Anda di halaman 1dari 23

Menghitung Kadar Bijih Per ton Tembaga

Tembaga adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cu
dan nomor atom 29. Lambangnya berasal dari bahasa Latin Cuprum.Tembaga merupakan
konduktor panas dan listrik yang baik. Selain itu unsur ini memiliki korosi yang cepat sekali.
Tembaga murni sifatnya halus dan lunak, dengan permukaan berwarna jingga kemerahan.
Tembaga dicampurkan dengan timah untuk membuat perunggu.
Logam ini dan aloinya (campuran) telah digunakan selama empat hari. Di era Roma,
tembaga umumnya ditambang di Siprus, yang juga asal dari nama logam ini (yprium,
logam Siprus), nantinya disingkat jadi uprum). Ikatan dari logam ini biasanya dinamai
dengan tembaga(II).
Ion Tembaga(II) dapat berlarut ke dalam air, dimana fungsi mereka dalam
konsentrasi tinggi adalah sebagai agen anti bakteri, fungisi, dan bahan tambahan kayu.
Dalam konsentrasi tinggi maka tembaga akan bersifat racun, tapi dalam jumlah sedikit
tembaga merupakan nutrien yang penting bagi kehidupan manusia dan tanaman tingkat
rendah. Di dalam tubuh, tembaga biasanya ditemukan di bagian hati, otak, usus, jantung,
dan ginjal
BAB II
PERANCANGAN TAMBANG TERBUKA

Dalam melakukan suatu perancangan tambang terbuka, harus diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1) Data yang diperlukan untuk perancangan tambang terbuka
2) Pertimbangan-pertimbangan dalam perancangan tambang terbuka
2.1. DATA YANG DIPERLUKAN UNTUK PERANCANGAN TAMBANG TERBUKA
Data yang diperlukan untuk membuat rancangan suatu tambang terbuka adalah :
1) Peta topografi dan peta geologi dengan skala 1 : 1000 atau 1 : 2000.
2) Data geologi dan eksplorasi rinci endapan bahan galian: letaknya, bentuknya (cincin,
lensa, disseminated (tersebar), urat (vein), batolith, dll), stratigrafi/litologi, dip & strike, kadar

bijih rata-rata, ukuran/dimensinya, jumlah sumber daya dan cadangan (measured/proven


reserve), kadar rata-rata dan penyebaran kadar, dll.
3) Data geoteknik.
4) Data hidrologi dan geohidrologi.
5) Data kegempaan.
6) Data keekonomian
2.2. PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN DALAM PERANCANGAN TAMBANG
Perancangan tambang harus memenuhi pertimbangan-pertimbangan, yaitu :
1) Pertimbangan ekonomis (Economic Considerations)
2) Pertimbangan teknis (Technical/Engineering Considerations)

2.2.1. Pertimbangan Ekonomis


Pertimbangan ekonomis meliputi :
1) Cut off Grade
Ada 2 (dua) pengertian tentang cut off grade, yaitu :
a. kadar endapan bahan galian terendah yang masih memberikan keuntungan apabila
ditambang.
b. kadar rata-rata terendah dari endapan bahan galian yang masih memberikan keuntungan
apabila endapan tersebut ditambang.
Cut off grade inilah yang akan menetukan batas-batas atau besarnya cadangan, serta
menentukan perlu tidaknya dilakukan mixing / blending.
2) Break Even Stripping Ratio (BESR)
Untuk menganalisis kemungkinan sistem penambangan yang akan digunakan, apakah
tambang terbuka ataukah tambang bawah tanah, maka dipelajari break even stripping ratio
(BESR), yaitu perbandingan antara biaya penggalian endapan bijih (ore) dengan biaya
pengupasan tanah penutup (overburden) atau merupakan perbandingan selisih biaya
penambangan bawah tanah dan penambangan terbuka dengan biaya pengupasan secara
tambang terbuka. BESR ini juga disebut over all strippig ratio.
Biaya tambang bawah tanah - biaya tambang terbuka

/ ton bijih / ton bijih


BESR(1) = --------------------------------------------------------------------Biaya pengupasan overburden / ton overburden
Misalnya biaya penambangan secara tambang bawah tanah = Rp. 18.000/ton ore, biaya
penambangan secara tambang terbuka = Rp. 2000/ton ore dan ongkos pengupasan tanah
penutup = Rp. 3500/ton overburden. Maka untuk memilih salah satu sistem penambangan
digunakan rumus BESR(1).
Rp 18.000 - Rp. 2000
BESR (1) = ------------------------------- = 4,57
Rp. 3500
Ini berarti bahwa hanya bagian endapan yang mempunyai BESR yang lebih rendah dari
4,86 yang dapat ditambang secara tambang terbuka dengan menguntungkan. Jadi 4,86
adalah BESR (1) tertinggi yang masih dibolehkan untuk operasi tambang terbuka dengan
kondisi tersebut diatas.
Setelah ditentukan bahwa akan digunakan sistem tambang terbuka, maka dalam rangka
pengembangan rencana penambangan digunakan BESR (2) dengan rumus sebagai
berikut :
Nilai yang diperoleh / - Ongkos produksi /
ton bijih ton bijih
BESR(2) = -----------------------------------------------------------------Biaya pengupasan overburden / ton overburden
BESR (2) ini juga disebut economic stripping ratio yang artinya berapa besar keuntungan
yang dapat diperoleh bila endapan bijih itu ditambang secara tambang terbuka.
Contoh perhitungan BESR (2) untuk bijih tembaga kadar 0,80%, 0,75% dan 0,60% Cu
adalah sebagai berikut :
Dari hasil perhitungan seperti terlihat pada tabel II.1 bila harga logam Cu = Rp. 2.500/lb,
ternyata untuk bijih Cu (ore) dengan kadar 0,80% mempunyai BESR 1,5 : 1 dan kadar
0,60% Cu mempunyai BESR 0,6 : 1. Demikian selanjutnya untuk harga metal Rp. 3.000/lb
dan Rp. 3.500/lb Cu juga dihitung BESR-nya.
Setelah itu, masing-masing BESR dihitung untuk setiap kadar Cu dan untuk berbagai harga
logam Cu, kemudian dapat dibuat grafik BESR vs kadar Cu (lihat Gambar 2.1).

