Anda di halaman 1dari 26

PERHITUNGAN PORTOFOLIO SAHAM

4.1.

Penentuan

Expected

Return,

Resiko

Sekuritas,

dan

Resiko Pasar
4.1.1.

Penentuan Expected Return Sekuritas


Return sekuritas merupakan hasil yang diharapkan akan
diterima oleh Investor dari investasi yang dilakukannya. Return
dapat berupa return realisasi dan expected return. Return
realisasi merupakan return yang sudah terjadi dan dinikmati
oleh investor, sedangkan expected return adalah return yang
belum terjadi dan diharapkan akan terjadi di masa datang.
Return dapat bernilai positif dan negatif, return positif
terjadi karena adanya kenaikan harga saham yang disebut
capital gains sedangkan return negatif terjadi karena adanya
penurunan harga saham yang disebut capital loss. Selain yang
berasal

dari

perubahan

harga

saham,

return

juga

dapat

diperoleh dari pembagian keuntungan perusahaan yang dikenal


dengan deviden. Dalam thesis ini yang dimaksud dengan return
adalah hasil yang diperoleh akibat adanya perubahan harga
sekuritas, dengan mengabaikan sama sekali deviden sebagai
return yang juga dinikmati oleh investor.
Secara umum rate of return dapat dihitung dengan
menggunakan formula sebagai berikut :

(Pt - Pt-1)
R =
Pt-1
62

Seperti yang telah dinyatakan diatas bahwa penelitian ini


akan mengamati return dan risiko yang diharapkan dalam
jangka pendek tanpa memperhitungkan deviden. Sehubungan
dengan hal tersebut periode investasi yang diamati adalah data
mingguan selama 60 minggu yang dimulai dari tanggal 3 Maret
2000 sampai dengan 27 April 2001. Harga saham yang diteliti
adalah harga pada hari penutupan setiap minggunya dan
umumnya terjadi pada hari Jumat. Penghitungan return setiap
sekuritas selama

periode

pengamatan

dapat

dilihat

pada

lampiran 1 - 15.
Expected return merupakan harapan atau ekspektasi
investor terhadap return yang akan diterima dimasa datang.
Dengan anggapan masa lalu akan berulang, maka expected
return adalah sama dengan rata-rata return periode yang lalu
atau sekarang. Maka expected return dapat dirumuskan sebagai
berikut :

Rij

E (Ri)

j=1

N
Expected return untuk setiap sekuritas pada periode
pengamatan dapat dilihat pada lampiran 1 - 15 atau pada tabel
1.
4.1.2.

Risiko Sekuritas

63

Seperti penjelasan bab sebelumnya masalah risiko adalah


suatu hal yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, investor
hanya

dapat

(unsystematic

meminimalisir

risiko

risk)

cara

dengan

yang

tidak

melakukan

sistimatis
diversifikasi

terhadap investasi yang akan dilakukannya. Risiko berarti


penyimpangan antara return yang diharapkan dengan return
aktual. Risiko dapat dinyatakan dengan varian return saham (i2)
atau standar deviasi yang merupakan akar dari varian return
(i2). Varian return dan standar deviasi setiap saham dapat
dihitung dengan rumus berikut :

Rij - E (Ri)

i2

j =1

N - 1

Pada model indeks tunggal, risiko terbagi atas risiko yang


berhubungan dengan pasar (market related risk) yaitu : i2.m2
(systematic risk) dan risiko unik masing-masing perusahaan
adalah risiko kesalahan residu yang dilambangkan dengan ei2
(unsystematic risk). Rumus penghitungan risiko menurut model
indeks tunggal adalah :

i2

= i2 m2 +

ei2

64

Pada tabel 4.1 dibawah ini terlihat hasil perhitungan


expected return dan standar deviasi saham individual yang
disarikan dari lampiran 1 - 15.

TABEL 4.1
EXPECTED RETURN DAN STANDAR DEVIASI SAHAM
INDIVIDUAL
Periode 3 maret 2000 s/d 27 April 2001
No

KODE PERUSAHAAN

E(Ri)

STDV

AALI : Astra Agro Lestari Tbk.

0,00210

0,2064

ANTM : Aneka Tambang (Persero) Tbk.

0,00244

0,1313

ASII : Astra Internasional Tbk.

0,00256

0,2057

AUTO : Astra Otopart Tbk.

0,00203

0,1606

GGRM : Gudang Garam Tbk.

0,00079

0,0732

HMSP : H.M. Sampoerna Tbk.

