Anda di halaman 1dari 38

BAB III

GAS SUPPLY

3.1. Cadangan dan Produksi Gas Bumi


Cadangan terbukti gas bumi Indonesia per 1 Januari 2013 tercatat sebesar
101,54 TSCF (KESDM, 2014) atau 1,6 % dari cadangan terbukti gas bumi dunia
yang besarnya 6560 TSCF (BP Statistical Review of World Enegry, 2014). Dengan
jumlah penduduk per 1 Juli 2014 sebesar 252,8 juta atau 3,5% dari dunia yang
tercatat sebanyak 7,22 milyar (Worldometer, 1 November 2014), Indonesia
memiliki cadangan gas bumi per kapita sebesar 401,7 BSCF/kapita, di bawah
rata-rata dunia sebesar 908,6 BSCF/capita. Jadi sebenarnya Indonesia saat ini
merupakan negara yang miskin gas bumi.
Walaupun demikian sejarah mencatat Indonesia pada masa lalu merupakan
negara pengekspor gas bumi (dalam bentuk LNG) terbesar dunia yang kemudian
menyadari bahwa defisit gas bumi telah menjelang dalam dekade mendatang,
sehingga kebijakan Pemerintah sekarang mengarah kepada usaha-usaha
penghapusan ekspor gas bumi dan mempersiapkan diri sebagai negara
pengimpor gas bumi.
3.1.1.

Cadangan Gas Bumi

Cadangan gas bumi didefinisikan sebagai jumlah gas bumi yang tersisa
dalam bumi, yang dapat diambil secara ekonomis dengan teknologi yang
tersedia pada saat penetapan cadangan tersebut. Dari segi tingkat
kepastiannya, cadangan dibedakan atas cadangan terbukti (P1), cadangan
probable (P2), dan cadangan possible (P3). Jumlah P2 dan P3 disebut
cadangan potensial, dan cadangan total adalah jumlah P1, P2 dan P3.
Cadangan total gas bumi Indonesia dalam dekade terakhir ini
menunjukkan kecenderungan penurunan seperti ditunjukkan pada
Gambar 3.1 berikut.

Sumber: Kementerian ESDM, 2013

Gambar 3.1. Dinamika Cadangan Gas Bumi Indonesia,


20072013
Pada tahun 2013 cadangan total gas bumi sedikit menurun dari 150,7
menjadi 150,39 TSCF. Gambar 3.2 berikut memperlihatkan sebaran
cadangan gas bumi per wilayah Indonesia per 1 Januari 2013.

18.3

CADANGAN GAS
TERBUKTI (P1)
= 101,54 TSCF
POTENSIAL (P2+P3) = 48,85 TSCF
TOTAL (3P)
= 150,39 TSCF

Sumber: Kementerian ESDM, 2014

Gambar 3.2. Sebaran Cadangan Gas Bumi Indonesia per


1 Jan.2013
Terlihat adanya giant gas field di wilayah Natuna, di mana terdapat Blok
D-Alfa yang mengandung gas bumi dalam jumlah yang luar biasa, sekitar
40 TSCF, tetapi belum dapat diproduksi karena terkendala oleh kandungan
CO2 yang sangat tinggi (70% lebih). Konsorsium PT Pertamina EP,
ExxonMobil Ltd., dan Total Indonesie SA telah melakukan studi yang
menghasilkan keekonomian yang tidak menarik apabila digunakan sistem
Kontrak Bagi Hasil yang standar. Agar proyek laik, diperlukan berbagai

insentif dan perpanjangan waktu kontrak yang akan menggerus bagian


negara, sehingga Pemerintah mem-pending proyek tersebut.
Disamping gas bumi konvensional di atas, Indonesia juga memiliki gas
bumi non-konvensional dalam jumlah yang lebih besar. Gas bumi nonkonvensional ini meliputi GMB (gas metana batubara coalbed methane,
CBM), shale gas, dan gas hidrat.
Sumberdaya GMB diperkirakan sebesar 453 TSCF dan tersebar di 11 basin
seperti diperlihatkan pada Gambar 3.3

Perkiraan potensi sumberdaya 453 TCF


Jumlah basin GMB = 11
Contract Signed up to 2012 : 50 CBM PSCs
Hasil awal yang menjanjikan di KalTim, saat ini sedangdigunakan sebagai PLTG skala kecil; pengembangan ke dep

SULAWESI
Legends :
CBM Basin

KALIMANTAN

JAVA
KUTEI BASIN
(80.40 TCF)

CENTRAL
SUMATERA
BASIN
(52.50 TCF)

NORTH TARAKAN
BASIN
(17.50 TCF)
BERAU BASIN
(8.40 TCF)

SUM

OMBILIN
(0.50 TCF)

ATE
RA

BARITO BASIN
(101.60 TCF)

(3.00 TCF)

(2.00 TCF)

SOUTH
SUMATERA BASIN
BENGKULU BASIN
JATIBARANG BASIN
(183.00 TCF)
(3.60 TCF)
(0.80 TCF)

Sumber: Kementerian ESDM, 2014

Gambar 3.3. Sebaran Sumberdaya GMB Indonesia per 1


Jan.2013
Sumur GMB umumnya lebih dangkal (sehingga lebih murah), memerlukan
lahan lebih sempit, dan pencemaran lingkungannyapun juga lebih rendah
dibandingkan dengan sumur minyak dan gas konvensional. Walaupun
demikian hambatan utama yang dihadapi dalam memproduksi GMB
adalah:
a. Keberadaan gas metana yang terabsorbsi pada cleats (macropore)
dan matriks batubara (micropores) menyebabkan tekanan dan aliran
gas waktu diproduksikan relatif rendah;
b. Diperlukan waktu untuk de-watering atau menyedot air yang cukup
lama (4 6 tahun) untuk mengeluarkan gas.
c. Radius pengurasan sumur lebih kecil sehingga diperlukan lebih banyak
sumur produksi.
Keberadaan shale gas di Indonesia telah teridentifikasi, dan diperkirakan
sumberdaya shale gas lebih besar lagi, yaitu mencapai 574 TSCF. Gambar
3.4 memperlihatkan penyebaran shale gas di Indonesia.