Selain itu BESR(3) biasanya juga dihitung berdasarkan keuntungan maksimum yang akan
diperoleh, yaitu :
Nilai yang diperoleh/ton bijih - ( Ongkos produksi/ton + keuntungan/ton)
BESR(3) = -----------------------------------------------------------------------------------Biaya pengupasan overburden / ton overburden

Tabel II.1
Contoh Perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR2)
Kadar bijih, % Cu 0,80 0,70 0,60
Smelter recovery, % 81,80 83,02 85,80
Recovery Cu / ton ore, lb 14,10 12,20 10,30
---------------------------------------------------------------------------------------------------------ONGKOS PRODUKSI TIAP BIJIH TON
Penambangan Rp. 4.500 Rp. 4.500 Rp. 4.500
Milling, Dpr. &Gen.cost Rp. 12.500 Rp. 12.500 Rp. 12.500
Treatment etc. Rp. 8.500 Rp. 7.600 Rp. 6.500
--------------- --------- ----- ---------------Ongkos produksi total Rp. 25.500 Rp. 24.600 Rp. 23.500
ONGKOS PENGUPASAN
Ongkos pengupasan/ton OB Rp 4.000 Rp. 4.000 Rp. 4.000
NILAI YANG DIPEROLEH
Harga jual per ton bijih
1. untuk Rp. 2.500/lb Cu Rp. 3.530 Rp. 3.050 Rp. 2.580
BESR 2,5 : 1 1,5 : 1 0,6 : 1
2. untuk Rp. 3.000/lb Cu Rp. 4.230 Rp. 4.230 Rp. 3.090
BESR 4,2 : 1 3,0 : 1 1,8 : 1
3. untuk Rp. 3.500/lb Cu Rp. 4.940 Rp. 4.270 Rp. 3.610
BESR 6,0 : 1 4,5 : 1 3,2 : 1

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari Tabel II.1 terlihat bahwa yang mempengaruhi tinggi rendahnya BESR adalah :
- kadar logam dari bijih yang akan ditambang
- harga logam di pasaran
Jadi pada dasarnya, jika terjadi kenaikan harga logam di pasaran, dapat mengakibatkan
perluasan tambang karena cadangan bertambah, sebalikya jika harga logam turun, maka
jumlah cadangan akan berkurang.
Sehingga secara umum pertimbangan ekonomis meliputi :
1) Nilai (value) endapan bijih (berapa harga dari produk yang dihasilkan) dinyatakan dalam
Rp/ton bijih.
2) Ongkos produksi sampai dengan barang tambang siap dijual (Rp/ton bijih).
3) Ongkos pengupasan over burden (stripping cost), dinyatakan dalam Rp/ton bijih.
Nilai endapan bijih ditentukan oleh pasar, contoh : di Inggris (London) dan Amsterdam.
Ongkos produksi : bandingkan dengan ongkos produksi bahan galian yang sama. Contoh
lain perhitungan BESR seperti terlihat di bawah ini :
BESR (Break Even Stripping Ratio) =

Contoh :
Ongkos kupas = Rp 1/ton OB Ongkos Pengupasan Over Burden
Nilai Kupas (Stripping Ratio) = 1 ton Batubara : 7 m3 OB.
= 1 ton endapan bijih : 5 ton OB.
= 1 m3 endapan bijih : 5 m3 OB.
Jika nilai bijih = $ 20/ton ore dan ongkos produksi = $ 5/ton ore, maka :
BESR =
Jika nilai BESR > 1, maka endapan tersebut menguntungkan.
BESR

dipakai

untuk

mengetahui

menguntungkan/tidak.
2.2.2. Pertimbangan Teknis
Pertimbangan Teknis meliputi :

apakah

rancangan

tambang

tersebut

1) Penentuan ultimate pit limit


2) Pertimbangan struktur geologi yang dominan
3) Pertimbangan geometri
2.2.2.1. Penentuan ultimate pit limit
1. Pendahuluan
Banyak cara untuk merancang sebuah ultimate open pit. Metodenya dibedakan oleh ukuran
deposit, kuantitas dan kualitas data, kemampuan komputer, dan asumsi dari seorang
enginer tersebut.
Langkah pertama untuk perencanaan jangka panjang atau pendek adalah menetukan batas
dari open pit. Batas ini menunjukkan jumlah bijih yang dapat ditambang, kandungan logam,
dan jumlah material buangan (overburden) yang harus dipindahkan selama operasi
penambangan berlangsung. Ukuran, geometri, dan lokasi dari pit utama sangat penting
dalam perencanaan tempat tailing, tempat penimbunan tanah penutup (overburden), jalan
masuk, konsentrat, dan semua fasilitas lain pada tambang terbuka tersebut. Pengetahuan
tambahan dari rancangan ultimate pit juga berguna dalam membantu pekerjaan eksplorasi
mendatang.
Dalam merancang ultimate pit, seorang engineer akan memberi nilai pada parameter fisik
dan parameter ekonomi. Batas pit utama merupakan batas maksimum seluruh material
yang memenuhi kriteria fisik dan ekonomi. Material yang terkandung dalam pit akan
mempunyai dua sasaran :
1) Sebuah blok tidak akan ditambang kecuali blok tersebut dapat membayar seluruh biaya
untuk penambangan, proses, pemasaran, maupun pengupasan material di atas blok
tersebut.
2) Untuk konservasi dari sumber daya alam. Blok yang memenuhi persyaratan sasaran
pertama merupakan bagian dari pit.
Hasil dari sasaran-sasaran ini adalah rancangan yang akan meningkatkan keuntungan total
pit berdasarkan parameter fisik dan ekonomi yang digunakan. Perubahan parameterparameter ini di masa yang akan datang, akan mengakibatkan perubahan pada rancangan
pit. Karena nilai dari parameter tidak diketahui pada saat merancang, seorang enginer
diharapkan dapat merancang pit untuk berbagai nilai untuk menentukan faktor yang paling
penting maupun efeknya terhadap ultimate pit limit.
2. Rancangan secara manual