0,00199

0,0753

INDF : Indofood Sukses Makmur Tbk.

0,00242

0,2932

ISAT : Indosat Tbk.

0,00219

0,1464

KOMI : Komatsu Indonesia Tbk.

0,00205

0,1351

0,00812

0,0173

0,00198

0,1429

0,00455

0,1325

10
11
12

MKDO : Makindo Tbk.


RALS : Ramayana Lestari Sentosa
Tbk.
SMCB : Semen Cibinong Tbk.

13

SMGR : Semen Gresik (Persero) Tbk.

0,00016

0,1618

14

TLKM : Telekomunikasi Indonesia Tbk.

0,00202

0,1323

0,00218

0,1223

15
TPSC : Tempo Scan Pasific Tbk.
Sumber : Data diolah

Pada tabel diatas terlihat bahwa E(Ri) expected return


saham individual terbesar dimiliki saham MKDO sebesar 0.00812
dan yang terkecil pada saham SMGR yaitu 0.00016, sedangkan
standar deviasi saham individual terkecil adalah saham MKDO
yaitu 0.0173 dan yang terbesar INDF sebesar 0.2932. INDF

65

memiliki penyimpangan terbesar antara return yang diharapkan


dengan

return

aktual

sedangkan

MKDO

mempunyai

penyimpangan terkecil antara return yang diharapkan dengan


return aktual.

4.1.3.

Risiko Indeks Pasar


Adapun formula untuk menghitung risiko indeks pasar ini

menurut model indeks tunggal adalah sebagai berikut :

Rmt - E (Rm)

m2

Risiko

j =1

N - 1

indeks

pasar

selama

periode

pengamatan

adalah

0.00224, hasil perhitungannya terlihat pada lampiran 1 - 15.


4.2.
4.2.1.

Penentuan Alpha dan Beta Sekuritas


Penentuan Alpha Sekuritas
Alpha

sekuritas

(i)

merupakan

bagian

dari

return

sekuritas yang unik dan indipenden terhadap pasar. Bagian


return sekuritas yang unik ini hanya berhubungan dengan
peristiwa yang terjadi didalam perusahaan itu sendiri. Untuk
menentukan return unik ini dapat digunakan formula sebagai
berikut :

E(Ri) = i + i . E(Rm)
66

Sehingga alpha menjadi,

i = E(Ri) - i. E(Rm)
Penghitungan alpha dari saham-saham individual atau
setiap sekuritas dapat dilihat pada lampiran 31 atau pada tabel
4.2.
4.2.2.

Penentuan Beta Sekuritas


Pada analisis sekuritas dengan model indeks tunggal
terlebih dahulu harus diketahui besarnya beta setiap sekuritas.
Sebagaimana halnya dengan alpha sekuritas, beta sekuritaspun
diasumsikan

tetap

pada

satu

periode

pengamatan.

Beta

sekuritas dihitung dengan menggunakan data historis berupa


data pasar, beta ini disebut beta pasar.
Beta

merupakan

pengukur

volatilitas

antara

return

sekuritas dengan return pasar dan volatilitas ini dapat diukur


dengan kovarian. Kovarian return antara sekuritas ke-i dengan
return pasar adalah sebesar im. Jika kovarian ini dihubungkan
dengan risiko pasar (2m), maka hasil ini akan mengukur risiko
sekuritas ke-i relatif terhadap risiko pasar atau disebut beta (i).
Maka

penghitungan

beta

dapat

sebagai berikut :

67

mempergunakan

formula

Rit - E(Ri) (Rmt - E(Rm)


i

t=1
n

Rmt - E(Rm)2

j=1

im
i2m

Hasil penghitungan beta dari saham-saham individual


atau setiap sekuritas dapat dilihat pada lampiran 1 15 atau
tabel 4.2 dibawah ini :
TABEL 4.2
ALPHA DAN BETA SAHAM INDIVIDUAL
Periode 3 Maret 2000 s/d 27 April 2001
No

KODE PERUSAHAAN

AALI : Astra Agro Lestari Tbk.

0,01315

1,68770

ANTM : Aneka Tambang (Persero) Tbk.

0,00501

0,39211

ASII : Astra Internasional Tbk.

0,01127

1,32958

AUTO : Astra Otopart Tbk.

0,00681

0,73052

GGRM : Gudang Garam Tbk.

0,00954

1,33529

HMSP : H.M. Sampoerna Tbk.

0,00946

1,14002

INDF : Indofood Sukses Makmur Tbk.

0,01375

1,73038

ISAT : Indosat Tbk.