Sumber: Kementerian ESDM, 2012

Gambar 3.4. Sebaran Sumberdaya Shale Gas Indonesia


Untuk memproduksi shale gas diperlukan operasi hydraulic fracturing,
yaitu perengkahan formasi shale (lempung) dengan tekanan air yang
dipompakan ke sumur dan kemudian mengisi rengkahan tersebut dengan
butiran-butiran proppant (biji plastik dengan diameter besar). Setelah
pompa dihentikan rengkahan menutup kembali, tetapi terganjal oleh

proppant dan membentuk jalan raya tempat mengalirnya gas menuju


lubang sumur.
Amerika Serikat berhasil mencapai commercial breakthrough dengan
shale gas-nya setelah melakukan penelitian selama 40 tahun lebih. Untuk
mengikuti jejak Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia perlu mendorong
penelitian pemanfaatan shale gas di Indonesia. Shale di Indonesia lebih
lembek dari pada shale di Amerika. Akses jalan raya yang dibentuk oleh
fracture yang diganjal oleh proppant lebih rapat sehingga mempersulit
aliran gas menuju lubang sumur.
Gas non konvensional lain adalah gas hidrat. Seminar oleh Pertamina UTC
(Upstream Technology Center) pada 3 Mei 2012 di Hotel Kempinski
Jakarta tentang gas hidrat menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki
sumberdaya gas hidrat dalam jumlah yang besar. Survai seismik yang
dilakukan Pertamina telah menunjukkan indikasi adanya gas hidrat di
sejumlah perairan Indonesia, dengan potensi sekitar 3000 TSCF.
Gas hidrat adalah padatan yang merupakan campuran gas metana dan air
pada suhu rendah dan tekanan tinggi. Gas ini biasanya terdapat di laut
dalam seperti di palung laut (jurang di dasar laut). Beberapa negara yang
sedang mengembangkan gas hidrat adalah Jepang, Kanada, India, dan
Rusia.
3.1.2.

Produksi Gas Bumi

Produksi gas bumi Indonesia selama perioda dekade terakhir ini


menunjukkan pola yang hampir stabil. Antara tahun 2003-2009. Tahun
2010 produksi meningkat tajam untuk kemudian turun lagi ke kisaran
sebelumnya pada tahun-tahun berikutnya. Meskipun demikian produksi
gas Indonesia pada 2012 merupakan yang tertinggi kesepuluh di dunia
(IEA, 2013). Gambar 3.5 memperlihatkan dinamika produksi gas Indonesia
selama dasawarsa 2003-2013

3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Sumber: Kementerian ESDM, 2014

Gambar 3.5. Produksi gas Indonesia Indonesia, 20032013


Blok Mahakam, lokasi gas bumi lepas pantai di Kalimantan Timur yang
dioperasikan oleh Total Indonesia SA sejak tahun 1970, saat ini
menyumbang sekitar seperlima dari produksi gas alam kering di
Indonesia. Kontrak kerjasama (KKS) Total dengan SKK Migas akan berakhir
tahun 2017, dan sampai saat ini Pemerintah belum menjawab permintaan
perpanjangan kontrak yang telah diajukan sejak tahun 2007. Walaupun
demikian produksi gas tetap dapat dijaga mampu memenuhi PJBG
(perjanjian jual-beli gas) karena pihak Total tetap melakukan investasi
kapital (pemboran sumur baru dan penambahan fasilitas produksi) dengan
memperpendek waktu depresiasi melalui amandemen KKS.
Chevron sedang mengembangkan proyek IDD (Indonesia deep-sea
development) yaitu produksi gas di laut dalam di Kalimantan Timur yang
diperkirakan akan menghasilkan 1,1 BSCFD atau 400 BSCF per tahun gas
alam yang diharapkan akan mulai beroperasi pada tahun 2015.
Pertamina, PetroChina, dan ConocoPhillips adalah produsen utama di
Cekungan Natuna di Laut China Selatan. Perusahaan-perusahaan ini
memproduksi sekitar 200 BSCF gas dari cekungan Natuna pada tahun
2011. Blok Natuna D-Alpha yang mengadung 40 TSCF dengan 70% CO2
yang ditangani oleh Konsorsium Pertamina, ExxonMobil dan Total
Indonesie masih memerlukan waktu lama untuk menghasilkan kargo
pertama LNG. Sengketa teretorial Indonesia dengan negara-negara
tetangga atas klaim ke perairan Pulau Natuna, yang terletak di wilayah
utara Indonesia dapat menunda eksplorasi dan pengembangan sumber
daya gas di sekitar Natuna Timur.