Dalam metode manual untuk perancangan pit, seorang enginer bertugas untuk menentukan
waktu dan membuat penilaian. Metode manual yang biasa digunakan dimulai dengan tiga
jenis vertical section yang ditunjukkan pada Gambar 2.1 :
1) Penampang yang bersilangan (cross section) berada pada interval biasa sejajar satu
dengan yang lain dan terhadap sumbu panjang badan bijih. Hal ini memberi hampir semua
definisi pit dan dapat diberi nomor 10-30 , tergantung pada ukuran dan bentuk deposit dan
informasi yang tersedia.
2) Penampang yang membujur (longitudinal section) sepanjang sumbu panjang badan bijih
untuk membantu mengetahui batas pit di akhir badan bijih.
3) Penampang yang radial (radial section) membantu mengetahui batas pit di akhir badan
bijih.
Gambar 2.1
Jenis Penampang (Section) Vertikal Yang
Digunakan Untuk Perancangan Pit Secara Manual (B.A. Kennedy, 1990)
Setiap bagian menunjukkan kadar bijih, topografi, geologi (jika diperlukan untuk menentukan
batas pit), kontrol struktur (jika diperlukan untuk menentukan batas pit), dan informasi lain
yang akan membatasi pit (misalnya, batas kepemilikan).
Stripping ratio digunakan untuk menentukan batas pit pada setiap bagian. Batas-batas pit
ditempatkan

pada

setiap

bagian

secara

terpisah

dengan

menggunakan

sudut

kemiringan/lereng pit yang ditentukan.


Batas pit ditempatkan di penampang pada titik dimana kadar bijih dapat menutupi semua
biaya penambangan tanah penutup (material di atasnya). Ketika garis batas pit telah
digambar pada penampang, kadar bijih sepanjang garis dihitung, panjang bijih dan material
penutup diukur. Perbandingan tanah penutup terhadap bijih dihitung dan dibandingkan
dengan breakeven stripping ratio kadar bijih tersebut sepanjang batas pit.
Jika hasil perhitungan stripping ratio kurang dari breakeven stripping ratio, batas pit
diperluas. Proses ini berlangsung terus sampai batas limit ditentukan pada sebuah titik
dimana hasil perhitungan dan breakeven stripping ratio sama.
Pada Gambar 2.2, kadar pada penampang sebelah kanan pit diestimasi/diperkirakan
sebesar 0,6% Cu. Dengan harga $2.25 per kg tembaga, breakeven stripping ratio dari
Gambar 2.3 adalah 1,3 : 1. Garis pada batas pit ditemukan dengan menggunakan
kemiringan pit tertentu dan ditempatkan pada titik dimana overburden : bijih = 1,3 : 1.

Gambar 2.2

Pit Limit Diperlihatkan Pada Penampang (B.A. Kennedy, 1990)

Pada penampang sebelah kiri, batas pit untuk 0,7% kadar Cu ditentukan dengan
menggunakan breakeven stripping ratio 2,7 : 1. Jika kadar bijih berubah seiring garis pit llimit
dipindahkan, breakeven stripping ratio yang digunakan juga akan berubah.

Gambar 2.3
Stripping Ratio Untuk Berbagai Kadar Bijih Dan Harga Logam
(B.A. Kennedy, 1990)
Batas pit ditentukan pada bagian yang membujur pada cara yang sama dengan kurva
stripping ratio. Batas pit untuk section radial diwakili oleh stripping ratio yang berbeda pula.
Seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.4 ; bagian yang menyilang dan membujur
menunjukkan irisan sepanjang dinding pit dengan dasar panjang yang sama dengan
memotong permukaan.
Penampang radial tersebut mewakili sebagian kecil dari pit bagian dasar, dan sebagian yang
lebih lebar pada perpotongan di permukaan. Stripping ratio yang diperkenankan harus
disesuaikan ke bawah supaya penampang radial sebelum batas pit dapat ditentukan.

Gambar 2.4
Bagian-Bagian Yang Dipengaruhi Oleh Penampang Vertikal
(B.A. Kennedy, 1990)
Langkah selanjutnya dalam perancangan manual adalah memindahkan batas pit dari
masing-masing penampang ke sebuah peta rancangan tunggal dari deposit tersebut.
Ketinggian dan lokasi pit bagian bawah dan permukaan memotong masing-masing
penampang yang dipindahkan.
Hasil dari peta rancangan akan menunjukkan suatu pola tidak teratur dari ketinggian dan
sketsa (outline) bagian bawah pit, dan dari perpotongan di permukaan. Bagian bawah pit
harus diratakan secara manual disesuaikan pada informasi penampang tersebut.
Dimulai dari bagian bawah pit yang rata, sketsa akan dikembangkan untuk masing-masig
jenjang pada jalan tengah titik antara bagian kaki jenjang (toe) dan puncak jenjang (crest).
Lalu pit akan diperluas dari bagian bawah dengan mengikuti kriteria sebagai berikut:
1) Breakeven stripping ratio untuk penampang yang berdekatan boleh dirata-ratakan.

