fungsi paru fetus dipengaruhi sekresi
kortisol pada fetus. Pemberian kortikosteroid dosis tinggi kepada ibu hamil akan
membantu pematangan fungsi paru pada fetus yang akan dilahirkan prematur
sehingga risiko terjadi respiratory distress syndrome, perdarahan intraventrikular dan
kematian berkurang. Betamethasone atau Dexamethasone selama 2 hari diberikan
pada minggu ke 27 sampai 34 kehamilan. Overdosis akan menganggu berat badan
dan perkembangan kelenjar adrenal fetus.
b. Artritis. Kortikosteroid hanya diberikan pada pasien atritis rheumatoid yang sifatnya
progresif, dengan pembengkakan dan nyeri sendi yang hebat sehingga pasien tidak
dapat bekerja, meskipun telah diberikan istirahat, terapi fisik dan obat golongan anti
inflamasi nonsteroid.
c. Karditis reumatik. Pemberian kortikosteroid belum terbukti lebih baik dibandingkan
salisilat, namun risiko penggunaan kortikosteroid lebih besar dibandingkan salisilat,
maka pengobatan karditis reumatik dimulai dengan salisilat. Kortikosteroid hanya
digunakan pada keadaan akut, pada pasien yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan salisilat saja, atau sebagai terapi permulaan pada pasien dalam keadaan sakit
keras dengan demam, payah jantung akut, aritmia dan perikardithis.
d. Penyakit ginjal. Kortikosteroid dapat bermanfaat pada sindrom nefrotik yang
disebabkan lupus eritematosus sistemik atau penyakit ginjal primer, kecuali
amiloidosis.
e. Penyakit Kalogen. Pemberian dosis besar (prednisone 1-2 mg/kg atau sediaan lain
yang ekuivalen) bermanfaat untuk eksaserbasi akut; sedangkan terapi jangka panjang

hasilnya
f.

bervariasi.

Glukokortikoid

dapat

menurunkan

mordibitas

dan

memperpanjang masa hidup pasien poliartritis nodosa dan granulomatosis Wegener.


Asma Bronkhiale dan penyakit saluran napas lainnya. Respon asma terhadap
farmakoterapi bervariasi antar individu, sehingga dapat ditemukan pasien yang
resisten terhadap steroid meskipun jarang dan tidak menunjukkan hasil baik dengan
inhalasi steroid. Kortikosteroid saat ini diberikan segera pada serangan akut pasien
asam bronkhiale akut maupun kronik untuk mengatasi secara cepat radang yang

ternyata selalul terjadi pada saat serangan asma.


g. Penyakit Alergi. Gejala penyakit alergi yang hanya berlangsung dalam waktu
tertentu, dapat diatasi dengan glukokortikoid sebagai obat tambahan disamping obat
primernya; misalnya pada penyakit serum, urtikaria, dermatitis kontak, reaksi obat,
edema angioneurotik. Pada reaksi yang gawat, misalnya anafilaksis dan edema
angioneurotik glotis, diperlukan pemberian adrenalin dengan segera. Pada keadaan
yang mengancam jiwa pasien, kortikosteroid dapat diberikan IV.
h. Penyakit mata. Kortikosteroid dapat mengatasi gejala inflamasi mata bagian luar
i.

maupun pada segmen anterior.


Penyakit kulit. Bermacam-macam kelainan kulit dapat diobati dengan sediaan

j.

steroid topikal.
Penyakit Hepar.

Uji

klinis

menunjukkan

bahwa

glukokortikoid

dapat

memperpanjang masa hidup pasien nekrosis hepar subakut dan hepatitis kronik aktif,
hepatitis alkoholik dan sirosis non alkoholik pada wanita.
k. Keganasan. Leukemia limfositik akut dan limfoma dapat diatasi dengan
glukokortikoid karena efek antilimfositiknya. Prednison biasanya digunakan
bersama alkilator, antimetbolit dan alkaloid vinka. Selama pengobatan selain
l.

evaluasi klinik perlu dilakukan pemeriksaan darah dan sumsum tulang.