Teluk Bintuni, yang terletak di Papua Barat, dan wilayah Sulawesi Tengah
merupakan daerah penting sumber daya gas lepas pantai yang baru. Di
daerah dekat Papua Barat, BP mengoperasikan Blok Tangguh yang
memiliki cadangan terbukti sebesar 14,4 TSCF.
Laut Arafura yang terletak di kawasan timur Indonesia sebagian besar
masih kurang tereksplorasi, tetapi di sana Japex dengan Wilayah Kerja
Masella-nya berhasil menemukan lapangan gas Abadi yang diperkirakan
memiliki cadangan antara 10 dan 14 TSCF.
Produksi gas bumi per pulau di Indonesia diperlihatkan pada Tabel 3.1 dan
Gambar 3.6 berikut.
Tabel 3.1 Produksi Gas Bumi per Pulau, 2007-2012, BSCF
Tahun

Sumatera

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

Papua

INDONESIA

2007

812.40

635.71

1,304.76

39.21

13.46

2,805.5
4

2008

904.73

628.95

1,293.76

46.10

11.78

2,885.3
3

2009

993.77

638.97

1,284.15

44.36

99.21

3,060.4
7

2010

1,087.39

615.45

1,274.19

40.35

390.17

3,407.5
5

2011

1,091.46

613.45

1,105.90

35.65

409.92

3,256.3
8

2012

1,058.74

573.90

895.06

21.90

434.11

2,983.7
2

Sumber: Kementerian ESDM, 2013

Sumber: Kementerian ESDM, 2013

Gambar 3.6. Produksi Gas Bumi per pulau, 2007-2012


Pada Tahun 2007, produksi gas bumi terbesar di Indonesia berada pada
Pulau Kalimantan (1.304,8 BSCF) yang diikuti oleh Sumatera (812,4 BSCF),
Jawa (635,7 BSCF), Sulawesi (39,2 BSCF) dan Papua (13,5 BSCF).
Sama seperti pada tahun 2007, pada tahun 2008 pulau dengan produksi
gas bumi terbesar secara berturut-turut adalah Kalimantan (1.293,8
BSCF), Sumatera (904,7 BSCF), Jawa (629,0 BSCF), Sulawesi (46,1 BSCF)
dan Papua (11,8 BSCF). Walaupun Kalimantan sebagai produsen gas
terbesar pada 2008, namun jumlah produksi gas Pulau Kalimantan
menurun begitu juga untuk pulau Jawa dan Papua. Sementara Pulau
Sumatera dan Sulawesi mengalami kenaikan produksi gas dari tahun
sebelumnya.
Untuk tahun 2009 pulau-pulau dengan produksi gas bumi terbesar secara
berturut-turut adalah Kalimantan (1.284,1 BSCF), Sumatera (993,8 BSCF),
Jawa (639,0 BSCF), Papua (99,2 BSCF) dan Sulawesi (44,4 BSCF). Produksi
gas di Papua pada tahun 2009 meningkat dan menduduki posisi ke empat
yang mana untuk dua tahun sebelumnya Papua selalu berada pada posisi
ke lima. Produksi yang besar ini berasal dari produksi gas bumi oleh BP
Tangguh yang pada tahun 2009 memproduksi gas sebesar 82,4 BSCF.
Sementara untuk tahun 2010, pulau dengan produksi terbesar di
Indonesia masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu kalimantan
(1.274,2 BSCF) diikuti dengan Sumatera (1.087,4 BSCF), Jawa (615,5

BSCF), Papua (390,2 BSCF), dan Sulawesi (40,3 BSCF). Untuk Papua,
produksi gas bumi meningkat dengan sangat signifikan dari tahun
sebelumnya.
Untuk tahun 2011, Produksi gas bumi terbesar adalah oleh Pulau
Kalimantan (1.105,9 BSCF) dengan Pulau Sumatera (1.091,5 BSCF)
menempati posisi kedua dengan selisih yang sedikit dari Pulau
Kalimantan. Sementara Jawa (613,4 BSCF), Papua (409,9 BSCF), dan
Sulawesi (35,7 BSCF) berurutan menempati posisi-posisi berikutnya.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2012 produksi gas
bumi di Sumatera (1.058,7 BSCF) melebihi produksi gas di Kalimantan
(895,1 MSCF). Sementara Jawa (574,0 BSCF), Papua (434,1 BSCF), dan
Sulawesi (21,9 BSCF) berturut-turut masih menempati posisi berikutnya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar produksi
gas di Indonesia berasal dari Pulau Kalimantan dan Sumatera. Produksi
gas di Pulau Kalimantan terus menurun dari tahun 2007 hingga tahun
2012, meski demikian masih menyumbang produksi gas terbesar di
Indonesia begitu juga dengan pulau Sumatera. Sementara, produksi gas di
Sumatera terus meningkat dari tahun 2007 hingga 2011 dan mengalami
sedikit penurunan pada tahun 2012. Sementara itu, Sulawesi merupakan
pulau dengan neraca gas yang paling kecil. Papua merupakan pulau
dengan peningkatan produksi yang cukup signifikan dengan hanya
memproduksi gas bumi sebesar 11,8 BSCF pada tahun 2007 meningkat
pesat pada tingkat 434,1 BSCF pada tahun 2012.
3.2. Pemanfaatan Gas Bumi
Produksi gas alam Indonesia pada awalnya untuk ditujukan untuk ekspor, tetapi
dengan menurunnya produksi minyak menurun di Indonesia itu menyebabkan
produsen untuk menggeser meningkatkan volume gas terhadap konsumsi
domestik. Pada tahun 2012, Indonesia mengkonsumsi 1,329 BSCF gas alam, atau
sedikit lebih dari setengah dari total produksi gas. Meskipun sektor industri
menyumbang porsi terbesar dari konsumsi domestik, analis industri
memperkirakan sektor listrik menjadi pendorong paling signifikan dari
pertumbuhan konsumsi di masa depan. Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral menetapkan bahwa pasokan gas dialokasikan untuk kebutuhan enhanced
oil recovery, industri pupuk, dan sektor listrik sebelum sektor lainnya.
Perusahaan Gas Negara (PGN) menguasai pasar midstream gas dan pasar
transmisi, operasi lebih dari 3.600 kilometer dari transmisi dan distribusi gas
bumi jaringan pipa. Namun, infrastruktur distribusi domestik di luar hampir
tidak ada dari Jawa dan Sumatera Utara. PGN mulai mengoperasikan pipa
Sumatera Selatan- Jawa Barat pada tahun 2008 yang menyediakan jaringan