2) Lereng pit yang diperkenankan harus diperhatikan. Jika sistem jalan dirancang pada
waktu yang sama, sudut antar belokan digunakan. Jika rancangan awal tidak
memperlihatkan jalan tersebut, sketsa untuk titik tengah jenjang didasarkan pada lereng pit
keseluruhan yang lebih datar yang diperbolehkan untuk jalan.
3) Sebaiknya pola yang tidak pasti di dalam pit dihindari. Hal ini termasuk bagian-bagian
yang menonjol yang terdapat di dalam pit.
4) Pola geometrik sederhana pada masing-masing jenjang membuat proses merancang
menjadi lebih mudah.
Bilamana rancangan pit telah dikembangkan, sebaiknya dilakukan peninjauan kembali untuk
menentukan apakah breakeven stripping ratio telah memuaskan. Dalam rancangan pit, pit
dapat dibagi menjadi beberapa bagian, setiap bagian diperiksa untuk menentukan waste ore
ratio. Dua cara yang dapat digunakan untuk memeriksa stripping ratio pada masing-masing
bagian adalah :
1) Batas pit dari peta rancangan dapat dipindahkan kembali ke penampang dan stripping
ratio dapat dihitung lebih lanjut dari penampang tersebut.
2) Sketsa jenjang dapat dipindahkan ke masing-masing peta jenjang tunggal. Panjang bijih
dan waste diukur sepanjang sktesa jenjang untuk masing-masing bagian. Hasil dari masingmasinng jenjang dikombinasikan untuk menghitung stripping ratio bagian itu. Kadar bijih
untuk bagian adalah rata-rata berat (panjangnya) dari tingkat bijih sepanjang batas pit untuk
tiap-tiap jenjang.
Cadangan total untuk pit dan stripping ratio rata-rata ditentukan oleh nilai akumulasi dari tiap
jenjang. Berat bijih yang lebih besar dari breakeven cut of grade (BECOG) diukur dan kadar
rata-rata bijih dihitung untuk tiap jenjang. Berat tanah penutup juga diukur. Total berat bijih
dan berat tanah penutup untuk tiap jenjang menghasilkan nilai stripping ratio rata-rata untuk
pit tersebut.
3. Metode komputer
Yang harus dipahami, rancangan manual dari suatu pit membuat ahli perencanaan menjadi
lebih teliti dengan rancangan tersebut dan meningkatkan pengetahuan tentang deposit
tersebut. Prosedurnya tidak sederhana dan sukar digunakan dalam deposit yang
besar/kompleks. Karena panjangnya prosedur tersebut, alternatif yang dapat dikerjakan
terbatas. Begitu ada informasi tambahan atau ada parameter desain yang berubah, maka
keseluruhan prosesnya mungkin harus diulang. Kekurangan lainnya adalah penampang dari
pitnya mungkin terancang baik, tetapi bila penampang (potongan) tersebut digabungkan dan
diperhalus, hasilnya bukan yang terbaik untuk pit secara keseluruhan.

Perkembangan pemakaian komputer telah memungkinkan untuk menangani jumlah data


yang besar dan menggunakan lebih banyak alternatif pit daripada metode manual.
Komputer telah terbukti sebagai alat yang hebat untuk menyimpan, mengeluarkan kembali,
memproses, dan menampilkan data proyek pertambangan. Aplikasi komputer telah
dikembangkan untuk memperkirakan tanah penutup dari rancangan pit.
Peran komputer dapat dibagi menjadi 2 kelompok:
1) Metode dengan bantuan komputer.
Perhitungan dengan komputer di bawah kendali seorang enginer. Komputer tidak
mengerjakan seluruh rancangan tetapi hanya melakukan pekerjaan perhitungan yang rumit,
dimana prosesnya dikendalikan oleh seorang enginer. Contoh yang dapat diambil adalah
tehnik dua dimensi Lerchs-Grossman dan desain tiga dimensi menggunakan metoda
ekspansi pertambahan (incremental) pit.
2) Metode otomatis
Metode ini cocok untuk merancang pit secara terbatas untuk uji kelayakan ekonomi dan
batasan fisik tanpa campur tangan seorang enginer. Sebuah kategori metode otomatis
mengandung teknik pengoptimalan secara matematis menggunakan program linear,
program dinamis, atau flow network. Kategori kedua adalah metode heuristic, seperti
metode kerucut terbalik (floating cone) dan menghasilkan pit yang dapat diterima, tetapi
tidak perlu yang optimal. Seiring dengan menurunnya biaya pemrosesan dengan komputer,
maka penggunaan metode otomatis akan berkembang pesat.
Karakteristik yang lain yang membedakan jenis metode komputerisasi adalah menggunakan
seluruh atau sebagian blok untuk penambangan. Dalam metode satu blok penuh, setiap
blok ditambang sebagai suatu kesatuan atau utuh; dalam metode blok parsial, bagian setiap
blok dapat ditambang. Setiap metode memiliki keuntungan tertentu :
1) Akurat Dengan penggunaan blok parsial, tonase dalam jumlah kecil dapat dihitung
lebih akurat. Keseluruhan tonase pit mungkin akan akurat menggunakan metode blok
penuh, tetapi ketelitian akan berkurang untuk volume yang kecil.
2) Keterbatasan fisik Lereng pit yang diinginkan dan batas pit diperkirakan dengan blokblok penambangan. Penggunaan blok penuh menghasilkan dinding pit yang tidak dapat
diterima dalam masalah operasi dan kestabilan lereng. Beberapa teknik blok penuh dapat
mengasumsikan ukuran blok sebagai fungsi lereng pit dan beberapa tidak mengijinkan
lereng untuk bervariasi pada pit. Ketelitian diperlukan untuk merancang pit yang
menggunakan teknik blok penuh.
3) Biaya Sebagaimana biasanya digunakan, metode blok penuh terbukti lebih murah
daripada metode blok parsial. Sebagai hasilnya, beberapa konfigurasi pit dapat dengan
cepat dianalisa dengan metode blok penuh untuk memberikan dasar yang baik untuk
analisa blok parsial secara lebih detail.

4. Metode Lerchs-Grossman
Metode dua dimensi Lerchs-Grossman akan merancang penampang vertikal, pit akan
memberikan keuntungan netto terbesar. Metode ini menarik karena mengeliminasi proses
trial and error yang ada dalam merancang pit tiap penampang secara manual. Metode ini
juga sesuai untuk proses komputer.
Seperti metode manual, metode Lerchs-Grossman merancang pit pada penampang vertikal.
Hasilnya masih harus dipindahkan pada peta rencana pit, dihaluskan dan diperiksa secara
manual. Walaupun pit dapat optimal pada setiap penampang, ultimate pit hasil dari
pembulatan mungkin tidak optimal.
Gambar 2.5 menunjukkan penampang vertikal melalui model blok endapan. Tiap blok
mewakili harga bersih sebuah blok jika blok itu ditambang dan diproses. Blok-blok dengan
harga keuntungan positif ditandai dengan warna yang lebih gelap. Ukuran blok telah
disesuaikan di dalam contoh sehingga profil pit akan bergerak ke atas atau ke bawah hanya
satu blok.