Gangguan Hematologik lain. Anemia hemolitik autoimun yang idiopatik maupun
yang didapat memberi respon yang baik terhadap terapi steroid. Obat ini tidak akan
mengurangi hemolisis pada reaksi transfusi, meski mungkin dapat mengurangi

hemolisis yang diinduksi oleh obat (drug-induced hemolisis).


m. Syok. Kortikosteroid sering digunakan untuk mengatasi syok. Pada syok anafilaktik
mungkin manfaatnya adalah melalui efek permisif yaitu membuat adrenalin bekerja
lebih baik mengatasi syok tersebut, adrenalin tetap merupakan obat utama yang
harus diberikan. Kortikosteroid yang diberikan untuk syok septik, sampai sekarang
masih banyak pertentangan pendapat.
n. Edema Serebral. Glukokortikoid sangat efektif untuk mencegah atau mengobati
edema serebral, karena parsit atau tumor otak, terutama pada kasus metastasis.

o. Trauma Sumsum tulang Belakang. Uji klinik multisentra membuktikan manfaat


metilprednisolone dosis besar (30 mg/kgBB dilanjutkan infuse 5,4 mg/kgBB perjam
selama 23 jam), sebelum 8 jam setelah trauma akan mengurangi gejala neurologis.
KONTRAINDIKASI
Sebenarnya sampai sekarang tidak ada kontraindikasi absolut kortikosteroid.
Pemberian dosis tunggal besar bila diperlukan selalu dapat dibenarkan, keadaan yang
mungkin dapat merupakan kontraindikasi relatif dapat dilupakan, terutama pada keadaan
yang mengancam jiwa pasien. Bila obat akan diberikan untuk beberapa hari atau beberapa
minggu, kontraindikasi relatif yaitu diabetes mellitus, tukak peptik/duodenum, infeksi
berat, hipertensi atau gangguan sistem kardiovaskular lain patut diperhatikan. Keadaankeadaan tersebut membutuhkan pertimbangan matang antara risiko dan keuntungan
sebelum obat diberikan.
DOSIS
Pengalaman klinis mengemukan 6 prinsip terapi yang perlu diperhatikan sebelum
penggunaan kortikosteroid: (1) Untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus
ditetapkan dengan trial and error, dan harus dievaluasi dari waktu kewaktu sesuai dengan
perubahan penyakit; (2) Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak
berbahaya; (3) Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya
kontraindikasi spesifik, tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar; (4) Bila
pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih hingga dosis melebihi dosis
subsitusi, insidens efek samping dan efek letal potensial akan bertambah ; dosis ekivalen
hidrokortisol 100 mg / hari lebih dari 2 minggu hampir selalu menimbulkan iatrogenic
cushing syndrome. Bila terpaksa pasien harus juga diberi diet tinggi protein dan kalium.
Awasi dan sadari risiko pengaruhnya terhadap metabolism, terutama bila gejala terkait
telah muncul misalnya diabetes yang resisten insulin, osteoporosis, lambatanya
penyembuhan luka; (5) Kecuali untuk insufisiensi adrenal, penggunaan kortikosteroid
bukan merupakan terapi kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek
anti inflamasinya; (6) Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang
dengan dosis besar, mempunyai risiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat
mengancam jiwa pasien. Oleh karena itu, penghentiannya harus secara bertahap.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa bila kortikosteroid akan digunakan untuk
jangka panjang, harus diberikan dalam dosis minimal yang masih efektif. Dosis ini