penting antara wilayah yang memproduksi gas dari Sumatera Selatan dan pasar
padat penduduk Jawa Barat. Jalur pipa Grissik-Duri adalah pipa transmisi
domestik penting lainnya, karena menyediakan gas untuk ladang minyak Duri
Chevron untuk kegiatan steam flooding dan pembangkit listrik.
Pemanfaatan gas bumi per pulau sepanjang 2007-2012 ditunjukkan pada Tabel
3.2 dan Gambar 3.7 berikut.
Tabel 3.2 Pemanfaatan Gas Bumi per Pulau, 2007-2012,
BSCF
Tahun Sumatera

Jawa

Kalimanta
n

Sulawes
i

Papua Indonesia

2007

753.11

619.82

1,291.41

37.63

5.72

2,707.6
9

2008

833.65

606.58

1,278.85

44.61

7.36

2,771.0
5

2009

930.19

596.49

1,266.78

42.56

51.86

2,887.8
9

2010

1,022.16

576.01

1,257.10

38.44

328.98

3,222.7
0

2011

1,027.93

572.52

1,093.98

33.39

349.10

3,076.9
2

2012

972.42

481.23

882.50

19.13

372.83

2,728.1
1

Sumber: Kementerian ESDM, 2013

Sumber: Kementerian ESDM, 2013

Gambar 3.7. Pemanfaatan Gas Bumi per pulau, 2007-2012


Konsumsi gas bumi di Indonesia berdasarkan sektor pengguna gas bumi (industri,
transportasi, sektor rumah tangga, dan komersial) cenderung meningkat tiap
tahun. Perkiraan alokasi gas bumi di dalam negeri pada 2014 ditunjukkan pada
Gambar 3.8 berikut.

TRANSPORTASI; 0% GAS RUMAH TANGGA; 0%


INDUSTRI; 25%

EKSPOR; 35%

LISTRIK; 21% PENINGKATAN PRODUKSI; 8%


PUPUK; 10%

Sumber: Kementerian ESDM, 2014

Gambar 3.8. Perkiraan alokasi gas bumi di dalam negeri, 2014

Konsumsi gas bumi per sektor ditabulasikan pada tabel berikut:


Tabel 3.3 Konsumsi Gas Bumi per Sektor, MMSCF, 2000-2011
Tahun

Industri

Transportasi

Rumah Tangga

Komersial

2000

483.438

968

449

745

2001

455.798

773

487

821

2002

448.261

654

535

913

2003

500.622

599

553

882

2004

473.695

471

691

972

2005

480.382

238

693

1.057

2006

461.277

233

711

1.145

2007

443.889

273

737

1.526

2008

623.616

691

729

1.989

2009

654.428

1.066

722

4.067

2010

635.361

1.088

751

5.364

2011

666.195

1.006

635

7.185

Sumber: Ditjen Migas, 2012

Berikut diberikan profil konsumsi gas bumi tiap sektor.


3.2.1.

Sektor Industri

Profil konsumsi gas bumi di Indonesia pada sektor industri tahun 2000
sampai 2011 ditunjukkan oleh Gambar 3.9. Data konsumsi tersebut
berdasarkan konsumsi gas bumi oleh industri besi dan baja, industri
kimia, industri logam nonbesi, industri produksi nonlogam, industri mesin
dan peralatan, industri tambang nonenergi dan penggalian, industri
makanan, industri kertas, industri kayu, industri petrokimia, dan industri
tekstil. Dari tahun 2000 sampai 2007 konsumsi gas bumi pada sektor
industri cenderung stabil dengan rata-rata 468,4 MMSCF. Mulai tahun
2008, konsumsi naik dan cenderung stabil hingga 2011 dengan rata-rata
655,9 MMSCF.

Sumber: Ditjen Migas, 2012

Gambar 3.9. Konsumsi gas bumi di Sektor Industri, 20002011


Pada tahun 2011, Forum Industri Pengguna Gas Bumi memberikan jumlah
permintaan gas untuk sektor industri yang ditabulasikan dalam Tabel 3.4.
Pada industri manufaktur, industri logam paling banyak membutuhkan
gas, diikuti oleh industri kertas dan industri keramik. Sedangkan
kebutuhan gas industri pupuk dan petrokimia didominasi oleh industri
pupuk.
Tabel 3.4 Permintaan Gas Sektor Industri, 2011
Jenis Industri
Industri Manufaktur
Keramik

Kebutuhan Gas
1520,74
130,65

Glassware

18,9

Glove

2,68

Kaca Lembaran

60,31

Logam

964,82

Tekstil

20,38

Semen

5,05

Makanan dan Minuman

26,08

Kertas

245,7

Karbit

26,27

CPO

15,38

Jenis Industri

Kebutuhan Gas

Pakan ternak

2,27

MSG

1,21

Coklat

0,51

Sorbitol

0,11

Zink Okside

0,11

Gas

0,31

Industri Pupuk dan Petrokimia

1246,58

Pupuk

807,20

Amoniak

120,50

Petrokimia
Sumber: Ditjen Migas, 2013

318,88

3.2.2.