Gambar 2.5
Penampang Verikal Menunjukkan Nilai Bersih Tiap Blok (B.A. Kennedy, 1990)
Tahap 1
Tambahkan nilai tiap blok dari atas ke bawah tiap kolom dan masukkan jumlah-jumlah iini
pada blok berhubungan seperti Gambar 2.5. Jumlah ini adalah harga lebih dari setiap blok
pada Gambar 2.5, dan mewakili harga kumulatif material dari setiap blok pada permukaan.
Tahap 2
Mulai dengan blok atas di kolom paling kanan, dan bekerja ke bawah setiap kolom.
Letakkan sebuah panah pada titik blok ke harga tertinggi dalam :
1) Satu blok ke kiri atas
2) Satu blok ke kiri
3) Satu blok ke kiri bawah
Hitung harga blok-blok dasar dengan menambahkan harga tertinggi ke arah tanda panah.
Harga paling murah setiap blok mewakili harga keuntungan bersih keseluruhan dari material
dalam blok, blok-blok dalam kolom, dan blok-blok dalam profil pit ke arah kiri dari blok. Blok-

blok yang ditandai dengan X tidak bisa ditambang sehingga tidak perlu adanya penambahan
kolom.

Gambar 2.6
Penampang Setelah Proses Pencarian (B.A. Kennedy, 1990)
Tahap 3
Periksa baris teratas untuk harga total yang paling tinggi. Ini adalah total pengembalian dari
pengoptimalan pit. Sebagai contoh, pit yang optimal akan berharga $13. Ikuti panah untuk
mendapatkan garis besar pit. Gambar 2.8 memperlihatkan garis besar pit tiap section.
Tercatat bahwa blok pada baris-6 dan kolom-6 memiliki harga tertinggi dalam investasi,
endapannya tidak berada dalam pit. Untuk menambang endapan tersebut bisa jadi
menurunkan harga pit.

Gambar 2.7
Optimal Pit Outline (B.A. Kennedy, 1990)

5. Pertambahan keluasan pit (incremental pit expansion)


Teknik ini merupakan proses trial and error yang dikendalikan oleh seorang enginer.
Walaupun metode ini sulit menghasilkan pit yang optimum, namun dalam tangan seorang
enginer yang berkualitas akan menjadi sarana yang baik. Metode ini dapat dilakukan
terhadap teknik blok penuh maupun teknik blok parsial.
Seorang enginer dapat mendigitasi outline dari dasar pit baru atau memperluas sampai ke
dinding pit. Komputer merancang bentuk kenaikkan jenjang ini dan menyesuaikannya
dengan kemiringan pit. Seorang enginer dapat menggambarkan hasil perluasan grafik untuk
memperjelas pertambahan biaya pit yang diharapkan.
Jika perluasan ini disetujui, maka tabulasi dilakukan untuk material-material yang
ditambahkan. Bentuk perluasan pada titik tengah tiap-tiap jenjang digunakan dengan nilai
blok dari jenjang untuk menghitung nilai, berat bijih, berat buangan (waste), penghasilan,
serta biaya perluasan. Jika perluasan itu memenuhi kriteria, maka perluasan itu dimasukkan
dalam pit, dan denah lainnya didigitasi. Dengan demikian, ukuran dari pit akan semakin

bertambah seiring dengan setiap perluasan yang dilakukan apabila perluasan itu memenuhi
kriteria.
Agar menjadi paling efektif, rancangan dimulai dari jenjang yang lebih atas ke arah bawah,
dan dari daerah yang berkadar tinggi. Hal ini untuk memastikan hanya blok yang dapat
membayar biaya blok tersebut sendiri yang termasuk dalam pit.
6. Metode kerucut mengambang (floating cone method)
Metode otomatis yang paling dikenal adalah metode kerucut mengambang. Metode ini
hampir sama dengan metode pertambahan keluasan pit tetapi proses manual dapat
dikurangi atau dihilangkan.
Sebagai pengganti dasar yang didigitasi, satu dari kumpulan blok membentuk dasar dari
perluasan. Jika kadar di dasar lebih tinggi dari mining cut of grade, perluasan diproyeksikan
ke atas ke arah puncak dari model yang dapat dilihat pada Gambar 2.8. Sebuah kerucut
dihasilkan dengan menggunakan sudut/kemiringan pit yang sesuai.
Seluruh blok termasuk di dalam kerucut (dan ditentukan belum ditambang sebelumnya)
ditabulasikan untuk untuk biaya penambangan dan pemrosesan, dan pemasukkan yang
dihasilkan oleh bijih. Apabila pemasukkan totalnya lebih besar daripada biaya total dari blokblok yang ada dalam kerucut, kerucut ini memiliki harga

Gambar 2.8
Kerucut Yang Terpusat Pada Dasar Blok (B.A. Kennedy, 1990)
bersih positif, dan cukup ekonomis untuk ditambang. Kemudian dilakukan perubahan
permukaan topografi untuk mendapatkan simulasi penambangan dari kerucut. Topografi ini
tidak diubah lagi, kecuali apabila didapatkan harga kerucut yang positif.
Kemudian dilakukan pengujian untuk blok kedua, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.
misalkan kerucut pertama memberikan harga positif dan termasuk dalam pit, hanya blokblok yang terdapat dalam daerah yang diarsir yang perlu untuk ditabulasikan.
Masing-masing blok pada endapan diuji dengan mengasumsikan seperti bentuk kerucut.
Pada model kerucut yang lebih besar, proses ini akan membutuhkan biaya yang besar. Pit
yang dihasilkan juga menentukan arah dari pemilihan blok selanjutnya.
Sebagai contoh, blok dasar pada level mungkin tidak ekonomis ketika pertama diuji. Jika
bagian dari tanah penutup yang menutupi level tersebut dikupas dengan menambang
kerucut dari level yang lebih rendah, blok tersebut harus diperiksa kembali sebelum blok lain

dari level yang lebih rendah digunakan sebagai blok dasar. Hal ini dipandang penting untuk
memastikan kerucut tersebut dapat membayar dirinya.
Karena masalah-masalah tersebut maka sebaiknya seorang enginer dapat membantu
dalam proses di atas. Enginer dapat menentukan volume yang kecil dimana semua blok
dasar akan diperiksa oleh komputer. Dari hasil volume kerucut yang kecil, dapat ditentukan
volume lain untuk diperiksa. Dengan pengawasan tambahan, maka pemilihan tahap dari
blok dasar akan mengurangi suatu masalah.

