Anda di halaman 1dari 5

Nama

NPM
Kelompok

: Mohamad Sofwan Rizky


: 1506728081
:1

Tanggal Kegiatan
Paraf Asisten

: 21-09-2016
:

I.

Outline
1. Teknik Pengolahan Limbah Logam Berat Terdahulu
a. Presipitasi Kimia
b. Pertukaran Ion
c. Adsorpsi
d. Membran filtrasi
e. Elektrokimia
f. Koagulasi dan flotasi
2. Mikroalga dalam Pengolahan Limbah Logam Berat

II.

Pembahasan
1. Teknik Pengolahan Limbah Logam Berat Terdahulu
a. Presipitasi Kimia
Presipitasi kimia merupakan salah satu teknik pengolahan limbah logam berat yang
paling sering diterapkan pada industri mengingat sifat operasinya yang mudah dan
biayanya yang tergolong murah. Salah satu contoh aplikasi presipitasi kimia yang
banyak

digunakan

ialah

presipitasi

hidroksi.

menggunakan berbagai macam hidroksi di antaranya

Presipitasi

hidroksi

dapat

Ca ( OH )2 dan NaOH dalam

menghilangkan ion Cu(II) dan Cr(VI) dari limbah air. Penambahan koagulan seperti
alum, garam besi, atau polimer organik pada proses ini juga dapat meningkatkan
efisiensi dari penghilangan logam berat pada limbah air. Di samping presipitasi
hidroksi, pada presipitasi kimia juga dapat digunakan material utama seperti
presipitasi sulfida. Kelebihan dari metode ini ialah hampir 90% penghilangan logam
berat pada limbah berjalan optimal namun kekurangannya ialah metode presipitasi
kimia membutuhkan konsentrasi yang tinggi, menghasilkan sludge, dan beberapa
logam pun juga memiliki sifat amfoterik.
b. Pertukaran Ion
Metode pertukaran ion juga sering digunakan dalam pengolahan limbah logam
berat pada perairan melihat beberapa keuntungan yang didapat mulai dari tingginya
efisiensi penghilangan logam berat serta prosesnya yang berlangsung cepat. Pada
metode ini sering digunakan resin organik yang memiliki kemampuan untuk
1

menghilangkan logam berat misalnya kelompok asam sulfonat (

SO 3 H

yang

sering digunakan sebagai asam kuat penukar ion dan kelompok asam karboksilat (COOH) sebagai asam lemah penukar ion. Kelemahan dari metode ini adalah
harganya yang mahal jika dioperasikan pada konsentrasi tinggi serta polusi
sekunder yang dihasilkan dari proses regenerasi.

Gambar 1. Pertukaran ion antara ion hidrogen dengan resin organik

c. Adsorpsi
Metode adsorpsi dalam pengolahan limbah logam berat menawarkan operasi yang
fleksibel namun tetap menghasilkan pengolahan limbah yang berkualitas tinggi.
Selain itu, metode ini juga dapat menekan biaya pengolahan limbah di mana
adsorben yang digunakan dapat diregenerasi pada proses desorpsi. Metode adsorpsi
dalam penghilangan logam berat juga masih terus dikembangkan dengan
menggunakan bioadsorben seperti zeolite, kulit pisang, kulit kentang, ataupun
cangkang telur. Harapannya yakni dengan menggunakan material dari lingkungan
sekitar dapat mengurangi biaya produksi dibandingkan harus menggunakan Carbon
Nano Tube atau karbon teraktivasi yang tergolong mahal.

Gambar 2. Adsorpsi menggunakan resin floride yang meliputi proses regenerasi

d. Membran Filtrasi
Membran filtrasi dapat menjadi salah satu teknologi yang menjanjikan untuk
penghilangan logam berat dengan efisiensi yang tinggi, operasi yang mudah, serta
space-saving. Karena metode ini mengacu pada ukuran partikel yang akan
dipertahankan, maka membran yang digunakan pun juga dapat bermacam-macam,
mulai dari ultrafiltration (UF) untuk material yang bersifat terlarut; nanofiltration

untuk logam seperti nikel, tembaga, dan arsen; reverse osmosis dengan membran
semi-permeabelnya yang akan memisahkan fluida yang sudah dipurifikasi dengan
kontaminannya.
e. Elektrokimia
Metode elektrokimia meliputi pelapisan ion logam pada permukaan katoda yang
biasanya membutuhkan invetasi dan pemasokan daya listrik yang tinggi sehingga
tidak banyak digunakan. Pengolahan limbah logam berat menggunakan
elektrokimia meliputi elektrokoagulasi dengan elektroda Fe atau Al, elektroflotasi
dengan elektrolisis air, serta elektrodeposisi yang meliputi proses pemulihan.
f. Koagulasi dan flotasi
Koagulasi merupakan teknik pengolahan limbah logam berat yang meliputi proses
sedimentasi dan filtrasi dengan objek utamanya adalah koloid hidrofobik dan
partikel tersuspensi. Sementara itu, flotasi merupakan proses penanaman spesies ion
logam hidrofobik dengan penghilangan spesies hidrofobik tersebut menggunakan
gelembung udara.