Sektor Komersial

Profil konsumsi gas bumi di Indonesia pada sektor komersial tahun 2000
sampai 2011 ditunjukkan oleh Gambar 2.10. Data konsumsi tersebut
berdasarkan konsumsi gas bumi untuk pencahayaan, AC, peralatan
mekanik, peralatan memasak, dan pemanas ruangan. Konsumen pada
sektor komersial dan bisnis umum ini mencakup perniagaan, hotel,
restoran, institusi keuangan, lembaga pemerintah, sekolah, rumah sakit.
Dari tahun 2000 sampai 2008 konsumsi gas bumi pada sektor komersial
cenderung meningkat dengan pertumbuhan yang rendah dan kemudian
dari tahun 2008 hingga 2011 konsumsi gas bumi mengalami peningkatan
yang tajam.

Sumber: Kementerian ESDM, 2013

Gambar 3.10.

3.2.3.

Konsumsi gas bumi di Sektor


Komersial, 2000-2011

Sektor Rumah Tangga

Profil konsumsi gas bumi di Indonesia pada sektor rumah tangga tahun
2000 sampai 2011 ditunjukkan oleh Gambar 2.15. Data konsumsi tersebut
berdasarkan konsumsi gas bumi untuk memasak, pencahayaan, dan
peralatan rumah. Dari tahun 2000 sampai 2004 konsumsi gas bumi pada
sektor rumah tangga cenderung meningkat dan kemudian dari tahun 2004
hingga 2010 cenderung stabil dengan rata-rata 719 MMSCF. Namun, pada
tahun 2011 konsumsi gas bumi mengalami penurunan hingga 693 MMSCF.

Sumber: Kementerian ESDM, Pusdatin, 2012

Gambar 3.11.

3.2.4.

Konsumsi gas bumi di Sektor Rumah Tangga,


2000-2011

Sektor Transportasi

Profil konsumsi gas bumi di Indonesia pada sektor transportasi tahun 2000
sampai 2011 ditunjukkan oleh Gambar 2.12. Data konsumsi tersebut
berdasarkan konsumsi gas bumi pada transportasi udara, transportasi
darat (sepeda motor, mobil, bus, dan truk), feri, dan kereta api. Dari
tahun 2000 sampai 2006 konsumsi gas bumi pada sektor transportasi
cenderung menurun dan kemudian naik mulai tahun 2007.

Sumber: Kementerian ESDM, Pusdatin, 2012

Gambar 3.12.
Konsumsi gas bumi di Sektor
Transportasi, 2000-2011

3.2.5.

Ekspor Gas Bumi

Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor gas bumi di dunia.


Tidak dipungkiri gas bumi telah dipakai di berbagai sektor terutama
sektor industri di dunia. Namun dari segi pemanfaatan gas bumi lebih
kompleks dibandingkan dengan minyak bumi. Gas tidak bisa ditampung,
sehingga harus langsung dimanfaatkan saat keluar dari dalam bumi.
Dengan karakteristik seperti ini, pengembangan lapangan gas baru dapat
dilaksanakan setelah pembeli didapatkan dan infrastruktur tersedia.
Kemudian gas tersebut di jual atau di distribusikan ke konsumen, baik
dalam maupun luar negeri.
Indonesia memulai ekspor gas pada tahun 1977 yaitu ekspor gas alam cair
atau liquefied natural gas (LNG) dari Kilang Badak di Bontang, Kalimantan
Timur. Setahun kemudian, Indonesia kembali memulai ekspor LNG dari
Kilang Arun di Aceh. Saat itu konsumsi gas domestik masih sangat rendah
sementara di sisi lain, negara sangat membutuhkan devisa untuk
pemulihan ekonomi. Akhirnya, gas bumi Indonesia diolah menjadi LNG
untuk kemudian di ekspor ke pasar internasional. Karena sifat dari gas
bumi yang tidak bisa disimpan seperti minyak bumi, maka dibutuhkan
kontrak jual-beli jangka panjang. Hal ini untuk memberikan kepastian
penjualan dari sisi produsen dan kepastian pasokan dari sisi pembeli.
Kontrak jual-beli dalam jangka panjang inilah yang masih berlaku
sampai saat ini.

