Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TERSTRUKTUR

PENGELOLAAN AIR UNTUK PERTANIAN


RESUME PP NO 22 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI

Oleh :
Nama

: Rifqi Ramadhani

NIM

: A1C013057

Prodi

: Agribisnis

Dosen Pengampu : Ir. Begananda, M.S.

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016

RESUME PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 20 TAHUN 2006
TENTANG
IRIGASI
Air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di muka
bumi. Air yang ada dituntut untuk dapat memenuhi hajat hidup orang banyak,
keperluan air sangat dibutuhkan terutama bagi para petani untuk memenuhi
kebutuhannya dilahan pertanian. Penyediaan air bagi lahan pertanian biasanya di
atur dengan adanya sistem irigasi. Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan,
dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi
irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi
tambak.
Pembagian air pada lahan pertanian, diatur dengan baik agar pembagian air
merata. Peraturan irigasi pada lahan pertanian pada setiap daerah dapat diatur
dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 22 Tahun 2006, dalam PP RI
no 22 tahun 2006 ini terdapat 87 pasar yang dibagi kedalam 16 bab.
BAB I memuat tentang Pemerintah daerah turut serta dalam pengaturan
irigasi seperti Komisi irigasi provinsi, Komisi irigasi antarprovinsi, Menteri, dan
Dinas. Pengelolaan irigasi terus dikembangkan dnegan cara pengembangan
jaringan irigasi, pembangunan jaringan irigasi, peningkatan jaringan irigasi,
pengelolaan jaringan irigasi, operasi jaringan irigasi, pemeliharaan jaringan
irigasi, rehabilitasi jaringan irigasi, rehabilitasi jaringan irigasi dan pengelolaan
aset jaringan irigasi.
Irigasi berfungsi mendukung aktivitas usaha tani guna meningkatkan
produksi, keberlanjutan sistem irigasi ditentukan oleh keandalan air irigasi yang
diwujudkan melalui kegiatan membangun waduk, keandalan prasarana irigasi
yang diwujudkan melalui kegiatan peningkatan, dan pengelolaan jaringan irigasi
yang meliputi operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah
irigasi, meningkatnya pendapatan masyarakat petani dari usaha tani yang
diwujudkan melalui kegiatan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi.
Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi bertujuan untuk mewujudkan

kemanfaatan air dalam bidang pertanian dapat diselenggarakan secara partisipatif,


terpadu, berwawasan lingkungan hidup, transparan, akuntabel, dan berkeadilan.
Sistem irigasi ini dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi maupun
Pemerintah Kabupaten/Kota, badan usaha, badan sosial, atau perorangan.
BAB II Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi dilaksanakan dengan
pendayagunaan sumber daya air yang didasarkan pada keterkaitan antara air
hujan, air permukaan, dan air tanah secara terpadu dengan mengutamakan
pendayagunaan air permukaan.
BAB III Kelembagaan pengelolaan irigasi untuk mewujudkan tata tertib
pengelolaan jaringan irigasi yang dibangun pemerintah meliputi instansi
pemerintah yang membidangi irigasi, perkumpulan petani pengguna air dan
komisi irigasi. Pedoman mengenai komisi irigasi provinsi, komisi irigasi
antarprovinsi, komisi irigasi kabupaten/kota, dan forum koordinasi daerah irigasi
ditetapkan dengan peraturan Menteri setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam
Negeri.
BAB IV Wewenang dan tanggung jawab memuat seluruh isi tentang dalam
penyelenggaraan

urusan

pemerintahan

bidang

pengembangan

dan

dan

pengelolaan sistem irigasi meliputi, menetapkan kebijakan nasional, menetapkan


status daerah irigasi, melaksanakan sistem irigasi primer dan sekunder,
memfasilitasi penyelesaian sengketa antarprovinsi, menetapkan norma, standar,
kriteria, menjaga efektivitas, efisien, membeeri rekomendasi bisnis, memberikan
bantuan teknis, memberikan bantuan pada petani, memberikan ijin pembangunan
dan pemanfaatan dalam pedoman pengembangan dan pengembangan irigasi.
BAB V Partisipasi Masyarakat Petani Dalam Pengembangan Dan
Pengelolaan dalam sistem irigasi ini memuat seluruh isi tentang pengelolaan air
irigasi yang didalamnya terdiri atas beberapa hal seperti :
a. Pengakuan atas hak ulayat.
b. Hak guna air untuk irigasi.
c. Penyediaan air irigasi.
d. Pengaturan air irigasi.
e. Drainase.
f. Penggunaan air untuk irigasi langsung dari sumber air.