ditentukan secara trial and error. Pada keadaan yang tidak mengancam jiwa pasien,
misalnya untuk mengurangi nyeri pada arthritis rheumatoid, dosis awal harus kecil
kemudian secara bertahap ditingkatkan sampai keadaan tersebut mereda dan dapat
ditoleransi pasien. Kemudian dalam periode singkat dosis harus diturunkan bertahap
sampai tercapai dosis minimal dimana gejala semula timbul kembali. Bila
penggunaannya bertujuan mengatasi keadaan yang dapat mengancam pasien, misalnya
pemfigus maka dosis awal haruslah cukup besar. Bila dalam beberapa hari belum terlihat
efeknya, dosis dapat dilipatgandakan. Dalam hal ini, sebelum mengambil keputusan,
dokter harus dapat mempertimbangkan antara bahaya pengobatan dan bahaya akibat
penyakit sendiri.
Kortikosteroid dosis besar dapat diberikan untuk waktu singkat selama tidak ada
kontraindikasi spesifik untuk keadaan yang tidak mengancam jiwa pasien. Besarnya dosis
glukokortikoid yang dapat menyebabkan supresi hipofisis dan korteks adrenal ternyata
sangat bervariasi dan belum dapat dipastikan dengan tepat. Dosis kortikosteroid yang
makin besar dan makin lama waktu pengobatan, makin besar kemungkinan terjadinya
supresi tersebut. Oleh karena itu, pengurangan risiko supresi hipofisis adrenal ini, dapat
dilakukan modifikasi cara pemberian obat, misalnya dosis tunggal selang 1 atau 2 hari.

MEKANISME KERJA KORTIKOSTEROID


Farmakodinamik
Pada waktu memasuki jaringan, glukokortikoid berdifusi atau ditranspor
menembus sel membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmik
glukokortikoid heat-shock protein kompleks. Heat shock protein dilepaskan dan
kemudian kompleks hormon reseptor ditranspor ke dalam inti, dimana akan
berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada berbagai gen dan
protein pengatur yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya. Pada
keadaan tanpa adanya hormon, protein reseptor dihambat dari ikatannya dengan
DNA jadi hormon ini tidak menghambat kerja reseptor pada DNA. Perbedaan
kerja glukokortikoid pada berbagai jaringan dianggap dipengaruhi oleh protein
spesifik jaringan lain yang juga harus terikat pada gen untuk menimbulkan
ekspresi unsur respons glukokortikoid utama.

Selain itu, glukokortikoid mempunyai beberapa efek penghambatan umpan balik


cepat yang terjadi terlalu cepat untuk dijelaskan oleh ekspresi gen. Efek ini
mungkin diperantarai oleh mekanisme nontranskripsi
(Katzung, G. Bertram, Farmakologi dasar dan klinik, hal 617-618 . edisi IV, EGC,
Jakarta: 1997)
Farmakokinetik
Kortisol dan analog sintetiknya pada pemberian oral diabsorpsi cukup baik
Desoksikortikosteron asetat tidak efektif pada pemberian oral. Untuk mencapai
kadar tinggi dengan cepat dalam cairan tubuh, ester kortisol dan derivat
sintetiknya diberikan secara IV. Untuk mendapatkan efek yang lama kortisol dan
esternya diberikan secara IM.
(Bagian farmakologi FKUI, Farmakologi dan Terapi, hal 492 . Edisi 4, Jakarta:
1995)
Fungsi kortikosteroid
1.

Terhadap Metabolisme :
Karbohidrat

: Meningkatkan glukoneogenesis. Mengurangi penggunaan

glukosa di jaringan perifer dengan cara menghambat uptake dan penggunaan


glukosa oleh jaringan mungkin melalui hambatan transporter glucose
Lemak : Meningkatkan lipolisis dijaringan lemak. Pada penggunaan
khronis dapat terjadi redistribusi sentral lemak didaerah dorsocervical,bagian
belakang leher ( Buffalo hump ), muka ( moon face ) supraclavicular,
mediastinum anterior dan mesenterium. Mekanisme terjadinya redistribusi ini
tidak jelas.
Protein : Meningkatkan pemecahan protein menjadi asam amino dijaringan
perifer yang kemudian digunakan untuk glukoneogenesis.
2.