Kontrak-kontrak yang masih berjalan hingga saat ini adalah kontrak lama
yang ditandatangani saat gas masih kurang diminati oleh pembeli
domestik. Bahkan saat kontrak ekspor LNG dari Kilang LNG Tangguh di
Papua ditandatangani tahun 2002, permintaan gas domestik belum
setinggi saat ini. Karena pasar domestik tidak mampu menyerap, maka
sepertiga bagian LNG dari Tangguh diekspor ke Tiongkok. Sisanya lagi
diekspor ke berbagai negara untuk menghasilkan penerimaan negara.
Konsumsi gas dalam negeri sendiri mulai naik tajam tahun 2005. Kenaikan
konsumsi gas yang tajam pada tahun 2005 diakibatkan oleh program
pemerintah Indonesia dalam menggalakkan penggunaan gas (konversi
minyak ke gas) disaat infrastruktur dan supply gas belum memadai.
Contohnya, semenjak harga minyak dunia melambung tinggi, Indonesia
banyak menggunakan PLTG (pembangkit listrik tenaga gas), yang
menyebabkan naiknya permintaan gas oleh PT PLN. Pada tahun 2005,
pemakaian gas oleh PLN masih sebesar 143 ribu MMSCF, akan tetapi pada
tahun 2010 mencapai angka 283 ribu MMSCF atau meningkat sebesar
97,7%. Kenaikan inilah yang tidak mampu diimbangi oleh pasokan gas
yang memadai. Bahkan dalam neraca gas nasional sudah dituliskan bahwa
rata-rata defisit gas untuk pembangkit listrik pada periode (2012-2014)
mencapai 725 MMSCFD. Untuk mengatasi defisit gas ini Indonesia
sebenarnya dapat menggunakan alternatif energi lain, misalnya batubara.
Secara biaya, pemakaian batubara untuk pembangkit listrik akan lebih
murah dibandingkan gas. Biaya produksi listrik dengan gas mencapai Rp
850/kwh, sedangkan dengan batubara hanya sebesar Rp 450/kwh.
Hasil kegiatan eksplorasi beberapa tahun terakhir memperlihatkan tren
peningkatan penemuan cadangan gas di Indonesia. Bahkan, volume
produksi LNG diperkirakan akan meningkat sampai tahun 2020. Hal ini
dimungkinkan dengan berproduksinya beberapa proyek gas besar seperti
Indonesia Deep Water Development (IDD); Blok Muara Bakau; dan Blok
Masela. Peningkatan ini tentu memberikan prospek yang menjanjikan baik
untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
Pemerintah sudah menyatakan komitmennya bahwa pasokan gas ke depan
akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Akan tetapi,
sekali lagi, untuk mewujudkan hal ini, ketersediaan infrastruktur dan
keekonomian pengembangan lapangan gas harus diperhatikan. Tanpa
adanya kepastian terhadap dua hal ini, pengembangan proyek gas dan
pemanfaatan hasilnya untuk domestik tidak akan bisa optimal.
Profil negara tujuan ekspor gas untuk negara Indonesia :
a. Jepang

Jepang merupakan pelanggan terbesar Indonesia untuk impor LNG. Bisa


dimaklumi, pasalnya Jepang adalah negara dengan ekonomi terbesar
ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan China.
Dengan konsumsi yang sangat tinggi, Jepang hanya bisa memproduksi gas
yang sangat kecil yaitu 3.343 juta kubik meter (million cubic meter/mcm)
di tahun 2010. Padahal kebutuhannya mencapai 105.284 juta mcm. Hal
tersebut bisa diartikan bahwa 93,29 persen pasokan gas Jepang adalah
dari impor.
Jumlah LNG yang dikirim Indonesia mencapai 258 kargo atau 60 persen
dari total ekspor di tahun 2010. Pada saat pemerintah harus memenuhi
kebutuhan domestik, pemerintah harus melobi secara maksimal agar
Jepang mau mengurangi pembelian gasnya.
b. Korea Selatan
Korea Selatan adalah konsumen gas terbesar kesepuluh di seluruh dunia.
Korea saat ini mengimpor LNG dari Qatar, Malaysia, Oman dan Indonesia.
Pada tahun 2010, ekspor LNG ke Korea Selatan mencapai 85 kargo. Angka
tersebut sedikit berkurang seiring dengan adanya alokasi gas ke domestik.
Pada tahun 2011 pasokan LNG untuk Korea turun menjadi 68 kargo.
c. Taiwan
Taiwan merupakan importir gas terbesar keenam di seluruh dunia.
Setidaknya 98 persen persediaan gas berasal dari impor. Kebutuhan gas
tersebut antara lain digunakan untuk pembangkit listrik 60 persen,
industri 7 persen dan kebutuhan rumah tangga 11 persen. Pembelian LNG
oleh Taiwan tercatat stagnan 32 kargo selama tahun 2010 hingga 2011
lalu.
d. China
Meskipun China juga mempunyai potensi gas yang luar biasa di sepanjang
lautnya, namun negara tersebut masih saja mengimpor gas dari negara
lain. Hal tersebut seiring dengan kebutuhan yang didorong oleh
pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.
Di tahun 2010 lalu, China sanggup memenuhi kebutuhan gas melalui
produksi domestik sebesar 90 persen. China diketahui telah mengimpor
LNG dari Australia, Qatar dan Indonesia.Pasokan gas untuk China tahun
2011 lalu mencapai 35 kargo dari kilang Tangguh. Pasokan gas dari China
ini juga menimbulkan masalah karena harganya terlalu rendah.
e. Singapura
Negara yang dekat dengan Riau ini menjadi konsumen ekspor gas melalui
pipa dari Indonesia. Setiap hari, 790 mmscfd gas mengalir ke negara Singa

itu. Pasokan gas tersebut berasal dari beberapa lapangan gas di


Sumatera. Infrastruktur yang digunakan adalah pipa karena terhitung
dekat dengan sumbernya.
Tabel 3.5 Ekspor Gas Bumi Indonesia, 2002-2012
Tahun