Gambar 2.9
Kerucut Yang Dibentuk Oleh Blok Dasar Kedua (B.A. Kennedy, 1990)
2.2.2.2. Pertimbangan struktur geologi yang dominan
Struktur gologi yang mempengaruhi dalam perancangan suatu tambang terbuka yaitu :
- Perlapisan dan perlipatan (sinklin dan antiklin)
- sesar dan patahan
- cleavage
Petimbangan mengenai bentuk struktur geologi yang dominan tersebut akan mempengaruhi
dalam melakukan perancangan tambang. Adanya daerah perlapisan, perlipatan, sesar dan
patahan akan mempengaruhi batas-batas daerah yang akan ditambang (geometri dari
daerah penambangan). Salah satu contoh adalah seperti terlihat dalam Gambar 2.10
dimana adanya struktur geologi di daerah yang akan ditambang (di daerah yang akan dibuat
jenjang atau bench) maka geometri jenjang akan dibuat dengan memperhatikan struktur
geologi tersebut. Sedangkan dalam Gambar 2.11 terlihat dimana adanya struktur geologi
yang berupa patahan akan membatasi daerah pit penambangan.

Gambar 2.10
Pengaruh Struktur Geologi dalam Perancangan Bench

Gambar 2.11
Pengaruh Struktur Geologi Patahan Terhadap Daerah Penambangan
2.2.2.3. Pertimbangan Geometri

Cadangan bijih yang akan ditambang dengan cara teknik tambang terbuka sangat
dipengaruhi oleh beberapa aspek meliputi ukuran, bentuk, orientasi dan faktor kedalaman
dari permukaan dari cadangan bijih tersebut. Keadaan topografi mencakup daerah
pegunungan sampai daerah dasar lembah. Oleh karena itu terdapat beberapa pertimbangan
geometri yang harus diperhatikan.
Adapun pertimbangan geometri yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Geometri jenjang
Komponen utama dalam suatu tambang terbuka adalah yang disebut dengan bench (lihat
Gambar 2.12).

Gambar 2.12
Bagian-Bagian Dari Bench (Hustrulid.W. & Kuchta.M.)
Pertimbangan-pertimbangan yang akan dipakai dalam menentukan geometri jenjang
(w=lebar, l=panjang, dan h=tinggi) :
- Sasaran produksi harian sasaran produksi tahunan.
- Harus mampu menampung alat-alat/peralatan yang dipakai untuk bekerja (working bench).
- Masih sesuai dengan ultimate pit slope
Pembuatan jenjang pertama kali biasanya dilakukan dengan cara membuat suatu bukaan
(biasanya berbentuk empat persegi panjang). Bukaan tersebut biasanya dibuat dengan cara
peledakan. Di bawah ini diberikan beberapa contoh perhitungan geometri jenjang dengan
cara peledakan yaitu :
a. Cara US Army Engineer
Lebar jenjang minimum = Wmin = y + Wt + Ls + G + Wb
dimana :
Y = lebar jenjang untuk peledakan, ft (m).
Wt = lebar alat angkut, ft (m).
Ls = panjang alat muat tanpa boom, ft (m).
G = floor cutting radius, ft (m).
Wb = y = Lebar tumpukkan hasil peledakan, ft (m).

Gambar 2.13
Pembuatan Bench cara US Army Engineer
( Pit & Quaries, No. 5-332, 1967)

Sedangkan tinggi jenjang yang dibuat (tergantung kemampuan alat gali, biasanya shovel )
dihitung berdasarkan :
Tinggi jenjang maximum = Hmax = 1,2 Cd + 30 (tertinggi pada ideal)
Tinggi jenjang optimum = Hop = 1,8 Cd + 18 (angka tertinggi sesuai dengan medan kerja).
Keterangan :
Cd = kapasitas mangkok.
Angka optimum < angka maksimum karena kondisi kerja umumnya lebih jelek dibanding
teoritis.
Beberapa faktor atau kondisi yang mempengaruhi alat gali dalam menentukan tinggi dari
bench adalah sebagai berikut :
Kondisi ideal untuk power shovel :
1) Materi yang digali : batu gamping yang masih utuh.
2) Swing max. 90%
3) Jenjang bersih : tidak ada ceceran batuan.
Kondisi tidak ideal (kondisi optimum) :
1) Materi yang digali granit.
2) Jenjang becek dan kotor
3) Swing > 90%
b. Cara perhitungan bench berdasarkan Melenikov, N. & Chesmokov, M.
Wmin = a + G + Rs + 4Wh + Ld + nB
dimana :
a = Wb
Rs = Radius of reared = Ls
Wh = Wt
Ld = Lebar alat bor
nB = y ; (B = jarak tiap row)
Gambar 2.14
Pembuatan Bench cara Melenikov,N. dan Chesmokov, M.
(MIR Publisher, Moskow, 1969)
Panjang jenjang = Lb = (N-1)S =
N = jumlah lubang tempat
S = spasi (spacing)
V = volume batuan yang diledakkan.