0,00660

0,67293

KOMI : Komatsu Indonesia Tbk.

0,00989

1,19719

10

MKDO : Makindo Tbk.

0,00224

0,62894

11

RALS : Ramayana Lestari Sentosa Tbk.

0,00257

0,09048

12

SMCB : Semen Cibinong Tbk.

0,01039

0,89211

13

SMGR : Semen Gresik (Persero) Tbk.

0,00429

0,63037

14

TLKM : Telekomunikasi Indonesia Tbk.

0,01361

1,76937

0,00578

0,54940

15
TPSC : Tempo Scan Pasific Tbk.
Sumber : Data diolah

Pada tabel 4.2 diatas terlihat alpha saham individual


tertinggi adalah saham

INDF (Indofood Sukses Makmur) yaitu

68

0.01375 dan yang terendah MKDO (Makindo) yaitu 0.00224,


artinya

return

pada

INDF

lebih

banyak

dipengaruhi

oleh

peristiwa yang terjadi didalam perusahaan dibandingkan dengan


MKDO. Sedangkan beta sekuritas terendah dimiliki oleh saham
RALS (Ramayana Lestari Sentosa Tbk.) yaitu 0.09048 dan yang
tertinggi TLKM (Telekomunikasi Indonesia Tbk.) yaitu 1.76937,
artinya RALS mempunyai risiko yang tidak sistematis yang
paling rendah dan TLKM mempunyai risiko tidak sistematis
terbesar.
4.3.

Penentuan Varian Kesalahan Residu


Expected return merupakan harapan return sekuritas dimasa

akan datang. Jika expected return sama dengan return realisasinya


berarti expected return tidak mengalami kesalahan atau kesalahan
residu = 0. Besarnya nilai kesalahan residu dapat dihitung dengan
menggunakan formula sebagai berikut :

Ri

= i

+ i. Rm + ei

Besarnya kesalahan residu menjadi :

ei

= Ri - i

- i. Rm

Penghitungan kesalahan residu untuk masing-masing sekuritas


dapat dilihat pada lampiran 16 - 30.

69

Varian kesalahan residu menunjukkan besarnya resiko tidak


sistematis yang unik didalam perusahaan, yang dirumuskan sebagai
berikut :

eit - E(ei)

ei

t=1

N - 1

Karena alpha dan beta adalah konstan dari waktu ke waktu


maka secara konstruktif nilai ekspektasi dari kesalahan residu [E (ei)]
adalah sama dengan nol, sehingga formula varian kesalahan residu
menjadi :

eit

ei2

t=1

N - 1

Varian kesalahan residu setiap sekuritas dapat dilihat pada


lampiran 16 - 30 atau tabel 4.3 dibawah ini:
TABEL 4.3
VARIAN KESALAHAN RESIDU SAHAM INDIVIDUAL
Periode 3 Maret 2000 s/d 27 April 2001
No

KODE PERUSAHAAN ( EMITEN )

e i2

AALI : Astra Agro Lestari Tbk.

0,03623

ANTM : Aneka Tambang (Persero) Tbk.

0,01690

ASII : Astra Internasional Tbk.

0,03834

AUTO : Astra Otopart Tbk.

0,02460

GGRM : Gudang Garam Tbk.

0,00136

HMSP : H.M. Sampoerna Tbk.

0,00275

INDF : Indofood Sukses Makmur Tbk.

0,07923

ISAT : Indosat Tbk.

0,02031
70

KOMI : Komatsu Indonesia Tbk.

0,01495

10

MKDO : Makindo Tbk.

0,65420

11

RALS : Ramayana Lestari Sentosa Tbk.

0,01989

12

SMCB : Semen Cibinong Tbk.

0,01603

13

SMGR : Semen Gresik (Persero) Tbk.

0,02526

14

TLKM : Telekomunikasi Indonesia Tbk.

0,01019

15
TPSC : Tempo Scan Pasific Tbk.
Sumber : Data diolah

0,01390

Pada tabel diatas terlihat varians kesalahan residu saham


individual terbesar saham MKDO sebesar 0.65420 dan yang
terkecil saham GGRM yaitu 0.00136. Artinya MKDO mempunyai
resiko yang tidak sistematis terbesar dan GGRM memiliki resiko
yang tidak sistematis terkecil.
4.4.

Pembentukan

Portofolio

Optimal

dengan

Pendekatan

Model Indeks Tunggal


4.4.1.