Gas Pipa
MMSCF %

LNG
MMSCF

Total
MMSCF
MMSCFD

2004

163.04
5

1
1

1.322.41
5

8
9

1.485.46
0

4.071

10
0

2005

251.30
3

1
7

1.217.81
7

8
3

1.469.12
0

4.025

10
0

2006

257.22
4

1
8

1.176.28
7

8
2

1.433.51
1

3.927

10
0

2007

319.39
7

2
3

1.079.56
8

7
7

1.398.96
5

3.833

10
0

2008

329.44
8

2
4

1.067.79
5

7
6

1.397.24
3

3.828

10
0

2009

294.10
9

2
2

1.029.27
4

7
8

1.323.38
3

3.626

10
0

2010

333.99
3

1
9

1.427.91
7

8
1

1.761.91
0

4.827

10
0

2011

335.51

2
4

1.293.15
1

9
4

1.628.66
1

4.462

10
0

2012

358.32
5

2
6

1.019.56
9

7
4

1.377.89
4

3.775

10
0

Sumber: Ditjen Migas, 2013

2000000
1800000
1600000
1400000
1200000
Ekspor (MMSCF) 1000000
800000
600000
400000
200000
0
2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014

Tahun
Ekspor Gas Pipa

Ekspor LNG

Ekspor Total

Sumber: Ditjen Migas, 2013

Gambar 3.13.

Ekspor Gas Bumi Indonesia 2006-2012

Data ekspor gas bumi di Indonesia sepanjang tahun 2004 2009


memperlihatkan kenaikan ekspor gas melalui pipa tetapi ekspor LNG
mengalami penurunan dalam jumlah lebih besar karena penurunan
produksi gas dari lapangan Arun yang cadangannya semakin menipis.
Secara keseluruhan ekspor gas bumi menunjukkan penurunan. Disamping
itu juga dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah untuk mengurangi ekspor
LNG dan mengalihkannya untuk pemakaian domestik sebagai usaha
mengurangi tekanan impor BBM yang semakin meningkat.
Namun ekspor LNG pada tahun 2010 kembali meningkat menjadi 24,2 juta
ton dengan mulai beroperasinya lapangan gas Tangguh. Ekspor LNG tahun
2010 sekitar 41% dari total produksi gas alam. Pada tahun 2010 Indonesia
mengalami puncak ekspor gas pipa yang disebakan oleh kontrak ekspor
gas alam melalui pipa ke Singapura dan Malaysia yang dilakukan dalam
kerangka Trans ASEAN Gas Pipeline. Pada tahun 2010 ekspor gas Indonesia
sekitar 9,8% dari total produksi.
Naiknya pasokan gas untuk pasar domestik melalui program konversi BBM
ke gas dan rencana pembatan ekspor gas ke luar negri mencerminkan
bahwa industri hulu migas tidak selalu mengutamakan ekspor. Pasokan
domestik pun tetap diperhatikan bahkan terus ditambah. Hanya saja,
kontrak ekspor tidak bisa secara langsung dialihkan ke pasar dalam negeri
karena kontrak berlaku untuk jangka panjang. Ekspor ini pun masih
diperlukan mengingat penerimaan negara masih tergantung pada migas
dan harga rata-rata gas ekspor hampir dua kali lipat dari harga domestik.

Untuk menutupi kebutuhan domestik akan gas dan mengurangi ekspor gas
ke negara lain Indoensia juga harus siap dalam segi infrastruktur. Saat ini
Indonesia baru memiliki satu terminal penerima LNG yang berlokasi di
Teluk Jakarta. Tanpa adanya fasilitas tambahan, mustahil gas dari Papua
akan bisa dikonsumsi oleh industri di Jawa dan Sumatera.Tidak hanya itu,
saat ini, jaringan pipa distribusi gas masih minim. Contoh konkret,
kelebihan produksi gas di Jawa Timur tidak dapat dikirimkan ke Jawa
Barat yang kebutuhan gasnya tinggi karena belum ada jaringan pipa yang
menghubungkan kedua wilayah ini.
Berdasarkan data ekspor gas bumi dan kebutuhan domestik akan gas bumi
ada hal yang harus menjadi prioritas yaitu adalah keuntungan negara. Di
satu sisi menjual gas ke luar negri akan lebih menguntungkan karena nilai
jual yang lebih tinggi. Namun di sisi lain ada kebutuhan domestik yang
harus dipenuhi di dalam negri.
3.3. Neraca Gas Bumi Indonesia
Neraca gas bumi adalah kesetimbangan antara pasokan dan konsumsi gas bumi.
Hal tersebut berlaku untuk keadaan yang telah terjadi, sementara untuk
keadaan yang akan datang, neraca gas bumi diartikan sebagai pasokan dan
permintaan gas bumi yang masih dalam status perkiraan.
Berdasarkan tingkat kepastiannya, pasokan dibagi atas existing supply, project
supply, dan potentian supply. Ketiga jenis pasokan tersebut didefinisikan
sebagai berikut:
1. Existing supply adalah perkiraan volume gas bumi yang mampu dipasok
dan dialirkan dari lapangan minyak dan gas bumi yang sedang berproduksi
(on stream);
2. Project supply adalah perkiraan volume gas bumi yang mampu dipasok
dan dialirkan dari lapangan minyak dan gas bumi yang sedang dalam
tahap pembangunan.
3. Potential Supply perkiraan volume gas bumi yang dapat dipasok dan
dialirkan dari temuan eksplorasi yang berpotensi dapat dikembangkan di
wilayah kerja eksplorasi atau wilayah kerja eksploitasi.
Demikian pula halnya permintaan yang berdasarkan tingkat kepastiannya
dibedakan atas contracted demand, committed demand yang didefinisikan
sebagai berikut:
1. Contracted Demand adalah volume kebutuhan (demand) gas bumi
berdasarkan data dalam Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG)