r = row
B = jara tiap row = burden
L = tinggi jenjang
m = berapa kali peledakan dalam sehari
Solusi jika lebar minimum melampaui batas ultimate slope, jangan mensejajarkan alat-alat
pada jalur pemuatan (Wt cukup 1, jangan bersimpangan).
2. Jalan tambang
Salah satu pertimbangan geometri adalah pembuatan jalan tambang baik itu jalan masuk ke
dalam tambang untuk pengangkutan bijih/endapan bahan galian yang ditambang ataupun
juga jalan yang digunakan untuk penimbunan lapisan penutup. Geometri dari jalan akan
mempengaruhi bentuk geometri daerah penambangan secara umum. Geometri dari jalan
tersebut meliputi lebar dan kemiringan jalan (biasanya dipengaruhi oleh jenis alat yang
digunakan dalam operrasi penambangan).

a. Umum
Pada sistem penambangan terbuka, sarana jalan merupakan (alat) vital bagi kelancaran
produksi. Untuk itu diperlukan kondisi jalan yang diperlukan untuk mendukung bahan
kendaraan serta material yang dipindahkan.
Tahap pembuatan jalan terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Perencanaan geometri
Tebal perkerasan
Pelaksanaan konstruksi
1) Perencanaan geometri jalan
Setelah daerah yang akan ditambang ditentukan berdasarkan peta eksplorasi, maka
dilakukan pembersihan lapangan. Kemudian dilakukan pembuatan jalan pengupasan
(stripping road). Tanah penutup yang telah digali, diangkut dan dibuang di tempat tertentu
(overburden disposal). Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Iklim
Daerah lokasi penambangan diperngaruhi oleh keadaan iklim. Untuk iklim tropis, terdapat 2
musim yang berpengaruh yaitu musim hujan dan musim kemarau yang akan mempengaruhi
produksi. Penurunan produksi dapat terjadi pada musim hujan dan kemarau. Pada musim
hujan keadaan jalan angkut akan licin atau lengket dan berbahaya untuk dilalui. Sedangkan
pada musim kemarau, jalan menjadi berdebu yang akan mempengaruhi pandangan
pengemudi.
b. Tanah dasar

Tanah dasar dari daerah tambang harus diteliti jenis dan kondisinya, meliputi batas Atterberg
(batas cair, batas plastis) dan golongannya (misalnya menurut Unified Soil Classification
System). Kegunaannya untuk menentukan kekuatan daya dukung tanah.
c. Bahan pekerasan lokal
Dianjurkan untuk mempergunakan batu yang diperoleh dari sekitar lokasi penambangan.
Batu untuk bahan perkerasan jalan boleh langsung dipergunakan tanpa melalui preparasi.
Batu hendaknya dipecahkan sebagai fraksi berukuran 5-7,5 cm.
d. Kemiringan (grade)
Kemiringan jalan mempengaruhi produksi. Sebaiknya diambil kemiringan optimum. Faktor
gravitasi hendaknya dimanfaatkan semaksimal mungkin.
e. Lebar jalan
Lebar jalan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan, dapat satu jalur, dua jalur atau lebih.
f. Fungsi jalan
Menurut fungsinya jalan dibedakan menjadi :
- Jalan pengangkutan utama (main road), yaitu jalan yang menghubungkan setiap stasiun
penyaringan ke pabrik pengolahan atau tempat penimbunan.
- Jalan tambang (mine road), yaitu jalan yang menghubungkan daerah penambangan
dengan stasiun penyaringan.
- Jalan pembuangan (disposal road), yaitu jalan yang menghubungkan daerah pengupasan
dengan daerah pembuangan.
- Jalan pengupasan (stripping road), yaitu jalan yang melayani aktivitas pengupasan tanah
penutup dan sifatnya hanya sementara.
g. Jenis dan kapasitas kendaraan yang melalui jalan.
2) Tebal Perkerasan
Bagian bagian perkerasan (Gambar 2.15) jalan adalah lapisan material yang dipilih dan
dikerjakan menurut persyaratan tertentu sesuai dengan macamnya dan berfungsi untuk
menebarkan beban roda kendaraan sedemikian rupa sehingga dapat ditahan oleh tanah
dasar dalam batas daya dukungnya. Umumnya bagian-bagian perkerasan jalan terdiri dari :
a. Lapis permukaan
Lapis yang terletak paling atas disebut lapisan permukaan, dan berfungsi sebagai :
- lapis perkerasan penahan beban roda, lapisan mempunyai stabilitas tinggi untuk menekan
roda selama masa pelayanan.
- lapis kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan di
bawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan tersebut.
- lapis aus (wearing course), lapisan yang berlangsung menderita gesekan akibat rem
kendaraan sehingga mudah menjadi aus.

- lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan
lain yang mempunyai daya dukung yang lebih jelek.
Guna dapat memenuhi fungsi tersebut di atas, pada umumnya lapisan permukaan dibuat
dengan menggunakan bahan pengikat aspal sehingga menghasilkan lapisan yang kedap air
dengan stabilitas yang tinggi dan daya tahan yang lama.
Gambar 2.15
Penampang Melintang Susunan Perkerasan
b. Lapis pondasi
Lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan
dinamakan lapis pondasi (base course), dan berfungsi sebagai :
- bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban
ke lapisan dibawahnya.
- lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah.
- bantalan terhadap lapisan permukaan.
c. Lapis pondasi bawah
Lapisan perkerasan yang terletak antara lapis pondasi atas dan bawah dasar dinamakan
lapis pondasi bawah (subbase), dan berfungsi sebagai :
- bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar
- efisiensi penggunaan material. Material pondasi bawah relatif lebih murah dibandingkan
dengan lapisan perkerasan diatasnya.
- mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.
- lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
- lapisan pertama, agar pekerjaan dapat berjalan lancar. Hal ini sehubungan dengan kondisi
lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca, atau
lemahnya daya dukung tanah dasar menahan roda-roda alat besar.
- lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar nasik ke lapis pondasi.
d. Lapis tanah dasar
Lapisan tanah setebal 50-100 cm di atas mana akan diletakkan lapis pondasi bawah
dinamakan lapis tanah dasar. Lapis tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan
jiak tanah aslinya baik, tanah yang didatangkan dari tempat lain dan dipadatkan atau tanah
yang distabilkan dengan kapur atau bahan lainnya. Pemadatan yang baik diperoleh jika
dilakukan pada kadar air optimum dan diusahakan kadar air tersebut konstan selama umur
rencana. Hal ini dapat dicapai dengan perlengkapan drainase yang memenuhi syarat.
Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :
- lapis tanah dasar, tanah galian.
- lapis tanah dasar, tanah timbunan.