Gambar 3. Proses Koagulasi dan Flotasi

2. Mikroalga dalam Pengolahan Limbah Logam Berat


Mikroalga merupakan tumbuhan tingkat terndah yang memiliki peranan sangat
penting dalam ekosistem akuatik sebagai produser primer dan pensuplai oksigen
perairan. Mikroalga merupakan bioremediator yang handal (Soeprobowati & Hariyati,
2013a) dengan kemampuan biosorpsinya karena memiliki gugus fungsi yang dapat
mengikat ion logam, terutama gugus karboksil, hidroksil, amina, sulfudril imadazol,
sulfat dan sulfonat yang terdapat dalam dinding sel; bahan bakunya mudah didapat dan
tersedia dalam jumlah banyak, bahan baku operasional rendah, sludge yang dihasilkan
sangat minim, dan tidak perlu nutrisi tambahan.
3

Mikroalga juga memiliki kelemahan diantaranya adalah ukurannya yang kecil,


berat jenis rendah, dan mudah rusak oleh degradasi mikroorganisme lain. Namun, di
samping itu sudah banyak penelitian yang telah dilakukan tentang pemanfaatan
mikroalga sebagai agen bioremediasi, misalnya akulumasi Cd oleh Tetraselmis chuii
dan Spirulina maxima.
Proses fikoremediasi merupakan pemanfaatan alga untuk menghilangkan
polutan dari lingkungan atau mengubahnya menjadi bentuk yang kurang beracun.
Dalam cakupan yang lebih luas, fikoremediasi merupakan pemanfaatan mikro maupun
makroalga untuk menghilangkan atau mentransformasi polutan, termasuk nutrien dan
senobiotik dari limbah cair dan CO2 udara. Mikroalga sangat adaptif dan mampu hidup
secara autotrof, heterotrof atau miksotrof. Pada lingkungan alami, alga berperanan
sangat penting dalam mengontrol konsentrasi logam di danau maupun laut. Hal ini
berkaitan dengan kemampuannya dalam mendegradasi atau mengakumulasi logam
berat toksik dan polutan organik seperti fenolik, hidrokarbon, pestisida, dan bipenil dari
lingkungan lalu mengakumulasinya, sehingga konsentrasi dalam alga lebih tinggi dari
konsentrasi di polutan yang ada di lingkungan.
Pengambilan logam oleh mikroalga dilakukan dalam dua cara yaitu dengan
adsorpsi dan absorpsi. Adsorpsi merupakan metabolisme sel yang dilakukan secara
bebas, secara fisik terjadi pada permukaan sel kemudian logam menuju sitoplasma
(kemoadsorpsi).

Gambar 4. Proses kemoadsorpsi pada sitoplasma serta proses detoksifikasi (Absorpsi) pada
makhluk hidup.

Sementara itu, absorpsi merupakan metabolisme sel yang tergantung pada


pengambilan logam berat secara intraseluler. Pb, Cu, Cd, Co, Hg, Zn, Mg, Ni dan Ti
berikatan dengan polifosfat alga dan berfungsi sebagai penyimpan dan detoksifikasi
4

logam. Proses sekuitrasi logam berat oleh mikroalga merupakan sumber multi fungsi
polimer. Di samping itu, mikroalga juga mampu menghilangkan nitrogen dari air
melalui proses enam belas biosorpsi dan menyimpannya sebagai biomassa. Ketika
mikroalga mati, maka terdekomposisi dan melepaskan amonia atau ureum ke badan air
dan dapat dianfaatakn sebagai sumber nitorgen lagi.
III.

Daftar Pustaka
Becker, E.W. (1994) Microalgae: Biotechnology and Microbiology, Cambridge
University Press.
Fu, Fenglian & Wang, Qi. (2010) Removal of Heavy Metal Ions from Wastewater, Journal
of Environmental Management.
Kaplan, Drora. (2013) Absorption and Adsorption of Heavy Metals by Microalgae,
Handbook of Microalgae Culture: Applied Phycology and Biotechnology.
S.K., Gunatilake. (2015) Methods of Removing Heavy Metals from Industrial Wastewater,
Journal of Multidisciplinary Engineering Science Studies.
Soeprobowati, T.R. (2013) Potensi Mikroalga sebagai Agen Bioremediasi dan
Aplikasinya dalam Penurunan Konsentrasi Logam Berat pada Instalasi Pengolah Air
Limbah Industri, Universitas Diponegoro.