2. Committed Demand adalah volume kebutuhan gas bumi berdasarkan


kapasitas infrastruktur terpasang yang belum dapat dipenuhi dan rencana
perpanjangan kontrak; dan
3. Potential Demand adalah volume kebutuhan gas bumi berdasarkan asumsi
yang mengacu pada pertumbuhan kebutuhan energi dan gas bumi sebagai
bahan baku secara nasional.
Indonesia memiliki wilayah yang luas berbentuk kepulauan atau arkipelago di
mana cadangan gas bumi tersebar dengan pusat-pusat pasar gas yang tidak
merata. Untuk itu perlu dibuat pembagian menjadi wilayah-wilayah
(regionalisasi) atas dasar pertimbangan adanya cadangan dan/atau kebutuhan
gas bumi yang besar, yang digunakan dalam perhitungan Neraca Gas Bumi
Indonesia.
Kementerian ESDM mengeluarkan perkiraan neraca gas bumi 2012-2025. Saat ini
Pemerintah sedang membahas kebutuhan gas yang riil secara rinci dari semua
industri pupuk, transportasi, PLN dari 2014 sampai 2035 (Wakil Menteri ESDM,
Susilo Siswoutomo di Investor Daily, Jakarta, Selasa 4 Maret 2014).
Termasuk dalam pengelolalan suatu usaha, adalah pelaporan penggunaan
sumberdaya atau akuntansi biaya yang terdiri atas laba-rugi, dan neraca
Untuk penyusunan neraca gas bumi Indonesia, Pemerintah telah menetapkan
pembagian atas 12 wilayah, yaitu wilayah-wilayah:
1. Nangroe Aceh Darussalam
2. Sumatera Bagian Utara
3. Kepulauan Riau
4. Sumatera Bagian Tengah dan Selatan
5. Jawa Bagian Barat
6. Jawa Bagian Tengah
7. Jawa Bagian Timur
8. Kalimantan Bagian Timur
9. Sulawesi Bagian Selatan
10.

Sulawesi Bagian Tengah

11.

Maluku Bagian Selatan

12.

Papua

3.3.1 Neraca Gas Bumi 2012

Kementrian ESDM menyusun Neraca gas bumi Indonesia untuk tahun 2012
sebagai berikut:
Tabel 3.6 Neraca Gas Bumi Indonesia, 2012 (MMSCFD)
Wilayah

Suplai

Deman

Balans

Keluar
Wilayah

Masuk
Wilayah

Balans
Neto

NAD

237,6

202,0

35,6

152,0

70,0

-46,4

Riau

692,6

130,5

562,1

691,7

94,5

-35,1

34,4

162,9

-128,5

-128,5

1528,6

1093,5

435,1

1133,2

-698,1

861,8

1992,3

-1130,5

711,0

-1841,5

2,9

133,5

-130,6

-130,6

717,3

950,2

-232,9

-232,9

2529,8

789,4

1740,4

1427,9

312,5

Sulawesi Selatan

50,3

99,0

-48,7

-48,7

Sulawesi Tengah

30,0

-30,0

-30,0

1057,8

95,5

962,3

1045,1

-82,8

7713.1

5678.8

2034.3

5160.9

164.5

-2962.1

Sumatera Utara
Sumsel & Sumteng
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Kalimantan Timur

Papua
Maluku Selatan
TOTAL

Sumber: Kementerian ESDM, 2014


Terlihat aliran gas antar wilayah sebesar 164,5 MMSFD (total kolom
Masuk Wilayah) atau 60 BSCF pada tahun 2012; Kalimantan Timur
merupakan wilayah di mana gas bumi paling banyak keluar, yaitu untuk
ekspor.
3.3.2 Perkiraan Neraca Gas Bumi 2014-2030
Kementerian ESDM mengeluarkan perkiraan neraca gas bumi 2014-2030
seperti ditunjukkan pada Tabel 3.7 sampai dengan 3.19 dan Gambar 3.17
berikut.

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.14.

Neraca Gas Bumi Wilayah NAD 20142030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.15.

Neraca Gas Bumi Wilayah SumBagUt


2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.16.

Neraca Gas Bumi Wilayah Kepulauan


Riau, 2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.17.
Neraca Gas Bumi Wilayah
SumBagTeng&Sel 2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.18.

Neraca Gas Bumi Wilayah JawBagBar


2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.19.
Neraca Gas Bumi Wilayah
JawBagTeng, 2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.20.

Neraca Gas Bumi Wilayah JawBagTim,


2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.21.

Neraca Gas Bumi Wilayah KalBagTim,


2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.22.

Neraca Gas Bumi Wilayah SulBagSel,


2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.23.
Neraca Gas Bumi Wilayah
SulBagTeng, 2014-2030

Sumber: Ditjen Migas, 2014

Gambar 3.24.

Neraca Gas Bumi Wilayah Masella,


2014-2030

Sumber: Kementerian ESDM, 2014

Gambar 3.25.

Neraca Gas Bumi Wilayah Papua,


2014-2030

12000.0
10000.0
8000.0

MMSCFD

6000.0
4000.0
2000.0
0.0

CONTRACTED DEMAND

COMMITTED DEMAND

POTENTIAL DEMAND

EXISTING SUPPLY

PROJECT SUPPLY

POTENTIAL SUPPLY

Sumber: Kementerian ESDM, 2014

Gambar 3.26.

Neraca Gas Bumi Indonesia, 20142030