Excess Return to Beta Ratio


Langkah

pertama

pembentukan

portofolio

adalah

menentukan excess return to beta (ERBi) persaham, yang mana


E(RBi) merupakan selisih antara expected return dengan return
bebas resiko, formula yang digunakan yaitu :

ERBi =

E(Ri) - Rf
i

Return dari investasi bebas risiko dihitung berdasarkan


tingkat bunga deposito bank pemerintah yang besarnya 10.74%
pertahun atau 0.19% per minggu (Pusat Dokumentasi BI ,
periode maret 2000 April 2001)
71

Excess Return to Beta (ERBi) untuk masing-masing saham


dapat dilihat pada tabel 4.4 atau lampiran 31. Pada tabel 4.4
terlhat E(RBi) terbesar adalah saham MKDO (Makindo Tbk)
sebesar 0.00989 dan yang terkecil adalah saham SMGR (Semen
Gresik Persero Tbk) dengan E(Rbi) = (-0,00276). Artinya saham
Makindo mempunyai selisih
investasi bebas resiko

return positf

terhadap

return

sedangkan saham Semen Gresik

memberikan selisih return negatif terhadap return investasi


bebas resiko.

TABEL 4.4
PENGHITUNGAN EXCESS RETURN TO BETA SAHAM
INDIVIDUAL
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No
1
2

KODE PERUSAHAAN
AALI : Astra Agro Lestari Tbk.
ANTM : Aneka Tambang (Persero)
Tbk.

ASII : Astra Internasional Tbk.

AUTO : Astra Otopart Tbk.

GGRM : Gudang Garam Tbk.

HMSP : H.M. Sampoerna Tbk.

INDF : Indofood Sukses Makmur


Tbk.

ISAT : Indosat Tbk.

KOMI : Komatsu Indonesia Tbk.

10
11

MKDO : Makindo Tbk.


RALS : Ramayana Lestari Sentosa
Tbk.
72

E(Ri)
0,0021
0
0,0024
4
0,0025
6
0,0020
3

Rf
0,001
9
0,001
9
0,001
9
0,001
9

i
1,6877
0
0,3921
1
1,3295
8
0,7305
2

0,0007 0,001 1,3352


9
9
9
0,0019
9
0,0024
2
0,0021
9
0,0020
5
0,0011
2
0,0019
8

0,001
9
0,001
9
0,001
9
0,001
9
0,001
9
0,001
9

1,1400
2
1,7303
8
0,6729
3
1,1971
9
0,6289
4
0,9047
7

E(RBi)
0,0001
2
0,0013
8
0,0005
0
0,0001
8
0,0008
3
0,0000
8
0,0003
0
0,0004
3
0,0001
3
0,0019
4
0,0000
9

12

SMCB : Semen Cibinong Tbk.

13

SMGR : Semen Gresik (Persero)


Tbk.

14

TLKM : Telekomunikasi Indonesia


Tbk.

15

TPSC : Tempo Scan Pasific Tbk.

0,0045 0,001 0,8921 0,0029


5
9
1
7
0,0001 0,001 0,6303
0,0027
6
9
7
6
0,0020 0,001 1,7693 0,0000
2
9
7
7
0,0021 0,001 0,5494 0,0005
8
9
0
1

Sumber : Data diolah

4.4.2.

Penentuan Cutt-off Point


Pada portofolio optimal, saham-saham yang mempunyai
nilai Excess Return to Beta (ERBi) yang rendah tidak dapat
dimasukkan kedalam portofolio yang akan dibentuk. Untuk itu
perlu ditetapkan suatu ukuran tertentu untuk dijadikan dasar
pemisahan ERBi yang rendah dengan ERBi yang tinggi, ukuran
inilah yang dikatakan cutt-off point. Cutt-off point dapat dihitung
dengan menggunakan rumus berikut :

E(Ri) - Rbr i
Ai

2 ei

dan

Bi

ei2

maka rumus cut-off-point ( Ci ) adalah :


i

Ai

73

Ci

j=1

1+

Bi
j=1

Ci saham yang dipilih sebagai titik cutt-off point adalah C


saham yang terbesar. Pada lampiran 32 dapat dilihat bahwa
saham ISAT : Indosat Tbk mempunyai nilai Ci terbesar yaitu
0.000352 dengan nilai excess return to beta sebesar 0.00043.
Model Indeks Tunggal mensyaratkan bahwa saham yang
akan dimasukkan sebagai kandidat portofolio adalah saham
dengan excess return to beta sama atau lebih besar dari excess
return to beta pada cutt-off point. Dan saham yang terpilih
sebagai kandidat portofolio adalah saham MKDO (Makindo Tbk),
SMCB (Semen Cibinong Tbk), ANTM (Aneka Tambang Tbk), TSPC
(Tempo Scan Pasifik Tbk), ASII (Astra Internasional Tbk) dan ISAT
(Indosat