BAB VI memuat seluruh isi tentang pemberdayaan, artinya pemerintah


memiliki kewajiban untuk menetapkan strategi atau memberikan bantuan teknis
dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi.
BAB VII memuat seluruh isi tentang pengelolaan air irigasi yang
didalamnya terdiri atas beberapa hal seperti :
a. Pengakuan atas hak ulayat.
b. Hak guna air untuk irigasi.
c. Penyediaan air irigasi.
d. Pengaturan air irigasi.
e. Drainase.
f. Penggunaan air untuk irigasi langsung dari sumber air.
BAB VIII memuat seluruh isi tentang pengembangan jaringan irigasi yang
didalamnya terdiri atas beberapa hal seperti :
a. Pembangunan jaringan irigasi.
b. Peningkatan jaringan irigasi.
BAB IX memuat seluruh isi tentang pengelolaan jaringan irigasi yang
didalamnya terdiri atas beberapa hal seperti :
a. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.
b. Rehabilitasi jaringan irigasi.
BAB IX Pengelolaan Jaringan Irigasi Bagian Kesatu Operasi Dan
Pemeliharaan Jaringan Irigasi memuat seluruh isi tentang pengelolaan jaringan
irigasi yang didalamnya terdiri atas beberapa hal seperti : operasi dan
pemeliharaan jaringan irigasi dan rehabilitasi jaringan irigasi.
BAB X memuat seluruh isi tentang pengelolaan aset irigasi yang
didalamnya terdiri atas beberapa hal seperti : cakupan pengelolaan aset irigasi,
inventarisasi aset irigasi, perencanaan pengelolaan aset irigasi, pelaksanaan
pengelolaan aset irigasi, evaluasi pelaksanaan pengelolaan aset irigasi,
pemutakhiran hasil inventarisasi aset irigasi.
BAB XI memuat seluruh isi tentang pembiayaan yang didalamnya terdiri
atas beberapa hal seperti :
a. Pembiayaan pengembangan jaringan irigasi.
b. Pembiayaan pengelolaan jaringan irigasi.
c. Keterpaduan pembiayaan pengeloaan jaringan irigasi.
d. Mekanisme pembiayaan pengembangan.
e. Pengelolaan jaringan irigasi.

BAB XII memuat seluruh isi tentang alih fungsi lahan beririgasi hal tersebut
sangat penting diatur karena memiliki tujuan untuk menjamin kelestarian fungsi
dan manfaat jaringan irigasi.
BAB XIII memuat seluruh isi tentang koordinasi pengelolaan sistem irigasi.
Koordinasi pengelolaan sistem irigasi yang jaringannya berfungsi multiguna pada
satu daerah irigasi dapat dilaksanakan melalui forum koordinasi daerah irigasi.
BAB XIV memuat seluruh isi tentang pengawasan. Artinya dalam
pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi pada setiap daerah irigasi
dilaksanakan pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi,
atau

pemerintah

kabupaten/kota

sesuai

dengan

kewenangannya

dengan

melibatkan peran masyarakat.


BAB XV memuat seluruh isi tentang ketentuan peralihan. Pada saat
peraturan pemerintah ini mulai berlaku:
a. semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan irigasi dinyatakan
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan atau belum
dikeluarkan

peraturan

pelaksanaan

baru

berdasarkan

peraturan

pemerintah ini.
b. izin yang berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi
yang telah diterbitkan sebelum ditetapkannya peraturan pemerintah ini
dinyatakan tetap berlaku sampai dengan masa berlakunya berakhir.
BAB XVI memuat seluruh isi tentang ketentuan penutup. Pada saat
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun
2001 tentang Irigasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4156) dinyatakan
tidak berlaku.