Terhadap proses keradangan dan fungsi immunologis:


Produksi normal dari glukokortikoid endogen tidak akan berpengaruh

secara bermakna terhadap proses keradangan dan penyembuhan (

2 )

. Kelebihan

glukokortikoid endogen dapat menekan fungsi immunologis dan dapat

mengaktifasi infeksi latent. Efek immunosupressi ini digunakan dalam


pengobatan penyakit-penyakit autoimmune,proses inflammasi dan transplantasi
organ.
Peran glukokortikoid dalam proses immunologis dan inflammasi adalah :
- Merangsang pembentukan protein ( lipocortin ) yang menghambat phospholipase
A2 sehingga mencegah aktivasi kaskade asam arachidonat dan pengeluaran
prostaglandin.
- Menurunkan jumlah limfosit dan monosit diperifer dalam 4 jam, hal ini terjadi
karena terjadi redistribusi temporer limfosit dari intravaskular kedalam limpa,
kelenjar limfe,ductus thoracicus dan sumsum tulang.
-

Meningkatkan pengeluaran granulosit dari sumsum tulang kesirkulasi, tapi

menghambat akumulasi netrofil pada daerah keradangan.


- Meningkatkan proses apoptosis
-

Menghambat sintesis cytokine

Menghambat nitric oxyd synthetase

Menghambat respon proliferatif monosit terhadap Colony Stimulating Factor dan


differensiasinya menjadi makrofag

Menghambat fungsi fagositik dan sitotoksik makrofag

Menghambat pengeluaran sel-sel radang dan cairan ketempat keradangan

Menghambat plasminogen activators ( PAs ) yang merubah plasminogen menjadi


plasmin yang berperan dalam pemecahan kininogen menjadi kinin yang berfungsi
sebagai vasodilator dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah.

3.

Terhadap musculoskeletal dan Jaringan ikat :


Tulang :
-

Pada pemakaian yang lama dapat menghambat fungsi osteoblast


dan mengurangi pembentukan tulang baru menyebabkan terjadinya
osteopenia.

Meningkatkan jumlah osteoclast

Secara tidak langsung mengurangi absorbsi calcium di saluran


cerna

Efek sekunder glukokortikoid juga meningkatkan Parathyroid


hormon dalam serum.

Meningkatkan ekskresi calcium di ginjal

Otot : Glukokortikoid meningkatkan pemecahan asam amino dari otot untuk


digunakan dalam glukoneogenesis, sehingga dalam pemakaian lama dapat
menyebabkan kelainan otot ( myopathy ) yang berat
Jaringan Ikat :
-

Glukokortikoid menyebabkan supressi fibroblas DNA dan RNA,


serta sintesis
Protein .

Juga menyebabkan supresi sintesis matriks intraselular ( kolagen &


hyalurodinat ). Pemakaian lama dapat menyebabkan gangguan
proses penyembuhan luka, apalagi gerakan makrofag kedaerah
keradangan juga menurun pada pemberian steroid yang lama
sehingga akan mempersulit penyembuhan luka.

4.

Terhadap neuropsychiatrik
Glukokortikoid mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku seperti pola
tidur, kognitif dan penerimaan input sensoris. Pada penelitian-penelitian yang
dilakukan pada penderita yang mendapatkan steroid exogen sering menunjukkan
euphoria, mania bahkan psikosis. Penderita dengan insuffisiensi adrenal juga
dapat menunjukkan gejala-gejala psikiatris terutama depresi, apati dan letargi.
5.

Terhadap Saluran Gastrointestinal :


Glukokortikoid mempunyai efek langsung terhadap transport ion natrium di colon
melalui reseptor glukokortikoid.