- lapis tanah dasar, tanah asli.


Contoh tebal perkerasan untuk jalan tambang :
1) Jalan pengangkutan utama (Gambar 2.16 dan 2.17)
2) Jalan tambang (Gambar 2.18 dan 2.19)
3) Jalan untuk pembuangan tanah penutup (Gambar 2.20 dan 2.21)
4) Jalan pengupasan (Gambar 2.22 dan 2.23)

Gambar 2.16
Susunan Perkerasan Jalan Pengangkutan Utama

Gambar 2.17
Susunan Tebal Perkerasan Jalan Pengangkutan Utama
Gambar 2.18
Susunan Perkerasan Jalan Tambang

Gambar 2.19
Susunan Tebal Perkerasan Jalan Tambang
Gambar 2.20
Susunan Perkerasan Jalan Pembuangan

Gambar 2.21
Susunan Tebal Perkerasan Jalan Pembuangan

Gambar 2.22

Susunan Perkerasan Jalan Pengupasan

Gambar 2.23
Susunan Tebal Perkerasan Jalan Pengupasan
3. Pelaksanaan Konstruksi
Material Konstruksi
1) Tanah dasar
Perkerasan jalan diletakkan di atas tanah dasar, dengan demikian secara keseluruhan mutu
dan daya tanah kostruksi perkerasan tak lepas dari sifat tanah dasar. Tanah dasar yang baik
untuk konstruksi perkerasan jalan adalah tanah dasar yang berasal dari lokasi itu sendiri
atau didekaynta; yang telah dipadatkan sampai tingkat kepadatan tertentu sehingga
mempunyai daya dukung yang baik serta kemampuan mempertahankan perubahan volume
selama masa pelayanan walaupun terdapat perbedaan kondisi lingkungan dan jenis tanah
setempat.
2) Agregat
Agregat/batuan didefinisikan secara umum sebagai formasi kulit bumi yang keras dan solid.
Agregat /batuan merupakan komponen utama dari lapisan perkerasan jalan yaitu
mengandung 90-95% agregat berdasarkan persentase berat atau 75-85% agregat
berdasarkan persentase volume. Dengan demikian daya dukung, keawetan dan mutu
perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat material lain.
3) Aspal
Aspal didefinisikan sebagai material berwarna hitam atau coklat tua, pada temperatur tuang
berbentuk padat sampai agak padat. Jika dipanaskan sampai suatu temperatur tertentu
aspal dapat menjadi lunak atau cair sehingga dapat membungkus partikel agregat pada
waktu pembuatan aspal beton atau dapat masuk ke dalam pori-pori yang ada pada
penyemprotan/penyiraman pada perkerasan.
Hidrocarbon adalah bahan dasar utama dari aspal yang umumnya disebut bitumen,
sehingga aspal sering juga disebut bitumen.
Metode Konstruksi
Pelaksanaan konstruksi jalan dapat diaut dengan berbagai metode, diantaranya :
1) Metoda Bina Marga
Jalan yang dibuat dengan metoda Bina Marga mempunyai sifat :
- umur jalan dapat diramalkan.
- tebal perkerasan berdasarkan beban as dan jumlah lintasan.
- bahan lapis permukaan menggunakan aspal beton.

2) Metoda California Bearing Ratio


Jalan yang dibuat dengan metode ini mempunyai sifat :
- umur jalan tidak dapat diramalkan.
- tebal perkerasan berdasarkan beban ban.
- bahan lapis permukaan menggunakan crushed reject (lapisan pondasi) 5 cm ditambah
bahan halus sebagai pengikat.
Khusus untuk metode California Bearing Ratio diperlukan peralatan untuk perawatan jalan,
yaitu :
- bulldozer, yang dilengkapi dengan ripper, gunanya untuk menyebarkan bahan lapis
permukaan dan untuk membongkar material jalan.
- mobil tangki air, gunanya menyiramjalan untuk mengurangi debu di musim kemarau.
- motor grader, untuk meratakan jalan.
- Roller, untuk memadatkan.
3. Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan)
Salah satu cara menggambarkan efisiensi geometri (geometrical efficiency) dalam kegiatan
penambangan adalah dengan istilah Stripping Ratio atau nisbah pengupasan. Stripping
ratio (SR) menunjukkan jumlah overburden yang harus dipindahkan untuk memperoleh
sejumlah bijih yang diinginkan. Ratio ini secara umum digambarkan sebagai berikut :
Dalam hal ini unit satuan yang lain juga dapat digunakan. Dalam kegiatan strip coal mining
maka perhitungan stripping ratio adalah sebagai berikut :

Ratio antara waste terhadap bijih yang digambarkan dalam suatu unit satuan tertentu
berguna untuk tujuan design perancangan. Sebagai contoh, ratio ini didefinisikan sebagai
berikut :
Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa jika overburden dan bijih mempunyai density yang
sama, maka persamaan di atas akan memiliki nilai yang sama.
Sehingga dari nilai stripping ratio yang diperoleh dan dibandingkan dengan nilai BESR
(Break Even Stripping Ratio) yang telah dihitung sebelumnya, maka akan diperoleh bahwa
secara teknis batasan kegiatan penambangan dalam pit adalah sampai nilai BESR dicapai
dalam perhitungan stripping ratio. Sebagai contoh dapat dilihat dalam Gambar 2.24.

Gambar 4.24
Batasan Penambangan Berdasarkan Nilai Stripping Ratio dan BESR
Latihan Soal :
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ultimate pit limit ? Jelaskan secara singkat metode
atau cara penentuan ultimate pit limit ini baik dengan cara manual ataupun cara komputer .
2. Pertimbangan-pertimbangan apa yang harus diperhatikan dalam melakukan perancangan
suatu tambang terbuka ? Jelaskan secara singkat dan jelas (baik aspek ekonomis dan
aspek teknis)

Anda mungkin juga menyukai