Tbk),

dengan

excess

return

to

beta

adalah

sebagaimana terlihat pada tabel 4.5 berikut ini :

TABEL 4.5
SAHAM YANG TERMASUK DALAM PORTOFOLIO TERPILIH
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No
1
2
3
4
5
6

KODE PERUSAHAAN ( EMITEN )


MKDO : Makindo
SMCB : Semen Cibinong
ANTM : Aneka Tambang
TPSC : Tempo Scan Pasifik
ASII : Astra Internasional
ISAT : Indosat

74

E(RBi)
0.00989
0.00297
0.00139
0.00051
0.00050
0.00043

Sumber : Data diolah

4.4.3.

Porsi Investasi Pada Setiap Saham


Setelah saham-saham yang akan dimasukkan kedalam
portofolio dapat ditentukan maka langkah selanjutnya adalah
menentukan berapa porsi dana yang harus diinvestasikan pada
setiap saham dengan resiko seminimal mungkin pada tingkat
return tertentu (portofolio optimal). Penghitungan besarnya porsi
dana setiap saham dapat dihitung dengan rumus berikut ini :
Wi

Xi
k

Xj

j=1

Dan Xi dapat dihitung dengan rumus :


i

Xi

( ERBi C )

ei

Pada tabel 4.6 dibawah ini dapat dilihat hasil perhitungan


besarnya proporsi investasi untuk setiap saham. Dimana porsi
investasi untuk masing-masing saham adalah sebagai berikut :
MKDO = 4,753%, SMCB = 75,525%, ANTM = 12,484%, TSPC =
3,237%, ASII = 2,66%, dan ISAT = 1,34%.
TABEL 4.6
PENGHITUNGAN PROPORSI INVESTASI UNTUK SETIAP
SAHAM
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No KODE

ei2

E(RBi)

75

Xi

Wi

1
2

MKDO 0.62894 0.65420 0.00989 0.000352 0.00917 0.04753


SMCB 0.89211 0.01603 0.00297 0.000352 0.14570 0.75525

ANTM 0.39211 0.01690 0.00139 0.000352 0.02408 0.12484

TPSC

0.54940 0.01390 0.00051 0.000352 0.00624 0.03237

ASII

1.32958 0.03834 0.00050 0.000352 0.00513 0.02660

ISAT

0.67293 0.02031 0.00043 0.000352 0.00258 0.01340


Xj

0.19291 1.00000

=
Sumber : Data diolah

4.5.
4.5.1.

Analisis Portofolio
Expected Return Portofolio (E (Rp))
Return portofolio pada model indeks tunggal terdiri dari
return

yang

independen

terhadap

return

pasar

yang

dilambangkan dengan alpha portofolio (p), dan bagian return


yang berhubungan atau dipenden terhadap return pasar yang
dilambangkan dengan p. E(Rm). Expected return portofolio
dapat dirumuskan sebagai berikut :

E(Rp)

= p + p. E(Rm)

Sedangkan

Alpha

portofolio

merupakan

rata-rata

tertimbang dari alpha masing-masing sekuritas, yang dapat


dihitung dengan rumus berikut :

Wi. i

i=1

76

Hasil penghitungan diketahui alpha portofolio (p) adalah


0.00963 seperti terlihat pada tabel 4.7 berikut ini :
TABEL 4.7
PENGHITUNGAN ALPHA PORTOFOLIO
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No

KODE EMITEN

Wi

Wi. i

MKDO

0.04753

0.01224

0.00058

SMCB

0.75525

0.01039

0.00785

ANTM

0.12484

0.00501

0.00063

TPSC

0.03237

0.00578

0.00019

ASII

0.02660

0.01127

0.00030

ISAT

0.01340

0.00660

0.00009

Alpha
Portofolio

0.00963

Sumber : Data diolah

Beta portofolio merupakan rata-rata tertimbang


dari beta masing-masing saham yang dapat dirumuskan sebagai
berikut :

Wi. i

i=1

Dari hasil penghitungan diketahui beta portofolio (p)


adalah 0.81479, sebagaimana

terlihat pada tabel 4.8 berikut

ini :
TABEL 4.8
PENGHITUNGAN BETA PORTOFOLIO
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No