Pemakaian yang lama meningkatkan terjadinya resiko ulkus peptikum disaluran


cerna bagian atas.Mekanisme terjadinya belum diketahui, mungkin melalui

hambatan penyembuhan luka yang disebabkan factor-faktor lain. Penggunaan


dalam waktu singkat tidak akan menyebabkan terjadinya ulkus peptikum.
6.

Terhadap pertumbuhan
Pada anak dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan linier, penyebabnya
belum diketahui secara pasti, diduga melalui hambatan hormon pertumbuhan.

7.

Terhadap paru : dapat merangsang pembentukan surfactant oleh sel pneumatosit


II
Efek anti inflammasi dan immunosupressi kortikosteroid adalah efek
farmakologik utama yang banyak digunakan dalam pengobatan.

Efek samping kortikosteroid


Kortikosteroid jarang menimbulkan efek samping jika hanya digunakan
dalam waktu singkat dan non-sistemik. Namun apabila digunakan untuk jangka
waktu yang lama dapat menimbulkan beragam efek samping. Ada dua penyebab
timbulnya efek samping pada penggunaan kortikosteroid. Efek samping dapat
timbul karena penghentian pemberian secara tiba-tiba atau pemberian terus
menerus terutama dengan dosis besar.
Efek samping yang dapat timbul antara lain:
- Insufisiensi adrenal akut/krisis adrenal
Pemberian kortikosteroid jangka lama (>2 minggu) yang dihentikan secara
mendadak dapat menimbulkan insufisiensi adrenal akut (krisis adrenal).
Insufisensi adrenal akut sebaiknya dibedakan dari Addison disease, di mana
pada Addison disease terjadi destruksi adrenokorteks oleh bermacam penyebab
(mis.autoimun, granulomatosa, keganasan dll). Insufisiensi adrenal akut terjadi
akibat penekanan sumbu hipothalamus-hipofisis-adrenal oleh kortikosteroid
eksogen, sehingga kelenjar adrenal kurang memproduksi kortikosteroid
endogen. Pada saat kortikosteroid eksogen dihentikan, terjadilah kekurangan
kortikosteroid (endogen). Dapat terjadi kehilangan ion Na+ dan shock, terkait
aktivitas mineralokortikoid yang ikut berkurang. Gejala yang timbul antara
lain gangguan saluran cerna, dehidrasi, rasa lemah, hipotensi, demam, mialgia,
dan arthralgia. Hal ini diatasi dengan pemberian hidrokortison, disertai asupan

air, Na+, Cl-, dan glukosa secepatnya. Untuk menghindari insufisiensi adrenal
maka penghentian penggunaan kortikosteroid harus secara perlahan /bertahap.
-

Habitus Cushing
Penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu lama menyebabkan

kondisi hiperkortisme sehingga menimbulkan gambaran habitus Cushing.


Kortikosteroid yang berlebihan akan memicu katabolisme lemak sehingga terjadi
redistribusi lemak di bagian tertentu tubuh. Gejala yang timbul antara lain moon
face, buffalo hump, penumpukan lemak supraklavikular, ekstremitas kurus, striae,
acne

dan

hirsutism.

Moon

face

dan

buffalo

hump

disebabkan

redistribusi/akumulasi lemak di wajah dan punggung. Striae (parut kulit berwarna


merah muda) muncul akibat peregangan kulit (stretching) di daerah perut yang
disebabkan oleh akumulasi lemak subkutan.
-

Hiperglikemia dan glikosuria


Karena kortikosteroid (glukokortikoid) berperan dalam memetabolisme

glukosa yaitu melalui peningkatan glukoneogenesis dan aktivitas enzim glukosa6-pospat, maka akan timbul gejala berupa peninggian kadar glukosa dalam darah
sehingga terjadi hiperglikemia dan glikosuria. Dapat juga terjadi resistensi insulin
dan gangguan toleransi glukosa, sehingga menyebabkan diabetes steroid (steroidinduced diabetes).