KODE EMITEN

Wi

Wi.i

MKDO

0.04753

0.62894

0.02990

SMCB

0.75525

0.89211

0.67377

77

ANTM

0.12484

0.39211

0.04895

TPSC

0.03237

0.54940

0.01779

ASII

0.02660

1.32958

0.03537

ISAT

0.01340

0.67293

0.00901

Beta Portofolio

0.81479

Sumber : Data diolah

Expected return pasar adalah


perminggu,

- 0.655 % ( -0.00655)

lihat lampiran 1 - 15, maka expected return

portofolio E(Rp) adalah :


E(Rp) = 0.00963 + 0.81479 (- 0.00655)
E(Rp) = 0.00950 - 0.00534 = 0.00429
E(Rp) = 0,43 %
Jadi expected return portofolio E(Rp) adalah 0,43 %
4.5.2.

Varian Portofolio
Varian

portofolio

pada

Model

Indeks

Tunggal

dapat

dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :

p2

= p.m + Wi.ei
2

i=1

0.81479 X 0.00224

+ 0.04753 X 0.65420 + 0.75525 X

0.01603
+ 0.13107 X 0.01690 + 0.03237 X 0.01390 + 0.02663 X
0.03834 +
0.01340 X 0.02031

p2

= 0.00183 + 0.00221
78

p2

= 0.00404

Maka standar deviasi adalah :


p

= 0,00404 = 0,06356

= 6,356 %

Jadi standar deviasi portofolio adalah 6,356%


4.6.
4.6.1.

Penilaian Kinerja Portofolio


Perbandingan Langsung
Pengujian

apakah

portofolio

yang

dibentuk

dengan

menggunakan metode indeks tunggal merupakan portofolio


optimal atau bukan maka perlu dibandingkan dengan portofolio
yang lain. Untuk itu perlu dibuat portofolio lain yang berasal dari
saham-saham dengan expected return to beta ratio (ERBi)
terbesar dibawah cutt-off point. Dan saham-saham tersebut
adalah INDF (Indofood Sukses Makmur Tbk), AUTO (Astra
Otoparts Tbk), KOMI (Komitsu Indonesia Tbk), AALI (Astra Agro
Lestari Tbk) dan RALS (Ramayana Lestari Sentosa Tbk).
Untuk pembentukan portofolio kedua, langkah pertama
yang harus dilakukan adalah menentukan besarnya koefisien
korelasi

setiap

saham,

yang

menggunakan rumus berikut :

ij

ij
i . j

79

dapat

dihitung

dengan

Kovarian

atau

koefisien

korelasi

antara

tingkat

keuntungan dari masing-masing saham dapat dihitung dengan


menggunakan rumus :
n

Ri - E(Ri) Rj - E(Rj)

ij

Dalam

i=1

N - 1

penghitungan

koefisien

korelasi

antara

tingkat

keuntungan dari masing-masing saham, penulis menggunakan


program excel statistik.
Langkah berikutnya adalah menentukan proporsi masingmasing saham pada tingkat return yang sama dengan portofolio
yang dibentuk dengan model indeks tunggal, yaitu sebesar 0.43
% perminggu. Pada tabel 4.9 dibawah ini dapat dilihat besarnya
return dan standar deviasi portofolio kedua dengan terlebih
dahulu mengetahui koefisien korelasi antara masing-masing
saham dan proporsi investasi untuk setiap saham.

TABEL 4.9
PENGHITUNGAN EXPECTED RETURN DAN STANDAR DEVIASI
PORTOFOLIO II

80

Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001


Matrik Korelasi

KODE E (Ri)

STDV

INDF

0,242% 29,32%

AUTO

0,203% 16,06%

KOMI

0,205% 13,51%

AALI

0,210% 20,64%

RALS

0,198% 14,29%

E(Rp)

AUT
O

INDF
1,000
0
0,116
8
0,083
8
0,007
0
0,295
1

KOM
AALI
I

RAL
S

WEIGHTE
D

0,9013
1,000
0
0,700 1,000
8
0
0,625 0,888 1,000
2
1
0
0,351 0,437 0,456 1,000
1
0
6
0