Penurunan absorpsi kalsium intestinal


Penelitian menunjukkan bahwa betametason serta prednison menyebabkan

penurunan absorpsi kalsium di intestinal dalam jumlah signifikan. Hal ini dapat
membuat keseimbangan kalsium yang negatif.
-

Keseimbangan nitrogen negatif

Kortikosteroid juga menyebabkan mobilisasi asam amino dari jaringan


ekstrahepatik, yang digunakan sebagai substrat untuk glukoneogenesis. Hal ini
menyebabkan tingginya kadar asam amino dalam plasma, peningkatan
pembentukan urea, dan keseimbangan nitrogen negatif.
-

Mudah terkena infeksi


Kortikosteroid selain memiliki efek metabolik juga memiliki efek

antiinflamatik. Efek antiinflamatik ini terjadi melalui mekanisme salah satunya


penekanan aktifitas fosfolipase sehingga mencegah pembentukan prostaglandin,
prostasiklin, tromboksan dan leukotrien. Penekanan sistem imun ini bermanfaat
untuk menghentikan reaksi peradangan, namun dapat memudahkan pasien terkena
infeksi. Oleh karena itu pada pemberian kortikosteroid sebagai antiinflamatik
sebaiknya disertakan dengan pemberian antibiotik/antifungal untuk mencegah
infeksi.
-

Tukak peptik
Tukak peptik merupakan komplikasi yang kadang-kadang terjadi pada

pengobatan dengan kortikosteroid. Sebab itu bila ada kecurigaan dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan radiologi terhadap saluran cerna bagian atas sebelum obat
diberikan. Pemberian dosis besar sebaiknya dilakukan pada waktu lambung berisi,
dan di antara waktu makan diberikan antasida (bila perlu). Perforasi yang terjadi
sewaktu terapi kortikosteroid dosis besar sangat berbahaya karena dapat
berlangsung dengan gejala klinis minimal.

Osteoporosis (steroid-induced osteoporosis)


Kortikosteroid dapat menurunkan kadar Ca2+ dalam darah dengan cara

menghambat pembentukan osteoklast, namun dalam jangka waktu lama malah


menghambat

pembentukan

tulang

(sintesis

protein

di

osteoblast)

dan

meningkatkan resorpsi sehingga memicu terjadinya osteoporosis. Selain itu juga

menurunkan absorpsi Ca2+ dan PO43- dari intestinal dan meningkatkan ekskresinya
melalui ginjal, sehingga secara tidak langsung akan mengaktifkan PTH yang
menyebabkan resorpsi. Salah satu komplikasinya adalah fraktur vertebra akibat
osteoporosis dan kompresi.
-

Miopatik
Katabolisme protein akibat penggunaan kortikosteroid yang dapat

menyebabkan berkurangnya massa otot, sehingga menimbulkan kelemahan dan


miopatik. Miopatik biasanya terjadi pada otot proksimal lengan dan tungkai, bahu
dan pelvis, dan pada pengobatan dengan dosis besar. Miopatik merupakan
komplikasi berat dan obat harus segera dihentikan.
-

Psikosis
Psikosis

merupakan

komplikasi

berbahaya

dan

sering

terjadi.

Kemungkinan hal ini terjadi karena adanya gangguan keseimbangan elektrolit


dalam otak, sehingga mempengaruhi kepekaan otak. Berbagai bentuk gangguan
jiwa dapat muncul, antara lain: nervositas, insomnia, psikopatik, skizofrenik,
kecenderungan bunuh diri. Gangguan jiwa akibat penggunaan hormon ini dapat
hilang segera atau dalam beberapa bulan setelah obat dihentikan.
-

Hiperkoagubilitas darah
Hiperkoagulabilitas darah dengan kejadian tromboemboli telah ditemukan

terutama pada pasien yang mempunyai penyakit yang memudahkan terjadinya


trombosis intravaskular. Pengobatan kortikosteroid dosis besar pada pasien ini,
harus disertai pemberian antikoagulan sebagai terapi profilaksis.
-