0,0000
0,0000
0,0000
0,0987

= 0,43%

Stdev port =

1.0000

26,88%

Sumber : Data diolah

Saham terpilih yang masuk ke dalam portofolio kedua


adalah INDF (Indofood Sukses Makmur) dan RALS (Ramayana
Lestari

Sentosa)

karena

mempunyai

korelasi

yang

lemah

terhadap saham-saham lainnya. Dari penghitungan terhadap


standar deviasi portofolio kedua terlihat bahwa

portofolio

pertama yang terdiri dari saham-saham dengan ERBi 0.00043


adalah portofolio yang optimal dibandingkan portofolio kedua
yang terdiri dari saham-saham dengan ERBi < 0.00043, karena
pada tingkat return yang sama dengan portofolio pertama
sebesar 0.43 % perminggu, portofolio kedua mempunyai standar
deviasi sebesar 26,88 % dan ini lebih besar daripada standar
deviasi portofolio pertama yang hanya sebesar 6,356 % atau
dengan kata lain bahwa portofolio pertama mempunyai resiko
yang lebih rendah dibandingkan dengan resiko portofolio kedua.

81

Dengan

cara

perbandingan

langsung

ini

dapat

disimpulkan bahwa portofolio yang terdiri dari saham MKDO


(Makindo Tbk), SMCB (Semen Cibinong Tbk), ANTM (Aneka
Tambang Tbk), TSPC (Tempo Scan Pasifik Tbk), ASII (Astra
Internasional

Tbk)

dan

ISAT

(Indosat

Tbk),

lebih

baik

dibandingkan dengan portofolio kedua yang terdiri dari saham


INDF

(Indofood Sukses Makmur Tbk) dan RALS

(Ramayana Lestari Sentosa Tbk).


4.6.2.

Penggunaan Parameter Penguji


a. Sharpe Measure
Parameter ini dikenal sebagai Sharpe Measure (Indeks
Sharpe) yaitu suatu angka yang dihitung berdasarkan perbedaan
antara kemiringan garis yang menghubungkan masing-masing
kombinasi

portofolio dengan

investasi

yang

bebas resiko.

Semakin besar angka indeks ini maka portofolio ini akan


semakin menguntungkan dan akan semakin menarik bagi
investor. Angka ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :

Sharpe Measure

E (Rp) - Rf
=

Return bebas resiko adalah 10.74% pertahun atau sama


dengan 0.19% perminggu rata-rata, yang diolah dari laporan

82

mingguan Bank Indonesia. Hasil penghitungan Sharpe Measure


dapat

dilihat

pada

tabel

4.10

dibawah

ini,

yang

diukur

berdasarkan besarnya ERBi portofolio.


TABEL 4.10
PENGHITUNGAN SHARPE MEASURE
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No

PORTOFOLIO

E(Rp)

Rf

Sharpe

ERB

0,00043

0.43%

0.19%

6.356%

0.0378

ERB

<

0,00043

0.43%

0.19%

26.880%

0.0089

Sumber : Data diolah

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa portofolio yang


terdiri dari saham-saham yang mempunyai ERBi 0.00043
dengan Sharpe Measure sebesar 0.0378 lebih disukai daripada
portofolio yang mempunyai ERBi < 0.00043 dengan Sharpe
Measure

sebesar

0.0089,

karena

angka

indeks

sharpe

measurenya yang lebih besar. Ini berarti bahwa portofolio


pertama yang terdiri dari saham MKDO

(Makindo Tbk), SMCB

(Semen Cibinong Tbk), ANTM (Aneka Tambang Tbk), TSPC


(Tempo Scan Pasifik Tbk), ASII (Astra Internasional Tbk) dan ISAT
(Indosat

Tbk),

lebih

menguntungkan

dibandingkan

dengan

portofolio kedua yang terdiri dari saham INDF (Indofood Sukses


Makmur Tbk) dan RALS (Ramayana Lestari Sentosa Tbk).
b. Treynor Measure
Treynor Measure adalah parameter pengukur kinerja
portofolio yang biasa dikenal dengan excess return to beta
portofolio (ERBp), yang merupakan angka perbandingan antara
83

kelebihan expected return portofolio dengan beta portofolio


yang menunjukkan kemiringan garis lurus antara portofolio
dengan return bebas resiko. Portofolio yang optimal adalah
portofolio yang mempunyai nilai excess return to beta portofolio
yang tertinggi, ERBp dapat dicari dengan rumus berikut :

E(Rp) - Rf
ERBp =
p

1) Portofolio dengan ERBi 0.00043


0.0043 - 0.0019
=
0.81479

ERBp

0.0024
ERBp

= 0.0029
0.81479

Portofolio dengan ERBi 0.00043

2)

Untuk menentukan ERBp portofolio kedua, terlebih dahulu


yang

perlu

dihitung

adalah

beta

portofolio,

dengan

menggunakan rumus berikut :