Pertumbuhan terhambat
Pada

anak-anak

penggunaan

kortikosteroid

dapat

menyebabkan

pertumbuhan terhambat. Mekanisme terjadinya melalui stimulasi somatostatin,


yang menghambat growth hormone. Selain itu kortikosteroid menyebabkan
kehilangan Ca2+ melalui ginjal, akibatnya terjadi sekresi PTH yang meningkatkan

aktivitas osteoklast meresorpsi tulang. Kortikosteroid juga menghambat hormonhormon gonad, yang pada akhirnya menyebabkan gangguan proses penulangan
sehingga menghambat pertumbuhan.
-

Peningkatan tekanan darah


Kortikosteroid dengan efek mineralokortikoidnya dapat menyebabkan

peningkatan

tekanan

darah/hipertensi. Yaitu

efek

retensi

sodium yang

mengakibatkan retensi air dan peninggian tekanan darah. Beberapa obat dengan
efek mineralokortikoid kuat antara lain fludrokortison dan hidrokortison.
-

Glaukoma (steroid-induced glaucoma)


Patofisiologi glaukoma akibat kortikosteroid belum diketahui dengan baik.

Diduga terdapat defek berupa peningkatan akumulasi glikosaminoglikan atau


peningkatan

aktivitas

respons

protein

trabecular-meshwork

inducible

glucocorticoid (TIGR) sehingga menyebabkan obstruksi cairan. Selain itu bukti


lain mengisyaratkan terjadi perubahan sitoskeleton yang menghambat pinositosis
aqueous humor atau menghambat pembersihan glikosaminoglikans dan
menyebabkan akumulasi.
Dan masih ada beberapa efek samping lain seperti katarak, peninggian
kolesterol LDL, ginekomastia, akne, virilisasi, pembesaran prostat, sterilitas dll.
Mekanisme terjadinya beragam efek samping ini masih ada yang belum diketahui
dan sedang diteliti.

Untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan tsb, diajukan


minimal 6 prinsip terapi yang perlu diperhatikan sebelum obat digunakan:
1. Untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus ditetapkan dengan
trial and error, dan harus dievaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan
perubahan penyakit,

2. Suatu dosis tunggal kortiksteroid umumnya tidak berbahaya,


3. Penggunaan

kortikosteroid

untuk

beberapa

hari

tanpa

adanya

kontraindikasi spesifik, tidak membahayakan kecuali dosis sangat besar,


4. Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu/lebih hingga dosis
melebihi dosis substitusi, insidens efek samping dan efek lethal potensial
akan

bertambah. Awasi

dan

sadari

risio

pengaruhnya

terhadap

metabolisme terutama bila gejala terkait muncul misalnya diabetes


resistensi insulin, osteoporosis, lambatnya penyembuhan luka,
5. Kecuali untuk insufisiensi adrenal, penggunaan kortikosteroid bukan terapi
kausal melainkan hanya paliatif saja,
6. Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis
besar, mempunyai risiko insufisiensi adrenal yang hebat dan mengancam
jiwa.
CARA PEMBERIAN

Pemberian Sistemik :
Yaitu cara pemberian yang mengharapkan suatu efek sistemmik,bisa

diberikan secara intravena, intramuskular atau pemberian per oral. Pada kasuskasus yang berat glukokortikoid diberikan secara intravena. Pemberian secara
topical lebih disukai karena efek sistemiknya sangat kecil sehingga kemungkinan
efek sampingnya minimal.

Penggunaan Topikal
Pada kulit : Sangat efektif dan nontoksik bila diberikan dalam waktu

singkat. Biasanya diberikan dalam bentuk salep,krim atau lotion,jarang diperlukan


suntikan pada lesi dikulit seperti pada keloid,kista acne atau prurigo nodularis
( 1 ). Pada pemberian yang lama dapat memberikan efek sistemik terutama pada

jenis fluorinated steroid ( dexamethasone,triamcinolone acetonide,beclomethasone


dan beta methasone ). Komplikasi penggunaan topical biasanya local seperti
atropi epidermal, hipopigmentasi, teleangiectasi,acne dan follikulitis, jarang
terjadi komplikasi sistemik.
Pada mata : Pemberian topical dalam bentuk salep atau tetes mata Sering
dipakai pada penyakit autoimmune atau inflamasi segment anterior yang tidak
diketahui sebabnya ( iritis, uveitis ), juga pada penderita postoperasi atau trauma
untuk mencegah udem sehingga tidak terjadi kerusakan yang makin luas. Pada
kelainan-kelainan bola mata posterior glukokortikoid diberikan secara sistemik ( 1
). Pemakaian lama dapat menyebabkan kataract dan glaucoma. Tidak boleh
diberikan pada keratitis herpes simplex karena dapat menyebabkan terjadinya
penyebaran infeksi yang luas.
Inhalasi : Sekarang banyak digunakan dan sangat bermanfaat digunakan
pada asthma bronchiale Walaupun jarang efek siatemik bisa juga terjadi pada
pemakaian yang lama dengan dosis yang lebih besar atau terjadi idiosinkrasi
karena perubahan metabolisme steroid atau meningkatnya absorbsi atau
sensitivitas jaringan ( 1 ).
Intranasal : Penggunaan intranasal yang terlalu sering sebaiknya dihindari
karena bahaya komplikasi lokal dan sistemik ( 1 ).
Intraartikular : Penggunaan intraartikular bisa diberikan secara selektif
pada penderita-penderita tertentu dan harus dilakukan dengan cara aseptik dan
tidak boleh dilakukan berulang-ulang ( 1 ).
PENGAWASAN PENDERITA YANG MENDAPAT GLUKOKORTIKOID
Penderita-penderita yang mendapat glukokortikoid dalam waktu lama
harus diawasi terhadap kemungkinan timbulnya efek samping atau reaksi
idiosinkrasi. Penderita-penderita yang mendapat glukokortikoid lama :
a. Harus diberi protein tinggi

b. Diet harus mengandung kalium,kalsium tinggi dan rendah natrium


c. Aktivitas dan olahraga cukup untuk menghindari atropi otot dan osteopenia
d. Balita harus selalu diamati pertumbuhannya setiap 3 bulan sampai usia 6 tahun
kemudian pengamatan dilakukan setiap 6 bulan.
e. Pemberiankalsium dan vitamin D
f. Selalu dilakukan pengukuran berat badan,tinggi badan, tekanan darah, gula
darah, elektrolit serum, maturasi dan densitas tulang
g. Waspada kemungkinan aktivasi infeksi laten
h. Hati-hati kemungkinan interaksi dengan obat-obat lain ( lihat table )
i. Penghentian obat pada pemakaian lama ( lebih dari 2 minggu ) harus dilakukan
secara bertahap untuk menghindari sindroma withdrawal.
Dalam pemberian glukokortikoid hal lain yang harus dipertimbangkan
adalah kemungkinan interaksi dengan obat-obatan lain yang diberikan secara
bersamaan yang bisa menurunkan efektivitas obat, menghambat efek obat atau
bahkan potensiasi efek samping obat yang bisa membahayakan penderita.

DAFTAR REFERENSI
1. Chrousus GP. Glucocorticoid therapy and withdrawal. Best practice of
medicine.http:// Merck.Praxis.nd/bpm/bpm.asp?page:cpm02EN313.
2. Katzung, G. Bertram, Farmakologi dasar dan klinik. edisi IV, EGC,
Jakarta: 1997
3. Bagian farmakologi FKUI, Farmakologi dan Terap. Edisi 4, Jakarta: 1995