Wi. i
i=1

= (0.9013 X 1.73038) + (0.0987 X 0.90477) = 1,64889


0.0024

ERBp =

= 0.0015
1.64889

84

Hasil

penghitungan

dengan

menggunakan

Treynor

Measure dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut ini :


TABEL 4.11
PENGHITUNGAN TREYNOR MEASURE
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No

PORTOFOLIO

E(Rp)

Rf

Treynor

ERB

0,00043

0.43%

0.19%

81.479%

0.0029

ERB < 0,00043

0.43%

0.19%

164.889%

0.0015

Sumber : Data diolah

Dari hasil perhitungan diatas terlihat bahwa portofolio pertama


yang terdiri dari saham SMCB (Semen Cibinong Tbk), ANTM (Aneka
Tambang Tbk), TSPC (Tempo Scan Pasifik Tbk), ASII (Astra Internasional
Tbk) dan ISAT (Indosat Tbk) dengan excess return to beta 0.00043
mempunyai indeks Treynor Measure yaitu 0.0029 lebih besar dari pada
portofolio kedua yang terdiri dari saham INDF (Indofood Sukses Makmur
Tbk) dan RALS (Ramayana Lestari Sentosa Tbk) dengan excess return
to beta < 0.00043 mempunyai indeks Treynor Measure yaitu 0.0015. ini
berarti portofolio pertama mempunyai kemiringan garis lebih curam
dibandingkan portofolio kedua, karena pada tingkat expected return yang
sama portofolio pertama mempunyai resiko yang lebih kecil dibandingkan
portofolio kedua. Penilaian kinerja portofolio dengan Treynor Measure
memperlihatkan bahwa portofolio yang terbentuk berdasarkan model
indeks tunggal merupakan portofolio yang optimal dan terbukti lebih baik
dibandingkan dengan portofolio kedua yang terdiri dari saham-saham
yang berada dibawah cutt-off point.

85

c. Jensen Measure
Penilaian kinerja portofolio menggunakan angka differential return
yang merupakan selisih antara return ekspektasi portofolio pada garis
pasar modal dengan return portofolio. Semakin besar tingkat differential
return ini, semakin optimal portofolio tersebut. Expected return pada garis
pasar modal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

E(RSML)= Rf + E(Rm) Rf . p

Hasil penghitungan E(RSML) dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut ini :
TABEL 4.12
PENGHITUNGAN E(RSML)
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
No

PORTOFOLIO

Rf

E(Rm)

E(Rsml)

ERB 0,00043

0.19%

(0.007)

81.48%

(0.0050)

ERB < 0,00043

0.19%

(0.007)

164.89%

(0.0120)

Sumber : Data diolah

Dan differential return dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

DR

= E(Rp) E(RCML)

Penghitungan DR dan Jensen Measure dapat dilihat pada tabel 4.13


berikut :

86

TABEL 4.13
PENGHITUNGAN DR DAN JENSEN MEASURE
Periode 3 Maret 2000 - 27 April 2001
PORTOFOLIO

E(Rp)

E(Rsml)

DR

Jensen

ERB 0,00043

0.43%

-0.50%

0.009

81.48%

0.011

ERB < 0,00043

0.43%

-1.20%

0.016

164.89%

0.010

No

Sumber : Data diolah

Dari hasil penghitungan diatas terlihat bahwa portofolio pertama


yang terdiri dari saham-saham dengan ERBi 0.00043 mempunyai DR =
0,009 lebih rendah dibandingkan portofolio kedua yang terdiri dari sahamsaham dengan

ERBi < 0.00043 mempunyai DR = 0,016. Meskipun

demikian setelah dilakukan pengujian dengan Jensen Measure terlihat


bahwa portofolio pertama dengan DR = 0.009 mempunyai indeks Jensen
Measure = 0,011 lebih baik daripada portofolio kedua dengan DR = 0,016
mempunyai indeks Jensen Measure = 0,010. Ini berarti bahwa portofolio
pertama yang terdiri dari saham-saham seperti ; MKDO (Makindo Tbk),
SMCB (Semen Cibinong Tbk), ANTM (Aneka Tambang Tbk), TSPC
(Tempo Scan Pasifik Tbk), ASII (Astra Internasional Tbk) dan ISAT
(Indosat Tbk), lebih efisien dibandingkan dengan portofolio kedua yang
terdiri dari saham-saham seperti ; INDF (Indofood Sukses Makmur Tbk)
dan RALS (Ramayana Lestari Sentosa Tbk).

87